Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Bencana yang Paling Besar


__ADS_3

"Maaf, Nona. Katanya manusia di dunia ini seringkali mirip. Itu mungkin kami mirip atau mata Anda yang kelilipan sapi," ujar pria pengemis itu yang masih menunduk. Ia berjalan pincang dengan tongkat kayunya yang ia tekan dengan tangan kanan.


Yi Hua mengerutkan keningnya. Dan tanpa penghormatan Yi Hua menyeret sosok itu seperti membawa kucing. Tentu saja bisik-bisik semakin besar, dan isu tentang Yi Hua yang sifatnya seperti sampah pun semakin di koar-koarkan.


Yah ... Apa perduli Yi Hua.


Meski berbusa-busa menjelaskan belum tentu mengubah pandangan orang. Itulah yang sering terjadi. Sebab, yah kebanyakan hobi manusia ialah 'mencari kesalahan orang lain'.


"Kau memanggilku Nona?" tanya Yi Hua dengan senyum licik.


"Maksudnya Tuan ..."


Satu-satunya orang kerajaan yang tahu jika Yi Hua seorang gadis adalah Liu Xinqian. Setelah semua petualangan mereka, Yi Hua yakin Liu Xingsheng tidak mematung begitu saja. Otak dan ingatan Liu Xingsheng berfungsi, walau tubuhnya kaku. Itulah mengapa Liu Xingsheng bisa merespon apapun di sekitarnya.


Tidak aneh jika Liu Xingsheng menyadari jika Yi Hua adalah perempuan. Apalagi Liu Xingsheng mungkin mendengar ucapan Yi Hua ketika bersama Hua Yifeng. Yah, setidaknya Liu Xingsheng tidak begitu polos hingga tak bisa membedakan antara pria dan perempuan.


SRET!


Yi Hua berjongkok di pinggir sungai yang tenang. Di sampingnya masih ada Liu Xingsheng yang masih berniat melarikan diri. Namun karena Yi Hua menerbangkan kertas jimat di sekitarnya, Liu Xingsheng menjadi tak berani.


Kadang Yi Hua sering kelepasan jiwa setannya.


"Jadi kau mengenaliku?" tanya Liu Xingsheng yang lelah sendiri.


Yi Hua menghela napasnya. "Anda juga tahu jika saya perempuan. Lagipula, meski Anda pura-pura pincang, aku bisa mengenalmu dengan baik, Perdana Menteri Liu," ujar Yi Hu sambil menatap Liu Xingsheng yang berjalan tertatih untuk bersisian dengan Yi Hua.


"Oh, kalau yang ini tidak pura-pura."


Xiao berkata di telinga Yi Hua. "Kakinya memang pincang, HuaHua."


"Juga ... Yi Hua, apa kau lupa jika aku bukan siapa-siapa," bisik Liu Xingsheng dengan senyumnya yang cerah.


Sebenarnya tanpa Xiao jelaskan Yi Hua sudah mengerti. Karena jawaban Liu Xingsheng itu Yi Hua tak bisa berkata apa-apa. Ditambah lagi Liu Xingsheng di hadapannya terlihat seperti biasanya. Tidak seperti ia telah mengalami banyak hal.


"Apakah Huan Ran ... Tidak ... Tuan Bao Jiazhen yang ..."


Liu Xingsheng duduk di hamparan rumput tipis. Memandang sungai yang mengalir tenang di depannya. Ada beberapa perahu milik penduduk yang mengarungi di atasnya. Belum lagi terlihat orang-orang yang saling menyapa dan bercakap. Wilayah sungai ini cukup ramai, karena dekat dengan pasar.


Kehidupan yang tenang.


"Tidak, Yi Hua. Dia tidak sejahat yang kau kira. Ini terjadi karena aku tak bisa melindungi diriku sendiri. Saat aku bangun, aku berada di wilayah kerajaan Xin. Yah, setahuku seperti itu. Sepertinya kakakku juga menggambar segel perpindahan di sekitarku," ujar Liu Xingsheng hambar.


