Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Pertemuan Ketiga


__ADS_3

Darurat! Darurat! Xiao, kirimkan bantuan atau ku pindahkan rambutmu ke ketiak!


Yi Hua mendadak mengeluh sendiri saat dia tak yakin jika Xiao punya rambut dan ketiak. Sampai sekarang ia masih tak mengerti mengapa sistem busuk ini tak bisa mendeteksi Hua Yifeng. Ditambah lagi Xiao juga seperti sebuah organ yang berhenti ketika Hua Yifeng datang.


Jika tak salah ... Ini kali ketiganya mereka bertemu.


Mau tak mau Yi Hua harus memikirkan cara agar bisa hidup setelah ini. Atau, dia harusnya melafalkan mantra sakit perut untuk Hua Yifeng? Namun dengan kemampuan Yi Hua yang lemah, mantra atau jimat sekuat apapun tak akan bisa digunakan.


Sebenarnya bukan tentang mantra atau jimatnya, tetapi tentang penggunanya. Jika seseorang punya tenaga dalam yang kuat, bahkan jimat sederhana pun bisa jadi senjata pembunuh. Begitu pun sebaliknya.


Tetapi yah ... Setidaknya Yi Hua mencoba.


Ia meraih jimat pengusir tikus yang selalu ia bawa ke mana-mana. Bukan masalah apa yang diusir, tetapi masalah Yi Hua hanya bisa menulis jimat pengusir tikus saja. Beruntung Yi Hua selalu membawanya hanya agar terlihat seperti seorang peramal.


Tangan Yi Hua yang satunya mendorong dada Hua Yifeng untuk menjauh. Sedangkan tangan yang satunya lagi dengan cepat menempelkan jimat itu ke dahi Hua Yifeng. Ia hanya berharap Hua Yifeng akan berhenti bergerak.


TAP


Pria itu tak bergerak dan membuat Yi Hua ingin berguling-guling saking senangnya.


Ternyata aku punya bakat. Wah, nanti aku bisa jadi pengusir hantu juga.


Akan tetapi, baru saja ia ingin berlari untuk kabur, bajunya ditarik lagi dari belakang. Hal itu membuat Yi Hua batuk sekilas karena tercekik. Setelah itu, ia menolehkan kepalanya ke belakang. Tepatnya pada jari-jari langsing yang mencengkeram pakaiannya dari belakang.


Yi Hua ingin menangis karena dia sama sekali tak berguna.


SRET!


TAP


"Aduhh!" Yi Hua mengusap dahinya sendiri yang baru saja ditempelkan jimat oleh Hua Yifeng.


Pria itu menempelkan jimat pengusir tikus itu kembali pada Yi Hua! Bayangkan betapa jengkelnya perasaan peramal itu. Bahkan sekarang dia tak berani bergerak karena takut Hua Yifeng memutuskan untuk mencekik lehernya dari belakang.


Ia lupa jika Hua Yifeng bukan hantu saja, dia adalah iblis. Raja Iblis!


Malah sekarang jimat Yi Hua dikembalikan begitu saja.


"Bukankah kau memiliki banyak hal yang dibicarakan padaku?" tanya Hua Yifeng retoris.


Yi Hua memasang wajah sombong seperti biasanya. "Bukankah sedikit aneh jika Pemilik Gunung Hua ini menemui saya hanya untuk berbicara?" Yi Hua malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


Lalu, Yi Hua mengarahkan sikunya ke perut Hua Yifeng. "Dan juga ... Lepaskan!"


Sebelum terkena serangan dari tenaga sapi Yi Hua, Hua Yifeng dengan gesit menjauh. Hingga tarikan Hua Yifeng di pakaiannya terlepas. Setelah Yi Hua berbalik untuk melihat pada Hua Yifeng, pria itu segera mengangkat kedua tangannya ke udara. Pertanda menyerah.


"Aku punya dua pilihan. Entah yang mana yang benar. Pertama ialah aku kurang kerjaan, dan datang ke tempat ini hingga bertemu denganmu. Atau yang kedua, aku memang ingin bertemu denganmu," ucap Hua Yifeng dengan senyum menyebalkan di wajahnya.


