
Bukan isi cerita.
Seperti biasa aku akan kasih sedikit gambaran agar gak bingung bagaimana rupa-rupa warnanya dari setiap karakter. Apapun gambar di dalam novel ini itu bukan author yang punya. Alias itu cuma berkah dari kemajuan teknologi, dan ada tombol download di sosial media.
Ada nih yang pernah nanya, kenapa sih pakai gambar anime terus?
Yah, jujur saja aku suka anime. Aku suka seni gambar yang semacam itu. Aku juga pencinta anime dan tokoh favoritku adalah Levi dalam anime Shingeki no Kyojin. Aku juga suka Natsume dalam anime Natsume Yuujinchou *bener gak ya tulisannya. Jadi, intinya aku ini penggemar anime. Lagian susah cari gambar real dengan tema kerajaan kayak gini. Kalo ada pun pasti gak sesuai dengan gambaran karakter.
So, kalian perlu ingat nama-nama ini karena mereka akan menggoyang kalian semua di setiap cerita.
...Yi Hua (Identitas asli belum diketahui. Jadi, panggil saja dia mawar ... Maksudnya Yi Hua. Tapi seperti judulnya, dia akan tetap dipanggil Yi Hua selama cerita ini berlanjut)...
-Tanggal lahir: tidak diketahui, karena author malas berpikir. Usia Yi Hua itu tujuh belas tahun.
-Ayah, Shi Heng. Ibu, Yi Xia.
-Jenis kelamin: Perempuan, tetapi dia menyamar jadi seorang pria. Tentang sejarahnya silahkan dibaca di chapter-chapter sebelumnya tentang alasan Yi Hua dibesarkan menjadi pria.
-Warna kesukaan: sebenarnya dia gak punya warna kesukaan. Tapi karena dia terbiasa dengan pakaian peramal yang serba putih. Anggap saja dia suka warna putih.
-Sedikit info, karakteristik mencolok dari Yi Hua ialah pakaiannya yang serba putih, anting merah tua di telinga kirinya. Yi Hua adalah petarung dengan kertas jimat, karena dia cuma bisa memanfaatkan energi sekitar. Juga, mungkin tak ada yang menyadarinya. Tapi, aku pernah nulis bahwa Yi Hua itu punya titik hitam di bawah matanya. So, seperti digambar itulah penampakan dari Yi Hua.
-Jika Yi Hua diambang kematian yang benar-benar parah, maka bekas luka di leher Yi Hua akan muncul. Ada sejarahnya tentang bekas luka itu, tetapi dari ingatannya mungkin dahulu kala dia meninggal karena menebas lehernya sendiri. Dalam novel ini hanya sekali bekas luka itu muncul. Entah kedepannya bagaimana.
-Pesan Hidup: Hidup hanya sekali, maka pergi meramal untuk tahu takdir hidup. Jangan menjadi seperti sapi yang sering menumpang 'terkenal' di cerita orang lain.
...Xiao (Identitas asli tidak diketahui)...
-Kalo ada wujud manusianya, ya kira-kira gitu lah rupa Xiao itu. Walau tidak ada kejelasan tentang identitas, jenis kelamin, atau riwayat hidup yang lainnya.
-kesibukan Xiao adalah gibahi hidup Yi Hua.
-Xiao biasanya tak bisa aktif jika ada Hua Yifeng. Entah karena apa.
-Wujud Xiao itu permata merah menyala yang menjadi anting di telinga kiri Yi Hua.
-Jika Yi Hua hampir mati, Xiao juga akan kacau sistemnya.
...Hua Yifeng (An)...
...Iblis Kehancuran, Salah satu dari Kelima Bencana Besar di Kerajaan Li...
-Saat Hua Yifeng menjadi An, dia akan menggunakan wajah yang lebih dewasa. Tak ada yang tahu wajah asli Hua Yifeng. Termasuk Yi Hua. Hayo tebak yang mana wajah asli dari Hua Yifeng?
-Usia Hua Yifeng tak diketahui. Namun jika dari riwayat hidupnya yang sudah ada di zaman Raja terdahulu, mungkin usia asli Hua Yifeng itu sekitar 40-an ke atas. Kayak usia ayahnya Yi Hua gitu. Tapi itu usia keseluruhan, karena sebenarnya usia Hua Yifeng itu sudah berhenti saat dia mati sebagai manusia.
-Hua Yifeng mulai terkenal sebagai Bencana Besar atau pendosa ialah sejak dia membantai seluruh anggota keluarga kerajaan. Hanya tersisa satu yang hidup, yaitu Li Shen yang saat itu masih berusia sepuluh tahun.
