
"Hey, apa yang kau lakukan?" teriakan itu terdengar di telinga Yi Hua.
Ia hanya bisa mengerenyitkan dahinya karena kebisingan di sekitar. Meski begitu, rasa berat di kepalanya masih ada. Walau tak begitu mengantuk seperti biasanya.
Ditambah lagi ... Bagaimana bisa orang-orang itu ribut saat Yi Hua baru saja tertidur?
"Kakak, aku membuatkan Yi Hua obat. Dia pasti sakit parah, makanya dia tergeletak di sana," jawaban itu begitu kekanakan, tetapi Yi Hua tahu siapa yang bicara.
PLAK!
Aduh!
Meski bukan Yi Hua yang dipukul, tetapi dari suara pukulannya, Yi Hua sudah tahu rasa sakitnya. Hal itu membuat Yi Hua segera membuka matanya. Hanya agar dia tak takut jika pukulan itu akan mendarat padanya kemudian.
"Dia tak sakit parah, Xingsheng. Lagipula, kau memberinya obat apa itu? Bukankah itu untuk ramuan pereda nyeri datang bulan? Kau ini tak tahu apapun tentang obat-obatan." Kali ini suara Selir Qian sepertinya terlalu tinggi hingga Yi Hua takut jika suaranya akan menghancurkan barang-barang.
"Oh iya, tapi ... Yi Hua ... Kau sudah sadar? Lihat aku! Apa kau ingat aku? Apa kau ingat hutangmu padaku?" tanya Liu Xingsheng yang mendekat ke arah Yi Hua.
Yi Hua mendadak ingin hilang ingatan sungguhan.
Ketika melihat ke keadaan sekitar, Yi Hua tahu jika dia berada di Istana Pengobatan. Dia sudah pernah ke tempat ini sekali. Mungkin Liu Xingsheng datang ke kediamannya untuk keperluan seperti biasanya, dan menemukannya tergeletak.
Entahlah. Yi Hua tak tahu kronologi mana yang benar.
SRET!
"Menjauh, Xingsheng. Aku akan memeriksa Yi Hua," ujar Selir Qian yang mendorong Liu Xingsheng untuk menjauh.
Wajah Liu Xingsheng terlihat lesu, "Kenapa tak periksa sekarang? Kami sama-sama pria, Kakak!"
Yah, karena itu kau harus keluar, Perdana Mentari s*al!
Yi Hua menatap Liu Xingsheng dengan wajah yang sangat lemah. Padahal Yi Hua sekarang masih bisa pergi membanting sapi, tetapi karena dia ingin bicara pada Selir Qian, makanya dia harus memastikan Liu Xingsheng pergi. Oleh karena itu, dia bertingkah seolah sangat lemah.
"Bisakah Perdana Menteri Liu melepaskan kepala adik saya yang tersangkut di pintu kediaman saya?" tanya Yi Hua dengan nada lemah.
Huh?
Selir Qian menatap Yi Hua tak percaya, tetapi dia tak mengatakan apa-apa. Namun Liu Xingsheng yang lambat menyerap hanya bisa menggaruk kepalanya bingung. Ketika ia ingin bertanya lagi, Yi Hua kembali bicara.
"Tolong cepat pergi, Perdana Menteri Liu. Saya tak bisa ke sana," ujar Yi Hua yang lebih mirip mengusir ketimbang meminta tolong.
Akhirnya, Liu Xingsheng keluar dengan wajah yang bingung. Bahkan dia lupa bahwa Yi Hua sama sekali tak punya adik. Ditambah lagi kronologi seburuk apa hingga adiknya bisa tersangkut di pintu dan tak bisa melepaskan sendiri.
Entahlah. Biarkan Liu Xingsheng berpikir lebih jernih nantinya.
Setelah hanya tersisa Selir Qian dan Yi Hua. Selir Qian menuju ke arah Yi Hua dengan pisau di tangannya.
Apa Selir Qian akan menusukku karena telah membohongi adiknya?
