Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 152


__ADS_3

"Kaito, kau tau ... perempuan bisa kena masalah lebih banyak dari yang kau kira." Ucap Sora memasukan kedua tangannya ke dalam saku hoodie hitamnya itu.


Kami berdua berdiri di teras rumahku untuk menunggu mobil yang akan menjemput sora kembali ke tempat kerjanya. Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Sora ternyata seorang Perempuan. Walau jika bertemu dengannya langsung seperti ini, suaranya memang jelas seperti perempuan tomboy. Mungkin karena mikrofon yang ia pakai, suaranya bisa berubah drastis.


"Maksudmu?" Tanyaku sembari menikmati malam musim panas dengan langit yang penuh dengan gemerlap pasukan bintang.


"Hanabi, dia bisa saja masih punya masalah lain ... kau harus pergi ke sekolahnya." Jawab Sora tanpa menatapku sama sekali.


"Hmm, aku memang tetap pergi ke sana ... kenapa bisa seyakin itu?" Lanjutku bertanya.


"Huff, untung saja aku sedang tidak di kantor ...," Sora menundukan kepalanya.


"Memangnya kenapa?" Aku menoleh ke arahnya.


"Aku akan melanggar salah satu peraturan." Kata katanya itu semakin membuatku bingung.


"Peraturan?" Aku mengernyit heran.


"*****! Bodoh! Sok kuat! Gak Peka!" Entah kenapa dia malah melempar umpatan padaku tanpa alasan yang jelas. Mungkin maksudnya melanggar peraturan adalah dengan berbicara kotor padaku.


"Oi bocah laki laki ... baru kali ini aku gak ngerti kamu ngomong apa." Memang baru kali ini Sora tidak memberiku penjelasan detail tentang semua yang ia katakan.


"Hoi!! Bocah laki laki katamu!" Di saat yang sama mobil sedan hitam berhenti di jalan depan rumahku. Itu pasti mobil yang menjemput Sora.


"Cih, aku bakal pukul kamu lain kali!" Ancam Sora lalu membuka pintu belakang mobil sedan yang menjemputnya itu. Bukanya mengamati, Sora, entah kenapa aku malah tertarik mengetahui siapa yang menyetir mobil ini. Aku melihat menembus ke kaca jendela mobil yang gelap itu. Dan alangkah terkejutnya aku setelah menyadari kursi kemudi mobil itu kosong tanpa tanda tanda manusia sedikit pun. Aku juga terbelalak saat menyadari ada sebuah kotak hitam dengan lampu merah kecil berkedip dengan sangat cepat. Benda itu terletak di tengah kursi penumpang mobil itu.


Bom?!


"Sora!!!" Aku menarik Sora menjauh sebelum ia masuk ke dalam mobil hitam itu.


Duaarr!!!!


Benar saja, mobil sedan itu meledak dan hancur berkeping keping. Angin ledakan itu membuat kami berdua terlempar kembali ke depan pintu rumahku yang terbuka lebar. Hanabi dan Ai pun berlari menghampiri kami setelah mendengar suara ledakan yang pastinya sangat keras itu.


"Apa itu tadi?!" Sora meringis kesakitan karena tubuh kurusnya itu harus menghantam tanah dengan sangat keras.

__ADS_1


"Mana kutau?!"


Kilatan cahaya kecil senpat terlihat dari atas langit dan itu pasti pertanda buruk. Dan benar saja, ada empat anak panah melesat turun dari langit.


"Kakak!!!"


Tank!!! Trank!!


Dalam sekejap mata, Hanabi ada di depanku dan menangkis semua anak panah itu hanya menggunakan sebilah pisau. Sial, kalau begini, Hanabi juga pasti adalah seorang Tenshi. Aku sudah lelah dengan kejutan ini, aku juga sudah menduganya sejak lama. Jika Ayah dan aku punya kekuatan spesial, Hanabi juga pasti punya. Dan mungkin saja ibu adalah Tenshi. Sekarang bukan waktunya untuk berpikir tentang itu.


"Ai!! Bawa Sora dan Hanabi pergi dengan kekuatan teleportasimu!" Pintaku sembari bangkit berdiri.


"Kaito, apa kau akan bertarung sendirian?" Suara Yume yang membuatku menoleh kebelakang. Rambut Ai kembali berubah jadi putih, dan itu tandanya Yume sudah meninjam tubuhnya.


"Aku yang bantu kakak!" Ujar Hanabi dengan nada rendah yang tak biasa ia gunakan.


"Hanabi, bahaya tau!" Sergahku memperingatkan adikku itu.


"Apa kakak gak percaya sama aku?" Hanabi menoleh dan terlihatlah bola mata hitamnya yang sedikit memancarkan sinar biru. Dan entah kenapa sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Hanabi jadi seperti pembunuh berdarah dingin.


"Kaito, kau butuh ini!" Sora melempar sebuah pistol kepadaku. Tanpa ragu aku menangkapnya dan mengecek peluru yang ada di dalam Magazine pistol ini.


"Semoga berhasil!" Kata Yume lalu mereka berdua lenyap tanpa jejak menjadi butiran cahaya.


