
Hey, apa aku terlihat seperti pembicara yang baik hingga Hua Yifeng ini ingin bicara denganku?
Liu Xingsheng menggerakkan lengan Yi Hua yang masih terpaku. Bagaimana pun jika mereka tak ingin penyamaran mereka terbongkar, maka mereka tak punya pilihan lain. Lagipula, apa yang dikatakan oleh Hua Yifeng hanyalah berbincang. Walau Liu Xingsheng sendiri sudah skeptis.
"Aku akan menyalakan dupa untuk abu-mu, Yi Hua," bisik Liu Xingsheng di balik kipasnya yang terbuka.
Hal itu membuat Yi Hua menjadi agak geram. Ia datang ke tempat ini ialah karena permintaan dari Perdana Menteri Liu ini. Lalu, sekarang ia akan dijadikan barang taruhan. Sungguh tak dipercaya!
"Selamat, HuaHua. Sekarang kau tak perlu mencari keluarga palsu lagi untuk menghidupkan dupa di guci abu. Pria cantik ini sudah bersedia," tanggap Xiao yang bertepuk tangan karena terharu.
S*alan!
Namun Yi Hua adalah orang yang sombong. Yi Hua harus tetap pada karakternya, tanpa mengubah apapun. Selama dia yakin bahwa ada kekuatan 'kembali ke awal', dia akan masih hidup lagi apabila Hua Yifeng memutuskan untuk mematahkan kaki atau tangannya. Ia hanya perlu menjaga agar kepalanya tak menjadi incaran dari Hua Yifeng.
Dia segera menarik mulutnya untuk kembali ke tempat. Setelah itu, ia melipat dadanya dan memasang mata seperti serigala. Pandangannya terarah pada pelayan bercadar itu, dan tersenyum miring.
"Apakah informasi itu begitu mahal hingga perlu berbincang dengan saya, Pemilik Kerajaan Hantu?" tantang Yi Hua sambil mengangkat dagunya.
Tirai hitam itu terlihat tenang hingga Yi Hua merasa seperti berbicara dengan angin. Namun tak lama ada suara yang menyahut dari sana. Suara yang sangat hangat, tetapi misterius sekaligus.
"Tergantung sejauh apa kalian ingin tahu."
Makhluk ini! Jika aku bisa melemparnya dengan bangku sekarang juga, mungkin aku akan melakukannya.
Sayangnya ... Yi Hua cukup takut dengan tindakan seperti bandit itu. Semoga Hua Yifeng tak berniat membongkar isi perutnya, karena Yi Hua masih ingin bernapas dengan paru-paru. Jika dia kehilangan isi dalam perutnya, maka itu pasti sangat sakit. Membayangkannya saja sudah seperti adegan sadis semata. Tidak ada estetika dalam adegan itu.
Meski ada kekuatan tak berguna itu, tetapi rasa sakitnya tak akan hilang, bukan?
Ini sama seperti kau punya uang tabungan yang banyak. Uang tabungan itu rencananya ada untuk membayar hutang yang menumpuk. Kau menyimpannya terus-menerus, hingga kau berpikir nanti kau akan aman jika waktu pembayaran.
Namun saat pembayarannya datang, kau dengan bangganya berpikir bahwa aman. Lalu, membuka tempat penyimpanan uang itu, dan ternyata uang itu sudah 'dipinjam' dengan tetangga. Dia meminjamnya tanpa kau ketahui. Bahkan kau tak ada bukti, tetapi kau tahu itu tetanggamu.
Inti dari cerita ini sebenarnya rumit. Akan tetapi, secara sederhananya, pesan moral yang bisa diambil adalah semuanya omong kosong. Itu saja.
Yah, lebih lembutnya lagi kau bisa menyebutnya tidak berguna.
Huan Ran yang merasa bahwa jiwanya tak laku dalam pertaruhan ini sebenarnya merasa tersinggung. Akan tetapi, ada rasa senang juga dengan keadaan ini. Meski dia harus menumbalkan Yi Hua untuk menarik informasi.
"Hanya berbincang, istriku," ucap Huan Ran dengan wajah datarnya.
Mendengar ucapan Huan Ran, Yi Hua langsung merasa merinding. Bagaimana pun dalam catatan hidupnya yang terhitung baru beberapa hari di dunia ini, dia sungguh tak percaya jika ada rupa-rupa warna di sana. Dia sungguh tak merasa berdaun-daun ketika disebut istri oleh Huan Ran.
