
Ketika Yi Hua mendarat ke lantai ia menyadari bahwa dia bukan berada di tempat yang seharusnya. Sehingga rasa sakit di pinggangnya akibat terjatuh ke lantai tergantikan dengan rasa heran. Terutama ketika menyadari bahwa istana yang ia lihat sebelumnya telah lenyap.
Jelas-jelas aku membuka pintu depan istana. Sehingga seharusnya aku berada di depan istana, bukan?
Yi Hua menoleh ke sana-sini hanya untuk memastikan lokasi. Akan tetapi, meski ia mengedap-kedipkan matanya hingga matanya berair pun, dia masih menemukan ruangan lagi. Dan, lebih buruknya ini adalah ruangan temaram yang nyaris seperti penjara bawah tanah di Kerajaan Li.
Bagaimana bisa ini terjadi?
"Mungkin saja Hua Yifeng tahu tentang kau yang melarikan diri. Kemudian, dia memindahkan dirimu ke penjara untuk digantung," jelas Xiao yang malah memperburuk suasana.
Yi Hua bangkit dari posisi menyedihkannya sambil mengusap pinggangnya dengan sayang. Kini pakaian indahnya juga terlihat seperti kain lap. Warna yang sebelumnya membuat Yi Hua tampak seperti bunga, kini malah membuatnya seperti tumpukkan kain berjalan.
KRAK!
Yi Hua yang jengkel dengan pakaian yang terlalu banyak hiasan, akhirnya menanggalkan segala macam hiasan itu. Bahkan dia membuka hiasan rambutnya, dan mengambil tali jimat yang disimpannya di dalam saku. Tanpa memikirkan penampilannya, Yi Hua mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda.
Selesai! Ini baru namanya berpakaian.
Xiao menghela napasnya saat tahu bahwa Yi Hua ini adalah makhluk yang sedikit aneh. Bagaimana pun Yi Hua ini adalah seorang kecantikan. Akan tetapi, dari segi mananya Yi Hua bisa dikatakan sebagai cantik!?
Yi Hua mengorek telinganya saat tahu bahwa dirinya sedang dibicarakan oleh Xiao.
"Yi Hua, kasihanilah raga kecantikan yang dimiliki oleh peramal sampah ini," ucap Xiao dengan nada penuh kesedihan.
Yi Hua melipat tangannya di dada. "Kau menyebut aku untuk mengasihaninya, dan kau sendiri juga yang mengatakan bahwa Yi Hua adalah sampah. Sekarang aku adalah Yi Hua!"
Inti dari segalanya ialah telinganya agak sakit ketika harus disebut sebagai sampah seperti itu. Bagaimana pun ia mulai mengerti mengenai kehidupan Yi Hua. Dia hanyalah seseorang yang hidup dengan segala macam omong kosong, sehingga tak akan aneh jika dia selalu menebar omong kosong.
Itu sama seperti kau hidup dalam keluarga yang sempurna, maka ketika keluarga itu berantakan semuanya akan menjadi sangat buruk. Lain halnya dengan orang yang terbiasa menderita dan berbohong, maka dia akan senantiasa berbohong. Dengan kata lain, setiap orang hidup dengan diikuti oleh satu hal, yakni kebiasaan.
Namun ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan alasan di balik sebutan 'sampah' yang melekat pada Yi Hua. Lebih penting dari segalanya, ia harus mencari dua orang Perdana Menteri itu. Meski Yi Hua yakin bahwa Huan Ran bisa melindungi dirinya, tetapi Liu Xingsheng agak meragukan.
Yi Hua meraba-raba dinding yang terasa agak basah. Biasanya jika dinding di sekitar agak basah, maka mereka berada di kawasan bawah. Seperti berada di bawah tanah, atau kawasan dengan atap bocor. Yah, itulah yang Yi Hua pikirkan.
"Aku berpikir bahwa pintu Istana Awan terhubung dengan berbagai tempat. Seperti ..."
Perangkap yang menjebak.
Itu sama seperti kau mengurung seseorang dalam labirin. Kau akan berputar-putar dan menemukan tempat yang membuatmu akan berpikir keras. Sayangnya, jika tak menemukan jalan yang sebenarnya, maka itu hanya akan menjadi omong kosong semata.
Yi Hua menjadi lelah sendiri.
BUGH!
Yi Hua menajamkan telinganya ketika mendengar suara pukulan keras. Matanya mengedar dalam ruangan temaram hanya untuk mendapati matanya sedikit buram. Dalam semi kegelapan seperti ini matanya terlihat seperti sakit karena gelap. Sehingga ia tak tahu dari arah mana suara itu datang.
"Dari sana!" ucap Yi Hua ketika mendengarkan arah suara.
Ia berjalan dengan agak cepat sambil berdoa tentang ruangan ini. Bagaimana pun Yi Hua tak ingin bertemu para hantu atau mayat bergelimpangan di ruangan ini. Itu pasti akan menjadi teror tersendiri baginya. Apalagi jika sampai kakinya menginjak-injak organ tubuh yang bergelimpangan di lantai.
__ADS_1
Sensasinya itu, lho!
"Dimana?"
Yi Hua mengerutkan keningnya ketika mendengar suara itu. Dengan gerakan paling lembut yang pernah bisa ia lakukan, ia meraba dinding lagi hanya untuk maju beberapa langkah. Hingga sebuah cahaya datang dari lubang dinding.
"Yi Hua mengintip itu tak baik!"
