Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Pedang yang Menakutkan


__ADS_3

Yi Hua menyadari bahwa ia mengenal suara dari orang yang membekapnya itu. Sehingga perlawanannya sedikit mengendur, dan pria yang membekapnya pun berhenti. Bukan karena Yi Hua yang berhenti memberontak, tetapi lebih karena rasa sakit di perutnya.


"Yi Hua, perutku sangat sakit. Bagaimana bisa kau bertindak seperti itu?" Liu Xingsheng tampak mengusap perutnya dengan gestur yang menyedihkan.


Bagaimana pun Perdana Menteri kiri ini bukanlah tipe orang yang kuat. Dia bahkan tak bisa memegang pedang dengan benar. Oleh karena itu, bahkan sikutan dari Yi Hua pun terasa sangat menyakitkan.


Yi Hua menjawab protes dari Liu Xingsheng dengan suara yang sangat kecil. Bagaimana pun saat ini mereka masih dalam mode mengintip. Sehingga dia tak bisa melakukan protes besar-besaran terhadap tindakan menyebalkan dari Liu Xingsheng.


Siapa suruh mahluk ini membekap aku dari belakang! Dia pikir mataku ada di belakang, sehingga aku tak terkejut ketika ada orang di belakangku!


"Bisakah Anda datang dengan cara yang lebih baik, Perdana Menteri Liu?"


Liu Xingsheng masih mengusap perutnya dengan wajah sedih, "Aku bertindak seperti itu agak kau tidak menimbulkan keributan. Bagaimana mungkin ..."


SRET


Yi yang kali ini menekan Liu Xingsheng di tembok yang agak basah itu. Semua itu karena pintu yang sebelumnya tertutup itu terlihat celahnya. Yi Hua jelas tak menyadarinya, tetapi yang menyadarinya adalah Xiao.


Di telinganya, Xiao memberikan peringatan. Yahh, terkadang Xiao memiliki fungsi juga.


"Huahua, aku tak tahu bahwa kau begitu berani menekan seorang pria ke dinding. Syu ... syuu ..." goda Xiao yang entah mengapa selalu tidak sesuai dengan situasi dan kondisi.


Yi Hua hanya diam saja karena dia tak bisa membalas Xiao. Terutama saat ada Liu Xingsheng di dekatnya. Perdana Menteri kiri itu terlihat menatap Yi Hua tak percaya, tetapi dia tak memberontak lebih jauh. Lagipula, dia segera tahu mengapa Yi Hua menyuruhnya untuk diam.


Sebab, suara pintu batu yang tergeser menimbulkan suara yang sangat keras.


Yi Hua meniup pelan obor yang ada di dekat mereka. Untuk menyembunyikan keberadaan mereka tentu saja. Ia melakukannya dengan cepat sebelum pengawal bercadar itu keluar. Pria itu keluar begitu saja, dan tak lama pintu batu itu tertutup kembali dengan sendirinya.


Yah, tentu saja sebuah sihir bisa bekerja seperti tanpa perlu menggunakan kekuatan.


"Yi Hua, ..." bisik Liu Xingsheng yang anehnya merasakan sesuatu yang sedikit aneh.


Iya, ini aneh!


Liu Xingsheng biasanya tak begitu masalah saat bertugas dengan Huan Ran. Bahkan saat Huan Ran membekap Liu Xingsheng saat membuat keributan, Liu Xingsheng masih terlihat baik-baik saja. Pria itu tak pernah memilih-milih teman, sehingga dia selalu berteman dengan banyak orang. Saling merangkul bahu dengan mereka, tetapi baru kali ini Liu Xingsheng merasakan hal yang berbeda.


Padahal apa bedanya Huan Ran dan Yi Hua?


Mereka berdua sama-sama seorang pria!


Itulah yang diteriakkan oleh Liu Xingsheng di dalam hatinya. Akan tetapi, tubuh lembut Yi Hua membuat Liu Xingsheng tak fokus. Namun melihat dada Yi Hua yang rata, harusnya Liu Xingsheng tak begitu parah seperti itu. Dia menangisi rasionalitasnya yang tertindih berat sapi.


Seharusnya Yi Hua tak memiliki daya tarik apapun.


Akan tetapi, ...


