Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Cerita Perayaan 3: Situasi Dadakan


__ADS_3

Liu Xingsheng melambaikan tangannya dengan keras di atas panggung. Jelas sekali Liu Xingsheng meminta Yi Hua untuk bersujud juga. Namun jika Yi Hua bersujud sekarang, ia masih merasa ada hal yang tak beres nantinya. Terutama saat ia masih teringat penjelasan Xiao.


Aku tak boleh ketahuan saat aku bahkan belum mengingat apa-apa.


Yi Hua harus memutar otaknya agar terbebas dari situasi ini. Ia memperhatikan pada pria yang sudah dijatuhkan. Pria itu jatuh terlungkup ke tanah. Sepertinya pria ini hanyalah penjahat bayaran yang tidak ada apa-apanya. Pria ini juga jelas tak ingin merampok.


Yang bisa Yi Hua simpulkan ialah ada seseorang yang menargetkannya. Walau ia tak tahu apa alasannya.


Lalu, Yi Hua bergerak cepat untuk menginjak punggung pria yang terjatuh di tanah itu. Pria itu memekik kesakitan karena Yi Hua menginjaknya dengan segenap perasaan. Akan tetapi, ia tak bisa bangkit lagi setelah Yi Hua menendang kakinya.


Yi Hua mengibaskan ujung lengannya dengan cara yang elegan dibuat-buat. "Aku telah menyingkirkan semua kesialan-mu di dunia ini. Kebaktian yang kau berikan, serta persembahan ini, aku turun untuk langsung mengambilnya dari dirimu," ujar Yi Hua sambil memberi kedipan mata pada Liu Xingsheng.


Semoga saja Perdana Menteri ini pandai berlakon.


Liu Xingsheng yang diberi kedipan oleh Yi Hua mau tak mau berkedip juga. Bukan karena dia mengerti, tetapi karena dia bingung. Seingatnya dia tak menyewa Yi Hua untuk ikut dalam pertunjukan


Suara Yi Hua yang keras membuat beberapa orang berani mengangkat kepalanya. Seolah mereka bingung dengan apa yang terjadi. Mereka bertanya-tanya jika kejadian sebelumnya hanyalah adegan yang diatur. Tapi ...


Yi Hua menginjak punggung pria itu lagi agak keras, "Kesialan ini bahkan hadir dalam bentuk manusia. Sungguh kejahatan duniawi yang tak pantas untuk berkah Dewa yang datang padamu."


Eh?


Mereka menatap pada pria malang yang ditekan Yi Hua punggungnya. Yi Hua jelas tak menahan-nahan kekuatannya. Dan, pria ini meringis kesakitan. Kenapa terlihat sungguhan Yi Hua menginjaknya?


Ini memang pertunjukkan atau memang Yi Hua tak tanggung-tanggung untuk menginjak punggung pria ini? Mendadak mereka kasihan dengan pria yang katanya berlakon menjadi kesialan ini.


Namun Liu Xingsheng jelas tak paham kondisi lagi. Hal itu membuat Liu Xingsheng kehilangan ekspresi dan gerakannya. Yi Hua sepertinya harus mendatangi Liu Xingsheng.


KRAK!


"AKH!" Pria malang itu berteriak pilu ketika Yi Hua menginjak punggungnya lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.


Bahkan Yi Hua dengan baik hati berjalan di atas punggungnya seolah tak ada pria ini sebagai alasnya. Lalu, Yi Hua berjalan menuju Liu Xingsheng yang masih duduk berlutut di depan patung Dewa Air. Memanfaatkan itu, Yi Hua segera melompat ke atas panggung yang tingginya hanya selutut orang dewasa itu.


"Seorang anak yang diberkahi, mengapa kau tak mengatakan apa-apa?" tanya Yi Hua dengan mata tajamnya.


Liu Xingsheng langsung dengan panik memberikan penghormatan. "Aku ... Maksudnya, saya sangat terkesan dengan kedatangan Dewa Air. Tapi pakaian kotor Anda membuat saya tak bisa melihat keagungan Anda, Dewa Air."


Si Makhluk Liu Xingsheng ini! Kenapa disebut? Yang penting pakaianku sudah serba putih.


TENG!


TENG!


TENG!


Yang mengatur alat musik juga agak bingung, karena seingatnya tidak ada dialog dalam pertunjukan ini. Itulah dia hanya memukul lonceng seperti pertanda di lonceng surgawi. Namun pukulan lonceng itu membuat Yi Hua terkejut, hingga ia tanpa sadar menoleh pada si pemukul lonceng.


