Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Esensi Kecantikan 12: Dia Sudah Pergi


__ADS_3

TES


TES


TES


Yi Hua mengedarkan pandangannya ke segala arah. Suara tetesan seperti hujan itu terdengar, tetapi Yi Hua tak merasakan hujannya. Namun sebelum ia mendongakkan kepalanya, sebuah tangan menyentuh kepalanya.


Hey ...


"Tidak usah takut."


Baru saja Yi Hua berpikir ingin menendang pemilik tangan itu, tetapi suara tenang An terdengar. Yi Hua langsung memahami bahwa itu adalah An. Pria ini selalu datang pada saat yang tak terduga. Gerakannya sangat halus hingga Yi Hua tak mendengar langkah kakinya.


Semua tentang An masih menjadi hal yang misterius bagi Yi Hua. Bahkan ia juga tak tahu bagaimana An selalu bisa menemukannya. Akan tetapi, ...


"Jangan menengok ke atas. Itu hanya suara tetesan air hujan," ucap An sambil melingkupi Yi Hua dengan sebuah jubah.


Mengapa sampai seperti ini?


"HuaHua, ikuti saja seperti yang dikatakan oleh pria pengawal ini. Kau pasti ingin tidur nyenyak malam ini, bukan?" Ucapan Xiao itu membuat Yi Hua tak jadi memberontak.


"Sepertinya jiwa gadis itu masih sanggup untuk membawamu ke tempat ini," bisik An pada Yi Hua.


Tentu saja Yi Hua mengerti. Yang dimaksud oleh An ialah Fang Yin. Bagaimana pun Fang Yin terlihat ingin menghentikan kekasihnya. Namun di satu sisi ini sedikit aneh saat Fang Yin sendiri tak bisa bertemu langsung dengan Zhang Yi.


Jika Fang Yin bisa mengatakannya sendiri pada Zhang Yi, apakah pria itu akan berhenti?


"Mungkin aku bisa menjelaskan sedikit padamu, Yi Hua. Jiwa Fang Yin yang tersisa di bumi ini sangat sedikit. Itu pun nyaris terberai, jika dia tak bisa kembali ke langit, maka dia tak akan bisa bereinkarnasi," jelas Xiao yang sekarang lebih informatif lagi. Biasanya sistem busuk ini lebih menyukai untuk menghina Yi Hua dibanding menjadi penunjuk.


Akan tetapi, apakah Zhang Yi tak memahami ini semua?


Rasa cinta memanglah sangat indah. Semuanya terlihat seperti kau bisa menghadapi semua suka-duka dunia ini karena cinta. Meski Yi Hua tak pandai berkata bijak, tetapi dia sedikit lebih logis dibandingkan imajinasi tentang sapi yang bisa terbang.


Namun jika cinta memang bisa menjadi kekuatan untuk menghadapi segalanya, maka cinta juga bisa berbalik menjadi sangat buruk. Tak aneh jika kau bisa mengorbankan segalanya hanya untuk mendapatkan cinta. Itu adalah hal yang relevan. Yi Hua tak akan begitu terkejut tentang itu semua.


Bahkan Zhang Yi tak pernah sadar bahwa cinta gilanya ini membuat Fang Yin menderita.


Pada akhirnya, Yi Hua mengikuti langkah kaki An yang membawanya. Ia tetap menunduk di bawah jubah yang dipakaikan oleh An. Dan, tak ada pembicaraan yang bisa dilakukan oleh keduanya.


Namun rasa penasaran selalu menjadi hal yang berbahaya bagi setiap orang. Begitu juga dengan Yi Hua.


Setiap langkahnya ia mendengar tetesan hujan, tetapi dia tak sedikit pun terkena air hujan. Jika pun An melindunginya, tetapi Yi Hua tak mengerti mengapa An harus melindunginya. Ini hanya air hujan saja, bukan?


