Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Masuk ke Gunung Hua


__ADS_3

SRET!


Malam ini adalah malam yang cukup nyaman bagi dunia hantu. Ketika di bulan ini, mereka bisa bertamasya dan seperti hari raya bagi mereka. Mereka saling berceloteh dan bercerita bagaimana mereka mati di zaman dahulu. Atau ada kalanya mereka saling bertanya, "Kenapa bisa dulu mereka ini atau itu ..."


Yah, hanya bernostalgia ... Siapa tau nanti saat jiwa mereka murni, dan siap bereinkarnasi mereka akan mendapat hidup yang lebih baik.


Begitu juga bagi Zhang Yuwen yang hari ini memeriksa makanannya. Ia telah menggantung beberapa mayat pejalan kaki yang diburunya kemarin malam. Mungkin darahnya telah mengering dan mereka tak berisik lagi. Apalagi Zhang Yuwen akhir-akhir ini merasa lemah.


Tapi tidak mungkin jika iblis sepertinya sakit, bukan?


Setiap iblis terkuat memiliki tempat kekuasaan masing-masing. Seperti Hua Yifeng yang punya Kerajaan Hantu dan Istana Awan di Gunung Hua, Bao Jiazhen yang punya Laut Selatan dan Istana Tulang-Belulang, serta Shen Qibo yang memiliki Lembah, Zhang Yuwen juga punya.


Iya punya hutan timur yang terkenal dengan kelebatan pepohonan dan tumbuhan di dalamnya. Tak ada yang tahu jika di sana ada gua batu yang merupakan tempat Zhang Yuwen bersarang. Itu karena tidak ada yang berani menjelajah, apalagi mengambil kayu di sana. Yah, tentu saja siapa yang mau menjadi 'makanan kering' bagi Zhang Yuwen.


Dan, ... Baru saja Zhang Yuwen ingin keluar dan memeriksa jemuran manusia-nya.


Kemudian.


Bersih.


Manusia-manusia yang digantungnya di sana sudah terbaring dengan tenang di sepanjang jalan. Belum lagi dengan kain penutup putih yang entah darimana munculnya. Zhang Yuwen merasa geram dan menarik rambut sosok hantu berambut panjang yang kebetulan lewat di sampingnya.


Ingin bertanya dengan cara yang ramah.


"Nona, siapa yang melakukan ini semua?" tanya Zhang Yuwen dengan marah.


Aura membunuhnya sangat terasa sehingga hantu rendahan akan ketakutan dengan itu. Nona hantu itu yang sepertinya penduduk pindahan dari tempat lain ini menjawab dengan takut.


"Tidak ... Tuan Tirai Berdarah ..."


Haduh.


Zhang Yuwen nyaris meremukkan jiwa sosok hantu ini agar hancur. Memencarkan jiwanya agar tidak bisa bereinkarnasi lagi. Akan tetapi, sebuah kertas bertuliskan segel 'diam' menuju ke arah Zhang Yuwen. Segel kertas itu membuat Zhang Yuwen melompat ke samping untuk menghindar.


Kertas jimat itu tidak terasa kuat, tetapi siapa yang berani menyerang Zhang Yuwen di wilayahnya sendiri?


BUGH!


"Berkah Dewa menyertai Anda sekalian. Pergilah dengan tenang tanpa membawa dendam," ucap seseorang dengan pakaian serba putihnya.


Sosok itu beberapa kali menunduk untuk memberikan penghormatan pada mereka yang sudah tiada. Namun sosok itu tak hanya sendirian, ada sosok lain yang berdiri di sampingnya. Masalahnya adalah ... Dengan nyamannya si pakaian putih ini membebaskan dendam para tawanan Zhang Yuwen di wilayah kekuasaannya.


Ini seperti tengah menentangnya!


"Kau ..."


Yi Hua mengangkat kepalanya. "Sebentar. Mari kita berikan penghormatan untuk mereka yang telah kembali ke langit." Lalu, Yi Hua membungkuk diikuti oleh Liu Xingsheng yang ikut-ikutan.


