
"Maafkan aku."
Yi Hua menyadari bahwa dirinya tak bisa melepaskan dirinya dari kata itu. Sebuah kata yang sangat sederhana, tetapi membuatnya berpikir bahwa itu sangat penting. Sebab, ada banyak makna untuk sebuah kata maaf. Bahkan terkadang kata 'maaf' ini hanya dipakai untuk sekadar kesopanan.
Siapa yang tahu tentang nilai dari sebuah kata 'maaf'?
Yi Hua meremas rambutnya yang sudah seperti ekor sapi. Ia sepertinya mendadak melankolis dan terus berpikir. Padahal semuanya telah usai. Bahkan sekarang Yi Hua sedang berada di dalam kereta.
Rasanya aku ingin segera berguling-guling di kasurku! Mengapa aku merasa begitu tertekan hanya karena kata itu?
"Kenapa kau tak bisa bertingkah seperti seorang gadis, Yi Hua?" tanya Xiao yang sebenarnya sebal dengan tingkah kusut Yi Hua.
Pasalnya, orang ini tidak sesuai dengan karakter yang harus dia lakoni. Seharusnya Yi Hua itu adalah orang yang sombong dan selalu berjalan dengan leher seperti jerapah. Matanya harusnya dipenuhi dengan tatapan merendahkan. Lalu, omongannya seperti suara sapi yang sedang berbincang.
Namun orang ini ...
Jika aku bertingkah seperti Yi Hua, maka usahaku untuk bebas dari hukuman mati akan seperti sapi yang diberi makan dalam mimpi.
Tak ada yang berubah. Sapi tak akan kenyang, karena hanya dilakukan di dalam mimpi. Yi Hua tak akan terbebas hanya karena dia sombong dan berjalan dengan dagu terangkat.
Sikap Yi Hua asli akan selalu membawanya ke dalam masalah. Bahkan ia tak pernah berpikir bahwa ada seseorang yang begitu pandai menebar omong kosong. Dan, paling buruk di antara segalanya ia sekarang menjalani hidup orang sombong ini.
Lebih buruk dari segalanya, sekarang ia lapar!
Yi Hua berkata dalam hati hanya agar Xiao yang mendengarnya. "Xiao, bisakah kau membawa makanan sekarang?"
Tak lama suara malas Xiao terdengar. "Kau bisa makan angin. Itu bagus untuk kesehatan."
Siapa yang mengajari makhluk ini hingga menjadi sangat 'pintar'? Yi Hua bahkan tak bisa menahan ucapan sarkastik miliknya. Namun ia tak bisa berdebat karena sejak awal dia sudah tahu sendiri bahwa sistem busuk ini tidak berguna.
"HACHIM! Lihat, aku bersin. Pasti ada yang membicarakan hal buruk tentangku," omel Xiao yang entah darimana rasa bersinnya muncul.
Sampai sekarang Yi Hua masih tak mengerti bagaimana 'bentuk' sistem ini. Sehingga ketika memikirkan tentang sistem yang bersin, Yi Hua hanya membayangkan sapi terbang.
Tak terdefinisi.
SRET!
BUGH! STAB!
Kepalan tangan Yi Hua berhenti di udara tiba-tiba.
Bukannya tanpa alasan. Hanya saja Yi Hua tak bisa menahan dirinya sendiri untuk terkejut ketika yang mendekat ke arahnya adalah An. Hal itu membuat tangannya tanpa sadar menuju ke wajah tampan An.
Namun dengan mudah pria berwajah tenang itu menangkap tangan kecilnya. Awalnya Yi Hua berpikir An akan mematahkan tangannya. Bagaimana pun Yi Hua telah melihat kekejamannya sepanjang hari. Pria ini tak segan memotong tangan orang lain yang lancang.
Apalagi tanganku yang nyaris memukul wajahnya yang tersusun rapi.
"Apakah kau melamun, Yi Hua?" tanya An dengan nada tenang.
Yah, apa yang dia harapkan dari wajah An yang sangat tenang seperti danau tanpa ada mata air.
Pria itu menunduk ke arah Yi Hua yang bersandar di jendela kereta. Bahkan dengan konyolnya Yi Hua tetap melamun, padahal kepalanya beberapa kali menyapa dinding kereta. Yi Hua bahkan tak akan terkejut jika menemukan benjol di dahinya nanti akibat hal tersebut.
Sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang. Padahal Yi Hua berniat untuk kembali dengan keretanya sendiri. Namun ketika melihat Huan Ran dan An terlihat siap bertarung dan berdebat kapan saja, Yi Hua segera mengajak An untuk ikut bersamanya.
Ia hanya tak ingin kedua orang pendiam ini saling mencekik jika tak ada yang menghalangi.
Dan, di sinilah keduanya berakhir dengan kereta yang menembus malam.
Yi Hua menjauhkan wajahnya agar tak begitu dekat dengan An. "Maafkan saya, Tuan An. Saya tak bermaksud untuk memukul."
Yi Hua menarik tangannya pelan dari genggaman An, tetapi pria itu masih menahan tangan kecil Yi Hua. Hal itu membuatnya berusaha menarik tangannya. Sayangnya, An sangat sulit untuk dihadapi.
GRAP!
Pandangan Yi Hua terarah pada bungkusan yang selipkan An pada jemarinya. Tak lama setelah itu, tangannya dilepaskan begitu saja. Dan, Yi Hua bisa melihat sesuatu yang diselipkan itu.
"Makanlah."
Akan tetapi, Yi Hua jelas harus memainkan tarik ulur seperti orang lain. Mana mau dia terlihat seperti perlu makanan dari orang lain. Hal itu membuat Yi Hua memasang wajah dengan dagu sedikit terangkat.
"Saya tidak lapar, Tuan An. Lagipula, roti itu terlihat telah dingin," ucap Yi Hua dengan nada sombong yang bergetar.
__ADS_1
Tentu saja bergetar karena Yi Hua menginginkan roti itu.
"Aku hampir melihat tetesan liur di dagu-mu, HuaHua," komentar Xiao yang hanya bisa mengasihani kekonyolan Yi Hua.
An membuka bungkusan itu dengan posisinya yang masih berada di genggaman Yi Hua. Hal itu membuat tangan mereka berdua dengan roti sebagai pembatasnya. Namun dari sana Yi Hua juga bisa melihat roti yang telah terbuka.
"Benarkah?" tanya An singkat.
Yi Hua menganggukkan kepalanya, dan berniat menjawab. Akan tetapi, gerakan pria ini membuat Yi Hua tercekat. Pasalnya pria ini menundukkan kepalanya untuk menggigit permukaan roti yang dipegang oleh Yi Hua. Bahkan Yi Hua bisa merasakan hembusan napas hangat dari An.
Apa-apaan ini ... Dia yang memberi, tetapi dia yang makan!
Xiao hanya menanggapi dengan jengah. "Dari sekian banyak alasan, kau marah padanya karena hal itu?"
Mendadak Xiao kasihan dengan pria berwajah tenang ini. Nyatanya orang yang sedang dia goda sebenarnya kurang paham dengan godaannya. Yah, kurang paham?
Entahlah.
"Kau benar. Ini sudah dingin," ucap An yang sudah menarik tubuhnya untuk menjauh dari Yi Hua yang membeku.
"A ... nda menyuruh saya memakan sisa?" tanya Yi Hua yang sebenarnya bingung harus berkata apa. Ditambah lagi dia juga terbata-bata.
An tersenyum tipis. "Jadi, kau tak ingin makan?"
Hey, kau sudah memberinya padaku! Mana bisa diambil lagi.
Melihat Yi Hua yang langsung menggigit roti yang ada di tangannya, senyum An bertambah tipis lagi. Tatapan pria itu mendadak mengarah ke luar kereta. Ia tak menatap lagi pada Yi Hua, dan Yi Hua hanya fokus dengan makanannya.
Peramal kecil ini lapar, tetapi sangat angkuh untuk menerima dari orang lain.
"Apakah Tuan An juga tinggal di Pusat Kota?" tanya Yi Hua membuka pembicaraan setelah menelan gigitan besar dari roti yang digenggamnya.
Bukan hanya persoalan basa-basi, tetapi hari ini sudah larut malam. Jika mereka sampai ke Pusat Kota, mungkin itu akan lebih malam lagi. Sehingga lokasi pemberhentian mereka harus saling diketahui.
"Tidak. Aku tidak tinggal dimana-mana."
Yi Hua mengerutkan keningnya saat ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh An. Meski begitu, mulutnya tak berhenti mengunyah. Ia jelas orang yang tak suka membuang makanannya. Sehingga roti itu langsung habis di tangan Yi Hua.
