
Li Jun menatap lekat pada Li Wei ketika adiknya itu tanpa ragu untuk menerima tantangan. Hal itu membuatnya menarik bibirnya untuk tersenyum. Bagaimana pun ia tak begitu percaya pada potensi Li Wei dalam Perburuan Malam.
"Permaisuri akan khawatir padamu, Li Wei. Jangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu terluka," nasihat Li Jun yang sebagiannya adalah intimidasi.
Namun Li Wei malah membalasnya dengan tersenyum. "Setidaknya saya lebih khawatir jika mempermalukan kakak."
Zhang Yuwen jelas merasa sedikit kikuk dengan situasi ini, sedangkan Wei Wuxie terlihat lebih tenang. Ditambah lagi mereka tak harusnya mendengarkan kedua saudara satu ayah ini beradu sindiran. Persaingan kekuasaan jelas adalah hal yang lumrah terjadi.
Wei Wuxie yang mengerti segera mengalihkan pembicaraan. "Pangeran Li Jun, apa yang membuat Anda datang ke Pusat Kota? Sekiranya kami dapat membantu jika Pangeran tengah bertugas di sini."
Sebenarnya Li Jun sudah menyelesaikan Pelatihannya. Kakak pertama Li Wei itu sudah berkecimpung di dalam Pengadilan Tinggi. Seperti yang dikatakan oleh Wei Wuxie, jelas jika Li Jun sedang dalam tugasnya sekarang.
"Ini bukan masalah yang besar. Hanya saja hujan deras kemarin membuat beberapa bagian di Pusat Kota terendam. Aku hanya menutup aliran air yang menuju Pusat Kota agar tidak menimbulkan banjir," jelas Li Jun yang kali ini mengalihkan pandangan pada Wei Wuxie.
Di belakang Li Jun terdapat beberapa orang prajurit. Jelas sekali pria ini telah habis bekerja. Akan tetapi, mendengar penjelasannya Li Wei mengerutkan kening. "Menutup aliran? Apakah kakak bermaksud seperti menutupi aliran air dengan sekat agar banjir tak datang ke Pusat Kota?" tanya Li Wei untuk memastikan.
"Itu benar. Itu seperti menahan air untuk masuk ke dalam kota," balas Li Jun dengan singkat.
^^^Menahan banjir untuk datang. Itu merupakan hal yang baik untuk Pusat Kota. Namun apa ada yang bisa menjamin jika gejala alam ini bisa ditahan?^^^
"Bukankah itu tak menjamin datangnya bencana yang lebih besar?" tanya Li Wei yang sedikit tidak menyetujui pendapat kakaknya.
Li Jun menatap Li Wei dengan ekspresi sinis. "Itu adalah keputusan di Pengadilan Tinggi, Li Wei. Apa yang membuatmu tidak menyetujuinya?"
"Menahan aliran air itu tidak seperti mengurung sapi. Bahkan sapi pun terkadang juga tak bisa dikurung di pagar yang rendah. Air itu mudah pasang dan surut, dan itu membuat arus air juga berubah. Jika arus air lebih deras lagi, yang datang ke Pusat Kota bukan hanya banjir lagi, tetapi hempasan air yang seperti badai," ucap Li Wei yang berusaha untuk menjelaskan maksudnya.
Jika luapan air yang deras ditahan, dan kemudian penahan itu tak begitu kuat, maka bisa jadi ketika penahan itu hancur, aliran air akan lebih deras lagi. Itulah yang Li Wei maksudkan. Meski kemungkinannya cukup kecil, tetapi kegagalan adalah hal yang harus diwaspadai oleh kerajaan. Sehingga metode ini dirasa Li Wei agak beresiko.
"Kemungkinan itu sangat kecil, Li Wei. Lagipula, penahan banjir itu dibuat sangat kuat. Air tak akan sanggup menghempasnya," bantah Li Jun keras.
Zhang Yuwen menggaruk lehernya karena merasa tak dianggap di sini. Apalagi pemikirannya yang agak kurang sampai pada apa yang dibicarakan. Ia menatap Wei Wuxie untuk menegurnya. Semua ini karena Wei Wuxie yang bertanya tentang pekerjaan Li Jun. Karena itulah muncul perdebatan ini.
"Saya rasa kami harus segera kembali, Pangeran. Kami terlalu lama meninggalkan ruang pelatihan." Pada akhirnya Zhang Yuwen hanya bisa memutus perdebatan ini.
