Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Setiap Langkah


__ADS_3

Ketika Yi Hua sampai di istana Timur milik Li Quon, ia menyadari jika Xiao aktif.


Rupanya Hua Yifeng memang tidak mengikuti Yi Hua.


"Xiao, kau mendengarku?" tanya Yi Hua ketika merasa jumlah pengawal yang lebih banyak kini mengitarinya.


Xiao berseru ketus di telinga Yi Hua. "Jangan banyak bicara. Aku demam."


HAH! Sistem ini tingkahnya semakin aneh saja. Bagaimana mungkin sistem Xiao ini bisa demam, di saat wujudnya saja masih tak bisa didefinisikan?


Yi Hua tak memperdulikan ocehan Xiao. "Apa yang kau rasakan di sekitar sini?"


Yi Hua bertanya hanya untuk memastikan, ini ulah manusia atau energi buruk.


"Seperti dulu, HuaHua. Ada energi buruk di kediaman Putra Mahkota Li," jelas Xiao cepat. Seketika suara Xiao menjadi waspada.


Namun ... Yi Hua sudah melakukan pembersihan waktu itu. Saat kejadian dimana Putra Mahkota sakit, Yi Hua yakin jika dirinya sudah menyerap semua hawa jahat di sini. Bahkan ia sampai menarik begitu banyak energi*.


^^^*Itu pas kasus pertama, waktu Li Quon sakit. Terus Yi Hua gunakan kasus ini supaya bebas dari hukuman mati. Yang 'Yi Hua' bertemu Hua Yifeng pertama kali, dan Hua Yifeng menarik energi buruk melalui bibir pas pertama kali mereka ketemu.^^^


Yi Hua mengambil kertas jimatnya dan berniat menyegel bangunan. Namun seorang pengawal bertindak kasar dengan mendorongnya untuk terus maju ke depan. Hal tersebut membuat kertas jimat Yi Hua melayang jatuh ke tanah dan rusak.


Sialan ini sungguh tak sabar! Kalau bukan di wilayah istana, sudah ku tendang kepalamu.


"Peramal Yi, jangan melakukan apapun," ucap pengawal itu yang membuat Yi Hua mengerutkan keningnya.


"Apa maksud Anda?" Apa orang ini mencurigai jika Yi Hua akan mengirimkan mantra-mantra aneh?!


Jika begitu sejak awal jangan undang Yi Hua kemari.


Pengawal itu bukannya menjawab, ia malah ingin mendorong Yi Hua untuk berjalan lebih cepat. Hal tersebut membuat Yi Hua memutar lengan pria itu, tapi tidak sampai mematahkannya. Itu membuat pengawal yang lain menyodorkan pedang mereka dari setiap penjuru. Mengarah pada Yi Hua yang terlihat melawan.


"Kalian punya peraturan, saya punya peraturan juga. Jika terjadi sesuatu yang buruk, jangan salahkan saya," ucap Yi Hua yang menatap angkuh pada orang-orang di sekelilingnya.


"Peramal Yi!"


"Jika ada sesuatu yang buruk, maka jangan sebut jika saya membiarkannya," ucap Yi Hua final.


Sebenarnya Yi Hua masih tak mengerti apa yang terjadi. Hanya saja ia mengira mungkin saja ini kembali seperti dulu. Pasti berkenaan dengan iblis, atau mungkin ada Cangkang Manusia yang dikendalikan di sini.


Berbicara tentang itu ... Siapa sebenarnya yang bisa mengendalikan Cangkang Manusia?


Dahulu pikiran Yi Hua juga sama, hanya kekuatan sebesar Lima Bencana yang bisa mengendalikannya.


Akan tetapi, Para Bencana sedang melemah kekuatannya. Dan juga Yi Hua percaya jika bukan Hua Yifeng yang melakukannya. Begitu juga Zhang Yuwen, Si Tirai Berdarah. Bao Jiazhen juga pasti tak memiliki urusan apa-apa di Kerajaan Li, karena objek dendamnya, Liu Xingsheng dan Liu Xinqian sudah hancur sekarang.


Xiao berkata tiba-tiba. "Sebenarnya dari dahulu aku menyadari ini, tetapi pernahkah aku mengatakan jika ada 'aroma' aneh di setiap kali Cangkang Manusia dikendalikan?"


