
"Kenapa kau diam? Mau ku lempar juga?" tanya Jiang Ning pada Li Wei yang melamun.
Bagaimana pun mereka jelas bukan dalam keadaan bersantai. Ditambah lagi dengan teriakan menyebalkan Su Nan berikutnya.
"Kurang ajar ... Huwaaa ... Prajurit selamatkan aku," teriak Su Nan keras.
Hal tersebut membuat banyak prajurit yang masuk ke ruangan. Li Wei membawa Li Shen ke belakang tubuhnya. Sedangkan Jiang Ning mengangkat Su Nan untuk dijadikan ancaman. Wanita itu menarik sumpit rambutnya. Mengarahkan bagian ujung yang tajam pada tenggorokan Su Nan yang babak belur.
"Lepaskan Permaisuri Su," teriak salah satu prajurit yang sudah mengepung di sekeliling ruangan.
Li Wei menuju ke arah ibunya yang masih menekan sumpit itu ke leher Su Nan. Setidaknya mereka memiliki kesempatan untuk keluar dari tempat ini jika mereka menjaga Su Nan tetap di tangan mereka.
"Diam atau ku robek tenggorokan wanita ini," ancam Permaisuri Jiang Ning yang mulai berjalan ke depan.
"Hey ... Jangan sampai dia membunuhku. Apa yang kalian lakukan? Dasar tidak berguna!" teriak Su Nan yang melihat para prajurit yang mundur.
Masalahnya adalah ... Jika prajurit itu tak memberi jalan, maka Jiang Ning akan melukai Permaisuri Kerajaan Xin itu. Namun Su Nan rupanya tak mau tahu. Wanita itu ingin selamat secepatnya. Apalagi Jiang Ning terlihat tak takut untuk melukainya.
"Li Wei, keluar," perintah Jiang Ning pada Li Wei yang beriringan dengan Li Shen.
TAP!
TAP!
"Kenapa kalian diam? Bantu aku, s*alan!" bentak Su Nan.
"Kau benar-benar berisik! Napasmu menyebalkan untuk didengar," balas Jiang Ning dengan decakan kesalnya.
Jiang Ning yang merasa berisik melukai tipis di leher Su Nan. Hal tersebut membuat suara cempreng Su Nan tertelan kembali. Ia tak berani berkata apa-apa, meski wanita itu sangat geram dengan Jiang Ning.
"Aku akan memberimu kematian yang paling buruk, Permaisuri Jiang Ning," ucap Su Nan sambil menggertakkan giginya.
Jiang Ning menyusup putrinya, Li Wei, yang sudah berhasil keluar dari ruangan. Ketika sudah di ambang pintu, Jiang Ning mendorong Su Nan hingga wanita itu tersungkur ke lantai. Para prajurit akhirnya lebih fokus untuk membantu wanita berisik itu.
Dan tak menyadari ketiga orang itu yang berhasil keluar dari ruangan.
Su Nan berucap dengan marah, "Apa yang kalian lakukan? Kejar mereka. Aku ingin kematian mereka!" perintah Su Nan yang menggelepar kesal di lantai.
"Baik, Permaisuri Su," balas beberapa prajurit dengan bersamaan.
Mereka membagi pasukan. Sekitar tiga orang membantu Su Nan yang babak belur, dan sisanya mengejar Jiang Ning yang sudah melarikan diri. Belum lagi dengan target utama mereka, Li Wei dan Li Shen, juga melarikan diri. Setiap calon pewaris tahta Kerajaan Li perlu dimusnahkan untuk menguasai Kerajaan Li sepenuhnya.
Su Nan menangis kencang seperti sapi menguap. Belum lagi dengan wajahnya yang membengkak karena tamparan Jiang Ning. Ia akan memastikan Permaisuri kehormatan Kerajaan Li beserta mereka yang tersisa akan mengalami kematian yang menyakitkan.
"Aku sendiri yang akan mencekikmu sampai mati, Jiang Ning!" ucap Su Nan di antara tangisnya yang menyebalkan.
***
SRET!
