Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Seorang Wei 6: Wei Wuxie dan Zhang Yuwen


__ADS_3

Kehancurannya ...


Bagaimana Yi Hua akan menanggapi semua ini?


Ini tak seperti dirinya bisa mengingat masa lalunya. Sehingga ia bisa mengatakan ia marah atau memaafkan pria ini. Semua itu tak akan mudah, karena ia masih tak tahu dengan apa yang terjadi. Ia tak tahu seberapa besar peliknya masa lalu.


Namun dari apa yang terjadi, ...


Yi Hua menatap pucuk kepala Hua Yifeng dan hanya bisa menanggapi, "Ingatan saya mungkin tak terlalu jelas karena sudah tua. Akan tetapi, jika pun saya mengingatnya, saya pikir tak masalah."


Hua Yifeng tak bereaksi apa-apa. Wajahnya masih datar, dan berkata, "Kau sekarang tak ingat apa-apa?"


Hua Yifeng tak tahu tentang ini ... Harusnya aku tak mengatakan apa-apa.


Tentang sistem ini ... Mungkin Hua Yifeng memang tak pernah mengetahuinya. Xiao pasti jenis makhluk aneh yang menempel di hidup orang lain. Lagipula, masih banyak hal di dunia ini yang tak diketahui oleh manusia. Itu adalah kewajaran.


"Saya bilang lupa karena faktor usia. Menjauh!" ucap Yi Hua yang mendorong kepala Hua Yifeng sekali lagi dari bahunya.


Entah mengapa apa yang Yi Hua ucapkan tak sesuai dengan tindakannya. Ia masih terlihat seperti ingin menendang Hua Yifeng. Bagaimana pun mereka seharusnya tak begitu dekat seperti ini.


Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh Yi Hua. Ia mungkin tak pernah menyesali apapun yang dilakukannya di masa lalu. Jika ada yang perlu di sesali pun mungkin tak akan begitu berguna. Sebab, hal itu tak akan mengubah apapun.


Apa yang terjadi di masa lalu tak akan bisa diubah. Sehingga mungkin kehidupan berikutnya ini hanyalah segelintir cara agar dirinya bisa menebus hal-hal yang tak diselesaikannya. Entah mengapa Yi Hua merasa jika dirinya berada di jalan yang sama seperti sekarang akan membawanya pada kenyataan yang sebenarnya.


Siapa yang tahu.


Hua Yifeng melirik Yi Hua dalam hingga Yi Hua menoleh juga padanya. "Apa?" tanya Yi Hua dengan nada tinggi.


"Usiamu?" tanya Hua Yifeng dengan ekspresi penasaran.


Maksud dari Hua Yifeng adalah usia Yi Hua. Jelas karena sekarang dirinya adalah Yi Hua. Meski aslinya dia adalah Li Wei, tetapi identitas itu tak bisa digunakannya sebagai batasan usia.


"17 tahun mungkin. Seingat saya," jawab Yi Hua yang berpikir tentang usianya di tubuh ini.


Ini seperti dirinya kembali menjadi muda, padahal usia aslinya tak seperti itu.


Wajah Hua Yifeng langsung berubah. Bagaimana pun dibandingkan dengan usia Yi Hua sekarang, Hua Yifeng jelas jauh lebih tua. Apalagi dengan dirinya yang seorang iblis, ia tak menua, tetapi usianya jelas-jelas seperti seorang leluhur.


Yi Hua menemukan cara untuk menyindir Hua Yifeng. "Apa saya harus memanggil Anda, Leluhur Hua? Seharusnya Anda seusia mendiang ayah saya sekarang," ujar Yi Hua dengan nada polos.


Yah, walau dia terlihat seperti anak remaja sekarang.


GYUT!!


Hua Yifeng menarik hidung Yi Hua entah karena apa. Hal itu jelas membuat Yi Hua jengkel, dan mengguncang-guncang bahu Hua Yifeng. Akan tetapi, pria itu masih melakukan itu dengan santai.


