
BRAK
"Ada apa ini?"
Orang ini!
Yi Hua menyeka peluhnya sendiri karena lelah. Bagaimana pun dia bahkan belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Lalu, muncul Selir Wen dengan bedak tebal seperti ini. Yi Hua benar-benar ingin menyiram wajah Selir Wen yang tebal itu untuk tahu wajah sebenarnya.
"Putera Mahkota Li menghilang," ucap Zi Si dengan tangisnya.
Hal itu membuat Yi Hua mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa seseorang yang bukanlah ibu menangis sedemikian rupa untuk anak orang lain. Lalu, ....
Yi Hua memperhatikan Selir Wen yang seperti siap untuk mencekiknya. Yi Hua tak yakin lagi dengan apa yang ia pikirkan. Akan tetapi, semua ini layak dicurigai.
"Bukankah kau bilang kau akan mengatasinya, Tuan Yi?" tanya Selir Wen dengan suara yang melengking seperti bersin sapi.
Meski sekarang Yi Hua berpura-pura sebagai laki-laki, dan ia tak bisa memukul Selir Wen karena itu, dia merasa tangannya sangat gatal. Sekali-kali ia ingin menarik rambut Selir Wen yang panjang seperti ekor tikus. Mengapa bukan orang ini yang menangis?
Yi Hua menghela napasnya, "Maafkan kelalaian hamba, Selir Wen. Hamba pantas dihukum. Akan tetapi, mohon berikan hamba waktu untuk menyelesaikannya."
Yi Hua masih memperhatikan jari lentik Selir Wen yang menunjuk ke arahnya. Setelah itu, Yi Hua menampilkan wajah yang agak kecewa. Sepertinya persoalan ini lebih membingungkan daripada yang Yi Hua kira.
"Apa aku harus memesankan sebuah batu makam untukmu?" tanya Xiao yang tiba-tiba muncul di saat paling menyebalkan.
Yi Hua menahan matanya yang ingin memutar karena jengkel. Bagaimana pun ia tak bisa bertingkah seperti itu di hadapan Selir Wen. Wanita ini pasti akan lebih banyak merong-rongnya dengan kalimat penuh 'cinta'. Yi Hua harus mengatasi semua ini dengan sekali jalan, atau dia sendiri yang akan kerepotan.
"Juga ... Dimana Selir Wen beberapa menit yang lalu?" tanya Yi Hua sambil menatap ke sekelilingnya.
Lebih tepatnya memperhatikan Zi Si yang menangis keras di lantai, walau dia sebenarnya ingin menatap ke arah lain. Jika ada yang harus menangis, maka itu adalah Yi Hua. Dia sedang dalam persoalan hidup dan mati.
Selir Wen tampak memerah karena marah. "Kau mencurigai diriku yang menculik puteraku sendiri? Ku pikir selain peramal palsu, kau juga adalah seorang yang sinting!" teriak wanita itu dengan berapi-api.
Bahkan Yi Hua berniat untuk mencari payung agak wajahnya tidak basah sekarang. Meski begitu, Yi Hua masih tak melakukannya. Dia masih sayang kepalanya sendiri.
Walau ia tak yakin bahwa Raja Li Shen mencintai Selir Wen, tetapi gelar adalah gelar. Dibandingkan membuang seorang Selir, Raja Li pasti lebih akan memilih untuk membuang seorang peramal gadungan seperti Yi Hua.
"Hamba tak berkata bahwa hamba mencurigai Selir Wen. Hamba hanya bertanya. Mohon Selir Wen untuk tidak tersinggung."
Bisakah manusia ini membedakan antara menuduh dengan bertanya? Tolong beri aku kemudahan sebelum aku tua di usia muda ini!
Namun Yi Hua yakin yang membuat semuanya lebih buruk ialah bagaimana nada suara dari Yi Hua sendiri. Yi Hua memiliki suara yang sedikit terdengar licik jika tengah berbicara. Apalagi ketika bertanya. Jika saja Yi Hua ini memiliki musuh yang tepat, mungkin dia akan segera mendapat pukulan di wajahnya.
