
"Wuxie, lepaskan!" teriak Li Wei yang entah karena ingin melepaskan diri.
Atau ... Hanya agar ada yang bisa ia bicarakan sekarang.
Li Wei hanya bisa menatap ke arah belakang. Pada sosok ibunya yang sudah tak terlihat lagi. Wei Wuxie sudah menutup kepala Li Wei dengan jubah besar. Dan, tak lama setelah itu mereka sudah memasuki kawasan hutan lebat.
Di sana ada Zhang Yuwen yang sedang memikul Li Shen.
Rupanya semua rencana mereka tak terlepas dari pekerjaan Zhang Yuwen sebagai mata-mata di kubu musuh. Tentang Li Shen, tentu saja Zhang Yuwen harus membuatnya pingsan. Atau, Pangeran Bungsu itu akan memberi menebas kepala Zhang Yuwen dengan pedangnya.
Bukan Zhang Yuwen tak bisa membalas. Hanya saja sangat tak etis jika Zhang Yuwen memukuli seorang Pangeran. Itulah penyebabnya Zhang Yuwen hanya bisa membuat Li Shen tak sadarkan diri.
"Pergilah," ucap Zhang Yuwen sambil memberikan Li Shen pada Wei Wuxie.
Li Wei sudah tak memberontak lagi, tetapi tatapannya kini terarah pada Zhang Yuwen. Dan pria itu hanya bisa merapatkan penutup kepala Li Wei lembut. Setidaknya ... Zhang Yuwen sudah lama mengikuti Li Wei selama ini.
"Tuan Putri, jaga diri baik-baik," ucap Zhang Yuwen sambil memberikan penghormatannya.
PLAK!
Li Wei menepis tangan Zhang Yuwen dengan keras. Hal tersebut tentu saja tak bisa dihindari. Li Wei sudah kehilangan semua kata-kata bijak di dalam pikirannya. Tatapan tajamnya mengarah pada Zhang Yuwen.
"Tuan Putri ... Ha ... Ha ... Ha ..." Tawa Li Wei sudah seperti orang yang nyaris gila.
Aku tak perlu semua ini!
Li Wei meraih kerah Zhang Yuwen untuk mengguncang tubuh pria itu keras. "Siapa yang kau panggil Tuan Putri? Tidak ada yang Tuan Putri di sini! Kerajaan Li telah hancur, Yuwen."
"Iya."
Hanya itu yang bisa ditanggapi oleh Zhang Yuwen.
Wei Wuxie hanya bisa berdiam diri di tempatnya. Tangan Wei Wuxie dengan kuat merangkul Li Shen yang masih tersampir di bahunya. Tak tahu bagaimana cara menenangkan Li Wei.
SRET!
Li Wei melepaskan kerah pakaian Zhang Yuwen dengan lemah.
"Apa tak ada yang bisa kita lakukan?" tanya Li Wei lemah.
Wei Wuxie menghela napasnya. "Putri, kita harus pergi. Para prajurit Kerajaan Xin mungkin sudah mengejar kita."
Tak ada yang menjawab Li Wei bukan karena ketidaksopanan. Hal itu karena mereka juga tak tahu apa jawaban terbaik yang bisa diucapkan. Semuanya sudah sangat berkeping-keping hingga tak tahu titik temunya lagi.
Di tengah itu semua, Li Wei menarik penutup kepalanya untuk menutupi wajahnya yang telah sembab oleh air mata. Hanya agar tak ada yang melihat dirinya menangis. Li Wei tak ingin kedua temannya ini melihatnya menangis.
"Tuan Putri, menangislah. Tidak apa-apa," ucap Wei Wuxie sambil membuang wajahnya.
Agar Li Wei tak malu untuk menangis. Sayangnya, Li Wei tak berpikir untuk menangis keras lagi. Terutama ketika Li Wei merasakan dingin di pinggangnya. Li Wei meraba benda yang masih menempel dengan sangat anehnya di pakaian Li wei.
Li Wei yakin tak ada perekat apapun atau tali yang membuat benda itu tetap mengikutinya. Hanya saja sarung pedang milik Hua Yifeng itu masih tetap mengikutinya. Seperti memang Li Wei adalah pemiliknya.
Jika benda ini memang memiliki kekuatan tersendiri, maka Li Wei bisa menggunakannya.