Pria ini benar-benar seenaknya dalam bertindak. Jelas sekali karena tak ada yang mengikatnya. Di dunia manusia, pria ini dihindari dan ditakuti. Di dunia iblis, dia adalah penguasanya. Sehingga dia tak begitu perduli pada apa yang dilakukannya.


Yi Hua berjongkok untuk mengambil penutup kepalanya yang jatuh ke tanah. Mungkin itu terlepas dari tangan Hua Yifeng saat Yi Hua ingin menanduknya tadi.


"Bagaimana jika ada pilihan ketiga? Anda datang kemari untuk melihat bagaimana hasil pekerjaan Anda?" tanya Yi Hua sambil menunjuk ke arah bangunan yang sudah hancur setengahnya itu.


Bagaimana pun Yi Hua masih memiliki dugaan jika Hua Yifeng berkaitan dengan segala masalah yang dihadapi akhir-akhir ini.


"Percayalah, Yi Hua. Pilihan yang sebenarnya itu di antara dua hal yang sebutkan," balas pria itu dengan misterius.


Siapa yang akan mempercayainya?

__ADS_1


Yi Hua bahkan tak bisa membayangkan jika Hua Yifeng berada di tempat yang sama dengannya hanya karena pria itu kurang kerjaan! Dari sekian banyak tempat, mengapa tempat yang ada Yi Hua-nya?


Lalu, jika pilihan yang kedua, Hua Yifeng memang ingin menemuinya? Siapa yang percaya tentang itu?


Namun jika itu benar. Mungkin Hua Yifeng memang datang karena tahu tentang tungku iblis di dalam dirinya. Sebab, orang seperti Hua Yifeng pasti tak mau melakukan hal tersebut tanpa ada keuntungan baginya.


Iya, benar ... Pilihan kedua pasti benar. Hua Yifeng pasti ingin memeriksa kekuatan yang menyengatnya saat itu!


Yi Hua sangat ingat saat dia menyelamatkan Huan Ran dahulu di istana Hua Yifeng. Ketika itu ada kekuatan aneh yang menyengat tangan Hua Yifeng. Itu terbilang sangat aneh karena tak pernah ada yang bisa melukai Hua Yifeng sebelumnya.


Atau mungkin Hua Yifeng ingin menagihnya karena menghancurkan Istana Awan miliknya*?


^^^*Jika ada yang lupa tentang kejadian ini, silahkan diingat kembali saat Yi Hua menyamar untuk masuk ke Gunung Hua. Di sana dia main dadu terus menang katanya, dan Yi Hua di bawa ke Istana Awan untuk berbincang dengan Hua Yifeng. Yah, cerita ini tau tau aja udah panjang banget dan lama update, pasti ada yang lupa tentang beberapa bagiannya.^^^


CTAK!


Yi Hua lagi-lagi dikejutkan dengan jari Hua Yifeng yang menyentil dahinya. Hal itu membuat Yi Hua memasang kuda-kuda untuk menyerang. Entah mengapa dia bisa melamun saat Hua Yifeng ada di depannya.


Harusnya Yi Hua waspada karena di depannya ini adalah makhluk yang berada di atas pada rantai makanan!


"Yi Hua, kau terlalu berpikir panjang. Terkadang lebih baik kau hidup tanpa mengetahui banyak hal. Itu akan membuatmu hidup sehat dan panjang umur," ucap Hua Yifeng yang merapikan jubah bagian luarnya.


Angin di sekitar mereka masih sangat kencang. Itu karena mereka berada di atas gunung. Sehingga deru angin akan lebih kencang ketimbang dataran rendah. Jubah Hua Yifeng yang berkibar itu membuat ganggang pedang Hua Yifeng terlihat. Ganggang pedangnya berwarna hitam juga seperti pedangnyanya.


Sangat misterius dan aneh. Itu adalah Pedang Li Wei. Pedang milik Hua Yifeng, yang katanya diberi nama sama seperti kekasihnya, Puteri Li Wei.


Namun ada hal yang sangat merusak penampilan misterius dari pedang Li Wei. Itu adalah hiasannya yang terkesan manis. Di ujung pedang Li Wei ditempa gantungan permata warna perak. Penempatannya sangat kuat agar permata yang bergantung itu tak akan terjatuh, meski Hua Yifeng berguling-guling dengan sapi. Dan, gantungan itu seperti hiasan di jepit rambut para gadis. Yi Hua tak mengerti dengan selera Hua Yifeng ini.