Liu Xinqian tak pernah berubah. Ia akan melakukan apa saja agar Liu Xingsheng tetap selamat.


"Bagaimana kau bisa sembuh?" tanya Yi Hua langsung. Walau lidahnya terasa aneh saat tak memanggil orang di depannya ini tanpa panggilan penghormatan.


"Sepertinya aku tidak sembuh begitu saja. Namun ... Kendali Bao Jiazhen yang menghilang," jelas Liu Xingsheng.


Dan sepertinya?


Saat terkena kutukan tengkorak putih, tak ada yang bisa lepas dari kutukannya. Tidak ada obatnya. Itu adalah apa yang dipercaya oleh setiap orang.


"Ada dua kemungkinan jika itu bisa terlepas. Pertama, Tuan Bao Jiazhen yang melepaskannya sendiri. Atau, kedua ... Tuan Bao Jiazhen tak bisa mempertahankan kutukannya," jelas Yi Hua yang sebenarnya hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh Xiao.


Akan tetapi, karena jawaban itu Liu Xingsheng tersenyum pada Yi Hua.


"Berhati-hatilah tentang apa yang kau ucapkan, Yi Hua. Kau sepertinya selalu tahu banyak hal," ujar Liu Xingsheng dengan senyum cerahnya.


"Tapi ... Bagaimana bisa? Apa karena bertarung dengan Tuan Hua Yifeng hingga Tuan Bao Jiazhen kalah?" tanya Yi Hua.


Meski Bao Jiazhen adalah Tengkorak Putih, tetapi masih Yi Hua ingat bahwa orang ini jugalah Huan Ran. Baru sekitar sebulan yang lalu Yi Hua masih memanggilnya dengan Perdana Menteri Huan. Sehingga jika dia hilang ... Oh tidak.


"Aku juga tidak mengerti, Yi Hua. Namun saat bertemu kalian berdua sekarang, aku menyadari sesuatu."


"Apa itu?"


"Kekuatan mata pria Yue itu tidak bisa digunakan. Padahal kita tahu bahwa kekuatan itu hampir sama dengan kekuatan milik Tuan Shen Qibo," jelas Liu Xingsheng.


Kemudian, Liu Xingsheng memberikan sebuah benda yang sangat Yi Hua kenal. Sebuah hiasan kepala dengan pertama warna merah mencolok. Ia mengenalnya karena hiasan jepit rambut ini biasanya melekat di pedang Hua Yifeng.


Yi Hua mengambil benda itu dengan tangan bergetar.


"Apakah kau tidak menyadari jika Tuan Iblis Kehancuran juga tidak ada di sekitarmu?" tanya Liu Xingsheng.


Apa itu berarti terjadi sesuatu yang membuat bencana besar ini kehilangan kekuatannya?


"Aku tahu kau bingung. Aku juga. Namun kakakku pernah mengatakan sesuatu padaku. Pohon Iblis adalah sumber dari energi iblis di dunia. Sehingga kakakku meneliti jika sumber kekuatan dari Lima Bencana besar adalah Pohon Iblis. Dengan Tuan Hua Yifeng yang terpilih sebagai 'Tuan'. Itu karena mungkin Tuan Hua Yifeng adalah keturunan asli dari Klan Bao."


Bukan lagi mungkin. Hua Yifeng memanglah seorang Bao.


"Tuan Hua Yifeng sangat kuat karena dia bisa mengendalikan Pohon Iblis sepenuhnya. Sedangkan para bencana lain tidak. Kekuatan mereka tidak sebesar Tuan Hua Yifeng, meski itu Bao Jiazhen, yang juga merupakan klan Bao. Kemudian, kakakku pernah mengatakan sesuatu tentang ini semua ... Bagaimana jika Pohon Iblis memang sengaja memilih mereka?" tanya Liu Xingsheng sambil menatap pada langit yang mendadak mendung.


Sepertinya hujan akan turun di malam hari nanti. Atau mungkin ... Sekarang?


