Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Selembar Kain 9: "Akhirnya, Aku Bisa Mengembalikannya"


__ADS_3

Hua Yifeng?


Bagaimana bisa pria itu selalu muncul di mana saja? Bahkan pada kota yang dibantai habis oleh Shen Qibo.


Yi Hua jelas-jelas pernah mendengar bahwa para pendosa tak akan saling mengurus satu sama lainnya. Apalagi dengan memasuki di wilayah para pendosa lainnya.


Akan tetapi, ... Yi Hua tahu bahwa ini hanyalah sebuah kenangan, dan jelas ia tak bisa bertanya langsung pada orang tersebut. Hanya saja ia tanpa sadar mendekat pada Hua Yifeng. Pria itu juga selalu saja berkeliaran di sekitar masalah Yi Hua.


Sebentar ...


Membantai hanya dalam satu malam?


Ini memang bukanlah waktunya untuk menilai lagi tentang siapa yang bisa melakukannya. Akan tetapi, dahulu Shen Qibo juga hanyalah seorang manusia biasa. Meski terlatih seperti apapun, bagaimana bisa dia membantai satu kota yang isinya juga orang-orang terlatih seperti para Tentara Malam?


Mendadak Yi Hua ingin tertawa. Jika Xiao ada di sini pasti dia akan mengira Yi Hua mulai kerasukan mendiang sapi. Dia bahkan terpingkal-pingkal sambil menatap pada Hua Yifeng yang masih berdiri tak jauh darinya. Pria itu berada dalam kabut, dan dalam kemisteriusan yang sama. Meski begitu, karena di dalam kenangan Shen Qibo, jelas Hua Yifeng 'ini' juga bagian dari kenangan. Tak bisa Yi Hua ajak untuk bertarung atau tendang.


"Seperti yang dikatakan oleh orang-orang Kerajaan Li, kau memang selalu membawa kehancuran, Hua Yifeng. Akan tetapi, yang selalu ingin aku tanyakan ialah mengapa kau melakukan ini semua?" tanya Yi Hua pada Hua Yifeng dalam 'kenangan' ini.


Mata pria itu terlihat sangat kosong dan menatap lurus ke depan. Meski Yi Hua tak jauh berada di depannya, tetapi pria ini jelas tak menatapnya. Pria ini menatap semua kehancuran kota di depannya.


"Apa memang kau ingin menghancurkan dunia? Atau ..." Ia menyadari jika ia tak sanggup mengatakan apa-apa.


Yi Hua sangat seringkali mendengar jika Hua Yifeng selalu dikaitkan dengan Puteri Li Wei. Jika ada hal yang bisa dia katakan sekarang, maka apa yang dilakukan Hua Yifeng sekarang seperti kegilaan. Muncul setiap kali dalam masalah, dan apakah itu karena kecintaannya pada Li Wei?


Seringkali Yi Hua ingin bertanya pada Hua Yifeng. Namun dia tak bisa melakukannya.


"Hua Yifeng, apa kau ingin menghancurkan dunia yang menghancurkan Puteri Li Wei?" tanya Yi Hua pada akhirnya.


Akan tetapi, pertanyaannya di jawab oleh punggung Hua Yifeng. Pria itu berbalik begitu saja. Seperti yang diharapkan, pria itu jelas selalu tampil dengan segala macam kemisteriusan di dalam dirinya. Ini bahkan sangat memuakkan jika kau harus menebak tindakan pria ini.


Yi Hua tak ingin menduga, tetapi perkiraannya selalu membawa dirinya pada kesimpulan yang sama. Ia akan selalu menjadi pihak yang bertentangan dengan Hua Yifeng. Ia bahkan juga dalam misi untuk membunuh Hua Yifeng.


Oleh karena itu, ...


Yi Hua memejamkan matanya saat semua kenangan di sekitarnya telah buram. Ini seperti matanya telah ditimpa oleh begitu banyak kejadian, hingga matanya harus ia pejamkan. Di sekitarnya mulai terasa aneh, seperti mulai bergoyang dan kacau. Semua kenangan ini mulai lenyap, dan Yi Hua yakin dirinya memang harus segera bangun.