Zhang Yuwen entah mengapa juga mau-maunya ikut membungkukkan tubuhnya.


Eh?


Rasanya ada yang salah di sini!


Setelah itu, Yi Hua menarik kertas jimatnya dengan cepat dan ... HAPPP!


"Ikat!" perintah Yi Hua pada kertas jimatnya.


Sebuah tali tak terlihat membelenggu Zhang Yuwen hingga pria Tirai Berdarah itu berdiri tegak. Tentu saja Yi Hua selalu unggul dalam mengalihkan situasi. Sehingga ketika Zhang Yuwen lengah, ia akan menangkap orang ini.


Soalnya pasti sampah sekali jika aku bilang pada Zhang Yuwen, "Ini aku Li Wei yang masuk ke tubuh Peramal Yi!"


Pasti gelar gila akan melekat di dahi Yi Hua segera.


Oleh karena itu, Yi Hua mengikat Zhang Yuwen agar bisa dibawa berdiskusi.


"Kau yakin memang ingin berdiskusi? Sesaat aku seperti melihat aura ingin menendang dari dirimu, HuaHua," sindir Xiao di telinga Yi Hua.


Yi Hua memperhatikan Zhang Yuwen yang berusaha untuk melepaskan jeratan tali tak kasat mata itu. Belum cukup dengan itu, Yi Hua kembali melemparkan kertas jimat lainnya. Yang entah bagaimana kertas jimat itu memanjang seperti cacing besar Alaska, kemudian melingkari tubuh Zhang Yuwen.


"Hehh, Sialan! Siapa kau yang berani membuat masalah di wilayah kekuasaanku?!" teriak Zhang Yuwen marah.


Seperti dugaan dari Liu Xingsheng, Para bencana ini sekarang tengah melemah. Padahal jika Zhang Yuwen mau dia tentu saja bisa melepas ikatan ini dengan mudah. Bahkan kekuatan dari Yi Hua ini tak seberapa dari Zhang Yuwen.


"Maaf, Tuan Zhang. Saya di sini ingin meminta bantuan," ujar Yi Hua yang kini menoleh bingung pada Liu Xingsheng. Pasalnya pria itu entah mengapa menunduk di belakang punggung Yi Hua. Jarak tinggi mereka membuat Liu Xingsheng tampak lucu karena harus bersembunyi di belakang Yi Hua yang lebih pendek darinya.


Ini katamu yang harus melindungi 'perempuan'?


Zhang Yuwen tertawa pelan, "Kenapa aku harus membantu manusia sepertimu! Lagipula kau ini siapa?"


Yah ... Setelah ia hidup kembali sebagai Yi Hua, ini kali pertama ia bertemu dengan Zhang Yuwen. Disebut rindu, Yi Hua ingin menendangnya. Jadi bingung sendiri.


"Perkenalkan nama keluarga saya "Yi", dan nama saya Hua. Saya adalah peramal kerajaan Li. Dan ini ... teman saya Liu Xingsheng. Dia adalah penduduk biasa yang saya temukan dari ketidaksengajaan," ujar Yi Hua memperkenalkan diri mereka.

__ADS_1


"Putra Liu Shang," ucap Zhang Yuwen yang tentu saja mengejutkan Yi Hua dan Liu Xingsheng.


Bagaimana pun Ayah Liu Xingsheng dan Liu Xinqian adalah orang yang 'membunuh' Zhang Yuwen. Liu Shang yang menusuk Zhang Yuwen dengan tombak kala itu. Tentu saja masa lalu tidak bisa diubah.


"Saya minta maaf," ujar Liu Xingsheng dengan nada yang sangat tak nyaman.


Zhang Yuwen berdecak marah sambil berusaha melepaskan ikatan itu di tubuhnya. "Seorang peramal yang suci dan anak dari pembunuh datang ke tempat ini. Apa sedang ingin berbuat kejahatan?" tanya Zhang Yuwen dengan nada marah.