Tatapan Liu Xingsheng mengarah pada wajah Yi Hua yang cantik. Peramal sampah itu sedang tak menatap Liu Xingsheng. Tatapannya mengarah ke arah lain. Sehingga Liu Xingsheng hanya melihat pipi putihnya yang agak berisi. Hidung yang kecil, dan bibir yang sangat tipis. Apabila Yi Hua tersenyum, maka itu akan terlihat seperti senyum sinis. Hal itu karena bibir Yi Hua terlihat sangat ramping di wajahnya. Belum lagi dengan mata cokelat cemerlangnya yang terlihat seperti kucing malas. Yi Hua juga memiliki bulu mata yang lentik seperti anak sapi.


Liu Xingsheng tanpa sadar mendiktekan Yi Hua dalam pikirannya.


Bagaimana pun tak aneh jika 'pria' ini cantik, sebab itu sudah sering dibicarakan. Seorang peramal yang nyaris dieksekusi karena ramalannya yang menggelar dan penuh dengan omong kosong. Sumpah serapah diberikan untuk Peramal Yi Hua karena ramalannya atas kebangkitan Puteri Hitam.


Namun ...


Liu Xingsheng menangis di dalam hati saat dirinya masih tetap tak bisa berpikir dengan baik. Seharusnya dia tak begitu gugup karena mereka berdua sama-sama seorang pria.


Yah, ... Seandainya Liu Xingsheng sedikit cerdas, maka semuanya akan lebih mudah untuknya.


Kakak Huan, Aku masih ingin mencintai kecantikan!


***


"Dia pergi."


Xiao yang sejak awal sudah menghidupkan lilin untuk mengasihani Liu Xingsheng langsung menjadi lebih serius. Sepertinya sebagai sebuah sistem, Xiao sudah bisa mendeteksi suasana yang sulit dilihat oleh rekannya. Sehingga Yi Hua dapat mengandalkannya dalam hal ini.


Yah, Yi Hua agak menyetujui argumen itu kali ini.

__ADS_1


Yi Hua segera menjauh dari Liu Xingsheng tanpa menatap pada pria itu. Sehingga ketika Yi Hua agak menjauh, Liu Xingsheng sedikit oleng. Namun Perdana Menteri kiri itu langsung menegakkan tubuhnya kembali saat Yi Hua menatap ke arahnya.


"Aku tidak berpikir apa-apa!" bantah Liu Xingsheng yang sebenarnya tak Yi Hua ketahui asal-muasal badainya.


Memangnya aku mengatakan sesuatu sebelumnya? Mengapa dia tak kira-kira dalam menarik tali kekang kuda*?


^^^*Maksudnya Yi Hua di sini adalah 'ngegas' gitu. Dia heran aja kenapa Liu Xingsheng histeris, makanya dia membuat perandaian sendiri.^^^


Dengan kata lain, Yi Hua yang kurang mengerti situasi hanya menganggap perilaku Liu Xingsheng sebagai bagian dari takdir. Mungkin saja saat lahir Liu Xingsheng lebih banyak dianugerahi ke rupa daripada otak. Maka dari itu, susunannya menjadi sedikit oleng.


Lagi-lagi Xiao ingin menyalakan lilin untuk Liu Xingsheng. Seharusnya Perdana Menteri kiri itu punya masa depan yang cerah dan ceria. Bukannya terus-menerus dalam periode mencari jawaban.


"Anda seharusnya berpikir Perdana Menteri Liu. Ini adalah masalah serius."


Liu Xingsheng terlihat frustasi, "Aku tidak tertarik sedikit pun dengan wajah putih seperti tahu!"


Ini apa lagi -_-.


Xiao mendadak ingin mencari camilan untuk menikmati momen salah asupan ini. Bagaimana pun dia adalah makhluk yang lebih menyukai bersantai dibanding bekerja. Sehingga hal seperti ini dia menyebutnya sebagai hiburan.


"Harusnya Anda tertarik Perdana Menteri Liu. Bagaimana pun kita sudah terlihat dalam hal ini," tegas Yi Hua yang sudah terlanjur dibawa dalam kasus ini.


Liu Xingsheng berkeringat dingin. "Apa maksudmu dengan terlibat dalam hal ini? Kau yang terlebih dahulu menekan aku!"


Yi Hua semakin bingung.


Sebenarnya kami berbicara tentang topik yang sama, bukan?


Namun Yi Hua berpikir bahwa Liu Xingsheng sedikit tak menyukai jika bawahan seperti dirinya bertindak kasar. Oleh karena itu, sebagai orang yang masih mencintai pekerjaannya, Yi Hua adalah orang pertama yang meminta maaf. Lagipula, dia juga yang membekap Perdana Menteri tak berguna ini tanpa berkata apa-apa lebih lanjutnya.