Yah, walau pun Huan Ran terbilang tampan. Namun itu bukan berarti dia ingin di'jual' oleh suami gadungannya ini hanya untuk informasi. Akan tetapi, ...
"Ini misi, Yi Hua. Jika pekerjaan kita berhasil, maka kau bisa naik jabatan. Namamu juga akan bersih kembali." Liu Xingsheng memberikan sugesti.
Lagipula, inilah yang disebut sebagai sikap pekerja yang baik. Dan, bukankah Hua Yifeng hanya ingin berbincang dengannya?
Siapa tahu Hua Yifeng hanya ingin membicarakan tentang tetangga mereka yang hamil mendadak. Mungkin juga membicarakan tentang sapi peliharaan kerajaan yang bergonta-ganti suami. Bisa juga tentang air yang menetes ke bawah. Yah, apa saja!
Lagipula, Hua Yifeng tak tahu jika dirinya seorang gadis, bukan?
"Aku tak tahu jika kecantikan ini begitu tinggi harganya."
Entah mengapa Yi Hua bisa merasakan senyuman dalam suara Hua Yifeng. Hal itu membuat Yi Hua semakin ingin meminjam pedang Huan Ran. Ia sungguhan ingin menebas tirai hitam itu.
Oh ya ampun pria ini! Aku pasti akan mengutuknya dengan kertas jimat. Tanganku gatal sekali ingin berbuat dosa.
Akhirnya, Yi Hua memasang senyum yang sedikit menyebalkan.
"Bagaimana jika saya yang bermain di sini, Pemilik Kerajaan Hantu?"
Tak ada suara yang terdengar dari tirai itu lagi dalam beberapa detik. Sebelum terdengar seperti suara langkah kaki yang mendekat. Yi Hua langsung refleks bersembunyi di belakang Huan Ran.
Sebenarnya Yi Hua tidak takut. Dia hanya terkejut saja. Ingat dia hanya terkejut!
"Biarkan aku memberimu keberuntungan."
Huh? Memangnya dia Dewa Keberuntungan?
Yi Hua yang merasa tertantang segera duduk di kursi yang seharusnya diduduki oleh Huan Ran. Namun karena Yi Hua yang sedang semangat-semangatnya ingin berjudi, Huan Ran didorong oleh Yi Hua ke samping. Hal itu membuat Huan Ran menghela napasnya lelah.
Sepertinya Liu Xingsheng membawa rekan yang salah dalam penyelidikan ini.
Namun Huan Ran terdiam ketika mendengar bisikan dari Yi Hua. Begitu juga dengan Liu Xingsheng yang memang berada di dekat dengan Yi Hua. Adapun yang ia katakan ialah ...
"Mereka membawa pria yang bertaruh itu ke belakang."
Kasus orang yang hilang di Kerajaan Li mungkin berhubungan dengan Hua Yifeng. Itu adalah apa yang mereka duga. Sehingga mereka harus melakukan pekerjaan terpisah.
__ADS_1
Huan Ran hanya mengangguk dan diam-diam menyelinap keluar dari meja yang ramai itu. Sedangkan Liu Xingsheng juga segera berkumpul dengan hantu-hantu perempuan yang sedang bergosip. Ini tentu saja hal yang penting!
Liu Xingsheng juga sedang mencari informasi.
"Hey, bagaimana kau bisa merawat kulit hingga sebagus ini?" tanya salah satu hantu perempuan sambil menarik tangan Liu Xingsheng.
Lalu, Liu Xingsheng memberikan tips-tips perawatan kulit yang membuat Yi Hua menjadi jengah. Apakah Perdana Menteri kiri ini benar-benar sedang mencari informasi?
Yi Hua menepuk meja di hadapannya dengan semangat. Seolah dia sudah tak perduli dengan citra kecantikan yang sedang ia gunakan. Lagipula, Yi Hua sudah kepalang semangat ingin memenangkan perjudian.
"Kau tahu bukan bahwa pertaruhan seperti ini dilarang?" tanya Xiao yang pusing sendiri dengan tingkah Yi Hua.
Bagaimana bisa ada seorang gadis yang gagal menyamar menjadi gadis?
Dia sendiri bahkan bingung bagaimana mendefinisikan kelakuan Yi Hua. Bahkan jika Yi Hua saat ini mengenakan pakaian pria, maka sejak tadi kaki kanan Yi Hua akan naik di atas meja. Sungguh manusia yang sangat rupa-rupa warnanya.
