Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Api Phoenix 6: Mempercayai dan Dipercayai


__ADS_3

Yi Hua menatap bingung pada sebuah kediaman yang sangat kumuh. Jika kediaman Yi Hua agak kumuh, maka tempat ini sangat-sangat kumuh. Bahkan kau bisa melihat ada tumbuhan baru yang ikut menumpang hidup di atapnya. Sebagian atap jeraminya juga sudah menghilang entah kemana. Ditambah lagi dengan salah satu bagian dindingnya yang jebol.


Pertanyaannya adalah mengapa An membawa Yi Hua ke tempat ini?


"Biasanya jika kau ingin membunuh seseorang, maka lakukan di tempat yang sepi," ujar Xiao memberi petuah.


Yi Hua untuk kesekian kalinya ingin mencekik Xiao. Bagaimana pun sistem ini tak pernah berniat memberi Yi Hua solusi. Yang ada Xiao akan selalu memberinya tekanan darah tinggi setiap harinya. Yah, walau Xiao itu agak berguna kadang-kadang.


"Xiao, bukankah aku meminta mu untuk menyelidiki tentang aura dari An sebelumnya? Mengapa kau belum memberikan aku jawaban?" tanya Yi Hua dalam hati.


Xiao terdengar seperti siap mengumbarkan semua isi hatinya. "Apa kau mengerti betapa liarnya energi dari An ini? Ini seperti kau memperhatikan sesuatu yang sama sekali tak jelas. Pada akhirnya, kau hanya tahu dia kuat, tetapi tak tahu bagaimana caranya dia bisa kuat. Dia seperti memiliki selubung di dalam dirinya. Seperti bukan manusia, tetapi di satu sisi dia memang manusia."


Apakah memang serumit itu?


Atau, ... Apa An ini sebenarnya adalah cangkang manusia? Mungkin saja dia adalah 'boneka' yang dikirim oleh kerajaan untuk mengawasi Yi Hua. Jika begitu, orang kerajaan yang mengirimnya pasti memiliki kekuatan yang sangat besar. Akan tetapi, sejauh yang Yi Hua ingat, tidak ada pejabat kekaisaran yang memiliki kekuatan bertarung lebih hebat dibandingkan dengan Huan Ran. Dan, Huan Ran, jelas tak lebih kuat dari An.


SRET!


Yi Hua yang melamun langsung sadar saat An berdiri di hadapannya. Mungkin dia terlihat seperti orang yang tengah tertidur dengan mata di terbuka sekarang. Sehingga akan datang untuk memeriksa jika Yi Hua tak akan kesurupan saat ia berdiri.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya An pada Yi Hua. Tatapannya masih tajam seperti sebelumnya. Dan, Yi Hua tahu bahwa An masih dalam perasaan yang buruk.


Yi Hua menunjuk pada rumah yang sudah jebol di sana-sini itu, "Kediaman ini memiliki keindahannya tersendiri. Apalagi di atapnya. Seperti bisa bercocok tanam di dalam rumah, tanpa perlu membajak tanah," ucap Yi Hua asal.


An mengulurkan tangannya ke wajah Yi Hua, dan itu membuatnya harus menutup mata. Ia tak mau jika An mencolok matanya. Namun pria itu sepertinya tak sekejam yang Yi Hua pikirkan. Sebab, An hanya mengusap kelopak mata Yi Hua yang terkena debu. Jika dibiarkan, mungkin Yi Hua akan kelilipan dalam hitungan detik.


Masalahnya adalah ... Yi Hua baru menyadari jika An begitu memperhatikannya. Entah mengapa.


Yi Hua mendadak bertanya lagi, "Xiao, apa dia benar-benar pengawas kerajaan? Mengapa matanya sangat jeli memperhatikan aku?"


Lalu, Xiao malas untuk menjawab. Dia sekarang menjadi sangat kasihan pada An. Bagaimana pun Yi Hua diciptakan dengan kepekaan yang sangat jauh dari rata-rata. Itu sangat aneh, padahal Yi Hua sangat peka tentang perasaan seseorang terhadap orang lainnya. Mengapa dia tak peka pada perasaan orang lain terhadapnya?