"Aku melihat hidungmu kurang tinggi," balas Hua Yifeng singkat.


Yi Hua melepas sepatunya untuk menjadi senjata. Ia berniat memukul kepala Hua Yifeng dengan sepatu, tetapi Hua Yifeng terlalu gesit dalam mengatasi Yi Hua. Pada akhrinya, Yi Hua hanya bisa meminta Hua Yifeng untuk berhenti mengganggunya. Walau ia tak yakin makhluk yang punya banyak wajah ini akan menurutinya.


Dan, setelah Yi Hua mulai ingin mengeluarkan kertas jimatnya, Hua segera melepaskan cubitannya pada hidung Yi Hua. Ia jelas tak mau jika Yi Hua mengamuk. Sebab, dengan perilaku Yi Hua yang seperti sapi kerasukan, Hua Yifeng jelas tak bisa mengatasinya. Belum lagi dengan sikap Yi Hua yang terkadang lebih kejam dibandingkan iblis.


Hua Yifeng hanya bertanya-tanya darimana semua tenaga yang Yi Hua miliki ini. Padahal baru saja Yi Hua masuk dalam ilusi dan ketakutan. Namun sekarang dia sudah bisa menggelinding seperti ulat kekenyangan.


"Meski kau membenciku, aku tetap tak akan meninggalkanmu," ucap Hua Yifeng dengan sangat pelan hingga Yi Hua tak bisa mendengarnya.


Apalagi Yi Hua sedang sibuk mengusap hidungnya yang terasa panas. Hua Yifeng mengamati Yi Hua dalam diam. Bahkan Hua Yifeng tak memperdulikan Jenderal Wei yang baru bergerak. Pria itu sepertinya baru sadar, terutama ketika dia harus mendengar suara cempreng Yi Hua sebelumnya.


"Apa yang terjadi?" Suara Jenderal Wei membuat Yi Hua berhenti mengusap hidungnya.


"Kau ... Aku akan membunuhmu! Menjauh Yi Hua, dia mungkin mata-mata di dalam kerajaan," tunjuk Jenderal Wei pada pria muda yang duduk di samping Yi Hua.


Yi Hua segera bangkit terutama ketika melihat Jenderal Wei yang mendekat ke arah mereka. Sepertinya Jenderal Wei masih mengingat tentang ilusi yang dilihatnya sebelumnya. Sehingga ia memutuskan untuk melawan Hua Yifeng yang duduk dengan santai.


Jenderal Wei menatap Yi Hua tak mengerti, "Kau masih melindunginya? Dia telah membunuh Perdana Menteri Liu!" bentak Jenderal Wei. Sepertinya pria itu masih tak sadar dengan keadaan di sekitar.


"Jenderal Wei, itu hanyalah ilusi hantu air. Perdana Menteri Liu masih dirawat di Istana Pengobatan. Lagipula, bagaimana mungkin Perdana Menteri Liu mampu ke tempat ini sendirian," jelas Yi Hua apa adanya.


Hal itu membuat Jenderal Wei mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia tampak terkejut dengan air terjun yang berubah warna menjadi hitam. Ia segera menuju ke air hitam ketika melihat beberapa prajurit yang sudah mati di sana.


"Ilusi hantu air? Bagaimana mungkin di pemakaman keluarga yang tertutup bisa dimasuki hantu air?" tanya Jenderal Wei dengan nada bingung.


"Sepertinya ada lubang di dalam air terjun ini. Lubang itu mengarah pada sungai, sehingga saat ada yang mati tenggelam, aliran sungai akan membawa mayatnya kemari. Apalagi dengan aura negatif di pemakaman, mayat itu bisa berubah cepat menjadi hantu air," jelas Yi Hua tentang dugaannya.


Hua Yifeng juga ikut berdiri. Pria itu yang kini dalam wujud mudanya menatap datar ke arah Jenderal Wei. Meski Jenderal Wei tahu pria ini membantu, entah mengapa Jenderal Wei tetap ingin menebasnya.