"Anda akan kemana saat tiba nanti?" tanya Yi Hua pada An yang tengah menyadarkan kepalanya ke dinding kereta.
Pria itu memejamkan matanya, tetapi Yi Hua tak tahu apakah An nyaris tertidur atau hanya memejamkan matanya. "Entahlah."
Oh ya ampun! Apakah suaranya begitu mahal hingga dia hanya menjawabku seperti itu?
Yi Hua menggaruk kepalanya yang gatal. Bukan tanpa alasan kepalanya menjadi gatal. Itu karena keringatnya yang sudah menumpuk, dan begitu banyak hal yang dilakukan hari ini. Yi Hua tak henti-hentinya mengeluh tentang itu.
"Mungkin Tuan An akan menemui Yang Mulia untuk melaporkan tentang kasus ini," tanggap Yi Hua lagi hanya agar tak ada jangkrik bertebaran di sekitar mereka.
An membuka matanya cepat. Sehingga kini tatapan mereka bertemu lagi. Namun Yi Hua langsung pura-pura menepuk kakinya sendiri. Hanya agar terlihat dia sibuk untuk memukul nyamuk di sekitar mereka.
"Itu bukanlah apa yang menjadi tugasku." Lebih jelasnya lagi An hanya bertugas untuk mengawal.
Yi Hua memasang senyum serba salah. Ia tak tahu lagi apa yang harus dibicarakan. Dirinya sudah sangat bingung untuk mencari bahan pembicaraan. Pasalnya, Yi Hua mulai menyadari bahwa dirinya kurang menyukai rasa sepi.
"Tentang Nona Fang Yin, kau berbohong."
Tatapan Yi Hua jatuh ke antara lentera-lentera yang dipasang di jalan. Ia menolak untuk menarik matanya dari sana. Bagaimana pun sekarang mereka sudah berada di wilayah Pusat Kota. Tak lama lagi mereka sampai.
"Saya benar-benar melihatnya, Tuan An." Yi Hua sebenarnya tak ingin membicarakan tentang ini semua. Ia entah mengapa merasa sangat tak nyaman sekarang.
Lebih dari segalanya ...
Ia jelas tak bisa mengakui bahwa dirinya tak memiliki kemampuan cenayang. Seorang peramal yang tak bisa meramal, maka semua itu adalah omong kosong. Dirinya tak pernah mengerti mengapa orang ini bisa hidup dengan begitu sombong. Padahal berkemampuan saja dia tak ada.
S*alnya lagi aku harus menjadi Yi Hua ini!
"Apakah Anda tidak penasaran dengan pembicaraan antara saya dengan Pejabat Zhang sebelumnya?" tanya Yi Hua sambil mengulurkan tangannya.
Rasa dingin dari angin malam mengipasi tangannya. Beruntung ini sudah tengah malam, dan Pusat Kota menjadi sepi, sehingga tak akan ada keramaian. Yang ada di depan hanya segelintir orang yang bekerja saat larut malam, dan sebagainya. Atau, ada beberapa orang yang begitu kurang kerjaan hanya untuk berjalan-jalan di saat larut malam.
Inti dari segalanya suasana sangatlah sunyi.
"Jika kau tak ingin memberitahu, maka jangan katakan apa-apa."
__ADS_1
Dasar orang ini! Apa dalam hidupnya tak ada rasa penasaran sedikit pun?
An terkenal dengan orang yang sangat cerdas. Dia tahu banyak hal yang tak diketahui oleh orang lain. Hal itu membuatnya terlihat tak begitu penasaran tentang suatu objek. Yah, ini seperti kau sudah tahu apa isi kotak, sehingga kau tak akan penasaran lagi ketika membukanya.
Mungkin pria ini adalah pria yang paling sulit untuk diberi kejutan, karena dia sudah tahu. Entah darimana dia bisa mengetahuinya. Hanya saja mata An lebih tajam daripada orang lain. Hanya itu yang bisa Yi Hua pahami.
"Saya harap suatu saat saya tak akan memiliki janji yang tak bisa ditepati," ucap Yi Hua sambil menatap lentera yang agak kusam akibat terlalu lama dipasang di jalan.
Yi Hua tak tahu bagaimana ekspresi An saat ini. Dia hanya tak ingin melihat wajah tenang An yang selalu tak berubah. Itu membuatnya berpikir bahwa dunia ini begitu tenang, dan tak tersentuh. Sayangnya, itu hanyalah pikiran setiap orang untuk menyelamatkan diri sendiri.
