
Kemudian, pemandangan di sekitar Yi Hua beralih dengan sangat drastis. Itu yang membuat hawa tak nyaman terlintas di sekitar Yi Hua. Jika Yi Hua tak terbiasa dengan segala macam hantu dan iblis, mungkin dia akan segera terkapar karena ketakutan.
Suasana di sekitar Yi Hua sangat mencekam. Lalu, ... TES!
Wehh burung yang kurang kerjaan! Mengapa kau sampai meneteskan 'simpanan' milikmu di atas kepalaku!
Yi Hua jelas tahu bahwa dia memiliki jumlah kesialan di atas rata-rata. Hanya saja! Jangan terlalu sering seperti ini! Mau tak mau Yi Hua hanya bisa mengusap rambutnya yang terasa basah. Mendadak ia ingin belajar memanah sambil duduk di atas sapi. Itu semua karena Yi Hua tak punya kuda, sehingga dia pasti akan terlihat menawan jika memanah sambil menunggang sapi.
Namun apa yang ia dapat di tangannya bukanlah 'simpanan' Si Burung, melainkan warna merah pekat. Yi Hua langsung mencium aroma karat dan itu membuatnya sangat mual.
"Darah!" teriak Yi Hua sambil menepuk-nepuk kepalanya hanya agar tak ada darah lagi di sana.
Akan tetapi, ...
CRASHHH!
Aku bisa gila jika aku terus dalam kenangan milik Shen Qibo yang tidak ada manis-manisnya ini!
Bukan hanya di kepalanya, tetapi ada percikan darah di sekujur tubuhnya. Dengan tangan bergetar Yi Hua menyeka darah di permukaan wajahnya. Setelah itu, Yi Hua menyadari seseorang berdiri di hadapannya. Itu adalah sosok dengan pakaian berwarna putih.
Namun ini bukanlah pakaian khas Peramal Kerajaan. Jenis pakaiannya lebih sederhana, tetapi lebih tebal dibandingkan pakaian peramal. Pakaian ini putih, tetapi dilapisi oleh darah yang nyaris membuat pakaian sosok itu berganti warna.
Pria ini ... Dia Shen Qibo?
Apakah dia datang ke masa pembantaian itu terjadi?
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membantai seluruh kota?" tanya seorang pria dengan luka menganga di lehernya.
Pria ini sepertinya telah melakukan segala macam cara untuk melawan Shen Qibo. Hanya saja Shen Qibo sejak awal sudah sangat berbakat. Sehingga pedangnya terlempar dan hanya bisa berlutut di depan Shen Qibo.
Shen Qibo tak mengatakan apa-apa. Wajah pria itu mulai tenang, dan tak seperti di kenangan sebelumnya. Di kenangan sebelumnya Yi Hua dihadapkan pada Shen Qibo yang konyol dan ceria. Akan tetapi, entah apa yang dilalui pria ini, dia mulai menampakan sosok tenang yang menakutkan.
Terkadang lebih menakutkan saat kau berhadapan dengan pembunuh yang sangat tenang. Bahkan tak ada kemarahan, kesenangan, atau pun kesedihan. Sehingga ini terlihat sangat menakutkan saat seseorang tak merasakan apa-apa setelah membunuh banyak orang.
"Jika kerajaan tahu kau membunuh para anggota ... Kau ..." ancam pria itu dengan nada tak mengerti.
Sebentar ... Anggota?
Shen Qibo menyeka darah di pipinya dengan wajah yang tenang. "Bukankah sangat memuakkan saat satu kota ternyata dihuni oleh para pembunuh? Para Tentara Malam punya kota mereka sendiri, dan bertindak seolah mereka penduduk biasa. Akan tetapi, ... Ternyata mereka pembunuh dengan perintah kerajaan," lanjut Shen Qibo tanpa membiarkan Yi Hua untuk berpikir lagi.
Jika begitu ... Pantas saja ribuan kerangka ditimbun di bawah tanah Lembah Debu. Itu semua karena semua Tentara Malam berada di sini. Saat semuanya tenang mereka akan bertindak seolah penduduk sipil, tetapi mungkin salah satu dari anggota keluarga mereka adalah Tentara Malam.
