
Jenderal Wei menarik pedangnya untuk menebas pada Hua Yifeng. Namun dengan mudahnya Hua Yifeng menghindar. Yi Hua sendiri bingung harus melakukan apa. Ia hanya bisa berjongkok untuk memeriksa Liu Xingsheng.
Saat itu Yi Hua melihat bahwa Liu Xingsheng 'ini' seharusnya tak ada di sini.
"Jenderal Wei, jangan bertarung," ucap Yi Hua untuk menghentikan.
Jelas-jelas ini aneh saat Liu Xingsheng muncul seperti kejutan di hadapan mereka. Lain halnya Liu Xingsheng ini pandai merayap dan berguling-guling di arena berbahaya ini. Lagipula, jalan masuk ke pemakaman cukup lama, dan mereka pun belum sampai padahal sudah mencapai tengah hari.
Pasti sangat mustahil Liu Xingsheng ada di sini.
"Kau membelanya, Yi Hua? Kau tak lihat bahwa dia jelas-jelas membunuh Perdana Menteri Liu," bentak Jenderal Wei yang sangat marah kala ini.
Ia tentu saja semakin marah ketika melihat wajah tenang pria muda di depannya. Setiap kali ia melihat pria muda ini ia merasakan perasaan yang sama ketika melihat Pengawal Pribadi Raja Li, An. Akan tetapi, pria muda ini jelas bukan An.
Itu adalah apa yang Jenderal Wei pikirkan.
Saat Yi Hua menyadari apa yang salah, situasi di hadapan Yi Hua mulai berubah. Jelas-jelas tadi Yi Hua melihat darah yang memercik ke wajahnya. Namun darah itu tak ada lagi.
Jadi, benar .... Itu hanyalah ilusi. Nyatanya sekarang mereka sedang berada di dalam air.
BUGH!
Yi Hua mengikuti suara pukulan itu. Hua Yifeng pada akhirnya memukul tengkuk Jenderal Wei, dan melemparnya ke tepi. Begitu juga dengan beberapa prajurit yang selamat.
Ketika Yi Hua menatap ke arah depan, 'Liu Xingsheng' yang sebelumnya berubah menjadi hantu air. Yah, tepatnya Yi Hua melihat rambut yang mengambang di depan wajahnya.
Hal itu membuat Yi Hua memundurkan tubuhnya karena ketakutan. Bohong jika dia mengatakan bahwa dia tak ngeri pada hantu air ini. Terutama saat ia harus berada di jarak dekat dengan tubuh-tubuh busuk hantu air di sekitarnya.
SRET!
Lalu, pandangan Yi Hua menjadi gelap ketika Hua Yifeng menyelimuti kepala Yi Hua dengan jubah bagian luarnya. "Tidak apa-apa. Mereka sudah mati," ujar Hua Yifeng sambil menggendong Yi Hua untuk duduk di tepian air terjun.
Suara air terjun membuat suara Hua Yifeng yang pelan itu tak begitu terdengar. Akan tetapi, entah mengapa Yi Hua bisa memahaminya. Ia hanya diam ketika Hua Yifeng melepaskan kembali jubah yang menutupi kepala Yi Hua.
"Bagaimana dengan Jenderal Wei dan lainnya?" tanya Yi Hua yang sedikit menggigil.
Pakaiannya bahkan belum kering sebelumnya, dan sekarang dia harus terkena air lagi. Bahkan pakaian serba putih Yi Hua sudah menjadi agak kehitaman. Itu semua karena air ini sudah berubah warna.
Hua Yifeng menjawab malas, "Mereka akan sadar nanti. Tapi itu lebih baik daripada dililit oleh hantu air, dan mati."
Seperti yang dikatakan oleh Hua Yifeng, jika tak bisa terlepas dari ilusi hantu air, pria itu hanya bisa membuat mereka pingsan. Yi Hua sempat bertatapan dengan hantu air, sehingga ia tahu jika ada ilusi di sana. Akan tetapi, yang lainnya jelas tak pernah tahu apa yang ada di depan mereka.