"Li Wei, dengan kau masuk ke dalam Pelatihan Awan itu bukan berarti kau bisa sembarang berpendapat. Kau baru saja belajar di sana. Pengetahuan yang kau miliki masih belum apa-apanya," ucap Li Jun yang memperingatkan Li Wei.
Hal itu membuat Zhang Yuwen lelah sendiri. Ia berharap dirinya bisa melarikan diri dari situasi ini. Bahkan saat ia ingin pergi diam-diam, Wei Wuxie sudah menangkap kerah belakangnya. Menahan Zhang Yuwen yang ingin menjauh, dan akhirnya Zhang Yuwen hanya bisa tersenyum demi kesopanan.
"Namun segala kemungkinan harus dipertaruhkan dalam hal ini, Kakak. Seperti mencegah kerugian yang akan datang." Sepertinya Li Wei benar-benar tak menyukai keputusan dari kerajaan.
"Lalu, kau pikir apa tindakan apa yang harus diambil? Siapa tahu aku bisa membicarakannya dengan Yang Mulia," tantang Li Jun.
Pria ini hanya sekadar ingin menertawakan keputusan dari Li Wei. Bagaimana pun di mata Li Jun, Li Wei hanyalah segelintir daun baru. Ia tak merasa seperti dia ingin mendengarkan pendapat dari Li Wei, meski seperti apa yang dia katakan sebelumnya, kemungkinan yang disebutkan oleh Li Wei itu bisa saja terjadi.
Namun itu hanyalah kemungkinan kecil. Apalagi Li Jun percaya pada bangunan penahan banjir yang sudah mereka buat di muara laut di dekat Pusat Kota. Berkenaan dengan tindakan ini juga bisa menjadi pencegahan untuk ke depannya. Mungkin banjir tak akan datang dalam empat sampai lima tahun ke depan.
Apa yang membuat pekerjaannya salah? Ini sama seperti Li Wei meragukan tentang kinerja mereka dalam membuat penahan banjir.
"Membiarkan banjir itu melanda Pusat Kota," jawab Li Wei cepat tanpa berpikir lagi.
Hal itu membuat Li Jun tertawa pelan karena merasa menang. Entah mengapa dia berpikir seperti itu. Wei Wuxie dan Zhang Yuwen juga agak tak mengerti dengan keputusan Li Wei ini. Bagaimana pun tidak ada 'tindakan', dan jelas itu tak bisa disebut pencegahan.
"Kau pasti bercanda," sindir Li Jun yang merasa ingin terus menertawakan Li Wei.
__ADS_1
Bukankah adiknya ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain, hingga dikira mengatasi urusan kerajaan sama seperti bermain rumahan?
Namun Li Wei terlihat yakin dengan jawabannya sendiri. "Kakak, apa manusia bisa menahan kehendak Dewa? Jika memang banjir terjadi, biarkan banjir itu datang. Lagipula, jika tindakan yang paling penting adalah bantuan kerajaan untuk masyarakatnya dalam menghadapi banjir ini. Pikirkan ini, jika tekanan air tiba-tiba bertambah atau debur ombak lebih keras lagi karena air atau guncangan bawah laut, jumlah air akan lebih kencang masuk ke Pusat Kota. Bahkan orang yang bisa berenang pun akan hanyut di air yang deras," ucap Li Wei lagi yang berusaha membuat Li Jun mengerti.
Zhang Yuwen mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Li Wei. Sehingga ia bertanya, "Apakah itu karena angin kencang yang sering terjadi akhir-akhir ini?" tanya Zhang Yuwen yang mengingat jika hujan terus melanda Kerajaan Li dalam beberapa hari terakhir.
Li Wei menganggukkan kepalanya cepat, tetapi Li Jun terlihat semakin jengkel. "Li Wei, apa yang kau takutkan itu sangat kecil kemungkinannya. Jangan menyulitkan kerajaan dengan pemikiran konyol seperti itu. Lagipula, meski angin kencang datang, tetapi tak pernah lebih deras daripada apa yang kau takutkan."
Li Wei menghela napasnya saat ia merasa perdebatan ini terasa tak berguna. Apalagi saat tak ada penentu di sini. Ditambah lagi dia bukanlah siapa-siapa sekarang. Ia bahkan hanya seorang Putri, yang meski berbakat sekalipun, pendapatnya hanya dianggap bagian dari emosional semata. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Wei Wuxie tentang 'jabatan'.
