Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 123


__ADS_3

"Hidup kalian ada di tangan kami!" Seru seseorang dari dalam kegelapan hutan.


Beberapa orang dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah yang khas keluar dari kegelapan yang ada di dalam hutan. Hanya tiga orang saja, tapi, tunggu. Aku melihat tanda di ikat kepala mereka masing masing. Dua ninja pangkat Chunin berdiri mangapit satu ninja Jonin yang artinya master ninja, tingkatan tertinggi mereka. Kali ini, mereka pasti adalah ninja ninja terpilih yang pastinya tangguh.


"Kaito, apa kamu mau menangani Jonin-nya untuk ku hehe ...," Taki terkekeh karena tahu dirinya tak sanggup menghadapi sang master ninja itu.


"Hmm, tapi tolong lindungi Ema sebisamu ...," Aku menatap mata Jonin itu yang berwarna kecoklatan. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi lagi lagi daya ingat busuk ini menghalangiku.


"Okino-sama, tak perlu khawatir pada ku." Ucap Ema dengan tatapan kosongnya itu, dia menggenggam sebilah bilah pisau di masing masing tangannya.


"Mencegah lebih baik mengobati tau ...," aku bersiap dan menguatkan genggamanku pada gagang Katana-ku ini.


"Senjata siap!" Seru dua orang di belakang si Jonin itu sembari mengeluarkan pedang mereka secara serentak.


"Biar aku atasi si samurai, kalian atasi bocah dibelakangnya!" Perintah si Jonin itu dengan nada rendah yang sepertinya ia buat buat.


Siapa dia? Apa aku mengenalnya?


"Kalian akan mati di tangan kami!" Jonin itu menarik sebilah pedang dari sarungnya yang ada di punggung.


"Cih, sepertinya besok aku akan terlambat ke sekolah." Gumamku kesal.

__ADS_1


"Serang!!!" Seru sang Jonin dan secara serentak mereka bertiga berlari ke arah kami dengan sangat cepat.


"Ema, hati hati!" Aku langsung melesat ke depan dan berhadapan dengan Jonin.


Trank!!!


Pedang kami saling berbenturan dan menghasilkan percikan api yang menyebar ke segala arah. Mata kami saling bertemu dan aku terus berusaha mengingat orang yang memiliki mata seperti miliknya. Tanpa basa basi aku segera melancarkan serangan ku untuk melukainya. Aku terus mengayunkan pedangku dengan kecepatan yang tak pernahku bayangkan sebelumnya.


Aku bahkan tak bisa melihat bilah Katana-ku dengan jelas. Walau begitu, si Jonin itu bisa menangkis seranganku dengan mudah. Perlahan tapi pasti aku menggiringnya mundur ke belakang. Bunga api selalu muncul setiap kali pedang kami beradu.


"Jangan meremehkanku payah!" Jonin itu melompat ke belakang dan tebasanku pun meleset. Dan sekarang giliran dia yang menyerbu ku dengan tebasan pedangnya. Keadaan mulai terbalik dan sekarang aku yang kualahan menangkis serangan beruntunnya yang sangat cepat bagaikan bayangan. Aku terus menahan serangannya dan menunggu celah kecil yang bisa membantuku membalikan keadaan ini. Percuma saja, kecepatan, akurasi, dan konsentrasinya tidak menurun sama sekali.


Aku dibuat kagum karena melihat konsistensi yang luar biasa itu. Satu langkah, dua, tiga, empat, aku terus mundur sembari menangkis ayunan pedangnya itu. Jika terus begini aku tak bisa berbuat apa apa. Aku terus berpikir keras sampai keringat dingin mulai mengalir menuju daguku.


Bisikan aneh yang masuk ke lubang telingaku. Aku sadar, itu adalah Kensetsu-ku. Aku segera memejamkan mata ku dan membayangkan ketajaman dan kecepatan. Dan secara otomatis Katana ku ini jauh lebih ringan dari sebelumnya. Jadi inilah kekuatan yang dimiliki pedang legendaris ini. Dia akan berubah sesuai keinginan penggunanya. Kalau begitu, aku terima bantuanmu Tetsujo Kamui.


Trank!!! Swush!!!


