
Hari itu sudah menjelang malam.
Meski begitu, jalan di Pusat Kota tetap ramai seperti biasanya. Sehingga ketika kereta kerajaan melewati Pusat Kota, orang-orang yang berkerumun itu harus menyingkir. Belum lagi mereka mengenal pemimpin perjalanan ini, sehingga mereka menepi dan memberikan penghormatan.
Jenderal Wei memimpin prajurit yang ia bawa sekitar sepuluh orang. Di bagian paling belakang adalah kereta barang untuk persediaan pasukan yang berjaga di Perbatasan. Ini menjadi hal yang biasa, walau sebagian orang berpikir bahwa persediaan itu bisa dibeli di kota terdekat dengan perbatasan. Tidak perlu membawanya dari istana kerajaan.
Akan tetapi, ini adalah salah satu kebijakan kerajaan.
Semua bahan pangan dan juga perlengkapan di Perbatasan harus dibawa dari istana Kerajaan, dan sudah diperiksa oleh Penasihat Kerajaan. Bukan perkara apa, tetapi lebih pada mereka memastikan bahwa barang-barang ini tidak diracuni oleh musuh. Sebab, siapa yang tahu tentang mata-mata musuh. Walau sekarang masuk ke era yang tenang untuk Kerajaan Li.
Jenderal Wei pernah mendengar sejarah terdahulu. Katanya, salah satu penyebab Kerajaan Li kalah perang ialah karena para prajurit di Perbatasan diracuni. Sehingga menyebabkan gugurnya Raja Kerajaan Li.
Yah, apa salahnya berjaga-jaga.
Akan tetapi, biasanya para prajurit Kerajaan Li akan pergi sejak pagi buta. Ini sedikit aneh saat para pasukan memulai perjalanan di waktu senja. Bukankah perjalanan saat malam lebih sulit dibandingkan siang hari?
Perbatasan memiliki jarak yang cukup jauh, dan jarak masing-masing kota biasanya memiliki hutan di sana. Pasti sangat sulit jika harus menerobos malam hanya dengan obor. Walau mereka sedikit pun tak meragukan kemampuan pasukan, terutama Jenderal Wei yang menjadi pemimpin pasukan.
TAP!
TAP!
TAP!
"Jenderal Wei."
Dua orang prajurit yang berjaga di gerbang masuk Pusat Kota memberi salam pada Jenderal Wei. Setelah melihat Jenderal Wei yang memberi isyarat penerimaan, mereka berdiri tegak untuk menerima perintah. Jenderal Wei menunjuk ke arah kereta barang yang mereka bawa.
"Buka jalan untuk kereta barang," ucap Jenderal Wei sambil memacu kudanya untuk maju lebih depan.
Para prajurit itu menjawab serentak. "Baik, Jenderal."
SRET!
Namun kedua orang tersebut tidak langsung membuka pintu gerbang Pusat Kota. Kedua prajurit itu berjalan ke arah kereta barang tersebut. Hal tersebut membuat Jenderal Wei melompat dari kudanya secara mendadak.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Jenderal Wei dengan nada yang tenang.
Walau pria itu nyaris saja menghampiri para prajurit yang sedang membuka tali yang mengikat penutup dari barang-barang yang mereka bawa.
Kereta barang itu adalah semacam gerobak yang agak besar. Di tarik oleh tiga ekor kuda, dengan seorang prajurit yang mengemudikannya. Kereta barang ini jelas bukan seperti kereta yang digunakan bagi manusia. Di masing-masing sisinya dipagari oleh kayu yang kuat.
Untuk menutupi barang-barang yang mereka bawa, para prajurit menutupi bagian atasnya dengan jerami kering beserta kain tebal yang tak mudah basah. Barang kali ini agak banyak dari biasanya, sehingga tampak sedikit tinggi dari batas pagar.
Para prajurit itu menoleh pada Jenderal Wei. "Memeriksa barang, Jenderal Wei."
Yah, Jendral Wei paham kedua orang ini hanya tengah menjalankan pekerjaan mereka. Akan tetapi, bukankah di atas kereta itu juga ... Ah ... Jenderal Wei sebenarnya panik sendiri. Namun wajahnya tetap tenang seperti biasanya.
"Barang ini sudah diperiksa di istana," ucap Jenderal Wei yang memerintahkan salah satu prajurit yang mengikutinya untuk mengikat kembali tali yang menahan kepingan jerami kering yang diikat di atas barang.
Akan tetapi, seseorang mendekat ke arah mereka. Hal tersebut membuat Jenderal Wei mengangkat sebelah alisnya. Pasalnya sosok ini sangat jarang terlihat di luar istana. Mengapa sekarang Penasihat Kerajaan berkeliaran di gerbang Pusat Kota?