Li Wei berlari menuju ke arah pintu keluar bersama Li Shen. Sesekali ia menengok ke belakang, dan melihat ibunya yang juga tengah berlari. Ia menyadari jika keadaan di sekitar mereka terlalu sepi.
Sebelumnya Li Wei mengira jika itu dikarenakan orang-orang sibuk mencarinya. Akan tetapi, ini terlalu sepi dan ...
Tatapan Jiang Ning mengarah pada tumpukan mayat dengan wajah-wajah yang ia kenal. Bahkan Li Wei hanya bisa menutupi mata Li Shen yang juga bergetar ketika melihat tumpukan mayat di depan mereka. Li Wei melihat ibunya yang memberi penghormatan dengan hangat, seperti biasanya.
"Kesejahteraan menyertai Yang Mulia Raja Li. Semoga Yang Mulia panjang umur ..." Itu adalah apa yang diucapkan oleh Jiang Ning pada seorang pria yang ia cintai di hidupnya ini.
Li Wei tak melihat air mata di wajah ibunya. Hanya ada wajah ketus seperti biasanya. Seolah apa yang ada di depannya bukanlah sesuatu yang menyakiti hatinya. Bukankah ibunya terlalu menyakiti diri sendiri?
BUKKH!
"Ibu!" teriak Li Wei ketika melihat ibunya terjatuh di tanah.
Pada akhirnya, Li Wei kembali untuk membantu ibunya berdiri kembali. Mendadak ibunya terjatuh begitu saja. Akan tetapi, Jiang Ning berteriak keras. "Untuk apa kau kembali? Bawa adikmu keluar!" teriak Jiang Ning.
Ketika ibunya membentak, Li Wei melihat air mata sombong ibunya mengalir. Namun itu hanya sebentar, sebab ibunya sudah mengusapnya cepat. Akan tetapi, saat Li Wei membantu ibunya berdiri ia menyadari sesuatu yang salah.
"Kakak, ibu terluka," ucap Li Shen yang sejak tadi diam.
Mendengar itu, Li Wei segera memeriksa keadaan Jiang Ning. Meski ia menyadari bahwa Jiang Ning agak memberontak ketika Li Wei memeriksanya. Hingga tangan Li Wei merasa basah di bagian belakang pakaian Jiang Ning.
"Ibu ..."
Jiang Ning bangkit dengan segala bentuk keras kepalanya.
"Apa yang kau pikirkan lagi? Bukankah aku menyuruhmu untuk pergi?" bentak Jiang Ning keras.
Sejak kapan Permaisuri ini mendapat luka sebesar ini di punggungnya?
Bahkan ibunya bergerak seperti makhluk terkuat di muka bumi sebelumnya. Siapa yang menyangka jika terdapat luka besar di punggungnya. Akibat gerakan itu luka di punggung Jiang Ning menjadi lebih besar lagi.
"Ayo kita pergi" ucap Li Wei yang juga berniat keras kepala seperti ibunya.
Gadis itu membantu Jiang Ning untuk berjalan. Sedangkan Li Shen dengan patuh mengikuti. Meski anak ini sudah mendapat pelatihan berpedang, tetapi itu tak cukup untuk bertarung dengan banyak orang. Akan tetapi, Li Shen tetap mengeluarkan pedangnya untuk berjaga-jaga.
SRET!
Li Shen mengarahkan pedangnya pada sosok yang baru datang. Namun dengan mudahnya sosok itu menangkap ujung pedang Li Shen dengan kedua jarinya. Orang itu adalah Wang Zeming.
__ADS_1
Pria itu datang dengan pakaian yang bersimbah darah. Siapa yang tak bisa menebak apa yang terjadi dengan Wang Zeming. Bahkan ada sobekan besar yang nampak di balik pakaiannya yang basah oleh darah. Meski begitu, Wang Zeming tetap bertahan dengan semua rasa sakit itu dan berdiri tegak untuk memberi penghormatan pada Permaisuri Jiang Ning.