"Ini akan berakhir, Hua Yifeng," bisik Yi Hua.


Entah pada siapa ingi berkata. Yi Hua tak tahu itu.


***


"Yi Hua ...!"


Kau berteriak seperti telingaku ini disumbat oleh kaki sapi!


Bagaimana bisa setelah semua kenangan yang dialaminya, Yi Hua bangun dengan teriakan di telinganya. Tentu saja itu karena teriakan Wei Qionglin dari kejauhan. Akan tetapi, karena di situasi perang Wei Qionglin seringkali berteriak, sehingga teriakan Wei Qionglin seperti suara jeritan hati istri.


Ketika ia membuka matanya lagi, ia melihat bahwa tubuhnya melayang. Itu adalah fenomena yang sangat aneh.


Yi Hua yakin bahwa dia mengalami banyak hal di dalam kenangannya. Akan tetapi, ternyata kurun waktu di dalam kenangan itu hanya seperti satu kedipan mata di dunia ini. Ia masih dalam situasi terlempar, dan lucunya dia mengalami mimpi tentang kenangan Shen Qibo hanya dalam kurun waktu tersebut?


"Pasti aneh sekali ya, HuaHua? Kau bermimpi hanya karena mengedipkan mata," ujar Xiao di telinga Yi Hua.


Yi Hua menghela napasnya saat Xiao begitu tak tahu diri. Bukankah ini juga pengaturan dari Xiao?


Dia adalah sistemnya, tetapi dia juga yang terkadang tak memberi banyak informasi. Seolah Xiao selalu meminta Yi Hua membungkus semuanya sendiri. Sistem itu hanya memberi semua bagian-bagiannya.


Percayalah, Yi Hua benci menebak.


SRET!


TAK!


PLAK!


Yi Hua terlempar dan seseorang menangkapnya. Akan tetapi, Yi Hua menepis tangan pria itu dengan cepat dan membiarkan tubuhnya terpelanting ke permukaan batu. Itu adalah adegan yang sedikit konyol karena Yi Hua menolak bantuan orang lain. Bahkan dia membiarkan tubuhnya terlempar ke hamparan batu dalam lubang gua.


BRUK!


"UGHH ..." Yi Hua merasa seperti tulangnya ingin saling mengucapkan selamat tinggal di dalam tubuh.


Baru saja Yi Hua terjatuh, seseorang mengangkat tubuhnya untuk memeriksa keadaannya. Yi Hua sangat tahu siapa pria itu. Dengan menahan sakit pinggang, Yi Hua menepis tangan pria itu. Dia adalah An.


"Terima kasih, Tuan An," ucap Yi Hua seadanya.


Pria itu menatap bingung pada tangannya yang ditepis oleh Yi Hua. Bahkan Yi Hua tak ingin menatap matanya. Meski begitu, wajah pria itu tetap tenang seperti biasanya.


Lalu, Yi Hua bangkit sambil menekan pinggangnya yang terasa sakit. Rasa sakit di tubuhnya sudah hilang karena kekuatan busuk 'kembali ke awal'. Jelas itu hanya nama baik yang dibuat oleh Xiao, nyatanya itu karena tubuh Yi Hua ini memiliki tungku iblis di dalamnya. Bisa dibilang garis hidup Yi Hua memang 'ajaib', sehingga mari anggap ini sebagai keberuntungan.


Mendadak Yi Hua sangat baik dalam bersyukur.


Yi Hua berjalan menjauhi An dengan pemandangan yang sama sekali tak epik. Dia memegang pinggangnya dan An menatap di belakang punggungnya. Tatapan pria itu terlihat sangat tenang, tetapi tak ada yang tahu maknanya.


Hanya saja ...


"Saya tak suka dibodohi, Tuan An." Hanya itu yang bisa Yi Hua katakan.


Sekarang lebih penting lagi ialah mengatasi Yue Yan yang telah menjadi monster*.


