
Yi Hua memperhatikan Wei Fei yang bergerak seperti ingin melawan lagi. Gadis yang bersama dengannya tampak memeluknya untuk menghentikan. Siapa saja tahu jika dia tak berhenti melawan, maka dia akan mati dengan cepat.
Meski begitu, Wei Fei tetap memberontak lemah.
Yah, lemah.
Di sini Yi Hua hanyalah pihak yang menyaksikan.
"Semuanya sudah berakhir," ucap Huan Ran sambil memaksa untuk mendudukkan pria asing yang ia bawa itu.
Bagaimana pun ia tak menyangka jika kasus ini akan sangat berbelit. Bahkan ini bukan hanya tentang penculikan anak, tetapi juga hal yang agak aneh. Ditambah lagi dengan fakta yang dijelaskan oleh Yi Hua.
"Wei Fei tolong aku, Nak. Mengapa kau hanya diam di sana?" ucap pria itu dengan nada memelas.
Tatapannya terlihat seperti mengancam, tetapi ucapannya memelas. Itu membuat Yi Hua mengangkat alisnya. Ia jelas tahu betapa tidak tulisnya pria ini.
Lagipula, aku masih ingin bertanya obat awet muda apa yang digunakan oleh Paman ini!
Yi Hua jelas masih dengan otak dagangnya dan niat untuk mengumpulkan uang yang banyak. Ia adalah orang yang selalu berusaha mencari peluang usaha yang baik. Sayangnya, sampai sekarang Yi Hua belum punya pekerjaan yang lebih besar upahnya dibanding menjadi peramal.
Yi Hua segera menepis pemikirannya, dan lebih fokus pada keadaan. Bahkan saat ini ia berdiri di belakang pohon kecil. Entah pohon itu bisa melindungi dirinya atau tidak dari pertarungan. Yang penting dia memiliki perisai jika-jika An nanti salah tebas.
SRET!
Wei Fei tampak berusaha untuk berdiri kembali. Seolah dia memiliki suplai tenaga untuk melawan. Yi Hua bisa melihat begitu banyak darah yang mengalir dari bibir Wei Fei. Hal itu membuat Yi Hua mengingat tentang betapa cantiknya bibir Wei Fei ketika dia berias saat menari.
"Wei Fei, jangan bertarung lagi. Kau sudah tak bisa!" ucap gadis yang masih memeluk Wei Fei itu.
Bahkan gadis itu tak perduli pada pakaiannya yang terkena darah dari Wei Fei.
"Apa kau lupa bahwa aku yang membuat kau bisa hidup sampai sekarang? Jika tidak ada aku, maka kau akan mati bersama adikmu. Wei Fei ... Jika aku tak ada, siapa yang bisa menjaga anak-anak itu lagi," ucap si Tuan ini lagi. Bahkan ia tak perduli jika dirinya terlihat begitu memelas.
Sebuah pertanyaan untuk membalas budi pada orang yang diberikan pertolongan. Pria ini telah banyak berbuat baik sebelumnya. Ia dengan baiknya menjaga Wei Fei beserta anak-anak lainnua. Akan tetapi, jika kebaikannya terus disebut seperti itu, apakah masih ada keikhlasan di sana.
Yi Hua menghela napasnya saat tatapan Huan Ran mengarah padanya. Bagaimana pun pria itu juga masih memerlukan penjelasan dari Yi Hua. Di sana masih ada hal membingungkan yang perlu mereka bicarakan.
"Apakah Tuan berharap datangnya pujian untuk sikap Anda?" tanya Yi Hua dengan ambigu.
Xiao berucap di telinga Yi Hua, "Aku harap kau tak begitu banyak mengucapkan motivasi, HuaHua. Kau hanya perlu memancing Wei Fei untuk menunjukkan bentuk sebenarnya lagi."
Diam.
Yi Hua tak menjawab apapun dari Xiao. Hal itu membuat Xiao terdengar seperti berdecak di pendengaran Yi Hua. Mungkin seperti yang dikatakan oleh sistem busuk itu, Yi Hua begitu lemah dan terlarut dalam keadaan.
Bagaimana pun dia sekarang berada dalam tugasnya.
