
BUGH!
"Aduh, pinggangku."
Li Wei yang baru saja jatuh dengan kelajuan tak terhitung hanya bisa mendarat dengan menyedihkan. Jika sebelumnya Li Wei terjatuh dengan posisi tengkurap, sekarang dia terlentang. Anehnya ia terjatuh dengan cara yang unik.
Bagaimana mungkin ia jatuh bersama penutup lubang rahasia ini.
Nyatanya meski Li Wei terjatuh, tetapi ia masih melekat pada tanah padat yang sejak di atas sudah menjadi alas berbaringnya. Ia tak mengerti bagaimana bisa petakan tanah padat ini bisa jatuh bersamaan dengannya. Li Wei berusaha bangkit dan meraba dengan kegelapan.
Di sekitarnya sangat sunyi hingga ia bisa mendengar suara degup jantungnya sendiri. Dalam hati Li Wei berharap agar tangannya tak meraba pada sesuatu yang aneh atau berbahaya. Ditambah lagi ia juga tak tahu sekarang ia jatuh ke tempat apa.
"Wei Wuxie ... Zhang Yuwen," panggil Li Wei untuk memastikan dimana kedua rekannya itu.
Namun suaranya terpantul begitu saja hingga ia tahu bahwa dirinya bukan di tempat yang terbuka lagi seperti Labirin Batu. Hal itu juga yang membuat sekeliling Li Wei benar-benar gelap. Itu semua karena tak ada cahaya bulan ataupun bintang. Ditambah lagi dengan suaranya yang terpantul.
Ruangan tertutup, atau gua bawah tanah.
Hanya itu yang bisa Li Wei pikirkan tentang tempat ini. Bagaimana pun ia masih belum menemukan cahaya di sana. Li Wei meraba hingga tangannya mendarat pada permukaan dinding.
DUG DUG
Li Wei mengetuk permukaan dinding. Ia menyadari bahwa itu adalah dinding batu, tetapi agak berbeda dengan Labirin Batu. Li Wei sangat yakin ia berada di ruang yang tertutup karena rasa lembab pada batu. Tidak ada cahaya matahari yang masuk, hingga dinding batu yang ia ketuk terasa cukup dingin. Sesekali ia juga mendengar seperti suara tetesan air yang jatuh ke permukaan batu.
Ini sangat sunyi hingga kau mungkin bisa mendengar sapi berbisik.
Belum lagi dengan suara ketukan batu yang berarti dinding batu adalah batuan padat yang tebal. Berbeda dengan Labirin Batu yang cenderung berongga, dan terkadang bisa dihancurkan. Ini gua bawah tanah.
KREK!
"Ranting kayu?" tanya Li Wei ketika ia merasa seperti menginjak sesuatu yang terasa kering.
Li Wei merasa napasnya agak tersengal. Mungkin karena rasa was-was-nya sendiri. Entahlah.
Akan tetapi, Li Wei menundukkan tubuhnya untuk meraih benda kering yang diinjaknya tadi. Ketika itu Li Wei merabanya untuk memastikan. Namun ia sangat yakin jika benda yang ia pegang ini bukanlah ranting kayu.
Bagiannya agak tebal dan tak terasa kasar seperti kayu ...
Li Wei mencoba mematahkannya dengan kedua tangan, dan ia menyadari bahwa benda itu tak mudah patah. Lalu, suara patahan itu darimana? Ia benar-benar ingat dengan suara keras seperti menginjak sesuatu yang mudah patah.
Ketika Li Wei ingin menunduk lagi untuk meraba lebih lanjut, sebuah tangan menariknya.
"Hey, apa yang kau ..."
SRET!
Li Wei tak menyangka jika dirinya akan ditarik dengan cukup kuat. Bahkan orang yang menariknya ini bisa menelusuri dalam gelap. Buktinya mereka bisa mendapatkan jalan yang benar tanpa menabrak. Lebih dari segalanya Li Wei yakin orang ini tak berniat jahat.
Apakah dia ...
"Putri, sepertinya ada kecelakaan hingga Putri malah terjatuh ke dalam lubang." Suara itu terdengar ringan, tetapi asing.
Li Wei belum pernah mendengar suara ini. Akan tetapi, sosok ini jelas bukan seseorang yang Li Wei pikirkan sebelumnya. Mungkin sosok ini adalah penjaga yang mengawasi jalannya Perburuan Malam.