Xiao tak menanggapi karena sistem itu sangat lelah dengan Yi Hua yang semakin lama semakin terlihat keanehannya. Dahulu dia berpikir jika peramal ini akan sombong dan pendiam.
"Lepaskan pakaianmu," perintah Selir Qian dengan pisau di tangannya.
Yi Hua menyilang kedua lengannya di depan dada. "Mohon ampun, Selir Qian. Saya masih banyak hutang. Kemarin saya belum membayar makanan di toko Bibi Yang."
"Yi Hua, jika kau berhutang seperti itu, di mana kau bisa mewariskan hutang-hutang itu? Kau tidak punya suami atau anak!" protes Xiao yang lelah dengan Yi Hua yang sering berhutang ini.
Bahkan Yi Hua sudah berusaha bangkit dari berbaringnya, tetapi tangan Selir Qian sudah meraih pakaian bagian depan Yi Hua. Lalu, ...
PLAK!
Yi Hua menatap tangannya tak percaya saat melihat jepit rambut Selir Qian yang oleng. Bagaimana bisa dia memukul kepala Selir Qian begitu saja. Bahkan dia juga menghancurkan tatanan rambut Selir Qian yang cantik.
Selir Qian semakin terlihat kejam, "Buka pakaianmu, aku harus melepas ikatan di dadamu."
Ikatan di dada?
Yi Hua menunduk untuk menatap dadanya yang 'datar'. Saat itulah dia ingat jika dia memang merasa sesak di dadanya. Hal itu yang membuatnya membuka pakaian bagian luarnya, dan begitu juga lapisan kedua. Hingga hanya tersisa lapisan paling dalam.
Tangan Selir Qian terlihat lincah dan terampil dalam memeriksa dada bagian atas Yi Hua. Setelah itu, Selir Qian memotong kain yang membelenggu dada Yi Hua. Hal itu membuat Yi Hua menghela napasnya.
Selama ini dia merasa sangat sesak saat harus menggunakan kain ini di dadanya.
"Kau tak bisa mengikat dadamu seperti itu, atau kau tak akan bernapas dengan baik. Kau bisa-bisa sesak napas, dan membuat pusing," tegur Selir Qian.
Yi Hua menutup kembali pakaiannya, dan mengikat jubah bagian luarnya. "Saya sudah terbiasa, Selir Qian."
__ADS_1
"Lebih baik kau tak menggunakan itu, HuaHua. Kau tetap rata walau tanpa ditutup oleh kain sekalipun," komentar Xiao yang terkadang jujur dan menyebalkan.
Xiao Busuk, aku ini masih dalam masa pertumbuhan!
"Terbiasa bukan berarti kau tak akan celaka, Yi Hua. Kau akan sulit bernapas dan akan membuat masalah ke lain-lain halnya. Apa kau pingsan karena sesak napas?" tanya Selir Qian yang berjalan menjauh.
Dari sana Yi Hua kembali fokus pada jepit rambut Selir Qian yang miring. Mungkin Selir itu tak memperhatikan keadaannya sendiri. Akan tetapi, Yi Hua juga tak bisa memberitahu. Ia masih ingat dengan tatapan kejam Selir Qian saat memegang pisau.
Selir Qian terlihat sibuk dengan mangkuk di tangannya. Setelah itu, Yi Hua melihat Selir Qian menuangkan teh teratai di sana. Namun Yi Hua mengingat kembali tentang ramuan tidur yang dimasukkan Ming Fan di dalam minumannya. Mendadak Yi Hua tak berminat minum.
"Saya harus menyembunyikan identitas saya, Selir Qian," ujar Yi Hua apa adanya.
"Untuk apa? Apakah menjadi peramal begitu penting? Kau bisa pergi dari Kerajaan Li ini sebagai Yi Hua, dan kembali sebagai seorang gadis. Lalu, setelah itu, Yi Hua yang seorang peramal tak akan diketahui oleh orang lain," ujar Selir Qian masuk akal.
Yi Hua menggelengkan kepalanya. "Saya punya alasan sendiri."