Dari hitamnya air, Hua Yifeng pasti sudah membunuh seluruh hantu air. Itulah mengapa pria ini sempat menghilang sebelumnya. Meski Hua Yifeng tak bisa menahan ilusi yang sempat dibuat oleh hantu air.
Hua Yifeng membantu Yi Hua untuk berdiri sekaligus merapikan pakaian Yi Hua. Kemudian, Hua Yifeng mendekatkan bibirnya ke telinga Yi Hua. Kemudian berbisik, "Apa kau tak mau berganti pakaian?"
Mata pria itu mengamati ke arah pakaian Yi Hua yang jelas-jelas sangat menempel di tubuhnya karena basah.
Lihatlah. Baru saja pria ini terlihat baik dan bersahaja, dia berubah lagi menjadi biawak!
Yi Hua nyaris menenggelamkan kepala Hua Yifeng ke dalam air agar tak melihatnya lagi. Namun berhubung Hua Yifeng sudah banyak membantunya, Yi Hua tak akan bersikap kasar. Paling manisnya yah Yi Hua akan menendang kepala pria ini.
Pada akhrinya, Yi Hua hanya berusaha untuk duduk kembali ke permukaan batu. Ia memutuskan untuk mencuri jubah Hua Yifeng yang rupanya masih ada di dekat Yi Hua. Ia bisa menggunakan jubah bagian luar Hua Yifeng untuk menutupi dirinya.
Kali ini Hua Yifeng memutuskan untuk berhenti menjahili Yi Hua. Pria itu ikut duduk di tepian batu, dan menarik tangan Yi Hua. Walau peramal itu sempat menarik kembali tangannya, tetapi Hua Yifeng lebih kuat lagi untuk menahan tangan kecil Yi Hua.
"Perhatikan dirimu sendiri baru kau perduli pada orang lain," ucap Hua Yifeng sambil menarik lengan pakaian Yi Hua ke atas.
Di sana ...
"Aduh, sakit!" teriak Yi Hua yang baru ingat tentang luka di lengannya. Bisa-bisanya rasa sakit baru muncul saat ia melihat lukanya ini.
Berarti ketika dia dililit oleh rambut itu adalah kejadian nyata. Bahkan lengan Yi Hua sudah sobek dimana-mana seperti dilukai oleh pisau berkali-kali. Keadaan tangannya sangat mengerikan hingga Yi Hua takut untuk melihatnya.
Namun ...
"Saya tak akan mati dengan mudah," ucap Yi Hua apa adanya.
Sejatinya karena sekarang dirinya adalah Yi Hua yang ternyata anak Dewa Phoenix, ia menyadari bahwa ia tak akan mudah mati. Syaratnya ialah kepalanya masih utuh, dan itu membuat Yi Hua tak begitu khawatir pada dirinya sendiri. Sehingga luka seperti ini harusnya ia tak boleh begitu ribut.
Yah, sama seperti Phoenix yang punya kemampuan 'kembali ke awal'. Seperti layaknya burung merah yang terbakar, dan kemudian lahir kembali menjadi seperti anak burung. Sehingga kemampuan 'kembali ke awal' Yi Hua hanya akan berfungsi ketika dia hampir mati.
Jadi, lukanya akan sembuh seperti manusia pada umumnya. Sehingga Yi Hua yakin setelah ini dia akan menghuni istana pengobatan. Belum masuk ke sana saja Yi Hua sudah bisa membayangkan suara bentakan Selir Qian.
Gerakan Hua Yifeng selanjutnya sedikit mengejutkan Yi Hua. Pria itu mengambil pedang Li Wei yang terbungkus kain. Lalu, membukanya.
Kemudian, ... CRASHHH!