Biar aku tunjukkan Dewa Judi yang ada di dalam diriku!
"Tiga."
Itulah yang disebut Yi Hua sebelum dadu di lemparkan. Beberapa di antara mereka juga melontarkan pertaruhan mereka. Tentu saja mereka juga memiliki sesuatu yang dipertaruhkan dalam perjudian ini.
"Dua."
Yi Hua mendengar jawaban itu dari balik tirai. Sehingga dia menjadi was-was sendiri. Hua Yifeng menjadi tertarik untuk bertaruh sekarang. Bagaimana pun tak ada yang tahu tentang peruntungan, bukan?
Sejauh ini, Yi Hua sadar bahwa keberuntungannya memang sangat kecil.
"Bukannya kau memang jarang beruntung ya?" tanya Xiao begitu saja.
TAK
Dadu yang dilemparkan tampak berputar sebelum berhenti pada sisi dengan mata dadu yang menampilkan dua buah. Hal itu membuat dagu yang awalnya ditopang oleh tangan kanannya menjadi oleng. Yi Hua cukup terguncang dengan hasil itu.
"Ulangi."
Yi Hua kembali mengalihkan pandangannya ke arah tirai. Lagi-lagi Hua Yifeng yang misterius ini.
"Bukan seperti itu cara yang benar dalam melempar dadu."
Sejak kapan ada cara yang benar dalam melempar dadu?
"Satu."
"Pikirkan lagi." Suara Hua Yifeng terdengar lagi dari balik tirai.
Hal itu membuat semua orang terperangah. Dimana sosok misterius Hua Yifeng, yang katanya suaranya pun akan sulit diketahui?
Sekarang Hua Yifeng telah berbicara cukup banyak. Bahkan dia terlihat seperti ingin Yi Hua menang. Padahal saat ini pria itu sedang bertaruh dengan Yi Hua. Mana orang yang ingin lawannya menang!
Yi Hua berpikir lagi. "Saya punya keinginan untuk menjawab setiap pertaruhan dengan angka ganjil."
"Bukannya peruntungan milikmu sangat buruk, Yi Hua?" tegur Xiao agar Yi Hua tidak ceroboh dalam mengambil keputusan.
Lagipula, mengapa Xiao tidak membantu Yi Hua jika dia khawatir? Memberikan saran saja tidak! Mungkin saja seperti tebakan dari Yi Hua, Xiao ini sangat takut pada Hua Yifeng.
Bukankah sebelumnya Yi Hua sendiri yang tak ingin kalah dari Hua Yifeng?
"Maka buat seperti itu. Dua."
Heh? Apa maksudnya?
"Baik, Tuan."
Yi Hua melihat seorang yang entah hantu atau bukan, tetapi dia yang bertugas untuk melempar dadu. Orang itu terlihat berkeringat dingin tiba-tiba. Dia kini merasa bahwa tangannya agak gemetaran karena sesuatu. Yi Hua tak tahu itu apa.
Hanya saja orang itu terlihat agak tertekan.
TAK
Kini dadu yang dilemparkan berputar. Putaran itu sangat kencang, dan tanpa mereka sadari hanya dua orang yang bertaruh di sini. Yang tidak sadar adalah Yi Hua yang dengan semangatnya menatap dadu berputar di hadapannya.
Orang-orang menyoraki seolah menyerukan dukungannya. Tentu saja yang disoraki adalah Hua Yifeng. Sebab, dalam permainan dadu, Hua Yifeng tak pernah terkalahkan.
Tebakannya selalu benar. Bahkan Hua Yifeng juga sangat benar, sampai nyaris bisa menebak bahkan sebelum dadu dilemparkan. Sehingga mereka sangat yakin jika Hua Yifeng akan tetap menang.
"Aku akan meminta kakinya pada Tuan nantinya. Dia pasti hanya akan menyerap jiwanya saja, bukan?" ucap seorang hantu rendahan dengan wajah semangat.
Yi Hua sejak awal memiliki aura yang sangat aneh. Dia seperti terlihat memiliki kekuatan yang sangat banyak di dalam dirinya. Namun di sisi lain, dia juga terlihat seperti lempengan tahu. Itulah energi yang sangat aneh di dalam diri Yi Hua.
__ADS_1
"Dia tak mungkin bisa mengalahkan, Tuan. Aku yakin ..."
