Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Yang Berlalu Mengubah yang Akan Datang


__ADS_3

Lagi-lagi ketegangan ini terjadi.


Raja Li Shen terlihat lebih tidak sabar, sehingga ia mengangkat tangannya untuk memberi perintah pada prajurit yang ia bawa. Tentu saja mereka tak pernah berharap jika Jenderal Hantu itu akan tunduk dan mengikuti permintaan mereka dengan baik. Akan tetapi, dengan itu, Yi Hua menggelengkan kepalanya.


Entah mengapa Li Shen tak bisa mengalihkan pandangannya pada wajah penuh permohonan Yi Hua. Bukankah dahulu tangisan peramal ini pun tak pernah Li Shen perdulikan? Mengapa sekarang saat Yi Hua mengajukan permohonan Li Shen tak bisa mengabaikannya. Tatapan Yi Hua mengingatkan Li Shen pada tatapan sendu seseorang di masa lalu.


Seseorang yang tak ingin Li Shen sebut lagi namanya di dunia ini.


Sudahlah. Mungkin karena Yi Hua perduli pada Liu Xingsheng, makanya Li Shen juga perduli pada Yi Hua.


Selir Qian melangkahkan kakinya agak dekat. Di belakangnya ada Huan Ran yang memang dari zaman dahulu kala pendiam. Sehingga tak aneh jika dia tak menanggapi apa-apa. Walau Huan Ran juga terlihat siap bertarung kapan saja.


Yi Hua sebenarnya agak bingung sekarang untuk bersikap. Sekarang di Kerajaan Bawah, terdapat banyak sekali orang yang saling berkaitan. Ia ingin menenangkan Wei Wuxie agar bisa mendapatkan pecahan Lingkaran Mawar, tetapi ada orang-orang kerajaan yang pastinya tak tahu jika Wei Wuxie masih hidup. Semua ini bertambah kacau lagi, karena ada Hua Yifeng dan Wei Wuxie yang masih bersitegang. Belum lagi kalau Huan Ran ikut-ikutan ingin memaksa mendapatkan Lingkaran Mawar.


Ling Xiao yang baik hati, tenang, dan rajin menabung saja mulai menggaruk kepalanya.


Belum selesai masalah satu muncul lagi yang satu.


Baru saja mereka ribut-ribut karena Tuan Qiu yang bajing*an itu. Setelah usai, Liu Xingsheng menghilang dan muncul fakta baru bahwa Bao Jiazhen ada di sekitar mereka. Baru saja mereka ingin mencari, nyatanya yang dicari tidak mudah ditemukan. Mereka memerlukan Lingkaran Mawar, dan ternyata itu benda terkutuk yang disegel di Kerajaan Li.


Sekarang Li Shen sudah setuju untuk membiarkan pecahan Lingkaran Mawar bersatu kembali, Wei Wuxie atau Jenderal Hantu ini yang masih tak berjalan dari masa lalu. Ia masih percaya bahwa Lingkaran Mawar itu seperti 'penentu' Li Wei untuk terlahir kembali. Itu karena ramalan, yang entah benar atau tidak, Yi Hua asli lontarkan di hadapan Kerajaan. Bahwa Yi Hua, sebagai Peramal Kerajaan, melihat tentang itu.


Dan, lucu di atas segalanya ialah ... Sekarang dirinya adalah Yi Hua.


Bukankah semuanya terlihat saling bersangkutan, sehingga Yi Hua mulai yakin seperti ada 'sesuatu' yang bisa ditarik dari semua fenomena ini.


"Jadi ... Izinkan saya meminta pecahan Lingkaran Mawar yang Jenderal Hantu bawa sekarang. Saya hanya menggunakannya untuk membuka portal, dan menemukan tempat persembunyian Tengkorak Putih," ucap Yi Hua terus terang.


Mendadak Wei Wuxie tertawa hambar, "Dengan bodohnya kalian mencari, saat ada dia?" tanya Wei Wuxie sambil menunjuk ke arah Hua Yifeng yang masih diam.


