Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Situasi yang Berbeda


__ADS_3

Betapa banyak takdir dunia ini yang sangat mengecoh?


Seperti kau berpikir sejak awal dunia ini bergerak tak adil bagi dirimu. Namun di sisi lainnya, jika kau lebih berpikir positif, mungkin kau akan mengerti bahwa setiap hal di dunia ini memiliki sebab dan akibat. Tak berarti kau menjadi pihak yang benar-benar tak beruntung, tetapi seringkali kau hanya tak tahu bahwa kau sebenarnya beruntung. Seperti yang terjadi pada Wei Wuxie di depan Yi Hua sekarang.


Akan tetapi, bagi Wei Wuxie lebih baik dirinya mati dibandingkan kabar bahwa Putri Li Wei telah mati.


Sepuluh tahun yang lalu ...


Teringat dirinya akan janjinya pada Permaisuri Kerajaan Li.


Ia berjanji akan melindungi Putri Li Wei dan Pangeran Li Shen.


Nyatanya ... Ketika ia sadar dirinya sudah berada di kediaman Ling Xiao.


Bayangkan!


Kediaman tersembunyi Ling Xiao terletak jauh dari Pusat Kota. Jaraknya memakan setengah hari jika ditempuh dengan kuda yang kerasukan. Itu pun jika kudanya tak perlu istirahat.


Saat ia terbangun, kepala Wei Wuxie sudah dibaluti kain untuk menutup lukanya.


Ia ingat bahwa kepalanya dipukul dengan keras hingga Putri Li Wei membawanya untuk bersembunyi, lalu ...


SRET!


Lalu, kenapa dia sekarang tengah berada di sini sementara Putri Li Wei dan sahabatnya, Zhang Yuwen masih ada di tangan Xin Wantang bajing*n itu!


Namun, baru saja Wei Wuxie bangkit dari posisi berbaring, pandangannya terasa berputar. Ia terbaring lagi dan dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit, dan melihat di jemarinya yang tertempel darah.


"Kau kehabisan banyak darah."


Suara itu terdengar sangat tenang dan lembut seperti biasanya. Wei Wuxie mengenalinya, karena saat di Pelatihan Awan orang ini seringkali menegurnya. Yah, Ling Xiao.


"Putri Li Wei bagaimana ...


Wei Wuxie berusaha bangkit lagi, dan Ling Xiao menarik pisaunya dengan gestur mengancam. "Jika kau tidak berbaring lagi, akan ku belah kepalamu dengan pisau," ancam Ling Xiao dengan nada tenang.


Padahal sudah susah-susah aku obati kepalanya! Memang anak muda sangat susah dimengerti.


Ling Xiao merasa lebih tua beberapa tahun dari usianya karena ini.


Lebih dari segalanya ... Ling Xiao benci saat dirinya mengetahui banyak hal, tetapi tak bisa melakukan apa-apa.


Untuk apa dirinya diberi anugerah untuk melihat takdir orang lain, tetapi dirinya tak boleh ikut campur di dalamnya?


Wei Wuxie yang terbiasa memandang pria di depannya ini sebagai guru mau tak mau mengikuti. Ling Xiao yang Wei Wuxie kenal selalu seperti itu. Perawakannya, entah mengapa, terlihat sangat jauh dari kata tua. Seingat Wei Wuxie ia pertama kali bertemu Ling Xiao di usianya yang baru sepuluh tahun.


Dan, di usianya sekarang, wujud Ling Xiao masih terlihat sama dengan pertama kali Wei Wuxie mengenalnya. Apa ini karena Wei Wuxie yang wajahnya begitu 'murah' tuanya?


Ling Xiao masih berperawakan halus seperti awan lembut di matahari yang hangat. Dibaluti dengan pakaiannya yang serba putih dan mata Ling Xiao yang sangat tenang.


Akan tetapi, dari matanya siapa saja bisa tahu tentang keseriusannya. Ling Xiao terlalu tenang sampai kau tak bisa menebak apa yang ada di kepalanya. Itu yang membuat Ling Xiao berbahaya.


