
Yang dilihat Yi Hua seperti bayangan kabur tak terdefinisi. Bahkan pikirannya sedang sangat bingung, hingga dia lupa sendiri dimana dirinya. Seperti apa dirinya saat melihat itu pun, Yi Hua tak mengetahuinya.
Namun yang lebih penting dari segalanya Yi Hua melihat Yue Yan mengangkat kepalanya yang benjol. Di matanya sekarang Shen Qibo muda ini terlihat sangat menyebalkan. "Jika kau ingin membeli sapi. Belikan aku satu."
Shen Qibo tertawa renyah. Itu tak jauh berbeda dari Shen Qibo yang sekarang. Dia masih senang tertawa, tetapi dengan aura yang agak berbeda. Shen Qibo terlihat sangat bersih dan murni. Di mata Shen Qibo hanyalah sebuah kebaikan yang memuakkan.
Kenaifan masa muda tak bisa dibuang. Sampai kapan pun. Ketika kita mengingat kembali tentang masa itu saat kita seperti sekarang, maka akan sangat memalukan. Ini sama seperti saat kecil kau percaya bahwa mengubur rambut kita bersama lawan jenis di tanah bisa membuat kita berjodoh nantinya.
Entah dimana Yi Hua mendengarnya.
Namun dari penampilannya, Yi Hua bisa menyebut anak ini sebagai anak orang kaya. Anak orang kaya yang tersesat di hutan.
Shen Qibo dengan nyaman duduk di sebelah Yue Yan. Pria kecil itu terlihat tak begitu masalah dengan kondisi Yue Yan yang bau. Itu jelas karena Yue Yan baru saja diceburkan ke dalam sampah oleh anak-anak di desa.
Apakah hal semacam ini menjadi sangat populer?
Menindas orang lain seolah orang lain lebih rendah, dan tahan banting meski kau tindas. Atau bertingkah seolah apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang kita lakukan normal. Bagaikan kau tak tahu lagi jika apa yang kau lakukan sudah melanggar batasan kemanusiaan.
Hal semacam ini, siapa yang membudidayakan?
Menyebalkan!
Yue Yan menatap aliran air di hadapannya. Seolah berkaca untuk melihat keadaanya sendiri. Akan tetapi, matanya terlihat agak kosong seperti biasanya. Tak ada kesedihan, dan seperti sebuah kesedihan adalah kewajaran dalam hidupnya.
Shen Qibo mengangkat bahunya. "Bukankah itu menarik?"
Kepala Yue Yan yang menunduk menatap singa beralih pada Shen Qibo. Entah bagaimana Shen Qibo menghadirkan kesan yang menyebalkan bagi Yue Yan. Ini layaknya kau begitu benci orang yang menggurui setelah kau sial beberapa kali.
Yah, Yi Hua entah mengapa bisa mengerti persoalan ini.
Cukup menyebalkan saat kau sedang sedih, marah, dan menyakitkan. Lalu, seseorang datang, dan memberikan kalimat motivasinya seolah dia mengerti semua kesedihan orang lain. Padahal jika dia mengalami hal yang sama denganmu, entah bagaimana ia menanggapinya. Percayalah lebih baik untuk tidak menjadi penuh omong kosong dalam masalah orang lain.
Namun Yi Hua menyadari Shen Qibo benar-benar seperti kain putih, yang bahkan kita sendiri takut untuk mengubahnya. Mungkin Yue Yan berpikir hal yang sama tentang itu. Oleh karena itu, Yue Yan terlihat agak segan.
"Benar. Pemandangan di sini sangat menarik," balas Yue Yan yang tak tahu apa yang sebenarnya dimaksud oleh Shen Qibo.
SRET!
Tangan Shen Qibo menarik sesuatu dari rerumputan, dan itu adalah ular putih. "Maksudku hewan ini ..." Dan ular putih kecil itu meliak-liuk ekornya di tangan Shen Qibo tanpa mematuk.