Hua Yifeng mengetahui arah pandangan Yi Hua, sehingga pria itu menarik senyumnya. Lalu, Hua Yifeng menyentak jubahnya untuk menutupi pinggangnya lagi. Menutupi pedang Li Wei yang sempat terlihat.


"Bukankah Anda melakukannya agar Puteri Li Wei terlahir kembali?" tanya Yi Hua langsung pada intinya.


Bahkan Yue Yan hanya menggunakan satu kepingnya saja, dan dia bisa membuat masyarakat tengkorak berjalan.


Tak ada yang berani mengambil resiko untuk mengendalikan Lingkaran Mawar jika orang tersebut tak punya kekuatan besar. Hua Yifeng masuk ke dalam kategori itu, dan juga Hua Yifeng mungkin orang yang ingin Li Wei hidup kembali. Walau ini hanya sekadar dugaan dari Yi Hua semata.


Hua Yifeng tersenyum tipis, "Kau cemburu?"


SIAPA JUGA YANG CEMBURU?


Seperti yang Xiao pernah katakan, Yi Hua mungkin makhluk yang paling mudah di baca ekspresinya. Bahkan tanpa menjawab pun Hua Yifeng bisa tahu secara institusi. Yi Hua sudah nyaris seperti sapi yang siap mengamuk. Itulah yang membuat Hua Yifeng tersenyum semakin lebar.


"Yi Hua, kau sendiri yang meramalkan itu, bukan? Apa kau takut bahwa ramalanmu sendiri yang membuat kehancuran? Kau takut jika ada seseorang yang percaya pada ramalan itu, dan ingin Puteri Li Wei terlahir kembali," ujar Hua Yifeng masuk akal.


Bagaimana pun apa yang Hua Yifeng katakan adalah hal yang Yi Hua pikirkan.


Semua ini dimulai dari ramalan Yi Hua asli tentang kelahiran kembali dari Puteri Li Wei. Bahkan dahulu tentang Puteri Li Wei hanyalah sejarah. Dan, karena Yi Hua, Puteri Li Wei kembali disebut-sebut..


Katakanlah ada orang yang mengaku bisa melihat masa depan. Lalu, berkata tentang ramalannya dan ada yang percaya. Itu sama seperti memberi ide. Benar atau salahnya ramalan itu, tetap saja yang memberi ide itu terlibat. Itulah yang Yi Hua takutkan.


Yi Hua merasa napasnya memburu. Entah karena dia marah atau takut. Akan tetapi, Hua Yifeng seperti menekan inti di dalam hatinya.


"Jika saya tahu ini akan terjadi, maka saya tak akan mengatakan apa-apa. Juga, jika ini terjadi karena ramalan saya, maka saya harus menghentikannya. Bahkan jika itu berarti saya harus menantang Anda," jelas Yi Hua sambil mengepalkan tangannya.


Hua Yifeng mengulurkan tangannya untuk mengusap rahang Yi Hua yang menegang. Namun Yi Hua langsung menepis tangan Hua Yifeng dan mundur lebih jauh lagi. Ia seharusnya memang tak berbicara dengan Hua Yifeng.


"Mengapa kita harus saling bertentangan, Yi Hua? Aku tak sejahat itu."


Yi Hua mendengus. "Memangnya ada orang yang mau mengaku jika dirinya jahat?" sindir Yu Hua tanpa takut lagi.

__ADS_1


Entah mengapa dia merasa Hua Yifeng tak ingin membunuhnya. Yah setidaknya sekarang. Sebab, jika Hua Yifeng ingin membunuhnya, maka itu tak akan begitu lama. Namun pria itu sepertinya tak ingin membuang waktu untuk membunuh Yi Hua.


"Setidaknya aku tak mengaku menjadi orang yang baik," balas Hua Yifeng dengan ekspresi yang sangat tenang.


Lalu, Hua Yifeng menunduk dan itu membuat Yi Hua waspada lagi. Namun perhatian Hua Yifeng malah pada ilalang yang ada di jalan. Tangan pria itu segera meraih ilalang dan memberikannya pada Yi Hua.


"Jika aku mengatakan bahwa aku tak melakukan semua itu, apa kau mempercayainya?" tanya Hua Yifeng lemah.