"Kau harus sembuh terlebih dahulu," ucap Ling Xiao yang menyimpan kembali pisaunya dengan tenang.


Wei Wuxie bersandar di kasur, "Apa yang terjadi, Guru Ling?" tanyanya.


Mata Ling Xiao masih tenang. "Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Ling Xiao kembali.


Inilah yang menakutkan.


Saat kau bertanya, dan ditanya kembali. Kau akan bingung untuk bertanya apa lagi. Ditambah lagi Wei Wuxie sendiri tak tahu kabar apa yang akan ia dapatkan. Lebih tepatnya, ia belum tahu bagaimana reaksinya nanti.


"Kerajaan Xin sudah mundur dari Kerajaan Li. Mereka tak bisa apa-apa lagi saat Xin Wantang dan Liu Shang sudah mati. Hanya menunggu waktu hingga Kerajaan Xin hancur dengan sendirinya karena kepemimpinan baru yang lemah. Xin Wantang sudah membunuh saudara-saudaranya sendiri untuk naik tahta menjadi raja. Saat dirinya sudah mati seperti sekarang, tak ada lagi orang yang berkompeten untuk naik tahta," jelas Ling Xiao sambil duduk menghadap sebuah papan putih yang diyakini Wei Wuxie sebagai kanvas lukis.


Ling Xiao terlihat sibuk melukis di sana dan Wei Wuxie sedikit memanjangkan kepalanya untuk melihat apa yang Ling Xiao lukis. Dan, sekarang Wei Wuxie sedang bingung apa yang harus dia mulai. Apa dia harus bertanya tentang Putri Li Wei dan Pangeran Li Shen terlebih dahulu, atau dia harus bertanya apa yang sedang Ling Xiao lukis?


Wei Wuxie tanpa sadar bertanya, "Itu gambar sapi?" tanya Wei Wuxie bingung.


'Gambar' hewan itu berkaki empat, tetapi memiliki patuk seperti ayam. Jadi, ini ayam berkaki empat, atau sapi yang sedang dihukum untuk mengangkat kedua kaki?


Ling Xiao dengan semangat mewarnai. Wei Wuxie bisa mencium aroma bunga mawar dan sejenis kayu-an yang digunakan Ling Xiao untuk membuat pewarna. "Ini burung. Bagaimana bisa kau melihat ini sebagai sapi? Ini sayapnya berwarna-warni!" Protes Ling Xiao yang merendahkan jiwa seni Wei Wuxie.


HUH? Siapa yang tahu jika itu sayap? Wei Wuxie kira itu adalah kedua kaki yang berwarna warni. Sebentar, jadi model gambar kaki dan sayap itu sama?


Wei Wuxie tanpa sadar mengingat bagaimana kaki burung dengan kaki yang ada dilukis Ling Xiao. Ini mereka bicara tentang binatang yang sama, bukan? Mengapa dari tolak pandang Ling Xiao agak unik?


Wei Wuxie enggan bertanya lagi tentang masalah lukisan.


"Jika Xin Wantang kalah, apa berarti Kerajaan Li menang?" tanya Wei Wuxie pelan.


Setidaknya ia lega bahwa tanah airnya tak direnggut Kerajaan Xin.


"Ya, Pangeran Li Shen akan naik tahta," jawab Ling Xiao pelan.


Wei Wuxie tak bisa melihat ekspresi Ling Xiao karena pria itu membelakanginya. Tapi berita itu melegakan.


"Itu melegakan."


"Ya."


Mengapa menjadi kaku seperti ini?


Wei Wuxie mendadak ragu sejenak, "Lalu, dimana Putri Li Wei? Zhang Yuwen?"

__ADS_1


Kepala Wei Wuxie melenggang ke sekeliling kediaman Ling Xiao. Kediaman itu sangat sepi sehingga Wei Wuxie yakin jika Hua Yifeng tak ada di sana. Seingat Wei Wuxie, Hua Yifeng dirawat oleh Ling Xiao karena luka yang ia derita. Jika Hua Yifeng sudah tak ada, apa itu berarti Hua Yifeng ada di Kerajaan Li untuk mengatur pengangkatan Pangeran Li Shen sebagai Raja?