Yah jelas saja. Shen Qibo kepala ular dengan tangannya. Sehingga ular putih itu tak bisa membuka mulutnya. Namun pemandangan orang yang mengguncang-guncangkan ular seperti yang Shen Qibo lakukan tetap aneh di mata Yi Hua. Bagaimana bisa mereka memainkan ular seolah dia hanyalah ekor sapi?
Yue Yan menarik ular itu dari tangan Shen Qibo. "Kau menyakitinya!"
"Kau menyalahkannya?" tanya Shen Qibo tiba-tiba yang entah darimana pemikiran itu datang.
Bahkan Yue Yan yang baru saja melepaskan ular itu langsung mengangkat kepalanya. Menatap langsung pada Shen Qibo yang ternyata membaringkan tubuhnya di permukaan batu sungai. Pakaian Shen Qibo yang serba putih membuat dirinya terlihat kontras dengan bebatuan sungai.
Lagipula, Yue Yan baru pertama kali ini melihat Shen Qibo. Hal itu sudah menunjukkan bahwa Shen Qibo sebenarnya bukan orang dari desa mereka. Oleh karena itu, Shen Qibo tidak takut untuk berbicara dengannya.
Jika pria 'bersih' ini penduduk desa mereka, maka ...
"Itu sedikit picik saat kau menganggap orang lain aneh hanya karena sesuatu di sekitarnya. Apalagi tentang 'keluarga' yang kau milikki," jelas Shen Qibo sambil memejamkan matanya.
Yue Yan mengerti apa yang dimaksud oleh Shen Qibo. Bagaimana pun sejak kecil dia 'seperti' dibesarkan oleh hewan beracun. Entah bagaimana keajaiban ini bisa terjadi, tetapi Yue Yan adalah anak yang dibuang ke hutan oleh orang tuanya.
Kemudian, banyak yang mengatakan bahwa Yue Yan seperti dibesarkan oleh hewan-hewan di hutan. Khususnya ular besar yang menjaga hutan. Yue Yan juga tak tahu bagaimana itu terjadi, tetapi dia hidup hingga sebesar ini.
Lalu, ...
"Apakah kau tidak takut padaku? Mungkin sebenarnya aku bukanlah manusia. Yah, walau aku sebenarnya tak tahu juga. Bagaimana mungkin ada anak bayi yang bisa terus hidup di hutan? Lalu, dia sebesar ini ... ha ... ha ... Pantas saja orang lain ketakutan." Yue Yan tertawa hampa sambil melempar batu ke sungai.
Batu itu tentu saja tetap tenggelam seperti yang diharapkan oleh takdir alam. Semua di dunia ini bergerak sebagaimana takdirnya. Semua komponen hidup atau mati bertindak seperti takdirnya, tetapi Yue Yan tidak. Dia masih hidup dengan cara yang aneh.
__ADS_1
"Apa seorang anak bisa memilih bagaimana dia bisa hidup?" tanya Shen Qibo lagi.
Shen Qibo membuka matanya, dan Yue Yan bisa melihat betapa jernihnya warna mata Shen Qibo. Namun yang lebih menariknya lagi ialah Shen Qibo adalah orang pertama yang berbicara seolah mereka adalah individu yang normal. Lagipula, siapa orang ini yang datang tanpa ada kata, dan namanya pun tak Yue Yan ketahui.
Lalu, Shen Qibo bangkit lagi. "Jika seseorang bisa memilih bagaimana dia hidup dan dibesarkan, maka semua anak akan hidup seperti bunga. Akan tetapi, itu bukan berarti dia aneh. Sama seperti orang lain memelihara hewan ternak, apa yang salah dengan dikelilingi oleh bintang berbisa. Itu sama saja dengan yang kau punya."
"Tapi, ini ...
Semua orang takut padaku ....
Yi Hua yang bisa mendengar semua pemikiran dari Yue Yan mau tak mau menarik senyumnya pilu. Ini layaknya kau ingin mendapat hidup normal, hidup yang seringkali disebut orang lain sebagai monoton, tetapi itu ternyata berharga. Lalu, apa seseorang pantas untuk mengeluh saat hidupnya lebih normal dibanding orang lain?
