
TAP!
TAP!
TAP!
Yi Hua hanya berjalan dengan kebingungan. Pada kenyataannya, dia tak begitu mengerti mengapa dia ada di tempat ini. Seingatnya, ia tengah berada di dalam kereta untuk kembali ke istana Kerajaan Li. Lalu, mengapa dia merasa seperti berjalan ke tempat aneh ini.
"Xiao."
Tidak ada.
Tidak ada jawaban dari Xiao. Lebih buruk dari segalanya lagi-lagi Yi Hua berada dalam sosok yang tak pernah ia kenali. Matanya menelisik pada pakaiannya yang sangat cantik. Lagi-lagi, pakaian pengantin.
Dan, lagi dia berpikir awalnya dia berjalan. Namun ia mulai merasa bahwa jalan yang sebelumnya ia tempuh adalah ilusi.
Apa dia akan kembali bertukar lagi dengan sosok pengantin wanita itu?
Mungkin saja pengaruh syair terlarang itu masih merong-rong di dalam otaknya. Jiwanya masih terombang-ambing dalam kejadian itu. Atau dia telah berhasil menjadi tubuh untuk sosok pengantin yang hilang itu.
Sudah aku di dunia ini meminjam raganya Yi Hua. Lalu, raga Yi Hua dipinjam lagi oleh orang lain. Dasar!
Entahlah.
"Tidak ada hari yang lebih membahagiakan daripada hari ini."
Benar.
Yi Hua yang menjadi raga untuk sosok ini pun merasa ikut bahagia. Bagaimana pun itu terjadi begitu saja, dan dia hanya bisa menerimanya dengan perasaan bahwa itu adalah kebahagiannya sendiri. Ia perlahan mengikuti arah pandangan dari sosok ini.
"Fang Yin."
Kini ia bercermin, dan di sana ada sosok yang sangat cantik rupanya. Sangat cantik hingga anggapan bahwa ketika menjadi pengantin, seorang kecantikan akan terlihat luar biasa. Sungguh fenomena yang sangat mengagumkan.
Tidak. Ini hanyalah kejadian yang dialami oleh Fang Yin. Bukan Yi Hua yang menjadi Fang Yin.
Yi Hua mulai mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Sepertinya dia dibawa untuk melihat hari pernikahan yang berduka itu, dan melihat apa yang terjadi sebenarnya.
Yi Hua menoleh. Tidak!
Tidak yang menoleh adalah Fang Yin.
Huh?
Mengapa ini begitu membingungkan?
Intinya adalah sekarang dia mengalami atau melihat hari pernikahan Fang Yin dengan kekasihnya. Yah, Zhang Yi.
Siapa yang menyangka tentang ini semua.
Mata Yi Hua menoleh pada Zhang Yi yang berjalan ke arahnya. Sekali melihat saja dia sudah tahu bahwa Zhang Yi terlihat lebih muda dan bersemangat daripada yang sekarang. Itu saja sudah menunjukkan banyak kemungkinan bahwa dia memang kembali ke masa sekitar lima tahun yang lalu.
Tepatnya, inilah awal dari pembunuhan kecantikan ini. Atau, lebih tepatnya pembunuhan bagian ke-2. Untuk lebih jelasnya, Yi Hua belum bisa menyimpulkan alasannya. Yang pasti memang sejak awal ada dua pembunuh dalam kasus lima belas gadis yang hilang itu.
Yi Hua tak tahu mengapa dia bisa kembali ke masa ini. Mungkin saja ini adalah mimpi.
Namun ...
Bukankah dia terlihat sangat luar biasa?
Fang Yin berbicara padanya. Tentu saja yang Fang Yin katakan ialah saat gadis itu melihat Zhang Yi. Gadis itu sangat mencintai Zhang Yi, begitu pun sebaliknya.
Akan tetapi, ada kalanya kau tak bisa mempertahankan apa yang telah kau genggam.
"Semuanya hanya berawal dari kejadian yang membahagiakan."
***
__ADS_1
Zhang Yi muda tampak berdiri di hadapan Fang Yin. Pria itu terlihat tampan dan sangat berbahagia. Tentu saja Yi Hua bisa melihatnya karena dia sekarang menjadi Fang Yin, dan ini adalah sudut pandangnya Fang Yin.
"Bagaimana bisa Anda datang kemari Pejabat Zhang Yi?" tanya Fang Yin yang baru saja selesai dirias.
Gadis itu hanya melihat Zhang Yi dari cermin yang ada di hadapannya. Ketika Zhang Yi tak menjawabnya, Fang Yin langsung menolehkan kepalanya ke belakang. Ia melihat Zhang Yi memerintahkan pelayan yang melayani Fang Yin untuk keluar.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa Fang Yin tidak melarikan diri," ucap Zhang Yi sambil duduk di salah satu bangku.
