Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Pertarungan Akhir 1: Melumpuhkan Semua Pengkhianat


__ADS_3

Ini chapter yang panjang. Tarik napas dulu ya! Dan cekidot.


...***...


Hari itu orang bertanya-tanya mengapa matahari seperti enggan untuk muncul.


Penduduk mulai berpikir jika mungkin akan memasuki musim hujan, walau cuaca terasa agak panas. Himbauan dari kerajaan mengatakan untuk tidak bepergian jauh di masa itu. Sebab, entah apa yang terjadi di saat gelap seperti ini. Sehingga siang dan malam tidak ada bedanya lagi.


Belum lagi dengan berita dari wilayah lain, yang mengatakan jika longsor di gunung besar masih menutup jalan. Makam keluarga terhormat, Wei juga masih diperbaiki. Hanya itu yang masih bisa dijelaskan.


Lampu obor yang biasanya digunakan hanya saat malam hari, kini beralih digunakan sepanjang hari. Entah sudah berapa hari ini terjadi. Semoga saja tidak ada bencana buruk dari ini semua.


TAP!!


Pria dengan perawakan yang sangat tinggi berdiri tegak di mulut jurang. Rambutnya yang panjang dan hitam pekat seperti malam membuatnya tampak lebih gelap lagi. Walau kedua matanya yang merah kini menjadi satu-satunya sinar yang bisa dilihat di wajahnya.


Di tangannya terselip pedang yang beraura mengerikan. Bahkan kau bisa melihat warna gelap di lempengan pedangnya. Sebuah pedang yang ditakuti oleh iblis dan manusia.


Pedang Li Wei yang membawa malapetaka besar sekitar sepuluh tahun yang lalu.


Teriakan Liu Xingsheng membuat pria itu, Hua Yifeng hanya menoleh sejenak. Setelah ketiga orang itu dipastikan terjun ke jurang, Hua Yifeng menyebarkan hawa negatif dari pedang Li Wei.


KRAGHHHH


Raungan mayat berjalan membuat siapa saja yang mendengar merasa lebih baik menjadi tuli. Terutama saat bisa dibayangkan bunyi raungan itu karena kesakitan yang amat sangat. Bagaimana bisa kerangka tulang yang sudah mati meraung kesakitan?


Tentu saja itu bukan jiwa aslinya, karena sejatinya siapa saja yang sudah pergi maka dirinya tak akan menghuni raga lagi. Yang ada dalam raga kerangka-kerangka ini hanyalah kesadaran dari energi buruk. Rasa egois dari hantu rendahan dan iblis yang ingin memiliki raga seperti manusia.


Sangat membanggakan jika manusia tahu dia diciptakan begitu sempurna.


Hua Yifeng menerobos ke dalam kerumunan kerangka berjalan yang menggerogoti di sekitar jalan berlumpur. Kakinya yang tegap tak membiarkan setitik lumpur mencegah langkahnya. Tanpa terpendam sekali pun Hua Yifeng menerobos dan menebaskan pedangnya dengan pasti.


KRAK!!! KRAKKK!


Bunyi patahan tulang yang mengerikan terdengar. Tempurung kepala mayat berjalan yang utuh dibenturkan Hua Yifeng ke pedangnya. Membelahnya untuk menghentikan kerangka berjalan dirasuki energi buruk.


Walau kau tahu mereka sudah mati, tapi tak urung rasa kasihan mengenai hati. Bagaimana tempurung kepala yang sangat kuat, hingga masih tersisa meski dagingnya hilang, dihancurkan oleh Hua Yifeng.


KRAK!!


"Tuan Hua." Suara tenang itu membuat Hua Yifeng menoleh.


Di kegelapan seperti ini membuat sosok Wei Wuxie hanya terlihat seperti bayangan hitam. Ia meninggalkan Zhang Yuwen dan Liu Xingsheng di dasar jurang. Setelah itu, ia menyusul Hua Yifeng di atas.


"Lindungi Liu Xingsheng," perintah Hua Yifeng. Bagaimana pun aura dan asap dari Pedang Li Wei hampir sama seperti abu vulkanik dari gunung berapi. Sangat berbahaya untuk pernapasan Wei Wuxie, yang seorang manusia.


