Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 23: Hasutan


__ADS_3

DUG!


Li Shen terbangun dari tidurnya ketika suara pintu dibuka dengan keras. Bahkan ia belum sempat menyerap makna kehidupan, dan paham situasi, tetapi kini dirinya sudah diseret oleh beberapa prajurit. Belum lagi dengan rasa sakit kepala yang menghujamnya, Li Shen tak bisa memberontak.


Li Wei. Di mana dia?


Hanya itu yang teringat dalam otaknya.


"Kakak!" teriak Li Shen ketika menyadari jika sosok itulah yang ia harapkan dan yang ia ingat berada bersamanya.


Namun siapa yang ia panggil tak menjawabnya. Ditambah lagi ia sangat tahu jika Li Wei cukup berisik. Gadis itu tak akan diam apalagi melihat keributan. Paling tenangnya Li Wei akan menendang kepala siapapun yang membuat keributan.


SRET


Li Shen melompat untuk memutar tangan prajurit yang menangkapnya. Putaran itu berhasil, karena tangan-tangan prajurit itu terpelintir karena Li Shen memutar posisinya. Ia berhasil lepas dari prajurit yang menangkapnya, dan memberi pukulan pada orang itu. Sehingga mereka terjatuh ke lantai.


Setelah itu, Li Shen mencari pedangnya dan ia tak menemukan pedang miliknya di mana pun. Sehingga Li Shen hanya mengambil pajangan di rumah kosong itu dan melemparinya pada para prajurit. Hanya dengan tindakan itu saja Li Shen di dera oleh rasa sakit kepala.


"Kakak!" teriak Li Shen sekali lagi untuk memastikan di mana keberadaan Li Wei.


Namun ia tak mendengar jawaban apapun dari Li Wei. Semua kemungkinan menakutkan muncul di kepala Li Shen. Li Shen mengambil meja kecil yang tersampir di pinggir ruangan. Hanya sekadar sebagai perlindungannya saat ini


"Di mana Kakakku?" tanya Li Shen sambil menatap tajam pada para prajurit yang mengelilinginya.


"Seperti yang diharapkan dari anak-anak dari Raja Li, sangat liar dan menarik." Suara itu menyeruak di antara ketegangan yang ada.


TAP!


TAP!


Tak ada jawaban atas pertanyaan dari Li Shen. Yang ada hanyalah langkah kaki yang mendekat, serta gerakan para prajurit yang seperti membuka jalan. Tak lama seseorang yang Li Shen kenal mendekat.


Itu adalah Raja Xin Wantang.


Li Shen melihatnya beberapa kali saat seluruh pelayan di istananya di bantai. Sehingga Li Shen langsung mengeraskan wajahnya ketika melihat Xin Wantang. Kemarahannya memuncak begitu saja, terutama ketika melihat senyum licik dari Xin Wantang.


Orang ini sudah menemukan Li Shen. Apa dia melakukan sesuatu pada Li Wei?


"Apa yang kau lakukan pada Kakakku? Di mana dia?" tanya Li Shen cepat.


Hal tersebut membuat senyum Raja Xin Wantang semakin tercetak di wajahnya yang licik. "Aku sungguh tak melakukan apa-apa. Dia yang pergi sendiri."


Tidak mungkin!


Li Shen menatap tajam pada para prajurit yang mengelilinginya, "Kakakku, Putri Li Wei, dia tak akan pergi tanpa alasan apapun."


Bagaimana pun Li Wei berjanji tak akan meninggalkan Li Shen. Jika Li Wei akan pergi, dia akan membawa Li Shen juga. Seharusnya seperti itu. Walau dalam hati Li Shen juga muncul ketakutan tersendiri. Sebab, keadaan mereka sekarang sangat genting.


"Tentu saja dengan 'alasan' yang disebutkan oleh Pangeran. Apakah Pangeran pernah mendengar tentang balas jasa? Seperti menukar sesuatu untuk melepaskan sesuatu," ucap Raja Xin Wantang dengan wajah tenang.


BUGH!


PRAK!


Li Shen melempar meja kecil yang ada di tangannya pada orang yang mengepungnya. Tujuan Li Shen jelas, yaitu menutup mulut Xin Wantang sekarang juga. Pria itu tak seharusnya menimbulkan omong kosong


Kemudian tanpa bisa dihindari Li Shen kembali melempar barang yang ada di sekitarnya. Kali ini mengarah pada Xin Wantang yang berpikir posisinya aman sekarang. Jika Xin Wantang tak memukul pajangan kayu yang dilempar oleh Li Shen, mungkin wajahnya sudah dihampiri oleh lemparan Li Shen.