SRET


Yi Hua bergerak pelan hanya untuk mengulurkan tangannya. Kala itu ia langsung menengok apa yang ia dapatkan di telapak tangannya. Dalam hati dia berdoa semoga itu bukan kotoran burung, karena rasanya sangat aneh di tangan.


Namun ...


Hey, Xiao Busuk! Jika ada darah yang menetes ke bawah, maka di atasnya apa? Aku akan memberimu pujian jika kau bisa menjawabnya.


"Memangnya aku perlu untuk kau puji?" tanya Xiao yang merasa jengah dengan Yi Hua. Bagaimana pun dia seperti yang sudah ada. Dia berpikir bahwa 'tuan'nya ini tak begitu berguna untuk menjadi peramal arogan bernama Yi Hua.


Yang jelas ... Yi Hua tak tahu mengapa dia mengajukan teka-teki seperti itu. Ia hanya tak bisa menyebutnya sendiri. Itu agak mengerikan untuk disebutkan.


"Zhang Yuwen menjijikkan itu lagi-lagi mempersiapkan makanannya." Bukan Xiao yang menjawab, tetapi An yang menerangkannya.


Kala itu Yi Hua merasakan pahit di tenggorokannya. Ia berharap bahwa sekarang ia tak akan muntah. Jelas dia tak mau melakukannya, apalagi ada An di sini.


KRAK!


Yi Hua terkejut ketika mendengar suara patahan yang keras. Tak lama suara seperti 'gedebuk' menyusul. Yi Hua menduga itu adalah suara yang jatuh.


Dan, semuanya dimulai dari kaki An yang panjang. Pria ini menendang ke arah pohon, dan itu langsung membuat 'sesuatu' yang menjuntai di sana jatuh. Yi Hua hanya bisa berdoa agar apapun yang jatuh itu tak akan mendarat di atas mereka.


Namun An selalu bekerja bersih. Mereka bisa menghindari benda-benda yang menggantung di atas mereka. Yi Hua jelas tak terkena tetesan darah, dan suara tetesan darah juga sudah usai. Itu semua karena An sudah menjatuhkan semua yang terjatuh seperti buah.


Yi Hua tak bisa menerka lagi siapa yang lebih kejam di sini.


"Bukankah lebih baik untuk melepaskan mereka dengan sopan, Tuan An?" tanya Yi Hua yang tidak tega.


Yi Hua tak tahu bagaimana ekspresi An, tetapi dari suaranya Yi Hua bisa menangkap rasa tidak perduli di sana. Pria ini mungkin tak begitu perduli tentang semua ini. Lagipula ...


"Mereka sudah mati. Tak ada rasa sakit lagi."


Lalu, di sana Yi Hua enggan mengomentari apa-apa.


Yah ~


Ketika seseorang sudah mati, maka dia mati.


Namun Yi Hua sendiri merasa takut dengan An. Entah karena apa.


***


SRET!


Yi Hua mengedipkan matanya sejenak untuk menyesuaikan cahaya. Ia tak menduga bahwa An akan melepaskan jubah di kepalanya dengan cepat. Dirinya sudah terbiasa dengan gelap, sehingga kini matanya sedikit sakit dengan cahaya.

__ADS_1


Namun hanya beberapa detik ia menyesuaikan pandangannya, dan kini matanya telah tertuju ke arah depan. Tepatnya pada sebuah rumah kecil yang Yi Hua yakin tak akan dihuni oleh manusia karena letaknya di tengah hutan.


Meski begitu, rumah kecil ini terlihat begitu nyaman untuk ditinggali. Bahkan rumah ini terlalu bersih untuk dikatakan sebagai rumah di tengah hutan. Ada banyak bunga yang ditanam di sekeliling rumah, dan itu menebarkan keharuman yang sangat menyejukkan.


"Sebenarnya rumah ini berada dekat dengan tempat kita jatuh waktu itu."


Yi Hua pingsan dahulu dan tak tahu tentang rumah ini.