-Hua Yifeng adalah petarung dengan pedang. Nama pedangnya Li Wei. Ciri khas pedang Li Wei adalah warnanya yang serba hitam. Juga ada gantungan cantik di bagian ganggang pedang. Masih menjadi misteri tentang asal-usul gantungan cantik dari perak itu.
-Karakteristik Hua Yifeng adalah tato atau gambar yang menghiasi wajahnya. Makanya di awal-awal pertemuan Hua Yifeng menggunakan topeng. Ada alasan tentang itu semua.
-Warna karakter Hua Yifeng adalah hitam dan merah. Dia paling sering terlihat dalam warna-warna itu.
-Secara tersirat, Hua Yifeng itu sebenarnya punya gen biawak di dalam dirinya. Dia sering merayu Yi Hua, bahkan tak segan-segan merayu Yi Hua. Tapi gen biawak ini hanya berfungsi pada satu orang, yaitu Yi Hua.
...Liu Xingsheng dan Huan Ran (Perdana Menteri Kerajaan Li)...
...Liu Xingsheng...
...Huan Ran...
-Usia Liu Xingsheng itu 19 tahun, sedangkan Huan Ran itu tak diketahui.
-Sistem dua Perdana Menteri ini muncul karena tonggak kekuasaan yang lemah. Sehingga sebagian pekerjaan penting dialihkan ke Perdana Menteri. Raja hanya pihak final yang menyetujui atau tidak tentang keputusan Perdana Menteri.
-Kakak Liu Xingsheng adalah Liu Xinqian atau Selir Qian. Sebenarnya mereka itu kembar, tetapi tak begitu mirip dari karakter. Apalagi Selir Qian sangat terlihat sangar dibanding Liu Xingsheng yang lembek seperti tahu.
-Keluarga Huan Ran tidak terlalu diekspos dalam cerita ini. Tentang Huan Ran juga agak misterius. Huan Ran adalah petarung dengan pedang.
-Liu Xingsheng tak terlalu mahir menggunakan pedang. Huan Ran adalah seseorang yang paling tinggi bela dirinya di Kerajaan Li. Ini karena tidak menghitung An yah.
...Wei Qionglin (Jenderal Besar Kerajaan Li)...
-Karakter Wei Qionglin adalah babang tampan nan mempesona yang hobi tebar bunga di kawasan para gadis. Jika kau gadis, lalu Wei Qionglin tak mengenalmu, maka kau tak cantik. Entah bagaimana, tetapi itulah standar kecantikan di Kerajaan Li.
-Usianya sekitar tiga puluhan ke atas. Tugas pertamanya turun dalam urusan kerajaan adalah saat pembantaian di Lembah Debu. Saat itu dia masih menjadi prajurit biasa. Dia adalah petarung dengan pedang.
...Selir Qian (Liu Xinqian)...
-Selir Qian adalah wanita pertama yang dinikahi oleh Raja Li Shen. Ada cerita tersendiri tentang mereka berdua, sehingga Selir Qian tak bisa menjadi Ratu.
-Seorang tabib kerajaan yang hebat. Pandai bertarung dengan pedang. Menguasai banyak alat musik. Sifatnya agak pemarah, terutama pada Liu Xingsheng.
__ADS_1
-Tak ada yang tahu perasaan Selir Qian pada Raja Li Shen. Namun dari sekilas momen mereka, terlihat Raja Li Shen itu sangat memperhatikan Selir Qian.
-Dia adalah orang kerajaan yang tahu bahwa jika Yi Hua adalah seorang gadis.
...Yang Mulia Raja Li ( Li Shen)...
- Usianya sembilan belas tahun. Saat Hua Yifeng membunuh seluruh anggota kerajaan Li, Li Shen berusia sepuluh tahun. Satu-satunya keturunan Li yang tersisa. Dia sedikit pendendam, dan sangat membenci kakaknya sendiri, Li Wei.
-Punya satu anak dari Selir Wen, yaitu Li Quon. Namun Raja Li Shen juga tak menjadikan Selir Wen menjadi Ratu meski dia melahirkan Putera Mahkota.
-Masih misteri tentang kehadiran An tersebut. Entah Raja Li tahu atau tidak tentang kehadiran Hua Yifeng di kerajaan.
-Ia sangat cepat mengambil keputusan. Apalagi jika keputusan yang berdasarkan emosi sesaat.
...Wang Zeming (Penasihat Kerajaan)...
...Ling Xiao (Mantan Peramal Tersohor Kerajaan Li)...
-Secara tersirat, Ling Xiao adalah teman dekat Hua Yifeng.
