Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Jebakan Bao Jiazhen


__ADS_3

Akan tetapi, semuanya tak berjalan seperti yang diharapkan.


Eh?


Yi Hua menatap ke sekelilingnya yang merupakan tempat yang berbeda dari sebelumnya. Mereka kini tak lagi berada di Kerajaan Bawah. Apa itu berarti mereka berhasil berpindah tempat?


Ia menatap Lingkaran Mawar, atau yah ... Itu hanya sarung pedang yang disusun, walau tak menyatu seperti semula. Garis segel perpindahan yang mereka buat masih tergambar di tanah tempat mereka mendarat.


Yang aneh adalah ... Mengapa sarung pedang Li Wei ini bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan?


"Yi Hua, ada yang aneh," ucap Hua Yifeng yang jelas lebih peka dibanding semua orang di sini.


Pria itu berada di belakang Yi Hua. Tangannya memegang bahu Yi Hua, entah untuk tujuan apa.


Mereka berpindah tempat dengan delapan orang di dalam lingkaran segel. Yaitu, Yi Hua, Hua Yifeng, dan Yue Yan yang berada di jarak berdekatan. Kemudian, Ling Xiao, Wei Wuxie (yang entah kenapa ikut juga), Huan Ran, Raja Li Shen, dan Selir Qian yang berada di depan mereka. Tentu saja yang lainnya mendengar ucapan Hua Yifeng tentang ke-aneh-an tempat ini.


"Apa kalian mendengar sesuatu?" tanya Yue Yan pada Yi Hua, dan berusaha untuk tidak melihat mata Hua Yifeng.


Semenjak Yue Yan tahu bahwa orang ini adalah Iblis Kehancuran, Yue Yan tak mau menatap matanya. Ia takut dikutuk atau dibinasakan oleh Hua Yifeng.


Yi Hua melirik Yue Yan, "Mungkin itu suara napasmu."


Apa Yi Hua sedang bercanda? Dia sedang bicara serius sekarang!


Dari celah kerah Yue Yan keluar seekor ular putih kecil sebesar jari telunjuk. Ular itu mendekat ke telinga Yue Yan. Nah ... Sekarang Yue Yan sedang mendengarkan anaknya ini bercerita.


"Ada aura iblis. Kata ular milikku," ucap Yue Yan agak keras, sehingga yang lain bisa mendengarnya.


Namun Yi Hua menjawab cepat, "Tuan Iblis Kehancuran ada di sini."


Ini Yue Yan lupa ingatan atau apa.


Akan tetapi, mendengar ucapan Yi Hua, mata Raja Li Shen sedikit tajam. Ia tahu bahwa Hua Yifeng ada di dekat mereka, tetapi Raja Li Shen masih tak suka jika namanya disebut.


"Bukan ... Ada aroma air di sini," ucap Yue Yan lagi.


Aroma air?


Sial! Bukan Hua Yifeng, tapi Bao Jiazhen!


TUK!


"Kita di wilayah Bao Jiazhen. Bisa jadi ini jebakan!" ucap Ling Xiao mengingatkan.


Mereka berada di sekitar laut, dan itu adalah wilayah kekuasaan Bao Jiazhen.


"Apakah wilayah Bao Jiazhen seperti ini?" tanya Yue Yan pada Yi Hua.


Sebenarnya dia bertanya pada Hua Yifeng. Namun berhubung dia takut, sehingga ia tanya pada Yi Hua. Ia yakin Yi Hua akan bertanya pada Hua Yifeng, dan mereka akan tahu jawabannya.


"Bukan." Bukan Hua Yifeng yang menjawab, tetapi Selir Qian.


Wanita itu menggenggam tangannya dengan pandangan tajam. "Ini wilayah Kerajaan Xin."


Kerajaan Xin.


Kerajaan yang membawa perang untuk Kerajaan Li. Di mana Xin Wantang datang untuk menjajah di saat Kerajaan Li kesulitan karena bencana dan wabah. Tentu saja Yi Hua masih mengingatnya. Ia mengingat bagaimana buruknya Kerajaan Xin terhadap Kerajaan Li.


Dan sekarang ...


Yi Hua bisa datang di tempat para bajing*an itu. Dan menyaksikan bahwa Kerajaan Xin memang hancur seperti yang diceritakan.


Katanya, saat Raja Xin Wantang gugur dan Liu Shang tewas, Kerajaan Xin dipastikan hancur. Para pejabat yang terbiasa menerima bersih tak mampu bekerja. Tidak ada kandidat Raja yang bisa menggantikan. Kemudian, kekeringan melanda Kerajaan Xin.


Kelaparan berkepanjangan dan penduduk Kerajaan Xin lebih memilih meninggalkan wilayah. Yang meninggalkan wilayah pun hanyalah orang-orang yang kaya. Selebihnya yang lain menunggu kematian di wilayah yang kekeringan. Tidak ada air, tanaman padi tidak bisa tumbuh, dan tanaman kurang nutrisi hingga tak bisa berkembang.


Banyak yang mengatakan jika Dewa menghukum Kerajaan Xin akibat perlakuannya pada Kerajaan Li.