Walau ia tak begitu mengerti mengapa dia harus tetap berpura-pura sebagai seorang pria. Dahulu, katanya ... Yi Hua sering terganggu oleh energi buruk. Ayah Yi Hua berpikir untuk mengelabui energi buruk hanya agar tak tahu di mana Yi Hua. Oleh karena itu, dia membesarkan Yi Hua sebagai seorang pria. Apalagi dengan pandangan bahwa pria lebih kuat daripada wanita. Itulah yang dipikirkan oleh ayah Yi Hua.
Walau pada kenyataanya itu tak benar. Yi Hua ternyata memiliki bakat spiritual sejak kecil, dan itu membuatnya bisa melihat banyak hal yang tak bisa dilihat orang lain. Itu karena tungku iblis di dalam diri Yi Hua. lalu, entah mengapa sekarang kekuatan itu melemah di dalam diri Yi Hua. Sehingga Xiao menyimpulkan jika tungku iblis itu tersegel di dalam diri Yi Hua.
Ada di dalamnya, tetapi tidak bisa digunakan.
Namun dia harus tetap hidup sebagai Yi Hua untuk kepentingannya sendiri. Lalu, kepentingan itu semakin bertambah terus-menerus. Pertama, dia hanya ingin mengumpulkan ingatannya. Lalu, tak lama ia tahu bahwa kehidupan dirinya yang sebelumnya juga mungkin masih berkaitan dengan Yi Hua. Dan, terakhir kehidupan Yi Hua cukup misterius untuk diketahui.
Ia berpikir mungkin Yi Hua asli masih memiliki banyak pertanyaan di kepalanya. Dan, di sini dia bertugas untuk mencari tahu. Apa yang terjadi pada Yi Hua asli? Siapa ibunya? Apakah ibunya ini yang membuat Yi Hua berbeda dari orang lain?
Dia memiliki tungku iblis yang langka. Sebuah wadah yang bisa membuat seorang iblis bisa lebih kuat lagi. Jika hantu rendahan, dia mungkin bisa naik tingkatan. Jika iblis kuat, mungkin dia akan lebih kuat lagi.
Sebuah benda yang berbahaya jika diketahui oleh para iblis. Apalagi Hua Yifeng dan pendosa lainnya.
Juga, alasan mengapa dia bisa terlahir sebagai Peramal Yi Hua ini?
Dia percaya jika semua memiliki alasan. Jika pun ada kebetulan, itu akan sangat sulit untuk disebut. Mana ada 'kebetulan masuk ke dalam tubuh seseorang yang memiliki kekuatan langka'. Atau 'kebetulan saat Yi Hua asli mati begitu saja setelah dia meramal tentang kelahiran kembali Puteri Li Wei'.
Jika memang kebetulan, maka dirinya pasti diberkahi banyak kebetulan dalam hidup.
Selir Qian menyodorkan mangkuk minuman itu pada Yi Hua. "Aku jelas tak bisa memaksamu. Itu adalah pilihanmu. Namun kau harus hati-hati dengan fisikmu. Kau tahu fisik pria dan wanita agak berbeda."
Yi Hua menerima mangkuk itu sambil menganggukkan kepalanya. Akan tetapi, ia tak segera meminumnya karena dia masih akan berbicara. "Terima kasih, Selir Qian."
Seperti yang Yi Hua katakan, Selir Qian ini baik, tetapi sayangnya dia sangat pemarah..
"Itulah mengapa aku bilang padamu bahwa seorang gadis tak boleh membawa pria untuk menginap di kediamannya. Kau bahkan pernah mengajak Tuan An untuk tidur di sana," tuduh Xiao pada Yi Hua
Namun Yi Hua tak bisa membantah Xiao. Itu adalah kesalahannya yang tak bisa menahan kata-katanya. Itulah hasil yang buruk dari lidah yang cepat bekerja dibanding otak*.