^^^*Ingat perbedaannya. Setiap kali Yi Hua bilang monster, itu berarti merujuk pada manusia yang mengalami percobaan untuk meningkatkan kekuatannya. Seperti diberi pil atau ramuan, tentu saja untuk meningkatkan kekuatan. Sedangkan Hua Yifeng, Shen Qibo, dan beberapa iblis kehancuran itu lebih 'alami' untuk mendapatkan kekuatan. Seperti melakukan pembantaian, pembunuhan, atau pengorbanan dan akhirnya menjadi seorang iblis.^^^


GRAHH!


Yi Hua melihat Shen Qibo terlihat sangat kecil di hadapan Yue Yan. Namun pria itu sama sekali tak beranjak dari sana. Ia tetap berdiri tegak seolah tak merasa takut dengan perubahan Yue Yan.


Di tangan pria itu masih menggenggam pedang.

__ADS_1


"Kau pikir dengan ini kau akan kuat, Yue Yan," ucap pria itu sambil memperhatikan pedangnya yang mulai retak.


SRET!


BUGH!


Yue Yan menyentak pukulannya menuju pada Shen Qibo. Pria itu langsung menghindar, sehingga pukulan Yue Yan mendarat pada dinding lubang bawah tanah. Itu menimbulkan begitu banyak kerusakan hingga serpihan batu terbang di udara.


Jenderal Wei Qionglin bergerak sesuai dengan kehormatannya. Pria itu dengan cepat membantu para pedagang untuk keluar. Sebab, ia yakin pertarungan antara dua makhluk ini pasti akan mencapai permukaan tanah. Sehingga lebih baik untuk 'membersihkan' arena terlebih dahulu.


"Sudah ku bilang, kau lemah," teriak Shen Qibo sambil menendang pada wajah membengkak Yue Yan akibat perubahan drastisnya.


Akan tetapi, Yue Yan tak tergantung seperti biasanya. Itu karena berat tubuh Yue Yan bukan lagi seperti berat anak sapi. Jelas sekali Yue Yan tak bisa dikalahkan dengan mudah.


Namun Shen Qibo juga seperti itu.


Mengapa kedua orang ini tak saling berbicara dengan baik?


"Tuan Shen ... Hentikan dia, atau kekuatannya akan membuat semua organ tubuhnya mati!" teriak Yi Hua untuk memberitahu pada Shen Qibo.


Ia jelas tak akrab pada Shen Qibo. Akan tetapi, menggunakan metode seperti ini bisa membuat Yue Yan hancur. Manusia adalah manusia, sehingga tak bisa memiliki luapan kekuatan di dalam dirinya.


Akan tetapi, Shen Qibo sejak awal bukanlah penurut. Bukannya menghentikan, Shen Qibo malah memukul perut Yue Yan dengan sangat keras. Hal itu membuat Yue Yan berguling dan menabrak dinding tanah di sekitarnya.


"GRAHHHH!"


Teriakan Yue Yan menggelegar dan itu membuat para ularnya berlarian dari sekitarnya. Shen Qibo melihat para ular itu, dan hanya menunjukkan senyum yang sedikit aneh. Bagaimana pun Yue Yan adalah seseorang yang selalu dikelilingi oleh ular.


Dan, jika 'teman' ini tak lagi mengenal Yue Yan, maka itu semua karena perubahan.


"Kau tak menjadi kuat, Yue Yan. Kau masih lemah dan pengecut seperti biasanya. Bukankah kau sering berkata bahwa kau ingin membunuhku?" tantang Shen Qibo yang sepertinya punya seribu nyawa yang disimpan dalam sakunya.


SRET!


Shen Qibo melompat ketika Yue Yan menyentak tangannya yang membengkak besar itu arahnya. Ini nyaris seperti Shen Qibo selalu menghindar dengan sangat cepat. Bahkan seperti yang dikatakan oleh Shen Qibo, Yue Yan bahkan tak bisa mengalahkannya, meski menjadi monster sekalipun.


"Hentikan," ucapan itu bisa Yi Hua dengar.


Yi Hua melihat ke sekelilingnya untuk mencari siapa yang berbicara. Akan tetapi, tak ada siapapun yang bisa dikenalinya sebagai pemilik suara. Hal itu membuat pandangan Yi Hua kembali kepada Yue Yan.