Namun alasan sebenarnya tak pernah ada yang tahu. Bagaimana bisa wilayah mereka, yang terkenal dengan Kerajaan yang di kelilingi lautan bisa kekurangan air? Banyak yang mengatakan jika Bao Jiazhen yang mengutuk Kerajaan Xin, tetapi alasan mengapa Bao Jiazhen ini mengutuk, tak ada yang tahu.


Mungkin Bao Jiazhen sedang kurang kerjaan. Maklum mungkin iblis seperti itu.


Yang jelas Kerajaan Xin yang sekarang terlihat seperti hamparan hutan yang tak terurus. Dan terlihat setelah beberapa tahun berlalu sebenarnya kekeringan tak lagi ada di Kerajaan Xin. Sehingga wilayah itu kini menjadi hutan belantara. Siapapun jelas tak akan tinggal di sana, dan 'memulai' kembali kerajaan yang sudah mati ini.


Dari semua pemandangan ini, terlihat tak ada yang tahu bahwa di tempat ini pernah ada pemukiman penduduk. Apalagi sebuah kerajaan besar yang namanya sempat tersohor dalam sejarah. Sehingga tak ada yang mungkin mengenali tempat ini sebagai "Kerajaan Xin".


Pertanyaannya adalah bagaimana Selir Qian bisa tahu jika ini adalah wilayah Kerajaan Xin?


"Mengapa kita pergi ke wilayah Kerajaan Xin? Apa itu berarti Perdana Menteri Liu ada di sini?" tanya Yi Hua yang tak mengerti.


Ia mengira mereka akan berada di sekitar wilayah laut selatan, yang letaknya di selatan dari Kerajaan Xin. Itu semua karena mereka menggunakan darah Liu Xingsheng untuk melacak keberadaannya. Walau Yi Hua masih tak mengerti mengapa Selir Qian 'menyimpan' darah adiknya. Akan tetapi, mereka menggunakan darah Liu Xingsheng untuk menentukan lokasi mereka berpindah.


Seharusnya mereka akan langsung berada di hadapan Liu Xingsheng, jika memang segel ini berhasil.


Jika seperti itu, apa berarti segel perpindahan salah?


Ling Xiao menggeleng, "Liu Xingsheng tak ada di tempat ini," ujar Ling Xiao setelah kertas jimatnya tak kunjung kembali.


Ling Xiao menerbangkan kertas jimat untuk memastikan jika kertas itu menuju ke arah Liu Xingsheng. Nyatanya kertas itu tak terlihat lagi. Kertas itu menuju ke arah Liu Xingsheng, dan itu pasti jauh jaraknya. Dan, benar ... Itu memang ke arah selatan.


Yi Hua memperhatikan segel perpindahan. "Segelnya salah," ucap Yi Hua.


Apa? Bagaimana bisa salah?


Itu adalah fatal.


Jika sampai segel salah dan mereka sedang sial, mungkin mereka tak akan sampai hidup-hidup. Mereka akan hancur di dalam sihir, karena masalah ruang dan waktu.


Tapi mereka sampai di sini, dan itu berarti ... Seseorang mengubah lokasi perpindahan! Ada seseorang yang sengaja mengarahkan mereka di sini.


SRET!


Selir Qian mengarahkan jarum tipisnya tepat di depan bola mata Yi Hua. Maju sedikit saja, maka Yi Hua akan buta. Yi Hua tak tahu kapan Selir Qian mendekatinya, tetapi Yi Hua tahu Selir Qian tak segan-segan untuk membunuhnya.


"Katakan apa yang kau tahu, Yi Hua? Wajahmu menunjukkan bahwa kau memikirkan sesuatu," ancam Selir Qian yang jelas-jelas tak mempercayai orang-orang di sini secara keseluruhan.


Hua Yifeng tampak mengeram marah. Tangannya siap untuk menarik pedang dan menyerang Selir Qian, tetapi Yi Hua menggelengkan kepalanya.


"Menurut saya ... Ada yang mengubah segelnya, sehingga kita sampai di sini," ucap Yi Hua yang menelan ludahnya gugup. Matanya terasa sakit karena Yi Hua takut berkedip.


Kalau aku berkedip, apa ujung jarum ini akan mengenai kelopak mataku? Kalau aku buta, kan rasanya tidak elit sama sekali jika panggilanku menjadi Peramal Buta dari Kandang Sapi?


Raja Li Shen menatap ke sekeliling mereka, dan berhenti pada Hua Yifeng. "Seharusnya Iblis Kehancuran seperti Anda tak memiliki kepentingan untuk ikut," ucap Raja Li Shen yang tentu saja langsung curiga pada Hua Yifeng.


Yue Yan yang tak mengerti memilih diam. Jangan segel seperti ini, tulisan di kertas jimat saja Yue Yan tak mampu menirunya. Jelas Yue Yan bukan orang yang menyusup dan mengubah segel.


Ling Xiao memberikan penghormatan kepada Raja Li Shen. "Yang Mulia, mohon ampun jika hamba menyela. Akan tetapi, untuk segel seperti ini sifatnya suci dan iblis tak bisa mengubahnya. Kita memerlukan Hua Yifeng untuk menyeimbangkan energi perpindahan. Lagipula, di sini yang menggambar segel ada tiga orang."