"Kita akan kemana?" tanya Li Wei yang tak membantah ketika ditarik oleh pria ini.
Meski begitu, ... Li Wei mulai menyadari benda apa yang digenggamnya sebelumnya. Terutama ketika tangannya ditarik oleh pria ini. Rasanya agak sama seperti dengan benda yang digenggam oleh Li Wei.
SRAP!
Li Wei merasa sudah lama sekali ia tak melihat cahaya. Matanya sedikit terasa buram ketika cahaya obor masuk dari celah pintu yang terbuka. Itu adalah pintu yang terbuat dari kayu yang sangat buruk bahannya.
Saat itulah Li Wei sedikit melihat sosok yang membantunya keluar itu. Itu adalah seorang pria muda dengan penutup wajahnya. Seorang anggota Tentara Malam.
"Putri, silahkan keluar dari pintu itu. Saya hanya bisa mengantarkan sampai ke tempat ini, karena pengawas Perburuan Malam akan menuduh Putri curang," jelas pria itu dengan nada yang ringan.
Li Wei hanya menatap pintu itu sambil menatap tangannya sendiri. Mengingat-ingat benda yang ia genggam sebelumnya. Ia mengalihkan pandangan pada pria Tentara Malam itu.
"Apakah itu ... Tulang manusia?" tanya Li Wei pada akhirnya.
Tangannya terasa bergetar ketika mengingat bahwa dia menggenggam benda itu karena mengiranya sebagai ranting kayu. Bagaimana pun Li Wei bahkan tak pernah melihat orang mati dalam jarak dekat. Lalu, jika ia tak salah ... Dirinya tadi menggenggam tulang tangan dari tengkorak.
"Apakah ada tengkorak manusia di sana?" tanya Li Wei lagi untuk memastikan.
Melihat Tentara Malam itu tak mengatakan apa-apa, Li Wei berbicara lagi. "Jika Kerajaan tahu ..."
Sebentar ...
Sulit dipercaya jika ada yang mati di tempat ini, tetapi kerajaan tak menyelidikinya. Apalagi bagian atas dari gua ini adalah Labirin Batu. Walau ini pertama kalinya Li Wei masuk ke Labirin Batu, tetapi ia pernah mendengar rumor aneh tentang bagian dari kota itu.
Labirin Batu ini terletak di bagian dari Kota kecil yang hanya memiliki sedikit penduduk. Banyak yang mengatakan jika Labirin Batu ini adalah tempat pelatihan untuk para Tentara Malam. Sehingga Li Wei awalnya bingung saat tempat ini digunakan oleh mereka untuk Perburuan Malam. Lagipula, kota-nya agak aneh karena memiliki jumlah debu yang cukup banyak. Padahal daerah itu adalah daerah yang sering diguyur hujan.
Jarak antara Labirin Batu dengan kota kecil ini cukup dekat. Bahkan Li Wei beserta Zhang Yuwen dan Wei Wuxie sempat singgah ke kota tersebut untuk berjalan-jalan sebelum masuk ke Labirin Batu, dan memulai Perburuan Malam.
"Itu adalah ketidaksengajaan saat Putri harus terjatuh di sana. Biasanya kami menggunakan pintu itu untuk meletakkan sesuatu," ucap pria itu dengan sangat tenang.
Jadi, Li Wei tanpa sengaja terjatuh di tempat pembuangan. Tempat pembuangan mayat. Li Wei pernah mendengar rumor tentang Tentara Malam yang katanya seperti hantu. Ia akan membunuh tanpa diketahui, dan tubuhnya tak akan pernah ditemukan.
Ternyata ...
"Apapun itu Putri ... Tempat ini bukanlah tempat yang harusnya Putri datangi. Maafkan kelalaian saya karena membiarkan Putri jatuh ke sana."
Aku akan bertanya pada Yang Mulia nantinya!
Li Wei jelas tak bisa mengomentari apapun tentang ini. Ia hanya bisa berjalan menuju pintu yang dimaksudkan oleh pria Tentara Malam itu. Namun sebelum Li Wei keluar dari sana, Li Wei menoleh lagi.
