Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Kejaran Badai Debu


__ADS_3


Katanya ...


Tengkorak Putih, Bao Jiazhen adalah bencana yang jarang terdengar namanya. Ia hanya berdiam diri di wilayah kekuasaannya, tanpa mengganggu di daratan. Biasanya Tengkorak Putih hanya menyebabkan bencana di laut.


Jika kau kebetulan berada di laut selatan, dan kau melihat kapal mengapung, lebih baik kau mengabaikannya. Atau, itu bisa jadi mimpi buruk bagimu. Sebab, kau akan melihat tulang mengering di sana. Bukan karena mati lama atau apa, tetapi karena seluruh dagingnya mengelupas. Menyisakan tulang yang kering seperti sudah dikeringkan begitu lama.


Mungkin pemilik kapal adalah orang paling sial dari yang paling sial. Atau, mungkin orang itu telah membuat Tengkorak Putih yang 'penyabar' ini marah. Si Tengkorak Putih, Bao Jiazhen tidak mengganggu atau dengan sinting seperti Zhang Yuwen yang membunuh secara acak. Bao Jiazhen juga tak seperti Shen Qibo yang membunuh beribu orang dalam satu malam. Juga, tak seperti Hua Yifeng yang punya kekuasaan besar bahkan bisa membuat takut iblis lainnya. Ia juga tak seperti Putri Li Wei yang membawa kutukan bagi penduduk kerajaannya.


Sejauh yang pernah diceritakan oleh orang-orang, sosok Tengkorak Putih hanya ada begitu saja. Kutukannya atau sihir darinya bisa membuat lawannya mengalami hal yang mengerikan. Kulitnya akan melepuh seolah terendam dalam lautan api. Kemudian, yang tersisa hanyalah tulang-belulang. Oleh karena itu, orang-orang menyebutnya Pembawa Bencana Tengkorak Putih. Kemudian, seiring berjalannya waktu, namanya menjadi lebih singkat, dan disebut Tengkorak Putih.


Pertama kali Bao Jiazhen terdengar ialah saat 'anak yang diberkahi Dewa' mati di perairan. Ingatlah tentang cerita terkenal dari kerajaan Xin yang sudah hancur itu. Seorang anak yang katanya bisa menyembuhkan penyakit, kecuali kematian (tentu saja), menetralkan racun, dan bahkan katanya bisa berkomunikasi dengan Dewa. Anak itu tanpa diketahui mati dan terlihat mengapung di air dan Bao Jiazhen katanya terlihat di sana bersama ikan kerangka putih yang bisa menggigit.


Hanya seperti itu. Dan hanya segelintir orang yang 'katanya' pernah melihatnya.


Banyak yang mengatakan jika anak yang diberkahi ini sebenarnya bukan diberkahi. Tapi merupakan anak yang dikendalikan oleh iblis Bao Jiazhen. Sehingga saat 'syarat' yang diberikan oleh Si Tengkorak Putih ini dilanggar, maka Anak yang Diberkahi akan diambil jiwanya.


Lebih dari segalanya ...


Tak ada yang tahu bagaimana Bao Jiazhen bisa ada. Masa lalunya. Bagaimana rupanya. Juga, bagaimana kekuatannya yang sebenarnya.


Juga, Si Tengkorak Putih juga seharusnya tak ada di daratan.


...***...


GRUHHH!


Sial di atas sial lainnya.


Yi Hua mendengar bunyi seperti longsor dari belakangnya. Tanpa menjadi cenayang pun dan meramalkan tentang fenomena sapi terbang, Yi Hua sudah tahu jika itu bukanlah longsor yang biasanya. Itu adalah longsor yang disertai oleh angin kencang, sehingga hempasan angin akan membuat debu melintas keras layaknya air terjun.


Bagaimana bisa ada badai pasir di saat situasi genting seperti ini?


"Aku punya berita buruk, HuaHua," Xiao menyela lagi dengan datar.


"Apa kau pikir situasi ini tidak cukup buruk, Xiao?" tanya Yi Hua jengkel. Suaranya agak kencang hingga membuat Ling Xiao menoleh.