Ling Xiao, Yi Hua, dan Huan Ran.


SRET!


"Yi Hua, aku benar-benar mencium aroma air laut di sini," ujar Yue Yan yang masih berisik pada Yi Hua yang belum berkedip sedikit pun.


Bahkan Yi Hua menitiskan air matanya karena perih. Dan sekarang Yue Yan masih membicarakan soal bau air laut. Bisa serius atau tidak? Ini wilayah dataran rendah, sehingga jika aroma laut pun anj*ng tak akan bisa menciumnya dari sini.


Bisa lihat kondisi, tidak? Aku sekarang sudah menyusun strategi hidup di masa depan jikalau aku buta hari ini!


Mereka perlu pergi sekitar seribu langkah, baru mereka akan menemukan lautan. Itu pun jika memang perhitungan Yi Hua tak salah.


Huan Ran menghela napasnya. "Aku hanya menulis sesuai yang diberitahukan oleh Peramal Ling Xiao. Mustahil aku mengubahnya, karena Peramal Ling Xiao mengawasi," ucap Huan Ran yang malas dicurigai.


Ia sangat mengkhawatirkan Liu Xingsheng sekarang, dan masalah baru muncul lagi.


Jika Huan Ran berani melanggar perintah Raja Li Shen, maka dia akan memilih menyeret Yi Hua dan Yue Yan untuk mencari sendiri. Berhubung Huan Ran dan Selir Qian sedang berkelahi sekarang. Sehingga Huan Ran enggan untuk berbicara dengan Selir Qian.


Tapi itu menjadi bumerang untuk Yi Hua. Sekarang hanya tersisa Ling Xiao dan Yi Hua yang dicurigai.


Hua Yifeng yang tak tahan lagi, segera menarik Yi Hua untuk menjauh. Hal tersebut membuat Raja Li Shen mengarahkan pedangnya pada Yi Hua dan Hua Yifeng. Dan ...


TRANG!!


Pedang Raja Li Shen beradu dengan pedang dari Wei Wuxie. Bagaimana pun pria ini berdiri tegak untuk menahan pedang. "Mohon Yang Mulia Raja Li menahan diri. Semuanya belum jelas."


Li Shen tak pernah berubah. Dia selalu mengambil keputusan dengan amarah di atas logikanya. Sesuatu yang cukup menyayangkan, tetapi dendam adalah sesuatu yang sulit dihadapi.


"Seekor anji*ng pasti patuh dengan Tuannya," ucap Raja Li Shen dengan tatapan tajam.


Sebenarnya yang dilindungi Wei Wuxie bukanlah Hua Yifeng. Akan tetapi, Wei Wuxie adalah 'orang mati', sehingga ia digelari Jenderal Hantu. Ia harus tetap mati di pandangan orang lain.


"Beribu ampun Yang Mulia, saya pastikan Peramal Yi Hua tak akan berkhianat. Dia bukanlah penyusup atau orang suruhan Tengkorak Putih, Bao Jiazhen," jelas Wei Wuxie dengan masih hormat. Karena ia terbiasa tumbuh dengan menghormati keluarga Kerajaan.


Yue Yan berseru seenaknya. "Berarti Peramal Tampan yang suka tersenyum ini ..."


Wei Wuxie melirik Yue Yan tajam. "Peramal Ling juga tak mungkin berkhianat," jelas Wei Wuxie yakin.


"Aku kan hanya menebak," ujar Yue Yan takut-takut.


Huan Ran menatap tajam pada Selir Qian, "Mungkin Selir Qian perlu menceritakan apa yang terjadi agar kita tahu siapa musuh yang kita hadapi."


Benar.


Mereka seperti melawan arwah sapi!

__ADS_1


Sejak awal mereka tak banyak tahu apa yang terjadi pada Liu Xingsheng. Mengapa dia dicari oleh Tengkorak Putih? Mengapa Liu Xingsheng kini seperti mayat hidup? Atau, bagaimana bisa menghilang sekarang. Mereka seperti hanya tahu garis besar, tetapi tak tahu garis awal.


Selir Qian mendengus sebal. "Bukankah kau sudah tahu, Huan Ran? Liu Xingsheng itu sejak kecil sakit-sakitan, dan ayah sialan kami hanya perduli pada Kerajaan Xin sialan ini!"


Sebentar ...


Jadi Liu Xingsheng dan Selir Qian memang berasal dari Kerajaan Xin?


Yi Hua tak melihat Raja Li Shen terkejut, dan itu berarti Raja Li Shen sudah tahu. Dan dia menjadikan penduduk Kerajaan Xin sebagai Selir. Itu sama seperti menyimpan duri di dalam daging. Bagaimana jika ada cerita balas dendam di dalamnya? Belum lagi jika para pejabat tua di Pengadilan Tinggi juga tahu. Mereka kan sangat menyukai kesalahan Raja seperti ini, agar bisa dikritik tanpa ingat jika mereka tak berfungsi apa-apa di kerajaan.


Yi Hua mendadak ingat sesuatu, "Perdana Menteri Liu memiliki garis kematian di telapak tangannya."