"Terima kasih karena telah mengantar. Bolehkah aku tahu siapa namamu? Yah, jika Tentara Malam tak bermasalah untuk diketahui namanya," ucap Li Wei yang sebenarnya tak tahu lagi harus mengatakan apa.
Ketentuan tentang Tentara Malam sudah ada sejak ayahnya mulai naik tahta menjadi Raja. Sulit dipercaya jika Raja Li menyimpan tulang-belulang di bawah kedamaian kerajaannya. Sesuatu yang seperti ini memang tak bisa Li Wei terima.
Seperti kata Yang Mulia ... Begitu juga kata Kakak Li Jun. Hal seperti ini memang sulit untuk diterima. Aku tak akan memahaminya.
Sebab, mengorbankan nyawa orang lain, meski penjahat sekalipun, untuk kepentingan orang lain. Bahkan tak memberikannya peristirahatan yang damai sebagai hukuman. Itu lebih kejam daripada yang seharusnya.
__ADS_1
Sampai Li Wei menyadari bahwa pria ini tak menjawabnya. Mungkin memang sudah perintah untuk anggota Tentara Malam untuk merahasiakan identitas mereka. Li Wei hanya bisa menarik senyumnya yang entah mengapa susah sekali untuk tercipta. Kenyataan ini jelas masih agak sulit untuk Li Wei terima.
Ketika ia sudah berada di bagian luar, ia mendengar suara tenang itu menjawab dengan tenang seperti sebelumnya.
"Shen. Mereka menyebut saya Shen Qibo." Itu adalah jawaban dari pria itu.
Di masa depan Li Wei mungkin akan bertemu dengan pria ini. Atau, mungkin pria ini bahkan tak menyebut namanya yang sebenarnya. Entahlah.
***
"Hey .... Ini sungguhan?" tanya Zhang Yuwen yang masih bingung sendiri.
Nyatanya ia telah mengorek ke tanah beberapa kali hanya untuk mencari. Ia masih tak bisa menemukan dimana Putri berisik itu berada. Bahkan Wei Wuxie juga beberapa kali mempraktekkan dan mengulangi tindakan Putri Li Wei. Sayangnya, itu ternyata tidak membuat jalan untuk mereka berdua menuju ke arah Putri Li Wei.
Hingga mereka sampai pada fakta baru, yaitu kesialan mereka tidak sebesar kesialan dari Putri Li Wei.
Wei Wuxie berjalan menuju ke arah permukaan Labirin Batu. Ia meraba pada dinding itu hingga menemukan susunan batu yang longgar. Sepertinya ada pintu lain di sana. Kemudian, ia menendang susunan batu itu hingga roboh. Dari sana Wei Wuxie bisa melihat bagian dari jalan lainnya.
"Aku menemukan pintu," teriak Wei Wuxie pada Zhang Yuwen yang masih saja memeriksa di tempat Li Wei jatuh sebelumnya.
Zhang Yuwen berdiri tegak dan menuju ke arah Wei Wuxie. Ia memeriksa lubang di labirin itu, dan menyadari bahwa ini adalah pintu menuju ke bagian selanjutnya. Lalu, bagaimana dengan lubang tanah yang dilewati oleh Li Wei sebelumnya?
"Melihat dari bentuk Labirin Batu, mungkin area berburu tidak ada yang di dalam tanah," cetus Wei Wuxie dengan cemas.
Bagaimana pun mereka juga masih belum tahu dimana Putri Li Wei berada.
"Lalu kita harus bagaimana? Kita tak bisa meninggalkan Putri," ucap Zhang Yuwen yang akhirnya mendapat anggukan dari Wei Wuxie.
Itu benar. Mereka tak bisa meninggalkan Li Wei, yang entah ada dimana ini. Akan tetapi, mereka menyadari mereka juga tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka. Belum lagi waktu Perburuan Malam terus bertambah. Mereka juga tak bisa melapor pada Guru Ling Xiao dan lainnya di saat Perburuan Malam masih berlangsung.
"Mungkin lubang itu memiliki pintu lainnya. Putri adalah orang yang menemukan jalan masuk menuju pintu labirin." Wei Wuxie berusaha menanamkan itu dalam kepalanya.
Li Wei tak akan menyerah begitu saja hanya karena gadis itu terkurung. Belum lagi dengan Li Wei yang cukup pandai bertarung. Tenaganya juga seperti sapi kerasukan, sehingga mereka tak perlu begitu khawatir.