Atau, Hi Hua hanya segelintir orang yang tak ingin bergantung pada orang lain?


Katanya, jika kau mulai memiliki perasaan pada orang lain, di sana kau mulai merasa ingin bergantung. Entah dalam hal mencurahkan perasaan, atau di masa-masa kau membutuhkan seseorang untuk menemani. Itu adalah hal yang sedikit aneh, dan kau langsung memahami bahwa manusia sebenarnya tak bisa hidup sendirian.


"Mengapa kita kemari, Tuan An? Seharusnya kita menemui para Perdana Menteri." Yi Hua segera menjauhkan wajahnya dari jarak yang bisa An sentuh.


Lalu, ia menggantikan tangan An sebelumnya. Ia menggosok kelopak matanya dengan lengan begitu saja. Seolah dia tak begitu perduli pada kebersihan dan lain-lain.


"Mereka ada di sini."


Yi Hua mengerti.


Desa Yi adalah desa yang jauh. Tidak ada penginapan di sana. Juga, tak ada tempat persinggahan bagi para pengunjungnya. Dan, jelas mereka tak memiliki kerabat di sana. Sehingga mereka tak bisa berdiam di tempat orang lain untuk istirahat.


Baru saja Yi Hua berniat untuk masuk, An tiba-tiba bergeser lagi untuk menghentikannya. "Aku bertanya padamu, apa yang kau pikirkan?" tanya An sekali lagi.


Yi Hua menghela napasnya. "Tuan An siapa Anda sebenarnya? Apa Anda cangkang manusia?" tanya Yi Hua langsung.


"Hey, bagaimana bisa kau tidak sopan seperti itu? Aku sudah mengajarimu untuk bicara yang sopan saat bersama orang lain!" ujar Xiao seperti ibu-ibu yang menasihati anaknya.


An memicingkan matanya. "Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?" Namun pria ini tak terlihat terganggu dengan apa yang Yi Hua tanyakan.


"Terkadang Anda terlihat seperti tidak punya ekspresi, dan sangat tenang. Anda juga memiliki kemampuan bertarung yang hebat," terang Yi Hua tanpa mementingkan apa yang Xiao katakan sebelumnya.


An menghela napasnya. "Tenang adalah hak yang baik untuk dilakukan. Kau tak bisa bertarung dengan pikiran yang kacau."


Itu masuk akal.


Namun An tetap saja aneh di mata Yi Hua.

__ADS_1


"Lagipula, aku hanya bertanya-tanya mengapa kau mengira aku cangkang manusia. Sebab, aku tak pernah mendengar tentang cangkang manusia yang bisa mencintai," ujar An sambil menatap Yi Hua.


Apa maksudnya?


Lagi-lagi Xiao ingin menangis untuk An.


An mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Yi Hua. "Aku hanya tak pernah mendengar jika cangkang manusia bisa mencintai seseorang. Sehingga dengan perasaan itu, mungkin aku bukanlah cangkang manusia."


Percayalah dari apa yang An katakan, hanya sedikit yang Yi Hua bisa tangkap. Ditambah lagi mata An selalu sama. Pria itu selalu menatap Yi Hua seolah dengan mata yang agak kosong. Juga, selalu ada kesedihan di sana.


Baru saja Yi Hua merasakan tangan An di wajahnya. Lalu, ...


BRAK!


SRAK!


"Yi Hua, kau masih hidup. Huwaaa .... Aku ..." ucapan itu membuat Yi Hua segera menjauh dari tangan An.


Ia segera menatap ke arah Liu Xingsheng yang muncul dari pintu yang tak utuh lagi. Hanya dengan sekali dorongan dari Liu Xingsheng, pintu itu terbuka tanpa bisa ditutup lagi. Itu karena pintunya sudah terletak di tanah.


Liu Xingsheng mendadak heran dengan Yi Hua yang terlihat canggung. "Mengapa kau terlihat seperti tengah sakit perut? Apakah akar-akar itu menyakitimu? Ya ampun ... Biar aku tendang akar-akar itu. Yi Hua jangan menangis ya," ujar Liu Xingsheng secara beruntun.