Yi Hua pernah meramal Liu Xingsheng, dan melihat ada garis kematian di telapak tangannya. Yi Hua masih ingat itu! Tepatnya kejadian itu adalah sebelum adanya serangan mayat hidup di Pusat Kota.


^^^*Jika lupa yahh mungkin bisa dibaca lagi. Soalnya ada di chapter yang jauuuhhhhhhh sekali.^^^


"Apa artinya?" tanya Yue Yan yang selalu aktif bertanya.


Anak pintar! Saking pintarnya Yi Hua ingin menitipkan Yue Yan di kandang sapi!


"Garis kematian. Dalam ramalan, garis kematian menandakan seseorang memiliki usia yang pendek," ujar Ling Xiao yang selalu tenang seperti air.


Heh???


"Pantas saja dia sering mengalami situasi yang membuatnya hampir mati," ujar Yue Yan yang ucapannya selalu menyebalkan.


Baik, anak-anak! Bedakan antara bersikap aktif dengan bersikap bajing*an. Lihatlah contoh ini.


Huan Ran siap menggelindingkan Yue Yan ke jurang jika pria itu masih berbicara. Sehingga Yue Yan menutup mulutnya dengan rapat. Sembari mengajak anak-anak ularnya untuk berkomunikasi, supaya anaknya itu tak tumbuh menjadi introvert seperti Yi Hua.


Selir Qian membuang wajahnya. "Dia memang sangat lemah selagi kecil. Sehingga aku datang ke Kerajaan Li untuk mencari obat."


Di sanalah Selir Qian bertemu dengan Raja Li Sheng. Dan beralih menjadi tabib untuk mengobati penyakit batu yang menjadi wabah besar di Kerajaan Li. Akan tetapi, cerita ini seperti sangat melompat dari cerita sebenarnya.


Bagaimana Liu Xingsheng yang katanya sakit bisa ditinggal sendirian? Lalu, bagaimana bisa Liu Xingsheng bisa sembuh dan bisa melompat-lompat seperti anak sapi yang terkejut? Intinya, bagaimana Liu Xingsheng menjadi sehat seperti yang Yi Hua lihat di sepanjang harinya?


"Lalu, bagaimana bisa kalian diincar oleh Bao Jiazhen?" tanya Huan Ran langsung tepat pada sasarannya.


Raja Li Shen menunjuk Huan Ran marah. "Jaga bicaramu Perdana Menteri Huan!"


Jika setelah ini mereka kembali ke Kerajaan Li, Huan Ran pasti sudah ditendang oleh Kerajaan.


"Salah satu kandungan dari obat untuk Liu Xingsheng ialah dengan darah Klan Bao. Sama seperti obat untuk menyembuhkan Penyakit Batu," ujar Selir Qian yang seperti membuka luka lama.


Lagi-lagi Klan misterius itu yang dimanfaatkan. Klan Bao yang mungkin sudah tak ada lagi di dunia ini. Darah mereka istimewa, sehingga mereka dianugerahi kekuatan dari Pohon Iblis. Darah mereka ditakuti hewan buas maupun serangga. Mungkin aroma darah mereka yang hanya bisa dicium oleh para binatang. Mereka akan pandai bertarung, tubuh yang kuat, dan tak mudah sakit.


Namun usia mereka sangat singkat karena beberapa faktor. Pertama, karena terlalu besarnya kekuatan di dalam darahnya, sehingga tubuh manusia-nya tak bisa menahan kekuatan Pohon Iblis terus-menerus. Mereka kebanyakan mati di usia yang muda. Sehingga tak aneh jika angka kelahiran Klan Bao sangat rendah.


Bahkan Bao Tian, Putri Zhang Yuwen bukanlah klan Bao murni. Ibunya kemungkinan setengah dari klan Bao, dan ayahnya adalah Zhang Yuwen, yang jelas-jelas bukan dari Klan Bao.


Gadis kecil itu dikorbankan penduduk Kerajaan Li dengan sangat kejam. Sehingga mereka menggantung Bao Tian di alun-alun dan mandi dari darah gadis kecil itu. Membuat Zhang Yuwen menjadi iblis untuk membalas dendam dari kematian putri kecilnya.


Namun Bao Tian bukanlah Klan Bao murni. Darahnya hampir seperti manusia biasa, sehingga tak berfungsi banyak.


Yi Hua merasa sakit di hatinya saat mengingat bagaimana Zhang Yuwen yang menggila ketika melihat anaknya digantung mati hingga kehabisan darah. Itu adalah masa lalu yang menyakitkan. Meski darah Bao Tian tak bisa mengobati Penyakit Batu, tetapi gadis itu sudah mati karena keegoisan para penduduk Kerajaan Li.


Klan Bao yang kedua ialah ... Hua Yifeng. Entah siapa nama Hua Yifeng sebelumnya, tetapi pria itu adalah seorang yang bisa mengendalikan Pohon Iblis. Mungkin Hua Yifeng adalah keturunan asli dari Klan Bao.