Wei Wuxie ikut menebas kerangka yang merangkak di dekat kakinya.


"Ada Zhang Yuwen di sana, dan juga Tengkorak Putih."


BRAK!


Hua Yifeng meremukkan batok kepala mayat berjalan yang menyerangnya. "Bao Jiazhen ada di sini?"


Wei Wuxie menganggukkan kepalanya.


"Bencana Selanjutnya sepertinya menyulitkan Tuan Tengkorak Putih."


BAM!


Kali ini kerangka berjalan semakin berkurang lagi. Ditambah lagi dengan kemunculan tentara tulang binatang laut. Tulang-tulang berserakan dari kerangka ikan menusuk tepat ke batok kepala mayat berjalan.


Hua Yifeng melirik sosok tinggi lainnya yang menguasai Laut Selatan. Tengkorak Putih, Bao Jiazhen.


"Hua brengs*k, pergi!"


Percayalah mereka berdua sejatinya selalu bermusuhan. Bahkan saat Hua Yifeng menyamar menjadi An, dan Bao Jiazhen menyamar menjadi Huan Ran. Keduanya hanyalah orang yang keras kepala untuk mengakui bantuan orang lain.


Meski begitu, tujuan mereka sama.


"Kau yakin bisa mengatasinya?" tanya Hua Yifeng meremehkan.


BLAM!!!


Karena musuh semakin berkurang, Bao Jiazhen malah menyerang ke arah Hua Yifeng. Kerangka naga diarahkannya menuju Hua Yifeng, dan dengan mudah dipatahkan oleh Hua Yifeng. Namun setelah itu Hua Yifeng menghilang. Tergantikan dengan debu-debu dari kerangka yang hancur.


Tapi tidak ada respon berarti dari Bao Jiazhen. Pria itu fokus untuk menerobos ke dalam makam keluarga Wei yang sudah hancur setengah. Di dalamnya ada sekitar seratus mayat berjalan, tetapi di sana inti kekuatan dari musuh mereka.


Sesuai yang diberitahukan Ling Xiao.


Sosok itu membangun kekuatan barunya di makam keluarga Wei, karena di sana memiliki tingkat energi buruk tertinggi. Bahkan lebih tinggi dibandingkan Lembah Debu, tempat di mana Pangeran Penduka itu pertama kali mengumpulkan kekuatannya hingga membuat kutukan aneh yang disebut Penyakit Batu.


Penyakit Batu muncul bukan karena kutukan Li Wei. Penyakit itu muncul karena buruknya energi negatif di Lembah Debu dahulu. Sehingga jiwa yang tak murni akan mudah tercemar. Setiap rasa dendam, marah, dan semua keburukan hati akan mengubah darah manusia menjadi batu.


Itulah penyakit batu yang membuat ketakutan besar dahulu.


Wei Wuxie menganggukkan kepalanya pada Bao Jiazhen. Mantan Jenderal Besar Wei itu mengejar Bao Jiazhen yang terlebih dahulu masuk. Menundukkan kepalanya sejenak untuk berterima kasih. Sebab, salahnya juga yang mendorong Liu Xingsheng dengan cepat sebelumnya.


"Terima kasih karena menyambut Liu Xingsheng di jurang sebelumnya."


Bao Jiazhen melompat ke arah patung kuno yang terbuat dari batu. Dahulu tetua keluarga Wei membuatnya untuk meninggikan nilai estetik pada bangunan makam keluarga mereka. Sayangnya, bangunan kuno ini menarik hawa negatif karena diletakkan di tempat yang tidak tepat.


BRAK!


Ia menghancurkan beberapa patung kuno lagi. Bao Jiazhen tak sendirian, tentu saja Wei Wuxie juga turut menghancurkan peninggalan sejarah dari keluarganya sendiri. Memastikan tempat itu murni kembali, agar tulang-belulang milik keluarganya tidak dimanfaatkan lagi.


Bao Jiazhen menyebarkan tentara tengkorak miliknya. Untuk memeriksa energi buruk. Yakin dengan sumber energi yang sudah dihancurkan, Bao Jiazhen keluar dari makam itu. Meninggalkan Wei Wuxie untuk menyelesaikan bagian akhirnya.