Shen Qibo menepuk pakaiannya yang serba putih. "Sudahlah. Aku harus kembali. Mungkin mereka akan menggantung diriku jika aku lebih lambat lagi."
"Mereka?"
"Jika kau tumbuh besar dengan hewan berbisa, maka aku tumbuh besar dengan orang-orang gila itu. Anggap saja begitu," jelas Shen Qibo dengan nada malas.
Lalu, Shen Qibo berjalan menjauh dari Yue Yan tanpa pamit sedikit pun. Hal itu membuat Yue Yan mengerutkan keningnya. "Hey, siapa namamu?"
Dan, Shen Qibo menolehkan kepalanya dan menjawab: "Kau tak perlu tahu."
Apa maksudnya?
Setelah mengatakan itu, Shen Qibo berjalan semakin menjauh hingga sosoknya tak tampak lagi di pandangan Yue Yan. Menyisakan Yue Yan yang duduk di belakangnya bersama hewan-hewan berbisanya. Dan, Yue Yan pikir itu adalah pertemuan pertama dan terakhir kalinya untuk mereka berdua.
Mereka adalah dua orang asing yang bertemu dan saling bicara.
Itu saja.
***
SRAT!
"Yi Hua ..."
Entah bagaimana An melihat apa yang terjadi sebagai suatu kenormalan. Lalu, Yi Hua membuka matanya kembali setelah tubuhnya sempat mendingin beberapa menit sebelumnya. Juga, ... Tangan Yi Hua kembali tersambung.
"Uhuk ... Uhuk ... Tuan An, saya ..." Yi Hua berbicara sambil terbatuk-batuk.
An segera membantu Yi Hua untuk berbaring dengan agak tinggi. Hal itu membuat Yi Hua menyadari bahwa dia terbaring di sebuah tempat tidur. Keadaannya berubah semenjak terakhir kali yang Yi Hua ingat.
Bukankah dia sebelumnya berada di sumur? Bersama Yue Yan dan Shen Qibo?
Yi Hua menekan dadanya yang agak sakit karena tarikan napasnya sendiri. "Dimana mereka?"
TAP!
Mata Yi Hua terpejam saat An menekan sebuah kain yang terasa dingin di dahinya. An menekannya seolah tak membiarkan Yi Hua untuk bangkit. Rasa segar dan nyaman langsung terasa di dahinya. Tentu saja dengan cara ini, Yi Hua tak bisa wajah An.
"Pikirkan dahulu tentang keadaanmu."
Hanya itu yang disebut oleh An. Suaranya tetap tenang seperti biasanya, sehingga Yi Hua pikir tak ada masalah. Walau nyatanya An mungkin melihat apa yang terjadi pada Yi Hua sekarang.
'Kembali ke Awal' telah dialami olehnya. Yi Hua bangkit lagi dari kematiannya.
"Tuan An ..."
"Hmm ...?"
Yi Hua tak tahu harus mengatakan apa, dan karena itu dia diam.
"Aku tak bertanya, Yi Hua."
__ADS_1
Itu sudah akhir dari perbincangan tentang keadaan Yi Hua.
Mungkin pria ini berpikir bahwa apa yang terjadi padaku tak begitu penting.
Sebab, sejatinya mereka hanya dua orang yang tak begitu dekat. Itu saja.
Lalu, An menarik kembali kain itu dari dahi Yi Hua. Di sana Yi Hua bisa melihat kembali ke keadaan sekitar. Mereka saat ini berada di sebuah kediaman yang cukup luas. Di dinding-dindingnya tergantung banyak lukisan yang dominasi oleh warna merah. Hingga mata Yi Hua sedikit susah menangkap warna lainnya dari lukisan itu.
"Dimana ini?" tanya Yi Hua ketika dia mengusap matanya yang sakit karena warna merah itu.
Yi Hua belum mendengar suara Xiao, itu mungkin karena Xiao juga sedang menyesuaikan diri. Baru-baru ini Yi Hua menyadari bahwa Xiao juga akan terkena efek apabila kemampuan itu berjalan. Ini sama seperti kau mengulang kembali sebuah alat saat mati sejenak.