"Aku sedang bersama Yang Mulia di tempat peristirahatannya. Apakah kau masih ingin mencurigai aku?" tantang Selir Wen dengan wajah bangga.
Hal itu membuat Yi Hua menahan kakinya yang ingin menendang wajah Selir Wen. Dia tak mengerti mengapa Selir Wen begitu bangga dengan semua ini. Apakah dia masih berpikir bahwa Yi Hua ini menyukai Raja Li?
Yah, Yi Hua yang asli memang melakukannya. Akan tetapi, dia tidak sama. Lagipula dibandingkan mencari sebuah cerita cinta di sini, ia lebih tertarik pada titah pencabutan hukuman dari Raja Li. Itu saja.
Selir Wen mengalihkan pandangannya pada Zi Si yang sudah tenang. Mungkin dia sudah siap untuk menjawab seluruh pertanyaan dari Yi Hua. Namun terlebih dahulu ia harus mengatasi Selir Wen, atau Yi Hua akan segera dibawa ke penjara lagi.
"Mengapa kau menangis lebih kencang dari aku, Zi Si? Ini bukan saat yang tepat untuk sekadar menangis! Apa kau tak melihat Tuan Yi yang mencurigai aku?" bentak Selir Wen pada Zi Si.
BUKH!
Zi Si kembali berlutut ke lantai dengan suara dentuman yang agak keras. Tepatnya itu di samping Yi Hua yang juga masih berlutut. Hal itu membuat Yi Hua sedikit mendesis ketika membayangkan rasa sakit yang dialami dahi Zi Si. Namun tentu saja itu akan setimpal dengan pengampunan dari Selir Wen. Bagaimana pun Zi Si tahu akan kedudukannya.
"Hamba memohon ampun atas kelancangan hamba, Selir Kehormatan Wen. Hamba hanya merasa sangat menyesal saat hamba begitu lalai dalam menjaga Putera Mahkota."
SRAT!
"Yang Mulia Raja Li tiba!"
Suara keras itu terdengar dari luar. Di sanalah banyak orang akan bermain peran. Yi Hua merenggut, terutama ketika melihat Selir Wen yang mencolok bawah matanya hanya untuk menciptakan air mata kadalnya. Sungguh menyebalkan.
Sini biar ku bantu menekan kuku milikmu menuju bola mata!
"Ada apa ini?"
Yi Hua mengerutkan keningnya saat menyadari bahwa Raja Li seperti orang yang baru tahu tentang keributan. Bukankah sebelumnya Selir Wen mengatakan bahwa di bersama Raja Li?
Selir Wen juga menatap Yi Hua dengan wajah yang agak canggung. Meski begitu, keduanya tak menyampaikan apa-apa. Apalagi Zi Si yang masih menangis dengan khidmat.
Raja Li Shen masuk dengan seorang pengawal pribadinya yang ada di belakangnya.
Saat pertama kali Yi Hua menghadap Raja Li, ia tak melihat kehadiran pengawal dengan wajah tenang itu. Sosoknya terlihat sangat muda. Mungkin nyaris seumuran dengan Zi Si, dan yah ... Lebih muda dari Yi Hua.
__ADS_1
Rupanya seperti diwarnai dengan ketenangan. Ia mengenakan pakaian berwarna abu pudar. Itu membuatnya tampak sedikit kelam, sekaligus menenangkan. Meski begitu, yang membuat Yi Hua terpaku ialah dengan bibir penuhnya yang selalu menampilkan senyum.
Pengawal itu tampak menarik senyum untuk Yi Hua, tetapi Yi Hua tentu saja tak berani untuk membalasnya. Karena dia masih baru sebagai sosok 'ini', Yi Hua tak mengenal siapa pengawal itu. Sehingga dia memilih bertanya pada Xiao.
Namun ...
"Tidak ada informasi tentangnya."
Yi Hua mengedipkan matanya dengan bingung. Bagaimana bisa itu terjadi?