"Guru Ling."


Ling Xiao berhenti melukis. "Zhang Yuwen sudah mati."


Deg!


Tatapan Wei Wuxie terlihat agak hampa dan tak percaya. "Guru Ling, Zhang Yuwen itu memiliki nyawa yang banyak seperti kucing. Dia tak akan ..."


Tak akan mati?


"Yah, dia tak mati sepenuhnya. Dia mati sebagai manusia dan sekarang dirinya menjadi Tirai Berdarah. Zhang Yuwen akan membunuh siapa saja dengan cara yang mengerikan. Ia akan menyobek tenggorokannya dan menggantungnya terbalik. Membiarkan darahnya menetes seperti tirai air hujan. Seperti cara mereka membunuh Bao Tian," ujar Guru Ling yang tak melukis lagi.


Namun ia masih tak membalikkan tubuhnya. Menolak untuk memandang Wei Wuxie.


"Ha ... ha... Cerita seperti apa itu ... Zhang Yuwen memang berotak sampah dan terkadang licik, tetapi memilih menjadi iblis itu tak mungkin dilakukan," ujar Wei Wuxie yang mencengkeram lututnya sendiri.


Hey, dia tak sadar berapa hari? Mengapa ada berita seperti ini dan Wei Wuxie masih ada di sini? Berbaring seperti orang lemah?


Wei Wuxie melihat lukisan yang disebut Ling Xiao sebagai lukisan seekor burung. Lukisan itu memang agak unik karena sayapnya sedikit bertransformasi seperti kaki sapi. Namun di sana warna-warni dari burung membuat Wei Wuxie mengingat tentang seekor burung yang berwarna-warni sayapnya. Walau didominasi oleh warna merah.


Wei Wuxie tak tahu apakah Ling Xiao tak sengaja menumpahkan warna merah di papan lukisan itu atau memang dia berniat membuat gambar itu menyala.


Dan, Wei Wuxie sadar jika Ling Xiao tak menanggapi tawa yang dilontarkan Wei Wuxie. Seharusnya Ling Xiao ikut bercanda dengannya dan membenarkan betapa konyolnya berita itu.


"Bagaimana dengan Putri?" tanya Wei Wuxie akhirnya.


SRAT!


SRAT!


Mendadak tangan Ling Xiao agak liar untuk mengoleskan warna merah lagi. "Siapa sangka dalam satu kejadian, tiga bencana terjadi."


Apa? Katakan sesuatu jika ada yang salah!


"Tirai Darah, Zhang Yuwen muncul. Tragedi kematian aneh yang membuat korbannya seperti daging kering yang digantung di ketinggian. Iblis Kehancuran, sebuah legenda yang terjadi sebenarnya pernah juga terjadi seratus tahun yang lalu. Hua Yifeng menyebabkan kehancuran besar di Kerajaan Li, peperangan besar akibat kebangkitannya sebagai Iblis. Dan, berusaha membuat cangkang manusia pertama ... Walau ia harus membunuhnya kembali," jelas Ling Xiao dengan nada yang sangat tenang.


"Apa maksud Anda, Guru Ling?" tanya Wei Wuxie yang semakin tak karuan.


Jika tak ingat pria di depannya ini adalah gurunya ... Wei Wuxie mungkin akan memaksanya bicara dengan kasar.


"Lalu, ... Putri Hitam Li Wei, pembawa bencana penyakit batu dengan kutukannya. Mengkhianati Kerajaan Li dan membunuh kakaknya sendiri, Li Chen dan Li Jun. Kemudian, mati karena kutukannya sendiri," jelas Ling Xiao menyudahi ceritanya.