Li Shen menarik pedangnya. "Paman Wang. Apakah Paman tidak apa-apa?" tanya Li Shen yang khawatir.
Mendengar seruan Li Shen, Li Wei menoleh ke arah suara. Di sana memang ada Wang Zeming, tetapi dia tak sendirian. Ada Wei Wuxie di sana, dan sepertinya mereka juga berhasil melarikan diri.
"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Hamba sudah menyiapkan kuda untuk digunakan, Permaisuri," ucap Wang Zeming yang rupanya sudah merencanakan banyak hal dengan Jiang Ning.
Akan tetapi, pasukan Kerajaan Xin nyatanya sudah berhasil menyusul mereka. Hanya menunggu waktu bagi mereka
Jiang Ning menoleh pada Li Wei, "Kau pergilah terlebih dahulu."
"Kenapa ibu tak pergi bersama?" tanya Li Wei tak sabar.
Ia mulai merasa perihal yang buruk tentang ini.
"Benar, Yang Mulia Permaisuri. Permaisuri bisa pergi terlebih dahulu, hamba yang akan mengatasi masalah ini," ucap Wang Zeming yang mengeluarkan pedangnya ketika pasukan Kerajaan Xin mulai mengepung.
Jiang Ning jelas tak meragukan kemampuan Wang Zeming sedikit pun. Akan tetapi, semua orang tahu jika setiap pejabat yang ada disiksa dengan sangat mengerikan. Entah mengapa mereka masih tak membunuh Wang Zeming dan Wei Wuxie yang disandera oleh mereka.
"Paman, segeralah menyusul," ucap Li Wei yang menuju ke arah gerbang.
Luka-luka sangat buruk untuk terlibat dalam pertarungan lagi. Oleh karena itu, jika ada peluang untuk melarikan diri, maka mereka harus melarikan diri. Sebab siapa yang tahu jika mereka bisa keluar dari kepungan musuh ini nantinya.
"Li Shen," teriak Jiang Ning yang melihat seseorang berpakaian serba hitam yang tengah mengarahkan pedangnya ke tenggorokan Li Shen.
Mereka lengah dan lupa jika Li Shen berada di jarak yang jauh dari mereka. Sehingga tak bisa mencegah Li Shen yang sudah jatuh di tangan musuh. Li Wei menatap pada sosok yang baru muncul, dan entah apa. Mungkin mereka telah masuk pada jebakan.
TAP
TAP
TAP
Para prajurit muncul dari sisi depan. Suara langkah kaki mereka seirama dengan debar jantung Li Wei. Kali ini bukan hanya prajuritnya, tetapi Raja Xin dengan wajah yang memuakkannya. Di lengan Raja Xin bergelantungan Permaisurinya yang menyebalkan. Tentu saja dengan wajah babak belurnya beserta drama penuh air matanya. Jelas Su Nan sinting itu tak akan melepaskan Permaisuri Jiang Ning.
Wanita itu pasti akan membalas Jiang Ning.
SRET!
Jiang Ning menegakkan tubuhnya. Sekuat harga dirinya yang masih begitu sombong. Enggan untuk rendah di bawah orang lain. Dan, kini ia menarik Li Wei untuk bersembunyi di belakangnya.
"Jika ada kesempatan, larilah cepat," bisik Jiang Ning pada Li Wei.
Tidak mungkin.
Li Wei dengan cepat menggelengkan kepalanya. Sejak awal ia menyadari jika situasi ini bukan tentang mengharap perlindungan orang lain. Li Wei menarik sarung pedang yang masih tersimpan pada dirinya.
Ibunya akan mencekiknya jika Li Wei lagi-lagi membantah ucapan dari ibunya ini.
Lalu, SRET!
Anehnya ... Biasanya Li Wei mudah melupakan apapun. Akan tetapi, sarung pedang ini telah melekat padanya dan tak mudah hilang. Apakah senjata spiritual memang seperti ini?
Senjata yang mengikuti pemiliknya, meski terlempar jauh sekalipun.