Setelah yakin semuanya bersih, Wei Wuxie, yang notabenenya seorang manusia menyiramkan air suci. Untuk memurnikan makam keluarga Wei. Ling Xiao memerintahkan Wei Wuxie untuk melakukannya.


"Sekarang tergantung pada Yi Hua," ujar


Wei Wuxie yang menyelesaikan pemurnian makam keluarganya. Sekaligus menitipkan doa pada leluhurnya. Sesuatu yang sudah lama Wei Wuxie tidak lakukan.


"Wei Wuxie di sini, dan aku masih hidup," ucap Wei Wuxie menutup doanya.


***


Liu Xingsheng berpikir jika kepalanya mungkin sudah hancur mengenai batu. Namun ketika dilihat sekali lagi, dirinya ternyata mendarat di atas permukaan kasar, meski tidak menyakiti. Itu adalah tulang belulang yang membentuk seperti sarang burung.


Rupanya Liu Xingsheng mendarat di sana. Juga, bagaimana bisa tulang-belulang ini menumpuk dengan cara yang indah?


Atau ...


Tidak mungkin Kakak Huan menolongku. Dia sekarang Bao Jiazhen!


Bao Jiazhen masih menyimpan dendam pada Liu Xingsheng. Bagaimana pun persahabatan mereka saat menjadi Perdana Menteri, tetapi dendam di hati Bao Jiazhen sudah ada sejak lama. Perdana Menteri Huan Ran hanyalah kedok yang dibentuk oleh Bao Jiazhen.


"Kau Si Bocah Liu! Kenapa kau diam di sana? Ayo pergi!" omel Zhang Yuwen yang mendapat tugas untuk bersama Liu Xingsheng.

__ADS_1


Padahal jika mau hebat-hebatan, dia mungkin akan memilih bergabung dengan Wei Wuxie di atas sana. Setidaknya dia bisa mengamuk dan menggunakan kekuatannya. Tidak seperti di tempat ini, di mana dia merasa layaknya pengasuh.


Liu Xingsheng berdiri dari sarang tulang itu. Menyingkirkan tulang tinggi yang dibentuk seperti pagar. Hanya agar Liu Xingsheng bisa keluar dari sana.


BUGH!


Pria itu melompat ke tanah yang agak basah dan menyadari jika mereka sekarang berada di inti jurang.


"Di mana Jenderal Hantu?"


^^^*Jenderal Hantu itu Wei Wuxie.^^^


Zhang Yuwen menunjuk ke atas, tapi Wei Wuxie tak bisa melihat apa-apa. Karena pekatnya kegelapan di sekitar. Apalagi posisi mereka saat ini berada di dasar jurang, sehingga mereka hanya bisa meminta cahaya dari api di tangan Zhang Yuwen.


Liu Xingsheng tentunya tidak terkejut lagi. Ia sangat tahu jika Zhang Yuwen di depannya adalah salah satu dari Lima Kehancuran. Bahkan ia sudah sering bertemu dengan Hua Yifeng, yang paling terkuat di antara mereka.


Seingat Liu Xingsheng, semenjak dia mengenal Yi Hua, Lima Kehancuran yang selalu ia takuti dulu terlihat biasa saja. Mereka tidak seburuk yang dijelaskan dalam buku-buku sejarah.


"Apa kau siap?" tanya Zhang Yuwen yang mengeluarkan sulur panjang yang terbuat dari darah. Liu Xingsheng mengangguk walau dia merasa geli dengan sulur berdarah itu. Apalagi suaranya yang seperti ular merayap.


Benda itu terus memanjang seperti aliran darah yang terus keluar. Zhang Yuwen mengulurkan tangannya. Liu Xingsheng menyambut uluran tangan itu.


SLAMM!


Karena Liu Xingsheng adalah manusia dan sangat beresiko untuk perpindahan. Sebab, Liu Xingsheng bisa berpindah ke tempat yang berbahaya, atau malah terkurung di dalam labirin waktu. Itulah mengapa Zhang Yuwen mencoba untuk terbang, tetapi dengan kekuatannya sendiri.