"Kami di sini memerlukan bantuan Anda, Tuan Tirai Berdarah. Setidaknya bantu Yi Hua jika Anda memang membenci saya," ucap Liu Xingsheng dengan cepat. Ia tak mau Yi Hua disangkutkan dengan persoalan dosa ayah Liu Xingsheng.


Sebab, Liu Xingsheng dan Liu Xinqian sendiri membenci ayahnya. Tak perlu orang lain untuk membenci orang itu.


Tak ada yang bisa menyalahkan amarah dari Zhang Yuwen. Yi Hua masih ingat tangis Zhang Yuwen saat putrinya, Bao Tian, mati di kala itu. Akan tetapi, meski dibenci sekalipun ...


"Bao Tian tidak akan pernah kembali," ucap Yi Hua yang membuat Zhang Yuwen memberontak marah.


Namun Zhang Yuwen masih sangat ingat jika hanya dua orang yang tahu tentang putrinya.


Itu adalah kedua sahabatnya, yaitu Putri Li Wei dan Wei Wuxie.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Zhang Yuwen yang menelisik pada Yi Hua.


Akan tetapi, Yi Hua mengeluarkan Lingkaran Mawar atau yah ... Itu sarung pedang Li Wei yang Zhang Yuwen kenal dan takuti. Yah, jika Hua Yifeng sedang niat membunuh, biasanya pedang Li Wei akan keluar.


Tapi bukannya benda ini sudah hancur benda ini saat kematian Putri Li Wei?


Sekarang pedang Li Wei pun terkenal sebagai pedang yang tanpa sarung. Sehingga Zhang Yuwen tidak tahu jika sarung pedang itu telah kembali utuh. Juga, bagaimana bisa peramal ini membawa sarung pedang terkutuk itu?


"Kau ..."


Seperti ramalan yang pernah Zhang Yuwen dengar, jika Lingkaran Mawar terkumpul maka Putri Li Wei terlahir kembali. Jika seperti itu ... Orang ini.


"Tapi bau-mu seperti manusia!" teriak Zhang Yuwen yang masih tak percaya.


Jika Li Wei hidup kembali, mungkin dia menjadi iblis seperti Zhang Yuwen. Atau ... Bereinkarnasi seperti baju baru. Hidup yang baru dan tanpa ingatan tentang kehidupan yang lalu. Seperti itu.


Namun orang di depannya jelas-jelas terlihat ingat padanya.


Yi Hua mengangkat tangannya. "Saya hanya perlu masuk ke Gunung Hua. Semua yang terjadi di masa lalu rasanya berkaitan dengan keanehan di sekitar Kerajaan Li sekarang."


"Apa?" tanya Zhang Yuwen yang sebenarnya bingung ingin berkata apa.


Ia punya pemikiran tersendiri terhadap Yi Hua ini. Akan tetapi, jika memang Putri Li Wei terlahir kembali, mungkin ada hal yang tak sederhana di baliknya.


Ini sudah hampir tengah malam. Waktu mereka tak banyak.


"Anda pasti tahu jika di Gunung Hua itulah Pohon Iblis terbentuk. Anda tidak penasaran mengapa Anda melemah?" tanya Yi Hua yang masih mengencangkan ikatannya.


Takut jikalau Zhang Yuwen bertindak seperti cacing terkena garam.


"Sedari dulu aku selalu bosan setiap kali kau menyebut Hua Yifeng," ucap Zhang Yuwen yang membuat Yi Hua terdiam.


Setiap mereka yang di masa lalu Li Wei tahu tentang Hua Yifeng. Sayangnya, dirinya sendiri tidak tahu tentang itu. Miris.


"Sama seperti dulu ... Aku akan selalu membantumu," ucap Zhang Yuwen yang memberi isyarat mata pada Yi Hua.


Minta dilepaskan ikatannya.


