Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Kerikil dan Batu Di Perjalanan, Sebuah Masalah


__ADS_3

"Bersihkan air liur di dagu Anda, Peramal Yi," ucap Ling Xiao yang entah mengapa merasa jahil ketika melihat wajah polos Yi Hua.


Biasanya Yi Hua terlihat sombong dan berusaha terlihat licik. Akan tetapi, sekarang peramal ini terlihat seperti anak kecil yang tengah berpikir panjang. Dia terlihat melamun dan merenggut sesekali, seolah tengah berbicara di dalam hati.


Sangat menarik.


Pandangan Yi Hua mengarah pada Ling Xiao kali ini. Tanpa sadar Yi Hua mengusap dagunya sendiri untuk memastikan. Dan, ternyata Ling Xiao hanya sedang menggodanya saja. Yi Hua merenggut kesal, karena merasa diganggu oleh paman-paman tua.


"Namun kalung ini bukan kalung anggota yang dimiliki oleh Hua Yifeng. Aku menemukannya di Lembah Debu. Sepertinya seseorang yang kaya baru saja melintas di sekitar Lembah Debu. Ia sepertinya menuju ke Kerajaan Bawah, dan mati karena badai. Beruntung kalung anggota ini tidak memiliki nama di atasnya," jelas Ling Xiao yang tersenyum manis pada Yi Hua.


Huan Ran terlihat berpikir. "Tapi, pelelangan di Kerajaan Bawah hanya dilaksanakan setiap 1 tahun sekali."


Itu benar. Karena tidak setiap hari ada barang-barang mahal, dan tidak setiap hari juga orang-orang penting berbau uang itu bisa berkumpul. Mereka pasti sibuk mencari uang. Dan, membuang-buangnya di Kerajaan Phoenix.


"Jika orang ini ingin melintas dengan jalur lebih cepat, itu berarti pelelangan tak lama lagi." Yi Hua mendadak bicara.


Lebih dari segalanya ... Mengapa orang ini melewati Lembah Debu yang berbahaya ini? Mengapa tak memutar saja untuk kesejahteraan hidupnya?


Pasti karena dia tak memiliki cukup banyak waktu. Dan, karena pilihannya itu orang tersebut benar-benar tak memiliki waktu lagi, yaitu mati di sini. Sungguh malang untuk diingat.


"Kita tak punya waktu banyak," ucap Huan Ran yang membimbing Liu Xingsheng untuk bangkit.


Dan, secara alami Liu Xingsheng bangkit. Seolah seluruh organ tubuh Liu Xingsheng tidak lumpuh. Hanya otaknya saja yang lumpuh. Bagaimana cara menjelaskan keanehan ini?


"Tapi saya tidak tahu di mana Kerajaan Bawah itu berada. Saya bukan anggotanya," lanjut Ling Xiao lagi.


Ah benar. Bukankah Hua Yifeng adalah anggota pelelangan Kerajaan Bawah?


"Xiao, apakah ada cara untuk berkomunikasi dengan Hua Yifeng tanpa harus mencari orang itu di mana? Kita bahkan tak tahu di mana Hua Yifeng berada," ucap Yi Hua di dalam hati.


"Hanya orang yang memiliki kalung itu yang mengetahui lokasi tepatnya. Peramal Ling ini hanya menemukannya, sehingga dia memang tidak tahu tentang lokasinya," jelas Xiao langsung.


"Jadi, satu-satunya orang__ maksudku makhluk yang bisa kita tanya hanyalah Tuan Hua?" tanya Yi Hua lemah. Ia sedang tak ingin bertemu dengan Hua Yifeng.


Ceritanya sedang perang dingin, paham!


CKLEK!


Belum sempat Xiao menjawab, suara pintu terbuka. Di sana ada Yue Yan yang lagi-lagi dengan mangkuk airnya. Kali ini ada sedikit kepulan asap di atasnya. Pertanda Yue Yan benar-benar memanaskan air itu sesuai permintaan Yi Hua.