Hua Yifeng sudah menaruh kembali pedangnya. Mungkin karena Wei Wuxie tak berniat untuk membunuh Yi Hua lagi. Wei Wuxie melemah dan bahkan terpengaruh dengan kata-kata Yi Hua. Setidaknya untuk sekarang begitu, siapa tahu nanti kambuh lagi.


Wei Wuxie kembali melanjutkan, "Jika dia memang ingin membantu kalian, maka dia akan memberitahumu bahwa Tengkorak Putih ..."


SRET!


BUGH!


Dari semua ketegangan itu, mendadak suara jatuh terdengar. Lebih tepatnya pada seseorang yang terjatuh saat berniat melarikan diri setelah mengambil sesuatu yang ada di kantung kuda tanpa kepala milik Wei Wuxie. Sayangnya, perhitungannya agak konyol. Karena jika Jenderal Hantu tak sewaspada itu, mungkin dari awal mereka akan mencuri pecahan Lingkaran Mawar itu dari Jenderal Hantu. Tapi ... Ini yah Yue Yan.


Yi Hua menepuk dahinya karena tak sanggup melihat Yue Yan yang konyol. Bahkan sekarang dengan wajah bingung Yue Yan menarik-menarik kakinya yang tersangkut. Entah tersangkut apa. Yue Yan tampak terduduk di lantai tanah, namun di tangannya ada bungkusan hitam. Kita tahu apa isinya.


Tentu saja Lingkaran Mawar yang Jenderal Hantu bawa.


Masalahnya adalah ... Mengapa Yue Yan berani mengambil benda itu tanpa persiapan apapun?


"Hey, Yi Hua sialan! Kenapa kau tak membantuku?" tanya Yue Yan yang entah mengapa punya inisiatif untuk mencuri benda itu dengan konyolnya.


Yi Hua merentangkan telapak tangannya untuk menutupi sebelah wajahnya karena malu. Setelah itu, ia berjalan menghampiri Yue Yan yang masih bergerak-gerak seperti ulat bulu, tetapi tangan Yi Hua masih menutupi setengah wajahnya. Berharap mereka akan lupa jika makhluk aneh ini memanggilnya.


Akan tetapi, lebih aneh lagi ialah karena Jenderal Hantu, Wei Wuxie hanya mengamati mereka.


Tangan Yi Hua meraih bungkusan yang ada di tangan Yue Yan, dan meninggalkannya ...


"Hehh? Sopan sekali dirimu begitu!" bentak Yue Yan yang siap-siap mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


Terutama saat Yi Hua memang seringkali tega. Bahkan Yue Yan ingat jika Yi Hua tak segan-segan menendangnya. Sialan sekali! Padahal Yue Yan, yang entah kerasukan gen sapi mana, berniat mencuri demi membantu untuk menemukan Perdana Menteri Liu!


"Hehe ..."


Yi Hua hanya membalasnya dengan tawa kecil.


Kan mengesalkan sekali!


Yi Hua mengangkat bungkusan di tangannya sambil menatap pada Wei Wuxie. Yi Hua tak dapat melihat bagaimana ekspresi Wei Wuxie, apalagi dengan cadar hitam yang masih menutupi setengah wajahnya. Hanya saja Yi Hua tahu jika Wei Wuxie tak mempermasalahkan jika Yi Hua menggunakan pecahan Lingkaran Mawar.


"Saya pinjam ini dulu. Nanti saya kembalikan," teriak Yi Hua sambil berlari menuju Ling Xiao.


"Kalau benda ini tidak rusak ya! Terkadang jika aku memegang benda pusaka, bawaannya ingin merusak," Lanjut Yi Hua di dalam hati.