Walau yah ... Wei Wuxie tetap saja kalut tentang ini.
"Bagaimana jika kita tetap melanjutkan Perburuan Malam?" tanya Wei Wuxie yang akhirnya mendapat tatapan tajam dari Zhang Yuwen.
Seingatnya Wei Wuxie ini sudah seperti pengasuh Li Wei. Bagaimana mungkin Wei Wuxie bisa meninggalkan Li Wei. Ditambah lagi dengan mereka yang tak memiliki perlengkapan bertarung. Hanya busur dan anak panah ... Itu pun dibatasi untuk beberapa kali lontaran.
"Kau ingat meninggalkan Putri? Kita bahkan tak tahu apa yang terjadi padanya!" bantah Zhang Yuwen langsung.
"Justru karena kita tak tahu apa yang terjadi itulah, maka kita harus bergerak. Kita tak melakukan apa-apa kerena menunggu pintu itu terbuka. Itu pun belum tentu pintunya terbuka. Lebih baik kita mencari jalan lain," jelas Wei Wuxie yang memasang kembali tas anak panahnya.
Mereka harus bergerak untuk mencari tahu. Mereka seperti menunggu sesuatu yang tak jelas sekarang.
"Tapi ... "
Wei Wuxie menghela napasnya. "Aku tahu! Tapi dia adalah Putri Li Wei. Kau pikir kita bisa masuk ke labirin ini jika tiada dia sebelumnya? Dia yang menemukan jalan hingga kita bisa berada di sini."
Faktanya Putri Li Wei ini agak tak biasa. Mereka harus yakin jika Li Wei tak akan mudah menyerah hanya karena gadis itu terjebak. Lagipula, Wei Wuxie juga yakin ada yang mengawasi jalannya Perburuan Malam ini. Tentu saja secara diam-diam.
"Bagaimana jika tidak?" tanya Zhang Yuwen untuk tetap menghadirkan opsi terburuk.
Sebisa mungkin setiap saat manusia mempersiapkan diri untuk pilihan yang berakhir buruk. Sehingga mereka tak perlu meras terkejut atau pun kecewa. Itulah yang dipikir oleh Zhang Yuwen di otaknya.
Belum sempat Wei Wuxie menjawab, seekor ular besar muncul dari balik dinding labirin yang roboh. Besarnya sama seperti pinggang sapi yang paling ramping sekalipun. Hal tersebut membuat Wei Wuxie berguling untuk menjauh, atau dirinya akan segera ditelan oleh ular tersebut.
GRAK
BRAK
Akibat besar ular itu, lubang Labirin Batu semakin membesar. Bahkan Wei Wuxie bisa melihat retakan besar yang menandakan jika bagian labirin yang diterobos oleh ular ini tak sanggup lagi bertahan saat pondasi bawahnya sudah hancur. Itu jelas akan membuat bagian dari labirin ini terbuka lebar.
Zhang Yuwen mengarahkan busur panahnya ke kepala ular itu, "Hewan ini, bagaimana bisa dia muncul?"
Ini agak aneh saat hewan sebesar ini tak akan memicu keributan di Labirin Batu. Setidaknya jika ular raksasa ini memiliki sarang, maka sarangnya sudah sebesar gunung. Belum lagi dengan panjangnya yang sudah setara dengan tinggi pepohonan, atau mungkin lebih lagi.
Sialnya adalah Zhang Yuwen dan Wei Wuxie masing-masingnya hanya memiliki tiga busur panah. Pedang mereka juga tak boleh dibawa, sehingga mereka kali ini terdesak.
SSSshhh....
Mendadak Zhang Yuwen merasa geli sendiri ketika mendengar suara desis ular ini. Namun ular itu termasuk 'sangat' gesit, padahal tubuhnya sudah sangat besar. Zhang Yuwen bahkan harus melompat ke tumpukan batu besar untuk mengarahkan busur panah ke kepala ular itu.
Persetan dengan membuang anak panah! Hidup mereka lebih penting dari sekadar poin sialan itu.
Wei Wuxie juga segera bangkit agar lebih siaga dalam melawan ular ini.
STAP!
TING.
Memantul.
"Kepala ular ini sekeras apa?" teriak Zhang Yuwen tak percaya pada anak panahnya yang terbakar begitu saja.