-Dahulu dia adalah peramal terkenal. Tapi karena ramalannya membuat bencana, dia diusir dari Kerajaan Li. Sekarang Ling Xiao tinggal di kawasan Lembah Debu.
-Kesibukannya adalah melukis.
...Lima Bencana Besar Kerajaan Li...
...Puteri Hitam, Li Wei...
-Cerita tentang tokoh ini adalah hal penting dalam cerita.
-Disebut pendosa karena menciptakan banyak petaka di Kerajaan Li.
-Terbesit cerita jika Li Wei memiliki hubungan dengan Hua Yifeng. Namun tak ada bukti konkret dari itu semua.
-Senjatanya: Lingkaran Mawar. Itu adalah lingkaran yang dibuatnya untuk menjawab semua keinginan manusia.
...Iblis Kehancuran, Hua Yifeng...
...Pendeta Buta, Shen Qibo...
...Tengkorak Putih, Bao Jiazhen...
Mereka adalah karakter yang perlu kalian ingat dalam cerita ini. Beberapa dari mereka belum muncul, tetapi suatu saat mereka akan muncul. So, sekian nama-nama mereka. Kita masuk dalam cerita sebab aku tidak suka membuang-buang jatah chapter hanya untuk nama karakter, dan lain-lain.
Masuk pada isi cerita ...
...***...
Kuas dengan cat warna hitam pekat bergerak dengan cukup aktif. Terutama saat hanya itu yang bisa dikerjakan oleh Ling Xiao hari ini. Hal yang ia lukis adalah seorang gadis dengan pakaian serba hitamnya. Kemudian, di gambar itu bukan hanya ada si gadis. Ada juga gambar lain, yaitu pria yang tengah membaca buku yang berada di dekat sang gadis.
Saat ingin melukis wajah pria itu, Ling Xiao berhenti sejenak. Pasalnya dia sendiri seperti mempertanyakan bagaimana rupa pria ini. Sejatinya ia mulai lupa, atau dirinya juga telah menjadi tua. Entahlah.
Akhirnya, ia melukis bunga mawar untuk hiasan di kepala sang gadis. Ling Xiao merasa jika lukisannya hari ini berjalan dengan sangat baik. Tanpa ada coretan, dan tidak ada yang mengganggunya untuk melukis ...
BRAK!
SYUT
Mata Ling Xiao menatap nanar pada garis melintang seperti alis mata sapi yang muncul di atas lukisan sang gadisnya. Senyum Ling Xiao muncul, tetapi bukan senyum kepuasaan. Ia berpikir untuk segera menendang siapapun yang datang itu.
Namun ketika dia ingin bertanya ...
BRAK!
"Saya ingin Anda mengatakan semuanya!" teriak sosok yang baru datang itu sambil menepuk lukisan yang baru Ling Xiao buat.
Hal tersebut membuat senyum Ling Xiao menjadi lebih lebar. Terutama saat melihat lukisannya yang ditambah gaya baru. Yaitu, gaya cap tangan.
Ling Xiao menatap pada Yi Hua yang terlihat sangat berantakan. Sosok ini seperti telah menggelinding di dalam sampah. Pakaian putihnya yang sederhana telah berganti warna dengan kotor. Rambutnya juga terikat miring, seolah tatanan rambut anti badai ini malah menjadi rambut penerima badai. Belum lagi dengan mata merahnya.
Ling Xiao dengan takut-takut menarik lukisannya dari dekat sosok itu. Ia tak mau 'anak-anak'nya semakin menderita di tangan kejam Yi Hua. "Apakah peramal Yi datang kemari dengan menunggang sapi?" tanya Ling Xiao dengan ramah.
Ia memutuskan untuk berhenti melukis, sebab ia yakin jika Yi Hua akan mendepak kepala Ling Xiao jika tak mendengarkannya. Ling Xiao segera menuju pada mangkuk teh yang awalnya milik Ling Xiao. Ia sungguh tak tahu jika dia akan memiliki tamu hari ini. Sehingga ia hanya bisa memberikan mangkuk teh miliknya sendiri.
Ling Xiao meletakkannya di depan Yi Hua. "Silahkan diminum terlebih dahulu, Peramal Yi."
Aku masih sangat ingat jika kau memberiku minuman aneh saat aku ada di sini!
Lalu, di telinganya Xiao berseru. Sepertinya sistem itu sudah sadar sepenuhnya. Sungguh sistem yang sangat lambat. "Yi Hua, aku memeriksanya. Senior-mu ini sudah sempat meminumnya."
"Di saat seperti ini kau sangat cepat bekerja, Xiao. Seandainya kau memberitahuku ini ..." Yi Hua tak sanggup menyebutnya. Walau hanya di dalam hati.