Sebelumnya Yi Hua hanya diam, hingga Wei Fei tak melihatnya. Akan tetapi, karena dia berbicara sebelumnya, kini pandangan Wei Fei terarah kepadanya. Pria itu masih Yi Hua dengan tatapannya yang biasa. Terkadang Yi Hua masih melihat tatapan riang pria itu, walau tanpa senyumnya yang khas.
Apakah itu berarti pria ini tidak membencinya?
"Apakah itu berarti kita tidak berada di sisi yang sama, Hua Yi?" tanya Wei Fei.
Sejak awal mereka memang tak akrab. Bahkan Wei Fei pun tak tahu namanya yang sebenarnya. Memang seharusnya seperti itu, dan pekerjaan ini akan lebih mudah lagi.
"Anak-anak yang kalian culik atas dasar menyelematkan. Akan tetapi, aku hanya ingin tahu dimana mereka sebenarnya?" Yi Hua menepuk pohon kecil tempat ia bersembunyi sebelumnya untuk mengucapkan terima kasih.
Setelah itu, ia melompat untuk mendekat pada tempat kejadian. Ia bisa melihat An yang bersandar di salah satu pohon. Yi Hua hanya bisa melihatnya dari sudut mata, sehingga ia tak begitu tahu apa yang pria itu lakukan. Namun pedang hitamnya selalu menjadi objek yang mencolok, dan tampak bersinar di malam yang temaram.
Ini sangat aneh saat benda yang hitam bisa terlihat bersinar, padahal mereka dalam gelap.
Meski begitu, Yi Hua menyadari jika An menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah tahu bagaimana kinerja kami, Hua Yi? Kami meracuni mereka, dan memberi penawar saat mereka sudah dikira tak bernyawa. Lalu, kami membawa mereka bersama kami," jelas Wei Fei sambil menekan dadanya yang basah karena darah.
Meski begitu, Wei Fei bisa melihat wajah pucat dari gadis yang bersamanya. Pikiran buruk mulai muncul di pikirannya. Meski begitu, ia tak bertanya pada gadis itu. Ia hanya mempercayai setiap apa yang mereka lakukan.
"Tuan Wei Fei, apa kau bisa mengingat wajah mereka? Satu persatu?" Kali ini Huan Ran yang bertanya padanya.
Wei Fei tersenyum sinis. "Kami membawa banyak anak-anak, sehingga aku jelas tak mengenal mereka. Sebab, mereka bergantian ..."
"Mereka tak bergantian, tetapi berganti terus menerus. Anak yang satu hilang, lalu kalian menculik yang satu lagi," sambung Yi Hua dengan tatapan nanar.
Bagaimana pun ia sudah mengetahui bagaimana buruknya kasus ini. Jika dihitung pun terlalu banyak korban. Namun pelakunya sendiri tak mengetahuinya. Wei Fei tak tahu jika dia telah dimanfaatkan untuk membunuh banyak darah muda.
Sungguh miris.
Wei Fei kali ini menatap Yi Hua tajam. "Apa maksudmu, Hua Yi? Mereka sekarang berada di tempat tinggal kami! Mereka ..."
Tatapan Wei Fei meredup ketika melihat wajah pucat dari gadis yang bersamanya. Lalu, Wei Fei mengalihkan pandangannya pada Si Tuan yang masih berwajah penuh permohonan pada Huan Ran. Sayangnya, Huan Ran begitu dingin untuk merespon semua wajah sendu itu.
"Tuan, bukankah mereka sekarang berada di rumah besar itu?" tanya Wei Fei pada Si Tuan. Wajahnya sedikit pucat. Entah karena mulai kehabisan darah, atau dirinya takut pada kenyataan.
Si Tuan mengangguk seolah tak takut jika kepalanya lepas karena mengangguk tanpa henti. Wajahnya dipenuhi senyum untuk meyakinkan. "Benar, Wei Fei! Adikmu juga ada di sana. Kita harus bebas dari mereka agar bisa kembali ke rumah kita."
"Tidak."
Baru saja Wei Fei ingin bertanya lagi, suara Yi Hua membuat ucapannya terhenti. Seluruh tatapan mengarah pada Yi Hua yang berucap sebelumnya. Terutama saat Yi Hua tengah menunduk untuk mendekat pada tangkai bunga kecil terjatuh ke tanah patah. Mungkin bunga kecil ini tak bisa bertahan saat pertarungan terjadi di sekitarnya.