"Sampai di mana kau mendengar?" tanya Huan Ran dengan tatapan tajam.


Namun Yue Yan hanya berjalan sambil membawa mangkuk air itu. Pria itu meletakkannya ke meja di samping Ling Xiao.


"Tak banyak. Aku datang saat kalian bicara ingin datang ke pelelangan," jelas Yue Yan dengan mudah.


Xiao membenarkan ucapan Yue Yan. Sepertinya Yue Yan memang baru saja datang.


"Dan juga ... Aku tahu di mana letak Kerajaan Bawah itu berada. Lima hari lagi Kerajaan Bawah akan mengadakan Pelelangan," lanjut Yue Yan sambil mencium ular kecil yang keluar dari lengannya.


Sejak kapan orang ini mulai masuk dalam perjalanan mereka?


***


"Sekarang katakan padaku mengapa kau bisa mengetahui tentang lokasi Kerajaan Bawah ini?" tanya Yi Hua pada akhirnya.


Setelah badai berlalu, mereka meninggalkan kediaman Ling Xiao. Untungnya badai itu berlangsung hanya semalam, dan esok paginya mereka bisa pergi. Sebenarnya Huan Ran memiliki kecendrungan yang sedikit tidak sabar, tetapi karena masih badai Huan Ran juga tak bisa memaksa pergi pada saat itu juga.


Kemudian, seperti yang sudah diketahui, jika melewati Lembah Debu akan lebih dekat ketimbang melewati kota laut, sehingga mereka tak akan menempuh perjalanan yang jauh. Beruntung saat baru keluar dari Lembah Debu mereka mendapat tumpangan. Yang memberi mereka tumpangan adalah rombongan pedagang. Mereka dengan baiknya merelakan satu kereta mereka untuk dinaiki oleh keempat orang ini*.


*Keempat orang itu Yi Hua, Yue Yan, dan juga Huan Ran beserta Liu Xingsheng.


Dan, di dalam kereta itu jelas mereka hanya berhadapan tanpa berbincang-bincang sebelumnya. Karena yah ... mereka memang tak akrab sama sekali. Terutama Huan Ran yang memang tak banyak bicara.


Sehingga pertanyaan Yi Hua sebelumnya adalah percakapan pertama setelah mereka naik ke kereta.


Yue Yan menghela napasnya sebal. "Mengapa kau harus tahu?"


"Karena jika kau membohongi kami, aku akan menendang kepalamu sekarang juga," jawab Yi Hua dengan tenang.


"Kau pasti bercanda," ucap Yue Yan yang menatap Yi Hua tak percaya.


Namun Peramal itu malah menatap ke arah luar untuk memperhatikan kota yang cukup luas ini tanpa menjawabnya. Walau tak seluas Pusat Kota, tetapi kota ini juga cukup maju. Dan, karena kota ini masih masuk wilayah Kerajaan Li mereka harus berhati-hati agar tak ada orang kerajaan di sana. Siapa yang bisa menduga jika prajurit yang diperintahkan kerajaan akan mencari sampai ke sini nantinya.


Yue Yan yang menyadari jika Yi Hua tak bercanda. Karena ia takut ditendang oleh Yi Hua, Yue Yan langsung menjawab dengan cepat. "Dahulu aku pernah mencoba mencari sesuatu untuk mengalahkan Shen Qibo. Sayangnya, aku hanya mengetahui tempatnya tanpa ada benda itu."


Yang dimaksud oleh Yue Yan adalah kalung Phoenix itu. Percuma saja tahu tempatnya, tetapi tidak bisa masuk. Hanya dengan kalung Phoenix ini mereka bisa masuk ke dalamnya. Sungguh penjagaan yang luar biasa, dan terkesan 'mahal'.


Tapi ...

__ADS_1


"Seharusnya kau mudah masuk tanpa kalung ini. Kau bisa menyebarkan ularmu dan menyebabkan kerusakan dimana-mana," lanjut Yi Hua yang baru ingat jika baru kali ini Yue Yan seperti mengikuti peraturan.