Huan Ran hanya bisa menghela napas dengan tingkah rekannya ini. Bagaimana mungkin Liu Xingsheng tak menyadari apa yang sudah terjadi. Meski begitu, Huan Ran tak perduli. Sebab, selama An terganggu maka itu bukan urusannya. Dia tetap senang ketika An merasa tak nyaman. Jelas! Karena sejak awal Huan Ran memang selalu bertengkar dengan An.


Namun Yi Hua merasa ingin menendang kepala Liu Xingsheng sekarang. Yah, tetapi karena dia tak mau dipenjara karena menendang kepala Perdana Menteri busuk ini, sehingga Yi Hua memilih untuk diam. Ia hanya mendekat pada Liu Xingsheng, dan meninggalkan An yang entah bagaimana ekspresinya.


"Saya tidak apa-apa, Perdana Menteri Liu," ucap Yi Hua seadanya.


Kemudian, Yi Hua memberi penghormatan. "Apakah Perdana Menteri memiliki informasi tentang kekeringan ini?" tanya Yi Hua untuk membuka diskusi.


Huan Ran melipat kedua lengannya di dada. "Sejauh yang bisa kami pikirkan, itu berhubungan dengan Pohon Phoenix. Hanya saja situasi ini jelas tak bisa didiskusikan dengan penduduk."


"Mengapa?" tanya Yi Hua tak mengerti.


Liu Xingsheng menghela napasnya. "Itu semua karena orang desa ini tak mempercayai Pohon Phoenix lagi. Sebab, Pohon Phoenix sudah layu. Sehingga mereka seperti orang yang menyadari bahwa di sana tidak ada apa-apanya."


Itu masuk akal. Ditambah lagi Yi Hua sudah semakin yakin alasan mengapa Yi Xia bisa menghilang dengan mudah. Bisa saja Yi Xia tetap 'ada' setelah melahirkan Yi Hua di dunia. Namun semakin sedikit orang yang mempercayainya, semakin kecil kekuatan yang Yi Xia miliki.


TUNG!


TUNG!


Perayaan Qixi dimulai. Walau tak seramai Perayaan Qixi di Pusat Kota, tetapi cukup ramai untuk dilakukan di sebuah desa. Sehingga itu sangat menciptakan keramaian pada desa yang agak sepi.


Yi Hua menunjuk ke arah suara datang. "Kita hanya perlu menunjukkan pada mereka bahwa Pohon Phoenix memiliki kekuatan. Akar-akar yang sebelumnya adalah pertanda bahwa Pohon Phoenix masih hidup. Hanya saja dia tak memiliki kekuatan lagi."


"Yi Hua ..." Suara An terdengar seperti memiliki ancaman di sana.


Bagaimana pun Yi Hua sudah terbebas dari jeratan akar. Lalu, sekarang Yi Hua ingin berurusan lagi. Jelas itu seperti ingin menciptakan kerusuhan berikutnya.


Namun Yi Hua tak menghiraukan ucapan An. "Saya pikir kita tak punya pilihan lain untuk mengatasi kekeringan ini. Semuanya dimulai dari memperbaiki alam. Lagipula, pohon adalah sesuatu yang penting di dunia ini. Terlepas dari pohon itu memiliki Dewa atau tidak, tetapi anggap saja ini bagian dari memperbaiki alam."


Yang mereka tak mengerti adalah mengapa Yi Hua berkata seolah ini adalah persoalan mudah?


Huan Ran menatap Yi Hua lekat. "Bagaimana jika ini tak berhasil?"


"Setidaknya kita sudah mencoba."


***


Judul: Phoenix yang Memancing Manusia di Sungai.

__ADS_1


"Hey, aku datang lagi!"


Mengapa manusia ini sangat berisik?


Baru-baru ini Sang Dewa selalu memiliki seseorang yang datang untuk mengganggu. Jika dia tahu begini, lebih baik dia membiarkan sosok itu terbawa arus sebelumnya. Bagaimana pun sosok itu sangat menyebalkan.