Yi Hua melirik pada Hua Yifeng dengan sedikit pilu. Sebelum menjadi anak angkat Ling Xiao, mungkin Hua Yifeng pernah dimanfaatkan seperti Bao Tian. Karena keistimewaan darahnya itu, Hua Yifeng memiliki masa lalu yang cukup menyedihkan. Walau semua tentang masa kecil pria Hua ini masih menjadi misteri.


Sekarang kembali pada Bao Jiazhen.


Yi Hua pikir hanya nama saja, tetapi Bao Jiazhen memanglah seorang Bao.


"Jika memang tindakanku salah, maka semua orang yang aku sembuhkan di Kerajaan Li juga penyebabnya. Mereka bisa sembuh karena aku membuat obat dari darah Klan Bao!" ucap Selir Qian dengan pandangan tajamnya.


Raja Li Shen menatap Selir Qian tak kalah tajamnya. "Kau mengatakan jika obat itu dari bahan alami. Qian, ini bukanlah saat yang tepat untuk bercanda!"


Tawa Selir Qian menggelegar. "Bercanda?! Hamba mencari semua obat yang bisa hamba gunakan. Hamba rela meminum banyak racun hanya untuk tahu apakah mereka bisa menjadi obat. Hamba merelakan semua itu untuk mencari 'obat' sialan yang bisa membuat orang-orang itu sembuh."


Lalu, tak lama Selir Qian menangis pilu. Tangisannya seperti orang yang menahan kesesakan di dadanya. Seperti mengeluarkan semua kepiluan di hatinya.


"Hamba juga berharap jika semuanya bercanda," ujar Selir Qian dengan air mata di pipinya.


Terkadang Selir Qian juga takut pada dirinya sendiri.


Semua orang berterima kasih padanya karena mengobati manusia lainnya. Namun ia mengobati manusia dengan menggunakan manusia sebagai obatnya. Selir Qian tahu itulah mengapa Liu Xingsheng merasa takut pada dirinya sendiri.


Karena ... Selir Qian merasa dia telah berhenti menjadi manusia.


Maksudnya, hatinya.


GRAKKK!!


Baru saja Raja Li Shen ingin berkata lagi, tanah di sekitar mereka bergetar. Yi Hua nyaris kehilangan keseimbangannya, sehingga ia berpegangan pada Hua Yifeng. Sedangkan Yue Yan sudah menempel pada kaki Huan Ran. Takut jika ia tak kuat menahan getaran di tanah ini. Atau, mungkin ia takut pada sesuatu yang akan datang.


GRAK!!!!


Tanah di sekitar mereka berpisah seperti membentuk tebing yang agak dalam. Dari sana muncul air hitam yang memang berbau anyir. Seperti ada ikan mati di sana, atau ...


Sial!


"Hantu air! Jangan ada yang menatap matanya," teriak Wei Wuxie yang segera memastikan tak ada orang yang terjatuh di dalam air hitam itu.


Ingatlah jika menatap mata hantu air, kau bisa tak sadarkan diri dan dikendalikan oleh hantu air. Jika mereka ingin kau menusuk pedang di mulutmu, maka kau akan benar-benar melakukannya.


Yi Hua pernah melawan Hantu Air di dalam Rumah Makam Keluarga Wei.


Mereka memang sengaja dibawa Bao Jiazhen kemari. Dan, busuknya lagi ... Bao Jiazhen bisa memerintah Hantu air!


Yah, dia memang penguasa air juga.


"Qian!" Suara Raja Li Shen terdengar ketika ia menyadari jika Selir Qian tak ada di sana.


Selir Qian menghilang!


Situasi buruk apalagi ini.


***


...Xiao System: Peramal Ling Xiao (Xiao System Side Story)...


Dan di sinilah Ling Xiao kali ini.


Ia tengah memimpin pasukan untuk mengawal Putri Kerajaan Li. Padahal Ling Xiao jujur saja sangat jarang memegang pedang. Akan tetapi, entah mengapa Raja Li memerintahkannya untuk memimpin pasukan ini.


Ling Xiao menengok ke belakang. Tepatnya pada tandu si Putri Kecil itu. Sejak tadi Si Putri ini sangat baik tingkahnya. Ia tak bicara atau memunculkan kepalanya dari balik tandu.


Bahkan saat tandu diserahkan ke pasukan yang ia bawa, Ling Xiao tak pernah melihat wajah Si Putri Kecil ini. Dan yah .. Siapa namanya ...? Seingat Ling Xiao gadis itu dinamai dengan nama bunga. Entahlah, Ling Xiao lupa.


GREP!


Huh?


"Aku lupa jika sedang membawa sapi kecil di sini," ucap Ling Xiao malas saat merasakan pelukan kecil di perutnya.


Lalu, Ling Xiao merasa jika anak kecil ini miring dan hampir jatuh dari kuda yang Ling Xiao tunggangi. Dan itu membuat Ling Xiao harus mengulurkan tangannya untuk menangkap anak kecil nakal ini.


Yah, Wei Wuxie!


Anak ini.


Baru sehari mengenalnya, Ling Xiao langsung merasa ingin memelihara sapi dibanding memelihara anak penuh penasaran seperti Wei Wuxie.


"Saya akan pergi jika Peramal Ling memberitahuku bagaimana cara Anda mengobati lukaku," ujar anak itu keras kepala.