"Apakah ..." Yi Hua takut sendiri dengan dugaannya.


Jika sebuah jiwa masih tak bisa naik ke langit, berarti dia masih ada urusan di dunia. Namun Fang Yin terlihat seperti seseorang yang tak begitu banyak menyalahkan takdir. Dia tak pendendam, sehingga tak ada hal yang membuatnya ingin memeluk erat pada dunia begitu banyak.


"Ada lingkaran pemanggil jiwa yang dipasang di rumah ini," jelas Xiao yang entah mengapa terdengar agak sendu.


Ia tak pernah berpikir bahwa Xiao adalah 'sesuatu' yang memiliki perasaan. Meski begitu, Yi Hua tak mau menyimpulkannya seperti itu. Lagipula Xiao pasti tak akan mau jika disebut bersimpati pada takdir manusia.


"Melanggar kehendak langit, dan berusaha menghidupkan orang yang sudah mati. Pejabat Zhang melakukannya agar Fang Yin bisa kembali." Yi Hua tak tahu mengapa dia bisa mengatakannya dengan lantang.


Ia juga tak berpikir lagi tentang pendapat An. Pria itu juga terlihat begitu tenang seperti biasanya. Dia hanya berdiri di samping Yi Hua untuk menunggu tindakannya.


Akan tetapi, Yi Hua tak bisa memikirkan apapun. Terutama saat pandangannya berfokus lagi pada bekas bercak darah yang berderet. Itu seperti seseorang yang terluka berjalan menuju rumah itu.


Zhang Yi?


SRET!


TAP


TAP


Yi Hua menoleh pada suara langkah kaki yang mendekat. Di sana Huan Ran berjalan dengan beberapa prajurit di belakangnya. Sepertinya pria ini yang ditugaskan untuk menangkap Zhang Yi.


Namun ...


"Apakah kau anak kecil hingga tak bisa menghindari hujan?" Suara celaan itu terdengar dari An yang berdiri di sampingnya.


Yi Hua tak begitu tahu bahwa An dan Huan Ran ternyata agak dekat. Kedua orang ini adalah pendiam. Sehingga Yi Hua tak pernah mendengar keduanya pernah bercakap-cakap satu sama lainnya.


"Sepertinya aku tidak ahli seperti dirimu. Siapa sangka jika Zhang Yi berani untuk memasuki hutan yang menjadi wilayah tempat mencari makan dari Zhang Yuwen," balas Huan Ran sambil mengabaikan darah yang membasahi pakaiannya.


Seperti yang sudah sering diceritakan. Bahwa Kerajaan Li membatasi orang-orang untuk berkeliaran saat malam hari di dekat hutan selatan ini. Hal itu karena tempat itu adalah wilayah Zhang Yuwen.


Itulah mengapa tak ada yang berani memasuki hutan ini, dan rumah kecil ini tak pernah diketahui keberadaannya. Hingga sampai Yi Hua dan An yang terjatuh melalui jurang, dan sampai ke hutan ini. Entah Yi Hua bersyukur atau tidak tentang fakta ini.


Tatapan Huan Ran mengarah pada Yi Hua dan An yang terlihat tak terkena tetesan darah sedikit pun. Hal itu membuatnya berdecak karena merasa tak adil. Bagaimana pun mereka melewati wilayah yang sama. Bahkan Huan Ran juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh An, yakni 'membersihkan'. Namun dia masih terkena tetesan darah itu.


Yi Hua menghela napasnya saat mendengar sindiran dari An. Sungguh jika dia tahu bahwa An dan Huan Ran tak begitu baik saat bekerja bersama, maka dia akan meminta orang lain untuk menyelesaikan kasus ini. Bukankah ini tidak tepat untuk saling berdebat?


"Tutup mulutmu! Jika kau bisa menebas kepalanya saat di Pengadilan Tinggi, maka dia tak akan kembali ke tempat jauh ini." Huan Ran yang pendiam saja menjadi semangat dalam mengeluhkan kerja An.