Xiao lagi-lagi mengeluh, "Meski kau marah padaku sekali pun semuanya tak akan berubah, Yi Hua. Lagipula, aku sama sekali tak tahu jika Hua Yifeng memiliki hubungan dengan masa lalumu."
Sebentar ...
__ADS_1
"Bukankah kau pernah mengatakan jika 'seandai'nya aku mengenal Hua Yifeng di kehidupan sebelumnya, maka kau juga akan mengenal Hua Yifeng? Itu semua karena kau terhubung dengan masa laluku," ujar Yi Hua untuk meminta kejelasan.
"Itu benar. Sepertinya pria itu hanya memendam perasaanya padamu. Lalu, ketika kau mati dia berusaha untuk menghidupkan dirimu kembali. Hanya itu yang bisa aku simpulkan. Benar atau tidak, aku tak tahu. Jadi, perasaan yang kau miliki itu mungkin bukan dari masa lalu. Kau di masa lalu tak mencintai dia, tetapi kau mencintai dia di masa sekarang," tegas Xiao yang tak mau disalahkan.
Percayalah Yi Hua sendiri tak tahu mengapa dia bisa menangis sekeras itu sebelumnya. Terutama ketika melihat apa yang dilakukan oleh pria itu. Mencintai tanpa ingin menyampaikannya. Sulit dipercaya jika Hua Yifeng adalah orang yang seperti itu.
Ling Xiao memperhatikan Yi Hua yang terdiam. Awalnya dia takut jika Yi Hua akan kerasukan dan bertingkah seperti sapi. Jelas Ling Xiao tak ingin merelakan rumah satu-satunya ini untuk dijajah oleh Yi Hua.
"Mengapa Hua Yifeng selalu mengikuti saya?" tanya Yi Hua langsung pada topiknya.
Akibat nada bicara Yi Hua yang tinggi, dan Ling Xiao yang waspada padanya, itu yang membuat Ling Xiao tersentak. Ini tak seperti dirinya tak tahu betapa pemarahnya Yi Hua ini. Namun dari pertanyaannya ... Ling Xiao segera berubah ekspresi.
Ling Xiao menghela napas saat pertanyaan itu datang padanya. "Mengapa Peramal Yi ingin tahu?"
"Saya melihat kejadian ..." Yi Hua berhenti bicara saat ia mengingat bahwa Yi Hua seharusnya tak memberitahu Ling Xiao tentang apa yang ia lihat.
Penglihatan batinnya adalah hal yang rahasia. Bagaimana pun semua kemampuan itu merujuk pada sistem bernama Xiao yang ada di dalam tubuhnya ini. Itu akan menjadi pertanyaan besar dan Ling Xiao mungkin akan tahu jika ada 'sesuatu' di dalam dirinya.
"Intinya adalah mengapa Hua Yifeng mengikuti saya? Apakah karena ..." Sebenarnya Yi Hua tak yakin tentang ini.
Namun semuanya mulai terkumpul, dan Yi Hua takut sendiri jika identitasnya telah diketahui. Dari sekian banyak orang, mengapa ...
DRAKK!
Ling Xiao malah berjalan menuju ke suatu tempat. Tangannya terulur untuk mendorong dinding rumahnya. Awalnya Yi Hua berpikir jika Ling Xiao tak memperhatikannya, tetapi ternyata Ling Xiao malah membuka salah satu pintu. Pintu yang tak pernah Yi Hua sadari.
Akan tetapi, dari detail rapi buatan pintu itu agak berbeda dari kediaman sederhana pada umumnya. Biasanya orang-orang yang bukan pejabat dan pedagang kaya mereka tak akan menghabiskan begitu banyak uang untuk membuat pintu yang bagus. Apalagi jika rumah mereka bukanlah rumah yang mewah.
Meski begitu, pintu itu sangat baik seolah dibuat oleh tukang yang handal. Begitu juga dengan pintu di kediaman Yi Hua ...
Mungkin ...
"Aku tak tahu harus menjawab apa karena sebenarnya Hua Yifeng tak pernah berbicara dengan baik padaku," ujar Ling Xiao yang menunjuk pada lukisannya yang terbelah di sana-sini.
Ling Xiao rupanya masih memasang lukisan itu di kediamannya. Mungkin karena sayang. Yi Hua ingat jika saat itu, An ... Yah, Hua Yifeng menebas lukisan-lukisan milik Ling Xiao. Yi Hua tak tahu bagaimana bisa kedua orang ini menjadi teman. Sungguh!