Ini semakin menyebalkan.


"Tangkap dia," perintah Raja Xin Wantang.


Li Shen memutar hanya untuk memberi tendangan pada para prajurit yang ada di depannya. Langkah Li Shen cukup kuat untuk pria muda di usianya. Orang-orang yang mengelilinginya mulai berjatuhan. Hingga Li Shen memikirkan cara untuk melarikan diri terlebih dahulu.


Pria muda itu berlari menuju ke jendela. Tentu saja jendela yang sama dan digunakan Wei Wuxie untuk melarikan diri sebelumnya. Hanya beberapa langkah sebelum Li Shen sampai ke jendela itu, sebuah pukulan keras mengarah ke tenggorokan Li Shen.


SRET!


Gerakan Li Shen terhenti, dan tangan itu juga berhenti tepat beberapa jari jaraknya dari leher Li Shen. Jika Li Shen memaksa untuk melawan, maka tangan itu mungkin tak segan-segan untuk mematahkan leher Li Shen. Tentu saja ini sebuah ancaman.


"Mari kita berbicara baik-baik, Pangeran Li Shen," ujar Raja Xin Wantang dari arah belakang Li Shen.


Tatapan Li Shen mengarah pada pemilik tangan. Di sana ada wajah datar dari Liu Shang. Kaki tangan Raja Xin Wantang yang memang sulit diatasi. Li Shen tak bisa melawan saat dirinya sendirian sekarang.


Ditambah lagi ... Ia tengah sakit sekarang.


"Bunuh aku sekarang," ucap Li Shen tanpa takut.


Daripada mereka mengeksploitasi gelar Li Shen sebagai Pangeran, lebih baik Li Shen mati. Ia takut dimanfaatkan untuk hal-hal lainnya.


Hal tersebut mengundang tawa dari Raja Xin Wantang. Pria itu tertawa cukup keras seperti dipaksa. Mungkin sejatinya itu bukanlah tawa atas hal yang lucu, tetapi lebih pada penghinaan.


"Jika Pangeran mati sekarang, mungkin Pangeran tak akan melihat kebangkitan Putri Li Wei sebagai Raja."


Mengapa s*alan ini mengatakan sesuatu yang tak bertanggung jawab? Apa maksudnya?


"Ramalan tentang pewaris tahta Kerajaan Li yang selanjutnya sudah muncul. Sebagai Raja yang menghormati tradisi, saya tak berani menentang sebuah ramalan dan kepercayaan suatu kerajaan. Sehingga saya tak bisa merebut tahta seseorang yang disebutkan oleh Dewa," jelas Raja Xin Wantang sambil menepuk tangannya karena kebanggannya sendiri.


Li Shen mengerutkan keningnya, "Mengapa Yang Mulia Raja Xin yang terhormat ini sering berbicara seperti sampah?*"


^^^*Maksud Li Shen di sini adalah Raja Xin Wantang tuh bicara bertele-tele. Kayak nyampah gitu di pembicaraan mereka. Dan pastinya itu gak sopan untuk diucapkan pada seorang Raja.^^^


Mungkin Xin Wantang sudah berkali-kali mencoba menahan diri setiap kali anggota keluarga Li berbicara. Percayalah ... Li Shen cukup 'sopan' dibanding kakak-kakaknya. Mereka memiliki kesamaan dimana ketika berbicara sangat pandai memancing naiknya hawa negatif dari lawan bicaranya.


Namun Raja Xin Wantang tak bisa membunuh Li Shen, meski sebal sekalipun. Pertunjukan sebenarnya belum dimulai.


"Peramal Ling Xiao ... Sekarang penduduk Kerajaan Li hanya bisa berharap pada Raja baru yang disebutkan akan membawa kedamaian di Kerajaan Li. Terutama saat Bunga Tercantik Kerajaan Li menjadi Raja," jelas Raja Xin Wantang.


Li Shen tak bisa mengatakan apa-apa.


"Raja selanjutnya yang disebutkan dalam ramalan adalah Putri Li Wei," ucap Raja Xin lagi.


^^^*Fyi, ini jelas cuma kebohongan Raja Xin Wantang. Dari beberapa chapter sebelumnya, Li Wei pernah bernarasi bahwa ramalan Ling Xiao memang sudah muncul. Namun Raja selanjutnya dalam ramalan itu adalah Hua Yifeng, bukan Li Wei. ^^^


Mengapa ramalan itu muncul saat semua keributan ini belum berakhir?