Masalahnya 'Xiao' juga nama dari Ling Xiao. Dan, Yi Hua menyebutnya seperti orang yang memuntahkan semua rasa frustasi. Tentu saja setelah itu, Yi Hua langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


^^^*Xiao dalam nama mereka artinya 'kecil'. Jadi, Ling Xiao itu marganya 'Ling', dan namanya 'kecil'. Kalo dari nama itu, Ling Xiao berarti Ling Kecil.^^^


"Apakah Anda sedang mengajak saya bicara?" tanya Ling Xiao. Suara pria itu tak jauh dari Yi Hua.


Dari ucapan Xiao, pria peramal legendaris itu berada di sebelah barat, tiga langkah lebih jauh dari Yi Hua. Sehingga dari itu tanpa sadar Yi Hua menoleh ke arah yang diberitahu oleh Xiao. Hal tersebut tentu saja membuat Xiao cukup terkejut, karena Yi Hua bisa mengetahui keberadaannya dengan mata terikat.


"Bukan begitu, Peramal Ling. Saya hanya bicara pada debu. 'Apa kau pikir situasi ini tidak cukup buruk?!' Siapa tahu debu bisa memahami dan mengurangi badai di sini," jawab Yi Hua secara asal.


Ling Xiao berpikir jika Yi Hua ini tidak seperti yang diceritakan. Yi Hua ini dibandingkan sombong dan angkuh, tetapi lebih dominan aneh dan berisiknya. Sehingga Ling Xiao berpikir tentang sesuatu.


Apa karena ini Hua Yifeng tertarik padanya? Karena Yi Hua mirip dengan 'dia'. Atau ...


Ling Xiao memperhatikan Yi Hua yang menyeret Yue Yan dengan sangat lembut. Ia bahkan bisa mendengar dua makhluk ini lebih dominan berteriak dibanding siaga terhadap badai. Mungkin Yue Yan bertemu lawan yang tepat. Saat dengan Shen Qibo, pria itu tak banyak bicara sehingga tak ingin mengungkapkan apa-apa. Namun Yi Hua lebih kurang kerjaan hingga bicara saya lebih banyak dari orang lain.


Ling Xiao tertawa pelan dalam ketidakpercayaannya sendiri. "Ini tidak mungkin, bukan?" Bisik pria itu yang mulai meragukan penglihatannya sendiri.


Warna jiwa yang sama, tetapi raga yang berbeda. Ditambah lagi bagaimana bisa ada raga baru yang cocok untuk jiwa yang 'sudah' mati ini?


Apa itu mungkin?


***


SYUNG!


Angin berhembus kencang


Lihatlah. Sepertinya berkah Dewa menjauhi mereka sekarang. Bahkan tak ada kemudahan dalam situasi seperti ini. Mereka harus menghindari dari Bencana Tengkorak Putih yang entah ada di mana. Entah itu benar-benar Bao Jiazhen atau bukan.


Yi Hua mengeratkan ikatan kain di matanya. Sebelumnya Yi Hua sempat menarik turun penutup matanya untuk melihat siapa yang datang. Dan, yang datang itu adalah Ling Xiao. Sehingga sekarang Yi Hua harus kembali mengikat matanya, atau mata Yi Hua akan buta karena serbuan kerikil dan debu.


"Mari kita bersembunyi terlebih dahulu." Suara Ling Xiao terdengar dekat dengan Yi Hua.


Sejujurnya mereka harus tetap berkomunikasi agar tak hilang satu sama lainnya.


Dan, kala itu Yi Hua menyadari jika langkah Yue Yan tak terdengar lagi. Hal tersebut membuat Yi Hua mengeluh lelah. Harusnya Yi Hua harus tetap menyeretnya tadi. Padahal Yue Yan berjanji akan mengikuti Yi Hua, makanya Yi Hua melepaskannya.

__ADS_1


SRAT!


Yi Hua mengintip sedikit di balik penutup matanya, dan secara samar ia melihat sosok Yue Yan yang berdiri tegak dari kejauhan. Hal tersebut membuat Yi Hua bergegas menuju ke arah Yue Yan untuk menariknya. Akan tetapi, pria itu berteriak keras.


"Jangan ke sini!" teriak Yue Yan.


