
"Sudah aku bilang, gunakan saja pedang portal sihir milikku. Aku bisa menjamin ..."
Yi Hua melirik ayahnya dan ayahnya itu langsung diam. Shi Heng sepertinya masih mementingkan berdagang di atas segalanya. Shi Heng langsung tersenyum manis pada Yi Hua untuk menenangkan anaknya itu. Tak lagi ia ingin menyela pembicaraan antara Raja Li Shen dan Ling Xiao. Yah, mungkin Shi Heng juga tak pernah menduga jika sekarang yang ada di depannya itu bukanlah Yi Hua asli, Putrinya. Jika Shi Heng tahu mungkin Shi akan menebas kepalanya sekarang juga.
Di lihat dari segi apapun, dirinya tetap seperti mencuri kehidupan Yi Hua asli. Walau ia tak pernah tahu mengapa itu bisa terjadi.
"Kita tak punya pilihan lain, Yang Mulia. Hua Yifeng terkenal bukan hanya karena bencana yang ia bawa. Akan tetapi, karena kekuatannya yang bahkan membuat Dewa bergetar. Jika Hua Yifeng membuat lebih banyak kebaikan di masa lampau, mungkin dia akan menjadi Dewa. Namun karena dia lebih condong pada kejahatannya, dia menjadi iblis," jelas Ling Xiao masuk akal.
Pada hakikatnya, kehidupan selalu begitu. Hitam dan putih. Kau akan di kelompokkan dalam dua kategori itu. Sehingga kau cenderung akan berpikir pada dua hal, baik dan tidak baik. Walau nyatanya baik atau tidaknya itu bersifat tergantung.
Yi Hua menatap pada tengkorak Tuan Qiu yang masih menjadi pemandangan terburuk di sini, "Aku ..."
Jika itu yang terjadi pada Liu Xingsheng, maka ...
Dirinya akan mengulang kesalahan lama. Yaitu, di saat ia bisa menolong orang lain, tetapi ia tak melakukan apa-apa. Pada akhirnya, ia akan melihat orang-orang di sekitarnya akan pergi dan dirinya tak melakukan apapun.
Lalu, apa artinya kesempatan hidup kedua ini?
SRET!
Hua Yifeng merangkul bahu Yi Hua, sekaligus menghentikan ucapannya.
"Berhentilah berpikir bahwa kau tak melakukan apa-apa. Jangan pernah berpikir jika sesuatu yang buruk terjadi, maka itu salahmu. Kau tak perlu menjadi pahlawan bagi siapapun, karena tak semua orang akan mengorbankan diri untuk dirimu," bisik Hua Yifeng dalam. Seolah Hua Yifeng memiliki kesedihan di dalam suaranya.
Yi Hua mengangkat dagunya untuk melirik langsung pada Hua Yifeng yang lebih tinggi darinya. Mengapa Yi Hua merasakan kesedihan dari Hua Yifeng sekarang?
Tapi Yi Hua jadi ingat bahwa iblis memang memiliki tugas untuk menghasut manusia. Sekarang Hua Yifeng sedang membuat Yi Hua untuk menjadi egois. Apakah Yi Hua sudah di ambang batas kekonyolannya hingga berpikir sampai ke sana?
"Aku tak mengatakan apapun," ucap Yi Hua yang berhasil menemukan suaranya sendiri.
Senyum tipis Hua Yifeng hadir, "Anak baik."
"... Tentang Lingkaran Mawar." Ling Xiao mendadak mengeraskan suaranya. Lirikan mata Ling Xiao sedikit aneh, tetapi pria itu melanjutkan ucapannya.
"Jika semua pecahan Lingkaran Mawar terkumpul, mungkin dia akan mengeluarkan kekuatannya ... Walau tanpa pemiliknya," ucap Ling Xiao sambil melirik pada Hua Yifeng.
Ling Xiao jelas mengenali Hua Yifeng, karena Hua Yifeng adalah putra angkatnya. Akan tetapi, masih tak bisa dipahami jika sekarang Hua Yifeng dan Ling Xiao bertindak seolah mereka tak saling mengenal. Bahkan seingat Yi Hua, dahulu saat dirinya masih kehilangan ingatan, dan An mengenalkan Ling Xiao sebagai temannya.
Entahlah apapun status keluarga antara Ling Xiao dan Hua Yifeng, itu sebenarnya tak penting. Yang terpenting mereka tak bermusuhan.
Selir Qian berpaling untuk berbicara pada Raja Li Shen yang berdiri di belakangnya. "Pinjamkan hamba Lingkaran Mawar, Yang Mulia," pinta Selir Qian tanpa rasa takut.
Pecahan Lingkaran Mawar yang ditemukan selama ini dikumpulkan oleh Kerajaan. Lingkaran Mawar diletakkan di dalam segel yang dibuat oleh para peramal Kerajaan. Untuk mengantisipasi jika Lingkaran Mawar, yang nyatanya senjata spiritual, tiba-tiba mengeluarkan kekuatannya. Bagaimana pun Lingkaran Mawar dianggap membawa kutukan dan bencana.
Sekarang pecahan terakhirnya ada di dalam peti di depan mereka.
Jika digabungkan, maka Lingkaran Mawar akan sempurna.
Dan ...