Fang Yin menarik senyumnya untuk Zhang Yi. Pertemuan mereka bukanlah dari sesuatu yang istimewa. Akan tetapi, ketika Zhang Yi ingin menikahinya, dia langsung menyetujuinya.
Bukan pada persoalan yang penting. Hanya karena pria itu berdiri di belakang Fang Yin saat keramaian. Lalu, seseorang meraih kantung yang Fang Yin, dan Fang Yin langsung menyerang pria itu karena mengira dia pelakunya.
Pada akhirnya, setelah nyaris terpukul beberapa kali, gadis itu baru sadar bahwa pria yang diserangnya adalah Pejabat Kerajaan Li, Zhang Yi. Dan, dia berakhir dengan mendapat teguran keras dari ayahnya sendiri. Hal itu karena sang ayah takut Fang Yin akan dikenai hukuman karena telah menyerang Pejabat Tinggi di Kerajaan Li.
Hanya seperti itu saja.
Dan, Zhang Yi yang memang sudah cukup usia untuk menikah langsung melamar gadis itu. Lagipula keluarga Zhang harus memiliki penerus segera mungkin. Dan, keluarga Fang Yin juga termasuk keluarga terpandang di Kerajaan Li. Tidak ada alasan yang cukup untuk Zhang Yi agar tidak tertarik pada Fang Yin.
Yah, walau gadis ini punya kesan buruk di awalnya. Namun Zhang Yi mengabaikannya sebagai bonus.
Tanpa ada banyak pembukaan, pendekatan, dan sebagainya, Zhang Yi langsung mendatangi kediaman Bupati Fang, ayah Fang Yin. Setelah Zhang Yi mengatakan maksud kedatangannya, Bupati Fang nyaris jantungan. Ia harus diberi minum beberapa kali sebelum bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Fang Yin hanya mengangkat bahunya sambil mengipasi ayahnya yang nyaris dipanggil dewa kematian. Bagaimana pun dia juga tak menyangka jika Pejabat yang nyaris dia pukuli itu malah mengambilnya sebagai pendamping. Dan, itulah yang terjadi di antara mereka berdua.
"Itu tidak seperti yang Pejabat Zhang Yi pikirkan. Saya menerima Anda, maka saya akan menikahi Anda."
Yi Hua mendadak merasa seperti menjadi orang ketiga dalam percakapan ini. Bagaimana pun ada kalanya kau berpikir tak ingin menjadi asap untuk menghilangkan nyamuk. Namun apa daya dia harus menyaksikan ini, karena dia sekarang menjadi Fang Yin.
Zhang Yi terbatuk pelan ketika mendengar Fang Yin menyebut kata menikahi.
"Apa yang kau pikirkan ketika aku datang untuk menikahi dirimu?" tanya Zhang Yi yang sebenarnya kurang bahan untuk bercakap.
Gadis itu menarik sudut bibirnya lagi untuk tersenyum. Hal itu membuat Yi Hua merasa keanggunannya sebagai seorang gadis turun beberapa tingkat. Yah, itu karena dia juga sudah lama menjadi seorang 'pria'.
Fang Yin, gadis itu sangat menarik.
UHUK!
Zhang Yi tersedak tanpa perlu memakan atau meminum sesuatu. Siapa sangka bahwa gadis ini cukup terus terang. Tidak ada bentuk kecanggungan yang biasanya sering terjadi. Lalu, bagaimana bisa gadis ini dengan sangat lugas mengatakan bahwa dia menyukai Zhang Yi?
Walau itu sedikit menakjubkan, tetapi Zhang Yi masih perlu jeda untuk bernapas.
Pada akhirnya, Zhang Yi segera bangkit karena tak ingin berbasa-basi terlalu lama. Dia akan menunggu di altar, dan dia akan menikah atas izin langit. Sehingga dia akan bersama dengan gadis yang menarik perhatiannya ini.
Itu saja yang dipikirkan oleh Zhang Yi.
Pria itu segera meraih penutup kepala warna merah yang terlampir di atas meja. Ia tahu itu adalah tudung kepala untuk pengantin wanitanya. Sehingga pria itu segera meraihnya, dan berjalan ke arah Fang Yin.
SRET!
Yi Hua tahu apa yang dirasakan oleh Fang Yin. Itu adalah perasaan bahagia, dimana kau berpikir bahwa hidup adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Yi Hua yang melihat ini pun merasa berbahagia.
Tak lama, pria itu juga menitipkan satu kecupan hangat di kening Fang Yin. Tidak. Tidak langsung di keningnya, melainkan pada kain merah yang berada di antara mereka. Semuanya terjadi dengan sangat alami, seolah mereka telah mencintai dalam waktu yang cukup lama.
Namun masalahnya adalah Yi Hua di dalam diri Fang Yin.
Rasanya sangat aneh saat menerima kecupan di dahi oleh calon suami orang lain!
Yi Hua jelas tak bisa mengendalikan tubuh Fang Yin, sebab dia hanya seperti menonton kejadian. Dia tak punya kuasa untuk menendang kepala Zhang Yi jauh dari wajahnya. Lagipula, ini adalah wajahnya Fang Yin!