"Saya meminta maaf atas tindakan saya. Meski begitu, saya pikir ini hanya agar apa yang kita lakukan tidak ketahuan."


Mengapa kalimat begitu banyak maknanya? Lalu, mengapa manusia lebih banyak berasumsi tanpa melihat logika lebih banyak?


Liu Xingsheng menarik pakaiannya dengan wajah pucat. "Aku tidak melakukan apa-apa, Yi Hua."


Xiao yang lelah sendiri memutuskan untuk memberikan pelita di dalam gulita. "Dia itu berpikiran terlalu banyak. Lalu, dia itu tidak pintar. Aku tidak mengatai Liu Xingsheng ya, Yi Hua! Bagaimana pun dia tak akan memiliki pemikiran yang lebih cerdas dari ini lagi."


SRET!


"Bisakah kalian berhenti ... bicara?"


Suara itu terdengar tak jauh dari mereka. Saat itulah Liu Xingsheng bergerak cepat hanya untuk meraih obor lainnya yang masih hidup. Pria itu mengarahkannya pada sosok yang sebelumnya hanya terdengar suaranya.


Ketika itulah wajah penuh dengan luka menyapa pandangan Liu Xingsheng.


Yi Hua yang melihatnya lebih dahulu mengedipkan matanya terlebih dahulu sebelum tangannya tanpa sadar meraih pedang Liu Xingsheng. Yah, pedang yang sangat 'baru' dan jarang digunakan. Liu Xingsheng biasanya hanya membuka kipasnya sepanjang hari.


Liu Xingsheng segera menahan pedang itu karena tak mau pedangnya menjadi sarang kejahatan karena Yi Hua. Akhir-akhir ini Yi Hua memiliki kebiasaan buruk ini. Dia cenderung mengambil senjata milik orang lain untuk bertarung.


Terakhir kali itu adalah Huan Ran.


Liu Xingsheng merasa bahwa Yi Hua mungkin telah kerasukan. Bagaimana bisa Yi Hua tampak berbeda seperti ini. Biasanya Yi Hua hanya akan menebar omong kosong ketimbang bertindak secara fisik seperti ini.


Yah, Liu Xingsheng menganggap bahwa itu adalah bagian dari perubahan. Bukankah dia cerdas?


"Tahanlah ..." ucap pria berlumuran darah itu ketika Yi Hua siap menebaskan kapan saja.


Bagaimana bisa orang dengan wajah cantik seperti Yi Hua ini bisa begitu mengerikan?


"Hey, dia Zhang Yi!"


Yi Hua jelas tak tahu bagaimana rupa Zhang Yi, apalagi saat dia tengah babak belur seperti ini. Sehingga tak aneh jika dia bisa menyerang Zhang Yi kapan pun dia ingin.


Akan tetapi, Liu Xingsheng pasti mengenalinya!


Tak lama suara tawa Liu Xingsheng terdengar. Lebih tepatnya itu terdengar cukup menyebalkan. "Bagaimana bisa Kakak Zhang keluar?"

__ADS_1


Zhang Yi mungkin adalah orang yang cukup sabar. Bagaimana pun dia sudah dipukuli, dan bukannya ditolong, dia malah hampir ditebas lagi. Ditambah lagi dengan wajah menyebalkan Liu Xingsheng yang membuat Zhang Yi ingin masuk kembali ke ruangan tahanan sebelumnya.


"Kita harusnya cepat pergi sebelum Hua Yifeng datang," cetus Yi Hua yang sadar bahwa mereka masih berada di tempat yang berbahaya.


Yah, berbahaya! Ditambah lagi mereka harus mencari Huan Ran.


Liu Xingsheng yang memapah Zhang Yi dengan wajah cemberut mendadak berhenti. Hal itu membuat Yi Hua juga berhenti, dan berpikir bahwa Liu Xingsheng tak sanggup untuk memapah Zhang Yi. Akhirnya, Yi Hua membantu juga untuk memapahnya.


Mereka tak bisa berlama-lama di sini. Masalah Huan Ran, mungkin saja dia masih ada di Istana Perjudian itu. Entahlah.


Sejatinya Hua Yifeng masih menjadi hal yang misterius untuk Yi Hua. Iblis kehancuran itu tak tertebak, dan lebih buruknya lagi dia seperti menargetkan Yi Hua. Mungkin Hua Yifeng sudah mengetahui tentang tungku iblis di dalam diri Yi Hua.


Hanya itu saja yang bisa Yi Hua simpulkan sekarang.


