
Permaisuri Jiang Ning menatap gemas pada Putri kecilnya ini. Bagaimana pun ia sangat ingat jika saat mengandung Li Wei dahulu ia tak pernah memakan hal yang aneh. Lalu, mengapa anak semata biji kedelainya ini lain dari pada makhluk pada biasanya.
Namun Li Wei mengangkat kepalanya dan memberikan senyum seperti tengah promosi barang berhadiah. "Maaf sepertinya Permaisuri salah paham. Hamba hanya rakyat jelata."
Li Wei melirik Hua untuk memberi isyarat agar pria itu bersiap. Sebab, mereka akan melarikan diri. Meski begitu, Hua masih menunjukkan wajah datarnya. Seperti ia tak perduli pada nasib Li Wei setelah ini.
Kejam sekali.
Permaisuri Jiang Niang menyimpan kembali pisaunya karena takut kelepasan. Hal tersebut yang membuat Li Wei bangkit dengan cepat, dan berniat melarikan diri. Akan tetapi, Permaisuri Jiang Niang sudah menarik bahu Li Wei untuk duduk lagi.
Sedangkan orang-orang di sekitar mereka tampak menunduk. Masih memberikan penghormatan. Lebih dari segalanya ... Mereka baru menemukan ibu dan anak yang seperti kedua orang ini.
Li Wei menghela napasnya, dan mengeluh, "Ibu ..."
"Panggil dengan benar!" tegas Permaisuri Jiang Niang yang selalu kejam pada tempatnya.
Orang ini pasti bukan orang yang melahirkan aku. Ia pasti mengambil aku dari peti yang hanyut di sungai.
Sebab, dilihat dari manapun Permaisuri Jiang Ning ini bahkan lebih kejam dari tukang tagih hutang.
"Permaisuri, bagaimana bisa Permaisuri mengenali hamba?" tanya Li Wei putus asa.
Ia bahkan belum menemukan petunjuk apapun tentang Pelatihan Awan ataupun Pohon Iblis. Itulah mengapa ia membawa Hua pergi bersamanya. Selain karena Hua kelaparan, ia juga sangat yakin jika Hua memiliki hubungan dengan Pohon Iblis.
Pria ini mungkin adalah orang dari Klan Bao. Mengingat tentang Hua yang hilang ingatan, Li Wei yakin itu ada hubungannya dengan punahnya orang-orang klan Bao. Ditambah lagi ... Hua adalah orang yang bisa menghancurkan kutukan pedang Pangeran Penduka.
Harusnya Li Wei menyadari jika Hua ini bukan manusia biasa.
Namun Permaisuri Jiang Ning menarik hidung Li Wei karena sebal. "Orang berisik sepertimu suaranya bisa terdengar sampai ke luar toko. Kau pikir itu bersembunyi? Ya ampun ... Kau ini sebenarnya menuruni sifat buruk siapa? Padahal Ibumu ini sangat anggun seperti bunga melati."
Tapi, nyaris semua orang di ruangan ini tahu jika Li Wei menuruni sikap tak jelas ini dari siapa.
"Hamba tak melarikan diri. Hamba sebenarnya hanya berjalan-jalan," ucap Li Wei yang meminta Hua untuk bekerja sama lagi. Gadis itu memasang senyum lebar seperti orang yang meringis sakit gigi.
Sayangnya, Hua adalah Hua. Pria lagi-lagi hanya diam. Sikap yang sangat buruk. Bahkan ia dengan santainya meminum teh miliknya, dan bertingkah seolah tak tahu apa-apa.
"Sudahlah. Bicara padamu itu lebih lama dibandingkan menghitung jumlah rambut. Sekarang ... Aku harus menitipkan ini padamu," tunjuk Permaisuri Jiang Ning pada makhluk kecil yang bersembunyi di belakangnya.
Jika Jiang Ning tidak menyebutnya, maka Li Wei tak akan menyadari kehadiran anak itu. Kalau tidak salah ... Anak kecil ini ialah Li Shen*. Adik Li Wei, tetapi dari ibu yang berbeda. Ibu Li Shen meninggal ketika melahirkan Li Shen, sehingga akhir-akhir ini Jiang Ning sering menemani Li Shen.
^^^*Ingat Li Shen, bukan? Si Raja Li yang benci banget sama kakaknya sendiri, Li Wei. Satu-satunya keluarga Li yang selamat dari pembantaian yang dilakukan oleh Hua Yifeng.^^^
"Kenapa ibu membawanya keluar? Bahkan tanpa pengawal?!" omel Li Wei sambil mengulurkan tangannya pada Li Shen..
Seingat Li Wei adiknya ini baru berusia sekitar sepuluh tahun. Itu pun jika Li Wei tak salah hitung. Lebih dari segalanya, Li Shen adalah seorang Pangeran kecil yang harus dilindungi.