Wei Wuxie memeriksa anak panahnya, "Kerajaan menyediakan anak panah ini untuk buruan buatan. Itu hanya dibuat dari kertas jimat, dan sedikit perisai sihir. Sehingga kualitas anak panah dibuat dari besi yang kurang tebal.
Apalagi sejatinya kepala ular ini sudah terlihat sekeras batu.
Ular itu meliuk dengan sangat cepat melingkari tumpukan batu tempat Zhang Yuwen berdiri. Jika Zhang Yuwen tidak melompat dari tumpukan batu itu, mungkin dia akan terlilit oleh badan ular. Zhang Yuwen melompat setelah menendang batu sebesar kepalan tangan hingga mengenai mata ular.
GRAK!
TRRAAKKK
Ular itu mengibaskan kepalanya ketika batu itu mengenai matanya. Hal itu yang menyebabkan getaran di sekitar mereka. Zhang Yuwen yang baru bangkit langsung ditarik oleh Wei Wuxie untuk melarikan diri. Mereka tak bisa menghadapi ular ini di lapangan terbuka.
Setidaknya mereka harus membuat rencana.
Zhang Yuwen merasa sakit di dadanya akibat terhempas ketika melompat. Itu yang membuat kecepatannya dalam bergerak menjadi kurang. Ia hanya mengikuti Wei Wuxie yang menarik Zhang Yuwen untuk bersembunyi di lubang tempat mereka masuk sebelumnya.
Mereka kembali ke pintu awal yang ditemukan oleh Li Wei sebelumnya.
__ADS_1
Ingatlah lubang itu hanya bisa dimasuki dengan cara merangkak ke dalamnya. Wei Wuxie membiarkan Zhang Yuwen masuk terlebih dahulu. Setelah itu, Wei Wuxie dengan cepat menyusul masuk.
Dan ... STAP!
"Hampir saja kita menjadi camilan dari ular ini," ucap Zhang Yuwen ketika melihat mulut ular yang menghiasi permukaan lubang.
Bahkan kedua taring ular itu juga menjadi kengerian tersendiri ketika melihat besarnya. Ular itu mundur lagi dari permukaan lubang, dan mencoba menerobos ke dalam lubang.
BRAK!
BRAK!
"Dinding labirin ini tak bisa bertahan. Kita harus kembali keluar," ucap Wei Wuxie yang mendorong Zhang Yuwen untuk kembali ke muara labirin.
Ia tak tahu apakah peserta lainnya mendapatkan rintangan yang sama. Hanya saja Wei Wuxie yakin jika ini bukanlah kehendak alam. Dalam artian tersebut, semua ujian ini sudah ditentukan oleh para Guru.
"Sepertinya Guru Ling Xiao tak takut untuk membuat kita terluka," cetus Zhang Yuwen yang menekan dadanya. Bahkan Zhang Yuwen harus merelakan lengannya yang tergores masuk secara tergesa-gesa.
BRAK!
Ini gila.
Ular itu sangat tertarik untuk menyerang pada mereka berdua. Bahkan saat mereka sudah masuk ke bagian tengah lubang pun, ular ini masih berusaha menghancurkan permukaan lubang. Wei Wuxie hanya menunggu batasan hingga para penjaga menyudahi ujian ini.
Entahlah. Atau, mereka harus berteriak untuk menyerah dahulu baru mereka akan mengatasi ular ini?
Itu berarti kami harus merelakan dan menerima hasil buruan kami yang baru dua ini.
Yah, mungkin mendapatkan dua buruan tak buruk sama sekali. Daripada tak mendapat apa-apa.
"Wei Wuxie, bagian belakang tak bisa dilewati. Ada batu-batuan yang berjatuhan," lapor Zhang Yuwen yang menyadari bahwa akibat dobrakan dari ular ini sisi lain dari lubang ini menutup lagi. Tentu saja dari dinding labirin yang berjatuhan.
Gawat. Adakah situasi yang lebih baik dari ini?
DUG DUG DUG
BRAK!
Wei Wuxie mendengar suara keras dari arah datangnya ular. Awalnya ia mengira bahwa dinding yang diterobos ular telah hancur. Akan tetapi, setelah suara keras itu tak ada suara lagi. Seolah tak ada gerakan lain dari ular ini.