Li Shen mengeraskan rahangnya. "Lalu, mengapa jika Putri Li Wei menjadi Raja? Tidak ada yang salah dengan itu semua. Kami akan bangkit dan membasmi pengacau seperti kalian."


Raja Xin Wantang mendekat pada Li Shen untuk membalas tatapan pria muda itu. Di masa depan ... Jika pria muda ini masih hidup, maka Li Shen akan menjadi seseorang yang hebat. Ia memiliki keberanian, walau masih tak bisa menahan emosinya sendiri. Mungkin emosi Li Shen akan menjadi kelemahannya.


Sebab, ketenangan sangat penting untuk menyaring informasi atau kau akan tertipu dengan hasutan orang lain.


"Apa Pangeran Li Shen tahu di mana Pangeran Li Chen sekarang?" tanya Raja Xin Wantang yang memberi isyarat untuk Liu Shang menjauh.


Liu Shang memang menjauh, tetapi pria itu tetap siaga jika Li Shen menyerang lagi.


Akan tetapi, ... Li Shen memang tak mengetahui di mana keberadaan kakak keduanya itu.


Ketika kerusuhan terjadi yang ditangkap oleh pasukan Kerajaan Xin hanya Li Jun. Keberadaan Li Chen atau bahkan jika pun Li Chen dalam masalah pun tak terdengar beritanya. Seolah kakaknya itu menghilang.


Cuihh ...


"Yang Mulia ..."


Para prajurit mendekat dengan marah ketika Li Shen meludah ke wajah Raja Xin. Akan tetapi, Raja Xin Wantang hanya mengusap wajahnya dengan ekspresi marah yang ditahan. Lalu, tangan pria itu terangkat untuk memukul ke perut Li Shen.


BUGH!


"UGH ..." Li Shen tak bisa melawan saat Liu Sang kembali menangkap tangannya.


Pada akhirnya, ketika Raja Wantang menendang perut Li Shen, pria muda itu tak bisa melawan. Ia hanya bisa memuntahkan cairan dari mulutnya akibat hentakan dari perutnya. Dan, Li Shen terduduk di lantai.


Sangat menyakitkan.


"Baiklah karena aku sangat baik, aku akan memberi tahu Pangeran sebuah kabar yang mengagumkan. Pangeran Li Chen, dia sudah mati." Xin Wantang meraih sapu tangan dari seorang prajurit.


Entah mengapa Li Shen tak terkejut. Mungkin ia sudah terbiasa mendengar kabar kematian dari orang-orang terdekatnya.


Dengan hati dongkol Xin Wantang mengusap wajahnya untuk membersihkannya. Kemudian, pria itu melanjutkan.


"Kabar baiknya adalah orang yang membunuhnya adalah Putri Li Wei," bisik Raja Xin Wantang dengan ejekan di dalamnya.


Li Shen yang awalnya menunduk kembali mendongakkan kepalanya. Namun oleh Liu Shang menekan kepala Li Shen kembali, meski Li Shen melawan, tetapi Liu Shang lebih kuat lagi.


"Apa yang kau katakan? Jangan menuduh kakakku dengan hal yang tak mungkin dilakukannya! Apalagi membunuh Kak Li Chen ... Kau ..."


BUGH!


Lagi-lagi Liu Shang memukul perut Li Shen hingga muntah sekali lagi.


SRET!


Raja Xin Wantang menarik rambut Li Shen yang ikatannya sudah berantakan. Kemudian, Raja Xin Wantang berbicara dengan nada menang. "Lalu, apa Pangeran yang terhormat ini bisa menebak mengapa kami ada di sini sekarang? Aku bisa menyebutnya bahwa situasi Pangeran Li Shen sama seperti Pangeran Li Chen sebelumnya. Sebagai 'tulang' untuk tahta Putri Li Wei. Bahkan Putri Li Wei membunuh penduduk Kerajaan Li yang menentangnya. Pernahkah Pangeran Li Shen mendengar tentang Mawar Hitam yang haus darah? Putri Li Wei membunuh dengan sangat keji untuk menghancurkan sesuatu yang dibencinya."


PEMBOHONG!