"Setiap yang terjadi di dunia mungkin bagian dari takdir. Setiap orang memiliki dendam dan hasrat jahat di pikirannya, tetapi mengapa hanya Lima Bencana Besar yang punya kekuatan besar yang menakutkan? Semua orang pernah mengalami kematian dengan tragis, tetapi hanya mereka yang diberi kekuatan untuk membalaskan dendamnya. Apakah kau pernah berpikir tentang itu?" tanya Liu Xingsheng yang mungkin mendapatkan sumber pemikiran ini dari kakaknya.


Sepertinya Liu Xinqian mengerti 'kejanggalan' di sekitar mereka. Namun wanita itu tak bisa mengatakan apapun lagi sekarang.


Tapi itu memang benar. Dari sekian banyak rasa benci dan marah, tetapi tak semua dari mereka mendapat kekuatan untuk menjadi 'kehancuran'. Apalagi Pohon Iblis ini terbentuk dari kumpulan kekuatan dari setiap generasi dari Pangeran Penduka.


"Ini seperti 'sesuatu' tengah mempersiapkan kekuatan untuk mengatasi 'sesuatu'. Ia memiliki Lima Bencana sebagai bagian dari rencananya."


"Itulah mengapa Liu Xingsheng berpikir jika ada sesuatu yang tengah mengumpulkan kekuatan untuk membuat kehancuran sebenarnya?" tanya Yi Hua dengan suara bergetar.


Xiao berseru di telinga Yi Hua. "Itu masuk akal. Apa kau tidak aneh saat kau dihidupkan kembali? Ini seperti sengaja membuat Lima Bencana untuk berkumpul lagi. Lalu, Shen Qibo meski sudah mati, tetapi entah bagaimana kekuatannya berpindah ke Yue Yan. Itu berarti saat sebuah 'bencana' hilang, maka kekuatannya akan terlahir kembali. Apa itu berarti di kehidupan terdahulu di setiap generasi Pangeran Penduka, Lima Bencana ini juga ada? Kalian yang sekarang hanyalah kelahiran kembali dari lima bencana yang dahulu."


Seperti yang pernah ia baca di tulisan dari Selir Qian. Kekuatan itu akan terus terlahir kembali. Lagi dan lagi. Tanpa henti. Hingga Pangeran Penduka bisa membalas dendamnya. Tapi pada siapa?


Manusia. Keluarga kerajaan yang dahulu membuatnya harus mengorbankan diri demi menghilangkan bencana?


Itu adalah sesuatu yang telah berlalu, sehingga jika Pangeran Penduka ini membalas dendam pun maka itu pada orang yang salah.


"Apa itu berarti Hua Yifeng ..." Yi Hua tak bisa mengatakan apapun.


Ia masih ingat jika Hua Yifeng lemah berkata pada Yi Hua untuk mempercayainya.


"Aku tidak melakukan apapun, Yi Hua."


"Aku pikir juga Tuan Hua Yifeng ini ialah kelahiran kembali dari Pangeran Penduka. Namun ... dengan kutukan Tengkorak Putih yang pudar, juga kekuatan penglihatan Yue Yan yang perlahan menghilang, serta Tuan Hua Yifeng yang tak terlihat di sekitar mu sekarang. Itu berarti ada yang salah dengan mereka," jelas Liu Xingsheng sambil menatap Yi Hua.


Apakah Tuan sebenarnya dari Pohon Iblis akan muncul? Kelahiran kembali dari Pangeran Penduka.

__ADS_1


"Aku takut jika bencana ini adalah bencana yang paling besar nantinya," ucap Yi Hua yang tak tahu harus berkata apa lagi.


Mungkin kehancuran dunia.


***


SRET!


"Tuan Yue ... Anda masih menulis laporannya dengan salah," tegur Wang Zeming ketika melihat hasil pekerjaan Yue Yan.


Bagaimana pun Yue Yan diminta untuk mengerjakan atau mengatasi 'masalah' buatan yang dibuat oleh Wang Zeming sebagai perandaian. Hanya untuk melihat bagaimana Yue Yan mengatasi masalah. Selain itu, ada banyak pembelajaran lain yang Yue Yan harus pelajari.