Aku seolah menembus tubuh Jonin itu dan sudah berada di belakangnya setelah aku membuka kedua mataku ini. Dia berdiri dan terdiam, tak lama kemudian aku bisa melihat kain pakaian bagian pinggang kanannya terkoyak. Aku berhasil menyerangnya. Tapi, sepertinya dia tak terluka sama sekali. Dia bahkan langsung membalikan badannya dan melempar empat buah Shuriken kepadaku.


Tentu saja mainan itu tak bisa melukaiku. Dengan mudah aku mengubah haluan keempat Shuriken itu menggunakan Katana-ku. Tapi, sepertinya rencana Jonin itu berhasil terwujud. Karena perhatianku teralihkan, dengan leluasa dia kembali mengayunkan pedangnya itu untuk melukaiku. Aku membuat Kensetsu-ku lebih kuat dan berat untuk bisa menahan serangan tanpa henti Ninja itu. Belasan, puluhan, dan bahkan ratusan tebasannya sudah kutangkis, tapi serangannya itu sama sekali tidak melemah. Kekuatan Jonin memang benar benar tak bisa diremehkan. Kecepatan dan akurasinya sangat sempurna.

__ADS_1


Ini adalah pertarungan antara Samurai dan Ninja di era modern seperti ini. Dua Tokoh legendaris yang saling beradu satu sama lain. Aku tidak akan pernah menyerah di setiap pertarunganku, seberapa kuat, seberapa tangguh, seberapa cepat pun lawanku. Karena ...


"Di dunia ini tak ada yang sempurna!!!"


Trank!!! Buak!!!


Aku mengubah Kensetsu-ku menjadi ringan tapi kuat. Aku mangayunkan Katana ku dan mengubah arah serangan si Jonin itu ke udara. Tak sampai di situ saja, aku menendang wajahnya sampai ia terpental jauh ke belakang. Dia terus berguling guling di tanah tanpa kendali. Dan akhirnya hal mengejutkan terjadi. Tubuhnya berubah jadi potongan batang pohon kecil. Aku terbelalak dan menyadari Jonin itu sudah berdiri di belakangku dan bersiap memenggal kepalaku.


Sebelum mata pedangnya itu mengiris leherku, aku membungkukkan badanku dan mengayunkan kaki kananku untuk menjegalnya. Jonin itu melompat mundur dan selamat dari seranganku. Tak kusangka dia bisa melakukan salah satu jurus legendaris ninja. Jujur saja, aku sangat kagum melihat ninja sungguhan ternyata ada di dunia ini. Tapi sayangnya mereka bukanlah kawan melainkan lawan.


"Huff, aku belum selesai!!!"


Aku berlari dan bersiap menebasnya dengan Katana-ku. Dan seperti yang kuharapkan dia terus menangkis serangan beruntunku ini. Masih belum, aku terus melancarkan serangan tanpa hentiku dan membiarkan dia menangkis semuanya sedikit lebih lama. Satu, dua, tiga langkah kebelakang sudah dibuatnya karena menahan seluruh serangan beruntunku. Dan saatnya pun tiba.


Tajam, cepat, dan kuat~


Tank!!! Swush!!!


Aku mematahkan setengah dari bilah pedangnya dan membuatnya terbelalak. Dan saat yang kutunggu pun tiba.


"Teknik angin: Hembusan tak terlihat!"

__ADS_1


Aku seolah menembus tubuh ninja itu dan tanpa suara aku sudah berdiri di belakangnya. Aku benar benar seperti angin yang melewatinya dengan lembut dan cepat. Kali ini, aku tak yakin dia terluka karena seranganku tadi. Dan benar saja, saat aku menoleh ke belakang. Yang terbelah bukan badan manusia, melainkan batang kayu besar. Lagi lagi teknik ninja murahan itu. Kali ini dia terjun dari udara untuk menyerangku. Tapi, sebelum dia menyentuhku, aku sudah melompat mundur dan membiarkanya menghantam tanah tanpa hasil apapun.


Jonin itu menghantam tanah dengan sangat keras sampai debu tanah terbang ke segala arah dan menyelimutinya. Sesaat setelah debu itu hilang, aku bisa melihatnya sedang memegang lengan kanannya yang mencucurkan darah. Dan sekarang aku tahu, seranganku tadi tak sepenuhnya meleset.


__ADS_2