Ini adalah hal baru yang Yi Hua ketahui. Mungkin bukan hanya dirinya saja, tetapi yang lainnya juga mungkin sependapat dengan Yi Hua. Dan, tak aneh jika mereka menggunakan sandi di lubang bawah tanah saat menyiapkan kudeta. Itu semua karena Tentara Malam biasanya sangat terlatih.
Akan tetapi, ... Shen Qibo berkhianat dan membunuh anggota-nya sendiri?
Dia tak berkhianat pada kerajaan karena dia mata-mata kerajaan. Kerajaan pasti sangat takut saat tahu satu kota yang isinya para Tentara Malam ingin melakukan kudeta. Oleh karena itu, ia menyelipkan mata-mata ke dalam para Tentara Malam ini.
Hanya saja ... Dengan begitu Kerajaan akan tetap 'bersih' dari noda. Lalu, siapa yang bisa disalahkan di sini?
Seseorang yang menanggung dosa untuk sebuah kerajaan? Atau, kerajaan yang berusaha membuat damai wilayahnya, tetapi mengorbankan satu orang? Atau, mereka yang ingin melengserkan kerajaan dengan alasan tertentu?
Ini mulai menjadi sangat memuakkan. Bagaimana bisa mereka bermain bersih, dengan menjadikan satu orang sebagai pendosa?
Namun semua orang tahu dia adalah pengkhianat kerajaan yang melakukan pembantaian pada satu kota selama satu malam. Bagaimana bisa kepedihan pelik ini hanya ditanggung oleh Shen Qibo sendirian?
Shen Qibo dikutuk oleh satu kerajaan, dan disebut pendosa. Padahal nyatanya dia adalah seseorang yang menyelamatkan kerajaan dari kudeta para Tentara Malam.
Pria yang berusaha menutupi luka menganga pada tubuhnya itu menunjuk pada Shen Qibo. "Bukankah kau harusnya tahu bahwa kerajaan ini sudah sangat kacau? Lalu, Yang Mulia Raja tetap bertahan di tahta, sedangkan dia tak seharusnya menjadi Raja. Jika kita tak ..."
"Persoalan ini sangat memuakkan," ucap Shen Qibo tanpa ekspresi apapun.
SRET!
DRASSHHH
Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, Shen Qibo langsung menebas pria itu tepat pada dadanya. Hal itu membuat darah memercik hingga pada wajah Shen Qibo. Akan tetapi, mata dingin Shen Qibo tak pernah berubah. Entah apa yang dipikirkan oleh pria ini.
TAP!
TAP!
TAP!
Mendengar langkah itu Yi Hua menolehkan kepalanya. Di sana ia melihat sosok Yue Yan yang agak kacau. Pria itu mungkin berlari begitu lama dan terjatuh beberapa kali hingga pakaiannya sudah menyatu dengan alam. Pakaiannya kotor dan memiliki sobek yang besar.
"Kau ... Ini bagaimana ..." tanya Yue Yan yang sebenarnya tak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
__ADS_1
Yi Hua bisa merasakan ketakutan Yue Yan. Ia sangat mengerti mengapa Yue Yan sangat membenci Shen Qibo. Itu semua karena hanya Shen Qibo yang berdiri di atas darah-darah ini. Belum lagi dengan mata dingin Shen Qibo.
Akan tetapi, tak semua orang bisa membaca ekspresi wajah orang lain.
Shen Qibo melirik pada Yue Yan sekilas, lalu pria itu menarik pedangnya lagi. Yue Yan bisa melihat ada aliran darah di pergelangan tangan Shen Qibo. Itu saja sudah memperlihatkan betapa aktifnya Shen Qibo membunuh.
BRUK!
Yue Yan yang malang. Ia datang pada saat yang tidak tepat.
Yue Yan menatap panik pada Shen Qibo yang mendekat padanya. Meski mereka tak bisa melihat kehadiran Yi Hua di masa lalu ini, tetapi Yi Hua bisa melihat dengan jelas. Dan, karena dia memasuki masa lalu melalui diri Shen Qibo, sehingga Yi Hua memiliki kepekaan terhadap perasaan Shen Qibo.
SRET!
BAKH!
Yue Yan melempar Shen Qibo dengan batu. Namun dengan mudahnya Shen Qibo mengibaskan pedang untuk menangkisnya. Hingga Yue Yan hanya bisa merangkak untuk menjauhi Shen Qibo.