"Apa yang Anda lakukan?" tanya Yi Hua tak mengerti ketika Hua Yifeng menggores ujung pedang Li Wei ke telapak tangannya.
__ADS_1
"Rambut itu akan membuat luka milikmu sembuh lebih lambat. Itu semua karena racun mayat hidup ada di helaiannya. Darahku bisa mengatasi racun," ujar Hua Yifeng sambil meneteskan darah hitamnya ke lengan Yi Hua.
Yi Hua hanya bisa diam ketika Hua Yifeng dengan teliti meratakan darah itu di lengannya. Sesekali Yi Hua meringis ketika rasa nyeri itu mengenai lengannya. Wajah Hua Yifeng terlihat cukup kaku sekarang, seperti pria ini tengah menahan amarahnya.
"Saya sungguh tak apa-apa," ujar Yi Hua yang sedikit tak nyaman ketika melihat Hua Yifeng yang marah.
SRET!
"Aduhh ..." Yi Hua tak menyangka jika Hua Yifeng akan menekan lukanya, walau tak begitu keras.
Mata Hua Yifeng menatap rinci ke wajah Yi Hua. "Meski kau tak mudah mati, tetapi apa kau pernah berpikir tentang rasa sakit itu?" tanya Hua Yifeng seperti menuntut Yi Hua.
Bagaimana untuk menjelaskan ini semua?
Yi Hua bukannya agak sinting dan senang terluka. Akan tetapi, kehidupannya sebagai Yi Hua sudah dimulai dari hal yang menyakitkan. Entah sejak kapan dirinya jadi kurang takut dengan rasa sakit. Atau, mungkin karena dia berpikir dia tak akan mati dengan mudah.
Entahlah.
"Anggap saja saya terbiasa. Seorang 'pria' memang harus hidup dengan luka dan perjuangan," ucap Yi Hua agak asal-asalan. Dia hanya tak ingin terlihat bingung di mata Hua Yifeng.
Hua Yifeng mengulurkan tangannya untuk mengusap telinga kiri Yi Hua. Di sana ada permata warna merah yang sangat mencolok. Sayangnya, 'orang'nya sedang tak muncul saat ini. Meski begitu, ... Ini kedua kalinya Hua Yifeng menyentuh Xiao.
Kali pertamanya Hua Yifeng seperti terkena aliran aneh. Seperti ada kilat dari sentuhan Hua Yifeng.
Dan, ...
CRAT!
Kilau yang agak menyilaukan muncul dari sentuhan Hua Yifeng. Masih sama seperti sebelumnya. Ini adalah hal yang aneh saat Xiao terlihat agak bertentangan dengan Hua Yifeng. Ini seperti akan terjadi 'sesuatu' jika Hua Yifeng menyentuh Xiao. Begitu juga dengan Xiao yang akan mendadak diam ketika Hua Yifeng hadir.
"Yi Hua, dengan tubuh kecilmu ini kau tak bisa menyelamatkan setiap hal di depanmu. Terkadang kau harus membiarkan buah untuk jatuh membusuk jika kau sudah kenyang memakannya," ujar Hua Yifeng yang menjauhkan tangannya dari permata merah di telinga Yi Hua.
Yi Hua berpikir sejenak. "Lebih baik buahnya dijual daripada dibiarkan jatuh."
"Itulah dirimu."
Apanya? Maksudmu aku ini selalu memikirkan uang dan penghasilan?
"Kau tak pernah membiarkan masalah berlalu begitu saja di depanmu," ucap Hua Yifeng dengan tegas.
Entah mengapa Yi Hua tak bisa mengatakan apa-apa.
"Dengar, Yi Hua. Terkadang kau perlu menutup mata, meski hatimu merasa itu tak benar." Yi Hua merasa seperti Hua Yifeng sedang tak membicarakan tentang jual-menjual buah.
"Anda ... Sejak kapan Anda tahu?" tanya Yi Hua langsung tanpa berniat untuk menutupi lagi.