^^^*Maksudnya adalah saat ngomong itu gak sempat dipikir dulu. Asal ngomong aja, terus baru ingat di akhirnya. Gitu....^^^
"Saya hanya berjaga-jaga, Selir Qian. Saya tak menyangka jika itu akan menjadi hal yang buruk," jawab Yi Hua seadanya.
Ia menegak mangkuk minuman di tangannya. Aroma bunga teratai langsung terasa, dan itu menyejukkan. Yi Hua yang sering minum air putih saja mulai merasa terkesan.
"Aku harus kembali ke Istana Bunga. Jika kau ada keluhan lagi, kau bisa datang ke sana," ujar Selir Qian yang masih tak sadar dengan tatanan rambutnya yang miring.
Yi Hua hanya berdoa jika Selir Qian tak pernah sadar tentang itu.
Lalu, Yi Hua terus melamun bahkan sampai Selir Qian menghilang dari pandangannya. Wanita cantik itu mungkin benar-benar kembali ke Istana Bunga. Istana Bunga adalah istana milik Selir Qian. Di sana ia tinggal dengan pelayannya dan juga Liu Xingsheng.
Tentu saja Istana Bunga adalah istana yang dihadiahkan oleh Raja Li Shen pada Selir Qian. Sedangkan Liu Xingsheng tak tinggal di kediaman Perdana Menteri. Hanya Huan Ran yang tinggal di sana. Dan, alasannya adalah Liu Xingsheng yang tak bisa tinggal berjauhan dari Kakaknya yang sudah menikah itu.
Entahlah.
Baru saja Yi Hua menyebut itu dalam pikirannya, Liu Xingsheng kembali masuk dengan wajah yang masih bingung. "Yi Hua ..."
Yi Hua segera memotong pembicaraan begitu saja. "Terima kasih atas pertolongannya, Perdana Menteri Liu. Saya harus kembali ke kediaman saya."
Peramal itu akhirnya bangkit, dan merasa segar karena telah bangun tidur. Ia akan mencari tahu di mana Ming Fan pergi nanti. Mungkin gadis itu perlu waktu untuk sendiri. Ditambah lagi Ming Fan bukanlah orang yang terlihat lemah. Ming Fan juga pasti tak ingin kehilangan anaknya, sehingga kemungkinan Ming Fan mengakhiri hidupnya sendiri itu cukup sempit.
Namun Liu Xingsheng menarik pakaian bagian belakang Yi Hua dengan cukup keras. Hal itu membuat Yi Hua mundur kembali ke belakang. Terkadang Yi Hua heran mengapa ia sering sekali ditarik seperti ini.
Bahkan Hua Yifeng ... Ah ... Tidak usah disebut lagi, atau ini akan jadi sangat menyebalkan.
"Yi Hua, ada yang perlu aku bicarakan," ujar Liu Xingsheng dengan wajah memohon.
Sepertinya Yi Hua akan mendapat pekerjaan lagi. Namun ...
Bagaimana dengan pencariannya terhadap Ming Fan? Lalu, bagaimana dengan ibunya yang masih tak bisa diketahui asal-usulnya ini?
__ADS_1
Tapi, ...
Aku juga perlu uang untuk makan. Hutangku juga belum dibayar!
Xiao terkadang tak mengerti dengan tarif yang ditetapkan oleh Yi Hua. Bagaimana bisa hanya sekali makan bisa menjadi upah kerjanya?
Namun Yi Hua selalu menjawab. "Saat membantu orang lain jangan pikirkan upahnya. Yang penting adalah niatnya."
Xiao ingin berteriak sebal saat Yi Hua akan mengatakan tentang betapa tak ber-uang-nya dirinya. Itu sangat menyebalkan saat Yi Hua tak ingat bahwa itu kesalahannya sendiri.
"Perdana Menteri, saya pikir ..."
Liu Xingsheng segera meraih kedua tangan Yi Hua dengan tatapan memelas. "Kau adalah teman tercintaku. Aku harus bertugas ke desa luar, Yi Hua."
Teman tercinta katanya ...