Dia kekasihnya Zhang Yi.
"Aku menunggumu di altar pernikahan kita," ucap Zhang Yi sebelum ia benar-benar meninggalkan Fang Yin.
Namun siapa sangka pengantin yang ditunggu tak akan pernah datang.
***
__ADS_1
"Maafkan aku karena tak datang."
Pada akhirnya, Yi Hua meneteskan air mata dalam tidur panjangnya.
Di dalam sebuah kereta dengan jalan yang agak rusak. Kereta itu tak berjalan, dan hanya tertata di atas tanah. Mungkin itu karena tidak ada yang mengemudikan keretanya. Sebab, penghuni kereta berada di dalam.
Di dalamnya terbaring sosok dengan pakaian serba merahnya. Wajahnya berkeringat, dan terlihat mengerutkan keningnya seolah tak nyaman. Tangannya meremas tangan lainnya yang menggenggam tangannya.
Di sana dia tak sendirian.
Ada sosok lain dengan pakaian hitamnya yang tengah memangku kepala sosok itu. Tatapan matanya terlihat sangat berbahaya, tetapi tak ada yang tahu mengapa tangannya begitu lembut. Maksudnya tangannya begitu lembut ketika mengusap keringat di dahi sosok yang terbaring di pangkuannya.
Matanya menelisik ke wajah cantik Yi Hua yang masih berkeringat. Ia sesekali mendengar Yi Hua mengigau, tetapi tak ada kalimat yang jelas tentang itu semua. Meski begitu, sosok itu masih mendengarkannya.
SRET!
"Tuan."
Suara ketakutan terdengar dari telinga pria itu. Matanya menoleh pada cahaya-cahaya aneh yang berterbangan di sekitarnya. Itu jelas adalah jiwa yang masih berterbangan di dunia. Sosok yang seharusnya kembali ke langit, tetapi tak bisa.
"Menyingkir."
Mata pria itu terlihat sangat berbahaya, tetapi dia tak bisa melakukan apa-apa. Jika seperti ini, Yi Hua sendiri yang menginginkannya. Jauh dari dalam diri Yi Hua, dia tak mempermasalahkan semua ini. Dia dengan tulusnya mengikuti jiwa yang membawanya.
Yi Hua, dia ingin tahu apa yang terjadi. Peramal ini sangat keras kepala hingga dia merasa ingin membantu.
"Maafkan saya Tuan, tetapi syair itu membuat siapa saja yang dikenai akan melihat semua tentang saya. Peramal Yi Hua bisa menolaknya, tetapi dia tak melakukannya."
Seperti yang An duga.
Tangan pria itu mengusap alis Yi Hua yang sebelumnya diberi pewarna. Sehingga alis Yi Hua terlihat lebih hitam daripada seharusnya. Berkat itu semua, An mendapatkan warna itu di ujung jarinya. Entah mengapa dia melakukannya.
Hanya ingin saja.
"Dasar bodoh," bisik An pada Yi Hua yang jelas tak akan mendengarnya.
Pria itu melirik pada cahaya berpedar di sekitarnya itu. "Beraninya kau ..."
Namun wajah penuh air mata Yi Hua membuat An berhenti berkata. Bahkan ketika ia ingin membunuh sekalipun, tetapi tidak saat ini. Tidak saat Yi Hua masih dengan apa yang diinginkannya.
Tangan pria itu mengangkat dagu Yi Hua, dan merasakan bahwa bahwa suhu tubuhnya terus meninggi. Dan, itu akan terjadi dalam waktu yang cukup lama.
Berkat tangan An yang dingin, Yi Hua terlihat semakin menempelkan wajahnya ke sana. Akan tetapi, itu hanya terjadi beberapa saat karena An tiba-tiba menarik tangannya. Dan, pria itu berusaha untuk tidak melihat pada wajah Yi Hua, terutama bibirnya.
Itu sedikit mengganggunya.
Namun ada satu hal yang An sadari baru-baru ini. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuh Yi Hua. Itu terlihat seperti api yang terus berkeliaran, tetapi tidak seperti inti emas hasil kultivasi.
Ini seperti api yang siap memasak apa saja.
An perlahan meletakkan tangannya di dada Yi Hua. Awalnya dia terlihat mengerutkan keningnya, tetapi saat tangannya merasakan sesuatu ekspresinya berubah.
An menatap wajah Yi Hua yang memerah, dan masih tak sadarkan diri.
Dia ...
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Maaf udah beberapa hari tidak up. Di daerahku lagi banjir, dan agak besar. Dalam jarak yang cukup dekat, mungkin akan kena rumah. Yah, mungkin impianku untuk punya kolam renang pribadi di dalam rumah tercapai dengan adanya banjir ini 🤣
Anggap saja alasan itu cukup untuk membuat aku terlihat sibuk.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~