Namun apakah sarung pedang bisa disebut sebagai senjata? Aneh sekali. Ditambah lagi senjata spiritual ini adalah benda yang terikat dengan Hua Yifeng. Sehingga keterikatan sarung pedang ini pada Li Wei membuat pertanyaan yang cukup besar.
Dan, hanya Hua Yifeng yang bisa menjawabnya. Kemungkinan pertama, Hua Yifeng memberi kebebasan bagi siapapun untuk menggunakan senjatanya. Sehingga pedang ini mau mengikuti Li Wei. Atau, kedua ... Li Wei adalah pemilik kedua dari pedang ini.
Sebab, ...
STAB!
PLAK!
Li Wei melemparkan sarung pedang itu pada salah seorang prajurit yang berjejer di depannya. Hal tersebut membuat prajurit itu secara refleks menangkapnya. Akan tetapi, prajurit yang menangkap pedang itu langsung terjatuh di tanah dengan anehnya.
Tak hanya orang-orang di sana yang terkejut, tetapi Li Wei juga.
"Bagaimana bisa ...?" Raja Xin kehilangan suaranya sendiri.
Ia bisa melihat jika Li Wei tidak kesusahan ketika melempar pedang itu. Namun prajurit yang menangkap malah seperti membawa beban yang sangat berat. Ini Li Wei yang bertenaga sapi, atau memang ada yang salah dengan pedang itu?
KRAK!
"AKHHHHH!"
Terdengar patahan keras dari tulang pria malang itu. Li Wei menatap tak percaya pada pedang yang bergerak aneh, dan semakin hitam. Teriakan mengerikan terdengar dari prajurit itu, dan ...
"Kembali," perintah Li Wei yang mencoba untuk mengendalikan sarung pedang itu.
STAB!
Sarung pedang yang entah mengapa berubah menjadi berwarna hitam itu dengan patuh kembali ke tangan Li Wei. Dan, sekali lagi Li Wei benar-benar terkejut dengan semua ini. Namun itu jelas peluang bagi Li Wei untuk mengalahkan pasukan Kerajaan Xin.
"Mengapa kau memiliki kekuatan seperti itu?" tanya Raja Xin pada akhirnya.
Lebih dari segalanya ... Jiang Ning menatap pedang itu dengan hampa.
__ADS_1
"Li Wei, benda itu memakan darah."
Jiang Ning merasa ketakutan hanya karena melihat sebuah benda bernama sarung pedang. Dan lagi ... Li Wei adalah orang yang menggunakan sarung pedang ini.
Sesuatu yang tak baik akan membuat buruk hati manusia. Karena jika seorang manusia memiliki sesuatu yang selalu 'mengikuti' setiap kemauannya, maka mereka akan selalu menggunakannya. Bahkan jika itu membahayakan dirinya sendiri.
Sarung pedang ini seperti mengabulkan dan mengikuti setiap keinginan dari pemiliknya. Yang ditakutkan adalah bagaimana jika Li Wei menyesali tindakannya saat menggunakan benda itu nantinya.
Bagaimana Hua Yifeng bisa menciptakan benda se-brutal ini?
Ini baru sarung pedangnya. Bagaimana dengan pedangnya? Apakah pedang itu bisa membunuh hanya ketika bukan pemiliknya yang menyentuhnya?
Sungguh benda yang anti kemanusiaan.
"Rupanya Putri cantik ini selalu menciptakan kejutan," ucap Raja Xin yang menyunggingkan senyumnya.
Permaisurinya, Su Nan, jelas merasa tak terima ketika melihat ketertarikan Raja Xin pada Li Wei. Sehingga wanita seperti rubah itu segera memberi perintah.
"Kenapa kalian diam semua? Tangkap orang-orang itu segera!" teriak Su Nan sambil menunjuk marah ke arah Jiang Ning dan Li Wei.
Jiang Ning berdecak sebal saat menyadari bahwa ia begitu ingin melempar Su Nan lagi ke tanah.
Para prajurit berusaha mendekat pada Li Wei dan Jiang Ning, tetapi ada yang aneh.