"Zhang Yuwen, terus awasi dan lindungi yang masih tersisa di istana. Kakak ... Maksudku Pangeran Li Jun masih hidup," ucap Li Wei sambil berjalan menjauh.
Entah muncul darimana semua kekuatannya. Mungkin itu yang disebut dendam dan kemarahan.
Hanya saja ... Li Wei harus melindungi yang tersisa. Walau harus menggunakan besi dari benda terkutuk sekalipun.
Ingatlah ... Pedang dan sarung pedang milik Hua Yifeng dibuat dari besi dari pedang terkutuk Pangeran Penduka.
Namun kebanyakan tak ada yang baik dari dendam dan amarah.
***
SRET!
Ling Xiao meletakkan mangkuk obat di atas meja. Seingatnya masih ada seonggok manusia yang sudah nyaris menjadi mayat di sana. Akan tetapi, baru saja Ling Xiao pergi untuk menyeduh obat, anak angkat sialannya itu sudah pergi.
Hal tersebut membuat Ling Xiao segera meraih jubah putih besarnya. Bagaimana pun Ling Xiao tak bisa membiarkan kehancuran sebenarnya terjadi. Sebab, lebih buruk dari segalanya adalah 'dia' masih ada di sana.
"Siapa sangka jika orang gila itu akan melakukan hal yang gila. Aku pikir mataku yang salah melihat selama ini," ucap Ling Xiao yang mengambil pedangnya.
Jarak antara tempatnya sekarang dengan Pusat Kota agak jauh. Ini sudah berlalu dua hari sejak Li Wei meninggalkan kediamannya. Sekarang Hua Yifeng juga sudah pergi. Dan lagi ... Kekuatan Pohon Iblis masih memberontak di dalam tubuh Hua Yifeng.
Hanya ada dua kemungkinan di hidup Hua Yifeng sekarang..
Pertama, sama seperti pendahulunya. Orang yang dipilih oleh Pohon Iblis akan menjadi inang. Jiwanya akan terus ditarik seperti dibunuh perlahan. Lalu, Hua Yifeng akan mati mengering seperti kayu yang telah mati.
Atau kedua. Hua Yifeng akan menjadi iblis dan dikendalikan oleh Pohon Iblis. Mungkin ada suatu masa Hua Yifeng akan terus membunuh karena mencari pengganti darah untuk memberi makan Pohon Iblis. Hanya agar jiwa Hua Yifeng tak termakan olehnya.
Jika pun ada kemungkinan lainnya, itu masih menjadi pertanyaan yang belum Ling Xiao temukan.
"Semoga belum terlambat," ucap Ling Xiao setengah berbisik.
***
SREK!
Li Wei mendongakkan kepalanya ketika Wei Wuxie meletakkan bungkusan daun di depannya. Di pangkuan Li Wei saat ini ada Li Shen yang tengah berbaring. Pria kecil itu rupanya sedikit demam, mungkin karena mereka melarikan diri sebelumnya di saat hujan turun dengan derasnya.
Benar.
Turun hujan lagi.
Akibat hujan itu air laut mulai pasang kembali. Hal tersebut membuat wilayah Pusat Kota kembali disapa oleh luapan air. Lagi-lagi bencana besar menimpa Kerajaan Li. Dan, korban jiwa kembali dihitung lagi.
Li Wei tak tahu apa yang bisa ia lakukan sekarang.
Bahkan jika Raja Xin dan pasukannya pergi meninggalkan Pusat Kota, Kerajaan Li akan tetap hancur. Hanya menunggu waktu sampai semua orang di Kerajaan Li terkena penyakit batu. Pada akhirnya, ini sama seperti kau menunggu hari kematianmu.
Jika bukan hari ini, mungkin saja besok. Jika bukan karena dibunuh, mungkin saja karena tertimpa bencana. Mungkin juga karena kelaparan, atau karena penyakit aneh yang masih terus meningkat penyebarannya.
Kembali lagi pada Li Wei yang tengah mengusap kepala Li Shen. "Kau pergi keluar?" tanya Li Wei pada Wei Wuxie yang berlutut di hadapannya.
Karena orang-orang mulai takut pada penyebaran penyakit ini, bagi mereka yang punya uang dan kendaraan akan pergi meninggalkan rumah mereka. Selain itu, mereka jelas tak ingin ditindas oleh Kerajaan Xin yang menjajah mereka. Itulah mengapa kediaman ini bisa mereka huni sekarang.