"Tapi, ia pernah belajar melukis dahulu sekali. Dia mengatakan padaku bahwa ia ingin melukis seseorang hanya agar dia tak pernah melupakannya," jelas Ling Xiao dengan senyum tipis di wajahnya.
SRET!
Yi Hua memasuki ruangan yang baru dibuka oleh Ling Xiao. Matanya mengamati pada ruangan itu, tetapi yang ia temukan hanyalah buku-buku yang bertebaran. Ling Xiao mungkin menjadikan ruangan ini sebagai tempat penyimpanan. Baru saja ia ingin bertanya dimana lukisan yang dimaksud oleh Ling Xiao, tetapi matanya langsung menangkap gulungan yang tergeletak sembarangan di sana.
Tentu saja sebagai ruangan penyimpanan gulungan seperti ini pasti sering ditemui. Akan tetapi, yang membuat Yi Hua tertarik pada gulungan itu ialah karena tumpahan tinta hitam yang mendominasi di gulungan itu.
Yi Hua langsung mengambilnya dan membuka.
Eh?
Ini lukisan atau sapi yang menjelajah di atas kertas. Yi Hua menatap Ling Xiao, "Apa dia melukis ikan?" tanya Yi Hua bingung.
Jika lukisannya seperti ini jelas Hua Yifeng tak akan bisa mengingat siapa-siapa. Sebab, lukisan ini tak mirip dengan siapapun. Bahkan jika ditanya pada orang paling cerdas di dunia ini pun maka Yi Hua yakin dia tak akan bisa mendefinisikan hasil lukisan ini.
Ling Xiao nyaris tertawa ketika mendengar komentar Yi Hua. "Tapi Hua Yifeng pernah mengamati lukisan itu seharian. Ku pikir lukisannya benar-benar mirip dengan orang yang ia pikirkan."
Yi Hua merasa tak terima dengan ungkapan Ling Xiao. Sehingga daripada dia mencekik Ling Xiao yang jelas-jelas sudah lanjut usia ini, Yi Hua hanya mengamati lukisan ini lebih detail. Memang benar lukisan ini benar-benar mirip dengan sampah yang menumpuk di dunia. Akan tetapi, Hua Yifeng tampaknya lebih pandai melukis bunga dibandingkan manusia.
Itu karena ...
Xiao berucap di telinga Yi Hua, "Jepit rambut bunga itu mirip dengan gantungan di pedang Hua Yifeng."
Yi Hua menyentuh pedang yang ia sembunyikan di bagian dalam jubahnya.
"Siapa dia?" tanya Yi Hua dengan takut-takut.
Bagaimana pun dirinya sudah memiliki banyak dugaan di dalam kepalanya. Meski ingatannya belum kembali, tetapi dia sudah mulai bisa menebak siapa dirinya di kehidupan sebelumnya. Belum lagi dengan rasa familiar yang sering Yi Hua rasakan ketika berada di dalam istana.
"Puteri Li Wei."
DEG!
Yi Hua sudah menyiapkan diri, tetapi ia tetap tak ingin mengakuinya. Rasanya hidup sebagai Yi Hua saja sudah menjadi penderitaan yang sangat besar. Terutama Yi Hua adalah seseorang yang paling sial di jajaran muka bumi ini.
Akan tetapi, ...
"Selamat telah menemukan dirimu sendiri. Wah, kau pasti terkesan saat tahu dirimu adalah musuh besar Kerajaan Li, bukan?" ucap Xiao yang entah mengejek atau tidak. Namun Yi Hua cukup sebal dengan ucapan itu.
Jika ada orang lain yang tahu jika Puteri Li Wei adalah dirinya ...
SRING!
Kala itu Yi Hua bisa merasakan dingin di bagian lehernya. Ia segera menutup kembali lukisan itu hanya untuk menoleh pada Ling Xiao. Tepatnya pada tangan Ling Xiao yang mengarahkan pedang pada Yi Hua.
"Bagaimana bisa kau terlahir kembali?" Ling Xiao bertanya untuk tahu jawabannya.
Masalahnya adalah Yi Hua juga tak tahu bahwa dirinya adalah Bencana Besar di Kerajaan Li.
Adakah kesialan yang lebih besar dari ini semua?
Saat kau bisa hidup kembali dengan pikiran bahwa kau ingin hidup yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya, tetapi nyatanya kau adalah manusia paling ingin dibunuh dalam sejarah.
PLOK PLOK
Xiao bertepuk tangan lagi, "Selamat, misi pertama selesai. Apa kau ingin hadiah piring cantik? Kau telah tahu identitasmu. Selanjutnya adalah mengembalikan ingatan tentang dirimu di kehidupan sebelumnya."
S*alan!
***
Selamat membaca.
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~