"Juga ... Bagaimana bisa kau percaya pada pria muda ini, Yi Hua? Bagaimana bisa kau yakin bahwa dirinya juga bukanlah ilusi? Dia datang begitu saja di depanmu, Yi Hua!" tantang Jenderal Wei yang masih tak percaya pada Hua Yifeng.


Namun Hua Yifeng mengangkat bahunya malas. "Berarti Anda juga bisa jadi ilusi. Saya hanya tak pernah tahu jika seorang Jenderal akan dikalahkan oleh hantu air."


Mulut pria ini ...


Lihatlah. Yi Hua mulai merasa sakit kepala dengan Hua Yifeng ini. Dia jelas musuh segala bangsa dan makhluk. Percayalah Hua Yifeng ini punya sifat yang buruk dalam bersosialisasi. Jelas Jenderal Wei semakin geram ingin bertarung dengan Hua Yifeng.

__ADS_1


Itu benar jika Hua Yifeng juga datang dengan tiba-tiba.


Akan tetapi, Yi Hua langsung tahu jika Hua Yifeng datang, terutama saat Xiao tak aktif lagi di telinganya. Bahkan sampai saat ini, Xiao tampaknya mengalami tidur panjang karena Hua Yifeng selalu ada di sampingnya. Oleh karena itu, ia tahu jika pria ini adalah Hua Yifeng yang asli.


Lagipula, dibandingkan ilusi sebenarnya Hua Yifeng lebih berbahaya. Itulah mengapa kerajaan tak boleh tahu jika Hua Yifeng ada di sini.


"Kau ... Beraninya!" Jenderal Wei sudah siap untuk mendekat ke arah Yi Hua dan Hua Yifeng.


Akan tetapi, Yi Hua membentangkan tangannya untuk melindungi Hua Yifeng. Itu adalah gerakan yang cukup mengejutkan. Terutama Hua Yifeng yang sebenarnya tak akan mudah dikalahkan oleh Jenderal Wei, meski mereka benar-benar akan bertarung.


Jenderal Wei menatap marah pada Yi Hua, "Kau terlihat begitu mempercayainya, Yi Hua."


Bukannya aku percaya! Aku hanya tak mau menambah dosa dengan membiarkan makhluk ini terbunuh. Ah, salah! Bukannya membunuh iblis itu suatu kebaikan?


Yi Hua jelas agak sulit untuk jujur pada perasaannya sendiri. Meski begitu, Yi Hua tetap teguh untuk berdiri di depan Hua Yifeng. Melindungi seseorang yang sebenarnya memang agak mencurigakan di sini. Terutama saat Hua Yifeng tahu lebih banyak dibandingkan apa yang Yi Hua kira.


Meski begitu, ... Hua Yifeng sebenarnya tak pernah berbohong pada Yi Hua. Dia hanya tak bicara tanpa ditanya, karena jika Yi Hua bertanya, maka Hua Yifeng akan mengatakannya. Seperti pria ini hanya menunggu setiap fakta terbuka, maka dia akan ada di sana. Yi Hua hanya merasa Hua Yifeng seperti itu.


"Dia adalah anak dari tetangganya tetangga saya! Bagaimana jika ayahnya bertanya dimana anak semata bijinya ini berada?" ucap Yi Hua agak ngawur.


Hua Yifeng berbisik pada Yi Hua, "Sebenarnya aku juga punya beberapa kakak."


Mana ku tahu!


Hua Yifeng saja dia tak tahu siapa. Jelas dia juga tak tahu keluarga dari Hua Yifeng ini.


"Intinya saya percaya pada anak ini. Lagipula, dia sangat baik hati, tidak nakal, dan bahkan bisa bertarung. Dia bisa berguna di sepanjang perjalanan," jelas Yi Hua yang semakin mengarang. Ia hanya mencari alasan agar Hua Yifeng tak semakin mencurigakan.


Beruntung Hua Yifeng yang asli jarang diketahui oleh orang lain. Orang-orang kebanyakan hanya mengenali Hua Yifeng dari cerita-cerita. Atau, dari pedang Li Wei yang legendaris.