"Mengapa?"
Hanya itu yang ditanyakan oleh An. Namun berkat itu Yi Hua menatap ke arah An, dan melihat wajah An dalam remang-remang malam. Ia tak bisa melihat ekspresi An, dan itu lebih baik bagi Yi Hua.
Ia sendiri tak tahu mengapa ia membicarakannya saat ini.
"Saya tak ingin berhutang kata 'maaf' pada orang lain. Terutama saat ..."
Aku tak bisa mengucapkan kata 'maaf' itu secara langsung.
Entah mengapa Yi Hua tak ingin meneruskannya. Bagaimana pun dia tak ingin terlihat begitu mendramatis di sini. Ia dan An tak begitu dekat hingga bisa berbagi apa yang dipikirkannya. Akan tetapi, semua ini masih merajai di otak Yi Hua.
Sebuah kata sederhana, tetapi sangat sulit untuk diucapkan pada waktu-waktu tertentu.
"Tuan An, apa kau pernah memiliki ungkapan maaf yang tak bisa disampaikan?" tanya Yi Hua pada An yang tampak bersatu dengan kesunyian.
Dia terlihat sangat sepi dan tenang. Seperti biasanya.
Yi Hua tak tahu mengapa malam ini begitu sunyi. Bahkan Xiao pun senyap seperti nyamuk kekurangan bahan bakar. Ia juga tak bisa menyalahkan An, sebab notabenenya An memang tak begitu banyak bicara. Pria ini akan menjawab apa yang ditanya. Dia sangat tenang seperti danau yang tak dijatuhi daun yang gugur.
Namun kali ini tak ada jawaban dari An. Yi Hua tak tahu apa yang dipikirkan pria ini. Entah An tak ingin menjawabnya, atau pria ini tak bisa menjawabnya. Dan, Yi Hua tak ingin menagih jawaban untuk itu semua.
Entah karena apa.
Pada akhirnya, Yi Hua hanya berpura-pura untuk melihat lagi ke luar kereta. Hanya agar seperti melihat sesuatu yang menarik seperti sapi yang bisa terbang, atau apapun. Dia hanya tak ingin terlihat seperti begitu memikirkan tentang ini semua.
"Ketika sampai nanti ... Tuan An ingin kemana?" tanya Yi Hua pada akhirnya.
Aku ternyata kurang menyukai kesunyian. Itu seperti aku merasa ingin mencakar sesuatu jika terlalu sepi.
"Tak tahu."
Yi Hua menoleh begitu cepat pada An, hingga ia tak menyadari bahwa cahaya lentera masuk ke dalam kereta. Wajah tenang An ternyata tak begitu jauh dari wajahnya. Hal itu membuat Yi Hua langsung menarik dagunya sendiri agar memutar lagi kepalanya. Hanya agar dia bisa menghadap ke depan dengan lebih berkelas daripada biasanya.
"Bagaimana jika Anda menginap di kediaman saya? Saya tinggal sendirian."
Eh?
Yi Hua refleks mengatakannya karena dia sendiri bingung dengan apa yang bisa dibicarakan. Pada akhirnya, dia ingin menarik ucapannya kembali, tetapi sayang pada ludahnya. Ia tak mau menjilat apa yang sudah ia katakan.
Xiao yang sejak tadi diam menjadi sangat jengah. Jika dia punya tangan dan dahi, maka dia akan menepuk dahinya sendiri. Merasa pusing dengan Yi Hua yang memiliki otak yang bergerak lambat daripada mulutnya sendiri.
"Baiklah."
Tenang. Tenang. Kalian sama-sama seorang pria di pikiran pria ini, sehingga tak ada masalah.
Xiao berdecak sebal. "Yang menjadi masalah adalah pikiranmu yang bercabang!"
Yi Hua hanya tak yakin bisa tidur dengan baik malam ini. Sebab, ia jelas tak ingin ketahuan. Apalagi dari mata An yang begitu tajam seperti elang.
Sepertinya Yi Hua harus mencari buku jimat yang biasanya dibaca Yi Hua. Ia harus menciptakan jimat tidur, hanya agar pria ini bisa dibuat pingsan jika menyadari identitasnya. Yi Hua harus memikirkan caranya sekarang juga.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
***
__ADS_1