Akan tetapi, Yi Hua dengan semangat menyeret Zhang Yuwen untuk keluar dari hutan terpencil milik Zhang Yuwen ini. Hal tersebut membuat Zhang Yuwen tentu saja tak terima. Ia berusaha melepaskan diri dari ikatan itu.


"Nanti lepasnya ketika di Gunung Hua," ucap Yi Hua yang beriringan dengan Liu Xingsheng.


Zhang Yuwen berdecak marah. "Jadi sekarang kau Yi Hua, bukan? Yi Hua sialan, sedari dulu aku ingin menyebut nama sialan di belakang namamu. Baru kali ini tersampaikan."


Liu Xingsheng sebenarnya tidak mengerti pembicaraan dari Yi Hua dan Zhang Yuwen ini.


"Dan kau Putra Liu Shang kepar*t!... Bantu lepaskan aku!" perintah Zhang Yuwen pada Liu Xingsheng yang terlihat takut-takut.


Namun Liu Xingsheng menggelengkan kepalanya. "Yi Hua ..."


Terlihat sekali jika Liu Xingsheng lebih takut pada Yi Hua dibandingkan Zhang Yuwen.


"Lalu, kenapa kau tak mengatasi temanmu ini?" tanya Zhang Yuwen yang kesal.


Yi Hua masih dengan semangat menyeret Zhang Yuwen seperti penggembala sapi.


"Memangnya ada yang bisa mengatasi dia?" tanya Liu Xingsheng yang kini berjalan bersisian dengan Zhang Yuwen.


Mereka tengah membicarakan Yi Hua tentunya.


"Kau juga, Putra Liu Shang! Mengapa kau ikut dalam hal ini?" tanya Zhang Yuwen yang menyerah sekarang.


Ia hanya mengikuti Yi Hua yang masih menariknya. Bahkan sesekali Zhang Yuwen mendengar Yi Hua berbicara sendiri. Mungkin ada yang salah dengan otak Yi Hua ini.

__ADS_1


"Saya punya alasan tersendiri," jawab Liu Xingsheng dengan senyum tipis.


Zhang Yuwen membuang wajahnya karena enggan melihat wajah Liu Xingsheng. Pria ini cukup mirip dengan ayahnya, Liu Shang. Hanya saja Liu Shang terlihat dingin dan kaku, sedangkan Liu Xingsheng hangat dan mudah tersenyum.


Hanya saja ... Tanpa sadar semua di masa lalu mulai berkaitan satu sama lainnya. Dan, Liu Xingsheng mungkin adalah orang yang tak sengaja berkaitan dengan ini semua.


Setidaknya masing-masing dari mereka punya alasan tersendiri.


***


Gunung Hua di malam bulan penuh selalu ramai.


Di sana seperti terbentuk kota besar yang ramai penduduk. Wujud mereka layaknya manusia. Ada pasar besar di sana bahkan toko-toko yang menjual berbagai macam barang. Belum lagi dengan hiasan yang didominasi warna merah juga menjadi bagian dari keramaian Gunung Hua.


Di kala itu seorang pedagang dengan kepala seperti kuda mendekat pada salah satu pejalan kaki. Ia berucap. "Silahkan beli daging manusia ini. Kami baru mengambilnya dan masih segar," ujar hantu berkepala kuda itu.


Pejalan kaki itu terlihat agak takut dan menempel pada teman yang ada di sebelahnya. Akan tetapi, mendadak seseorang yang lain di antara mereka maju untuk menghentikan hantu penjual itu.


"Menjauh," perintah sosok tersebut.


Aura iblisnya yang kuat membuat hantu berkepala kuda itu mundur sejenak. Tentu saja itu Zhang Yuwen, yang di sisinya berjalan Yi Hua dan Liu Xingsheng.


Ini kali kedua bagi Yi Hua untuk masuk ke Gunung Hua yang 'ramah' ini.