Aku akan membunuh Yi Hua setelah ini!


Yue Yan tak mengangkat kepalanya dari meja. "Kau tahu aku dijebak di sini!" teriak Yue Yan.


Wang Zeming memukul kepala Yue Yan dengan gulungan kertas. "Perbaiki ucapanmu itu. Anda bahkan tak mendengarkan penjelasan guru lain di Pelatihan Awan."


"Suruh saja Raja itu yang mengerjakan semua ini sendiri," bantah Yue Yan.


BUKHHH!


Lagi-lagi Wang Zeming memukul kepala Yue Yan dengan gulungan kertas. "Tugas Perdana Menteri memang membantu Yang Mulia Raja. Anda harus mempelajari beberapa peraturan kerajaan, bahkan mengetahui orang-orang penting di kerajaan."


"Apa dengan semua itu semua hal di kerajaan ini bisa diatasi?" tanya Yue Yan sambil menggosokkan dahinya di meja tempat ia belajar.


"Maaf?"


"Hanya dengan aku menyelesaikan contoh masalah yang kau buat di kertas ini, apa itu sudah selesai? Setidaknya jika pada dunia nyata ... Apa kau pikir semua keputusan yang kau buat akan menyelamatkan semua orang? Setidaknya satu kerajaan ini saja." tanya Yue Yan langsung pada apa yang ia pikirkan.


Wang Zeming terdiam sejenak.


"Kau tahu bukan semua ini hanyalah perencanaan agar kedepannya kau bisa mengambil keputusan sebagai Perdana Menteri," lanjut Wang Zeming, yang entah mengapa menjadi non formal.


Mungkin Yue Yan perlu penyesuaian terlebih dahulu terhadap perubahan ini.


"Lalu, bagaimana jika keputusan itu salah? Mungkin aku akan dinilai tak berguna, pembuat masalah, dan lainnya. Mereka akan menyalahkan aku meski aku telah berusaha untuk mengatasinya. Padahal tak semua orang bisa mengatasi setiap masalah." Yue Yan adalah orang yang selalu jujur dengan apa yang ingin dikatakannya.


Itu seringkali terjadi.


Mendadak Wang Zeming tertawa pelan. Hingga Yue Yan mengangkat kepalanya. Memperhatikan Wang Zeming karena takut orang ini kerasukan tiba-tiba karena marah.


"Dahulu ada seseorang yang berusaha untuk mengakhiri bencana dengan mengorbankan dirinya sendiri. Itu sangat menyedihkan jika diingat," ucap Wang Zeming yang merasa sangat tua sekarang.


Yue Yan mengerutkan keningnya. "Siapa yang kau ... Ah tidak ... Siapa yang Anda maksud?" tanya Yue Yan yang merasa geli dengan ucapannya sendiri.


"Dia beranggapan jika semua bencana yang datang adalah karenanya. Ditambah lagi Xin Wantang terkutuk itu membuatnya dalam situasi sulit. Sehingga mereka berpikir bagaimana cara menghilangkan bencana penyakit batu aneh di Kerajaan Li dan sekitarnya ini. Oleh karena itu, Putri Li Wei mengorbankan dirinya sendiri untuk menghilangkan kutukan. Dengan pemikiran jika pemberi kutukan hilang, mungkin semua kutukan akan hilang," ucap Xin Wantang sambil menutup gulungan-gulungan yang berantakan di lantai kayu.


Ia mengingat kembali tentan Putri Li Wei. Seseorang yang dahulunya di puja oleh penduduk sebagai orang yang cerdas. Bahkan banyak yang mengelu-elukannya sebagai kandidat Raja selanjutnya. Namun semuanya berubah karena bencana besar serta fakta jika Putri Li Wei adalah Calon Raja dalam ramalan.


Karena tahta tak segera diberikan pada Putri Li Wei, makanya semua bencana terjadi. Mereka melanggar ramalan dewa. Itulah mengapa semua orang marah pada Ling Xiao yang menyembunyikan fakta tentang siapa pewaris tahta yang sebenarnya.