Yah, aku pikir sapi pun bisa terkenal jika disebut terus-menerus.
Sehingga jika Li Wei ingin pendapatnya didengar oleh orang lain, maka dia harus memiliki nama. Bukan berarti Li Wei ingin menggurui, tetapi ada kalanya ia berpikir bahwa ada beberapa keputusan yang memerlukan pendapat dari orang lain. Meski terkadang menyakitkan, tetapi saran dari orang lain terkadang lebih baik jika tujuan untuk memperbaiki.
Li Wei memberikan penghormatan pada kakaknya dengan kedua tangannya yang mewakili. "Maaf jika Li Wei mengganggu kesibukan kakak."
Yah, berdoa saja jika kemungkinan yang Li Wei sebutkan itu tak akan pernah terjadi.
***
Li Wei seperti menghabiskan harinya terlalu banyak untuk membaca semua kebijakan dan peraturan kerajaan. Ia mulai berpikir jika semua hal itu lebih menyenangkan jika dipelajari secara praktik. Kepalanya bahkan terasa seperti tak bisa berpikir lagi saking lelahnya.
Selama di Pelatihan Awan, Li Wei jelas tak bisa pulang sebelum selesai berlatih. Ia harus tinggal di Istana Pelatihan, tetapi di ruangan yang berbeda dengan murid lainnya. Ia tinggal di ruangan pribadi yang disiapkan khusus untuknya.
Percayalah tak ada yang lebih baik daripada bersyukur pada apa yang dia miliki saat ini.
"Ah ... Dinginnya," ujar Li Wei yang merapatkan kain yang ia gunakan untuk memberi kehangatan pada tubuhnya.
Kali ini Li Wei memutuskan untuk berjalan-jalan di sekeliling Istana Pelatihan. Itu jelas melanggar peraturan Pelatihan Awan ini. Akan tetapi, Li Wei tak bisa tertidur entah karena apa. Mungkin dia terlalu antusias tentang Perburuan Malam yang akan dimulai esok hari.
Kembali lagi pada peraturan Istana Pelatihan.
Peraturan di sini agak ketat mengenai jam malam. Biasanya mereka tak boleh keluar dari tempat peristirahatan saat jam istirahat berlangsung. Itu karena pelatihan mereka memerlukan stamina yang baik, dan tidur larut malam akan membuat tubuh akan terganggu. Ada banyak lagi jenis peraturan di Pelatihan Awan ini, seperti tidak boleh menyelinap saat jam malam, bangun pagi hari, dan berlatih. Mereka tak boleh membuat kerusuhan pada malam hari, dan tak boleh bertengkar dengan sesama murid. Huh ... Li Wei mendadak malas menyebutkannya lagi karena itu sudah sebanyak hutang Zhang Yuwen terhadap Wei Wuxie. Lagipula, karena banyaknya peraturan ini, Li Wei yakin jika dirinya akan punya lima cucu dan baru ia bisa berhasil menaati semua peraturannya.
Namun di sini Li Wei ... Melanggar jam malam di Istana Pelatihan.
Sebab, ia kini tengah berjalan-jalan menyusuri ruang Pelatihan yang sangat sepi. Bahkan ia dengan sangat kurang kerjaannya menghitung langkah kakinya ketika berjalan. Ia menghitung sekitar seratus ribu langkah, dan ia mencapai pada tempat yang pernah diceritakan oleh Zhang Yuwen.
Tembok Batu Permohonan.
Ia belum menulis apa-apa di sana. Kata Zhang Yuwen, jika kau ingin permintaanmu terkabul, maka aku perlu menuliskannya di sana. Lalu, dengan ajaibnya keinginanmu akan terkabul di hari terakhir Pelatihan. Itu adalah hal yang dipercayai oleh murid-murid di Pelatihan Awan.
Li Wei bahkan tak akan terkejut karena banyaknya tulisan di sana. Ia menyusuri tulisan yang digores dengan batu itu dengan telunjuknya. Permohonan murid-murid di sini sangat beragam. Ada beberapa yang serius untuk meminta pada Dewa, dan sebagiannya hanya bermain-main. Seperti menuliskan keinginan yang agak konyol seperti, ingin berjalan-jalan dengan sapi, atau berguling-guling seperti cacing di dalam lumpur. Atau bahkan ingin melihat ikan berkedip. Entahlah ada banyak hal aneh yang bisa dilihat di dinding itu.
Bahkan ...