Jenderal Wei memberikan penghormatan, "Penasihat Wang."
Pria itu membalas penghormatan Jenderal Wei dengan tak kalah sopan. Wajah Penasihat Wang selalu dihiasi senyum yang sangat tenang. Dan, pria itu menurunkan tangannya dan meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya.
"Pasti melelahkan bagi Jenderal Wei untuk pergi ke perbatasan bahkan di saat hampir malam," ucap Penasihat Wang ramah.
"Saya hanya menjalankan tugas, Penasihat Wang."
Percayalah pembicaraan ini paling tak menyenangkan bagi Jenderal Wei. Penasihat tua ini memang ramah, tetapi entah matanya seperti mengintimidasi. Sehingga Jenderal Wei hanya bisa tersenyum dengan hampa.
"Namun ini tak biasanya saat Jenderal Wei harus mengantar barang. Sangat tak baik saat seorang Jenderal turun tangan untuk mengantar barang. Anda pasti memiliki banyak prajurit yang bisa dipercaya," lanjut Penasihat Wang sambil menghampiri kereta barang yang tertutup jerami itu.
Sepertinya pria ini yang memerintahkan kedua penjaga gerbang untuk membuka barang bawaan dari pasukan Kerajaan.
Akan tetapi, sebenarnya Penasihat Wang tak sembarang berucap. Sebab, biasanya Jenderal Wei hanya memeriksa barang itu di istana, dan membiarkan para prajurit mengantarnya ke Perbatasan. Sisanya ialah menunggu laporan.
Biasanya jika bukan dalam keadaan genting atau adanya konflik di Perbatasan, maka Jenderal Wei tak akan turun tangan. Apalagi di saat Pusat Kota masih diributkan oleh berita hilangnya Perdana Menteri Liu Xingsheng.
Semua orang mulai mengaitkan masalah ini dengan mata-mata dalam kerajaan.
Pasalnya ini bukan pertama kalinya terjadi sesuatu pada pihak Kerajaan.
Hitung saja dengan serangan di kala perayaan, yaitu yang diserang Jenderal Wei. Baru beberapa hari yang lalu Jenderal Wei nyaris diracuni. Jika Peramal Yi Hua tidak menendang gelas berisi racun itu, mungkin Jenderal Wei sudah mati konyol. Yah, walau tak banyak yang tahu jika Jenderal Wei sebenarnya bisa mengatasi itu sendiri.
Kemudian, setelah serangan itu, Yi Hua yang diserang di tengah perayaan pula. Di sana terlibat Perdana Menteri Liu Xingsheng.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, mayat berjalan berkeliaran dan menyebabkan kerusuhan di Pusat Kota.
Di sana Liu Xingsheng terkena bubuk mayat. Sehingga Liu Xingsheng menjadi sakit. Dan, setelah itu ada berita kehilangan Liu Xingsheng, dan para prajurit berkeliaran untuk mencari siapa penculiknya.
Jika ini tidak berhubungan, maka manusia mungkin terlalu banyak berpikir.
Dari itu semua penjagaan di Pusat Kota diperketat. Hal itu karena bukan cerita belaka lagi tentang kehancuran Kerajaan Li sebelumnya. Ada Penasihat Wang dan Raja Li Shen yang menjadi saksi bagaimana hancurnya Kerajaan Li. Dan, semua itu dimulai dari seseorang yang menjadi mata-mata di dalam Kerajaan Li.
Bukan perkara apa sebenarnya, tetapi lebih pada orang-orang yang memiliki pemikiran sendiri terhadap sesuatu yang benar atau tidak. Sehingga mereka berpikir bahwa 'apa yang mereka percayai' adalah sesuatu yang benar. Tak ada yang aneh jika ada pihak-pihak yang ingin menentang kerajaan. Perselisihan antara penguasa dengan anggotanya bukan hal pertama yang terjadi di dunia ini.
Ada banyak cerita, juga ada banyak tindakan.
Jenderal Wei menganggukkan kepalanya. "Tak perlu merasa ini membebani saya, Penasihat Wang. Saya melakukannya karena apa yang terjadi saat ini. Bukankah lebih baik jika saya mengantisipasi terjadinya masalah ke depannya? Terutama pada garda depan Kerajaan Li."
Semuanya menjadi masuk akal jika Jenderal Wei juga meningkatkan penjagaan. Sebisa mungkin pria itu menjadi tenang.
"Maafkan saya jika meragukan Jenderal sebelumnya. Namun saya harus memeriksa barang ini," Jenderal Wei memerintahkan para penjaga gerbang untuk kembali membuka gerobak barang itu.