"Jika kau bisa bekerja dengan baik, maka kau bisa menghentikannya menggunakan mantra pemindah. Aku sudah menebas tangannya," balas An dengan tenang.


Tanpa menunggu perdebatan mereka lagi, Yi Hua langsung berjalan menuju pintu. Jelas saja dia sudah sangat gemas dengan situasi ini. Jika mereka seperti ini, maka Zhang Yi mungkin bisa melarikan diri lagi.


Yah, walau Yi Hua tak begitu yakin lagi. Apalagi dengan bekas bercak darah di sekitar rumah ini. Seperti yang An katakan, Zhang Yi mungkin sedang menunggu penyembuhan tangannya.


"Tangannya tak akan kembali, meski dia sekarang iblis sekali pun." Itu yang diucapkan oleh An.


BRAK!


Tanpa berniat menerangkan pada Yi Hua alasannya, An sudah menendang pintu di hadapannya. Pandangan Yi Hua langsung tertuju pada seseorang yang membungkuk pada sebuah peti yang terbuka. Mereka tak perlu repot mencari, sebab rumah kecil itu tak begitu luas.


"Semuanya sudah selesai, Pejabat Zhang," ucap Huan Ran yang memberikan isyarat untuk menangkap Zhang Yi.


Zhang Yi hanya melirik sekilas pada mereka. Yi Hua bisa melihat bahwa tangan Zhang Yi masih meneteskan darah. Namun tetesan darah itu terlihat aneh, dan warnanya hitam. Jelas tangannya seperti meleleh. Itu seperti yang dikatakan oleh An. Tangan Zhang Yi tak bisa kembali.


Zhang Yi mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah pucat Fang Yin. Gadis itu terlihat sama seperti yang Yi Hua lihat dalam pengalaman kebatinannya. Yang berbeda ialah fakta bahwa gadis itu hanya tersisa raganya saja.


"Bukankah saya harus menunggu dia untuk bangun lagi, Perdana Menteri Huan? Bagaimana jika saat dia bangun saya tak ada di sampingnya?" tanya Zhang Yi dengan hampa.


Akan tetapi, semua orang tahu bahwa Fang Yin tak akan kembali.


"Ini sudah lebih dari lima tahun, Pejabat Zhang. Sebanyak apapun Pejabat Zhang mengorbankan jiwa untuk memanggil Nona Fang, dia tak akan kembali," ucap Yi Hua yang mulai mengerti apa yang terjadi.


Sekarang Fang Yin sedang dalam bentuk roh yang lemah. Dia tak akan bisa berkomunikasi dengan Zhang Yi. Akan tetapi, dia bisa pada Yi Hua karena tungku yang ada di dalam tubuh Yi Hua.


Seperti yang dikatakan oleh Xiao, Yi Hua tak bisa menggunakan kekuatannya, tetapi dia bisa memberi kekuatan. Jiwa Fang Yin menempel padanya akibat pemanggilan jiwa yang dilakukan oleh Zhang Yi. Sehingga jiwa Fang Yin bisa meminta kekuatan pada tungku iblis di dalam diri Yi Hua.


Namun gadis itu tak menyerap begitu banyak, padahal dia bisa melakukannya.


Semua itu karena ...


"Jika Nona Fang bisa kembali, maka dia mungkin bukanlah dirinya lagi, Pejabat Zhang Yi," lanjut Yi Hua.


Fang Yin menolak kegelapan, dan tetap ingin menjadi mati sebagai manusia. Bukan sebagai iblis.


"Apa yang kau tahu?" bisik Pejabat Zhang Yi pelan.


Yi Hua baru saja ingin berkata lagi, tetapi Zhang Yi sudah berdiri dengan gegabah. Tangan pria itu yang satunya sudah meraih pedangnya kembali. Akan tetapi, sebelum Zhang Yi menuju ke arah Yi Hua, sebuah kilat pedang menghentikannya.