Dan benar saja ... Mereka tertarik dengan kencang, dan terbang dengan ketinggian seperti pohon. Tugas Zhang Yuwen hanya mengantisipasi arah tarikan sulur. Kan tidak lucu jika malah tertarik ke arah pepohonan atau batu, nanti bisa menempel dengan menyedihkan di batang pohon.


Bagian mereka berdua adalah ke Lembah Debu. Untuk mencari sisa kekuatan Pangeran Penduka di sana. Karena di sana Pangeran Penduka menancapkan pedangnya. Awal dari semua cerita reinkarnasi menyedihkan Si Pangeran Penduka.


Semua itu sudah disadari oleh Yi Hua sejak lama.


Saat mereka di rumah kosong itu, Yi Hua mengatakan jika ada beberapa sudut yang digunakan sebagai penarik kekuatan. Dan semua kekuatan itu akan tertarik ke satu arah, yaitu Istana Kerajaan Li.


Di mana bencana terkahir akan mendapatkan kekuatannya.


Yang mereka lakukan adalah menghentikan Pangeran Penduka mendapatkan kekuatannya kembali. Apalagi sampai mendapatkan kekuatan dari Pohon Iblis.


Reinkarnasi Pangeran Penduka adalah Hua Yifeng, tetapi kodrat hidup Hua Yifeng berubah. Ia tak dendam dan memiliki orang yang melindunginya tanpa ragu mengorbankan dirinya sendiri. Suatu perubahan kecil yang mengubah banyak hal.


Sebagai gantinya, Li Wei yang menjadi tertuduh sebagai reinkarnasi Pangeran Penduka.


Oleh karena itu, orang 'ini' ingin Li Wei menjadi Raja. Agar melanjutkan keinginan dari Pangeran Penduka dahulu. Menjadi Raja dari Kerajaan Li.


Padahal Si Pangeran Penduka sendiri tak pernah mau menjadi Raja.


***


Hari itu Kerajaan Li menjadi kacau. Pasalnya pemberontakan Pejabat Wen sudah sampai di puncaknya. Dengan membawa anggotanya, yang ternyata nyaris sebagian dari Pejabat Tinggi, untuk mengkudeta Raja Li.


Peperangan terjadi dan membuat Raja Li terjebak dalam pengkhianatan.


Ia digiring untuk di hukum di tengah-tengah istana. Tepatnya di halaman depan, di mana tempat Raja dinobatkan dahulu. Di tempat yang sama Raja akan diturunkan dari jabatannya.


Kemudian, mereka akan memilih Raja yang datang dari ramalan. Sesuai dengan perintah Dewa.


Sejak awal strategi di atur untuk meruntuhkan tonggak kekuasaan dua Perdana Menteri. Ditambah lagi penatua di istana semuanya berpihak pada pengkhianat. Mereka sebenarnya hanya ikut-ikutan saja, karena tak mau tergeser dari kedudukan mereka. Sehingga tameng kerajaan sudah gugur sekarang, bahkan Jenderal Wei Qionglin sengaja ditugaskan untuk mengatasi hal di luar istana.


"Bahkan jika Wei Qionglin kembali sekarang, ia tak bisa menyelamatkan Raja Li Shen. Atau, kita tak perlu memanggilnya Raja lagi," ucap Pejabat Wen sambil menatap Raja Li Shen yang berdiri dengan tangan yang terikat.


"Bawa Yi Hua itu kemari sekarang!" suara itu terdengar.


Hari ini mereka akan langsung mengeksekusi Yi Hua, dan menurunkan jabatan Raja Li Shen.


Tentu saja penurunan jabatan ini hanya sebagai bentuk terima kasih atas pekerjaan Raja Li Shen. Dia akan diasingkan ke hutan terdalam dan dilarang terlihat di Pusat Kota. Sama seperti Kerajaan mengasingkan Ling Xiao dahulu.


Juga, karena Pangeran Li Quon adalah putra dari mendiang Selir Wen, dirinya tentu akan tetap menjadi Pangeran. Jika Li Quon yang ditunjuk Dewa untuk menjadi Raja, maka anak itu akan ditunjuk menjadi Raja.