Jenderal Wei semakin tak terima, "Dari segi mana kau melihat dia seperti itu?"


Jelas-jelas pria muda itu sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang polos. Dia seperti iblis kecil di mata Jenderal Wei. Akan tetapi, dia juga tak bisa melawan apa yang Yi Hua katakan.


Yi Hua menarik kedua ujung bibir Hua Yifeng dengan kedua tangannya. Hanya agar Hua Yifeng tersenyum lebih manis. Hal itu dilakukan Yi Hua hanya agar Hua Yifeng terlihat lebih ramah lagi. Sayangnya, senyum itu malah membuat Hua Yifeng terlihat licik.


"Dari segi ini ... Lagipula, dia hanyalah anak-anak, Jenderal Wei. Saat ini dia tengah bosan, makanya mengikuti saya," jelas Yi Hua yang masih memaksa Hua Yifeng untuk tersenyum.


Itu sangat bertolak-belakang!


Pria muda itu malah terlihat seperti pembantai dibanding 'hanya' anak-anak. Ditambah lagi anak-anak mana yang tak mudah terjebak oleh ilusi. Dari sana saja Jenderal Wei sudah tahu jika dia bukanlah pria muda biasa. Belum lagi dengan gaya bertarungnya yang bahkan tak bisa membuat Jenderal Wei bertahan.


"Aku menghormati permintaanmu, Yi Hua. Tapi jika anak ini bertingkah mencurigakan, aku tak akan bertanya lagi," ucap Jenderal Wei tegas.


Setelah itu, Jenderal Wei kembali ke pasukannya. Ia memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk mengumpulkan mayat-mayat di dalam air. Mereka harus memberikan penghormatan kepada orang mati nantinya agar mereka bisa naik ke langit.


Hua Yifeng menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Yi Hua kini memperhatikan ke orang-orang yang selamat. Ia mengenali seseorang yang sebenarnya bisa ditanya tentang pemakaman ini. Yi Hua berjalan untuk menghampiri seorang pria yang sepertinya terluka di kakinya.


Hua Yifeng mengikuti Yi Hua seperti yang diperintahkan. Kali ini dengan penampilan buatan Hua Yifeng, pria itu tak begitu tinggi dari Yi Hua. Dengan wujud muda itu Hua Yifeng terlihat agak manis, walau begitu Yi Hua tak akan pernah mengatakannya secara langsung. Hua Yifeng membawa pedang Li Wei yang masih diselimuti oleh kain putih. Mungkin Yi Hua akan memerlukannya nanti.



Dan benar saja ...


Yi Hua meminta pedang itu dari Hua Yifeng ketika ia berada di jarak yang dekat dengan pria itu. Kemudian, Yi Hua mengarahkan pedang itu ke tenggorokan pria pembuat makam itu. Hal itu membuat pria pembuat makam terpaku.


"Jadi, ... Apa Anda ingin berbincang dengan baik sekarang, Tuan?" tanya Yi Hua dengan senyum di wajahnya.


Mustahil pembuat makam ini tak tahu dengan struktur makam ini. Apalagi dengan kelemahan dari mekanisme di makam ini. Akan tetapi, jelas-jelas pembuat makam ini malah membuat mereka tersesat dan terjebak dalam mekanisme. Itu adalah hal aneh saat mereka membawa pembuat makam ini bersama mereka.


Jenderal Wei juga mendekat ke arah Yi Hua. Pria itu sepertinya juga mencurigai pembuat makam ini. Hanya saja dia belum menemukan poin yang tepat untuk bertanya. Ditambah lagi dengan Jenderal Wei yang panik atas kehilangannya Yi Hua sebelumnya.


Pembuat makam itu menatap takut pada Yi Hua. Lain halnya jika ia tak pernah mendengar tentang Yi Hua yang agak unik ini. Paling normal Yi Hua akan menendang kepalanya. Belum lagi dengan sikap kejam Yi Hua yang terkadang aneh-aneh.