Itu benar. Seringkali Xiao berkata, ada aroma aneh yang Yi Hua tanggapi dengan biasa. Bukan hanya itu ... Ketika Wei Fei dikendalikan, penari malang itu harus bergerak menjadi monster, Xiao juga berkata ada aroma aneh.


"Yi Hua, jika memang dugaan Liu Xingsheng benar ... Mungkin Bencana berikutnya sudah terlahir."


Entah efek dramatis darimana. Akan tetapi, setelah Xiao berkata seperti itu angin datang berhembus kencang. Menenangkan rambut panjang Yi Hua yang di kuncir kuda. Yi Hua menyingkirkan anak rambutnya dan menerbangkan kertas jimat ke empat penjuru mata angin. Membatasi keluarnya entitas apapun yang menjadi sumber energi buruk yang disebut Xiao.


Lalu, kertas jimat itu terbang dengan gaib ke udara dan menghilang di antara silau matahari.


Setelah itu, Yi Hua masuk menyusul ke dalam istana Putra Mahkota dengan suara jantung yang cukup berisik.


Ia mulai berpikir jika alasannya kembali hidup sebagai Yi Hua berkaitan dengan Bencana berikutnya.


Mungkin.


***


Ketika Yi Hua masuk, ia mendengar suara tangis hiperbolis dari arah kasur Putra Mahkota. Hal ini mengingatkannya tentang Li Quon yang sakit dahulu. Namun sekarang yang menangis bukanlah Zi Si, tetapi Selir Wen.


Wanita itu berpenampilan semakin ramai setelah kematian Selir Qian.


Tentu saja dalam persaingan Harem Raja, Selir Wen sekarang tak memiliki saingan.


Meski semua orang tahu di hati Raja hanya ada Selir Qian, tetapi Selir Wen melahirkan Putra Mahkota. Apalagi setelah Selir Qian tiada, itu membuatnya semakin congkak.


Selir Wen tampak menangis didampingi oleh pelayan pribadinya. Seorang Tabib duduk di samping kasur untuk memeriksa Li Quon. Ada beberapa pelayan yang berdiri di sekitar mereka.


Yi Hua memberi penghormatan. "Keberkahan menyertai Selir Terberkati Wen."


Selir Wen menatap bengis pada Yi Hua. Walau ia segera kembali memasang wajah sedihnya. Yi Hua tak yakin jika wanita ini benar-benar menangisi Li Quon.

__ADS_1


"Lihat apa yang kau perbuat, Peramal Sialan! Karena kau tidak berguna, makanya penyakit ini kembali lagi pada Putra Mahkota," tuduh Selir Wen yang membuat lidah Yi Hua gatal untuk menghujat.


Yi Hua dengan tenang berkata. "Mohon beribu ampun, Selir Terberkati Wen. Bisakah hamba memeriksa Putra Mahkota?" tanya Yi Hua.


"Tidak perlu! Harusnya kau segera dihukum mati secepatnya. Putraku yang malang. Bagaimana bisa peramal busuk ini menyakitimu," tangis Selir Wen lagi.


Selir Wen memerintahkan beberapa pengawalnya untuk menyeret Yi Hua. Rupanya wanita sialan ini masih dendam dengan Yi Hua. Terutama jika rumor tentang Raja Li Shen yang ingin Yi Hua menjadi Perdana Menteri terdengar.


Apa gerangan yang membuat Raja Li Shen tertarik pada peramal kecil yang miskin ini?


Selir Wen sangat cemburu. Tentu saja cemburu pada orang yang tak tepat. Bagaimana pun sejatinya perasaan Yi Hua muncul karena dirinya adalah Li Wei. Li Shen adalah adiknya.


"Lepaskan."


Para pengawal menurunkan pedang mereka ketika mendengar perintah tersebut. Di sana tampak Raja Li Shen yang baru datang. Mereka segera berlutut untuk memberi penghormatan, tak terkecuali Yi Hua.


Pria itu ... Seingat Yi Hua lebih kurus dari terakhir kali Yi Hua ingat.


Sudah seminggu yang lalu sejak dimakamkannya Selir Qian. Namun wajah angkuh Li Shen tak terberai oleh kesedihan.


"Yang Mulia, peramal busuk ini ..."Selir Wen berniat mengadu. Ia mendekat ke arah Raja Li Shen dengan wajahnya yang dibuat manja.