Akan tetapi, Yi Hua dengan mudahnya memahami situasi. "Biasanya ketika turun ke bumi kami tak menggunakan sosok asli kami. Kebetulan ketika saya mengendarai awan, tetapi awannya rusak. Hingga saya harus turun secara alami."

__ADS_1


Apa-apaan cerita ini sekarang?


Liu Xingsheng langsung menatap pilu pada Yi Hua. Bagaimana bisa Yi Hua menghancurkan pertunjukkan Liu Xingsheng sekarang. Dia harus mengatakan apa jika Selir Qian bertanya nanti.


Namun Yi Hua mengangguk dengan tatapan memaksa pada Liu Xingsheng. Seolah ada kalimat yang muncul di wajah Yi Hua, "Aku sering membantumu!"


Tangan Yi Hua menuju ke pucuk kepala Liu Xingsheng. Lalu, menekan kepala Liu Xingsheng untuk lebih menunduk. Sebenarnya Yi Hua tak bermaksud kasar, dia hanya menyuruh Liu Xingsheng untuk berlagak seperti hormat padanya.


Orang-orang yang menonton berpendapat jika Dewa Air yang ini cukup kasar.


"Yi Hua, kenapa kau menekan kepalaku?" bisik Liu Xingsheng tak terima.


Yi Hua membungkuk sedikit seperti memberikan rahmatnya. Akan tetapi, sebenarnya Yi Hua berbisik pada Liu Xingsheng. "Ada orang yang mengincar saya, Perdana Menteri Liu," bisik Yi Hua pada Liu Xingsheng.


Mereka yang menonton nyaris terharu dengan adegan anak yang diberkahi oleh Dewa Air ini.


"Seandainya mereka tahu kejadian sebenarnya, maka mereka akan menarik kembali tatapan haru mereka itu," komentar Xiao yang tak habis pikir dengan otak licik Yi Hua.


Situasi telah kembali seperti sebelumnya. Raja Li Shen telah kembali duduk di tempatnya, walau tatapannya masih tajam. Setidaknya Yi Hua bisa merangkai alasan lainnya jika ditanya. Seperti dia sengaja belajar hanya agar totalitas dalam pertunjukkan.


Tentang pertarungan ... Yi Hua bahkan tak melihat lagi pria yang menyerangnya itu. Mungkin para pelayan yang bertugas di properti mengira jika pria itu adalah bagian dari pertunjukan. Sehingga mereka mengambilnya untuk disadarkan.


Liu Xingsheng sebenarnya sebal dan ingin menggelindingkan Yi Hua ke jurang. Namun mereka masih di tempat pertunjukan. Ia hanya bisa menjawab, "Terima kasih, Dewa Air. Keberkahan Dewa telah menyelamatkan saya."


Yi Hua mengambil potongan apel yang digunakan sebagai persembahan Dewa dalam pertunjukkan ini. "Baiklah. Aku harus pulang karena awan pasti sudah menjemput di lokasi. Kau akan diberkahi dari hidup, bahkan sampai kematianmu. Kau akan berada tempat yang sangat penting untuk kehidupan manusia."


TENG!


"Hidup dan matimu berada di air, Anak yang Diberkahi," ucap Yi Hua sebelum melompat ke bagian belakang panggung dan bersembunyi di belakang hiasan besar berwarna merah.


Yah, meski ceritanya agak terdesak, tetapi berhasil ke penghujung cerita. Seperti menjelaskan alasan mengapa Si Anak ini ditemukan tewas di air. Cerita misterius itu perlahan berubah menjadi lebih dramatis.


Pertunjukkan berakhir dan Liu Xingsheng menundukkan tubuhnya di akhir cerita.


PLOK ... PLOK ... PLOK ...


Tepuk tangan datang ke berbagai penjuru di alun-alun Pusat Kota. Semua orang berpikir jika cerita itu menarik dan ada kejutan di dalamnya. Bahkan beberapa orang menyebut tentang Dewa Air dan sebagainya. Mungkin mereka akan berbagi cerita nantinya ketika pertunjukkan ini berakhir.


Inti dari segalanya ialah pertunjukkan berhasil.


***


Setelah itu, Yi Hua berlari dengan cukup kencang untuk mencari dimana pria penyerang itu berada. Ketika ia memasuki ruangan yang disediakan untuk keperluan perayaan, di sana hanya ada pelayan yang mondar-mandir. Hal tersebut membuat Yi Hua menghentikan seorang gadis pelayan yang tengah membawa kendi besar.