Nyatanya Hua Yifeng tampaknya tahu lebih banyak daripada yang Yi Hua pikirkan.
"Apakah kau menuduh aku yang membunuh Yi Hua agar kau terlahir kembali ke dalamnya?" tanya Hua Yifeng dengan senyum tipisnya.
Seperti yang Yi Hua duga. Hua Yifeng tahu jika dia adalah Li Wei. Dan, hal yang mengejutkan ialah Yi Hua menggeleng. Hua Yifeng menarik senyumnya tipis ketika melihat itu.
"Anda menyuruh saya untuk percaya. Lagipula, Anda pernah berkata jika saya menderita ketika harus hidup kembali dan menghadapi semua masalah ini," ujar Yi Hua yang menyadari sesuatu.
Pria ini tak pernah mengharapkan apa-apa. Hua Yifeng hanya ingin dirinya bahagia.
Ia jelas tak mengingat Hua Yifeng dalam kenangan masa lalunya. Entah dia sebenarnya menyadari, atau dia hanya lupa, ia tak tahu. Hanya saja dicintai dengan cara yang besar seperti ini, siapapun pasti menginginkannya.
Hua Yifeng masih mengamati permata merah di telinga kiri Yi Hua. "Aku tahu sejak menyentuh permata merah ini."
Huh?
"Apa maksud Anda?" tanya Yi Hua tak mengerti.
Ia ingat saat itu Hua Yifeng terlihat terpaku ketika melihat permata merah yang ada di telinganya. Belum lagi dengan rasa kejut dan kilat yang tercipta dari sentuhan itu. Akan tetapi, Yi Hua tak bisa memikirkan alasan dari terkejutnya Hua Yifeng. Pria ini juga tak ingin memberitahu apa-apa pada Yi Hua.
"Apakah kau pernah mendengar tentang kelemahan Kelima Bencana di Kerajaan Li?" tanya Hua Yifeng begitu saja.
Mau tak mau Yi Hua menganggukkan kepalanya. Jelas-jelas Hua Yifeng sendiri yang menceritakannya, tentu saja dalam wujudnya sebagai An. Dan, Yi Hua juga pernah melihat Shen Qibo yang hancur ketika kelemahannya dikenai oleh Yue Yan.
Juga, Hua Yifeng kelemahannya adalah jantungnya. Akan tetapi, Yi Hua pernah menusuk Hua Yifeng di jantungnya. Tapi pria iblis ini tidak mati juga.
Yi Hua menggaruk kepalanya tak mengerti, "Apa Anda berbohong tentang kelemahan Anda?" tanya Yi Hua langsung.
Jelas saja tak ada yang mau menceritakan tentang kelemahannya sendiri pada orang lain. Mungkin saja Hua Yifeng juga melalukan hal yang sama. Akan tetapi, Hua Yifeng menggelengkan kepalanya.
"Katanya, jika seorang iblis kehancuran menemukan hal yang penting baginya, mereka biasanya meletakkan kelemahan mereka di sana. Sehingga hal yang penting untuknya bisa menjadi kelemahannya. Jika hal penting itu adalah istananya, maka dia akan meletakkannya di sana," jelas Hua Yifeng panjang lebar.
Yi Hua sedikit bingung dengan hal itu. Lagipula, ini adalah cerita yang baru saja dia ketahui. Mungkin hal ini hanya beredar di kalangan para iblis saja. Iblis juga punya sisi kekanakan seperti menyimpan benda-benda tersayangnya.
"Bukankah itu malah berbahaya? Lebih aman jika menyimpannya di tempat yang tak bisa dijangkau orang lain? Seperti di tubuh sendiri," tanya Yi Hua penasaran. Entah mengapa mereka sekarang berbicara panjang lebar.
__ADS_1
Hua Yifeng mengangkat bahunya tak perduli. Seolah kelemahannya itu tak ada apa-apanya. Atau, Hua Yifeng hanya terlalu pandai menyembunyikan kelemahannya. Namun Hua Yifeng terlihat acuh dengan kelemahannya sendiri.