Apa Xiao ini sebenarnya tidak berguna sama sekali?
"Aku mendengar ejekan darimu, HuaHua! Jika tak ada informasi tentangnya, berarti sosok ini juga tidak dikenal oleh Yi Hua sendiri. Itulah mengapa aku juga tak tahu. Sebab, semua informasi yang aku ketahui itu berdasarkan ingatan Yi Hua."
Yi Hua tidak mengenal pria pengawal ini. Bukankah itu aneh?
Pasalnya, dari yang ia dapatkan Yi Hua memiliki perasaan pada Raja Li Shen. Jika seperti itu Yi Hua pasti akan mengetahui, setidaknya, orang-orang yang berada di dekat Raja Li Shen. Itulah mengapa dia merasa ini semakin menjadi aneh.
Selir Wen yang sudah menarik napasnya yang dia persiapkan agar terdengar serak, segera berbicara pada Raja Li Shen.
"Yang Mulia, Putera Mahkota menghilang. Hiks ... Apa yang akan terjadi padanya, Yang Mulia? Hamba sangat ketakutan," adu Selir Wen yang dihadiahi Yi Hua dengan putaran matanya. Muak!
Yah, tentu saja Yi Hua melakukannya secara diam-diam.
Jika Raja Li Shen ini percaya, maka aku tak akan menarik gelar Raja Dungu untuknya.
Raja Li Shen mengalihkan pandangannya pada ekspresi Yi Hua, yang entah mengapa dapat menjelaskan segalanya. Sehingga Raja Li Shen segera memerintahkan beberapa pengawal untuk berpencar. Mencari Putera Mahkota. Termasuk juga pada pengawal berwajah menarik yang sebelumnya Yi Hua lirik.
Sampai sekarang Yi Hua masih tak mengetahui namanya. Oleh karena itu, ia akan memanggilnya dengan sebutan pengawal saja. Itu mungkin lebih baik.
Sepertinya Yi Hua harus menarik gelar yang dia berikan. Nyatanya pria itu tidak begitu dungu seperti yang ia pikirkan. Dia masih terlihat agak pintar untuk tak masuk ke dalam tipu daya Selir Wen.
Mungkin ini alasannya mengapa Raja Li Shen tidak mengangkat Selir Wen sebagai Permaisuri Kehormatannya. Dia diberi gelar pun mungkin hanya karena Selir Wen melahirkan Putera Mahkota. Jika tidak ... Raja Li tak akan pernah ingin mengunjungi Selir Wen untuk meminta 'daging'.
Dari keributannya kehilangan Putera Mahkota belum mencapai waktu yang cukup lama. Mungkin jika diculik, maka pelakunya tak akan jauh. Setelah yakin semua pengawal di sekitarnya telah dikerahkan, Raja Li Shen kembali menatap Yi Hua.
Lalu, entah mengapa Raja Li sedikit terpaku ketika menatap Yi Hua kali ini. Bukankah peramal ini terlihat agak berbeda dari biasanya?
Biasanya Yi Hua akan segera mengeluarkan pemikirannya dengan sombong. Entah benar atau tidak pemikirannya itu. Lalu, Yi Hua adalah orang yang gemar mencari muka. Sedangkan peramal yang ini ... Dia terlihat sangat jengkel dengan penekanan di sekitarnya.
Apakah penjara bawah tanah bisa mengubah sampah menjadi barang yang menarik?
"Apa penjelasan yang bisa kau berikan, Tuan Yi?" tanya Raja Li Shen.
Berkat pertanyaan itu, Yi Hua langsung terlihat terkesiap. Seolah dia terkejut sendiri dengan pertanyaan itu. Sepertinya sejak tadi Yi Hua sedang melamun.
"Beribu ampun, Yang Mulia. Hamba hanya bisa memiliki beberapa dugaan atas kejadian ini."
Selir Wen menatap Yi Hua dengan kesal. Bagaimana jika Yi Hua tetap menetapkan dirinya dalam dugaan ini?