Yue Yan menatap Yi Hua kesal. "Kau memandangku orang seperti apa?"


"Memangnya kau tidak akan merusak jika kau bisa?" tanya Yi Hua lagi.


Yue Yan hanya diam dan mengalihkan pandangan pada Huan Ran. Akan tetapi, sejak awal Huan Ran tak perduli pada Yue Yan. Seperti yang terlihat, jika Yue Yan berantakan dan merusak, maka Huan Ran lebih bersih dan tak suka keributan. Oleh karena itu, kedua orang ini tak bisa saling bertukar cerita layaknya ibu-ibu di pasar.


Melihat Huan Ran yang memejamkan matanya, entah tidur atau tidak, Yue Yan kembali bicara pada Yi Hua. "Sudahlah, Yi Hua. Kau ini mau aku bantu atau tidak? Sekarang aku satu-satunya kunci kalian untuk menemukan Kerajaan Bawah. Asal kau tahu Kerajaan Bawah itu tak akan menjadi begitu disegani jika itu hanya tempat yang bisa kau masuki seenak kepalamu. Bahkan seorang Raja pun harus punya kalung itu baru mereka bisa masuk."


S*alan ini!


Yi Hua tersenyum licik. "Yang kami perlukan adalah ingatanmu tentang Kerajaan Bawah. Sekarang kau pilih, mau menunjukkan tempat itu dalam keadaan hidup atau aku akan bertanya pada otakmu."


Kau ingin bermain licik padaku?! Tidak bisa, Ular.


"HuaHua, kenapa kau semakin kejam akhir-akhir ini?" tanya Xiao yang lagi-lagi membacakan mantra keagamaan agar Yi Hua lebih mendekatkan diri pada jalan yang benar.


"Kau tidak akan berani membunuhku, Yi Hua? Lagipula, bagaimana kau bisa bertanya pada ingatanku?" tanya Yue Yan histeris.


Posisi Yue Yan saat ini duduk di samping Yi Hua. Sedangkan Huan Ran dan Liu Xingsheng sedang duduk di hadapan mereka. Sehingga Yue Yan menjauhkan tubuhnya dari Yi Hua, ia menempel pada dinding kereta. Hal tersebut membuat Yue Yan merasakan guncangan dari kereta dengan keras. Wilayah yang mereka lalui adalah wilayah berbatu rupanya..


Namun Yi Hua sedang datang usilnya, sehingga Yi Hua menggunakan kertas jimatnya untuk mengusap wajah Yue Yan. Terlihat sekali jika Yue Yan percaya dengan ucapan Yi Hua. Oleh karena itu, Yi Hua memanfaatkannya untuk membuat Yue Yan tak berniat membohongi mereka.


Bagaimana jika Yue Yan menunjukkan jalan yang salah?


"Kau ingin mencobanya? Supaya kau perlu tahu jika aku punya cara jika kau tak mau mengatakan yang sebenarnya," tanya Yi Hua dengan tatapan angkuhnya.


"Suatu saat aku akan membunuhmu." Hanya itu yang bisa Yue Yan ucapkan pada Yi Hua, walau Yue Yan sendiri tak yakin.


Akan tetapi, dengan santainya Yi Hua kembali duduk di tempatnya. Ia memperhatikan Liu Xingsheng yang membuka mata. Kata Ling Xiao, meski terlihat kosong tetapi Liu Xingsheng mungkin bisa melihat apa yang orang di sekitarnya lakukan. Mungkin jika Liu Xingsheng sadar seperti biasanya, pria itu akan lebih berisik lagi dari Yue Yan.


Yah, sebagai seorang pekerja setia dari Liu Xingsheng aku akan membantunya kembali.


Hanya itu yang bisa Yi Hua katakan. Sebab, kehidupannya sekarang hanya berdasarkan keuntungan masing-masing. Sehingga Yi Hua tak perlu menganggap keberadaan Liu Xingsheng sebagai sesuatu yang penting. Hanya sebagai tempat Yi Hua mencari uangnya.