Pejabat Wen tentu saja merasa serakah dan memastikan agar cucunya menjadi Raja. Agar dia bisa menguasai Kerajaan Li melalui Li Quon. Sayangnya, orang itu mengatakan tentang seorang penyelamat yang akan menjadi Raja yang sempurna.


"Hidup Raja Baru!" teriakan para Pejabat berkhianat yang mengelu-elukan tentang Raja Baru.


Namun Raja Li Shen terlihat sangat tenang. Sangat berbeda dengan orang yang akan diturunkan gelarnya. Bagaimana pun Raja Li Shen percaya pada ucapan seseorang.


Yi Hua mengatakan jika Li Shen hanya perlu menunggu, bukan?


Semua bukti sudah didapatkan oleh Yue Yan, dan tinggal menyingkirkan mereka.


Tapi sebelum itu, mereka harus mengungkapkan dalang dari semuanya. Itulah mengapa Raja Li Shen tidak melawan.


Obor-obor di seluruh penjuru istana tertiup oleh angin. Lantaran hanya obor-obor ini saja yang digunakan sebagai penerangan. Matahari di atas masih enggan menampilkan sosoknya.


Mungkin ini pertanda turunnya tahta Raja Li Shen. Setelah itu, matahari berikutnya akan naik dan memberikan cahayanya untuk Kerajaan Li. Dengan naifnya mereka meyakini itu.


Di tengah angin yang dahsyat itu, Hua Yifeng tampak berdiri dengan tenang di atap Istana Utama Kerajaan Li. Tetap diam dalam kegelapan, menunggu bagiannya.


Lalu, teriakan tentang Raja Baru itu terhenti ketika pengawal kembali tersengal-sengal. Pasalnya ia membawa berita yang kurang baik. Ia menarik napasnya sebelum menjabarkan apa yang terjadi.


"Peramal Yi tidak ada di penjara bawah tanah."


Pejabat Wen terlihat marah. "Kau bodoh! Bagaimana bisa penjagaan ketat di penjara bawah tanah bisa diterobos oleh Peramal Sialan itu?"


BUGH!


Pejabat Wen yang kesal memukul pengawal itu. Geram akan kebodohan orang ini. Bagaimana jika Yi Hua masih hidup dan selamat. Lalu, Yi Hua akan melakukan sesuatu dan menghancurkan semua rencana mereka.


Sebab, Yi Hua mendadak datang dan seolah mengubah semua rencana mereka.


Sialan!


"Cari dia sampai dapat!" perintah Pejabat Wen dengan geram.


TAP!


TAP!


TAP!


Suara langkah itu membuat keheningan. Terutama saat sosok dengan pakaian berwarna putihnya yang khas datang. Ia tampak sangat berwibawa di kala gelap datang. Sungguh aneh ... Tapi aura orang ini selalu murni, meski di sekitarnya buruk sekalipun.


"Tidak perlu. Yi Hua ada di sini," ucap Ling Xiao. Yang selama ini memberikan mereka rangakaian rencana. Sebab, Ling Xiao adalah orang yang melihat masa depan.


Dengan strategi Ling Xiao, para pengkhianat ini secara bertahap mengikis kekuatan Raja Li dari dalam.


Hanya sepersekian detik Ling Xiao berkata seperti itu, suara denting senjata terdengar dari sudut kiri.


Di sana mendadak seorang pengawal menebas rekan di sebelahnya. Keributan mulai terdengar, dan mereka berusaha mengejar pengawal tersebut, untuk membunuhnya.


PRANG!

__ADS_1


"Jenderal Wei!"


Rupanya salah satu dari pengawal ini adalah Jenderal Wei. Wei Qionglin sejak satu hari yang lalu sudah kembali ke Pusat Kota. Berkat bantuan dari tiga orang asing sebelumnya (Sebenarnya itu Liu Xingsheng, Zhang Yuwen, dan Wei Wuxie), Wei Qionglin tak perlu mengatasi permasalahan di makam Keluarga Wei.


Ia bisa kembali dan menyadari jika kudeta terjadi. Kala itulah ia menyusup di bagian pengawal. Mengawasi sesuai dengan perintah Raja Li Shen.


Jangan mengambil tindakan apapun, dan tunggu semuanya terungkap. Mereka hanya ingin melihat dalang di baliknya.