"Katakan."
Yi Hua mengangkat kepalanya ketika mendengar izin dari Raja Li.
"Putera Mahkota tidak menghilang, Yang Mulia."
Jawaban itu membuat Raja Li mengangkat sebelah alisnya. Begitu juga dengan Zi Si yang menatap bingung pada Yi Hua. Sedangkan Selir Wen tampak tersenyum licik. Bagaimana pun jawaban dari Yi Hua tidak sesuai dengan dugaannya.
"Apakah Tuan Yi tidak memiliki mata? Jelas-jelas Putera Mahkota menghilang. Apakah kau berpikir bisa bermain-main dengan keselamatan puteraku!" ucap Selir Wen, yang tentu saja dengan wajah kadalnya.
Yi Hua menarik senyumnya tipis. "Mata hamba ada di sini, Selir Wen." Yi Hua menunjuk pada kedua bola matanya sendiri.
Mungkin Yi Hua sudah cukup lelah dengan kepura-puraan untuk menghormati Selir ini. Sungguh pekerjaan yang menguras hati dan pikirannya. Mendadak Yi Hua ingin kembali mengajukan permintaan pengunduran diri sebagai Yi Hua, Si Peramal Busuk ini.
"Kau ..."
"Jika kau hanya ingin membuat keributan, maka kau bisa keluar, Selir Wen."
Suara dingin dari Raja Li membuat Yi Hua tercengang. Bukan hanya dia, Selir Wen bahkan berekspresi lebih lucu. Wajah cantiknya terlihat sangat gelisah.
Apakah Raja Li tertarik dengan Yi Hua?*
^^^*Dalam sejarahnya seorang Kaisar pernah mengambil pendamping seorang pria. Author hanya tahu sedikit tentang ini, tetapi ini berkaitan dengan istilah 'lengan potong'. Itu karena seorang Kaisar rela memotong lengan bajunya sendiri hanya agar kekasih pria-nya tak terbangun ketika tertidur di lengannya. Namun Yi Hua dalam cerita ini adalah seorang gadis yang menyamar menjadi pria karena alasan tertentu. Yang pastinya alasan itu akan dijelaskan lebih lengkap di chapter-chapter ^^^
^^^yang akan datang. ^^^
__ADS_1
Yi Hua jelas tak menyadari itu semua. Lagipula, ia sedikit tak perduli apa yang dipikirkan oleh Selir Wen tentangnya. Jika dia mengurusi semua ucapan orang lain tentangnya, maka Yi Hua tak akan pernah selesai mengurusi hidupnya sendiri. Sebab, meski tahun mencapai ribuan yang akan datang, beberapa manusia tak akan berhenti dengan mudah untuk menjatuhkan orang lain hanya untuk kepentingan diri sendiri.
"Lanjutkan, Tuan Yi," perintah dari Raja Li Shen.
Yi Hua kembali melanjutkan penjelasannya. Matanya menatap lekat pada kasur Putera Mahkota yang sangat rapi. Itu terlalu rapi untuk seseorang yang diculik. Meski Putera Mahkota secara fisik lemah dan sakit-sakitan sehingga tak bisa memberontak, tetapi pihak yang menculiknya jelas tak bisa begitu lembut ketika membawa Putera Mahkota.
Atau, ...
Putera Mahkota diculik terlebih dahulu, lalu seseorang merapikan kasurnya. Berharap bahwa kasus penculikan ini terlihat sangat rapi. Bahkan jendela ruangan Putera Mahkota juga tertutup rapi, dengan tirai yang juga sangat rapi terjatuh ke bawah. Tidak terlihat ada bekas lipatan di tirai yang menandakan seseorang menyibaknya agar bisa melalui jendela.
Mata Yi Hua menangkap itu semua dengan cepat. Dan, ia menyadari bahwa dia sudah sangat tahu siapa pelakunya. Mungkin pelaku berpikir bahwa ruangan yang rapi akan membuat penculikan ini terlihat 'berat'. Namun faktanya ialah ini semakin mudah.