Belum sempat An menjawab, sebuah pedang terbang melintas di samping kepala An. Jika An tak punya kecepatan yang memadai, mungkin saja kepala An akan bocor karena pedang itu. Dan, An menangkapnya dengan dua jari, serta mengembalikannya ke arah pintu.
"Sayang sekali. Jika aku bisa membunuhmu mungkin aku bisa membuat lukisan baru."
Heh?? Jadi, warna merah ini dari darah?
An segera menutup mulut Yi Hua yang menganga dengan tangannya. Itu hanya terjadi sebentar, sebelum An menarik tangannya kembali. Hal itu membuat Yi Hua menyentuh dagunya sendiri. Hanya karena takut air liurnya akan keluar akibat menganga.
Akan tetapi, itu tak terjadi dan Yi Hua hanya menghela napasnya lega.
Entah mengapa aku selalu dalam momen yang memalukan jika di depan An ini -_-.
"Selamat datang ke kediaman saya, Tuan Yi. Saya sudah mendengar tentang bakat cenayang Anda sebelumnya. Itu luar biasa," ucap pria dengan pakaiannya yang sangat menarik mata.
Bagaimana tak menarik mata jika dia warnanya sangat mencolok. Yi Hua nyaris ingin buta karena warna merah di depannya.
"Siapa dia?" bisik Yi Hua sambil mendekatkan kepalanya pada An.
Hal itu membuat An menahan kepala Yi Hua yang ingin bergerak. Bagaimana pun Yi Hua baru saja sadar. Sehingga dia tak boleh terlalu banyak bergerak.
"Dia adalah orang gila."
Pria itu mengusap pedangnya yang dilemparkan oleh An kembali sebelumnya. "Jahat sekali. Bagaimana bisa kau memanggil temanmu dengan sebutan gila?"
Teman?
"Ling Xiao. Kau bisa menyebutku seperti itu." Pria itu mengedipkan matanya pada Yi Hua.
Ling Xiao.
"Dia adalah seorang pelukis yang bisa meramal masa depan. Jika dia melihat seseorang, dan melukis orang itu, maka yang terlihat bukanlah 'orang'. Melainkan takdirnya." Kali ini Xiao yang menjelaskan pada Yi Hua.
Seseorang yang dahulu menjadi peramal di Kerajaan Li sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ling Xiao diusir begitu saja karena ramalannya salah. Sejak itu pewarisan tahta di Kerajaan Li juga berubah.
Dalam catatan sejarah, dahulu Kerajaan Li menurunkan tahtanya bukan melalui darah. Saat Raja terdahulu mendekati tutup usia, maka peramal akan mengatakan takdir penerus. Walau biasanya ramalan itu tetap saja akan jatuh ke keluarga Kerajaan Li. Seolah memang ditakdirkan oleh langit bahwa Kerajaan Li terus dipimpin oleh orang-orang dari garis keturunan yang sama.
Namun Ling Xiao mengatakan ramalan yang salah, dan menunjuk pada orang yang bukan dari keturunan Li untuk menjadi Raja. Sehingga pertumpahan darah terjadi, dan itu adalah masalah besar untuk Kerajaan Li. Salah satu masalah yang muncul pada masa itu ialah mawar hitam, Li Wei. Itu adalah bencana terbesar dalam sejarah Kerajaan Li.
Ada banyak kekacauan pada masa itu. Kekeringan panjang, panen memburuk, dan bahkan mereka nyaris dikuasai oleh kerajaan lain yang memanfaatkan penurunan mereka. Semua itu dianggap orang-orang sebagai petaka dari ramalan Ling Xiao.
Oleh karena itu, takdir tahta diturunkan dengan cara yang berbeda hingga saat ini. Bukan lagi dari ramalan, melainkan dari garis darah Kerajaan Li. Sehingga kini tahta jatuh pada Li Shen, yang merupakan satu-satunya darah Li yang tersisa.
Dengan kata lain, ...
Orang ini adalah senior-ku dalam dunia peramal, bukan?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~