
Tang!!! Trank!!! Bang!!!
Saat Futo sibuk meninju perisai baja milik Saika, aku terbang ke atas mereka berdua tanpa halangan apa pun. Ini adalah saatnya mendorong Futo untuk kembali ke tanah. Aku tak ingin pertarungan di udara ini terlihat oleh banyak orang. Entah apa yang dilakukan orang pemerintahan itu jika tau kami ada di sini.
"Heaven Shot!!!"
Aku mengumpulkan energi cahaya di depan tangan kiriku dan membentuk bola cahaya yang sangat besar.
"Saika, dalam hitungan ke tiga kamu harus menghindar!" Ucapku memperingatkan Saika yang terus menahan pukulan bocah super itu.
"Oke Senpai!!" Saika terus menahan serangan yang dilancarkan Futo tanpa henti itu.
"Satu, dua, tiga!! Sekarang!!!" Teriakku seraya menembakkan seranganku. Tepat Sebelum bola cahayaku itu menghantam Futo, Saika sudah terbang menjauh dengan sangat cepat. Bola cahayaku itu tidak langsung meledak saat menghantam Futo, bola besar yang bersinar itu terus mendorong Futo ke bawah. Perlahan tapi pasti, ketinggian bola itu turun. Dan saat bola itu meledak, aku langsung melesat ke bawah dan mengayunkan kakiku dari atas ke bawah.
Buak!!! Swush!!! Duar!!!
Ayunan kakiku tadi mengenai Futo dan membuatnya jatuh menghantam tanah dengan sangat keras. Futo membuat lubang yang cukup besar dan pohon pohon di sekitarnya sampai tumbang.
"Saika!!! serang dia sekali lagi!!!" Teriak ku meminta Saika kembali menembakkan lasernya itu.
__ADS_1
"The Great Blast!!!" Bagian tengah perisai Saika mulai memancarkan cahaya, beberapa detik kemudian laser biru bercahaya itu kembali membuat ledakan yang sangat besar. Asap hitam menyelimuti tempat Futo berdiri tadi. Ledakan tadi membabat habis pepohonan yang ada di sekitar Futo, sekarang kami sudah punya tempat pertarungan di darat.
Tap!
Aku kembali menapakan kedua kakiku di tanah dan berdiri di hadapan bocah berkekuatan super itu. Rasa penyesalan apa yang bisa membuatnya jadi sekuat ini, apa pun masalahnya. ltu pasti berat bagi anak kecil sepertinya. Beberapa saat kemudian Saika mendarat di samping kiriku, sayap besinya itu juga menghilang tepat saat kakinya menyentuh tanah. Lagi lagi saat saat yang tak kuingin kan terjadi, tiba tiba pandanganku jadi buram. Aku tak lagi bisa melihat dengan jelas.
Lock?! Apa hanya ini batas kekuatanku?!
Bukan, hanya pengelihatan mata kiriku saja yang terganggu. Saat aku memejamkan mata kiri dan hanya membuka mata kananku, aku masih bisa melihat dengan jelas.
"Senpai, biar aku yang menghancurkan jantung iblisnya." Kata Saika dengan tatapan tajamnya pada Futo. Aku tak pernah melihatnya seserius ini sebelumnya.
"Hmm, aku akan membantumu mendekat, dan mungkin sebentar lagi aku akan lock."
"Ka-li-an ha-rus MATII!!!!" Futo meringis lebar dan memiringkan kepalanya dengan aura merah yang semakin besar menyelimuti tubuhnya itu.
"Light Speed!!" Dengan kecepatan cahaya aku sudah berada di belakang punggung Futo.