Saat itu Wei Wuxie sudah tahu siapa Ling Xiao, sehingga anak kecil ini kembali merusuh ke tempat kerja Ling Xiao. Dia meminta diajari, dan berteriak keras bahwa Ling Xiao berhasil mengobatinya seperti gelas pecah yang berhasil diperbaiki. Hal tersebut membuat Ling Xiao membekap mulut Wei Wuxie dan menyeretnya keluar dari ruangan para Peramal.


Lalu, pagi tadi Wei Wuxie datang lagi di depan kediamannya (Ini Ling Xiao tak tahu bagaimana Wei Wuxie tahu tempat tinggalnya). Anak ini kembali merusuh, dan akhirnya tahu jika Ling Xiao akan pergi untuk menjemput Tuan Putri Li. Sehingga anak kecil ini mendadak ingin ikut, dan pastinya sulit ditolak.


Bahkan anak ini mengancam akan membeberkan di Pusat Kota jika Ling Xiao bisa menyembuhkan luka dengan satu kali kedipan mata. Itu akan membuat Ling Xiao semakin repot jika orang lain tahu kekuatannya. Sehingga Ling Xiao terpaksa menyelipkan Wei Wuxie dalam pasukan.


Tentu saja tanpa Jenderal Wei. (Ingat! Ini ayahnya Wei Wuxie dan Wei Qionglin. Tapi namanya tidak disebutkan). Jika ayah anak nakal ini tahu, mungkin Pengadilan Tinggi akan heboh karena Ling Xiao mungkin dikira akan menjual anaknya di Pelelangan Manusia.


Setelah semua itu ... Anak kecil Wei Wuxie ini malah tertidur di kudanya?


Yang mengemudi kuda ini adalah Ling Xiao, mengapa yang lelah malah anak ini?


Kalau aku buang di hutan pasti tak ada yang tahu!


Tapi Ling Xiao tak jadi melakukannya karena malas menjadi tokoh antagonis.


STAK!


"Wei Wuxie!" teriak Ling Xiao sambil menyentil dahi Wei Wuxie kesal.


Namun Wei Wuxie dengan santainya mengusap matanya.


Heh? Kau pikir dirimu lucu begitu? Ling Xiao tak habis pikir saat dirinya cukup cerewet saat Wei Wuxie muncul di hidupnya sekarang.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Wei Wuxie sambil merenggangkan pinggang.


Ling Xiao pasti akan menggelindingkan anak ini ke hutan belantara. Supaya dia hilang dan tak ada yang mengenal anak ini lagi. Tapi sialnya Ling Xiao terlalu baik untuk melakukan kejahatan itu.

__ADS_1


"Jika anak kecil sepertimu berani lebih lancang lagi, kau harusnya tidur di tandu Tuan Putri Li," cetus Ling Xiao cemberut.


Kali ini ia kembali menjalankan kudanya lagi saat ia merasa Wei Wuxie tak lagi tertidur. Mereka harus segera sampai ke Pusat Kota sebelum malam tiba. Malam bukanlah saat yang baik untuk berkendara, apalagi untuk Putri Li.


SRAK!!


Ada suara langkah yang pelan-pelan mendekat. Di sana Ling Xiao menajamkan pendengarannya. Ia yakin hanya dirinya saja yang mendengar. Karena Wei Wuxie nakal ini masih mengoceh seperti anak burung kurang diberi makan.


Dan, setelah itu ...


Bayangan hitam melesat di pasukan paling belakang. Hal tersebut membuat pasukan agak berberai dan tandu Putri agak goyang. Ling Xiao dengan cepat memutar kemudi kudanya. Sehingga berbalik cepat.


Ada penyusup di antara pasukan! Itu lebih berbahaya lagi jika itu adalah musuh atau bandit yang sengaja ingin mengambil harta mereka.


Masalahnya adalah mereka pasti tak akan meninggalkan pasukan jika tak membunuh pasukan Ling Xiao satu-persatu.


"Wei Wuxie, kau bisa mengemudikan kuda?" tanya Ling Xiao cepat.


Wei Wuxie menyahut cepat. "Bisa, Peramal Ling!"


"Lalu, bersiaplah. Kita ganti pengemudi!" perintah Ling Xiao.


Ling Xiao menarik tali kudanya agak kencang, dan kuda melaju cepat. Setelah itu Ling Xiao memutar posisinya, dan melompat ke belakang Wei Wuxie. Dengan sigap anak kecil itu menangkap tali kemudi kuda.


Wei Wuxie sempat tertarik ke depan karena kuda itu cukup kuat. Ini bukan salah Wei Wuxie. Dia memang kuat, tetapi tubuhnya kecil sesuai usianya. Sehingga tangan sebelah Ling Xiao menekan bahu Wei Wuxie agar tak tertarik oleh kuda. Sangat bahaya jika Wei Wuxie terpelanting ke depan. Dia bisa terinjak kaki kuda yang melintas.


Dan, sebelah tangan Ling Xiao menarik sebuah kertas jimat.


"Ikat!" perintah Ling Xiao pada kertas jimatnya.