Untuk menghindari kejaran prajurit Wei Wuxie membawa mereka berjalan memutar. Lalu, mereka masuk kembali ke Pusat Kota melalui hutan, dan juga di malam hari. Hingga mereka menemukan rumah kosong ini.
Dan, rumah itu benar-benar kosong.
Hanya ada selembar tikar jerami yang sudah sobek sana-sini untuk Li Wei dan Li Shen duduk.
"Saya membantu seorang pedagang untuk membawa hartanya pergi keluar dari Pusat Kota. Oleh karena itu, saya mendapat bayaran dengan roti ini," jelas Wei Wuxie pelan.
"Li Shen ... Bangunlah," ucap Li Wei sambil menepuk bahu Li Shen.
Bibir pria kecil itu sangat pucat seolah ada bubuk putih di bibirnya. Hal itu membuat Li Wei cukup khawatir. Tanpa diperintahkan Wei Wuxie segera mengambil air dari guci air. Meski pria itu harus mengabaikan masalah kebersihan. Air itu jelas memiliki anak nyamuk sebagai penghuni.
Namun hanya itu yang mereka punya sekarang.
__ADS_1
Li Wei membantu Li Shen untuk duduk, dan menerima semangkuk air dari Wei Wuxie.
"Minum perlahan," ucap Li Wei sambil membantu Li Shen minum.
Setelah Li Shen minum, Li Wei memberikan roti itu untuk dimakan. Saat itulah Li Wei menyadari jika roti itu sudah nyaris disebut basi. Dan Li Wei tak bisa mengatakan apa-apa tentang itu.
Bagaimana pun Wei Wuxie sudah berusaha mencarinya. Lebih lagi ... Wei Wuxie mungkin akan kecewa jika jasa yang ia berikan hanya dihargai roti yang nyaris basi.
Ketika melihat Li Shen menggeleng, Li Wei menghela napasnya pelan. "Makanlah, Pangeran Li Shen. Setelah ini Pangeran bisa tidur lagi."
Li Shen menggigit roti yang sudah dingin itu, dan segera menggeleng.
Percayalah ... Saat kau tengah sakit, makanan semewah apapun saja mungkin tak terasa nyaman. Apalagi makanan basi.
"Jika Pangeran tak makan dan pingsan lagi, mungkin Pangeran tak akan bertemu dengan Permaisuri Jiang," ucap Li Wei dengan nada bergetar.
Nyatanya Li Shen belum tahu tentang apa yang terjadi pada Jiang Ning di istana. Li Wei tak tahu bagaimana cara menjelaskannya, dan Wei Wuxie tak berani bicara tanpa izin dari Li Wei. Akan tetapi, itu berhasil untuk menenangkan Li Shen. Pria kecil itu menggigit roti itu nyaris setengah, walau rasa di dalam mulutnya tak karuan.
Setelah itu Li Shen berkata kenyang.
Li Wei menatap roti yang tersisa dengan hampa. Roti itu tak akan cukup bagi mereka bertiga. Sebenarnya untuk satu orang saja belum tentu cukup.
"Putri makanlah, saya tidak lapar," ucap Wei Wuxie yang menyadari maksud dari tatapan Li Wei.
SRAT!
Li Wei dengan cepat membagi roti yang memang sisa setengah. Dengan potongan roti yang sudah mengecil itu Li Wei memberikan sisanya pada Wei Wuxie.
"Putri ..."
Li Wei memberi senyuman pada Wei Wuxie. Jelas itulah bukan senyuman yang cerah seperti yang biasanya. Hanya sekadar senyum untuk menenangkan diri.
"Tidak ada Putri lagi di sini, Wuxie. Kau juga perlu hidup, dan kau juga bisa pergi sekarang," ucap Li Wei masih dengan senyum di wajahnya.
Wei Wuxie menggelengkan kepalanya. "Saya sudah berjanji dengan Permaisuri Jiang."
Ditambah lagi Wei Wuxie tak bisa meninggalkan Li Wei.
Tanpa berucap apa-apa lagi Li Wei memasukan bagian rotinya ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan perasaan hampa. Sekarang Li Wei mulai mengerti apa yang dimaksud dengan kelaparan.
Awalnya ia menduga-duga mengapa seseorang mampu melakukan hal buruk, bahkan sampai membunuh orang lain. Rupanya hanya agar bisa bertahan hidup, dan memiliki makan nantinya.