"Wuaahhh ... Hantu!" Li Wei mendadak ketakutan ketika melihat sosok yang berjongkok di depan Tembok Batu Permohonan.
Hal itu membuat Li Wei terjungkal, tetapi sebelum ia jatuh ke tanah seseorang menangkapnya. Lalu, menekannya ke tanah. Hanya sepersekian detik hingga sebuah tangan membekap mulutnya.
Apa aku sedang diculik? Mana ada hantu yang bisa menyentuh manusia. Lain halnya aku bisa menyentuh dari dunia yang berbeda.
Menyadari itu, Li Wei melawan sekuat yang ia bisa. Tangannya mencengkram lengan kokoh yang membekap mulutnya. Memutar lengan itu untuk terlepas dari mulutnya. Itu berlaku, dan membuat pria yang menekannya sedikit merenggangkan tangan. Setelah itu, Li Wei mengangkat sedikit pinggangnya agar dia bisa melompat dan langsung berdiri saat dirinya masih berbaring.
__ADS_1
SRET!
Li Wei memutar dan langsung berdiri. Jika memang pria ini adalah pencuri, maka Li Wei harus menangkapnya. Sampai pada suatu ketika pria itu kembali mengarahkan kelima jarinya untuk menuju tenggorokan Li Wei. Ia mulai mengenali siapa sosok ini. Sebab, jemari yang panjang dan cepat itu pernah sekali nyaris memukul ke arahnya.
"Anda ... Hua ..." ucap Li Wei sambil mundur untuk menghindari pukulan tangan itu.
Ia pasti akan langsung pingsan jika Hua ini memukulnya. Apa yang dilakukan pria Hua ini malam-malam di Tembok Batu Permohonan? Apa ia ingin melakukan sesuatu, atau pria ini adalah mata-mata? Entahlah.
Bisa jadi juga pria ini hanya berjalan-jalan. Sama seperti Li Wei. Tetapi karena pertahanan diri Hua ini terlalu tinggi, dia selalu menjadi waspada. Li Wei ingin segera bicara, terutama ketika ia melihat obor yang terlihat dari kejauhan.
Penjagaan malam!
Ini bisa gawat jika Li Wei ketahuan berkeliaran di luar pada malam hari. Belum lagi jika ia bersama Hua. Itu jelas bukan berita yang baik untuk dikonsumsi publik.
Nanti dikira aku sedang melakukan pertemuan dengan Hua dengan topik "Bagaimana memukuli semua orang yang mengganggu orang lain?"
"Hua ... Ini ..."
SRAP!
Eh?
Tangan pria itu membekap mulut Li Wei agak keras. Bahkan pria ini tak berniat memperlakukan Li Wei lembut. Ia membekap Li Wei dan membawa Li Wei untuk menempel ke arah dinding batu. Namun karena gerakan Li Wei yang terlalu keras dalam memberontak, Hua harus sedikit terbanting ketika menempel ke tembok batu.
"Jangan bicara," bisik Hua sambil membekap mulut Li Wei.
Jangan bicara katamu!? Kau itu coba jika ingin membawaku bersembunyi itu baik-baik. Bukannya dibekap seperti ini!
Karena Hua jarang bicara sehingga Li Wei tak mengerti maksudnya. Padahal Hua hanya berniat membawa Li Wei untuk bersembunyi dari penjagaan malam. Sebab, jika Li Wei ditangkap, maka dia akan dihukum oleh Guru Pelatihan.
SRET!
Penjaga malam sudah mendekat ke arah mereka. Li Wei bisa mendengar suara jantungnya sendiri, terutama saat posisi mereka yang menempel ini. Meski begitu, Li Wei menyadari bahwa Hua ini tidak panik sedikit pun.
Cahaya obor mendekat, dan Hua menekan Li Wei untuk lebih dekat darinya.
APA-APAAAN INI!
Sepanjang hidup Li Wei, ia belum pernah dikalahkan oleh orang lain. Apalagi sampai dibekap seperti ini. Ditambah lagi ia juga belum pernah berada dalam jarak yang begitu dekat dengan seorang pria.
"Hey, jepit rambutmu menyangkut di pakaianku," bisik Hua yang menyadari sesuatu.
Seharusnya Li Wei tak menggunakan jepit rambut yang rumit seperti ini! Bahkan riasannya bisa tersangkut di pakaian serba hitam milik Hua. Bahkan permata merah terlihat cukup mencolok ketika menempel di pakaian Hua.
Situasi apa ini!
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~