^^^*Mengingatkan kembali, Pangeran Li Jun memang Li Wei yang membunuhnya. Karena itu permintaan Pangeran Li Jun yang tak mau mati karena penyakit batu. Ia tak sanggup kesakitan akibat penyakit batu. Kalau Li Chen, mati karena dibunuh Hua Yifeng yang mengamuk karena kekuatan Pohon Iblis, jadi Hua Yifeng gak sengaja bunuh Li Chen. Waktu itu Li Chen mau bunuh Li Wei, makanya Hua Yifeng kelepasan dan marah. Itulah awal dari tragedi Kerajaan Li sepuluh tahun yang lalu.^^^


"Bagaimana mungkin Putri Li Wei membunuh ... Dan ..."


Tuan-nya itu sudah tiada?


Darahnya menetes ke wajah Wei Wuxie karena luka di kepalanya kembali terbuka. Meski begitu, Wei Wuxie tak tahu rasa sakit mana yang lebih membuatnya sengsara. Sedangkan Ling Xiao tetap duduk dengan wajah yang tetap terfokus pada lukisannya.


Bagaimana pun Ling Xiao adalah seseorang yang kehilangan murid-muridnya.


Zhang Yuwen, yang seingatnya sangat gemar bertengkar dengan teman di sekitarnya. Belum lagi dengan dirinya yang biasa bertingkah konyol.


Putri Li Wei, Ling Xiao masih ingat tentang pertama kali dirinya diutus untuk menjemput Putri Li Wei dari rumah persembunyian*. Lalu, gadis itu menjadi murid perempuan pertama di Pelatihan Awan.


^^^*Rumah Persembunyian. Jadi, Li Wei itu masa kecilnya disembunyikan oleh Kerajaan. Dirinya dibesarkan di kampung kecil, dan saat cukup besar dia dibawa ke Kerajaan Li untuk diumumkan sebagai Tuan Putri Kerajaan Li. Karena persaingan kekuasaan biasanya menargetkan anak-anak Raja. Makanya Li Wei itu terbiasa hidup tanpa penjagaan Kerajaan. Bagian ini belum diceritakan, karena ... Yah, masih ada sedikit cerita singkat. Intinya, ada kaitan antara Putri Li Wei kecil, Ling Xiao, dan teman-temannya. Termasuk Hua Yifeng.^^^


Hua Yifeng. Putra angkatnya. Yah, seseorang yang membuat Ling Xiao rela menyembunyikan ramalan Kerajaan. Hanya karena Ling Xiao tak ingin kejadian seratus tahun yang lalu terjadi lagi. Dimana Pangeran Penduka harus menjadi korban.


Namun ... Sekarang semua takdir buruk itu malah membuat orang-orang di sekitar Hua Yifeng yang terkena. Akan tetapi, Ling Xiao tak pernah menyesal untuk itu.


Sebab, ia percaya selalu ada alasan di balik semua takdir ini.


Dan ... Wei Wuxie. Ling Xiao ingat jika muridnya ini sangat setia dan melindungi orang-orang di sekitarnya.


Dia adalah manusia yang hidup, tetapi mati. Wei Wuxie kehilangan semua harapan hidupnya, tetapi ia tak berani mati. Wei Wuxie merasa pengecut, tetapi ia memiliki adik yang harus ia lihat dari kejauhan. Adiknya, Wei Qionglin yang nantinya akan menjadi Jenderal yang hebat.


Bukan seperti Wei Wuxie yang gagal ini. Ia tak bisa melindungi Putri Li Wei.


Hingga di tengah 'kematian' hatinya, ia mendengar sebuah ramalan aneh dari seorang Peramal Kerajaan Li.


"Jika Lingkaran Mawar terkumpul lagi, maka Putri Li Wei akan terlahir kembali."


Ling Xiao menyelesaikan lukisan burung Phoenix yang ia buat, "Apa gunanya melihat takdir orang lain saat aku sendiri tak bisa melihat takdirku?"


Ling Xiao tak tahu bagaimana mengakhiri semua kekacauan takdir ini.


***


Yi Hua masih terpaku di tempatnya.


Tangannya bergetar ketika melihat tetesan darah hitam yang mengalir dari telapak tangan Hua Yifeng.