Li Shen tahu jika Li Wei pernah ditindas oleh para penduduk. Tentu saja ketika para penduduk ingin Li Wei menyembuhkannya. Li Shen pernah mendengarnya dari Wei Wuxie saat Wei Wuxie membawa Li Shen melarikan diri.


Katanya, Li Wei dilempari batu dan sebagainya. Akan tetapi, Li Wei tak akan begitu tega untuk meletakkan tangannya dan mencabut nyawa orang lain. Li Shen menolak untuk percaya.

__ADS_1


Li Shen ingin mengucapkan itu, tetapi rasa sakit di perutnya benar-benar terasa. Yang diinginkannya adalah jawaban dari Li Wei. Akan tetapi, ia tak bisa mengatakan apa-apa. Dan, ia kehilangan semua kekuatannya.


"Jika Pangeran tak percaya, mari kita bicarakan di Pengadilan Tinggi. Putri Li Wei menunggu Pangeran di sana."


Itu adalah yang Li Shen dengar sebelum kehilangan semua kesadarannya.


Lebih dari segalanya ... Li Shen mulai takut dengan inderanya sendiri. Ia takut melihat. Ia takut mendengar. Ia takut merasakan.


Ia takut pada kenyataan yang akan ia ketahui nantinya.


Sebab, ... Li Shen tak ingin membenci saudara-saudarinya sendiri.


***


Li Wei merapatkan wajahnya sendiri ketika memetik beberapa tangkai teratai dari pinggir sungai. Ia tahu jika tanaman teratai ini milik orang lain, tetapi Li Wei memerlukannya. Setidaknya Li Shen memiliki sesuatu untuk diisi di perutnya.


Keadaan Pusat Kota kini lebih sepi dibandingkan kuburan. Penduduk yang masih bertahan di Kerajaan Li tak berani untuk keluar. Para prajurit Kerajaan Xin yang berjaga memang sering berkeliaran, tetapi wilayah tempat Li Wei mengambil tangkai teratai ini adalah wilayah yang tersembunyi. Setidaknya Li Wei sudah memastikan tak ada prajurit yang tahu keadaannya.


Biji teratai ini sudah cukup tua untuk dimakan. Syukurlah.


Li Wei menepuk pohon teratai dengan gestur persahabatan. "Terima kasih atas makanannya. Jangan menuduhku mencuri, aku cuma mengambil. Paham. Lagipula aku sudah bilang padamu," ujar Li Wei yang membungkukkan tubuhnya pada tumbuhan teratai.


Mengucapkan terima kasih.


SRET!


Akan tetapi, ketika Li Wei ingin berjalan untuk keluar dari dalam air suara langkah kaki mendekat. Li Wei langsung merendamkan tubuhnya ke dalam air. Tangan Li Wei meraih daun teratai agar ada pelindung yang bisa digunakannya. Sekarang ia tengah menyamar menjadi teratai.


BUGH!


Seseorang tampak terguling saat berjalan beberapa langkah. Jelas sekali jika keadaan orang tersebut tak terlalu baik. Li Wei semakin menunduk ke dalam air. Dan lumpur jelas mengenai wajahnya, karena perairan sungai ini cukup dangkal.


BRUKH!


Semakin dekat orang itu, Li Wei pun mengenalinya. Itu adalah ... Wei Wuxie?!!


SRAK!!


Li Wei keluar dari persembunyiannya ketika melihat Wei Wuxie yang terbaring di tanah. Dari pakaiannya yang basah oleh warna merah, Li Wei tahu betapa buruk keadaannya. Tanpa perduli dengan pakaiannya sendiri yang basah kuyup dan dipenuhi lumpur, Li Wei menghampiri Wei Wuxie.


"Wuxie!" panggil Li Wei sambil menepuk wajah Wei Wuxie yang memiliki bercak darah.


Jangan mati! Ku mohon ...


Li Wei mengguncang bahu Wei Wuxie hingga dahi pria itu mengerut. Tanda Wei Wuxie sadar dari pingsannya. Tatapan Wei Wuxie mengarah pada wajah penuh lumpur Li Wei yang menunduk ke arahnya.


"Putri ..."


Li Wei membantu Wei Wuxie untuk duduk. Di tangan Li Wei masih ada beberapa tangkai teratai yang memang ingin dibawakannya untuk Li Shen.


" ... Malam ... Membunuh ..." bisik Wei Wuxie lemah.


"Apa yang kau katakan? Lebih baik kita bicarakan nanti. Sekarang ..."


DRAP!


DRAP!


DRAP!