"Bagaimana keadaan di luar?" tanya Li Wei yang menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Masih tidak aman untuk pergi. Dari apa yang saya ketahui, kita bisa kembali ke kediaman tersembunyi Peramal Ling. Wilayah kediamannya itu jauh dari Pusat Kota," ucap Wei Wuxie yang kembali pada rencananya.
Tempat itu ... Bukankah di sana ada Hua Yifeng? Apa kabarnya sekarang?
Lalu, Li Wei memaksa matanya untuk terpejam. Karena saat matahari terbit lagi esok hari kenyataan buruk sekali pun akan selalu menjadi kemungkinan. Akan tetapi, Li Wei tak bisa tertawa tertidur juga.
Ia memperhatikan Wei Wuxie yang bersandar di dinding tak jauh dari mereka. Pria itu sudah tertidur. Mungkin karena rasa lelahnya sendiri. Hal tersebut membuat Li Wei menggunakan tumpukan jerami untuk dijadikan bantal untuk Li Shen.
Setelah yakin Li Shen tak akan terbangun, Li Wei segera mengeluarkan sarung pedang yang selalu mengikutinya itu.
TING!
Nyatanya sarung pedang, yang entah bagaimana dinamai oleh Li Wei menjadi Lingkaran Mawar, kini berubah menjadi seperti besi merah. Nyaris seperti besi yang memerah layaknya baru saja dimasukkan ke dalam tungku api. Itu adalah hal yang menarik perhatian Li Wei.
Lebih dari segalanya ... Semakin lama sarung pedang itu semakin ringan. Itulah mengapa Li Wei tak menyadari jika sarung pedang itu menempel di pinggangnya. Rasanya seperti seuntai benang yang tergantung.
Sarung pedang ini semakin tunduk pada Li Wei. Apa benda ini sebenarnya 'hidup'?
Tentu saja ini dalam artian yang bukan hidup layaknya makhluk hidup, tetapi seperti memiliki jiwa dan kekuatan. Diam-diam Li Wei menuju keluar dari kediaman kosong itu.
Li Wei mengambil sebongkah batu yang tajam dan SRET!
"Shhh ..."
Meski ia sudah sering terluka akhir-akhir ini, tetapi ketika terluka lagi tetaplah sakit. Ia melukai jari telunjuknya sendiri dengan batu tersebut. Tentu saja untuk mengambil darahnya sendiri.
Untuk mencoba.
Aku pikir aku sudah terbiasa dengan rasa sakit.
Sayangnya tidak. Sakit tetaplah sakit.
Li Wei pernah mendengar ... Semakin besar pengorbanan, maka sebuah senjata akan semakin mematikan. Ini sama seperti kau melakukan ritual kecil dan membuat senjata spiritual. Li Wei tentu saja tak pernah mempelajarinya, tetapi Li Wei pernah membacanya di salah satu buku di perpustakaan Awan.
TES
Li Wei meneteskan darahnya ke sarung pedang itu, dan tak terjadi apa-apa.
Apa yang aku pikirkan, Dasar Bodoh!
Apapun itu Li Wei seharusnya tahu jika menggunakan energi jahat pasti tak akan berakhir baik. Masih untung Dewa mengizinkan Li Wei untuk bertobat. Itulah mengapa tak terjadi apa-apa, meski Li Wei melakukan ritual darah.
Li Wei berjinjit untuk masuk ke kediaman kosong itulah lagi.
Tidur saja. Mari hadapi esok hari yang menyebalkan.
Kali ini Li Wei tertidur dengan mudah. Mungkin karena rasa lelahnya dan juga rasa duka di dalam hatinya.
Mungkin besok aku harus membantu Wei Wuxie untuk mencari uang.
Mereka tak punya pilihan selain menjadi rakyat jelata, bukan?
***
TING!
TING!
Udara malam itu cukup dingin, dan para prajurit Kerajaan Xin berjaga di sekitar Pusat Kota juga dilanda rasa mengantuk. Akan tetapi, mereka sudah diperintahkan untuk berjaga karena takut Li Wei dan orang-orangnya melintas. Meski begitu, mengantuk tetap saja menjadi bagian dari manusia.
"Bagaimana jika kita minum saja?" tanya seorang prajurit sambil meletakkan kendi berisi minuman keras khas Kerajaan Li.
Tentu saja mereka mengambilnya dari toko-toko di pinggir jalan Pusat Kota.