__ADS_1


Bagaimana pun ada kalanya seseorang tak bisa mempertahankan, meski dia berusaha sekalipun.


"AKHHH!!!"


Mata Yi Hua menatap nanar pada Zhang Yi yang berteriak sambil memukulkan kepalanya pada lantai. Itu semua ditunjang pada rasa sakit di lengan satunya. An bergerak sama kejamnya seperti sebelumnya. Pria itu menebas tangan Zhang Yi yang satunya lagi. Bahkan sebelum Zhang Yi bisa mendekati Yi Hua.


"Mengapa orang seperti Fang Yin harus mengalami takdir yang buruk? Mengapa? Mengapa? AKHH! S*alan!" Zhang Yi meraung dengan keras. Entah karena rasa sakit di tangannya, atau karena kesedihannya.


Namun tak ada yang bisa mengubah sesuatu yang telah terjadi. Bahkan mereka hanya bisa menatap Zhang Yi yang berteriak keras di depan mereka. Membiarkan pria itu untuk mengeluhkan semua yang membebani hatinya. Atau, mungkin mereka hanya membiarkan Zhang Yi mati karena luka yang dideritanya.


"Itu sama seperti kelopak bunga yang cantik, tetapi malang dan termakan ulat," ucap Yi Hua yang menatap tubuh Fang Yin di dalam peti.


Zhang Yi mengawetkan tubuh Fang Yin, tetapi ini sudah lebih dari lima tahun. Jelas saja Yi Hua bisa melihat kulit-kulit Fang Yin yang mulai mengelupas. Siapa yang bisa menghentikan ini semua?


Rasanya sangat menyakitkan jika disebut kembali.


"Tuan Yi, apakah kau bisa melihatnya?" tanya Zhang Yi tiba-tiba.


Sebenarnya Yi Hua tak bisa melihatnya. Dia hanya bisa melihat Fang Yin saat pengalaman kebatinan. Hal itu karena Yi Hua sebenarnya tak punya bakat cenayang. Dia tak bisa melihat roh atau pun sejenisnya.


Akan tetapi, ...


"Aku melihatnya."


Ada kalanya berbohong lebih baik daripada mengatakan kejujuran.


Xiao berkata pelan. "Ini bukan saat yang tepat untuk bersimpati pada orang lain, Yi Hua. Biarkan dia memahami kenyataan."


Jelas Yi Hua asli tak akan melakukannya. Akan tetapi, sekarang dia adalah Yi Hua. Dia hanya melakukan apa yang bisa ia lakukan. Sekali pun itu hanya hal kecil, tetapi ia tak ingin semua ini berakhir dengan sangat buruk.


"Dia masih dengan gaun pengantinnya. Sangat cantik karena dia sangat bahagia," ucap Yi Hua sambil mengangguk pada Huan Ran.


Ini semua harus diakhiri. Nilai dari kecantikan sejatinya tergantung dari siapa yang melihatnya. Bagi Yi Hua, penampilan Fang Yin yang dilihatnya saat itu adalah kecantikan luar biasa.


Zhang Yi masih menundukkan kepalanya untuk menatap lantai. Sekarang pria itu tengah dilumuri oleh darahnya sendiri. Akan tetapi, dia tak meraung lagi. Pria itu telah tenang, tetapi tak ada yang bisa melihat wajahnya.


Ia terus menunduk, seolah membiarkan air matanya mengalir bersama darah.


"Apa yang dia katakan?" tanya Zhang Yi ketika mendengar suara langkah kaki mendekat padanya.


Yi Hua mengepalkan tangannya keras. Sangat keras hingga membuat tangannya memerah. "Berhentilah."


Tangis Zhang Yi telah menyentuh tetesan darahnya. Yi Hua hanya menyaksikannya dari jauh. Sama seperti Yi Hua, An hanya berdiri sambil memperhatikan semuanya dalam diam


"Bagaimana jika aku tak berhenti? Aku tak bisa berhenti, Tuan Yi. Aku tak bisa kehilangan ...." tanya Zhang Yi yang kini mengangkat kepalanya. Bahkan pria ini tak bisa menghentikan ucapannya sendiri.