Memang mudah bagi Hua Yifeng untuk menyembuhkan lukanya sendiri. Akan tetapi, Hua Yifeng terlihat tak berniat untuk menyembuhkan lukanya. Ia menatap lekat pada Wei Wuxie yang masih terus menekan pedangnya ke telapak tangan Hua Yifeng.


"Kau kehilangan tujuanmu karena peramal ini, Hua Yifeng," ucap Wei Wuxie dengan pandangan tajam.


Tatapannya mengarah pada Yi Hua yang masih berdiri tegak. Yi Hua tampak berkaca-kaca, tetapi tak jua air matanya menetes. Entah karena apa.


Tahukah kau Wei Wuxie?

__ADS_1


Gadis Kecil yang ingin kau bunuh itu dahulunya adalah Putri Kecil yang ingin kau lindungi.


Sayangnya, tak ada yang bisa mengatakannya.


Yi Hua pun tak mengatakan apa-apa. Begitu juga Hua Yifeng. Apa gunanya berkata jika Putri Li Wei memang terlahir kembali? Apakah itu berarti akan ada pertemuan mengharukan?


Lalu, apa orang lain akan percaya omongan yang terkesan tak masuk akal dan sinting itu?


Siapa yang percaya jika Peramal Kecil Yi Hua ini adalah Li Wei yang terlahir kembali? Lagipula, tujuannya sekarang bukan untuk memperkenalkan dirinya sebagai Putri Li Wei dengan bangga. Sebab, nama itu tabu di Kerajaan ini.


Belum lagi jika orang lain tahu.


SRAK!


Hua Yifeng menarik Yi Hua untuk melayang sejenak. Pria itu jelas berusaha menjauhkan Yi Hua yang masih kaku dari serangan Wei Wuxie. Karena Yi Hua jelas tak akan melawan, dan tak akan melukai sahabatnya itu. Yah, walau Wei Wuxie tak akan tahu.


"Wei Wuxie, jangan berbuat ceroboh! Kau tahu manusia seringkali menyesal karena kecerobohannya sendiri," ucap Ling Xiao dengan nada yang tenang seperti biasanya.


Wei Wuxie melirik Ling Xiao. Entah mengapa karena ucapan Ling Xiao, Wei Wuxie terlihat agak mengendur. Tatapannya menjadi agak ragu. Akan tetapi, ia tak mengatakan apa-apa. Walaupun tatapan kebenciannya masih tersalur untuk Yi Hua.


Wei Wuxie menganggap Yi Hua sebagai perebut Hua Yifeng. Karena Wei Wuxie jelas-jelas tahu betapa Hua Yifeng mencintai Putri Li Wei. Itulah yang menimbulkan kekecewaan untuk Wei Wuxie. Karena semudah itu Hua Yifeng melupakan Putri Li Wei saat Yi Hua ada.


Yah, cinta segitiga yang sebenarnya tidak segitiga. Entahlah.


Aku pernah bertemu Wei Wuxie sekali di Istana Awan. Siapa sangka jika pria bercadar itu adalah Wei Wuxie.


Bagaimana bisa dunia begitu sempit seperti jarak bulu mata sapi?


"Ku kira kau memanfaatkan Peramal Yi Hua ini agar mendapatkan semua Lingkaran Mawar kembali. Saat benda itu sudah terkumpul, sekarang kau menyuruhku membawanya untuk peramal ini?" tanya Wei Wuxie dengan nada marah.


Hua Yifeng mengusap bahu Yi Hua yang masih terpaku, "Setiap orang harus melanjutkan hidup. Begitu juga dengan kau Wei Wuxie."


"Apakah itu berarti kau tak ingin menghidupkan Putri Li Wei kembali?" bentak Wei Wuxie.


"Aku tak akan membiarkannya terjadi." Suara itu membuat perhatian mereka teralih pada sosok agung yang baru datang.


Raja Li Shen datang bersama Selir Qian. Mungkin mereka sudah mendengar tentang Jenderal Hantu yang datang. Mereka memerlukan Lingkaran Mawar untuk mencari Liu Xingsheng yang hilang.


"Kesejahteraan menyertai Yang Mulia Raja Li," ucapan itu terdengar untuk menghormati kedatangan Li Shen.