Lalu, Yi Hua membuka penutup kepalanya hanya untuk menutupi bunga kecil itu. Sekadar memberikan perlindungan. Walau ia tahu semuanya tak ada gunanya.
"Dia ada di sini," ucap Yi Hua nyaris seperti orang yang tengah berbicara pada bunga. Hal itu karena ia masih menatap bunga yang patah dengan nanar.
Yi Hua mengalihkan pandangannya dengan hampa pada Wei Fei. Sepertinya pria itu mulai memahami keadaan di sekitarnya. Walau sejatinya ia tak ingin menerimanya.
Wei Fei cukup bodoh untuk mengingat tahun, tetapi ia merasakan bahwa hari berganti dengan cepat. Sehingga mungkin adik kecilnya itu seharusnya sudah dewasa sekarang. Ia mendadak ingat mengapa sosok Yi Hua tertanam erat dalam pikirannya.
Sosok kecil Yi Hua mengingatkannya pada ...
Yi Hua menunjuk pada Wei Fei. "Apa kau merasakannya? Dia ada dalam dirimu. Di dalam darahmu sendiri, dan menjadi sumber kekuatan untuk monster dalam dirimu."
Setiap hitungan yang dimulai pasti ada yang pertama.
Tentu saja Yi Hua tak perlu mengingatkan Wei Fei siapa yang pertama itu.
Ucapan Xiao terdengar di telinga Yi Hua lagi. "Setiap kali dia menelan manusia, maka kepala manusia itu akan muncul dari sayap-sayapnya. Semakin besar sayap dari monster ini, maka hitungan korban yang ia bunuh juga semakin besar."
"AKHHHHHHH!!!"
"Wei Fei, jangan!" gadis yang bersama Wei Fei tampak berusaha menenangkan pria itu.
Akan tetapi, Wei Fei terus menggelepar seolah dia tengah kepanasan. Hal itu yang membuat gadis itu kesusahan menahannya. Lalu, tak lama ...
BRUAKH!
Tangan Wei Fei yang dipenuhi oleh kuku-kuku panjangnya memukul ke arah gadis itu. Hingga gadis itu terpelanting ke arah pepohonan. Hal itu membuat Yi Hua berlari ke arah gadis kecil itu untuk memeriksanya.
Akan tetapi, kibasan besar menuju ke arahnya hingga tubuh kecilnya juga ikut terpelanting.
Pasti sakit! Pasti sakit! Xiao, tolong biarkan kekuatan 'kembali ke awal' aktif. Bagaimana jika tulang-tulangku patah ketika mendarat ke pohon!?
Yi Hua menjadi berisik sendiri, padahal dia masih melayang di udara. Hingga ia tak menyadari sosok serba hitam yang melompat untuk menangkapnya dengan mudah. Hanya dalam sekali hentakan Yi Hua sudah diletakkan kembali ke tanah, dengan An yang menahan pinggangnya.
Saat itu Yi Hua tahu bahwa bukan hanya dirinya saja yang terbawa oleh hempasan itu. Huan Ran dan beberapa prajurit juga harus bersembunyi agar tidak terkena angin yang keras itu. Meski begitu, Yi Hua hanya bisa mempertanyakan mengapa An bisa bertahan di antara hempasan angin ini?
__ADS_1
Berapa berat badan An hingga dia tak bergerak saat angin besar datang?
Bahkan pria itu juga sambil menahan tubuh Yi Hua dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya tengah menggenggam pedang hitamnya. Pedang itu digunakannya untuk menangkis kayu atau pun benda-benda yang berterbangan di sekitar mereka.
Dan, mereka berdua berada dalam posisi itu tanpa berbicara sepatah kata pun.
An jelas tak begitu banyak bicara, dan Yi Hua yang sibuk dengan pemikirannya.
Ketika angin kencang berhenti, Yi Hua bisa melihat Wei Fei yang perlahan berubah menjadi seperti gumpalan daging yang aneh. Gumpalan daging itu terus membesar dan terlihat hitam. Seperti beruang hitam, tetapi tanpa bulu. Hanya kulit yang terlihat seperti mengelupas. Itu adalah wujud yang sangat mengerikan.
Tak lama sepasang sayap hitam keluar dari punggung monster itu. Sayap yang sangat lebar dan besar. Bahkan lebih lebar dan besar daripada batang pohon yang paling besar di hutan ini. Jika Wei Fei mengepakkan sayapnya, mungkin bulu sapi tak akan rapi lagi.