Pemilik makam itu mengangkat kedua tangannya takut. "Saya sungguh tak tahu banyak."


Jenderal Wei menatap tak mengerti, "Kau tak tahu banyak? Pantas saja kau tak tahu dimana saja jebakan di dalam pemakaman ini. Lalu, bagaimana jika kau berjalan paling depan?"


Wajah pemilik makam itu semakin serba salah. Seperti yang Yi Hua duga, pemakaman ini jelas-jelas bukanlah sesuatu yang sederhana. Mungkin pemakaman ini juga dibuat bukan hanya sekadar makam. Ada hal aneh tentang makam ini, yang bahkan seperti tempat menyimpan barang berharga ketimbang sebuah makam.


Pembuat makam itu menundukkan kepala, "Sebenarnya dahulu pintu makam bukanlah dimulai dari sana. Bangunan ini hanya dibuat kemudian hanya agar terlihat bersambung dengan pemakaman."


Ini adalah hal umum.


Jika kau ingin menutupi sesuatu, maka kau harus membuat sesuatu lainnya untuk menutupinya. Singkatnya, seperti jika kau ingin menutupi bangunan lainnya, maka kau harus membuat bangunan lainnya. Pemakaman ini dibuat begitu banyak jalan masuk sebenarnya hanya untuk menyulitkan siapapun yang ingin masuk.


Atau, seseorang yang ingin keluar?


"Dahulunya tempat ini adalah tempat pengurungan Keluarga Wei. Hanya setelah kehancuran keluarga Wei sebelumnya yang membuat mendiang ayah Anda menutup tempat ini," jelas pembuat makam itu sambil menatap pada Jenderal Wei.


Jenderal Wei tak mengatakan apa-apa, tetapi dari ekspresinya seperti pria ini memahami sesuatu. Terutama saat menyebut ini berkaitan dengan kehancuran keluarga Wei. Yi Hua hanya membiarkan pembuat makam itu melanjutkan lagi.

__ADS_1


Yi Hua melirik pada Hua Yifeng, tetapi pria itu terlihat sangat datar. Tak ada bentuk terkejut dari Hua Yifeng. Hanya saja dia merasa bahwa kehancuran keluarga Wei memang ada hubungannya dengan kerusuhan di Kerajaan Li sebelumnya.


KLANG!


Suara denting senar itu terdengar di antara kesunyian. Yi Hua menatap ke arah suara, atau tepatnya pada seorang pria yang berada dalam kegelapan. Jelas itu adalah hal aneh yang membuat mereka harus waspada. Bukankah ada banyak mekanisme tak terjawab di dalam pemakaman ini?


SRET!


Yi Hua menatap heran pada Hua Yifeng yang berdiri di depannya. Dari wajah pria itu saja sudah menunjukkan bentuk tak sukanya. Seperti pria itu sudah tahu siapa yang datang. Atau, karena Hua Yifeng tahu bahwa orang yang datang ini berbahaya.


"Zhang Yuwen," sebut Hua Yifeng untuk memberitahu Yi Hua.


Zhang Yuwen? Si Tirai Darah! Mengapa dia ada di sini?


"Orang yang setia sebenarnya agak bodoh." Suara merdu itu terdengar.


JRENG!


Lagi-lagi denting dari senar terdengar lagi. Tentu saja Zhang Yuwen terkenal dengan syair terlarangnya yang bisa membuat ilusi juga. Akan tetapi, Yi Hua tahu jika Zhang Yuwen tidak sedang bersyair.


Pria ini sedang membicarakan sesuatu.


"Itulah mengapa aku yang bertahan, dia tidak," ucap pria yang awalnya dalam kegelapan itu.


Tak lama ia muncul dengan senar aneh di tangannya. Rupanya ia hanya memetik deretan senar yang dibuatnya seperti jaring laba-laba di tangan. Tidak ada kayu atau apapun untuk Zhang Yuwen mengikat senarnya. Jadi, senar itu hanya dililit pada jemarinya. Pantas saja Zhang Yuwen bisa menggantung orang-orang di pepohonan.