Meski Yue Yan berteriak keras, tetapi hanya Yi Hua yang mendengarnya. Yi Hua menatap punggung Ling Xiao yang berada di jejeran paling depan, dan tak jauh darinya adalah Huan Ran dan Liu Xingsheng. Bahkan Huan Ran mengikat tangan Liu Xingsheng dengan tangannya. Hanya karena takut jika Liu Xingsheng tak bisa bertahan di dalam badai debu ini. Siapa yang bisa menduga jika Liu Xingsheng bisa jadi terbawa angin nanti, bukan?


"Ada apa?" tanya Yi Hua yang menyadari keanehan dari Yue Yan.


Ular-ular Yue Yan yang masih tersisa dan hidup berada di kaki Yue Yan. Mereka melingkari kaki Yue Yan seperti berniat menarik kaki Yue Yan keluar. Dari ... Sial! Apa itu pasir hisap?


Xiao berucap pasrah. "Sebenarnya kau lupa jika aku belum mengatakan 'berita buruk' sebelumnya."


Oh iya. Bukannya Xiao tadi mengatakan berita buruk, tapi karena Ling Xiao bertanya padanya semuanya jadi buyar. Haduh.


Berita buruknya adalah mereka berada di wilayah pasir hisap. Pasir yang hidup, dan bisa menelan orang lain. Tentu saja bukan karena hal mistis, tetapi memang pada dasarnya wilayah yang seperti ini pasti memiliki wilayah berpasir. Dan, sial di atas sial lainnya ialah mereka memasuki kawasan ini.


Yi Hua melihat Yue Yan yang perlahan tenggelam. Pria itu mulai panik, dan Yi Hua segera berteriak. "Jangan bergerak! Kau mau cepat tenggelam?" tanya Yi Hua yang berusaha berpikir.


Ia berusaha mencari Ling Xiao dan yang lainnya, tetapi ia tak bisa melihatnya lagi. Mereka berdua sudah jauh tertinggal.


Apa aku tinggal saja makhluk ini? Bukannya dia sangat berisik sebelumnya.


Tapi ...


"Ahhhh ... Susah sekali ingin menjadi orang jahat. Mungkin karena aku terlalu baik hati dan tidak sombong," ucap Yi Hua yang merenggangkan lengannya.


Ia berjalan mendekat pada Yue Yan. Namun tak benar-benar dekat karena jika Yi Hua juga masuk dalam lingkaran pasir hisap, maka mereka berdua bisa pindah alam bersama-sama. Itu jelas bukan cerita yang menakjubkan untuk dibahas di sini.


Xiao mendadak semakin jengkel dengan Yi Hua. "Orang baik tak akan mengaku dirinya baik. Biarkan orang lain yang memujimu, HuaHua."


"Yah, setidaknya aku bukan orang yang merendahkan diri di depan orang lain, padahal hanya karena ingin terbang tinggi karena dipuji," balas Yi Hua yang terbiasa dengan ejekan Xiao.


Lagipula, jika semua tindakan karena dilandaskan untuk mengejar pujian orang lain, maka kau sangat tak beruntung. Karena hidupmu begitu berorientasi pada pandangan orang lain, walau tak sedikit orang yang begitu memikirkan pendapat orang lain. Paling utama dari segalanya adalah kau tak pernah menyerah untuk menjadi diri sendiri.


Lebih alami dan tanpa mengejar penghormatan dari orang lain.


Sudahlah. Berkelahi dengan Xiao tak akan habis, meski sampai sapi bisa terbang sekalipun. Yi Hua memilih untuk memperhatikan ke sekelilingnya. Walau perasaannya sedang panik, dan terasa seperti buang angin di tempat yang ramai, serta di tempat yang kedap udara. Bukannya itu sangat mendebarkan?


"HuaHua, berhenti berbicara di dalam hati! Kau tidak tahu badai pasir di sana sudah rindu ingin menenggelamkan dirimu?! Lebih dari segalanya, jika idemu adalah menggunakan kayu untuk menarik Yue Yan, maka lebih baik kau berpikir ulang. Saat tenggelam dalam pasir hidup seperti ini biasanya tubuh seseorang akan semakin berat," cerca Xiao yang tak sabaran.


Yue Yan mendadak menunduk untuk menarik ular-ularnya dari kaki.


