Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 154


__ADS_3

"Kaito? Bangun ... udah pagi nih." Suara kecil seperti nyamuk dan tangan lemah yang menggoyangkan badanku. Aku kembali ke dunia nyata setelah berdiam diri terlalu lama di alam mimpiku. Kelopak mataku terbuka secara otomatis setelah mendengar suara itu. Gadis dengan manik mata ungu berbinar, rambut hitam yang terurai panjang. Ia sudah siap dengan seragam sekolahnya itu.


"Hmm ...," aku duduk di atas ranjang dengan tubuhku yang masih lemas ini.


Ting tung~


Di saat yang sama ponselku berdering tanda pesan masuk. Aku merogoh saku celanaku dan menarik ponselku keluar.


{Jangan pergi ke sekolah}


{Bahaya!}


{Hanabi juga!} Chat dari Fumio yang menyambut pagi hari ini.


"Ai, hari ini kalian ga perlu sekolah dulu ...," Ucapku lemas.


"Aku? Hanabi? Kenapa?" Ai meletakan jari telunjuk di dagunya dan sedikit memiringkan kepalanya.


"Apa kejadian kemarin masih belum cukup untuk menjelaskannya?" Aku meletakan ponselku di samping bantal.


"Owhh ... ya udah ayo sarapan dulu." Ai melangkah keluar dari kamarku ini. Aku baru sadar aku berada di rumah Ai setelah beberapa saat. Ya, sudahlah. Aku bangkiy berdiri dan mengikuti jejak si tuli itu. Aku menuruni tangga dan berbelok ke lorong yang dindingnya penuh dengan lukisan lukisan mahal. Setelah sampai ke ujung, aku melihat meja makan yang super panjang. Meja makan seperti milik raja raja yang sering ku lihat di televisi. Terdapat empat kursi kayu di sisi meja itu, dan ada dua kursi besar di masing masih ujung meja itu.


"Selamat pagi kak!" Ujar Hanabi sibuk merapikan piring piring di atas meja makan itu.


"Oh ya, Hanabi, hari ini kamu ga perlu sekolah dulu ya?" Kataku memberi tahunya.


"Laah? Terus?" Tanya Hanabi kebingungan.


"Ya nanti kakak jelasin."


Ini adalah pagi pertamaku sarapan di istana mewah ini. Aku serasa hidup di zaman yang berbeda, suasana pagi ini jauh berbeda dari yang biasa aku rasakan. Canda tawa Hanabi memenuhi ruangan besar ini, tak ku sangka Hanabi selalu membuat keramaian dimanapun dia berada. Setelah selesai mengisi perut, aku kembali naik dan masuk ke kamarku. Ketika aku hendak mandi, aku baru sadar aku tak membawa pakaian lain selain yang aku kenakan.


Tunggu? Apa itu?

__ADS_1


Aku melihat selembar kertas yang ada di atas meja belajar. 'Pakaianmu ada di lemari,' sepertinya ini adalah surat dari Kazuki. Aku menoleh ke segala arah dan menemukan lemari kayu besar yang ada di pojok ruangan. Tanpa pikir panjang aku membuka kedua pintunya. Aku melihat setumpuk kemeja lengan panjang dan celana panjang di rak paling atas. Di rak kedua ada beberapa jas dan long coat yang digantung.


"Long coat ini ...," gumamku saat melihat long coat cokelat yang terlihat tak asing bagiku. Ini seperti yang dipakai ayah dalam mimpiku. Tanpa pikir panjang aku segera mandi dan membersihkan rasa lelah yang masih menempel di tubuhku. Beberapa belas menit kemudian, aku mengeringkan badan dan mengganti pakaianku. Aku memakai kemeja putih dan dasi hitam. Aku juga menenakan celana panjang hitam, tak lupa aku menakai long coat cokelat yang mirip seperti punya ayah.


"Woah ... aku terlihat tua ...," gumamku perlahan saat bercermin di depan lemari tadi.


"Kaito apa kamu udah ...," Ai menghentikan kalimatnya dan membeku di depan pintu saat melihatku.


"Ohh, apa aku terlihat aneh?" Aku malah gugup saat melihat Ai terpaku padaku.


"Engga kok, cocok ...," Ai sedikit memancarkan rona merah di pipinya.


"Ano, apa kau mau ikut? Aku mau ke tempat paman Dai." Aku mengambil ponselku di samping bantal.


"He? Enggak ah, aku mau nemenin Hanabi aja." Jawab Ai menolak ajakanku.


"Ya udah, titip adikku ya?" Aku mengusap kepalanya perlahan.


"He? Siapa itu?" Hanabi yang baru saja ingin menaiki tangga terperangah saat mengetahui penampilan baruku ini.


"Hmm, kakak mau pergi ... jaga kak Ai baik baik ya?" Aku kembali mengusap kepala adik perempuanku itu.