"Perdana Menteri Liu, saya tak punya kepentingan di sana," jawab Yi Hua seadanya. Tangannya berusaha melepas pegangan Liu Xingsheng. Itu sedikit meresahkan, kau tahu!
Liu Xingsheng malah semakin menarik tangan Yi Hua. "Aku harus ke sana untuk memeriksa kekeringan di desa itu. Itu pasti karena kutukan siluman. Kau harus memeriksanya dahulu."
Yi Hua nyaris ingin menendang kepala Liu Xingsheng jika dia berani. Sayangnya, dia hanyalah makhluk yang berada di jabatan yang rendah.
"Maaf, Perdana Menteri Liu, itu mungkin hanyalah bencana alam. Tak semua berhubungan dengan hal mistis," ucap Yi Hua yang berusaha sabar. Padahal tangannya sudah siap untuk mencekik Liu Xingsheng.
Liu Xingsheng berdecak dengan sangat kekanakan. "Yi Hua, apa kau tahu bahwa Desa Yi itu mulai kekeringan saat pohon besar di sana ditebang? Saat itu hujan datang dan menyebabkan banjir besar. Lalu, setelah banjir itu surut, tak pernah ada hujan lagi di sana."
"Mungkin itu hanya gejala alam, Perdana Menteri Liu. Pohon itu jangan sembarang di tebang. Jika beberapa tahun lagi kita masih menebang pohon tanpa adanya penanaman kembali, mungkin akan banyak bencana lainnya," jelas Yi Hua yang masih berusaha sabar.
Namun ...
Desa Yi? Beberapa tahun yang lalu?
Terakhir kalinya Yi Hua dan ayahnya pergi ke sana sekitar beberapa tahun yang lalu. Setelah itu, ayahnya tutup usia dan mereka tak pernah ke Desa Yi lagi. Lalu, Desa Yi terkena bencana karena pohon ditebang beberapa tahun yang lalu.
Oke. Rinciannya masih aneh karena beberapa tahun yang lalu. Namun di sana sedikit ada benang merahnya.
TAP!
Yi Hua mendadak menepuk bahu Liu Xingsheng dengan sekuat tenaga karena ia sangat semangat. Ia mungkin bisa mencari tahu tentang ibunya, dan mencari uang sekaligus. Itu seperti melempar burung dengan satu batu.
Liu Xingsheng ingin mengasuh, tetapi senang juga ketika mendengar ucapan Yi Hua..
"Saya ikut, Perdana Menteri Liu."
Setelah itu, Yi Hua berjalan menuju pintu tanpa mendengar ucapan Liu Xingsheng. Pria itu mengikutinya dari belakang.
"Yi Hua, bukankah kau sedikit aneh hari ini? Mengapa kau terlihat kurang tegap, dan dadamu ..."
SRET!
TAK!
"Aduh."
Yi Hua melakukan gerakan cepat. Ia membuka pintu dan langsung menutupnya. Hal itu membuat Liu Xingsheng yang mengikutinya langsung menabrak pintu. Meski begitu, Yi Hua terlihat tak perduli. Ia hanya melonggarkan pakaian bagian luarnya agar tak terlalu melekat di dada.
"Mata biawak itu cukup tajam rupanya," ujar Yi Hua sebal.
Xiao menyahut, "Kau benar-benar akan ikut? Bagaimana jika kau tak menemukan apa-apa?" tanya Xiao masuk akal.
Jujur saja mereka tak punya petunjuk apapun.
Yi Hua menghela napasnya. "Apa salahnya mencoba, Xiao," ujarnya yang mengabaikan suara protes dari Liu Xingsheng.
Liu Xingsheng terdengar mengomel. "Hey, aku ini Perdana Menteri! Bagaimana bisa kau kejam padaku."
Lalu, Yi Hua pergi begitu saja untuk kembali ke kediamannya. Ia harus mempersiapkan banyak jimat untuk dibawa ke Desa Yi. Sebab, entah apa yang dia temukan di sana nantinya.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya.. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1