Dan ... Seperti biasa Liu Xingsheng sangat tak terduga. Meski terkadang terlihat seperti pengecut, tetapi Liu Xingsheng tak terlihat terganggu dengan keadaan di wilayah Pusat Kota Hantu ini. Dahulu juga seperti itu.


Yah, mungkin kita harus berhenti melihat orang lain dari penampilannya saja.


Sekarang malah Yi Hua yang uring-uringan sendiri.


Beberapa 'wanita' yang terlihat cantik di pinggir jalan. Seperti di dunia manusia, para penjaja cinta juga ada di dunia ini. Kecantikan mereka sangat luar biasa, dan tentu saja itu hanya kulit penyamaran. Jika mereka menampilkan wajah hantu asli mereka, pasti siapa saja akan ketakutan.


Namun pengunjung di Gunung Hua tak hanya para makhluk halus, tetapi manusia juga ada di sini. Mereka yang ingin kekayaan secara cepat atau mereka yang ingin mencelakai orang lain. Atau mereka yang ingin bersenang-senang dengan berjudi dan sebagainya.


Sangat beragam.


"Tuan sekalian ..." Suara dingin itu terdengar di belakang punggung mereka.


Zhang Yuwen tanpa sadar membentangkan tangannya di depan Yi Hua. Melindungi sosok itu tanpa sadar, atau hanya kebiasaannya?


Yi Hua mengangkat kepalanya yang penuh keringat. Ini tekanan batin tersendiri untuknya. Namun ketika dilihat siapa yang datang, Yi Hua sedikit agak tenang.


Itu adalah pengawal bercadar atau Jenderal Hantu. Lucu sekali menyebut seorang manusia sebagai 'Jenderal Hantu'. Entah bagaimana bisa manusia seperti Wei Wuxie bisa hidup di Gunung Hua dengan bau manusianya itu.


Wei Wuxie.


Pria ini seperti bertubuh hantu tetapi jiwa manusia. Seringkali bertolakbelakang dengan manusia sekarang, yang sosoknya manusia tapi jiwanya ... Ah ... sudahlah.


"Izinkan saya mengantar para tamu menuju Istana Awan," ucap Wei Wuxie sambil menundukkan kepalanya.


Zhang Yuwen juga menurunkan tangannya saat tahu jika itu Wei Wuxie. Sepertinya Zhang Yuwen juga tahu jika Wei Wuxie masih hidup. Mereka berdua hidup sendiri-sendiri tanpa memperdulikan atau mengurusi hidup orang lain. Itulah yang terjadi di dunia mereka sekarang.


Hanya karena Li Wei hidup kembali, mereka semua perlahan berkumpul.


"Lama tak berjumpa," sapa Zhang Yuwen dengan sedikit rasa miris di hatinya.


Sudah lama sekali dan mereka bertemu lagi dengan keadaan yang berbeda.


Wei Wuxie menganggukkan kepalanya, "Kau terlihat sama seperti terakhir kali aku melihatmu."


Ada kepiluan di sana. Mereka besar bersama, tumbuh bersama. Belajar bersama, dan mengahadapi bencana besar bersama dahulu. Akan tetapi, Zhang Yuwen sekarang yang tetap seperti remaja dan terus seperti itu selamanya. Di saat Wei Wuxie menjadi tua, Zhang Yuwen tetap dengan usianya yang telah terhenti.


Suatu saat Wei Wuxie akan kembali ke langit di kala usianya usai. Sebuah siklus kehidupan yang normal.


Dan Zhang Yuwen yang sudah mati sebagai manusia.


Juga ... Li Wei dengan sosoknya yang berbeda.


"Pemilik Gunung Hua sudah menunggu," ucap Wei Wuxie yang mengingatkan Yi Hua kembali.


Dahulu saat dirinya masih lupa akan masa lalunya, Wei Wuxie juga datang mengantarnya untuk bertemu dengan Hua Yifeng.


*Kalau lupa, yah itu tentang Yi Hua yang dibawa ke Istana Awan untuk pertama kalinya. Yang kasus awal-awal.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2