"Woah ... kakak keliatan kaya ayah." Ujarnya dengan matanya yang berbinar.


"Apa aku setua itu ya?" Aku mengambil ponselku untuk menelepon nomer yang ada di kartu nama Dai.


"Apa ini Okino-sama?" Suara laki laki yang mengangkat teleponku.


"Ohh, iya ... kata Dai jika aku ingin ke tempatnya, aku harus menelepon nomer ini." Jelasku.


"Anda menghubungi nomor yang tepat, saya akan ke sana beberapa menit lagi." Ucapan terakhir pria itu lalu sambungan teleponnya terputus begitu saja.


"Kakak mau kemana?" Hanabi menarik tanganku berkali kaki.

__ADS_1


"Kakak mau menyelesaikan satu masalah." Jawabku melempar senyum tipis lalu keluar dari rumah mewah Ai itu. Dan tepat saat aku menutup pintu depan, aku melihat mobil SUV hitam berhenti di luar gerbang rumah.


Cepet banget ...


Aku melangkah menyusuri jalan kecil menuju ke gerbang rumah besar ini. Pohon pohon yang di tanam di pinggiran jalan ini membuat suasana semakin indah. Aku tidak ada hentinya mengagumi tempat tinggal si tuli itu. Hanya saja dia tak pernah mendapat kasih sayang dari Kazuki.


Aku segera keluar dari gerbang dan masuk ke mobil yang menjemputku itu. Aku duduk di kursi penumpang layaknya seorang bos. Tak kusangka hidupku bisa berubah drastis seperti ini. Semua kejutan ini tiada hentinya menghujaniku. Tanpa sepatah kata pun si supir itu langsung melajukan mobil ini entah kemana tujuannya. Karena merasa tak ada yang perlu di bicarakan, aku hanya duduk diam dan menikmati pemandangan di luar kaca jendela mobil.


Setengah jam berlalu, akhirnya aku bisa melihat keramaian kota Natsu lagi. Mobil ini berhenti di depan gedung pencakar langit yang sangat tinggi. Gedung Daikyo, tepat seperti yang tertulis di kartu nama Dai.


"Okino-sama, naiklah ke lantai tiga puluh dan cari ruangan nomer tujuh ratus tiga puluh." Ujar supir yang mengenakan setelan jas hitam dan kaca mata hitam pula.


"Ohh, terima kasih." Ucapku lalu keluar dari mobil. Aku langsung melangkah masuk ke gedung yang ternyata adalah kantor percetakan. Aku masuk ke lift dan menekan tombol nomer tiga puluh. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pintu lift terbuka secara otomatis. Aku berjalan menyusuri koridor gedung sembari mencari ruangan nomor tujuh ratus tiga puluh itu. Aku melihat dua orang bersenjata senapan laras panjang dan memakai armor lengkap dengan helmnya. Mereka berdiri di depan pintu sebuah ruangan.


"Okino-sama, selamat datang!" Seru mereka serentak seraya hormat padaku. Sontak aku yang hendak melewati mereka ini terhenti. Kalau begitu pasti ini adalah ruangan yang aku cari.


"Apa Dai ada di dalam?" Tanyaku.


"Tentu, dia sudah menunggu anda!" Salah satu dari mereka membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.


Mereka kembali menutup pintu setelah aku memasuki ruangan ini. Ruangan yang sedikit gelap karena tak ada satupun lampu yang menyala, tapi cahaya yang memancar masuk ke dalam kaca gedung ini membuat ruangan ini bercahaya. Ruangan yang setengah gelap dan setengah terang, apa mungkin ini ada artinya?


Aku melihat dua sofa mewah yang mengapit meja bundar kayu kecil di tengah tengahnya. Sofa sofa itu menghadap ke luar kaca gedung uang menyajikan pemandangan kota Natsu di pagi hari ini.


"Wah wah, lihat siapa yang datang ... silahkan duduk Kaito ...," Ujar Dai yang mengetahui kehadiranku tanpa melirik sama sekali. Dia duduk santai di sofa sebelah kanan dengan jubah hitam yang selalu ia kenakan itu.


"Hmm," aku melangkah maju dan langsung duduk seperti yang ia katakan. Aku baru sadar pemandangan kota Natsu terlihat sangat indah dari sini. Gedung gedung pencakar langit yang berbaris rapi. Pesawat yang meninggalkan garis putih di langit. Awan awan yang berenang kesana kemari di lautan biru nan cantik.


"Kau terlihat seperti ayahmu ... Yama-kun ... seandainya kau bisa melihat dia sekarang." Dai menyeruput sedikit teh hangat yang ada di gelas kecil itu.


Yama-kun? Panggilan akrabnya dengan ayahku?


Sebenarnya apa hubungan ayahku, Dai, dan juga Kazuki?

__ADS_1


__ADS_2