"Yi Hua, kau bawa mereka keluar dari tempat ini. Biarkan mereka kembali ke hutan," ucap Yue Yan.


Lalu, tak lama Yue Yan melemparkan ular-ular itu agak jauh. Hanya agar ular-ularnya selamat, dan Yi Hua menyadari bahwa Yue Yan benar-benar memikirkan para ularnya.


Yah, bagaimana lagi ... Yue Yan adalah orang yang tak memiliki keluarga. Ia hidup sebatang kara, dan hanya ular-ular ini yang bersamanya. Seringkali ia dipandang aneh oleh orang lain, dan tak ada yang menganggapnya seperti 'manusia'.


Lalu, kemudian ia bertemu dengan Shen Qibo yang menyapanya dan berbicara padanya. Itu adalah hal yang menakjubkan sekaligus menyakitkan. Terutama saat ia melihat Shen Qibo yang membantai banyak orang.


Dan, buruk dari segalanya Shen Qibo tak memberi Yue Yan penjelasan apapun. Pria itu membiarkan semua dosa menenggelamkannya tanpa sisa. Semuanya dibebankan pada kaki Shen Qibo. Lalu, ...


Sebentar. Beban?


"Kau jaga sendiri anak-anak berbisa ini," ucap Yi Hua sambil memperhatikan ke sekelilingnya.


Tak lama Yi Hua berjalan ke pinggi-pinggir pasir hisap. Nampak garis dari pasir yang biasa dan pasir hisap.


"Kau hiduplah sendiri dan jaga mereka. Aku sangat sibuk untuk memelihara ular. Lebih baik aku memelihara emas supaya dia hidup dan bertelur," ucap Yi Hua asal.


Yue Yan menggelengkan kepalanya. "Yi Hua, kau ..."


Apa peramal ini tidak bercanda? Menolong di situasi genting seperti ini.


"Lagipula, aku mengenal seseorang yang sangat ingin melihatmu tetap hidup," jelas Yi Hua yang tengah memeriksa kayu yang ada di tangannya. Memeriksa kekuatan dari kayu itu untuk digunakan.


Yue Yan tak mengatakan apa-apa lagi.


Setelah yakin kayu itu baik-baik saja. Ia mempersiapkan kayunya yang panjang untuk diarahkan pada Yue Yan. Namun dari jarak kayu itu masih jauh untuk Yue Yan tangkap.


"Yue Yan, kau masih bisa menjatuhkan dirimu ke permukaan pasir?" tanya Yi Hua cepat.


"HUH? Kau gila?! Kau mau aku tenggelam lebih cepat Yi Hua? Harusnya aku tahu bahwa kau memang sangat kejam!" omel Yue Yan dengan suara yang keras. Bahkan mendadak Yue Yan menciptakan air hujan dari mulutnya yang mengomel tanpa henti.

__ADS_1


Yi Hua mendadak sakit kepala.


"Lakukan saja, wahai manusia! Cepat jatuhkan dirimu di permukaan pasir," perintah Yi Hua dengan mengangkat kayunya sebagai ancaman.


Yue Yan yang trauma pada pukulan kayu Yi Hua langsung menghindar secara refleks. Itu yang membuat Yue Yan terbaring di permukaan pasir yang bergolak itu. Dan, perlahan Yue Yan menyadari jika tarikan pasir sepertinya berkurang.


Yi Hua mengulurkan kayunya ke arah Yue Yan. "Sekarang merangkak ke depan dengan bertumpu pada punggungmu. Tangkap kayu ini dan aku akan menarikmu," ucap Yi Hua.


Dengan seperti ini, beban tubuh Yue Yan tak akan bertumpu di kakinya. Semuanya menyebar karena Yue Yan berbaring di atas pasir. Sisanya hanya meminta Yue Yan untuk merangkak lebih dekat dengannya. Dan, Yi Hua akan menariknya.


Secara rinci itulah yang bisa dilakukan.


Dan, Yue Yan tak banyak melawan. Pria itu mendadak merentangkan tangannya. Dengan lengan dan tumit kakinya, ia bergerak mundur secara perlahan. Tanpa sadar Yue Yan menahan napasnya karena suaranya begitu memburu.