Yi Hua mengambil sebuah benda yang sangat Zhang Yi kenali. Berkat Liu Xingsheng yang bertemu dengan kepala keluarga Fang, Ayah Fang Yin, Yi Hua bisa mendapatkan benda ini. Lalu, pria tua yang pernah menjabat menjadi Bupati itu memberikan benda ini untuk Liu Xingsheng.


Sebuah kantong uang berwarna kuning pudar. Zhang Yi sangat mengenalinya. Itu adalah milik Fang Yin, dan gadis itu mengira Zhang Yi ingin mengambil kantong uangnya saat mereka bertabrakan. Pertemuan mereka untuk pertama kalinya.


Air mata Zhang Yi mengalir lagi, tetapi dia tak memberontak. Bahkan ketika prajurit memaksanya untuk berdiri dari lantai. Pria itu akan dihukum sesuai dengan kejahatannya.


Harusnya aku menjadi sombong seperti yang Yi Hua lakukan. Setelah ini, mungkin aku bisa mendapatkan bayaran yang lebih besar, dan bisa besar mulut tentang jasaku!


Namun ... Mengapa Yi Hua begitu bersedih sekarang?


"Nona Fang tak ingin Anda melakukan kejahatan untuknya, Pejabat Zhang. Bahkan dia merasuki tubuh para kecantikan yang Anda bunuh hanya agar mereka tak kesakitan saat kematian. Jika Anda tak bisa berhenti, setidaknya pikirkan lagi tentang ini semua. Hentikan penderitaan Nona Fang Yin," jelas Yi Hua yang kini menuju ke arah peti kayu yang berada di tengah ruangan.


Yi Hua duduk hanya untuk meletakkan kantong uang itu pada tubuh dingin Fang Yin. Di sana Yi Hua meletakkan beberapa bait doa untuk gadis malang itu. Bagaimana pun yang dikatakan oleh An benar. Gadis ini harus terbebas dari lingkaran pemanggilan jiwa agar dia bisa bereinkarnasi.


Gadis ini mengambil rasa sakit orang lain saat kematian. Dan, itu terjadi selama berkali-kali. Sebanyak Zhang Yi membunuh orang lain. Bagaimana bisa ada seseorang yang seperti Fang Yin?


"Setelah ini, pergilah dengan tenang," bisik Yi Hua.


Lalu, Yi Hua menatap Zhang Yi untuk terakhir kalinya. Pria itu diliputi oleh rasa terkejut yang luar biasa. Akan tetapi, semua yang terjadi memang sebegitu buruknya. Terutama saat kau terlalu keras untuk mengubah takdir yang sudah ada.


"Apakah saya perlu menyampaikan kata terakhir dari Nona Fang untuk Anda?" tanya Yi Hua pada Zhang Yi yang sudah nyaris keluar dari rumah kecil itu.


Para prajurit yang mengiringi Zhang Yi juga berhenti saat pria itu berhenti. Hanya berjaga saja jika pria ini akan memberontak lagi. Akan tetapi, Zhang Yi hanya berdiri dengan wajah yang penuh air mata.


"Tak perlu, Tuan Yi."


Sebab, sejatinya Zhang Yi sudah tahu apa yang dikatakan oleh Fang Yin untuknya di akhir napasnya. Sebab, Zhang Yi sudah menerima apa yang dikatakan oleh Fang Yin. Terutama saat mereka berdua telah berjanji.


Dan, Fang Yin tidak menepati janjinya. Gadis itu tak datang di hari pernikahan mereka. Zhang Yi tak bisa melihat gadis cantiknya lagi.


"Maafkan aku."


Mungkin sekarang adalah akhir dari kasus pembunuhan kecantikan beruntun ini.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2