Sejak Yue Yan berubah menjadi monster, suaranya tak bisa keluar layaknya manusia. Meski begitu, bukan berarti dia tak berbicara. Apa mungkin itu adalah suara Yue Yan?


SRET!


Yi Hua yang baru saja ingin mendekat lagi segera ditarik oleh An. Hal itu membuat Yi Hua menatap An dengan pandangan tak terima.


"Yi Hua, ini bukanlah urusan kita," ucapnya dengan nada yang tenang seperti biasa. Seolah tidak ingat tentang penolakan Yi Hua sebelumnya.


Apa maksudnya bukan urusan kita?


Jika dibiarkan Yue Yan bisa mati akibat lonjakan energinya. Itu akan sama seperti Wei Fei. Yi Hua tak bisa membayangkan jika hal tersebut akan terjadi nantinya. Ini sama seperti kegagalan dua kali!


Xiao menjawab langsung, "Keinginannya."


Hey apa-apaan dengan hal tak berwujud ini. Sama halnya dengan menjawab 'baik hati' dan 'tidak sombong' ketika ditanya oleh orang lain tentang sifat kesukaan. Itu adalah hal yang tak berwujud, dan tak bisa dinilai besar kecilnya. Mungkin segelintir orang yang menyebutnya, tetapi tak tahu kadarnya.


Lain halnya jika seseorang menyebut satu ekor sapi, maka Yi Hua bisa menilai besarannya.


Xiao yang sebelum diprotes oleh Yi Hua segera menambahkan, "Biasanya mendapatkan kekuatan seperti itu harus memiliki pemicu. Maksudnya saat kau sering berbicara tentang sapi, maka kau mungkin punya kesukaan pada sapi. Ini sama Yi Hua ... Artinya ... Seseorang tak akan kembali menjadi wujudnya asli jika keinginannya tak terkabul."


Jika seperti itu ...


Yue Yan tak akan bisa kembali menjadi manusia jika dia belum membunuh Shen Qibo.


Mendadak Yi Hua tak tahu apa yang bisa dilakukannya. Ia jelas tak bisa berbuat curang untuk membantu Yue Yan. Ditambah lagi dia mengetahui dengan sangat jelas jika Shen Qibo hanyalah seseorang yang mengambil semua kesalahan kerajaan.


Yi Hua menatap tangan An yang masih menahan tangannya. Dan, Yi Hua melepaskan pegangan An pada tangannya.


"Lepaskan, Tuan An," ucap Yi Hua tegas.


An menatap Yi Hua dengan tatapan peringatan. Akan tetapi, Yi Hua jelas sangat keras kepala seperti biasanya. Yi Hua jelas tak ingin diperintah begitu saja.


BRUKH!


Shen Qibo terjatuh? Apa dia kalah?


Pertentangan di antara Yi Hua dan An langsung terputus ketika suara bantingan keras itu terdengar. Entah apa yang terjadi, tetapi Yi Hua melihat Shen Qibo terbanting ke tanah. Bukan hanya itu saja ... Yi Hua bisa melihat Shen Qibo segera terangkat lagi, dan Yi Hua bisa melihat pekatnya warna hitam yang mengalir dari lengannya.


"Setiap iblis kehancuran memiliki kelemahannya. Itu adalah tergantung luka besar yang ia dapat sebelum kematiannya sebagai manusia. Sebab, meski dia menjadi iblis, dan menutupinya sekali pun, maka luka itu tetap akan menjadi kelemahannya," ujar An yang menjelaskan alasan mengapa Shen Qibo bisa kalah pada pertarungan ini.


Namun yang melukai tangan Shen Qibo itu ... Yi Hua menatap pada An.


An menghela napasnya, "Dia menginginkannya."


Shen Qibo menginginkannya?


Keinginan Yue Yan adalah mengalahkan Shen Qibo. Akan tetapi, Shen Qibo tak akan mudah dikalahkan dan lukanya akan selalu sembuh meski ditendang oleh sapi sekalipun. Akan tetapi, Shen Qibo sengaja bertarung dengan An agar mendapatkan luka terlebih dahulu. Ia pasti sudah sangat tahu jika An bisa mengalahkannya.