Namun saat ia berada di posisi yang sama dengan Liu Xingsheng, Yi Hua langsung tahu apa yang membuat kedua orang itu berhenti. Hal itu juga yang membuat tangan Yi Hua sedikit bergetar. Terutama saat temperatur di sekitar mereka terasa berat.


Tidak!


Ini bukan karena mereka takut. Ini lebih pada Hua Yifeng yang telah mengubah tempat mereka berdiri. Hal yang sangat di luar nalar manusia.


Awalnya mereka masih di sekitar gua batu seperti penjara bawah tanah. Namun sekarang mereka seperti berada dalam ruangan serba putih. Saking putihnya, mata Yi Hua menjadi agak rabun karena itu. Dia harus membiasakan dirinya ketika berada di ruangan itu.


Akan tetapi, kau tak perlu bertanya darimana asalnya kekuatan ini muncul. Hal itu karena Hua Yifeng tengah bersandar di dinding bagian kanan. Tatapan pria itu memang tak mengarah pada mereka. Pria itu menatap kakinya sendiri saat bersandar. Meski begitu, gerakannya malah membuat suasana tambah mencekam.


Di pinggang Hua Yifeng terdapat pedang dengan ganggang warna hitam pekat. Warna yang sangat lekat dengan rambut Hua Yifeng yang tergerai. Ditambah lagi dengan wajah tersenyum yang agak menakutkan. Ini jelas bukan momen yang bersahabat di antara mereka!


Juga, ...


Ini pertama kalinya Yi Hua melihat wajah Hua Yifeng. Akan tetapi, Hua Yifeng tidak terlihat seperti yang dirumorkan. Pria ini malah terlihat sangat tampan untuk disebut sebagai makhluk besar yang mengerikan. Pria ini memang sangat tinggi dan tubuhnya tegak, namun itu masih ditahap normal seperti manusia.


Dan, memang benar ada lukisan aneh di bagian bawah mata kirinya. Itu terlihat seperti lukisan di permata merah. Manik kemerahan Hua Yifeng menandakan bahwa dia adalah seorang iblis. Berarti pria bertopeng itu memanglah Hua Yifeng.


"Yi Hua mengapa kau sangat sensitif ketika menyebut pria bertopeng yang membantumu?" tanya Xiao yang penasaran dengan kejadian saat dia tidak aktif.


Ini hanya tentang sesuatu yang kau jaga seperti anak sendiri!


Namun ...


Tato itu, dia terlihat seperti bunga ungu yang jatuh di pipi yang tegas. Walau tak ada yang tahu alasan mengapa Hua Yifeng memberi pipinya tato. Akan tetapi, Hua Yifeng adalah iblis, jika itu bisa ditulis di wajahnya berarti itu dibuat saat Hua Yifeng masihlah manusia.


Yah, entah apa yang terjadi saat tato itu dilukiskan.


Liu Xingsheng tampak berkeringat dingin saat menatap pedang ganggang hitam Hua Yifeng.


"Itu Li Wei."


Yi Hua menatap Liu Xingsheng, dan beralih pada Zhang Yi yang sudah antara hidup dan mati di bahunya. Meski begitu, Yi Hua yakin ini bukan saatnya untuk mendapatkan penjelasan. Terutama saat dengan mudahnya nama Li Wei disebutkan.


Namun penjelasan dari Xiao membuat Yi Hua menjadi sedikit tercengang. Sebab, 'Li Wei' ini tidak mengacu pada Si Puteri Hitam Kerajaan Li, melainkan pedang yang tersisip di pinggang Hua Yifeng.


"Li Wei adalah nama pedang dari Hua Yifeng. Sama seperti Puteri Li Wei yang disebut Puteri Hitam, pedang itu juga bermata hitam. Banyak yang menyebut bahwa jika terkena pedang itu akan sama dengan kutukan. Kulit yang terkena pedang itu, baik manusia ataupun makhluk lainnya akan menghitam. Itu akan terjadi terus-menerus hingga kau perlu memotong bagian yang terkena pedang itu agar tak menyebar."


Menghitam?


Dengan kata lain lain, membusuk!


Sehingga, meski mereka selamat dari tempat ini, tetapi Hua Yifeng sempat menggoreskan mata pedangnya sedikit ke tubuh mereka, mereka akan tetap mati. Yah, secara perlahan. Membusuk sedikit demi sedikit.


Pedang seperti itu ... Rasanya sangat anti keramah-tamahan.


Yah, karena jelas mereka tak disambut di sini.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2