Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 55


__ADS_3

Cahaya oranye yang masuk melalui kaca jendela yang tertutup. Bau parfum milik Haru, beberapa boneka yang terpajang di rak yang ada di sisi ruangan. Haru terbaring kaku dan tak bisa berbuat apa apa karena dia sudan mencapai batas kemampuannya.


Lock, adalah hal yang paling dibenci oleh para Tenshi. Saat dimana mereka menerima efek samping dari apa yang mereka perbuat. Haru mengalami Lock karena menyembuhkanku kemarin. Bahkan Kakume, dia sampai kehilangan ingatannya.


Cih ... mereka rela sampai seperti ini ya?


"Haru ... maafkan aku", ucapku perlahan.


"Maaf untuk apa?"


"Karena ku ... kamu sampai kena Lock ...", aku menundukan kepalaku.


"Haha ... jangan bercanda ***** ... dari dulu aku memang begini ... sekali pakai kekuatan langsung Lock", ujar Haru terkekeh walau dia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya itu.


"Hmm ... oh iya ... malam ini akhirnya kamu bisa libur kan?", Haru tak tahu bahwa aku memaksa untuk menjalankan misi malam ini sendirian.


"Ne ... Haru ... apa alasanmu melakukan semua ini?"


"Ha? ... kenapa tiba tiba tanya gitu?"


" ... ", aku tidak punya alasan kenapa aku memberinya pertanyaan itu.


"Hemm ... dulu ... aku punya seorang kakak laki laki ..."


"Dia orangnya tampan, tinggi, baik, dan sifatnya hampir sama sepertimu ... Cuek, tapi sebenarnya dia sangat peduli dengan orang orang di sekitarnya"


"Kami berdua besar di panti asuhan karena kedua orang tua kami pergi entah kemana."


"Seiring berjalannya waktu kami pun tumbuh dan kakakku bekerja serabutan untuk menghidupi kami"


"Kami akhirnya bisa membeli rumah ... dan kakakku bergabung di angkatan militer ketika lulus kuliah"


"Aku sangat senang ketika melihatnya memakai seragam militer kebanggaannya itu ... saat itu aku merasakan kebahagiaan kembali muncul di hidupku."


"Beberapa waktu kemudian ... kakakku menerima misi dari pemerintah. Misi yang kakakku tunggu tunggu"

__ADS_1


"Kakak dan kelompoknya akan di kirim ke suatu negara yang bahkan aku tak boleh tau ... aku takut, aku ingin melarangnya."


"Tapi pasti itu tak ada gunanya ... aku tetap berusaha tersenyum sebelum keberangkatannya ..."


"Terakhir kali aku melihatnya ... dia tersenyum padaku di depan pintu rumah ...,"


"Aku menunggumu pulang kak"


"Aku tetap tersenyum walau hatiku menangis karena kekhawatiranku yang berlebihan."


"Setelah dia pergi ... aku sendirian di rumah dan selalu menunggu tangannya itu mengetuk pintu rumah"


"Satu tahun berlalu ... malam itu ... seseorang mengetuk pintu rumahku"


"Awalnya aku kegirangan mengira bahwa itu adalah kakakku"


"Tapi aku salah ... yang datang hanyalah sepucuk surat yang diberikan oleh teman dekat kakakku"


"Dan kau tau isinya apa kan?"


"Aku menangis berhari hari menyadari kakakku tak akan lagi menginjakan kaki di rumah ini."


"Aku kehilangan satu satunya orang yang kucintai ... sejak saat itu aku memutuskan untuk bunuh diri ..."


"Aku pergi ke jembatan yang sangat tinggi ... dan tebak apa yang terjadi ..."


"Si pirang payah itu tiba tiba terjatuh di belakangku tepat sebelum aku melompat ke sungai yang ada di bawah jembatan itu."


"Tangannya terluka parah, dia baru saja di gigit oleh Akame ... dan aku tiba tiba menemukan kemampuan Heal-ku malam itu juga ..."


"Dan malam itu juga ... aku menemukan sebuah tujuan hidup ..."


"Aku tak akan membiarkan orang lain merasakan penderitaan yang sama denganku ..."


"Itulah alasanku melakukan semua ini ..."

__ADS_1


Jadi itu alasan Haru bergabung dengan Demon Hunter. Lagi lagi Tuhan menggunakan senjatanya untuk merebut kebahagiaan seseorang. Ya, takdir, Tuhan selalu menggunakannya untuk menyakiti hati ciptaanya sendiri.


Takdir bagaikan pedang yang berayun sesuai kehendak sang Tuhan. Dan jika kau menumbuhkan sedikit saja rasa kebahagiaan, bilah pedang itu akan memotong batang kebahagiaan itu sampai ke akar akarnya.


"Maaf Haru ...," aku merasa bersalah lagi karena membuatnya menangis.


"Haha ... *****! ... jangan minta maaf terus ... sekarang tanggung jawab ... hapus air mataku!" Pintanya karena ia sama sekali tak bisa bergerak.


"Haru ... sebenernya ... aku bakal nerima misi malam ini sendirian ...", ucapku sembari mengusap sisa air mata di wajahnya.


"Haa?! ... kamu tu ***** apa gimana?!"


"Kalo kamu kenapa napa gimana?!"


"Gak akan kok ... lagian ... aku adalah orang yang terpilih itu", aku mengusap kepalanya dengan lembut lalu berdiri dari kursi yang kududuki.


"Heh!! ... ***** banget sih kamu!", umpatnya kesal.


"Hmm ... aku memang ***** ... mungkin aku udah gak punya akal ...", aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar kamar Haru.


"Kaito!!!"


Aku menghentikan langkahku dan menghentikan gerakanku setelah memegang gagang pintu.


"Haru ... aku sudah menemukan tujuanku untuk melindungi dunia ini ..."


"Aku tak akan membiarkan teman hati teman temanku terluka ..."


"Apa tujuan sekecil itu bisa menyelamatkan dunia?"


"Kaito ... kalau kamu sampai luka ... aku gak bakal nyembuhin kamu! ... emang dasar *****!", kata kata terakhirnya yang kudengar sebelum aku keluar dari kamarnya.


Mulai saat ini ... aku akan berusaha melawan takdir dan membuat teman temanku merasakan kebahagiaan.


Aku tak peduli jika hanya aku yang tidak bisa merasakan kebahagiaan itu sendiri. Lagi pula, takdir sudah melarangku merasakan kebahagiaan.

__ADS_1


Semuanya ... tunggu saja ...


Aku akan mengakhiri semua ini ...


__ADS_2