"Hanabi, hati hati!" sekali lagi aku memperingatkan adik perempuanku itu. Entah kenapa aku sangat percaya dia cukup kuat untuk mendampingiku di sini. Satu lagi anak panah melesat ke arah kami, tapi kali ini dia menancap di depan kakiku. Dia pasti sengaja membuat tembakannya meleset.


"Bom?!" Aku menarik Hanabi mundur dan masuk ke dalam rumah. Setelah aku menutup pintu, terdengar dentuman ledakan yang terjadi. Untung saja instingku benar, kalau tidak adikku ini bisa dalam bahaya.


"Hanabi, lebih baik kita lari!" Aku menggandeng Hanabi dan membawanya keluar lewat pintu belakang rumahku. Aku menggedongnya lalu melompati tembok pembatas rumah.


"Kenapa kita kabur?" Tanya Hanabi terus berlari di samping kananku.


"Cih, jumlah mereka pasti banyak!" Kami terus berlari di tengah jalanan perumahan yang sangat sepi malam ini. Hanya sorot lampu jalanan yang menjadi teman kami.


Ciiit!!!

__ADS_1


Sebuah mobil berhenti di persimpangan yang hendak kami lewati. Bukan bala bantuan, itu adalah orang orang Shogun. Empat orang bersetelan jas hitam keluar dan langsung menembaki kami dengan pistol yang ada di tangan masing masing dari mereka. Yang membuatku terpana adalah, Hanabi tetap berlari maju dan menangkis semua peluru yang melesat ke arahnya. Tak sampai di situ saja, Hanabi berlari tanpa ragu dan menusuk jantung orang orang itu tanpa rasa bersalah sama sekali. Dalam hitungan detik, empat orang tadi sudah tergeletak kaku di atas aspal jalan dengan darah yang bercucuran keluar.


"Hanabi! Cepat masuk ke mobil!" Teriakku lalu masuk dan duduk di kursi pengemudi mobil yang baru saja mencegat jalan kami. Aku sudah tak bisa berpikir jernih lagi, aku mencuri mobil dari empat orang yang sudah mati itu. Tapi bodo amat lah, salah sendiri mereka cari masalah.


"Kenapa kita nyuri mobil kak?" Hanabi duduk di samping kiriku dan melempar pertanyaan dengan wajah dingin yang tak biasa ia tunjukan padaku.


"Diam dan pasang sabuk pengamanmu!" Aku menutup pintu lalu segera menancap gas dalam dalam. Aku segera membawa mobil ini keluar dari pemukiman Chizu untuk mengantisipasi kekacauan berlebih.


"Hanabi, telepon nomer Sora!" Aku memberikan ponselku pada adik yang duduk di samping kiriku.


"Oke ...," jawabnya dingin sembari mengutak atik ponselku. Mungkin ini adalah efek kemampuan spesialnya. Dia jadi dingin dan kejam, tak terlihat sedikit pun rasa takut yang ia miliki. Kami memasuki jalan raya yang lumayan ramai. Dengan begini mereka sulit mengejarku, atau aku malah kesulitan kabur dari mereka.


"Halo!? Gimana keadaan kalian?!" Suara Sora yang terdengar dari speaker ponselku.


"Ano, Sora aku dan Hanabi kabur naik mobil!" Pekikku tetap fokus menyetir mobil ini.


"Ha?! Gimana .... ya sudah ... aku akan membantumu! Yang penting cepat keluar dari mobil itu!" Kata Sora. Dan saat aku melihat ke kaca spion, kejutan kembali mendatangiku. Sebuah misil sedang mengejar mobil yang kami tumpangi.


"Hanabi!!" Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya karena tahu misil itu akan menghantam mobil ini dalam beberapa milidetik lagi.


Duar!!!!


Ledakan terjadi dan membuat mobil yang kami tumpangi terpental dan berguling guling di tengah jalan raya. Sial, kali ini aku tak bisa berbuat apa apa, aku hanya bisa berpikir bagaimana caranya melindungi Hanabi. Dan bukannya aku yang menyelamatkan adikku itu, Hanabi membawaku melompat keluar dari bangkai mobil yang masih sibuk berguling guling itu. Kami berdua mendarat di atas aspal jalan tanpa terluka sedikit pun.


"Kakak ga apa apa?" Tatapan dingin dari matanya itu membuatku tak mengenali adikku sendiri.


"Hmm, ayo!!" Aku menggenggam tangannya dan berlari masuk ke keramaian yang ada di trotoar jalan. Saat aku melihat sebuah minimarket di pinggir trotoar ini, tanpa ragu aku segera masuk kesana bersama Hanabi.


"Hanabi, pisaumu ...," bisikku memberi kode padanya agar tak ada orang yang curiga.


"Ha? Udah kok kak tenang aja!" Ujar Hanabi dengan senyumnya yang sudah sepenuhnya kembali. Matanya juga tak lagi memancarkan sinarnya.


"Hanabi, banyak yang harus kamu ceritain tau ...," kami berpura pura berkeliling dan aku tetap memperhatikan sekitar.


"Iya iya, gimana? Aku hebat kan?" Katanya dengan wajah sombong.

__ADS_1


"Tak kusangka ternyata adikku Yandere mesum ...," ujarku cuek.


__ADS_2