
Aku terbelalak saat melihat cahaya yang menyelimuti tubuh Ai dan Hanabi yang sedang berpelukan di bangku belakang. Beberapa saat kemudian cahaya itu menghilang dan anehnya mereka tak terluka sama sekali. Aku sangat bersyukur, mungkin saja itu adalah kekuatan tersembuyi dari si tuli itu. Jika memang benar aku harus berterima kasih padanya untuk melindungi adik perempuanku satu satunya itu.
"Kalian baik baik saja?" Tanyaku memastikan walau tahu mereka tak terluka sama sekali.
"Kak Ai pakai kekuatannya untuk melindungiku?" Hanabi mengangkat kepalanya dan memandang muka Ai.
"Apa kamu ga apa apa?" Ai memasang wajah khawatir seolah tak mengerti apa yang barusan terjadi.
"Kita harus segera keluar!" Takumi menendang pintu mobil samping kanannya itu hingga terlepas.
"Hmm," Aku pun membuka pintu mobil dan menginjakan kaki di rumput tipis ini.
Kami sekarang berada di dasar jurang yang berupa hutan lebat. Aku tak pernah ke sini sebelumnya, dan ini adalah hutan yang dilindungi oleh pemerintah. Sepertinya kami salah memilih tempat pendaratan, dengan begini mereka dengan mudah bisa menghabisi kami tanpa ada media yang bisa mengungkapnya.
Kami berdiri di perbatasan antara tebing dan hutan itu. Sepertinya tak ada pilihan lain selain berlari masuk ke dalam hutan. Takumi menggendong Hanabi di belakang punggungnya, aku menggandeng Ai agar kami tak terpisah. Kami berempat menyusuri hutan yang gelap dan sunyi. Hanya ada batang pohon sejauh mata memandang. Semak semak yang bergerak sendiri itu menambah ketegangan kami. Walau itu pasti karena hewan liar atau angin yang bertiup. Karena kaki kami mulai letih, kami memutuskan untuk duduk melingkar dan beristirahat di tengah beberapa pohon yang mengelilingi kami.
"Gi-gimana ini?! kalau sampai kita katahuan??!" Hanabi panik dan terus memeluk tangan kiri Takumi dengan erat.
__ADS_1
"Cih, gimana kalau kita minta bantuan Fumio?" Ujarku memberi usul.
"Hmm, mereka akan dengan mudah melacak kita." Takumi menggelengkan kepalanya.
"Takumi, kalau boleh tau, tujuan mereka ini apa?" Tanyaku karena sudah termakan rasa penasaran yang kupendam sejak dulu.
Shogun, organisasi paling rahasia dari pemerintahan dunia. Mereka bekerja untuk persatuan bangsa bangsa, itulah fakta mengejutkan yang aku terima. Berbeda Demon Hunter dan Enjeruhanta, mereka hanya menugaskan manusia biasa yang di sebut agen rahasia. Tapi jangan salah, intelejen mereka sangatlah hebat. Dalam sekejap mereka bisa menemukan target mereka. Apa lagi mereka dilengkapi teknologi canggih yang pastinya berbahaya.
Shogun di negara ini tak hanya punya agen rahasia sebagai pasukan mereka. Ninja juga bagian dari operasi rahasia Shogun di jepang, korea, dan negara ini. Jangan salah, ninja itu juga memiliki tingkatan. Mulai dari Genin atau amatir, Chunin atau ninja menengah, dan yang terakhir Jonin atau master ninja. Ya, itu seperti anime terkenal yang pernah kulihat di televisi. Hanya saja mereka tak punya kekuatan sihir. Mereka hanya manusia biasa yang pintar bersembuyi dan ahli dalam berpedang.
Tujuan dari organisasi Shogun adalah, mereka ingin membunuh para Tenshi dan Detroit. Menghancurkan Demon Hunter dan Enjeruhanta, itulah tujuan mereka. Ya, jika mereka ingin melenyapkan Enjeruhanta saja tak masalah. Tapi jika DH ikut dalam daftar musuh mereka, berarti ini adalah segitiga kematian. DH, Enjeruhanta, dan Shogun adalah tiga organisasi yang berusaha meraih tujuannya masing masing. Shogun ingin melenyapkan Tenshi dan Detroit untuk mengembalikan dunia ini kembali seperti yang seharusnya.