Wei Wuxie juga sudah berlutut karena dia selalu menghormati keluarga kerajaan. "Yang Mulia ..."


Li Shen memicingkan matanya untuk menebak siapa pria di balik cadar itu. Akan tetapi, mereka tak punya waktu itu untuk mengusut tuntas permasalahan ini. Keadaan Liu Xingsheng lebih mengkhawatirkan.


"Serahkan pecahan Lingkaran Mawar yang kau bawa," perintah Raja Li Shen.


Bagaimana pun Jenderal Hantu ini adalah yang membawa senjata terkutuk Putri Li Wei itu.


Wei Wuxie menatap benci pada Hua Yifeng, "Apakah aku berkata jika aku akan menuruti ucapan Iblis Kehancuran ini?" tanyanya sinis.


Hua Yifeng menghela napasnya. Ia sudah tahu ini menjadi tidak mudah. Wei Wuxie sejak awal memang sering bertentangan dengan Hua Yifeng. Hanya saja ... Wei Wuxie berpikir jika tujuan mereka sama, dan karena itu ia bekerja sama dengan Hua Yifeng. Bahkan menjadi orang kepercayaan Hua Yifeng hingga mendapat julukan Jenderal Hantu.


"Wei ... Maksudku, Jenderal Hantu ... Ini bukan saatnya mempersulit keadaan. Kami memerlukan Lingkaran Mawar yang kau bawa," ucap Ling Xiao lagi dengan tenang.


Hua Yifeng menarik pedang Li Wei di pinggangnya. Jika ia harus bertarung, maka ia akan bertarung dengan Wei Wuxie. Hal tersebut membuat Wei Wuxie nyaris tertawa, karena sekarang Hua Yifeng seperti membuang kesempatan untuk menghidupkan kembali Putri Li Wei.


"Lingkaran Mawar ini adalah cara untuk menghidupkan Putri Li Wei kembali. Aku akan menyatukannya, dan melakukan pemanggilan jiwa," ucap Wei Wuxie keras kepala.


Hua Yifeng berkata dengan tegas, "Kau tak bisa melakukannya."


Jika Hua Yifeng bisa, maka dahulu tak akan terbentuk cerita Cangkang Manusia. Li Wei tak akan menderita karena hidup seperti mayat hidup. Nyatanya jiwa tak akan bisa dikembalikan di raganya yang sudah usang dan mati.


"Kau lemah karena ..."


"Saya mohon ..."


Belum sempat Wei Wuxie membantah Hua Yifeng,suara Yi Hua menyela.


"Saya mohon. Aku memerlukan Lingkaran Mawar untuk menyelamatkan sahabatku," ucap Yi Hua pelan.


Ia ingin sekali berinteraksi dengan Wei Wuxie seperti dahulu. Seperti saat mereka masih remaja dahulu. Bermain dan bertingkah konyol.


Siapa sangka jika sekarang mereka akan berhadapan dalam posisi bermusuhan.


Tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Hanya saja. Jati dirinya lebih baik tak diketahui banyak orang.


Wei Wuxie menatap tajam pada Yi Hua, "Mengapa aku harus membantumu?" tanyanya sinis.


Hua Yifeng sudah berniat untuk menyerang Wei Wuxie. Merebut Lingkaran Mawar itu kembali. Akan tetapi, Yi Hua berdiri untuk menghalangi Hua Yifeng. Ia tak mau Hua Yifeng menyerang Wei Wuxie.


"Karena Anda tahu bagaimana sakitnya saat kita tak bisa menolong seorang sahabat," ucap Yi Hua dengan mata penuh kerinduan.


Sekarang ... Ia memiliki Liu Xingsheng sebagai sahabatnya. Salah satu orang terdekatnya. Dan, Wei Wuxie jugalah sahabatnya, dan ia sangat merindukannya.


"Aku ingin menolong sahabatku," ucap Yi Hua tegas.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Semoga harimu lebih membingungkan lagi karena cerita ini. Salam dan terima nasib.


Adios~


__ADS_2