"Hey, Paman. Mengapa kau diam saja? Bukankah aku memerintahkan dirimu untuk memperhatikan ke sekeliling?! Jangan sampai Putri Li Wei terlewat dari hadapan kita," bentak prajurit itu sambil menendang seorang Paman tua yang dipaksa duduk di hadapannya.
Paman itu menggelengkan kepalanya dengan putus asa. "Saya tak melihat apapun."
Prajurit lainnya meneguk kendi minuman keras sambil tertawa sesekali. Tentu saja karena mereka melihat orang kerajaan Li yang berlutut di hadapan mereka.
"Lihatlah lagi dengan teliti. Di mana Putri ..."
SRET!
Ucapan prajurit itu terhenti ketika melihat seseorang gadis berjalan ke arah mereka. Bukan perkara apa, tetapi mereka mengenal gadis itu. Tentu saja karena siang tadi gadis ini adalah seseorang yang berhasil melarikan diri dari istana.
Putri Li Wei.
__ADS_1
Akan tetapi, mengapa Putri ini memiliki kenekatan yang cukup besar sekarang? Bahkan menampakkan dirinya sendiri di depan prajurit Kerajaan Xin.
"Itu Putri Li Wei," teriak prajurit itu.
Mereka segera mengepung ke arah Putri Li Wei yang berjalan dengan santai. Tatapan gadis itu sangat datar seperti tanpa rasa takut. Juga, ada aura aneh yang mengikuti Putri Li Wei.
"Tangkap gadis itu."
Dua orang di antara mereka segera mendatangi Li Wei untuk menangkapnya. Akan tetapi, belum sempat mereka menangkap Li Wei, gadis itu sudah mengambil kayu di tanah dan memukul ke arah mereka berdua. Pukulan Li Wei itu mengenai kepala mereka berdua secara bergantian. Dan ..
KREK!
Patah.
Kedua prajurit yang menyerang sebelumnya terjatuh dengan kepala yang berputar ke belakang. Hanya karena pukulan Li Wei dengan sarung pedangnya.
Bagaimana mungkin kekuatan gadis itu bisa menjadi sangat mengerikan?
Mereka tahu tentang Li Wei yang tangguh dalam bela diri dan bertenaga seperti sapi. Namun tindakan sebelumnya sangat tidak manusiawi. Bagaimana manusia bisa melakukan hal keji seperti itu?
CRAK!
Mereka yang masih terkejut tentunya tak menyadari Li Wei yang sudah mendekat ke arah mereka. Gadis itu mengarahkan tangannya yang berkuku tajam dan menerobos perut seorang prajurit. Hal tersebut membuat percikan darah mengenai wajah Putri cantik itu.
"HUWAAAA!"
Mereka yang histeris kehilangan kekuatan mereka sendiri.
"Kita pergi!" teriak salah seorang prajurit yang tersisa segera menyadarkan mereka.
Sayangnya Li Wei menghampiri mereka dan mengoyak jantung.
Terakhir yang mereka ingat hanyalah tatapan Li Wei yang tajam. Serta senyum menakutkan dari wajah cantik Li Wei. Gadis ini terlihat seperti Li Wei, tetapi bukan juga Li Wei.
Bagaimana menyebutnya?
Gadis ini sangat mengerikan. Seperti iblis.
BRAK!
Li Wei melempar tubuh yang tanpa jantung itu ke tanah. Dan yang tersisa hanyalah Paman yang sudah merangkak seperti senang.
"Terima kasih, Putri. Hamba berterima kasih atas pertolongan Putri. Ke depannya ..."
CRAP!
"AKKKKHHHH!" Raungan Paman itu terdengar keras untuk melantangkan kesakitannya.
"Putri ... Hamba ... Meminta," Paman itu menggeliat di tanah seperti cacing sambil memegangi wajahnya.
Bukan wajahnya, tetapi tangan jari Li Wei yang menusuk mata Paman malang itu.
TAP!
TAP!
TAP!
Di akhir napas Paman itu, ia mendengar suara langkah kaki menjauh. Mungkin Li Wei tak melakukan apa-apa lagi padanya. Akan tetapi, darah Paman itu terus mengucur hingga mati kehabisan darah.
Akan tetapi, peristiwa itu hanya terjadi dalam satu malam.