Jika seperti itu ...
"Putera Mahkota tidak menghilang, Yang Mulia. Dia masih ada di ruangan ini. Juga pelakunya," ucap Yi Hua sambil menunjuk pada kasur yang rapi. Seolah kasur itu adalah bukti paling penting dari segalanya.
Selir Wen tampak tak terima. Ia kembali menunjuk pada Yi Hua dengan jari lentiknya yang cantik. Bahkan hanya melihatnya saja Yi Hua sudah akan tahu bahwa kuku itu bisa menimbulkan luka yang dalam.
"Kurang ajar kau, Tuan Yi! Mengapa kau masih mencurigai aku?"
Raja Li menatap tajam pada Selir Wen hingga wanita itu terdiam. Entah mengapa Raja Li berada di pihak Yi Hua kali ini. Meski begitu, Raja Li memiliki alasan tersendiri.
"Jaga bicaramu, Selir Wen. Apakah seperti itu cara berbicara seorang kecantikan?"
Susah sekali menjadi seorang perempuan. Begitu salah, begini salah. Beruntung aku sekarang dikenal sebagai laki-laki.
"Baru kali ini aku mendengar bahwa kau bersyukur, HuaHua!" cetus Xiao begitu saja, tetapi Yi Hua tak menggubrisnya.
Akan tetapi, ...
"Bukankah hamba tak sejak awal tidak mencurigai Selir Wen? Hamba sudah mengatakannya sejak awal." Yi Hua mendadak berani berjalan ke arah Raja Li.
Jangankan Selir Wen, Raja Li sendiri merasa terpaku dengan tindakan berani dari Yi Hua. Terutama ketika tangan Yi Hua terulur menuju pinggang Raja. Selir Wen saja nyaris berteriak karena takjub sendiri.
Lalu, ...
"Hampa pinjam, Yang Mulia."
SRAT!
SYUNG~
Belum sempat Raja Li mencerna apa yang dikatakan oleh Yi Hua, sebuah tarikan agak keras terasa di pinggangnya. Yi Hua menarik pedang Raja, dan ... dilempar?
Siapa yang begitu lancang menyentuh pedang milik Raja Kerajaan Li?
Jawabannya bisa dijawab sendiri, sebab itu adalah fakta yang diketahui semua orang yang berada di ruangan ini.
CRASH!
Darah segar mengalir begitu saja dari pedang yang melayang ke dinding. Namun pedang itu tak sendirian di sana, sebab ada tangan aneh yang tertancap di dinding. Beserta teriakan memilukan dari Zi Si, dan tangan kanannya yang terpotong begitu saja.
Selir Wen nyaris pingsan ketika melihat adegan itu. Beberapa pelayan di sekitarnya langsung bersiap menyangga tubuh Selir Wen agar tidak mencium lantai. Walau dalam hati mereka memang tak ingin menangkap Selir Wen.
"Bukankah begitu, Zi Si?"
"AKHH!!!" teriakan menggelegar itu datang dari Zi Si yang berguling di lantai.
Kesakitan.
Selir Wen menatap Yi Hua marah, "Apa yang kau lakukan pada Zi Si?"
Peramal ini bukannya memperbaiki 'nama', dia malah menyakiti seorang pelayan yang tak berdaya. Ia berharap Yi Hua sudah cukup siap untuk mendekam dalam penjara bawah tanah lagi.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan dan semangat agar author lebih bahagia lagi untuk bertemu kalian di cerita ini.
Mungkin masih banyak yang bingung dengan novel ini, author juga. Jujur saja! Sebab, author harus merangkai sebuah sebab-akibat agar cerita ini rasional. Sulit sekali untuk rasional padahal author sendiri agak absurd.
Juga, niat hati ingin membalas komentar satu-satu, sayangnya jaringan di sini benar-benar menyebalkan. Kayak sapi yang hilang dan pergi begitu saja. Jika ada kesempatan, akan dibalas satu-satu yah!
Sudahlah. Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~