Jika Ling Xiao lebih cepat mengucapkan ramalan, mungkin Li Wei bisa naik tahta lebih cepat. Bahkan sebelum bencana.


Oleh karena itu, untuk mematahkan ramalan ialah dengan membunuh si Calon Raja dalam ramalan. Sehingga memutuskan yang 'ada' menjadi 'tidak ada'. Itu kejam, tetapi ini adalah keputusan yang sama seperti seratus tahun yang lalu.


"Lalu, mengapa semua orang membenci Putri Li Wei? Ini bukan salahnya," ucap Yue Yan yang merasa jika Putri Li Wei tak pantas untuk disalahkan.


"Mungkin kau hanya perlu menyalahkan orang lain dalam sebuah kegagalan dan kesakitan. Hanya agar kau merasa baik untuk dirimu sendiri," jelas Wang Zeming menutup pembelajarannya hari ini untuk Yue Yan.


Entah Yue Yan paham atau tidak.


***


"Sudah ku duga."


SLAPP ...


"Tunggu sebentar. Ini aku!"


Yi Hua menerbangkan kertas jimatnya ke arah belakang. Tepatnya pada pemilik suara yang mengejutkannya itu. Akan tetapi, kertas jimatnya terpental ketika sosok itu memukulnya dengan tongkat kayu.


"Liu Xingsheng," ucap Yi Hua setelah ia mengenali orang yang mengejutkannya itu.


Pasalnya, ini sudah malam dan siapa yang tak siaga. Apalagi saat ini Yi Hua berada di kawasan gunung Hua.


Yahh ... Yi Hua mungkin akan memasuki Gunung Hua malam ini.


"Siapa yang mengatakan bahwa ia tak khawatir, tetapi berani datang ke wilayah Kerajaan Hantu ini," ejek Xiao tanpa kira-kira.


Yi Hua berdecak. Ia hanya penasaran!


"Yi Hua pasti akan memeriksa bagaimana keadaan Tuan Iblis Kehancuran," ujar Liu Xingsheng melanjutkan.


Bagaimana pun setelah semua penjelasan aneh dan panjang itu, Yi Hua tentu saja tak langsung mengerti. Sehingga jika ia ingin tahu, maka ia perlu melihat keadaan Gunung Hua. Ini bukan berarti dia ingin melihat Hua Yifeng. Dia hanya ingin melihat keadaan wilayah hantu itu, jika memang Hua Yifeng melemah!


Yi Hua berjalan pelan tanpa menghiraukan ucapan Liu Xingsheng.


"Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah berbahaya di sini?" tanya Yi Hua pada Liu Xingsheng yang berjalan pincang di sampingnya.


Saat ini Liu Xingsheng tampil dengan sosok yang lebih rapi dari sebelumnya. Ia tak berpakaian seperti pengemis lagi. Kini ia dengan pakaian warna hijau muda, tetapi tak semewah pakaiannya sebagai Perdana Menteri dahulu.


"Lebih berbahaya lagi jika aku membiarkan seorang gadis yang pergi ke Gunung Hua," ucap Liu Xingsheng dengan senyum cerahnya.


Huh? Sekarang kau bilang begitu. Dulu aku tameng terdepanmu saat kau takut!


Yi Hua malas menanggapi ucapan Liu Xingsheng secara langsung. Lagipula Liu Xingsheng mungkin tak sepolos yang Yi Hua kira. Pria ini memiliki pilihannya sendiri.


"Jika kau ingin menyelidiki apa yang terjadi, aku ikut," ujar Liu Xingsheng.


Yi Hua berhenti sejenak. Sebenarnya ia juga lupa letak pasti dari gerbang 'tak kasat mata' untuk memasuki dunia kerajaan hantu. Sehingga kedatangan Liu Xingsheng sekarang mungkin adalah bantuan. Akan tetapi, ...


"Apakah kau akan balas dendam pada Bao Jiazhen?" tanya Yi Hua.