Mau tak mau Jenderal Wei hanya menggenggam kedua tangannya kuat. Meski begitu, wajah Jenderal Wei masih tetap tenang seperti biasanya. Walau kukunya sendiri melukai telapak tangannya.
SRET!
Wang Zeming tersenyum hangat. "Jika Anda berhati-hati, Jenderal Wei, maka saya juga."
Jerami yang ditumpuk di atas barang-barang itu disingkirkan oleh prajurit yang menjaga gerbang.
"Hey, kau mau ke mana?" tanya prajurit itu tiba-tiba pada gerombolan yang menuju ke arah gerbang.
Pasalnya ini sudah malam hari, dan untuk memulai perjalanan pasti bukanlah sesuatu yang baik. Apalagi bagi gerombolan ini, yaitu gerombolan para pengemis yang tampak kotor. Beberapa di antara mereka bahkan pincang dan terbungkuk-bungkuk.
"Kami ingin pergi ke kota sebelah, Tuan penjaga. Malam hari ini kami ingin pergi ke salah satu kuil untuk beristirahat," jelas salah satu dari mereka.
Karena para penjaga gerbang lebih fokus pada kereta barang, salah seorang dari mereka pergi untuk membuka pintu gerbang.
"Cepatlah keluar," teriak prajurit itu agak keras.
Salah satu di antara pengemis itu segera memberi penghormatan. Sehingga pengemis lainnya juga mengikuti. "Terima kasih ... Terima kasih."
Para pengemis yang mendengarnya segera berjalan cepat. Bahkan sebagian nyaris berlari karena biasanya rupa para prajurit tidak ada ramah-ramahnya. Ketika mereka berjalan bergerombol tersebut, seorang pengemis tak sengaja menyenggol bahu Jenderal Wei.
"Mohon ampun, Jenderal. Tolong ampuni saya," pinta pengemis itu dengan suaranya yang seperti selepas batuk parah.
Penutup kepala sederhana dari pengemis itu tampak menutupi wajahnya. Hanya bibirnya yang tipis tampak dari posisi Jenderal Wei sekarang. Meski begitu, karena pengemis ini menunduk sambil berlutut, Jenderal Wei tak bisa mengawasi wajahnya dengan jelas.
Suara itu sangat serak dan membuat Jenderal Wei yang berdiri tegak langsung menunduk. Tepatnya karena Jenderal Wei merasa tak nyaman saat pengemis itu harus berlutut padanya. Padahal Jenderal Wei tak begitu masalah ketika bahunya tersenggol.
Lagipula, tinggi pengemis ini juga hanya sebahunya. Belum lagi dengan tubuh kecilnya yang seperti batang gantung. Kulitnya yang putih dan bersih membuat Jenderal Wei mengerutkan keningnya.
Orang ini ...
SRET!
Baru saja Jenderal Wei ingin membantu pengemis itu bangkit, tangan pengemis itu dengan keras menarik Jenderal Wei untuk menunduk. Gerakannya cepat dan kuat, seperti tenaga sapi. Ketika Jenderal Wei ingin menjatuhkan pengemis itu, mendadak pengemis itu berbisik.
"Ini saya, Jenderal Wei."
Yi Hua! Bukannya mereka bersembunyi di dalam kereta?
Sungguh Jenderal Wei tak tahu tentang ini.
Dari sekian banyak peran, mungkin Yi Hua sangat menghayati peran pengemis.
Buktinya aku terlihat melarat sekali di sini.
SRAK!
Bertepatan dengan suara itu, kereta barang sudah terbuka. Di sana para prajurit memeriksa barang-barang yang ditampung oleh kereta. Di sana hanyalah karung-karung gandum beserta bahan makanan lainnya. Mendadak Jenderal Wei menghela napasnya.
Pasti Yi Hua sudah mengantisipasi semuanya. Sehingga muncul rencana ini. Huan Ran dan Liu Xingsheng pasti juga berada di antara pengemis yang sudah melarikan diri.
"Jenderal Wei, Perdana Menteri Huan mengatakan bahwa ia tak membawa uang. Sedangkan saya tak punya banyak uang," ucap Yi Hua dengan wajah memelas.
Mereka melarikan diri tanpa persiapan. Sedangkan perjalan menuju ke Lembah Debu bukanlah perjalanan yang singkat. Lain halnya mereka bisa terbang seperti burung, sehingga tak harus melalui gunung dan sungai.
Mereka perlu kendaraan, tetapi karena kehilangan Liu Xingsheng semua kendaraan yang melewati gerbang harus diperiksa.