Semua itu agar terlihat seperti dia bisa dikalahkan oleh Yue Yan dipertarungkan setelahnya.


Pengorbanan macam apa ini?


"Aku selalu menepati janjiku. Aku akan memberikan selembar kain ini jika kau bisa mengalahkan aku."


Itu adalah apa yang dikatakan oleh Shen Qibo.


Apa Shen Qibo juga sudah tahu jika Yue Yan bisa kembali menjadi manusia saat Yue Yan apa bisa membunuhnya?

__ADS_1


Berapa jauh perhitungan Shen Qibo sampai pada kejadian sekarang? Dia bahkan merencanakan untuk 'kalah' dari Yue Yan. Shen Qibo ini ... Dia terlalu menyayangi temannya.


BUGH!


Dengan sekali hentakan Shen Qibo terbaring di tanah. Luka mengalir deras di lengannya. Itu merupakan luka yang sangat besar hingga lengan Shen Qibo nyaris terputus. Luka itu awalnya dibuat oleh An, tetapi diperbesar oleh Yue Yan.


Yi Hua hanya bisa menatap itu dari kejauhan.


Yue Yan yang dalam wujud monsternya mendekati Shen Qibo yang terbaring sekarat. Tangan besar Yue Yan mencengkeram tubuh Shen Qibo hingga darah memercik dari mulut dan hidungnya. Hanya dalam hitungan detik hingga Yi Hua berpikir jika Yue Yan akan mengancurkan tubuh Shen Qibo dengan genggamannya. Akan tetapi, ...


TAP!


Shen Qibo menekan dada Yue Yan dengan telapak tangannya. Itu terjadi dengan cukup lama hingga genggaman Yue Yan melemah. Perlahan muncul energi aneh di tangan Shen Qibo. Lalu, Yi Hua melihat bibir Shen Qibo yang tersenyum itu bergerak. Seperti berkata sesuatu.


Namun Yi Hua tak bisa mendengarnya.



SRAPPP!


Ini terjadi dengan sangat drastis. Tubuh Shen Qibo terjatuh kembali ke tanah, dan pria itu terlihat meringis. Rasa sakit tentu saja bisa dirasakan oleh Shen Qibo yang telah menghabiskan begitu banyak kekuatannya. Perlahan tubuh Shen Qibo mulai pudar seperti bisa tembus saat disentuh. Hanya seperti bayangan.


Jujur saja semua terjadi dengan sangat cepat hingga Yi Hua menjadi bingung.


Begitu juga dengan Yue Yan yang tampak bingung setelah perubahannya. Yi Hua bisa melihat Yue Yan menatap Shen Qibo dengan bingung. Kemudian, tatapannya terpaku pada Shen Qibo yang sekarat. Bekas darah tampak di pakaian Yue Yan, tetapi lukanya sudah tak ada lagi. Semua itu karena luka Yue Yan telah sembuh begitu saja.


Dan, ...


"Shen Qibo, kau menarik kekuatan itu dariku?" tanya Yue Yan dengan nada bingung.


Yi Hua sungguh tak mengerti apa yang dikatakan oleh Yue Yan. Namun tak lama Xiao menjelaskan lagi dengan nada yang sangat datar. "Itu sama seperti yang dilakukan oleh Hua Yifeng padamu, HuaHua. Menyerap kekuatan yang bergolak di dalam diri. Akan tetapi, ..."


Shen Qibo tidaklah lebih kuat dari Hua Yifeng. Jika Hua Yifeng akan baik-baik saja meski harus menampung begitu banyak energi buruk, tetapi Shen Qibo tidak. Pria ini kalah bukan karena dia lemah.


Sampai kapan pria ini akan terus menjadi baik?


Hanya saja tak ada yang tahu kebaikannya. Tak ada yang mengerti mengapa Shen Qibo melakukannya. Tak ada yang tahu seolah menjadi buta.


Atau, Shen Qibo sejak awal tak ingin orang tahu apa yang dilakukannya. Sebab, dia tak ingin mendapat terima kasih dari siapapun. Dia tak perlu orang melihat apa yang dia lihat.