Ini akan menjadi cerita panjang yang tak tentu arah jalannya. Dulu Bao Jiazhen sampai menyamar untuk balas dendam pada Liu Xingsheng. Lalu, Liu Xingsheng yang balas dendam sekarang. Jika berhasil. Nanti Bao Jiazhen lagi yang balas dendam.


Begitu seterusnya. Tanpa usai bahkan sampai sapi tujuh kali bereinkarnasi.


"Tidak. Semuanya adalah takdir," tanggap Liu Xingsheng.


Jawaban Liu Xingsheng tak membuat Yi Hua terkejut. Sebab, Liu Xingsheng memang seperti ini. Orang ini cukup naif memandang dunia. Sehingga jauh dalam hati Liu Xingsheng, dia masih ingat betapa pentingnya Huan Ran dahulu di hidupnya.

__ADS_1


Meski hanya pura-pura, tetapi pertemanan yang terjalin di antara mereka berdua itu cukup lama.


"Aku hanya ingin tahu mengapa Kakakku harus dibunuh," lanjut Liu Xingsheng dengan nada tenang.


"Maafkan aku."


Liu Xingsheng menggelengkan kepala. "Ini bukan salah Yi Hua. Ini bukan salah siapa-siapa. Jika memang benar ada sesuatu di balik ini semua, mungkin kita yang terlibat sekarang hanya terkena imbas dari rencana busuk itu."


"Kau benar."


PLOK!


Yi Hua terkejut ketika Liu Xingsheng mendadak menepuk belakang Yi Hua agak keras. "Aku tahu."


Ya ampun semangat sekali berpendapat! Tapi jangan juga memukul seperti itu.


Yi Hua nyaris menendang kepala Liu Xingsheng saking kesalnya. Punggungnya sampai berdegup keras karena Liu Xingsheng menepuk dengan semangat. Berpendapat itu jangan terlalu pakai otot. Bahaya, nanti baku hantam.


Cukup pakai logika dan tata krama.


"Apa mungkin ini berkaitan dengan Putri Li Wei. Jadi dia nanti seperti ramalan yang kau ucapkan dulu. Lahir kembali dan balas dendam," ucap Liu Xingsheng dengan senyum cerahnya. Merasa paling pintar di dunia.


Namun Yi Hua hanya melihat pada Liu Xingsheng dengan gemas.


"Kenapa?" tanya Liu Xingsheng yang menyadari Yi Hua kesal.


"Hanya menatap."


"Apa?"


"Menatap kebodohanmu!" ucap Yi Hua yang merasa leluasa sekarang. Ia tak perlu takut mengatai Liu Xingsheng. Haha.


Li Wei yang kau takuti hidup kembali itu aku, sapi! Sepertinya pandangan kalian terhadap Li Wei terlalu besar.


la terlahir kembali dan tidak ada bencana apa-apa. Yang ada dia hampir dihukum mati saat baru saja hidup sebagai Yi Hua. Apanya Li Wei yang berencana menghancurkan dunia?!


SRET!


"Lalu, kita akan kemana sekarang?" tanya Liu Xingsheng yang ternyata tak berubah.


Yi Hua menghela napasnya. "Aku kira kau tahu jalan menuju Gunung Hua."


"Aku tak tahu. Waktu itu kita kan bersama Kakak Huan," jawab Liu Xingsheng dengan senyum di wajahnya.


Yah, ini bukan salah Liu Xingsheng. Ini salah Yi Hua yang mengharap besar pada Liu Xingsheng. Kadang Liu Xingsheng saja lupa dia sudah makan atau belum.


Lagipula, ... Tak sembarang orang yang bisa masuk ke Gunung Hua. Yi Hua sangat ingat itu! Hanya saat bulan akan berada pada ketinggian yang sempurna, sehingga batas antara dunia manusia dengan dunia makhluk halus akan terlepas. Artinya di saat bulan purnama penuh, maka Gunung Hua terbuka dan bisa dimasuki manusia.


TING! Setelah agak mendung sebelumnya, mendadak malam menjadi agak terang. Yi Hua mengangkat kepalanya dengan takjub pada dunia. Bulan purnama!