Menyelamatkan dunia, menjaga takdir dunia ini, atau mengambalikan takdir seperti semula. Tiga tujuan dari ketiga organisasi itu berurutan. DH ingin melindungi dunia ini, Enjeruhanta ingin takdir berjalan seperti seharusnya, dan Shogun ingin dunia ini kembali seperti semula. Tujuan yang saling bertabrakan satu sama lain. Ternyata konflik di dunia ini jauh lebih rumit dari yang kubayangkan.
"Jadi gitu, musuh kita lebih banyak dari yang ku duga ...," gumamku mencerna penjelasan Takumi barusan.
"Dan juga Kaito, sekalian saja ... aku ingin menjelaskan tentang Kensetsu milikmu itu." Ucapan Takumi yang kembali mengambil perhatianku.
__ADS_1
Kensetsu atau pedang legendaris milikku ternyata memiliki sejarah yang belum Fumio ceritakan padaku. Katana itu adalah milik orang yang bernama Tetsujo Kamui. Samurai hebat sekaligus Teshi pertama di dunia ini. Yang lebih mengejutkan adalah Kamui adalah pendiri dari Demon Hunter. Itu terjadi karena Kamui tak sengaja bertemu dengan Akame di tengah perjalananya. Dan setelah itu dia semakin sering bertemu dengan iblis rendahan itu. Kamui semakin tertarik dan mengajak pasukannya untuk memburu Akame di tengah peperangan antar negara yang berkecamuk.
Dan sejak saat itulah fakta fakta tentang Jigoku Gate dan iblis yang bermunculan mulai terkuak. Setelah peperangan selesai, Kamui yang melihat Akame terus bermunculan itu langsung membentuk organisasi bernama Demon Hunter yang kami kenal saat ini. Beberapa puluh tahun berlalu dan Kamui pun akhirnya meninggal dunia. Pedangnya yang bernama Kensetsu itu hanya dipajang di museum DH karena tak ada yang bisa menggunakanya. Entah kenapa, jika orang biasa yang memegangnya, Kensetsu hanyalah sebilah besi tumpul yang bahkan tak bisa menggores kulit.
Tapi itu hanya sampai si nenek peramal tua itu bergabung dengan DH. Petinggi DH itu meramalkan bahwa aku, sang terpilih akan bisa menggunakan Katana itu kembali. Setelah sekian lama menanti akhirnya Kensetsu itu ada di tangan ku sekarang ini. Kensetsu itu menyimpan jiwa Kamui yang memiliki impian yang sangat besar. Kamui pernah berkata bahwa ia tak akan mau mati sebelum dunia ini berubah jadi surga.
Ya, memang itu mustahil. Tapi impiannya itu sangat kuat sampai jiwanya berpindah ke pedangnya sendiri. Dan sebenarnya, aku bisa memanggil Kensetsu-ku seperti aku memanggil Ten Kara no Ken, pisau dari surga itu. Hanya saja, aku membutuhkan satu tetes darah untuk pengorbanan. Aku harus menjatuhkan satu tetes darah segarku ke tanah dan memperkuat impian ku. Maka, Kensetsu itu akan otomatis terpasang di pinggangku.
"Samurai legendaris ya?" Ucapku perlahan meletakan tangan kanan ku di dagu.
"Hmm ... gitu lah, Eh?!" Takumi mengangguk perlahan sebelum ia terperanjat karena menyadari Hanabi yang tertidur di sampingnya.
"Hoi ... dia tidur karena dongengmu barusan tuh." Candaku dengan wajah datar.
"Tu-tunggu Hanabi!?" Takumi menggoyangkan tubuh Hanabi.
"Oh?! Hehe, udah selesai ya dongengnya?" Hanabi terkekeh dan menggaruk kepalanya. Aku tak mengira dia bisa bisanya tersenyum di saat saat seperti ini.
__ADS_1