Bagaimana jika ada saingan politik yang memanfaatkan lengahnya kerajaan?
Siapa yang tahu.
Li Shen dengan alami meraih tangan Li Wei. Tentu saja Li Shen terbiasa bermain dengan Li Wei jika gadis itu berada di kediamannya. Anak kecil itu dengan lincah duduk di antara Li Wei dan Hua.
Lalu, anak kecil Li Shen itu menatap pada Hua dengan penasaran. Namun Hua jauh lebih tenang daripada air arus, pria itu hanya mengangguk pada Pangeran kecil itu sebagai sapaan. Bahkan seingat Li Wei, Hua tak memberi penghormatan pada Permaisuri Jiang Ning.
Ya ampun ... Jiwa-jiwa tanpa aturan mengikat Hua sepertinya masih ada.
Pria ini enggan tunduk pada orang lain.
__ADS_1
Permaisuri Jiang Ning tersenyum kecil dan mengusap kepala Li Shen, "Pergilah bermain dengan Li Wei. Jika lelah, seret anak itu pulang," perintah Permaisuri Jiang Ning dengan lembut.
Terkadang Li Wei berpikir, mengapa Permaisuri ini sangat kejam padanya? Padahal pada Li Shen saja ibunya sangat lembut. Walau sejatinya, Li Wei tak iri atau kesal pada Li Shen.
"Permaisuri Jiang hendak kemana?" tanya Li Wei ketika menyadari Jiang Ning yang ingin kembali.
Li Wei menyadari jika ibunya membawa dua pelayan bersamanya. Kedua pelayan itu menunggu di luar tempat makan ini. Akan tetapi, mengapa ibunya repot-repot mencari Li Wei hanya untuk menjaga Li Shen?
Seingat Li Wei, Li Shen memiliki pengasuhnya sendiri. Dan, lebih aman jika berada di istana ketimbang berada di luar istana. Apalagi dengan penjagaan yang kurang seperti ini.
Jiang Ning menghela napasnya. "Aku mendengar keributan di Pengadilan Tinggi. Walau aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku baru mendengarnya."
Masalah?
"Jika ada masalah, mengapa harus membawa Pangeran Li Shen keluar? Bagaimana jika itu tentang penyerangan dan sebagainya?" tanya Li Wei yang memperhatikan Li Shen.
Anak kecil itu sangat penasaran dengan Hua, hingga anak kecil itu masih mengawasi Hua dengan lekat.
"Kau pikir ini salah siapa? Jika kau tak melarikan diri, apa aku tak akan perlu mencarimu? Kau tahu bagaimana sulitnya aku menyembunyikan ini dari Yang Mulia? Terpaksa aku beralasan untuk mengajak Pangeran berjalan-jalan!" omel Permaisuri Jiang Ning yang merasa semakin tua dari usianya yang sebenarnya.
Pada akhirnya, Li Wei hanya bisa menganggukkan kepalanya. Bagaimana pun ibunya sebagai Permaisuri harus mendampingi Yang Mulia di Pengadilan Tinggi. Itulah mengapa Permaisuri Jiang Ning harus kembali saat ada masalah yang harus dibicarakan di Pengadilan Tinggi.
Setelah Permaisuri Jiang Ning meninggalkan mereka bertiga, Li Wei kembali memfokuskan pandangannya pada Li Shen. Anak kecil ini sangat tenang, tetapi matanya cukup tajam.
"Ada apa, Pangeran?" tanya Li Wei sambil mengusap kepala Li Shen dari belakang.
Dan, Li Shen kini mengalihkan pandangannya pada Li Wei kembali.
"Aku ingin berjalan-jalan," ucap Li Shen dengan nada singkat.
Li Wei menganggukkan kepalanya, "Sepertinya saya harus pergi bersama adik saya, Tuan Hua. Terima kasih atas jamuannya hari ini."
"Tuan Hua ... Anda tak perlu, ...
BRAK
Li Wei terkejut ketika seseorang mendobrak pintu dengan keras Bagaimana pun ia mengira jika ibunya kembali untuk membentaknya. Sehingga Li Wei bersiap untuk melarikan diri. Akan tetapi, yang terlihat di sana adalah Zhang Yuwen yang berkeringat dingin. Begitu juga dengan Wei Wuxie yang terlihat semakin pendiam dari biasanya.
"Di sini Anda ... Cepat ganti pakaian!" ucap Zhang Yuwen yang dengan cepat mendekati pada Li Wei.
Li Shen yang mendengar keributan itu mau tak mau merasa ketakutan. Pria kecil itu bersembunyi di belakang Li Wei yang heran dengan tingkah kedua temannya ini. Terutama ketika Wei Wuxie yang menutupi setengah wajahnya dengan kain.
Apa mereka sedang dikejar-kejar?