Pasukan Kerajaan Xin dilanda ketakutan. Terutama saat dalam satu malam ditemukan mayat-mayat berserakan di jalan. Bukan hanya prajurit Kerajaan Xin, tetapi juga penduduk Kerajaan Li. Seolah pembunuhnya tak pandang bulu untuk membunuh.
Di malam itu juga Permaisuri Su Nan mendadak ketakutan dan selalu menatap pintu.
Mereka masih mendiami istana Kerajaan Li yang kosong. Walau di halaman Istana masih berserakan para mayat, tetapi mereka tak merasa aneh dengan itu. Seolah mereka tak takut jika jiwa-jiwa tak tenang menghantui mereka.
Namun sekarang Permaisuri yang sering memakai pakaian kurang bahan itu tak bisa tidur semalaman. Lantaran ia melihat Li Wei dengan tatapan tajamnya berdiri di antara mayat ayah dan ibunya. Gadis itu berdiri di antara orang-orang kerajaan yang dibantai oleh Kerajaan Xin.
Yang diingat oleh Permaisuri Su Nan adalah tatapan tajam dari Li Wei.
"Kematian kalian akan sangat mengerikan," ucap Li Wei saat itu.
Akan tetapi, para prajurit yang menjaga Su Nan segera mencari ke arah yang ditunjuk oleh wanita itu. Dan tak menemukan apa-apa. Pada akhirnya, mereka mengira jika Su Nan hanya terbawa kengerian di hari sebelumnya.
Meski begitu ... Fakta tentang mayat yang berserakan di jalan adalah bukti jika ada teror baru di Kerajaan Li.
Lalu, dalam semalam gelar Putri Hitam sudah menempel di jati diri Li Wei.
***
"HOAMMM!"
Li Wei terbangun dengan nyaman dan menyadari Li Shen yang menempel di kakinya. Dari itu Li Wei tahu jika Li Shen sudah mulai membaik. Sehingga Li Wei mengalihkan perhatiannya pada Wei Wuxie yang tengah berdiri sambil mengintip keluar.
"Wuxie, ada apa?" tanya Li Wei yang berusaha bangkit.
Rasa sakit di lengannya membuat Li Wei sadar bahwa ia perlu membersihkannya terlebih dahulu. Jika dibiarkan mungkin lukanya akan semakin parah. Kemungkinan paling buruknya adalah Li Wei mungkin akan kehilangan tangannya karena infeksi.
Akan tetapi, Wei Wuxie mengangkat tangannya untuk memberi isyarat agar Li Wei diam. Hal tersebut membuat Li Wei menjadi waspada. Gadis itu berjalan pelan menuju ke arah Wei Wuxie, dan di sana Wei Wuxie memberi jalan agar Li Wei juga bisa mengintip.
"Prajurit Kerajaan Xin," ucap Wei Wuxie dengan intonasi yang sangat pelan.
Yang dilihat oleh Li Wei adalah para prajurit yang berjaga tak jauh dari kediaman kosong itu. Yah ... Seperti biasanya memang para prajurit Kerajaan Xin selalu berjaga di Pusat Kota. Entah mengapa hari ini penjagaannya saat padat seperti takut akan sesuatu.
Apa mereka sudah ketahuan?
***
Selamat membaca 😉
Cukup panjang ya chapter ini. Hufft ...
Jika kalian perlu referensi kejadian di atas dengan bayangan masa lalu yang dilihat oleh Yi Hua, maka biarkan aku menjelaskan. Ini berkaitan dengan apa yang dilihat Yi Hua saat bayangan masa lalu muncul. Ingat gak sih di salah satu bayangan itu Yi Hua melihat 'ia' membantai orang-orang.
Tepatnya saat dia mengira jika dirinya melihat pembantaian yang dilakukan Shen Qibo, tetapi anehnya di tangannya sendiri ada darah. Nah pokoknya itu ... Intinya memang ada pembantaian, dan itu dilakukan oleh 'dia'. Jadi, bagi yang ingin mengingat kembali silahkan baca di bagiannya Shen Qibo yah.
Tapi kalo merasa gak perlu juga gak apa, cukup baca catatan author ini aja.
Intinya selalu ada dalang dari suatu peristiwa, dan itu selalu berlaku di setiap ceritaku. Apakah memang Li Wei yang membunuh dalam satu malam itu?
Entahlah.
Tentang gambar di atas, tentu saja bukan milik authornya. Itu murni nyolong di internet. Paham!
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~