Ia rupanya memiliki senar putih seperti jaring laba-laba. Akan tetapi, melihat rupanya yang diliputi kegelapan, entah mengapa Yi Hua mengenalinya. Bukankah sosoknya agak familiar?


"Dasar Wei Wuxie yang malang," ujar Zhang Yuwen lagi.


Awalnya ketika ia mendengar namanya, ia tak mengenalinya. Ia selalu mendengar tentang Zhang Yuwen sebagai salah satu dari lima pendosa. Hanya saja dia tak menyangka jika Zhang Yuwen ini adalah Zhang Yuwen yang dirinya kenal.


Pantas dari rupanya, ia sangat mengenalinya. Termasuk seorang Wei yang seharusnya ia kenal juga. Sebaik ia mengenal Zhang Yuwen.


Wei Wuxie. Anak pertama dari keluarga Wei yang menjadi sebab kehancuran keluarga Wei. Kakak pertama dari Jenderal Wei Qionglin.


Zhang Yuwen. Anak keluarga Zhang. Paman dari Zhang Yi*.


^^^*Ingat tentang cerita Zhang Yi yang berusaha menghidupkan kekasihnya lagi. Itu di kasus Yi Hua di awal-awal novel loh. Yang dia pakai syair ilusi supaya targetnya pingsan.^^^


Kedua keluarga ini sempat hilang namanya di masa kerajaan terdahulu. Itu semua karena kedua keluarga itu adalah keluarga yang dekat dengan seorang Putri Terkutuk dari Kerajaan Li.


Zhang Yuwen mengangkat kepalanya untuk menatap pada orang-orang di depannya. Wajahnya terlihat mengejek, dan rambut panjangnya di kepang. Kepangan itu tampak turun dengan harmonis di bahu kirinya. Ada manik aneh di dahinya, dan itu berwarna hijau.


Matanya tak semerah Hua Yifeng, tetapi dari sana Yi Hua tahu bahwa Zhang Yuwen benar-benar iblis.


Sosok ini jelas berbeda dari terakhir kali dirinya ingat.


SRANG


Sebuah denting senar penghabisan yang suaranya seperti senar itu nyaris putus. Itu membuat penging yang berbeda, tetapi tatapan Yi Hua tetap tertuju pada Zhang Yuwen. Yi Hua bahkan harus menutup telinganya karena suara 'ngiiing' keras itu masih menghantui telinganya.


Siapa sangka jika dia akan bertemu lagi dengan Zhang Yuwen dalam keadaan yang berbeda.


Syair aneh Zhang Yuwen berakhir, tetapi ini adalah awalan dari ingatannya sebagai Li Wei. Tentang dua orang yang bisa ia sebut teman dalam sejarah hidupnya. Entah mengapa dirinya bisa melupakan kedua orang ini.


Sudah sekian lama ia terlahir kembali sebagai Yi Hua.


Zhang Yuwen ... Dan Wei Wuxie.


"Lama tak berjumpa," bisik Yi Hua pelan dan hanya Hua Yifeng yang bisa mendengarnya.



...***...


Btw, kalo kalian baca novel Tian Guan Ci Fu kalian bakalan tahu ketiga karakter ini siapa. Aku ngambil gambarnya buat bayangan aja sih tentang tiga sahabat ini.


Jadi, temennya Li Wei di masa lalu itu dua-duanya cowok gays ... Terus ada alasannya juga loh kenapa temannya Li Wei ni cowok semua.


...***...


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Sedikit info:


Chapter depan adalah pembahasan yang paling inti dari cerita ini. Cerita tentang Li Wei yang selalu disebut-sebut dalam cerita. Aku harap ceritanya akan membuat kalian berpikir bahwa cerita intinya akan mulai sekarang. Yah, ... Mohon diingat beberapa momen yang mungkin akan penting bagi alur cerita ini. Karena kalian akan melihatnya saling berhubungan dengan kehidupan tokoh utama sebagai Peramal Yi Hua.


So ...


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


***


__ADS_2