SRET!


Pejabat Wen menegakkan kepalanya dengan sombong. "Wei Qionglin! Kau bukan siapa-siapa lagi saat Raja mu turun tahta. Ku perintahkan kau menyerah, dan menerima hukumanmu."


SRAT!


Darah mengotori wajah Wei Qionglin yang tampan. Kemarahannya muncul ketika mendengar tentang Raja Li Shen yang diturunkan. Bagaimana pun Raja yang ia ketahui hanyalah Li Shen.


"Yang Mulia tidak turun dari tahtanya, Pejabat Wen. Belum," bisik Wei Qionglin yang menerobos di antara para pejabat ini.


Tentu saja semua pejabat ketakutan, Wei Qionglin adalah Jenderal Terkuat Kerajaan Li. Dahulu kakaknya, Wei Wuxie yang ditakuti, sekarang Wei Qionglin tak kalah hebatnya. Dan Wei selalu sama ... Kesetiaannya pada Tuan mereka sangat tinggi.


BUGH!


"URGGHHHH."


Tinju keras dari Ling Xiao mengenai tubuh Wei Qionglin. Serangan itu membuat anggota gerak Wei Qionglin gagal menerima respon otaknya. Sehingga ia lumpuh sejenak, sebelum kembali tersadar. Sayangnya, saat ia tersadar pukulan Ling Xiao kembali mengenai punggung Wei Qionglin.


"Ha ...Ha ... Ha ... Lihatlah! Kau melanggar perintah Dewa. Kau ... Ha ...Ha. Tamatlah riwayatmu, Wei Qionglin!" teriak Pejabat Wen yang sebelumnya sempat takut.


Wei Qionglin dijatuhkan ke tanah begitu saja.


"Peramal Ling, Anda ..." Ling Xiao malah menarik Wei Qionglin.


Mengarahkannya pada pengawal lain untuk ditangkap. Pengawal itu menahan Wei Qionglin, sehingga Wei Qionglin berpikir dirinya bisa menjatuhkan pengawal itu. Namun sosok itu memberi isyarat dengan tangannya.


Wei Qionglin adalah orang yang mengenali tubuh orang lain. Ia akan hafal jika pernah melihatnya. Apalagi untuk orang yang menarik perhatiannya. Sehingga ia tahu jika pemilik tangan itulah ialah ...


"Jenderal Wei, ambil alih pasukan," bisik orang itu.


Yi Hua.


Pengawal yang menangkapnya itu adalah Yi Hua.


Pasukan yang dimaksud oleh Yi Hua adalah pasukan khusus yang dilatih sendiri oleh Wei Qionglin. Mereka adalah bawahan Wei Qionglin, dan mereka juga akan dihukum mati hari ini.


Yi Hua memerintahkannya untuk menyelamatkan mereka. Para prajurit itu terikat di tiang-tiang. Mereka diikat di sana untuk menampilkan siapa saja yang dieksekusi.


Wei Qionglin jujur saja tak melihat mereka karena pencahayaan yang kurang. Namun saat Yi Hua menyebutnya, ia jadi sadar.


TAK!


Pedang Wei Qionglin diserahkan kembali padanya. Lalu, pria Jenderal itu berlari menuju ke arah tiang-tiang itu. menebas tali-talinya. Membuat mereka semua terbebas.


Ada sepuluh orang yang merupakan bawah setia Wei Qionglin.


Pengawal yang berkhianat tentu saja tak membiarkan. Mereka menyerang sepuluh orang itu, tetapi itu tak mudah. Karena mereka adalah orang yang Wei Qionglin latih sendiri. Hanya dengan tangan kosong mereka merebut pedang dari para pengkhianat.


SRAT!


Membalikkan situasi, di mana sekarang ada pasukan yang siap bertempur untuk memperjuangkan tahta Raja Li Shen.


SRAK!


Karena perhatian mereka terlalu fokus pada pertarungan Wei Qionglin. Mereka tak menyadari jika Raja Li Shen telah terbebas. Pria itu berdiri di depan tempat duduknya di halaman istana. Menunjukkan kekuasaannya.