Suara langkah mendekat pada mereka sekarang. Dengan cepat Li Wei mengarahkan Wei Wuxie untuk naik ke punggungnya.


"Pegangan padaku!" perintah Li Wei.


"Putri ..."


"UGHHHH!" Suara keluh Li Wei sudah menandakan tentang kesusahannya untuk menggendong Wei Wuxie.


Belum lagi dengan luka di lengannya. Wei Wuxie hanya bisa menatap rambut Li Wei yang terlihat. Sosok kecil itu masih memaksa untuk menggendong Wei Wuxie di punggungnya. Dengan tinggi Li Wei yang hanya sampai di telinga Wei Wuxie, akhirnya kaki Wei Wuxie masih menyeret di tanah.


"Tinggalkan saya ... Putri ..." bisik Wei Wuxie lemah.


Ia tak bisa melindungi Putri yang harusnya ia lindungi. Bahkan sekarang Li Wei tengah berusaha untuk melindunginya. Akan tetapi, kemauan keras Li Wei lebih tegap daripada punggung sapi. Sehingga meski kesusahan, Li Wei berhasil membawa Wei Wuxie beberapa langkah.


"Aku akan membawamu ... Ughhh ... Ke rumah ... Itu ... Li Shen ... Ughh ..." Suara Li Wei tersendat karena tarikan napasnya sendiri yang buruk.


Wei Wuxie bisa melihat darah Li Wei yang mengalir dari ujung jarinya. Luka Li Wei terbuka lagi, bahkan ketika belum juga mencapai kesembuhannya. Wei Wuxie merasa sakit di hatinya.


Gadis ini ... Adalah seseorang yang hormati dan cintai. Sekarang Wei Wuxie bahkan membebani Li Wei. Namun Wei Wuxie tahu ... Li Wei tak akan meninggalkannya. Gadis itu tak akan pernah menghianati orang-orang terdekatnya.


Meski mereka menghianati Li Wei sekalipun.


"Putri ..."


Entah rasa sakit di mana yang lebih mendominasi. Lengan Li Wei sudah mati rasa, sedangkan tangannya ... Yang masih menggenggam batang teratai terus terkepal erat. Bunga teratai ini dan Wei Wuxie, Li Wei akan membawanya kembali ke rumah kosong itu.


Li Shen masih menunggu Li Wei di sana.


SRET!


"Putri!" teriak Wei Wuxie ketika anak panah mengarah pada mereka.


Wei Wuxie memberatkan tubuhnya ke kanan, sehingga mereka berdua terjatuh karena Li Wei yang tak kuat menahan. Itu lebih baik, karena meski terjatuh, mereka terselamatkan dari anak panah yang melayang. Tepat setelah itu ... Li Wei bangkit lagi hanya untuk menyeret Wei Wuxie untuk berlindung dari serangan panah.


"Berhenti!"


Teriakan itu tentu saja dikenali oleh Wei Wuxie dan Li Wei. Tepat ketika teriakan itu, anak panah berhenti. Sudah seperti yang diduga oleh mereka, Zhang Yuwen muncul bersama pasukan Kerajaan Xin.


Kini pria itu sudah mengenakan pakaian Kerajaan Xin.


"Zhang Yuwen," bisik Li Wei lemah.


Seorang prajurit mendekat pada Zhang Yuwen. Tatapan pria itu tajam pada Zhang Yuwen sekaligus mempertegas. Bagaimana pun mereka tahu tentang persahabatan ketiga orang ini. Ia hadir untuk memberi peringatan pada Zhang Yuwen.


"Tuan Zhang, Anda diperintahkan oleh Yang Mulia untuk membawa kepala Wei Wuxie ke istana. Juga ... Putri Li Wei harus dibawa ke istana jika ditemukan," ucap prajurit itu mengingatkan.


Lebih dari segalanya Zhang Yuwen datang kemari untuk membunuh Wei Wuxie.


Li Wei berdiri di depan Wei Wuxie.


"Jika kau membunuh Wei Wuxie, maka bunuh aku dulu," ucap Li Wei sambil menunjuk dengan menggunakan teratai yang masih ada di tangannya.


Apa mereka sekarang harus saling bertentangan?


***


...***XiaoPedia***...


Yang perlu kalian ketahui! Karakter dalam novel ini adalah sebagai berikut:



Yi Hua (di kehidupan sebelumnya bernama Li Wei)



Relasi:


-Shi Heng (Ayah), sebenarnya saat terbangun menjadi Yi Hua, ia tak tahu dimana ayahnya ini berada. Tapi katanya Shi Heng meninggal dalam perjalanan saat bertugas.