Di samping Ling Xiao sudah ada Raja Li Shen dan Selir Qian. Huan Ran juga sudah bersiap untuk membantu Ling Xiao menulis rangkaian mantra di tanah. Tentu saja Huan Ran hanya mengikuti perintah Ling Xiao. Mereka siap untuk membuka portal untuk sihir perpindahan. Yang pastinya sesuatu seperti itu hanya bisa dilakukan oleh peramal senior. Yi Hua yang masuk karena jalur 'keturunan', jelas tak bisa membuka portal.


Yue Yan mengomel, "Lihat saja Yi Hua si*lan! Aku akan ..."


TAS!!!!


Jeratan di kaki Yue Yan terlepas. Pertanda Wei Wuxie melepaskan perangkapnya. Itu bukanlah sejenis sihir, karena Wei Wuxie adalah manusia biasa. Dia juga bukan peramal, sehingga perangkap yang ia buat hanyalah dari benang tipis tak terlihat. Itu akan menjerat kaki siapa saja yang mengambil bungkusan.


Dan baru saja Wei Wuxie melepaskannya.


Yue Yan yang sadar kakinya terlepas, segera berlari untuk mendekati Yi Hua. Sekaligus membawa sumpah serapahnya. "Kalau nanti aku dibunuh oleh Jenderal Hantu dan dijadikan teman dari kuda tanpa kepalanya itu, aku akan datang membalas dendam padamu," omel Yue Yan yang masih bisa didengar oleh Wei Wuxie.


Melihat Yi Hua dan Yue Yan yang masih berdebat, mendadak Wei Wuxie merasa rindu. Entah karena apa. Ia mengingat jika dahulu kala ia memiliki pertemanan yang seperti itu.


Wei Wuxie menatap sengit pada Hua Yifeng.


"Aku akan membunuhmu suatu saat nanti," ucap Wei Wuxie yang entah untuk ke berapa kalinya.


Nyatanya ia juga tak bisa membunuh Hua Yifeng.


Dahulu saat mereka masih bersekolah, Hua Yifeng adalah salah satu orang yang Wei Wuxie kenal. Dan juga ... Tak banyak yang tahu bagaimana hancurnya Hua Yifeng setelah kematian Li Wei dahulu. Namun Wei Wuxie tahu. Terutama saat mendengar gantungan pedang Hua Yifeng yang berdenting.


Awalnya Wei Wuxie mengira-ngira bagaimana Hua Yifeng bisa memilikinya. Itu adalah hiasan jepit rambut yang sangat dikenali oleh Wei Wuxie. Itu adalah milik Putri Li Wei. Sesuatu yang dahulu ... Kata Putri Li Wei menghilang.


"Kau masih menyimpannya?" tanya Wei Wuxie sinis.


Kau masih menyimpan benda milik Li Wei, tetapi hatimu bukan miliknya lagi. Itulah yang ingin disampaikan oleh Wei Wuxie. Sayangnya mulut sinis Wei Wuxie tidak sepedas mulut Zhang Yuwen yang sering menyindir. Sepertinya Wei Wuxie harus mendatangi hutan tempat Zhang Yuwen, Si Tirai Berdarah ini, yang kerjaannya membunuh saja. Dia akan membicarakan keburukan Hua Yifeng agar Zhang Yuwen mendapat bahan omongan lagi.


"Bukan urusanmu," ucap Hua Yifeng yang ketus seperti biasanya.

__ADS_1


Wei Wuxie mendengus. "Bahkan sampai Putri Li Wei tiada, dia tak pernah tahu jika kau mencintainya jauh sebelum kalian bertemu di Pelatihan Awan."


Sebuah rahasia kecil di antara Wei Wuxie, Hua Yifeng dan Ling Xiao.


"Seorang anak kecil yang tak punya harapan hidup, tetapi bisa hidup dengan berharap ada seorang Tuan Putri. Padahal Tuan Putri itu tak mengenalnya, dan tak sadar jika dia ..."sindir Wei Wuxie lagi.


Hua Yifeng menatap tajam pada Wei Wuxie, "Dia tak perlu tahu."