"Dimana pria ... Maksudku pemeran kesialan sebelumnya?" tanya Yi Hua yang tak ingin membongkar kedoknya sendiri.


"Tidak tahu, Peramal Yi. Saya sejak tadi memindahkan barang," ujar gadis pelayan itu.


Yi Hua menatap pada kekacauan di sekitarnya.

__ADS_1


Seingatku ini hanya acara perayaan, bukan acara pindah-memindah barang.


"Mengapa barang-barang ini dipindah? Bukankah pertunjukkan baru saja berakhir?" tanya Yi Hua sambil menunjuk ke arah lentera-lentera yang sepertinya baru saja dipindahkan.


Biasanya dekorasi pun akan dilepas satu hari setelah perayaan. Mengapa sangat dini untuk beres-beres?


Gadis pelayan itu menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah. Sebenarnya dia tak tahan untuk menampung kendi besar itu sendirian. Hal itu membuat Yi Hua meraih kendi besar itu untuk diletakkan di meja. Setelah itu, baru gadis pelayan itu bisa bicara dengan baik.


"Terjadi kebakaran kecil di bagian belakang, Peramal Yi," jelas gadis pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.


Kebakaran?


Yi Hua pergi ke arah yang dimaksud oleh gadis pelayan itu. Benar saja di sana ada bekas terbakar, seperti lentera yang sempat tirai di ruangan itu. Bukankah hari buruk juga ada batasnya?


Setelah kemarin Jenderal Wei nyaris diracuni. Penyerangan di kerumunan, kemudian kebakaran. Mengapa bisa terjadi seolah hari perayaan adalah hari yang dikutuk?


Jika Yi Hua, yah ... Mau bagaimana lagi, dia memang punya keberuntungan sebesar bulu sapi. Entah mengapa Yi Hua tak begitu mempertanyakan lagi tentang kesialannya. Namun mengapa di sekelilingnya juga mengalami hal buruk?


"Kau mencurigai sesuatu, HuaHua?" tanya Xioa dari telinga Yi Hua.


Yi Hua ingin curiga, tetapi dia tak bisa memikirkan apa-apa. Masalahnya adalah ... dia tak menemukan apa-apa untuk dicurigai. Targetnya tak jelas, seolah seperti sengaja ingin membuat keributan di perayaan ini.


Lagipula, kebakaran ini juga terjadinya di saat perayaan. Dimana orang-orang berkumpul. Jika saja mereka lambat menangani mungkin akan muncul keributan baru.


"Peramal Yi, Perdana Menteri Liu mencari Anda." Gadis pelayan sebelumnya mendatangi Yi Hua yang masih berpikir.


Pasti Perdana Menteri itu akan mengomeli aku panjang lebar menanjak pagar. Menyebalkan!


Karena sebal Yi Hua akhirnya menarik segenggam bunga dari guci penghias ruangan. Jika Liu Xingsheng marah, dia bisa membujuknya dengan bunga ini. Bukan untuk dibujuk baik-baik, tetapi dilempar ke wajahnya. Terkadang Yi Hua berharap ia memiliki keberanian untuk seperti itu.


Gadis pelayan itu yang melihat Yi Hua langsung berseru. Pasalnya, ruangan sudah sangat berantakan, ditambah lagi Yi Hua yang menarik bunga secara sembarangan. Namun Yi Hua jelas memiliki keterampilan untuk melarikan diri. Sehingga ia bisa menghilang begitu saja untuk keluar dari ruangan yang masih sangat berantakan itu. Ia berjalan cepat dan berpapasan dengan seorang pria dengan penutup kepalanya. Pakaiannya seperti seorang pengembara, dan agak kumuh juga.


"Peramal Yi, Anda tak boleh mengambil bunganya," tegur gadis pelayan itu pelan.


Pria itu menengok ke belakang, tepatnya pada Yi Hua yang melewatinya tadi. Tatapannya tak terbaca, tetapi matanya fokus mengamati Yi Hua yang berlari sambil menggenggam sekumpulan bunga di tangannya. Jelas peramal kecil itu agak kasar, sehingga kelopak-kelopak bunga berterbangan.


Ada setangkai bunga mawar yang dijatuhkan oleh Yi Hua di tanah.


"Dia ... Peramal Yi?" tanya pria itu pelan. Entah pada siapa ia bertanya.


Tak lama, pria itu melanjutkan kembali perjalanannya. Meski begitu, kini tangannya tak kosong. Di sana ada setangkai bunga yang dijatuhkan oleh Yi Hua sebelumnya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2