Akan tetapi, Yi Hua tak berani menjawab apa-apa. Ia hanya menatap pada ilalang yang diberikan pria itu pada Yi Hua. Akhir-akhir ini dia selalu merasa aneh jika seorang pria memberinya bunga dan semacamnya.


Bukankah tak ada yang tahu jika dia seorang gadis? Atau, hanya Yi Hua yang merasa orang-orang ini tak tahu.


Lagipula, ... "Percaya atau tidaknya saya pada Anda, pasti tak akan berarti apapun untuk Anda. Apa saya benar?" lanjut Yi Hua.


Yang Yi Hua sadari adalah dirinya dan Hua Yifeng sejak awal tak memiliki kaitan apapun. Dirinya adalah orang yang tak tahu banyak hal, bahkan tentang identitasnya sendiri. Begitu juga dengan Hua Yifeng, yang tahu banyak hal.


Bahkan Xiao tak mengatakan bahwa Yi Hua asli dan Hua Yifeng pernah bertemu atau apapun. Singkatnya adalah Hua Yifeng dan dirinya adalah dua orang asing yang tak sengaja bertemu. Mungkin saja saat itu Hua Yifeng hanya memiliki sedikit kerendahan hati untuk menyelamatkan Yi Hua. Hanya kebetulan.


Tak ada apa-apa maknanya. Sehingga Yi Hua hanya perlu melakukan hal yang seharusnya ia lakukan. Dia dan Hua Yifeng di pihak yang berbeda. Ia punya tugas untuk membunuh Hua Yifeng.


Yi Hua juga hanya perlu mengumpulkan ingatannya sendiri. Hanya itu. Tak ada kaitannya sedikit pun dengan Hua Yifeng. Maka, dia tak perlu terikat apapun pada Hua Yifeng.


"Namun jika Anda memang terlibat dalam semua kasus ini, saya pikir kita berada di pihak yang berlawanan. Anda pikir saya takut untuk bicara lancang," ucap Yi Hua sebelum menarik napas panjang. Ia harus siap-siap melarikan diri.


Setelah ia mengatakan hal yang berani itu Yi Hua jelas harus melarikan diri. Ia tak bisa menjamin jika Hua Yifeng tiba-tiba memutuskan untuk mencekiknya. Dan, pria itu malah mendekat beberapa langkah pada Yi Hua. Mau tak mau Yi Hua mundur beberapa langkah lagi untuk menghindar.


"Aku lebih tertarik untuk mencium bibir cerdasmu itu dibanding mencekikmu karena terlalu pandai bicara," ucap pria itu disertai tatapan tak sopannya.


Pria itu menatap Yi Hua dari atas ke bawah dengan tatapan yang membuat Yi Hua ingin segera menendang kepala pria ini. Yi Hua menahan penutup kepalanya karena dia bersiap untuk berlari. Dia sudah selesai bicara dengan iblis kehancuran ini.


Seperti yang sering diucapkan dengan orang-orang, Hua Yifeng memang sangat licik hingga tak ada yang sanggup berdebat dengannya.


"Jika aku sudah berlatih selama tujuh purnama dan tujuh musim berlalu di bawah air terjun, aku akan segera menendang kepalamu nanti!" ucap Yi Hua yang sudah sebal.


Dan, Yi Hua langsung berlari secepat ketika ia berhutang di toko roti milik seorang Bibi di Pusat Kota. Yi Hua sering melakukannya saat dia ingin berhutang di toko roti itu.


Beruntung aku selalu melatih kaki ini agar terbiasa melarikan diri saat ditagih bayaran!


Lalu, yang tersisa di sana hanyalah Hua Yifeng dengan setangkai ilalang di tangannya.


Pria itu menatap pada ilalang yang putih itu dan bergumam pelan. "Namun aku berada di pihakmu, Yi Hua. Bahkan jika tak ada satu orang pun yang berada di pihakmu. Aku akan selalu ada di pihakmu."


SRAT!


Lalu, yang tersisa hanyalah ilalang yang bergoyang karena tertiup angin. Sosok Hua Yifeng menghilang seperti memang tak pernah ada di sana. Kemudian, ilalang yang sempat ia petik sebelumnya terbang ke udara.


Entah dimana ilalang itu akan berhenti terbang nantinya.


Mungkin di tempat yang menjadi takdirnya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2