"Yi Xia, ini adalah Perayaan Qixi ketiga aku menemuimu. Aku hanya bingung mengapa kau selalu ada di pohon ini? Mengapa kau tak datang ke Perayaan Qixi?" tanya pria itu yang bertanya dalam satu tarikan napas.


Seperti yang pria ini katakan. Shi Heng memang selalu datang setiap tahunnya ke Perayaan Qixi untuk bekerja. Sepertinya karena kualitas kerja Shi Heng yang kurang baik, dia akhirnya ditugaskan untuk meramal di Desa Yi yang sepi. Oleh karena itu, hanya Shi Heng peramal kerajaan yang selalu datang ke Desa Yi.


Dan, entah mengapa setiap tahunnya Si Dewa selalu menunggu Perayaan Qixi.


Dewa itu masih duduk di atas pohon. "Aku memang tinggal di sini."


Shi Heng menunjuk pohon ini dengan ekspresi tak percaya. "Pohon ini? Kau pikir aku bodoh? Mana mungkin kau bisa tinggal di sini. Kau itu bukanlah burung merpati atau ulat daun!" ujar Shi Heng yang merasa seperti orang terpintar di dunia.


Nyatanya Sang Dewa tak yakin jika Shi Heng memang mengetahui tentang identitasnya. Mungkin pria ini adalah orang yang tak begitu perduli pada tentang identitas seseorang. Entah yang mana yang benar.


"Shi Heng." Mendadak Sang Dewa memanggilnya secara langsung.


Pria itu langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap pada Sang Dewa. "Ada apa?"


"Bagaimana jika orang-orang mulai tak mempercayai dirimu lagi?" tanya Sang Dewa yang mulai menyadari bahwa kekuatannya terus melemah.


Shi Heng menepuk dadanya dengan bangga. "Aku adalah Shi Heng. Sejak awal aku tak perduli jika orang mempercayaiku atau tidak. Lagipula, selama kau hidup dengan caramu sendiri, dan cara hidupmu tak mengganggu orang lain, apa yang perlu kau perdulikan?"


Namun ... Seorang Dewa tanpa orang yang mempercayainya itu tak berarti apa-apa. Kepercayaan adalah sesuatu yang membuat Dewa terus ada di dunia ini. Sehingga dia jelas tak bisa hidup seperti yang pria ini sarankan.


"Benarkah?" Hanya itu yang sanggup dirinya katakan.


Shi Heng lalu mengambil daun pohon yang baru saja gugur. Daun Pohon Phoenix cukup menarik, karena warnanya yang merah. Sehingga ketika baru saja gugur kau bisa melihat keindahan dari daun itu.


Lalu, Shi Heng memberikannya pada Sang Dewa. "Lagipula, jika kau perlu orang yang mempercayaimu, aku akan menjadi orang itu."


Apa pria ini memahami apanyanh dia katakan?


Shi Heng melanjutkan. "Aku adalah orang yang akan selalu mempercayai tentang keberadaan dirimu, Yi Xia."


Itu adalah sesuatu yang bisa Si Dewa ingat dalam hidupnya. Seseorang dengan lantang mengatakan bahwa dirinya mempercayai.


Akan tetapi, ... Suatu hari ... Sang pria tak bisa melihatnya lagi.


Di tahun yang entah ke berapa. Pria itu bukan lagi seorang pria muda. Dia terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Lalu, dia datang dan menyadari bahwa Yi Xia yang ia cari tak ada di sana.


Padahal, Sang Dewa ada di sana. Hanya saja Shi Heng tak bisa melihatnya lagi. Entah karena Shi Heng telah kehilangan kemampuan spiritualnya, atau Sang Dewa yang terus memudar. Tak ada yang tahu mana jawaban yang benar.


Hanya saja Shi Heng terus mencarinya, dan Sang Dewa terus menunjukkan bahwa dia ada. Namun tak suara yang bisa Shi Heng dengar. Dan, tak ada sosok yang biasa Shi Heng lihat.


Suara Sang Dewa tak sampai padanya.


Hari itu tak ada percakapan di antara mereka. Semuanya terasa seperti akhir dari cerita ini.


Sebab, apa kau masih bisa mempercayai sesuatu yang tak bisa kau lihat?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2