Kereta pasukan Kerajaan saja diperiksa apalagi kereta lainnya. Oleh karena itu, mereka tak bisa menumpang di kereta barang milik kerajaan.
__ADS_1
Jenderal Wei yang masih lambat berpikir karena bingung dan terkejut hanya bisa bertanya. "Jadi?"
"Jadi, maksud kedatangan saya adalah untuk meminjam uang pada Anda. Nanti saya ganti jika saya kaya," ucap Yi Hua yang terkadang tak tahu diri.
SRET!
Tanpa menunggu balasan dari Jenderal Wei, Yi Hua langsung menarik kantong uang dari pinggang Jenderal Wei. Hal tersebut membuat Jenderal begitu kagum dengan 'kesopanan' Yi Hua. Tapi itu masuk akal, karena mereka tak bisa berbisik-bisik seperti ini begitu lama. Yang ada mereka akan membuat curiga Wang Zeming yang bermata seperti elang.
TAP!
TAP!
Si Pengemis jadi-jadian itu langsung bangkit setelah mendapatkan uangnya. Awalnya pengemis itu terlihat pincang, tetapi setelah dapat uang, entah mengapa pengemis itu jadi lincah seperti anak sapi lepas. Jenderal Wei tertawa tanpa sadar karena merasa kagum sendiri.
Peramal kecil ini apa tidak takut ketahuan?
"Jenderal Wei."
Perhatian pria itu kembali teralih pada kereta barang yang sudah ditutup kembali. Jenderal Wei memerintahkan bagi para prajuritnya untuk berjalan dahulu. Seorang prajurit kembali ke kemudi kereta barang, dan menarik pacu kuda.
Gerbang juga sudah dibuka, serta langit yang sudah gelap. Mereka pasti tak akan memperlambat Jenderal Wei lagi.
Wang Zeming memberi penghormatan pada Jenderal Wei, "Hati-hati di jalan, Jenderal Wei. Maaf mengganggu waktunya."
SRAT!
Jenderal Wei membalas salam itu, dan kembali naik ke kuda hitam miliknya.
"Saya berharap masalah ini segera usai, Penasihat Wang," ucap Jenderal Wei berbasa-basi.
CIAT!
Tangan Jenderal Wei menarik kekang kudanya, dan kuda mulai berjalan dengan pelan. Penjaga gerbang juga memberi penghormatan pada Jenderal Wei. Hingga gerbang Pusat Kota ditutup kembali.
Melihat itu, Jenderal Wei memberhentikan kudanya tepat pada gerombolan pengemis yang duduk di tepi perumahan. Memeriksa mereka.
Tapi, ...
SRAT!
"Ampuni kami, Jenderal Wei," pinta para pengemis itu yang terkejut karena Jenderal Wei mendadak mengawasi mereka satu-persatu.
Tidak ada Yi Hua di sana. Juga, Liu dan Huan Ran.
"Di mana sebagian kalian yang lainnya?" tanya Jenderal Wei cepat.
Salah satu di antara pengemis itu menjawab dengan gagap. "S ... saya tak tahu. Saya tak tahu!"
Apa Yi Hua sengaja mengaburkan keberadaan mereka?
"Di mana pria kecil yang menabrak saya sebelumnya?" tanya Jenderal Wei yang kali ini memaksa.
Bagaimana pun ia tak bisa membiarkan Yi Hua pergi dengan Huan Ran dan Liu Xingsheng saja. Huan Ran pasti bisa melindungi dirinya dan Liu Xingsheng, tetapi Yi Hua adalah sesuatu yang berbeda. Ditambah lagi Jenderal Wei merasa ...
Orang ini, mengapa dia mengacaukan pikiranku?
Padahal Yi Hua hanyalah pria kecil yang sombong dan gemar berbohong. Ditambah lagi dengan sikap Yi Hua yang selalu memanfaatkan orang-orang di sekitarnya. Yi Hua licik dan wajib diwaspadai.
Pengemis yang dicengkeram bahunya oleh Jenderal Wei menjawab dengan takut. "Katanya. .. M ...ereka pergi men...jelajah luas...nya l...aut ke sela..tan."
Wajah Jenderal Wei langsung putus asa.
Dari kata 'luasnya laut' kita bisa tahu bahwa tidak ada jawaban di sana.
Bukan perkara tempat, tetapi lebih pada Yi Hua memberi laut sebagai perumpamaan. Saat laut saja begitu dalam dan hanya sebagian saja yang pernah dilihat dan diketahui manusia.
Yi Hua, mengapa peramal ini begitu sulit dimengerti?
Lebih dari segalanya ... Yi Hua seperti tak meminta Jenderal Wei untuk ikut bersamanya.
Jenderal Wei merasa tak diperlukan.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~