Bukan hanya tak rapi, tapi sapi juga bisa ikut terbang saat terkena anginnya. Bukankah keadaan yang porak poranda di sekitar mereka adalah buktinya. Sepasang sayap Wei Fei adalah sumber dari angin keras sebelumnya.
Meski begitu buruknya sosok Wei Fei sekarang, Yi Hua bisa melihat wajah sedih Wei Fei di sana. Ini sangat aneh, saat ada wajah sedih dari monster di hadapan mereka.
"Tuan An, dimana gadis itu?" tanya Yi Hua yang berusaha melihat ke sekelilingnya. Namun debu yang ada membuat matanya sakit, dan Yi Hua hanya bisa mengeluh.
Aduh! Mataku sakit sekali, apa sapi yang baru saja masuk ke mataku?
Xiao berdecak di telinga Yi Hua. "Jika itu sapi, maka matamu tak lagi utuh, HuaHua! Kemana kau taruh logika mu?"
Yi Hua mengusap-usap matanya yang sakit. Bahkan matanya berair dan sangat gatal. Wajahnya pun seperti sudah menampung berjuta elemen debu di sana. Yi Hua yakin penampilannya sudah sangat berantakan.
Bagaimana pun debu telah naik sepenuhnya ke udara karena angin. Penutup kepalanya juga terbang entah kemana. Mungkin Yi Hua harus mencari penutup kepalanya nanti. Sebab, dia tak punya uang untuk membeli yang baru.
"Pingsan." Suara An terdengar sangat tenang seperti biasanya. Itu terdengar dekat, karena jarak mereka yang berdekatan.
Yi Hua berpikir jika An terlalu tenang, padahal di sekitar mereka sudah seperti badai besar. Meski begitu, pria ini tetap tenang seolah dia tak punya rasa sensitif. Yi Hua tak yakin jika An ini adalah manusia yang punya emosi.
SRET!
An menyisipkan pedangnya kembali ke sarungnya. Lalu, ia menutup mata Yi Hua dengan telapak tangannya yang bebas. Ia melakukannya dengan cepat, dan Yi Hua bahkan tak bisa menolak. Bagaimana pun dia seharusnya tak begitu dengan An.
Bagaimana jika An menyadari jika Yi Hua berpura-pura menjadi seorang pria?
Tubuh pria dan wanita itu berbeda! Dan, Yi Hua jelas tak punya ciri fisik seorang pria. Sehingga jika menempel begitu dekat, ia sangat tahu perbedaan fisiknya dengan An.
"HA ... HA ... HA ... Ini berhasil! Dia semakin besar. Ayo Wei Fei! Lindungi aku! Aku Tuan yang menjagamu seperti anakku sendiri. Wei Fei ikuti perintahku!" ucap Si Tuan itu dengan wajah bangga.
Huan Ran jelas tak bisa menyempatkan diri untuk menahan Si Tuan menyebalkan ini. Dengan bangganya Tuan itu mendekat pada Wei Fei yang meraung seperti suara gemuruh. Pohon-pohon di sekitar mereka bergetar dengan kencang, seolah tak sanggup berdiri lagi.
Ketika mendengar suara menyebalkan itu, Yi Hua menarik tangan An yang masih menutupi matanya. Tatapannya langsung tertuju pada sosok besar yang tampak seperti gunung. Di depannya ada Si Tuan dengan wajah penuh dengan kepuasan.
"Lihatlah! Sekarang manusia tak akan terkalahkan lagi. Tak perlu berlatih keras lagi untuk menjadi kuat. Tak perlu belajar berpedang untuk bisa bertarung," ujar pria itu dengan tangan yang terbentang di udara.
Lalu, pria itu tersenyum manis. "Bahkan manusia tak perlu takut pada kematian karena usia. Kita akan terus muda dan sehat. Inilah kesuksesan kita, Wei Fei! Kita adalah pahlawan di sini," lanjutnya dengan wajah yang berbinar.
Orang ini sepertinya sudah gila!
Sejatinya, orang seperti Si Tuan ini hanyalah seseorang yang takut akan usia tua dan kematian. Itu saja. Sehingga tak ada alasan untuk menyebut orang gila ini sebagai pahlawan.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1