"Aku hanya meletakkannya ke tempat yang aku percaya," balas Hua Yifeng santai.
"Bagaimana jika tempat itu hancur?" tanya Yi Hua masuk akal.
Iblis kehancuran seperti Hua Yifeng pasti ingin dibunuh oleh siapapun. Bahkan sesama iblis pun mereka akan saling membunuh. Jika tempat persembunyian ini diketahui, bukankah akan sangat berbahaya?
Hua Yifeng tertawa kecil. "Jika tempat aku menyimpannya hancur, maka tak ada alasan lagi untuk hidup."
Yi Hua enggan mengatakan apa-apa.
***
"Lebih penting dari segalanya, kau selalu sama seperti dulu, dan aku tak bisa menahanmu. Sehingga lakukan apapun yang kau inginkan, dan aku akan selalu mendukungmu. Kau bisa memanfaatkan aku sebanyak yang aku inginkan. Walau aku tahu kau tak akan pernah berbuat seperti itu," ucap Hua Yifeng sambil merapikan jubahnya yang dipakai oleh Yi Hua.
Sepertinya Hua Yifeng memukul orang-orang ini terlalu keras. Bahkan keduanya berbicara cukup lama, tetapi Jenderal beserta pasukannya ini masih tergeletak dengan posisi menumpuk. Hua Yifeng sepertinya tak ingin memperlakukan mereka dengan baik.
"Darimana Anda tahu jika saya seperti itu? Bukankah Anda terlalu memikirkan hal yang baik terhadap saya?" ujar Yi Hua yang jelas-jelas tak pandai menghadapi perasaannya sendiri.
Untuk pertama kalinya ... Ia berbicara dengan Hua Yifeng dengan serius. Bahkan Hua Yifeng tak terlihat banyak menutupi dari Yi Hua. Entah mengapa Hua Yifeng begitu percaya padanya.
"Karena kau bodoh."
Yi Hua nyaris mendepak kepala Hua Yifeng karena jengkel. Bahkan pria ini sangat mudah mengubah pembicaraan. Padahal Yi Hua nyaris terharu sebelumnya, dan kini Hua Yifeng sudah menyebutnya bodoh.
"Jangan bicara lagi pada saya? Saya patung," ucap Yi Hua yang menjauh dari Hua Yifeng.
Hua Yifeng bangkit tanpa berniat mengganggu Yi Hua lagi. Pria itu mengumpulkan ranting kayu untuk dijadikan satu. Kemudian, api memercik dari telapak tangan Hua Yifeng dengan mudah. Mendadak Yi Hua berpikir jika dia pergi kemana-mana ia tak perlu membawa perlengkapan.
Ia hanya perlu membawa Hua Yifeng. Makhluk ini serba bisa, dan bisa digunakan kapan saja.
"Apakah Anda meninggalkan Gunung Hua lagi? Atau ini hanyalah cangkang manusia yang Anda buat?" tanya Yi Hua yang menghangatkan diri dengan api yang baru saja Hua Yifeng buat.
Hua Yifeng mematahkan ranting kayu dengan tangannya. Pria ini terlihat tenang seperti biasanya. Akan tetapi, pria itu mencabut rumput liar di sekitarnya. Kemudian, melemparnya ke dalam api.
Seingat Yi Hua yang kebetulan sedikit belajar tentang tumbuhan obat, tanaman itu adalah pereda sakit. Hua Yifeng membakarnya agar asapnya bisa diperoleh oleh Yi Hua dan orang-orang yang masih terkapar di sana.
Terlepas dari status Hua Yifeng yang merupakan iblis kehancuran, sebenarnya Hua Yifeng ini berhati baik.