Ia melayangkan kertas jimatnya kepada sosok yang menyerang pasukannya. Sosok itu sangat cepat dan brutal. Akibatnya, setengah pasukan Ling Xiao mati dengan mengenaskan. Tubuh mereka memiliki cakaran panjang dan kebanyakan ditebas di bagian leher. Tapi tebasan itu tidak rapi, seperti menggunakan ujung kayu yang tajam.


Ini bukan penyerang dengan pedang.


SRET!


BUGH!


Kertas jimat Ling Xiao tampak melayang di udara. Sepertinya sosok itu memang diikat, tetapi dia bisa melepaskan ikatan jimat dari Ling Xiao. Ia mulai tak bisa menebak siapa yang menjadi lawannya sekarang.


"Wei Wuxie, menunduk!" Ling Xiao berteriak.


BRUK!


Ling Xiao yang lebih tinggi dari Wei Wuxie jelas tak bisa menunduk lagi saat serangan tepat di dadanya. Sehingga Ling Xiao terjatuh dari kudanya. Ling Xiao bergulung sambil melindungi kepalanya. Dan Wei Wuxie yang masih menjalankan kudanya dengan setengah menunduk.


Memang seperti yang diharapkan dari bocah Wei ini. Dia berbakat.


"Peramal Ling!" teriak Wei Wuxie yang ingin mendekati Ling Xiao yang memegang perutnya sambil duduk di tanah.


Ling Xiao dipukul keras oleh kayu! Itu jebakan kayu yang digantung dengan tali. Saat seseorang melintas, tali akan di potong di bagian ujung dan tali yang tersisa akan berayun. Kemudian, memukul pada targetnya dengan keras. Seperti jebakan untuk menangkap beruang!


Penyerang ini bukan dengan pedang atau tombak. Dia menggunakan kayu, bambu, dan batu. Menggunakan sistem jebakan seperti pemburu! Beruang mungkin akan pingsan karena pukulan kayu itu, makanya Ling Xiao juga nyaris kehilangan kesadarannya.


Namun Wei Wuxie dalam bahaya jika berada di wilayah ini! Di sekitar Ling Xiao banyak mayat berserakan. Sebagian karena jebakan, sebagian karena tusukan di lehernya.


"Jangan mendekat! Lindungi Tuan Putri," perintah Ling Xiao pada Wei Wuxie.


Para pasukan memang sebagian melindungi Tuan Putri, tetapi ... Wei Wuxie tak boleh ada di sini. Musuh i i berbahaya. Serangannya seperti binatang buas, tetapi berakal dan membahayakan.


"Tapi ..."


Ling Xiao berteriak lagi, "Lindungi Tuan Putri! Itu tujuanmu, bukan?" teriak Ling Xiao.


Hal tersebut membuat Wei Wuxie menarik tali kudanya. Walau ia merasa tak bisa meninggalkan Ling Xiao sendirian. Mereka tak tahu musuh mereka. Dan menuju pada tandu Putri Li yang dilindungi oleh sekitar sepuluh orang prajurit.


SRAT!


Sial! Wei Wuxie!


Ling Xiao melihat sebuah anak sumpit yang terbuat dari kayu tipis melintas ke arah Wei Wuxie. Akan tetapi, jarak antara Wei Wuxie dengan Ling Xiao begitu jauh. Sehingga Ling Xiao ...


Tidak!


Aku tidak melihat jika takdir anak ini memiliki usia pendek. Wei Wuxie terlihat seperti orang yang akan hidup sampai di hari tua-nya!


"Wei Wuxie!" teriak Ling Xiao kalap. Matanya ketakutan, karena baru kali ini ia takut akan takdir yang ia baca.


Biasanya semuanya sesuai perhitungan dari Ling Xiao. Ia bisa tahu masa depan dengan perhitungannya. Namun serangan ini tak bisa diperhitungkan, sehingga Ling Xiao tak tahu siapa yang bisa menyerang dengan sehebat ini.


Jika ini seorang dari sebuah Kerajaan, mungkin Kerajaannya akan kuat pertahanannya.


STAP!


Sebuah anak panah melintas kencang dari arah lain. Anak panah itu menusuk tepat di tengah anak sumpit itu. Membelah sumpit itu hingga tak menusuk ke tubuh Wei Wuxie. Serpihannya mengenai lengan Wei Wuxie yang melindungi matanya sendiri.


Siapa?


Namun ...


BRUK!


Kala itu Ling Xiao melihat seseorang yang muncul di antara sapuan bunga. Entah bagaimana angin tiba-tiba berhembus. Menampilkan sosok yang baru terjun dari pepohonan. Dia adalah seorang pria yang mungkin seusia Wei Wuxie.



Apakah anak ini yang menyerang mereka? Ling Xiao nyaris tak percaya.


Hembusan angin membuat kelopak bunga dan dedaunan berterbangan di antara anak itu. Ia berdiri di antara tumpukan mayat, dan pakaiannya nyaris berganti warna menjadi merah.


Matanya tampak tenang dan seperti tidak ada perasaan sama sekali. Nyaris seperti patung yang hidup. Entah pria remaja ini tahu jika dia salah atau tidak. Mungkin dia tak pernah mengerti jika dirinya sekarang telah membunuh banyak orang.