Masalahnya adalah ... Jika mereka dalam wilayah Kerajaan Li, siapa yang berani mengejar seorang Jenderal Besar seperti Wei Wuxie. Belum lagi Zhang Yuwen juga bukan pejabat rendah. Kedua orang itu cukup bisa membuat para kelompok bandit ketar-ketir.
Juga, ...
"Hey ..." Li Wei panik sendiri ketika melihat Zhang Yuwen yang mendadak menyelimuti Li Wei dengan jubah besar.
Lalu, Zhang Yuwen melirik pada Hua yang menatapnya tajam. "Jangan menatapku seperti itu. Aku tak banyak menyentuh dia!"
Yah, Zhang Yuwen terlalu peka untuk mengatasi orang semacam Hua ini. Namun Li Wei dengan menyedihkannya tak tahu apa-apa. Kasihan sekali Hua ini.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Li Wei cepat.
Akan tetapi, mereka seperti membuat keributan di tempat itu.
__ADS_1
Pada akhirnya, Wei Wuxie memberi isyarat pada Hua. Dan, entah mengapa juga kedua orang ini mendadak berkomunikasi. Karena itu, Hua menuju ke arah Tuan pemilik, dan berbicara sejenak.
Hey, sebenarnya ini ada apa?
Li Shen memeluk perut Li Wei karena merasa takut, sehingga Li Wei membalas pelukannya. Setidaknya Li Wei harus ingat jika adiknya ini masih kecil, dan harus ia lindungi.
SRET!
"Ayo."
Tak seberapa lama, Hua kembali ke hadapan mereka. Pria itu berjalan terlebih dahulu menuju tangga. Pria ini menuju ke penginapan yang memang disediakan di tempat makan ini. Sudah sangat terbiasa jika sebuah tempat makan juga menyediakan penginapan. Semua itu untuk memang disediakan jika pelanggan mereka merupakan orang pendatang.
Akan tetapi, mengapa mereka perlu pergi ke penginapan?
Ketika Li Wei ingin bertanya, Hua berkata padanya dengan nada datar. "Biarkan mereka menjelaskan dahulu."
Itu benar.
Kedua temannya yang aneh ini pasti memiliki alasan mengapa bertingkah seperti ditagih hutang. Apalagi ketika Zhang Yuwen bertingkah dengan sangat serius. Hal tersebut membuat Li Wei segera menggandeng Li Shen untuk naik menuju penginapan.
Lebih dari segalanya ... Mengapa mereka dalam situasi ini saat mereka bersama Li Shen?
Anak itu pasti ketakutan.
Akan tetapi, mereka tak menyadari seseorang yang tengah duduk di sudut ruangan. Pria itu berwajah tampan, tetapi hangat sekaligus. Sejatinya jika mereka bertatap muka, Li Wei akan mengenalinya. Sayangnya, di tempat ini pria itu hanya sedang mengawasi suasana.
Suasana yang ia atur.
Ketika Li Wei dan yang lainnya tak tampak lagi, pria itu segera keluar. Meski begitu, sebelumnya ia meninggalkan beberapa koin uang di atas meja untuk membayar. Dan, ia keluar dengan sangat cepat dan tanpa disadari oleh siapapun.
"Li Wei ... Pernahkah kau mendengar tentang Pangeran Penduka?" tanya pria itu sambil menatap pada bunga mawar yang entah bagaimana ada di tangannya.
Orang-orang mulai bertanya mengapa pria ini memakai pakaian yang begitu tebal di kala siang terik seperti itu. Bahkan pria itu menggunakan penutup wajah yang sangat mencolok. Meski begitu, tak ada yang berani menegurnya.
Lalu, setelah itu ... Pria itu berbelok di suatu jalan yang sempit di pasar. Berbaur dengan banyak orang hingga kehadirannya tak begitu di sadari. Benar. Ia memang selalu berbaur agar tak ada yang sadar tentang keberadaannya.
Wajah sedih pria itu menatap ke arah bunga yang ada di tangannya. "Aku sangat bersedih saat takdir berulang. Namun ... Kau juga mengalami hal yang sama, Li Wei. Nasibmu hanya membawa duka. Oleh karena itu, lebih baik kau tak ada di dunia ini."
Ada kalanya lebih baik manusia tak percaya pada ramalan. Karena ...
Takutnya banyak berprasangka dan mempercayai itu sebagai suatu 'kenyataan'.
Padahal ramalan adalah sesuatu penglihatan yang seperti jembatan dalam bayangan manusia. Itu seperti terbentuk, tetapi tak berarti apa-apa, juga, tak bisa dijalani.
Memaksa pun akan terjatuh.
***
Selamat membaca
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Maaf jika aku lambat up terus, tetapi aku selalu usaha untuk up rutin. Yah, anggap aja sebagai ujian kesabaran.
Itu pun jika ada yang menunggu cerita ini.
Mari bertemu di chapter berikutnya.
Adios~
__ADS_1
***