Yi Hua mengabaikan apa yang dikatakan oleh Xiao. Ia berusaha memperhatikan keadaan di dalam ruangan melalui celah dinding. Pada awalnya, dia masih berusaha menyesuaikan matanya. Dan, ia menyadari bahwa celah itu berada tepat di belakang seseorang yang tengah duduk.
Mengapa seperti itu?
Itu semua karena Yi Hua bisa melihat rambut, dan bahunya.
Apakah itu mayat?
Yi Hua jelas tak ingin punya pengalaman menarik dengan mengintip tepat di belakang di hantu ataupun ada mayat di depannya. Akan tetapi, tak lama ia melihat 'si mayat' itu bergerak. Lalu, suara pukulan keras menyusul begitu saja.
Yi Hua tercengang.
BUAKH!
"Kau tak pernah bisa melakukannya, Tuan Zhang."
Tak lama Yi Hua juga bisa melihat seseorang yang ia kenal di sana. Itu adalah pengawal bercadar yang sebelumnya. Sepertinya dia adalah tukang pukul dari Hua Yifeng.
Lalu, dimana Hua Yifeng?
Sekarang Yi Hua tak tahu lagi mana yang lebih membuatnya terkejut. Apa itu fakta bahwa dia yang terkejut karena was-was tentang keberadaan Hua Yifeng, atau fakta tentang Xiao yang menyeletuk tiba-tiba. Yang ia tahu hanyalah jantungnya berdebar kencang.
Apa yang kau lakukan, Xiaoxiao?
"Dia adalah Zhang Yi."
Yi Hua menepuk tangannya dengan ekspresi sama terkejutnya. "Ah, dia Zhang Yi."
Namun tak ada kalimat lain yang disebut oleh Yi Hua. Sehingga Xiao yakin bahwa Yi Hua hanya ikut-ikutan, tetapi orang ini tak tahu apa yang ia maksud. Seharusnya dia tak menyebut kalimat yang sangat singkat pada Yi Hua yang masih baru ini.
"Katakan saja bila kau tak tahu."
Siapa bilang aku tak tahu!.
Tentu saja ia tahu tentang Zhang Yi. Ketika dia berjaga di halaman depan istana Putera Mahkota, ia menyadari bahwa ada sedikit keributan. Hal itu ia dapatkan dari pembicaraan-pembicaraan para pelayan. Yah, jika kau ingin tahu berita paling terbaru, datang saja pada kerumunan para kecantikan.
Biasanya begitu ...
Inti dari itu semua ialah Zhang Yi adalah seorang Pejabat Tinggi Kerajaan Li yang menghilang dalam misinya. Pria itu ditugaskan untuk menyelidiki tentang kasus orang hilang. Kasus yang sama seperti Huan Ran dan Liu Xingsheng sekarang.
Itu sudah membuktikan bahwa kasus ini sangat berat.
__ADS_1
Katanya, ada banyak kecantikan di Kerajaan Li yang hilang tanpa jejak. Tidak ada mayat yang ditemukan, dan tidak ada kabar tentang mereka. Hal itu terjadi sejak lima tahun yang lalu.
Benar. Lima tahun yang lalu, dan ada sekitar lima belas gadis yang menghilang. Mereka menghilang dalam kurun waktu empat bulan sekali. Waktunya juga sangat bertepatan. Masalahnya adalah selama lima tahun itu, tidak ada titik terang dalam kejadian ini. Sehingga ingin menimbun dupa untuk mereka saja keluarga mereka tak bisa.
Sebab, jauh di dalam hati mereka hanya ada keinginan untuk menemukan mereka hidup-hidup.
Dan, baru-baru ini gadis kelima belas yang hilang, dan tak lama Zang Yi juga menghilang.
Ini sangat tak biasa karena biasanya yang diculik adalah seorang gadis. Dan, sekarang Yi Hua tahu alasannya. Semua itu karena Zhang Yi ditangkap oleh Hua Yifeng.
Lalu, apa Hua Yifeng berkaitan dengan kasus hilangnya para gadis ini?
"Biasanya kau akan berburuk sangka pada Hua Yifeng. Kau akan menyebut bahwa Hua Yifeng pasti menculik para kecantikan, begitu?" tanya Xiao yang lebih pada dugaan.
Tidak aku hanya berpikir!
Bagaimana jika memang benar?
Bukankah Yi Hua sekarang sekarang diculik oleh Hua Yifeng? Bisa jadi dirinya adalah gadis keenam belas. Jika seperti itu, maka Hua Yifeng pasti tahu tentang identitas Yi Hua?
Untuk sementara hanya itu dugaan yang bisa Yi Hua pikirkan sekarang.
BUAKH!
"Tuan Zhang, dia tak akan kembali."
Apa maksudnya?
KREK!
JAP!!
Belum sempat Yi Hua berpikir terlalu banyak, mulutnya sudah dibekap dari belakang. Yi Hua segera diseret agak menjauh dari ruangan itu. Sehingga dia hanya bisa memberontak. Sikunya segera mengarah ke perut orang yang membekapnya. Lalu ...
BUKH!
"Aduh!"
Eh??
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Maaf cerita ini sangat lambat untuk di up, aku menyadari bahwa chapter-chapter awal adalah saat yang sangat penting. Sehingga aku menjadi sedikit bingung untuk mengatur cerita. Sama seperti di novel sebelumnya, aku sering up lambat di chapter awal karena aku masih mengatur cerita demi cerita yang bisa membawa novel ini ke topik utama.
Yah, katakanlah segala macam dugaan hanya bisa menjadi dugaan. Sebab, itu tergantung dari bagaimana cerita ini dibawa nantinya. Oleh karena itu, mohon bersabar dengan keanehan author ini 🤧🤧
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya
Adios~