Namun Raja Li Shen melewatinya begitu saja. Menuju ke kasur Li Quon untuk melihat keadaan putranya.


"Lakukan apa yang bisa kau lakukan," perintah Raja Li dengan dingin pada Yi Hua.


Dan yang dikatakan Yi Hua ialah dirinya menyanggupi.


"Hamba harap siapapun yang ada di ruangan ini tidak boleh keluar dari wilayah istana Putra Mahkota," ucap Yi Hua yang mendengarkan ucapan Xiao.


Jika memang musuh ada di sini. Biarkan mereka mengurungnya.


***


Langkah pertama ...


Jika memang sakit Li Quon ini datang lagi karena energi buruk. Maka mungkin ada iblis yang mempengaruhi kesehatan Li Quon. Yi Hua memeriksa tanda, dan tidak ada bekas cakaran atau luka di tubuh Li Quon seperti dahulu.


Hanya saja tubuh pria kecil berkeringat dingin. Ia terus menutup matanya.


"Aku akan mencari cara agar kau sembuh," bisik Yi Hua pelan.


Lagi-lagi Xiao mengatakan jika tidak ada reaksi atas kertas jimat Yi Hua.


Li Quon bukan terkena kutukan Bao Jiazhen seperti Liu Xingsheng dulu. Tidak ada segel kutukan Li Quon. Xiao juga memastikan jika Li Quon tidak memiliki tanda kutukan.


Hanya saja yang Yi Hua pahami, Li Quon memiliki tubuh yang sensitif. Dia mudah terganggu dengan energi buruk.


Di ruangan ini hanya ada beberapa pelayan Li Quon, tetapi mereka semua dipastikan manusia. Mengapa?


Yi Hua sudah menerbangkan jimat untuk memeriksa. Dan ... Tidak ada reaksi apapun yang datang. Anggap saja kekuatan jimat Yi Hua cukup menjamin itu.


Raja Li dan segala macam atributnya (maksudnya Selirnya dan para pelayan), berada di ruangan lain. Namun masih di wilayah istana Putra Mahkota. Yi Hua sengaja meminta waktu untuk memeriksa.


Alasannya karena ...


Yi Hua menggunakan Lingkaran Mawar.


Kekuatan magis di Lingkaran Mawar akan membuat para iblis ketakutan.


Hanya menunggu waktu hingga mereka mengeluarkan diri.


Mungkin saat malam tiba.


Saat ini Yi Hua hanya mengawasi ... Lalu ...


SRATT!


Secarik kertas jimat terbang melalui jendela ruangan Putra Mahkota. Tentu saja itu menarik perhatian para pelayan. Dikiranya sangat hebat ketika melihat Yi Hua tengah bekerja. Dahulu mereka berpikir jika Yi Hua hanya orang yang bermulut besar.


Akan tetapi, Yi Hua tak mengenal kertas jimat itu.


Itu adalah milik ... Ling Xiao. Mengapa Ling Xiao mengirimkan kertas jimat padanya?


Yi Hua membuka kertas jimat yang dibentuk seperti burung itu. Di sana ada kelopak bunga mawar, dan kertas tersebut tidak kosong.


Dahi Yi Hua berkerut ketika membacanya. "Saya datang ke Pusat Kota mengira jika ada batu besar yang jatuh. Padahal hanya angin yang rindu meniup mawar."

__ADS_1


Huh?


Namun ketika melihat kata 'angin' (Feng), Yi Hua mengingat kata Feng di nama Hua Yifeng. Apalagi dengan kelopak bunga mawar yang terselip di kertas jimat.


Yi Hua membalik kertas jimat itu dan membaca. "Dia bertanya, 'Apakah kau tidak apa-apa?'"


Oh ... Jadi Hua Yifeng meminta Ling Xiao mengirimkan kertas jimat padanya. Itu karena Hua Yifeng tidak bisa menggunakan kertas jimat. Dia adalah iblis.


Xiao berdecak malas di telinga Yi Hua. "Ya ampun. Rasanya aku ingin menggulung dunia karena tak ada gunanya kami hidup di sini. Semuanya hanya menumpang."


Yi Hua berdecih untuk membalas Xiao. Akan tetapi, ia lebih fokus untuk membalas kertas jimat dari Ling Xiao.