Benar.


Biarkan dia hidup 'tanpa' ingatan tentang Hua Yifeng di dalamnya. Karena dirinya adalah sumber dari semua rasa sakit dari Li Wei. Bukan hanya di masa mereka dewasa, tetapi bahkan di saat kecil pun.


Terlebih lagi ...


Hua Yifeng masih menyimpannya, padahal ia memiliki perasaan kepada orang lain.


Atau, ... Berbicara tentang omong kosong! Bagaimana bisa?


Wei Wuxie mendadak tertawa, "Katakan padaku jika aku salah ..." ucap Wei Wuxie yang dijawab langsung oleh Hua Yifeng.


Hua Yifeng tak mengatakan apa-apa.


Mendadak pandangan Wei Wuxie mengarah pada Yi Hua yang terlibat sibuk. Peramal itu sibuk membantu Ling Xiao yang mendadak sakit kepala. Pasalnya lebih pintar Huan Ran yang menulis mantra dibandingkan Yi Hua, Yi Hua yang seharusnya paling terbiasa. Karena mantra itu biasanya tertulis di kertas jimat.


Akan tetapi, yah ... Kata Ling Xiao juga daripada tidak sama sekali.


"Menurutmu mengapa dia kembali?" tanya Wei Wuxie. Walau setengah dari dirinya tak percaya pada kenyataan yang ia terima.


Dia pergi tanpa Wei Wuxie ketahui, dan dia kembali hidup tanpa Wei Wuxie ketahui. Wei Wuxie tak tahu dia harus menangis atau tertawa.


"Mungkin untuk menyelesaikan garis hitam dari ramalan Penguasa Kerajaan Li," ucap Hua Yifeng yang mulai mengerti tentang garis hitam dari sejarah.


Seharusnya dia banyak membaca sejarah. Bahkan di sejarah terdahulu agar mengetahui bahwa "Pengorbanan Calon Pewaris Tahta Kerajaan Li" itu bukan pertama kalinya terjadi. Itu sudah seringkali terjadi sejak dahulu kala.


Bahkan sebelum Pangeran Penduka.


Hanya saja. Takdir itu sekarang agak berubah, karena pengorbanan Putri Li Wei. Apa Hua Yifeng harus berterima kasih pada Putri Li Wei atau membenci takdir itu karena Li Wei yang harus berkorban?


Nyatanya jika yang berkorban kala itu adalah Hua Yifeng, yang notabenenya adalah Calon Raja yang ada di Ramalan Dewa, maka takdir kelam itu akan terjadi lagi nantinya. Entah siapa "orang dalam ramalan" yang akan mengalami bencana besar, dan harus dikorbankan untuk melindungi banyak orang.


Apakah itu berarti takdir perulangan ini akan berhenti?


Karena ...


"Tuan Hua ... Anda mau ikut atau tidak?" teriak Yi Hua yang melihat Hua Yifeng masih berdiri di kejauhan. Masih dengan Wei Wuxie yang mendengarkan ucapan Hua Yifeng dengan pikiran berputar-putar.


Nyatanya Wei Wuxie pernah mendengar ini dari Ling Xiao. Dan ... Wei Wuxie tak memahaminya.


Hanya saja Ling Xiao pernah berkata padanya, "Jika jiwa penuh dendam menemukan kebahagian, apa dia akan terus terlahir penuh dendam lagi di kehidupan berikutnya?"


Dan Wei Wuxie pura-pura tuli saat Ling Xiao bertanya hal itu padanya. Karena ia tak mengerti apapun.


***


Keseharian Ling Xiao sangatlah monoton. Ia hanya melihat takdir orang lain, dan mengatakan pada mereka. Akan tetapi, takdir semacam itu bukanlah suatu hal yang pasti terjadi. Semuanya tergantung pada seseorang yang menjalaninya.