Eh?


Adakah kebetulan sebanyak ini? Padahal ia tak berencana apapun beberapa hari sebelum ini. Mana ia tahu juga tentang bulan purnama penuh ini.


"Tapi ... Bukankah berbahaya jika masuk ke Kerajaan Hantu dengan keadaan begini? Mereka akan mencium aroma manusia dari kalian," tanya Xiao yang mengingatkan Yi Hua.


Jika makhluk di sana tahu mereka manusia, maka Yi Hua dan Liu Xingsheng akan jadi 'makanan' untuk mereka. Ya ampun! Benar-benar tanpa persiapan.


"Tunggu dulu, Liu Xingsheng! Dahulu bagaimana cara kita menyamarkan bau manusia kita?" tanya Yi Hua yang mengingat-ingat kali pertama mereka masuk ke Gunung Hua.


"Hah? Memangnya ada yang seperti itu? Bukannya kita langsung masuk?"


Yi Hua mendadak ingin menggaruk gunung sekarang. Lebih baik dia bertanya pada anak sapi dibanding berdiskusi dengan Liu Xingsheng. Tapi yahh ... Dahulu Liu Xingsheng memang sangat bergantung pada orang di sekitarnya.


"Kemungkinan yang membuat kita tidak dikenali oleh para hantu ialah karena ada Huan Ran di samping kita. Dia bisa mengeluarkan aura iblis hingga tak ada hantu yang menyadari jika kita manusia."


Lihatlah. Mengapa mereka baru sadar tentang fakta itu sekarang? Pantas saja Bao Jiazhen dengan mudahnya menyamar sebagai Huan Ran. Bertahun-tahun dan tidak ketahuan.


"Apa kita kembali saja?" tanya Yi Hua lelah.


Akan tetapi, jika menunggu purnama penuh selanjutnya ... Mungkin itu ada di satu bulan kemudian. Terlalu lama. Si Bencana Selanjutnya ini mungkin sudah akan sempurna.


"Harusnya dulu kau 'nananinu' dengan Hua Yifeng. Jadinya, kau punya aura iblis di dalam tubuhmu," ucap Xiao yang memang terkadang sangat kurang ajar.


Mana boleh berbuat sesuatu seperti itu jika tidak menikah!


"Kau lupa jika kekasihmu itu iblis. Jika menikah itu dengan penghormatan pada Dewa, dan kau malah menikah dengan musuh Dewa? Ramah sekali!" ujar Xiao histeris.


Tunggu dulu. Jika Huan Ran bisa membagi aura iblisnya agar Yi Hua dan Liu Xingsheng tak tercium bau manusianya, berarti iblis lain juga bisa. Seperti ...


"Bukannya wilayah kekuasaan Tirai Berdarah Zhang Yuwen berada di dekat sini?" tanya Yi Hua yang ingat tentang sahabatnya itu.


Yah, walau Zhang Yuwen pasti tak akan tahu jika dirinya adalah Li Wei.


"Lalu?" tanya Liu Xingsheng kembali.


Yi Hua menepuk tangannya keras. "Kita bisa masuk dengan bantuan dia!"


Wajah Liu Xingsheng langsung pucat.


Ini bercanda, bukan?


Masalahnya ini adalah Tirai Berdarah, Zhang Yuwen!


Salah-salah mereka dijadikan mayat bergantung saat mereka memasuki wilayah kekuasaan Zhang Yuwen. Yah, mungkin juga Zhang Yuwen tak terlalu kuat sekarang, karena dia juga bagian dari Lima Bencana. Tapi yang benar saja!


Ini tetap saja iblis kejam seperti Bao Jiazhen dan teman sejawatnya ...


***


Yuhuuu ... ayam combekkkkk ...


Selamat membaca 😉


Bagaimana? Pasti tambah bingung. Tentu saja. Kalau cerita ini mudah dimengerti, maka pasti hujan aku yang buat. Maklum otakku kadang diblender dengan banyak konspirasi aneh.


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2