Dahulu ia memiliki dua orang teman, dan mereka mengalami takdir yang buruk. Itu sangat menyakitkan untuk diingat. Oleh karena itu, di kehidupan ini dirinya tak perlu berteman lagi. Ia harus hidup bertahan tanpa bergantung pada orang lain


Selalu sendirian.



Begitu juga dengan dirinya.


***


TUK!


TUK!


TUK!


KRIT


Yi Hua yang tertidur sejenak langsung bangun. Ia mengusap mulutnya sendiri hanya untuk memastikan. Dan, mata Yi Hua bertemu dengan mata Huan Ran yang waspada. Bagaimana pun perjalanan dengan kereta ini cukup lama. Mereka juga hanya menumpang di para pedagang yang baru mereka temui.


Yi Hua menyibak sedikit tirai dari kereta itu, dan mereka sampai pada wilayah yang ramai. Apa mereka sudah memasuki di wilayah kotanya?


"Yue Yan," panggil Yi Hua pelan.


Akan tetapi, tak ada jawaban dari pria itu. Sehingga Yi Hua menoleh pada Yue Yan yang tengah tertidur. Ular-ular milik Yue Yan tampak tidur nyenyak di pangkuan Yue Yan. Bagaimana bisa pemandangan seperti ini jadi biasa?


Padahal ular saja jika kita melihatnya akan membuat jiwa-jiwa kerasukan bertahta. Apalagi jika ular ini berkeliaran di tubuh kita seperti kucing. Ya ampun. Tak habisnya Yi Hua mengagumi keanekaragaman manusia.


STAK!


"Apa ... Apa ..." teriak Yue Yan yang terbangun tiba-tiba saat Yi Hua menendang kakinya.


Karena itu, ular-ular Yue Yang terjatuh dari pangkuannya. Mereka bersiaga dan mendesis pada Yi Hua. Namun itu hanya sementara, karena ketika Huan Ran menatap tajam pada ular itu, mereka langsung merangsak untuk bersembunyi di dalam pakaiannya Yue Yan.


"Kenapa kau menendang ku?" teriak Yue Yan tak terima.


Yi Hua menghela napasnya. "Keretanya berhenti."


Yue Yan juga menjadi waspada. Ia mengintip di sisi lainnya. Dan segera memberitahu Yi Hua.


"Ini adalah wilayah paling ramai di kota ini. Sepertinya para pedagang ini sedang beristirahat di penginapan," ucap Yue Yan sambil menunjuk pada sebuah bangunan besar di samping kereta.


Yi Hua menatap Huan Ran untuk meminta pendapat. "Sepertinya kita hanya perlu turun dari kereta ini. Setidaknya kita sudah menghemat waktu dengan menumpang kereta mereka."

__ADS_1


Ini resikonya menumpang kendaraan orang lain. Belum tentu mereka mau mengantar sampai tujuan.


Lagipula, Kerajaan Phoenix adalah wilayah rahasia. Yi Hua tak yakin jika pengemudi kereta akan bisa mengantar mereka sampai tujuan.


"Yi Hua, tujuan kita sama dengan para pedagang ini," cetus Yue Yan tiba-tiba.


Apa? Jadi, para pedagang ini juga ternyata ingin menuju Kerajaan Bawah?


"Aku melihat pemimpin rombongan ini menggunakan kalung Phoenix. Namun jelas kita tak bisa menumpang pada mereka secara terang-terangan menuju ke Kerajaan Bawah," ucap Huan Ran yang ternyata juga mengetahuinya.


Setiap orang yang datang ke Kerajaan Phoenix harus datang dengan rahasia. Bahkan kata Yue Yan, jika masuk pun mereka harus menggunakan topeng atau penutup wajah. Tak ada yang boleh tahu jika kau anggota Kerajaan Bawah.


Sebab, itu akan membahayakan pelanggan. Dalam pelelangan akan ada penawaran dan pengajuan harga besar-besaran hingga menemukan harga tertinggi. Jika ada yang tahu kau kaya, apalagi mendapatkan 'benda langka' dari sana, maka kau akan diburu oleh lawan di pelelangan.