Meski seakurat apapun takdir yang dibaca oleh seorang peramal, tetapi jika yang memiliki takdir tak melakukan apa-apa, gunung sekuat apapun akan tetap roboh. Sederhana. Kehadiran peramal seperti membocorkan takdir dari dewa, tetapi apakah dewa mengubah takdir, itu urusan lainnya.


Jadi, seperti itu keseharian Ling Xiao.


Di usianya yang sangat muda ia sudah harus berhadapan dengan orang-orang penting di Kerajaan Li ini.


Keluarga Ling lainnya tidak diberkati usia yang panjang, dan langkanya keturunan.


Ayahnya Ling Xiao sama seperti Ling Xiao, anak tunggal. Begitu juga dengan ibunya, yang sudah satu-satunya anak di keluarganya, dan bahkan hidupnya saja tak panjang. Wanita itu meninggal saat Ling Xiao masih berusaha untuk belajar berjalan. Sehingga Ling Xiao tidak tahu bagaimana rupa ibunya.


Ayahnya yang suka tersenyum itu selalu berkata jika Ling Xiao mirip dengan ibunya. Akan tetapi, rekan ayahnya sebagai sesama peramal, mengatakan jika Ling Xiao lebih mengikuti ayahnya. Yah, setidaknya sampai sekarang Ling Xiao bersyukur tak ada yang mengatakan jika dirinya mirip dengan paman tetangga atau pria di dekat rumahnya. Itu saja.


Lalu, cerita pendek usia di keluarga Ling Xiao berlanjut.


Saat Ling Xiao berusia sepuluh tahun, ayahnya meninggal saat tertidur. Tak ada yang tahu dia meninggal karena apa. Tak ada yang tahu apakah dia sakit sebelumnya atau tidak. Karena damainya ayahnya ketika meninggal, Ling Xiao sampai lupa jika biasanya kerabat dari orang meninggal akan menangis. Ling Xiao lupa menangis saat peti ayahnya ditutup untuk selamanya.


Ling Xiao berpikir jika ini namanya takdir, maka apa yang harus ditangisi? Bahkan ayahnya meninggal dengan sangat damai. Sehingga Ling Xiao hanya berkata 'istirahatlah' pada ayahnya yang sudah tutup usia.


Lalu, Ling Xiao tumbuh besar dengan takdir yang sangat baik.


Ia menggantikan ayahnya sebagai Peramal Kerajaan. Dimana ia hidup ketika seorang peramal dianggap sebagai perwakilan dewa. Sehingga Ling Xiao hidup dengan makmur dan hidupnya selalu tenang seolah tak ada pengganggu.


Dan, ...


BRUK!


"ADUH!"


Baru saja Ling Xiao ingin menulis puisi tentang damainya dunia, suara kecil itu terdengar. Kala itu Ling Xiao mulai bekerja di Pelatihan Awan, walau bukan menjadi guru besar. Dirinya hanya orang yang membantu untuk menjaga perpustakaan.


Dari jendela perpustakaan Ling Xiao menengok ke bawah. Tepatnya pada seorang anak yang terbaring dengan posisi yang aneh. Lengannya tampak terputar dan tak seperti biasanya. Belum lagi dengan darah yang mengalir dari dahinya.


Sebentar ...


Itu bukan posisi yang aneh! Anak ini sepertinya terjatuh dari pohon. Bicara tentang pohon, di samping perpustakaan atas memang ada pohon. Mungkin anak ini terjatuh dari sana hingga menggelinding ke perpustakaan bawah ini.


Ling Xiao melompat langsung dari jendela untuk memeriksa keadaan anak itu.


"Hey, kau sudah mati ya?" tanya Ling Xiao sambil menepuk pipi anak kecil itu dengan agak kuat.


Anak itu tak bergerak.


Ling Xiao mendadak ingin mencari lokasi untuk mengubur anak ini. Kalau mati dan ketahuan jika Ling Xiao ada di sekitar kejadian, maka itu akan menjadi masalah. Apalagi saat anak ini terlihat dengan simbol keluarga "Wei".

