Unmei To Shiawase

Unmei To Shiawase
Chapter 44


__ADS_3

Suara derasnya aliran sungai, angin yang berhembus kesana kemari. Langit malam yang penuh dengan cahaya kelap kelip bintang. Bulan yang bulat sempurna itu menambah cantiknya langit malam ini.


Cahaya lampu taman yang ada di samping kursi kayu panjang yang kududuki. Kakume yang juga ada di sampingku. Kami duduk di pinggiran sungai Mabuta hanya untuk menikmati malam ini dan sedikit merenung.


Jantung iblis Sayouka lenyap tepat saat Kakume mengusap kepalanya. Ternyata aku tak butuh pedang untuk menghancurkan jantung iblis itu. Tapi nampaknya Kakume baru saja mengetahui hal itu bersamaan denganku.


"Kaito ... sebenarnya ... kamu ini apa?" Gumam Kakume ditengah lamunannya.


"Hmm ... manaku tau ...," aku mengangkat kepalaku dan melihat indahnya langit malam ini.


"Apa kau sadar ... kamu baru saja mengendalikan kekuatan iblis?"


Perkataan Kakume itu membuatku sadar. Selama pertarungan tadi lengan kiri ku masih seperti bentuk normalnya. Aku tak melihat retakan atau perubahan warna di kulit lengan kiriku tadi.


"Cuma mata kirimu saja yang berubah menjadi mata iblis ... apa kamu juga merasakan ada hal yang aneh?" Kakume menundukan kepala dan memejamkan kedua matanya.


"Hmm ... sebelumnya tak pernah begitu ... tubuh bagian kiriku tetap muncul retakan aneh ... tapi hari ini ..."


"Huff ... ternyata kekuatan orang yang terpilih memang luar biasa ... aku belum pernah melihat Tenshi melenyapkan kutukan tanpa pedangnya ...", Kakume menghela nafasnya dan mengangkat kepalanya kembali.


"Ngomong ngomong ... berapa lama kamu kerja di Demon Hunter?" Tanyaku.


"Lima atau enam tahun mungkin ... dan kamu pasti bingung kenapa aku bisa membawa novel yang ingin kakak Sayouka berikan ya kan?" Ternyata dia bisa menebak pertanyaanku yang selanjutnya.

__ADS_1


Para Tenshi atau orang yang memiliki kemampuan spesial dari Dewa itu memang tak bekerja sendiri. Kakume memakai earphone tanpa kabel di telinganya. Tentu saja fungsinya untuk berkomunikasi dengan anggota lain maupun markas mereka.


Setiap ada orang yang mendapat kutukan dari iblis, ada anggota yang berada dalam markas yang bertugas memberi informasi pada Kakume. Dan Kakume merahasiakan identitas anggota itu sebelum aku memutuskan bergabung dengan Demon Hunter.


Anggota rahasia itu juga adalah Tenshi. Ia memiliki kekuatan untuk bisa melihat masalah orang yang terkena kutukan iblis itu. Bahkan ia bisa melacak keberadaan orang tersebut.


"Ohh ... gitu ...," aku mengangguk paham setelah mendengar penjelasan Kakume.


"Ya udah ... cepat pulang sana ... adikmu pasti nungguin,"


"Tunggu?? ... darimana kamu tahu?!", sebelum aku menyelesaikan kalimat pertanyaan ku dia kembali memakai kekuatannya itu.


Dia menhilang tanpa jejak dan aku sama sekali tak bisa merasakan hawa keberadaannya. Dasar orang *****!, dia tak menggunakan kekuatan itu di pertarungan tapi malah di saat yang tak penting seperti ini.


"Okino-sama?"


Suara yang sama sekali tak inginku dengar saat malam hari tiba. Ema berdiri di belakang ku dan menepuk pundakku. Rambut pirang poni tail dan mata biru dengan tatapan kosongnya itu. Kemeja lengan panjang dan rok hitam panjang, kenapa dia gak pernah ganti baju seh?


"Ema? ... ngapain di sini?" Aku berdiri dari kursi yang ku duduki setelah melihatnya.


"Gak tau ...," jawabnya dengan wajah datar serta tatapan kosongnya.


"Huff ... aku anter kamu kerumah Ai aja lah ...," jika dia ke rumahku pasti dia akan tidur seranjang denganku lagi.

__ADS_1


"Gak mau ...," kata kata yang sama sekali tak ingin aku dengar.


"Huff ..."


Aku menggenggam tangan kanannya dan membimbingnya melangkah. Malam ini sepertinya aku tak akan tidur sendirian lagi.


Bodoh!!!


Bukan berarti aku mengharapkannya. Aku hanya tak bisa menolak permintaannya itu. Sial, aku sepertinya memang mengharapkannya. Dasar laki laki mesum, bukan ... Bukan aku!


Aghh ... pikiran ku kacau malam ini.


Udah lah bodo amat ...


Kami berjalan berdampingan menyusuri jalanan yang sepi dan sunyi. Hanya bulan dan bintang di atas langit yang melihat kami berdua melangkah malam ini. Hanabi pasti sudah tidur mengingat ini sudah tengah malam.


Dan benar saja, ketika kami berdua masuk ke rumahku. Kegelapan sudah menyelimuti ruangan di dalam rumah. Pintu kamar Hanabi sudah tertutup rapat.


"Okino-sama? ... apa aku boleh tidur bareng Hanabi?", pertanyaan yang sama sekali tak ku duga.


"Ha? ..."


Aku kesal, tidak ... aku lega tidak juga ... aku sudah gila karena tak bisa memahami sifat Ema ...

__ADS_1


"Ya dah sini aku anter ...",


__ADS_2