Di sampingnya ada Yue Yan, yang juga menyelinap di antara pengkhianat. Bertugas untuk membebaskan Raja Li Shen di tengah perkelahian Wei Qionglin. Ia berhasil melakukannya seperti rencana mereka. Seperti yang diminta Yi Hua.


Selalu setia pada Raja Li Shen, dan memastikan keselamatannya.


Di atas tahtanya Raja Li Shen memberi perintah. "Tangkap semua pengkhianat!"


SRAK!


Di sisi lain Ling Xiao menerbangkan kertas jimatnya. Membelenggu seseorang dengan kekuatan yang besar di dalamnya. Dia adalah orang yang sebenarnya manusia, tetapi menyerahkan dirinya menjadi iblis. Sehingga ia hidup ratusan tahun untuk mewujudkan harapan Tuannya.


Ia yakin Pangeran Penduka akan terlahir kembali dan membawa kedamaian di negeri ini.


Dia adalah pengikut setia Pangeran Penduka, pembentuk klan Bao.


"Apa yang kau lakukan Ling Xiao? Aku mengikuti semua strategi yang kau atur! Karena kau melihat masa depan," Ia tak menyangka jika Ling Xiao mengikatnya dengan kertas jimat.


"Biar ku beritahu tentang rencana terakhir di sini," balas Ling Xiao.


Si penyusup sebenarnya, Ling Xiao tersenyum.


"Kau tahu ... Melihat masa depan itu sebenarnya tidak ada. Tidak ada manusia yang bisa melihat masa depan, karena sebenarnya masa depan itu jembatan yang belum usai. Tergantung bagaimana kau menyusunnya, itu juga yang akan kau lihat di depan sana," ucap Ling Xiao yang kini berdiri tenang di antara keributan.


Ling Xiao tentu saja tak perlu bertarung karena ia dilindungi oleh putranya. Dahulu ia pikir ia membawanya karena dirinya melihat ada takdir Raja di dalam diri Hua Yifeng. Tapi dia salah karena sebenarnya ia hanya menyayangi anak itu dengan sederhana.


Hua Yifeng.


Keadaan kini beralih, dan pengkhianat di kepung oleh pasukan Wei Qionglin. Belum lagi depan pasukan lain yang memutuskan untuk setia pada Raja Li Shen.


Ling Xiao mendekati sosok itu, yang dahulu terlihat seperti setengah baya, tapi kini tampil dengan wajah mudanya.


"Pangeran Penduka yang diliputi dendam pun bisa berubah di masa depan. Apa kau menyadari itu, Penasihat Wang?"


Hua Yifeng terlahir untuk melihat penderitaannya sendiri, tetapi Li Wei mengajarkannya bahwa sendirian mungkin hanya perasaan tak percaya diri.


Kau mungkin memiliki seseorang yang rela mengorbankan hidupnya untukmu, entah kau sadari atau tidak.


Siapa dia?


Setiap orang masing-masing berbeda.


***


Hay Hay ...


Bagaimana sampai di sini? Masih bingung? Migrain? Darah tinggi?


Pembaca di sini sangat pintar sampai bisa mengumpulkan semua clue. Ada yang tahu, bahkan dari awal cerita. Mantap! Berarti ada yang satu otak dengan imajinasi aku dong. Bisa nih join circle 😂


Terima kasih karena setia dengan cerita ini. Kita sudah memasuki bagian akhir. Dan mungkin tak banyak chapter yang tersisa. Sampai di sini apakah masih ada yang setia dari awal? Atau bahkan masih setia sejak novel Pemeran Pembantu?


Mengenal kalian melalui cerita adalah pengalaman yang menyenangkan. Aku tuh tidak percaya diri dengan ceritaku sendiri, untuk pertama kalinya. Tapi berkat setiap dukungan kalian aku bertahan sampai menyelesaikan novel ini.


Ingatlah setiap akibat ada sebab. Jika ingin bertanya mengapa kau mengalami ini atau mengapa kau seperti ini, kau hanya perlu ingat apa yang pernah kau perbuat sebelumnya. Jika itu baik untuk dirimu dan orang lain, maka akibat yang tempuh juga insya Allah baik.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


adios~


__ADS_2