__ADS_1


Itu adalah keluarga bangsawan terkemuka, dengan kebanyakan dari mereka menjadi pemimpin pasukan.


Ling Xiao menghela napasnya, "Apa aku menguburnya di bawah pohon saja? Supaya lebih subur saja tanamannya." Tanpa sadar Ling Xiao berbicara pelan.


"Aku belum mati."


Mendadak senyum tipis Ling Xiao muncul. "Ya sudah biar aku buat mati. Karena aku sudah berpikiran baik tentang membuat tanaman lebih subur. Nanti jika tanaman ini subur, maka kau sudah masuk dalam bagian pecinta lingkungan. Sebab, tumbuhan juga salah satu penentu dari lingkungan yang sehat."


SRET!


Anak kecil itu bangkit dengan susah payah. Mendadak takut jika pria berpakaian serba putih di depannya ini benar-benar serius. Awalnya saat ia terbangun, ia pikir pria berpakaian serba putih ini adalah Dewa. Yah, Dewa ... Dewa Kematian!


Ia sudah bangun dari tadi, tapi kepalanya pusing karena berguling-guling dari atas bukit. Itulah mengapa dia diam tak bergerak seperti sapi yang malas beraktivitas.


Pria Ling Xiao itu menghela napasnya dan mengambil kertas jimat yang ia bawa.


"Waahhhh ... Tuan Baju Putih mau apa?" tanya anak itu ketika melihat Ling Xiao yang menempelkan kertas jimat itu di luka si anak kecil yang ada di dahi.


Bagaimana bisa dia menempelkan jimat tepat di dahinya seperti para petarung jimat yang menempelkan kertas di dahi mayat berjalan?


"Aku tak membawa perban atau kain yang bisa menghentikan pendarahan di kepalamu," ucap Ling Xiao santai.


Lagipula, bukannya kertas jimat itu sangat berharga? Mengapa dibuat-buat untuk bermain seperti ini? Niatnya baik, tetapi yah agak ...


Setelah menempelkan kertas jimat itu di setiap luka Si Anak Kecil, Ling Xiao bangkit lagi. "Jangan berlatih terlalu keras. Kau itu Si Wei, jadi tak akan sulit masuk ke Pengadilan Tinggi saat dewasa," ujar Ling Xiao yang tahu sebab dari anak ini terjatuh.


Pasti karena kelelahan. Di atas bukit adalah lapangan pelatihan. Anak ini pasti dipaksa untuk berlatih, dan pelatihnya tak tahu jika anak ini terjatuh. Kasihan sekali.


"Anda tahu jika saya Wei Wuxie?" tanya anak itu dengan polosnya.


Aku tak tahu kau Wei Wuxie, aku tahunya kau Anak Si Wei itu! Dia sudah tua sekali dan punya anak, padahal seumuran denganku.


Namun Ling Xiao malas berbicara langsung, dan memilih berbicara dalam hati.


"Sudahlah. Pulang saja. Besok lagi berlatih," ujar Ling Xiao malas berbicara lagi.


"Tidak bisa."


Ya sudah. Pergi berlatih sana dan ikuti kemauan ayahmu yang terlalu keras itu! Kenapa bilang padaku?


"Kata Ayah, Tuan Putri yang tinggal sejak kecil di Desa akan di perkenalkan di muka umum. Saya harus menjadi pengawalnya," ujar Wei Wuxie kecil ini dengan semangat.


Oh iya. Bukannya Ling Xiao satu minggu lagi diperintahkan untuk mendampingi pasukan pengawal Putri ini?


Demi keselamatan Tuan Putri Kerajaan Li satu-satunya ini, dia dibesarkan di desa kecil yang jarang terjamah pendatang. Di sana dia dibesarkan dengan sederhana, dan saat berusia sepuluh tahun, Putri ini akan dijemput lagi ke Istana Kerajaan Li.