Tangan kiri Shen Qibo yang kosong segera meraih leher Yue Yan. Dengan mudahnya Shen Qibo mengangkat Yue Yan ke udara. Tangannya masih mencekik pada leher Yue Yang.
Yue Yan memberontak dan berusaha melepaskan tangan Shen Qibo yang mencekiknya. Namun Shen Qibo jelas tak bisa diatasi lagi. Jika Yi Hua tak dari masa depan, mungkin dia akan mengira jika Shen Qibo akan membunuh Yue Yan.
SRET!
"Uhuk ... Uhuk!" Yue Yan terbatuk keras saat lehernya tercekik oleh tangan Shen Qibo.
Shen Qibo terlalu kuat untuk menjadi tandingannya. Hal itu yang membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Air matanya mengalir dengan deras, tentu saja dia merasa sangat ketakutan. Matanya yang berair menatap pada wajah tenang Shen Qibo.
Padahal beberapa hari yang lau mereka bertemu dengan pembicaraan yang sangat baik.
Sekarang ... Mengapa Shen Qibo membantai semua orang?
BRUK!
Yue Yan meringis kesakitan saat Shen Qibo membantingnya ke tanah. "Sakit sekali ..."
Shen Qibo tanpa ada tujuan yang jelas langsung meninggalkan Yue Yan. Hal itu membuat Yue Yan merangkak untuk mendekat pada Shen Qibo. Ia sangat yakin jika Shen Qibo memiliki alasan untuk ini semua.
Yang diperlukan Yue Yan adalah alasan. Alasan agar dia tak membenci Shen Qibo. Sebab, meski aneh, tetapi ... "Kau bukanlah orang yang melalukan sesuatu tanpa adanya alasan, Shen Qibo," ucap Yue Yan sambil berusaha berdiri dari posisinya.
Tolong ... Ku mohon ... Berilah aku penjelasan agar aku tidak membencimu.
Yi Hua yang jelas-jelas ada dalam kenangan tentu saja bisa mendengar ucapan hati Yue Yan.
Hanya saja ...
Apa yang bisa dijelaskan oleh Shen Qibo?
Dia tak mungkin mengatakan bahwa satu kota itu isinya Tentara Malam. Dia juga tak bisa mengatakan bahwa satu kota itu sebenarnya telah menentang kerajaan. Yi Hua mendadak mengerti posisi dari Shen Qibo.
Shen Qibo melirik pada Yue Yan, "Alasan ... Mungkin aku menyukai bagaimana mereka mati. Itulah alasannya."
Hanya saja ... Shen Qibo mungkin terlalu berduka hingga tak bisa menangis lagi.
Yue Yan berteriak kencang sambil memukuli tanah. "Kau tak boleh melakukan itu. Mereka tak salah apapun, Shen Qibo."
"Bukankah kau menyukai ini, Yue Yan?" tanya Shen Qibo sambil melepaskan kain yang mengikat di lengannya.
Entah berapa lama kain itu melingkar di sana. Warnanya sudah tercampur dengan proses kotor yang alami mau pun tidak. Lagipula, siapa yang masih akan memakai selembar kain seperti ini untuk mengikat lukanya?
Sebentar ... Luka?
SRING!
Yi Hua bisa melihat hal gelap yang ada di sekitar Shen Qibo. Seingat Yi Hua, ... Bukan ... Yue Yan juga sangat ingat jika ada luka menganga di lengan Shen Qibo. Dan, kini luka yang besar dan pastinya menyisakan bekas meski sudah sembuh, tak ada lagi. Bahkan bekasnya pun tak ada.
"Shen Qibo, kau ..."
Menjadi pendosa.
Terlalu banyak kebencian dan dendam yang berputar di kota berdarah ini. Sehingga tanpa sadar menghitamkan hati Shen Qibo. Tatapan mata Shen Qibo menjadi sangat menakutkan. Pria ini telah menjadi iblis karena dosa yang ia buat.
"Apa maksudmu bahwa aku akan menyukai ini" tanya Yue Yan dengan sangat ketakutan.