Xiao yang bertugas untuk memeriksa situasi kembali memiliki pemberitahuan. "HuaHua, badai pasir semakin mendekat. Cepat pergi dari sini."


Yi Hua merasa keringat menetes di hidungnya karena gugup. Ia masih memasang kayu ke arah Yue Yan. Menunggu Yue Yan lebih dekat dan bisa menarik kayunya. Tak hanya Yi Hua, ada ular-ular milik Yue Yan yang berjejer di sekitar lingkaran pasir hisap. Menunggu Tuannya bisa keluar.


Siapa sangka hewan berbisa ini begitu setia.


HAP!


Setelah, Yue Yan berhasil menangkap kayu yang disodorkan oleh Yi Hua. Dengan sekuat tenaga Yi Hua menarik Yue Yan yang lebih besar darinya. Meski begitu, tenaga Yi Hua juga tak main-main.


"EGHHHH!"


Dengan sekali tarikan, Yi Hua berhasil membawa Yue Yan ke pinggir. Ia membantu Yue Yan berdiri. Nampak kepulan debu yang tinggi di belakangnya. Itu adalah badai pasir yang panas. Jika masuk ke dalamnya, maka Yi Hua akan tenggelam dalam siraman debu berkerikil. Siapa yang tahu jika ada batu besar yang ikut dalam badai itu.


"Ayo pergi!" ucap Yi Hua yang bahkan belum sempat menarik napasnya lega. Ia harus membawa Yue Yan berlari menjauh dari badai debu


Yi Hua merangkul Yue Yan untuk berlari bersamanya. Para ular sudah mengikuti mereka dengan cepat juga.


Yue Yan melirik pada wajah Yi Hua yang terlihat di balik kain penutup wajahnya. Wajah Yi Hua yang putih kini berubah lusuh. Bahkan Yi Hua bisa merasakan debu di dalam mulutnya. Yah, Yi Hua juga terkadang mengigit debu yang ada di dalam mulutnya saat bicara.


"Terima kasih," ucap Yue Yan, yang normal mendadak.


Dikira Yue Yan ini tak akan bicara dengan baik, dan hanya berteriak seperti sapi terjepit.


"Jangan bilang terima kasih, bodoh. Pikirkan ke mana kita bisa berjalan. Kita sedang tersesat sekarang," ucap Yi Hua yang tersengal-sengal.


Percayalah ... Yi Hua merasa seperti kekeringan sekarang. Mulutnya penuh debu dan sangat haus. Akan tetapi, jangankan minum atau istirahat, menarik napas saja Yi Hua merasa seperti membuang waktu. Mereka masih dikejar oleh badai pasir.


Yue Yan memerintahkan para ularnya untuk memimpin jalan.


Xiao berseru di telinga Yi Hua. Namun suara Xiao terdengar sangat jauh. "HuaHua, tarikan napasmu tidak normal. Apa kau sesak napas?"


Aku akan lebih sesak napas jika berbicara denganmu, Xiao! Apa kau tahu berapa banyak debu yang masuk ke mulut dan hidungku?!


SRET!


"Yi Hua!"


Yue Yan segera menangkap tubuh Yi Hua yang terkulai lemah. Akan tetapi, karena Yue Yan juga lemah dan terlalu banyak menghirup debu. Ia tak bisa memapah Yi Hua, dan akhirnya terjatuh ke permukaan pasir bersamaan dengan Yi Hua.


Kan sudah aku bilang. Berbuat baik memang seringkali menyusahkan.


Sebelum Yi Hua kehilangan kesadaran ia melihat Huan Ran yang menerobos di antara debu. Sepertinya Huan Ran menyadari mereka terpisah. Mungkin mereka sudah menemukan tempat yang aman. Dan, Huan Ran menjemput mereka.


Itulah mengapa Huan Ran datang sendirian.


Yah, setidaknya Huan Ran juga cukup perduli pada mereka berdua.


BRUK!


"Peramal Yi, jangan mati dulu. Kau lupa jika kau belum membayar hutangmu di Jenderal Wei," ucap Huan Ran tanpa belas kasih sedikit pun.


Ya ampun.


Tidak boleh mati saat belum melunasi hutang!


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2