"Yuwen, apakah ularnya pergi?" tanya Wei Wuxie untuk meminta pendapat Zhang Yuwen.
Bagaimana jika mereka memeriksa, dan ular raksasa itu masih ada di sana?
Namun ular mana yang memiliki kecerdasan semacam itu? Bahkan sampai memiliki rencana untuk menunggu mereka keluar. Entahlah. Wei Wuxie menyadari ini bukanlah saatnya untuk menebak kecerdasan dari si ular ini.
"Atau, penjaga Perburuan Malam sudah mengatasinya," balas Zhang Yuwen yang sama bingungnya dengan Wei Wuxie.
Ketika itu Wei Wuxie berniat untuk kembali keluar, dan Zhang Yuwen menahan lengannya. "Kau mau ditelan oleh ular itu?" tanya Zhang Yuwen ngeri.
"Sepertinya ular itu tak ada lagi di sana. Jika tidak, maka dia akan berusaha menghancurkan pintu masuk itu hingga roboh," ucap Wei Wuxie memperkirakan.
Zhang Yuwen hanya bisa mengikuti Wei Wuxie yang sudah merangkak duluan keluar. Saat itu dari cahaya obor yang berderet di dalam labirin, Wei Wuxie yakin ia tak salah melihat.
"Ini ..."
Shhhhhh ...
Perlahan ular raksasa yang tergeletak_ yang pastinya sekarang tak bernyawa_ mulai terbakar. Mereka bisa melihat ada panah yang menancap di mata kanan ular besar itu. Panah itu perlahan terbakar, seperti kinerja hasil buruan sebelumnya.
Jadi, ular ini hanyalah buruan yang diciptakan oleh Ling Xiao.
"Aku kira semua buruan yang harus dikejar itu adalah burung," ucap Zhang Yuwen yang mewakili isi hati Wei Wuxie.
Pasalnya, sejak tadi mereka hanya menghadapi burung hitam yang sangat predator. Itu saja mereka sudah cukup kesulitan, karena daya serangnya cukup tinggi. Sekarang Ling Xiao juga menyediakan buruan dalam bentuk lain.
Nantinya mereka harus menghadapi apalagi?!
Juga ...
Siapa pemanahnya?
"Apakah Putri ..."
Belum sempat Zhang Yuwen menyelesaikan ucapannya, sosok serba hitam tampak turun dari bagian atas Labirin Batu. Siapa yang menyangka jika pemanahnya ternyata berada di bagian atas labirin. Sosok itu tampak menuruni dinding Labirin Batu dengan berpegangan pada batu-batu. Gerakan tangannya cukup cepat hingga mereka pikir tubuh si pemanah ini cukup lentur tetapi kuat untuk berpegangan pada setiap permukaan batu.
SRAT!
Ketika pria tersebut turun, ular raksasa telah hangus terbakar dan mengeluarkan kertas jimat sebagai hasil. Kertas itu melayang ke udara untuk kembali pada pembuat 'mainan' berbahaya ini.
"Apakah dia adalah Dewa Penolong?" tanya Zhang Yuwen sambil menepuk bahu Wei Wuxie.
Wei Wuxie mengerutkan keningnya, "Pria ini ..."
Memang seperti yang sudah ia duga bahwa pria ini tak akan kesulitan dalam Perburuan Malam. Lebih dari segalanya pria ini memiliki wajah yang membuat orang lain lupa. Maksudnya adalah pria ini jarang dilihat, sehingga jika tak mengingat penampilannya, maka kau akan lupa bagaimana garis wajahnya. Wajahnya tampan, tetapi tak ada aura apa-apa yang bisa membuatmu ingin menatapnya.
Bagaimana menjelaskannya ...
Itu seperti sebagus apapun bunga, jika kau sangat jarang melihatnya apa kau bisa ingat tentangnya. Belum lagi ...
SRET!
Lihatlah! Baru saja Wei Wuxie dan Zhang Yuwen melihat wajahnya pria ini sudah berbalik dan memasang jubah besarnya. Sehingga mereka tak bisa melihat wajahnya lagi.
"Hua ...!!" ucap Zhang Yuwen untuk melengkapi ucapan Wei Wuxie sebelumnya.
Sejak kapan Hua ini memulai Perburuan Malamnya?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~