-Yi Xia (Ibu), di salah satu bab diceritakan Yi Xia sudah menghilang di dunia ini karena kehilangan kekuatannya sebagai Dewa.


-Shi Qingnan (Sepupu), hubungan mereka kurang baik. Diketahui jika Shi Qingnan memiliki hubungan dengan teman masa kecil Yi Hua, Ming Fan. Shu Qingnan tidak tahu jika Yi Hua itu perempuan.


-Ming Fan (teman), Ming Fan tahu jika Yi Hua perempuan. Untuk menutupi kedok itu, Ming Fan sejak kecil dijodohkan dengan Yi Hua hanya agar Yi Hua terlihat 'laki'.



Hua Yifeng (Tuan Hua, An)



Diberi nama 'Hua' yang artinya bunga. Itu karena Ling Xiao bertemu Hua Yifeng saat masih kecil di gunung Hua. Semakin dewasa Hua menambah nama belakangnya 'Yifeng', sehingga Hua menjadi marga atau nama keluarganya. Meski menjadi anak angkat Ling Xiao, Hua Yifeng tidak mengambil marga 'Ling' untuk nama keluarganya. Gelarnya adalah Pemilik Gunung Hua, karena dia adalah Raja di kota 'makhluk lain' di Gunung Hua. Sering disebut Iblis Kehancuran, karena sejarahnya (katanya) yang membantai seluruh orang kerajaan Li terdahulu.


Relasi:


-Orangtua kandung tidak diketahui. Hanya saja dia adalah salah satu keturunan Klan Bao. Kayanya Klan Bao memiliki keistimewaan di darahnya yang bisa membuat takut hewan buas dan menetralkan racun.


-Ling Xiao (Ayah Angkat), tapi di masa Yi Hua Ling Xiao malah sering disebut sebagai sahabat Hua Yifeng. Ling Xiao itu mantan peramal di Kerajaan Li.



Keluarga Kerajaan Li:



-Yang Mulia Raja Li, nama asli tidak pernah disebut. (meninggal).


-Permaisuri Jiang Ning (meninggal)

__ADS_1


- Li Jun (meninggal)


- Li Chen (meninggal)


- Li Wei (meninggal), di masa depan dia terlahir kembali menjadi Yi Hua (pemeran utama kita wuyy .. Jangan sampai lupa).


- Li Shen ( Yang Mulia Kerajaan Li yang sekarang).


- Li Quon, (Putra Mahkota Kerajaan Li sekarang) Anak Li Shen dengan Selir Wen. Yaps ... Sebenarnya keponakannya si pemeran utama nih.



Keluarga Liu:



- Liu Xingsheng (Perdana Menteri Kiri Kerajaan Li)


- Liu XinQian (Selir Qian)




Perdana Menteri Kanan, Huan Ran.




Peramal Legendaris, Ling Xiao.




Penasihat Kerajaan, Wang Zeming.




Keluarga Wei:




- Wei Qionglin (Jenderal Besar Kerajaan Li yang sekarang)


- Wei Wuxie (meninggal)




Lima Bencana Besar Kerajaan Li




Putri Hitam, Li Wei.




Iblis Kehancuran, Hua Yifeng.




Tirai Berdarah, Zhang Yuwen.




Pendeta Buta, Shen Qibo (meninggal ketika bertarung dengan Yue Yan)




Tengkorak Putih, Bao Jiazhen (masih belum nampak hilalnya di novel ini)




Karakter tambahan.




Zhang Yi ( Pejabat yang bunuh para gadis untuk menghidupkan kekasihnya kembali)




Fang Yin ( Kekasihnya Zhang Yi)




Zi Si (pelayannya Li Quon pas kasus penyakitnya si putra mahkota)




Wei Fei (Si Penari yang jadi korban eksperimen)




Pengawal Bercadar yang pernah ngurung Yi Hua di Istana Awan, Hua Yifeng. Ini cuma muncul di bab awal. Tapi di kemudian hari bakalan muncul lagi karena dia 'agak' penting.




Raja Xin Wantang (di flasback)




Permaisuri Raja Xin, Su Nan (di flasback)




Liu Sang (di flasback). Agak penting untuk diingat karena berhubungan dengan karakter inti.




Bao Tian (Anaknya Zhang Yuwen)




Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2