"Aku sudah bilang jika aku tak pernah membuat cangkang manusia. Aku hanya membuatnya sekali, dan aku tak ingin membuatnya lagi," balas Hua Yifeng yang duduk di sebelah Yi Hua lagi.
Jelas yang dimaksud oleh Hua Yifeng adalah Puteri Li Wei yang dibuatnya menjadi cangkang manusia dahulu. Cerita Cangkang Manusia pertama dalam sejarah Kerajaan Li. Entah mengapa Yi Hua bersikap biasa-biasa, padahal dahulu itu tubuhnya sendiri.
Mungkin rasa simpati Yi Hua telah dimakan sapi. Atau, dia tak mengingat masa lalunya sendiri hingga ia merasa itu masih terasa asing.
Lalu, pria itu menyenderkan kepalanya di bahu Yi Hua. Dan, dengan sangat 'lembut'nya Yi Hua mendorong kepala Hua Yifeng menjauh. Akan tetapi, Hua Yifeng tetap keras kepala untuk menyenderkan kepalanya di bahu Yi Hua yang rendah. Ha itu membuat Hua Yifeng terlihat dalam posisi yang tak nyaman. Apalagi dengan badan tingginya yang harus mengikuti tinggi baju Yi Hua.
Meski begitu, Hua Yifeng tetap ingin menyenderkan kepalanya di bahu Yi Hua. Hingga Yi Hua lelah sendiri, dan membiarkan kepala Hua Yifeng bersandar di bahunya. Suara di sekitar mereka agak sepi karena hanya mereka berdua yang sadar.
"Jadi, yang mana penampilan Hua Yifeng yang asli?" tanya Yi Hua penasaran.
Percayalah ia sudah melihat pria ini dalam wajah yang berbeda-beda. Akan tetapi, ia masih tak yakin yang mana sebenarnya wajah Hua Yifeng yang asli. Ditambah lagi iblis memang pandai menyerupai. Sehingga bisa jadi Hua Yifeng hanya membuat wajahnya seperti yang ia inginkan.
Hua Yifeng terlihat terkejut. Yi Hua merasakan itu dari bahunya. Meski begitu, Hua Yifeng tak mengatakan apa-apa. Ia hanya memainkan kayu untuk menggerakkan bara api.
"Anda tak ingin memperlihatkannya?" tanya Yi Hua pada akhirnya.
Apa mungkin sebenarnya dirinya saat menjadi Li Wei mengenal Hua Yifeng? Itulah mengapa Hua Yifeng tak ingin menunjukkan wajah aslinya. Pria ini tak ingin dirinya mengingat tentang siapa Hua Yifeng di masa itu?
"Sebenarnya tak begitu jauh dengan yang kau lihat sebelumnya. Hanya karena beberapa hal hingga muncul garis hitam di bawah mata, dan mata merah ini," jelas Hua Yifeng pada akhirnya.
Hua Yifeng tanpa mata merah menyalanya dan garis hitam di wajahnya. Yi Hua mendadak memikirkan itu dalam diam. Sayangnya jika dibayangkan saja Yi Hua tak akan bisa memastikannya.
Itu semua karena dia tak punya perbandingan. Ia jelas tak mengingat wajah Hua Yifeng asli*, dan perbedaannya dengan saat menjadi iblis kehancuran. Sehingga ia tak tahu berapa jauh perbedaannya.
^^^*Maksudnya asli ini bukan berarti Hua Yifeng mengubah wajahnya. Ini maksudnya saat Hua Yifeng masih menjadi manusia. Wajah dari lahirnya Hua Yifeng ini yang dimaksud Yi Hua.^^^
"Hanya saja jika kau mengingatnya, mungkin kau akan menyesalinya," ujar Hua Yifeng dengan nada pelan.
Yi Hua tak bisa melihat ekspresi Hua Yifeng. Hanya saja ... Masa lalu antara Hua Yifeng dan dirinya cukup tak biasa.
"Karena aku adalah kehancuran di hidupmu, Tuan Putri."
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~