Yi Hua mengorek telinganya dengan malas. Sebenarnya dia sangat sensitif jika ada orang lain yang membicarakannya. Namun kesombongannya membawa Yi Hua untuk terus percaya bahwa dadu itu akan berubah menjadi sisi dadu dengan titik satu.
TEP
"DUA!"
Yi Hua menatap sebal pada tirai hitam itu, yang entah bagaimana menjadi representasi dari Hua Yifeng. Bagaimana pun Yi Hua tak ingin berbincang dengan pria itu. Dia merasa sedikit aneh dengan cara Hua Yifeng memperlakukannya. Apalagi, Hua Yifeng masihlah tersangka utama dari orang yang menciumnya.
Katakanlah Yi Hua dendam sekarang.
"Ulang lagi."
Orang-orang saling menatap bingung satu sama lainnya. Bagaimana bisa satu permainan diulang selama tiga kali?
Kali ini apa kesalahannya, mereka tak tahu lagi. Sejak awal juga memang tak ada cara khusus dalam melempar dadu. Biasanya dadu dilempar oleh seseorang, dan yang harus berpikir itu adalah yang bertaruh. Lalu, sekarang mengapa jadi pelempar dadu malang ini terus yang membuat kesalahan?
"Mejanya miring."
Yi Hua meraba meja lebar itu dan terperangah. Nyatanya meja itu memang agak miring. Akan tetapi, bukannya itu memang bagian dari permainan?
Ada kalanya saat kau berpikir kesempatan ada di depan matamu, tetapi karena meja yang di depanmu mengubah mata dadu karena kemiringan. Itu adalah bagian yang seru dari permainan dadu. Terkadang jika terlalu mudah, maka itu akan membosankan.
Namun Yi Hua hanya menggaruk kepalanya bingung. Dia tak pernah bermain dadu, jadi mungkin dia tak banyak mengerti. Sejatinya, Yi Hua sejak awal memang asal menyebut saja.
"Biarkan kecantikan itu yang melemparnya."
Huh? Apa ada kesalahan lagi dalam pelemparannya?
Yi Hua dengan bingung menerima dadu itu. Bagaimana pun dia jelas-jelas hanya bisa melempar dengan cara acak. Ketika menerima dadu itu, Yi Hua menatap ke arah tirai yang bergoyang lagi karena angin. Di sana tampak sepatu hitam yang sangat menarik perhatian matanya.
Meski begitu, Yi Hua memang sejak awal berniat untuk mengalahkan Hua Yifeng.
"Tebak lagi," ucap Hua Yifeng.
Yi Hua menarik napasnya sebelum menyebut. "Lima."
Seperti yang dikatakan oleh Yi Hua dia akan terus menyebut angka ganjil dalam permainan ini.
"Enam."
Itu adalah jawaban dari Hua Yifeng.
Lihatlah seorang peramal bekerja! Aku akan memberikan mantra ampuh agar dadu ini bekerja.
Dia adalah orang yang bisa membaca masa depan dari orang lain. Membaca takdir. Itulah pekerjaannya. Sehingga membaca mata dadu
pasti akan benar.
Terkadang Yi Hua lupa bahwa dia adalah orang yang cukup sial.
TAS!
Lemparan Yi Hua sangat tak teratur hingga nyaris dadu itu terpental keluar dari meja. Itu dilakukan oleh Yi Hua karena dia terlalu semangat dalam melempar. Orang-orang langsung terberai hanya agar tak ada yang bisa mengganggu dadu bergulir apabila terjatuh di meja. Beruntung itu tak terjadi.
Nyatanya dadu berputar dan berhenti di angka yang agak menakjubkan. Itu adalah lima.
Yi Hua menang.
"Itulah cara melempar dadu dengan benar."
Apanya?
Mereka tak melihat adanya 'kebenaran' dalam lemparan dadu Yi Hua. Bahkan itu sudah seperti melempar makanan untuk ikan. Namun dengan bodohnya mereka berpikir itu mungkin adalah trik rahasia. Selama ini mereka kurang piknik dan belajar bahwa cara melempar dadu pun tak boleh dengan cara yang sembarang.
Yi Hua yang dipuji malah bangga dengan mantra dari jimat pengusir tikus yang ia baca sebelum melempar dadu.
Aku sepertinya punya bakat untuk menjadi Dewa Judi!
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Jaga kesehatan dan tetap semangat. Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1