Ia mondar-mandir di ruangan Putra Mahkota, dan pelayan menyadari itu.


"Ada apa Peramal Yi?" tanya pelayan yang terlihat seperti jauh lebih mudah dari Yi Hua.


Yi Hua berkata. "Apakah ada kuas dan tinta di sini?" tanyanya.


Ia biasanya hanya menerbangkan kertas jimat yang memang sudah ditulis dari rumahnya. Biasanya di sana hanya segel dan mantra. Jika Yi Hua ingin kertas jimatnya semakin kuat, biasanya dia menggunakan darah. Tapi metode ini tidak terlalu diizinkan dalam dunia manusia, karena sama seperti metode pemanggilan energi buruk. Siapa sangka jika kertas jimat bisa menjadi sarana berkomunikasi.


Salah seorang pelayan mengambilkan kuas dan tinta untuk Yi Hua.


Lalu, dengan cerobohnya Yi Hua duduk di lantai. Ia duduk dengan semangat sambil menulis sesuatu. Ia berucap pada Xiao, "Jangan mengintip," ancam Yi Hua.


Jika Xiao punya mata, maka sistem itu akan memutar matanya jengah. Masalah Xiao itu seperti ada di dalam diri Yi Hua. Apa yang Yi Hua pikirkan dan rasakan sangat mudah Xiao ketahui.


Para pelayan berbisik. "Apa Peramal Yi sedang berkomunikasi dengan Dewa? Katanya dahulu di zaman Peramal Ling Xiao, para peramal bisa mendengar perintah Dewa."


"Jika begitu ... Sepertinya para peramal sekarang memiliki kemajuan," bisik pelayan yang lain.


Setelah Yi Hua selesai menulis, Yi Hua kasak-kusuk lagi di sekitar ruangan. Ia berhenti di guci kecil berisi bunga. Yi Hua tak tahu jenis bunganya apa. Akan tetapi, ia tetap mengambil kelopaknya dan menyelipkannya di kertas jimat.


Lalu, Yi Hua menerbangkannya. Mengirim suratnya untuk dibaca Hua Yifeng dengan kertas jimatnya.


Tak berapa lama ... Kertas jimat Ling Xiao terbang kembali memasuki celah jendela.


Yi Hua dengan semangat membukanya. Ada tulisan Ling Xiao yang rapi di sana.


"Dia berkata, 'Hati-hatilah. Tak usah takut karena aku akan selalu datang jika kau membutuhkan. Aku akan menjaga di sekitar Kerajaan Li. Keadaanku mulai membaik'. Itu katanya," itulah yang tertulis di jimat milik Ling Xiao.


Di sana juga ada kelopak bunga mawar merah yang terlihat baru dipetik.


Yi Hua tersenyum tipis karena tak mengerti dengan suasana hatinya sendiri.


SREK!


Tepat ketika Yi Hua mengirimkan kertas jimatnya kembali, Sarung pedang atau Lingkaran Mawar yang ada di pinggang Yi Hua bergerak gelisah. Benda ini merasakan sesuatu.


Yi Hua sudah membungkus sarung pedang itu hanya agar tak ada yang tahu jika dirinya bisa mengendalikannya.


Tepat ketika itu ... Cahaya kemerahan dari mentari datang. Tandanya matahari akan segera tenggelam.


Yi Hua menatap pada pelayan yang tadi memberikannya tinta dan kuas.


"Beritakan pada semua pelayan di istana ini ... Jangan ada yang keluar di halaman depan istana Putra Mahkota," ucap Yi Hua ketika melihat kertas segelnya mulai diretakkan.


Segel Yi Hua memang lemah. Namun dari sana Yi Hua bisa mendeteksi jika ada sesuatu di istana ini.


"Sialan. Ada seseorang yang pergi ke halaman," ucap Yi Hua ketika melihat bayangan hitam menuju ke bagian depan istana Putra Mahkota.


Di sana ada segel yang digunakannya untuk menangkap energi buruk.


Jika seseorang tidak sengaja masuk, memang tak akan melukai manusia. Namun itu akan merusak segel yang Yi Hua susah payah buat. Yang ditakutkan ialah jika segel itu rusak, maka energi buruk ini akan keluar dari istana.


Itu berarti energi buruk ini bisa kembali seenak kepalanya.


Karena Yi Hua berniat memusnahkannya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2