Aku melihat takdir 'agung' di dalam dirinya.


Apakah terlalu cepat bagi Ling Xiao untuk melihat ramalan tentang Pewaris Tahta Kerajaan Li berikutnya?


Apalagi pewaris ini ternyata adalah seorang penyerang dan pembunuh setengah dari pasukan yang mengantar Tuan Putri. Jika ini terjadi, maka sebuah takdir aneh dan menyakitkan akan terjadi. Ling Xiao benar-benar tak tahu bagaimana harus menanggapi ini semua.


Ia tak bisa mengatakan bahwa pria remaja ini adalah seseorang dalam ramalan Pewaris Tahta selanjutnya.


^^^*Siapa tahu ada yang lupa. Garis tahta di Kerajaan Li ditentukan dari ramalan yang dititipkan pada seorang Peramal Kerajaan. Dalam hal ini, Ling Xiao sudah melihat calon Raja selanjutnya. Dan dia itu adalah ... Yah, penggemar Hua Yifeng pasti tahu.^^^


Akan tetapi, pandangan anak laki-laki itu terpaku pada tembakan anak panah yang membelah kayu sumpitnya. Datang anak panah itu dari arah tandu, dan seseorang berdiri di atas tandu dengan busur panahnya.


Dia ... Tuan Putri Li yang dibesarkan di sebuah desa kecil yang tak diketahui banyak orang.


Dia bertubuh kecil dan dengan pakaiannya yang berwarna biru. Itu adalah model pakaian laki-laki, tetapi semua orang tahu dia adalah seorang Putri. Matanya cantik, tetapi tajam. Wajahnya menunjukkan bahwa dia baru akan menuju usia remajanya. Penutup kepalanya nyaris mengungkap rambut halusnya yang tertiup angin. Meski begitu, penutup kepalanya tetap utuh di sana.



Ling Xiao sudah ingat nama Tuan Putri ini.


Dia dinamai seperti nama bunga, dan itu adalah bunga mawar.


Yang berdiri dan menghentikan serangan adalah Tuan Putri Li Wei.


Percayalah ... Aku melihat takdir di antara mereka berdua sejak aku pertama kali bertemu mereka. Sebuah bunga tersesat yang dicintai oleh bunga mawar. Hua dan Li Wei.


^^^*Hua artinya mawar, dan Li Wei itu mawar.^^^


Takdir menyakitkan di mulai dari sana.


***


Selamat membaca 😉


Huhh!!! Betapa panjangnya chapter ini.


Mengapa?


Yah, karena aku tidak ingin memecahnya. Jika dipecah, maka pas di chapter depan bakalan bingung. Eh jadi ini posisinya g'mana? Ini Ling Xiao ketemu Li Wei duluan atau Hua Yifeng duluan di masa kecil.


Atau ini kok ada Wei Wuxie juga. Apa berarti Wei Wuxie tahu tentang pertemuan Li Wei dengan Hua? Yapz, dia tahu. Makanya dia pernah bilang di chapter sebelumnya. Dia bilang kalo Hua Yifeng itu mencintai Li Wei dari lama, dan kok bisa melupakan Li Wei hanya karena Yi Hua.


Padahal dia gak tahu aja sih siapa Yi Hua ini.


Nah intinya ... Inilah yang mungkin rahasia kecil di antara Ling Xiao, Wei Wuxie, dan Hua Yifeng. Minus Li Wei, karena ingatan Li Wei sudah dihapus semuanya jika itu ada Hua Yifeng di dalamnya. Jadi, Li Wei tidak ingat tentang ini.


Kenapa ada special chapter yang diambil dari penceritaan Ling Xiao?


Supaya gak mengganggu chapter utama. Karena bagian utama sudah mulai mendekati akhir. Dan, cerita Ling Xiao hanya pelengkap agar kalian tahu tentang apa yang Li Wei lupakan.


Bukan hanya cerita dia Pelatihan Awan dan peperangan di Kerajaan Li. Tapi SEMUA tentang Hua Yifeng, karena itu sumpahnya. Ia berpikir saat ia tahu Li Wei kembali hidup menjadi Yi Hua, maka dia tak perlu tahu jika dirinya pernah menderita dahulu sebagai Li Wei. Walau Hua Yifeng tak tahu jika Yi Hua akhirnya mengingat masa lalunya.


Apalagi ada sistem Xiao yang memastikan Yi Hua untuk mengumpulkan semua ingatan.


Heh? Bukannya Xiao itu setengah dari jiwa Hua Yifeng? Ingat kan tentang ini?


Jadi mengapa Xiao malah berbanding terbalik dengan Hua Yifeng? Jawabannya ada di ujung langit ya guyss 😂


Bagi Hua Yifeng, mengenal dirinya adalah penderita Li Wei. Jadi, lebih baik tidak usah mengenalnya dan memulai cerita baru. Yah, naif. Dikiranya dengan begitu Li Wei tak akan terluka dengan masa lalunya lagi dengan Hua Yifeng. Tanpa ingat bahwa Li Wei lebih menderita jika dia tak tahu tentang Hua Yifeng.


Jadi, jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2