Shen Qibo menarik senyumnya yang sangat menakutkan. "Mereka adalah orang-orang yang sering menindas dirimu. Mereka memukul mu, melempari batu, dan bahkan menyebutmu dengan kalimat yang sangat menyebalkan. Ini adalah hari kebebasan dirimu. Tak ada lagi yang akan menghinamu. Kau akan sendirian di sini."
Itu memang benar.
__ADS_1
Akan tetapi, ...
Yue Yan semakin menangis keras. "Aku tak pernah menginginkan kematian siapapun!"
"Pembohong. Kau membenci mereka."
Apa-apaan ini!
Yue Yan mulai mempertanyakan perasaannya sendiri. Ia sama sekali tak merasa bahagia atas yang terjadi di sini. Dia memang membenci seluruh orang kota. Namun ... Bukan dengan melihat kematian mereka.
"Bunuh aku," ucap Yue Yan yang tengah menyeka air matanya sendiri.
Shen Qibo berbalik untuk mendekat pada Yue Yan. Di tangan pria itu jelas masih ada pedangnya yang terhunus. Yue Yan merasa pedang itu juga berubah karena telah membunuh banyak orang.
Ini sama seperti kau menciptakan senjata dengan pengorbanan dari darah orang lain.
Ketika Yue Yan berpikir jika Shen Qibo akan membunuhnya, tetapi Shen Qibo hanya mengikat selembar kain di matanya. Hal itu membuat Yue Yan menatap tak mengerti pada Shen Qibo.
Mengapa dia bermain di saat seperti ini?
"Kau masih tak boleh mati, Yue Yan," ucap Shen Qibo yang kini berbalik lagi.
Kini matanya telah tertutup, dan pedangnya sudah tersisip di pinggangnya. Dia jelas bertindak seperti membunuh Yue Yan adalah hal yang sangat tak berguna baginya.
"Mengapa?"
Shen Qibo tersenyum, entah karena apa. "Mungkin karena aku belum sempat mengembalikan kain ini padamu. Jika nanti aku mengembalikannya, baru aku akan membunuhmu."
HUH?
Jangankan Yue Yan, Yi Hua saja tak mengerti mengapa ada hal seperti itu? Sebut saja ... Apa pentingnya kain itu?
"Shen Qibo ..."
BRUK!
Yue Yan memuntahkan darah ketika Shen Qibo menendang perutnya. Itu membuatnya lemah dan tergeletak di tanah. Ia masih sadar, tetapi seluruh kekuatannya telah hilang.
Yi Hua menyaksikan itu tanpa bisa mengatakan apa-apa.
Shen Qibo berjalan untuk pergi dari kota yang sudah mati ini. Mayat-mayat bergelimpangan dan membuat tanah yang awalnya hitan tercemar oleh darah. Warna permukaan tanah perlahan menjadi sangat merah.
Ini jelas menjadi pengalaman yang sangat menakutkan.
"Ini bukan tentang kainnya, tetapi janji di saat itu. Maka teruslah menjadi kuat, Yue Yan. Datanglah dan bunuh aku. Maka aku akan mengembalikan kain ini," ucap Shen Qibo pelan.
Hanya itu yang bisa Yue Yan dengar dari Shen Qibo.
Setelah itu, seorang Pendeta Buta mulai dikenal oleh masyarakat. Seorang pembunuh keji yang membantai satu kota. Seseorang yang dikutuk oleh satu kerajaan. Semua orang ingin dia mati dengan keadaan yang terburuk.
Hanya saja ...
Shen Qibo benar.
Dunia ini begitu buta hingga hanya melihat apa yang terjadi di permukaan. Lebih dari segalanya, ... Shen Qibo harusnya tak merasa kecewa lagi. Ini adalah sesuatu yang diputuskan oleh Shen Qibo sendiri.
Lalu, ...
Ketika itu Yi Hua melihat sosok lain yang lebih familiar. Sosok itu berdiri di tempat yang agak jauh. Ia terlihat sangat bersih di tempat yang begitu kotor. Darah yang berceceran tampak tak bisa menodai dirinya.
Sosok itu ...
"Hua Yifeng, ..." Yi Hua tanpa sadar berteriak.
Hanya saja ini adalah kenangan, dan jelas suaranya tak akan terdengar dalam kenangan Shen Qibo ini. Akan tetapi, ... Hua Yifeng ada di kota ini saat terjadinya pembantaian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1