Bagaimana rupa Putri ini, mungkin Raja sendiri tak tahu. Karena dia sudah dibawa sejak baru lahir. Permaisuri Jiang Ning juga menemui gadis kecilnya itu saat masih bayi saja. Saat sudah beser gadis kecil itu hanya tinggal bersama beberapa pelayan terpercaya.


Ling Xiao berbalik untuk melihat pada Wei Wuxie, "Kau tak usah khawatir, kau pasti akan menjadi orang kepercayaan Putri nantinya," ucap Ling Xiao tanpa pikir panjang.


Karena status anak ini sebagai keturunan Wei, dia akan lebih dekat dengan Keluarga Kerajaan. Ditambah lagi kesetiaannya juga tak main-main. Sehingga tanpa melihat garis takdir anak ini, Ling Xiao sudah tahu jika Wei Wuxie ini akan seperti apa nantinya.


"Benarkah?" teriak Wei Wuxie dengan riang.


Bahkan tanpa sadar bangkit dengan mudahnya. Wei Wuxie menyentuh dahinya yang sudah tak tertutup lagi oleh jimat. Saat Wei Wuxie bergerak, kertas jimat itu terbang melayang. Saat itulah Wei Wuxie menyadari jika luka yang ada di tubuhnya telah hilang. Sungguh hilang dan rasa sakitnya juga hilang. Seperti memang tak pernah terluka.


Hanya sisa darah yang menempel di sana. Bagaimana bisa?


Wei Wuxie membuka lagi kertas jimat yang ditempelkan Ling Xiao di lututnya. Dan benar saja ... Tidak ada luka lagi di sana.


Akan tetapi, Wei Wuxie melihat Ling Xiao menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri. Pertanda agar Wei Wuxie tak banyak bicara lagi.


"Ini rahasia kita berdua," ujar Ling Xiao dengan senyum tipisnya. Sekilas Wei Wuxie melihat bola mata Ling Xiao yang berubah.


Tidak.


Itu terjadi hanya sekilas dan sangat cepat. Wei Wuxie sendiri tak yakin apakah dia salah lihat atau tidak. Namun sebelumnya, mata Ling Xiao berubah ... Sebelah kirinya berwarna kuning seperti emas, dan mata kanannya berwarna biru seperti langit.


Terjadi hanya sekilas dan sangat indah.


Sejak dahulu ... Ling Xiao itu murni dan tenang seperti air embun di pagi hari. Akan tetapi, kemurnian itu membuatnya seperti tak bisa digapai orang lain. Dia tak bisa dimengerti dan tak diketahui orang lain.


Apa yang sebenarnya Ling Xiao lihat di dunia ini?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi..


Bagaimana?


Bingung ya?


Sama!


Jadi ya, emang begitu. Terkadang pemikiran manusia tak bisa dimengerti. Sekalinya mengerti, bukan berarti kau bisa mengetahui 'apa yang dia pikirkan'. Memahami pun bukan berarti bisa diatasi.


Terkadang lebih baik yang rahasia terus jadi rahasia. Mungkin kau bisa menjalani hidup dengan lebih menantang, karena kau tak tahu masa depan depan. Tapi Ling Xiao melihat masa depan seperti buku yang terbuka. Dia merasa bosan karena tahu, dan saat Putri Li Wei mengubah takdir itu ... Ia menyadari bahwa masa depan yang ia lihat dulu, dan sekarang berubah.


Artinya, ... Tak ada yang terus tetap, dan yang bisa mengubahnya adalah dirimu sendiri.


So, selamat berpusing ria karena cerita ini selain panjang, juga tak masuk akal. Namun berusaha dicocokologi oleh otak ularnya aku.


Sekian dan maaf karena membuat harimu pusing. Dan wowww ... sudah 200 chapter aja! Padahal jarang update. Entah sepanjang apa cerita ini, aku tak tahu. Ide itu datang tak terduga, seperti sapi yang menghampiri di kala mencuri di kebun tetangga.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2