Dan saat aku hendak mengayunkan pedangku, aku tiba tiba terkena Lock dan berubah menjadi manusia biasa sesra mendadak. Futo berbalik dan memukulku dengan sangat kencang, aku memuntahkan darah dari mulutku dan terpental sampai punggungku terantuk ke batang pohon. Sekarang aku hanya bisa tersungkur di tanah tanpa bisa berbuat apa apa. Aku hanya bisa berharap pada si mesum itu sekarang. Pandanganku mulai kabur, tapi aku masih bisa melihat Saika yang sekarang memeluk Futo dengan erat. Dengan ini pertarungan berakhir, Saika pasti bisa menghancurkan hati iblis itu dengan mudah. Kesadaranku perlahan memudar. Kelopak mataku menutup secara otomatis. Aku tak lagi bisa merasakan tubuhku lagi.
__ADS_1
Mungkin saatnya aku berhenti mengandalkan kekuatan dari iblis dan juga dewa ini. Fate Breaker tidak efektif jika digunakan dalam pertempuran yang memakan banyak waktu. Mungkin mode itu memang kuat, tapi waktunya sangat terbatas. Lain kali aku tak akan menggunakan Fate Breaker lagi, aku kapok dengan efek sampingnya ini. Pandangan mata kiriku jadi terganggu akibat dari kekuatan iblis yang mengalir di tubuh bagian kiriku ini.
Mungkin lama kelamaan aku bisa saja buta. Jadi memang benar, sekarang aku tak bisa seenaknya saja menggunakan kekuatanku. Mungkin takdir mulai melawan balik dan menunjukan kekuatannya. Tapi jangan harap aku menyerah sampai di sini saja, aku masih belum selesai. Tunggu, aku kembali bisa merasakan tubuhku. Basah, tetesan air mulai menghantam tubuhku dari atas. Hujan, kenapa malam ini bisa hujan?
Aku kembali membuka mataku, dan tak ku sangka, Saika masih sibuk bertarung dengan Futo. Saika mungkin gagal menghancurkan jantung iblis Futo dan malah membuatnya semakin mengamuk. Aku merasakan suatu benda ada di tangan kiriku. Ini adalah Kensetsu milikku, aku bisa merasakan kekuatannya hanya dengan menyentuh sarung pedang warna hitam ini. Aku kembali bangkit berdiri walau tubuhku masih lemas. Aku menggenggam sarung pedang Kensetsu dengan tangan kiriku.
Aku memejamkan kedua mataku dan bisa merasakan semua gerakan Futo dan Saika di tengah derasnya tetesan air hujan ini. Aku bisa melihat jantung iblis itu dengan jelas di dalam batin ku ini. Aku mulai menggenggam gagang Katana-ku ini, aku memasang kuda kuda dan menarik nafasku dalam dalam.
"Saika!!! Menyingkir dari sana!!!" Teriak ku dengan mataku yang masih terpejam.
"Sang cahaya dari dewa, bantu aku melenyapkan kutukan iblis dari bocah itu." Aku menghembuskan nafasku dan menarik Katana ku keluar dari sarungnya. Dan tepat saat itu juga aku melesat dengan kecepatan cahaya menembus tubuh Futo. Saat aku membuka mataku, aku sudah berdiri di belakang Futo yang berdiri terdiam karena batu kristal merah di dadanya itu sudah lenyap. Mata kiriku mulai mengalirkan darah keluar. Aku kembali memasukan bilah Katana-ku kedalam sarungnya. Aku jatuh dan berlutut karena kakiku tak lagi kuat menopang tubuh lemahku ini.
Futo pun ikut terjatuh dan tersungkur di tanah yang basah karena air hujan ini.
"Akhirnya ...," ucap ku dengan nafasku yang tak beraturan ini.
"Senpai!!!!" Saika berlari menghampiriku dengan tubuhnya yang sudah kembali seperti semula.
"Kenapa kamu malah ngurusin aku?!"
__ADS_1
"Itu Futonya!!!" Aku mulai kesal lagi karena sikap Saika itu. Bisa bisanya dia berlari ke arahku padahal ada bocah yang tergeletak di depannya.
"Oh ... maaf aku lupa." Dia berbalik dan kembali berlari ke arah Futo yang tersungkur tak sadarkan diri.