"HuaHua, ada yang datang," ujar Xiao memberitahu.


Yi Hua memasang telunjuknya di depan bibir agar mereka tak bicara lagi.


"Yue Yan, masukkan ular-ularmu. Jangan sampai mereka melihat bahwa kau memiliki peliharaan," ucap Yi Hua.


SRET!


TOK!


TOK!


TOK!


Benar saja seseorang mengetuk pintu kereta mereka. Yi Hua dengan wajah ramahnya segera membuka tirai.


"Ada apa?" tanya Yi Hua dengan nada sopan.


Yang mendatangi mereka adalah seseorang penjaga.


"Tuan Qiu memanggil para Tuan untuk berbicara," ucap penjaga itu sambil menunjuk ke arah penginapan.


Sepertinya mereka memang hendak beristirahat, sekaligus 'mengusir' para tamu yang menumpang di kereta mereka ini. Sehingga Yi Hua membalasnya dengan sopan. "Kami akan memberi sapaan perpisahan dan terima kasih. Rupanya kita sudah sampai di kota," jawab Yi Hua dengan senyum ramahnya.


Penjaga itu membuka pintu kereta untuk mereka, dan Yi Hua segera turun diikuti oleh Yue Yan. Sedangkan Huan Ran juga turun sambil menyambut Liu Xingsheng yang sudah dipakaikan Huan Ran penutup wajah seperti perempuan.


Mereka tak punya pilihan selain menyembunyikan Liu Xingsheng, karena akan aneh jika mereka tahu keadaan pria ini.


"Silahkan masuk, Tuan-Tuan. Tuan Qiu menyambut kalian," ucap penjaga itu sambil membimbing mereka berempat untuk masuk ke penginapan.


Saat baru saja Yi Hua ingin melangkahkan kakinya masuk ke penginapan, seorang gadis berlari dan menabrak bahunya. Tak lama gadis itu menoleh pada Yi Hua dan memberi penghormatan dengan anggun. Bagaimana pun Yi Hua menyadari jika gadis ini juga berada di dalam rombongan pedagang. Walau berada di kereta yang lainnya.


"Maafkan Nona kami, Tuan. Dia memang agak ceroboh," ucap penjaga itu sambil menarik gadis yang menabrak Yi Hua dengan agak kasar.


Hal tersebut membuat Yi Hua mengangkat sebelah alisnya heran. Bagaimana bisa seorang 'Nona' diperlakukan kasar seperti itu?


Ditambah lagi gadis ini terlihat seperti bukan seorang bangsawan atau masyarakat kelas atas. Dia seperti gadis desa biasa yang dipakaikan pakaian mewah. Terlihat sedikit berantakan dan tak nyaman.


Dan, gadis itu menoleh sekali lagi pada Yi Hua. Gerakan bibir gadis itu terlihat jelas dan agak bergetar. Hanya saja ... Yi Hua perlahan memahaminya.



"HuaHua, ... Kau harusnya tahu jika kita punya urusan lain, bukan?" tanya Xiao yang mengingatkan.


Dan, arah perjalanan mereka juga berbeda. Yi Hua melirik sekilas pada gadis itu yang dibawa ke ruangan yang berbeda dengan mereka. Sedangkan ruangan penginapan yang diarahkan oleh penjaga ini di bagian yang berlawanan. Sehingga Yi Hua menoleh ke belakang untuk melihat gadis itu lagi.


Namun ia hanya melihat seorang penjaga yang mendorong gadis itu masuk ke ruangan.


Mendadak Yi Hua teringat tentang apa yang diucapkan gadis itu sebelumnya.


"Silahkan masuk, Tuan-Tuan." Yi Hua berjalan masuk dengan perasaan hampa.


Apa yang dikatakan oleh gadis itu ialah ... "Tolong aku."


Percayalah, Yi Hua ingin menutup matanya agar ia tak pernah menyadari apapun sekarang.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2