Menyedihkan!


Xiao akhirnya hanya bisa menegur Yi Hua, "Kau memang berhati dingin, HuaHua. Orang lain akan mengucapkan bela sungkawa pada Shen Qibo, tetapi kau malah mengatakan bahwa dia menyedihkan."


Yi Hua merasa bahwa An melepaskan tangannya. Pria itu berpikir mungkin ini sudah berakhir. Sekitar bawah tanah juga kosong, Jenderal Wei telah berhasil membawa mereka keluar.


Tanah di atas mereka bergetar dengan keras. Sepertinya akan ada badai pasir berikutnya. Jika mereka tak keluar dengan cepat, mereka akan terkubur di tempat ini.


Yue Yan meraih kerah pakaian Shen Qibo dan mengguncangnya. "Aku tanya ... Mengapa kau menarik kekuatan itu dariku? Kau tak ingin aku kuat, bukan? Kenapa kau selalu tak menjelaskan apapun padaku! Kau selalu meremehkan aku. Iya! Kau selalu tak pernah menganggap aku, bukan?" tanya Yue Yan seperti mencurahkan seluruh pemikirannya.


An berkata dengan suara tegas seolah tak ingin dibantah. "Kita naik, Yi Hua."


Namun Yi Hua masih tak bergerak dari tempatnya. Entah mengapa Yi Hua tak bisa meninggalkan semua ini. Ia ingin menjelaskan semuanya pada Yue Yan. Hanya agar Shen Qibo tak disalahkan sampai akhir kematiannya.


Hanya saja ...


Apapun yang kau lihat ... Diamlah. Anggap kau tak melihat apa-apa.


Itu adalah apa yang dikirimkan oleh Shen Qibo melalui pemikirannya. Entah mengapa Yi Hua bisa mendengarnya.


Meski begitu, ... "Aku melihatnya," bisik Yi Hua dengan nada lirih.


Bagaimana bisa dia bertindak seolah dia tak melihat apa-apa?


"Yi Hua." An lagi-lagi memberikannya tatapan peringatan.


SRET!


Yue Yan tanpa sadar memejamkan matanya saat Shen Qibo menggerakkan tangannya. Mungkin Yue Yan berpikir jika Shen Qibo akan mencekiknya seperti biasanya. Akan tetapi, tangan Shen Qibo meraih ke arah wajahnya sendiri.


Menarik kain yang mengikat matanya. Kain itu telah berlumuran darah hitam hingga warnanya tak putih lagi. Yi Hua mendadak ingat jika itu adalah kain pengikat rambut Yue Yan yang dipinjamkannya pada Shen Qibo. Itu ada di dalam kenangannya.


"Aku kembalikan, Yue Yan. Terima kasih. Akhirnya, aku bisa mengembalikannya," ucap Shen Qibo dengan senyum di wajahnya.


Lalu, suara gemuruh keras terdengar. Mungkin badai pasir telah datang kembali. Mereka harus segera keluar dari lubang yang menganga ini atau mereka akan terkubur. Yi Hua bisa merasakan tangan tegap An yang merangkul pinggangnya.


An pasti menggendong Yi Hua dengan paksa.


Akan tetapi, tatapan Yi Hua tetap tertuju pada hal yang ada di depannya.


Di sana ...


Shen Qibo yang terus-menerus pudar hingga menjadi seperti debu. Lalu, badai pasir juga ikut menghapus keberadaannya. Begitu juga dengan Yue Yan yang masih berdiri tak mengerti sambil menggenggam kain yang berlumuran darah itu.


Janji adalah janji. Shen Qibo hanya ingin mengembalikan kain itu di saat yang tepat. Yaitu, di saat semua dendam Yue Yan telah tersampai padanya.


Mungkin sekarang Pendeta Buta, Shen Qibo hanya akan menjadi bagian yang akan disebut dalam sumpah serapah orang lain. Tak ada yang tahu pengorbanannya, dan akan terkubur selamanya di Lembah Debu. Hanya seperti itu.


Dia pergi dalam keadaan sangat dibenci oleh orang lain sebagai seorang pendosa.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2