Seseorang yang menyandera Li Shen memberi anggukkan kepala Li Wei. Awalnya Li Wei tak mengerti mengapa bawahan Raja Xin Wantang ini memberi isyarat padanya. Belum lagi bawahannya ini menggunakan penutup wajah.
Tunggu sebentar ...
"Putri, kita belum mencapai pada pertunjukan yang sebenarnya ..."
Li Wei membalas tatapan Raja Xin Wantang. "Maka, kita buat pertunjukan ini menjadi lebih cepat."
BUGH!
Bukannya menyakiti Li Shen, pria dengan penutup wajah itu malah berputar untuk menendang beberapa prajurit yang ada di dekatnya. Hal itu membuat Raja Xin terkejut, hingga sosok itu, dengan gerakannya membuat Raja Xin menyadari.
Pria itu adalah Wei Wuxie.
Pantas saja Wang Zeming datang sendirian sebelumnya, padahal Li Wei mendengar jika Wang Zeming tengah bersama Wei Wuxie. Rupanya Wei Wuxie telah menyamar menjadi salah satu bawahan dari Raja Xin.
"Tangkap mereka!" perintah Raja Xin dengan wajah mengeras.
Bagaimana pun dengan mudahnya jebakan yang ia buat dihancurkan oleh orang-orang yang ada di depannya ini.
Para prajurit datang untuk menyerang pada beberapa orang yang tersisa dari Kerajaan Li itu. Akan tetapi, Li Wei lagi-lagi melemparkan sarung pedang itu dengan kuat. Lalu, sarung pedang itu dengan mudahnya memukul beberapa orang hanya dengan sekali lemparan.
Kemudian, dengan segala keajaiban di dunia ini. Sarung pedang itu memutar setelah memukul satu persatu orang, dan mendarat kembali ke tangan Li Wei.
SRAP!
Li Wei mengeraskan hatinya saat merasakan sarung pedang itu yang semakin ringan. Kini benda itu sama seperti berat kertas di tangan Li Wei. Namun Li Wei menyadari jika sarung pedang ini memang seperti yang dikatakan oleh Permaisuri Jiang Ning.
Pedang ini terus menyerap darah setiap kali terkena orang lain.
Li Wei menatap tangannya yang berlumuran darah, dan kini tatapannya terpaku pada pertarungan di depannya. Itu tak bisa dihindari dan Li Wei tak bisa menolak 'kemampuan' dari sarung pedang ini. Jika pun benar ... Benda ini akan terus menarik darah para musuh dari pemiliknya.
SRET!
Ketika Li Wei menggenggam sarung pedang itu, ia bisa melihat garis lagi yang muncul di tangannya. Ia mulai memahami jika pedang ini meraih darah dari para musuh dengan kekuatan iblis. Li Wei lagi-lagi memiliki garis-garis merah seperti yang dimilikinya oleh Hua Yifeng.
Kekuatan Pohon Iblis.
Jika bisa dibilang dampak. Mungkin garis merah ini adalah pertanda jika energi iblis terus masuk ke dalam diri Li Wei.
Raja Xin menarik pedangnya ketika menyadari pasukannya yang berjatuhan. "Aku akan memberi kalian takdir paling buruk!"
Li Wei menghela napasnya sebelum menggenggam sarung pedang itu lebih erat lagi. Mungkin ia memang memerlukan kekuatan dari sarung pedang ini.
"Benda apa itu, Li Wei?" tanya Jiang Ning ketika melihat Li Wei menggunakan sarung pedang ini bukan untuk yang seharusnya.
Tahu saja fungsi sarung pedang. Aneh-anehnya Li Wei bertarung dengan sarung pedang.
"Aku menamainya Lingkaran Mawar," ucap Li Wei ketika darah yang diserap oleh sarung pedang itu mengalir di lengan Li Wei yang saat itu tengah mengangkat pedang ke udara.
Percayalah ... Kau seharusnya tak percaya pada benda terkutuk.
Itu akan memakan hati pemiliknya hingga membuat hatinya hitam.
Benar.
Menjadi iblis.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~
***