"Benda itu membawa bencana ..." ucapan Raja Li Shen terhenti ketika Selir Qian berucap lagi.
"Apa Yang Mulia takut jika Putri Li Wei terlahir kembali?" tanya Selir Qian dengan tatapan tak percaya.
Yi Hua diam-diam mengepalkan tangannya. Kukunya tanpa sadar menusuk ke dalam telapak tangannya. Membuat luka baru di sana. Menutupi rasa sakit di hatinya.
Adiknya Li Shen masih membencinya.
Sulit dipercaya sekarang aku bertemu dengan adikku sendiri dengan wujudnya yang lebih tua dariku.
^^^*Yi Hua asli usianya baru 17 tahun, sedangkan Raja Li Shen sudah 20-an.^^^
Wajah Raja Li Shen berubah. Jelas ada kemarahan di sana. Akan tetapi, ia tak mengatakan apapun, apalagi berdebat dengan Selir Qian. Ia hanya memberi isyarat agar pengawalnya mendekat.
Yah, Li Shen membawa sekitar lima orang pengawal untuk menemani mereka dalam perjalanan. Akan sangat berbahaya jika ada yang mengenali mereka sebagai Raja dan Selir dari Kerajaan Li.
__ADS_1
"Ambil Lingkaran Mawar di Kerajaan," perintah Raja Li Shen dengan rahang mengeras.
Selir Qian terlihat hampa. "Tapi perjalanan kembali ke Pusat Kota memerlukan waktu tiga hari. Belum lagi dengan kembali ke tempat ini. Waktu Liu Xingsheng ..."
Yi Hua langsung bicara dengan cepat. "Hamba yakin Perdana Menteri Liu masih baik-baik saja."
"Yi Hua ..." Suara Selir Qian bernada percaya. Selama ini Yi Hua cukup dengan dengan adiknya. Dan Selir Qian percaya Yi Hua tak akan berbuat kecurangan apapun jika melibatkan nyawa Liu Xingsheng.
"Jika Bao Jiazhen ingin langsung membunuh Liu Xingsheng, dia akan melakukannya sama seperti yang terjadi pada Tuan Qiu," jelas Yi Hua masuk akal.
Jika memang targetnya untuk membunuh Liu Xingsheng, untuk apa Bao Jiazhen susah-susah menyamar untuk menculiknya. Bahkan mengikuti mereka sejak dari Kerajaan Li, dan mengatur strategi agar Liu Xingsheng jadi boneka dan sebagainya. Bao Jiazhen bisa langsung menyerang kelompok mereka, dan membunuh mereka satu-persatu.
Atau, Bao Jiazhen takut pada sesuatu?
Yi Hua melirik Hua Yifeng, yang sangat diyakini oleh Yi Hua sebagai musuh semua umat. Akan tetapi, Hua Yifeng malah membalas tatapan Yi Hua dan mengedipkan matanya. Sudahlah ... perayu semacam Hua Yifeng memang susah disembuhkan. Berdebat saja tak akan selesai.
Namun mendengar dugaan Yi Hua, wajah Selir Qian berubah dingin.
Yi Hua merasa semua akibat punya sebab. Ia tahu ada hal tak sederhana antara Selir Qian dan Liu Xingsheng.
Kedua bersaudara ini lebih mencurigakan dibanding wajah Hua Yifeng yang selalu pura-pura tak tahu.
"Pada akhirnya kita hanya bisa menunggu," tanggap Raja Li Shen sambil menepuk bahu Selir Qian. Mencoba menenangkannya.
Sebenarnya Yi Hua juga curiga terhadap Raja Li Shen. Mustahil orang ini tidak tahu apa-apa. Akan tetapi, sampai sekarang Yi Hua belum bisa menghubungkan semua poin itu.
Mungkin masih ada pecahan yang kurang di sana.
Ling Xiao menghela napasnya, dan melanjutkan ucapannya. "Tentang Hua Yifeng ... Itu lebih mudah. Bahkan kita bisa meminta bantuannya untuk mengambil pecahan Lingkaran Mawar lebih cepat."
"Apa maksud Guru Ling dengan Hua Yifeng yang bisa membantu?" tanya Li Shen.
Mungkin pria itu masih tak setuju untuk menggunakan kekuatan iblis demi membantu mereka. Sulit dipercaya saat mereka merendahkan betapa Iblis keji dan sebagainya, tetapi mereka masih meminta bantuannya. Lebih dari segalanya ... Li Shen adalah seorang pendendam yang salah paham.
Sebab, Hua Yifeng tidak pernah membantai keluarga Kerajaan. Bahkan Hua Yifeng rela menjadi An untuk membantu Raja Li Shen dalam membangun Kerajaan Li kembali. Hanya saja ... Tak ada yang mengatakannya, dan orang lain hanya memberi hinaan untuk setiap nama Hua Yifeng yang dikeluarkan.
Jenderal Hantu. Hey ... Bagaimana bisa mereka lupa tentang Jenderal Hantu yang selalu membawa cerita mistis di belakangnya?
Dimana ada Jenderal Hantu, di sana ada kematian.
"Ling Xiao ..." Entah mengapa Hua Yifeng terlihat tak menyukai ide itu.
Shi Heng yang sejak tadi diabaikan dalam pembicaraan angkat bicara. "Lalu, ... Makhluk bernama Hua Yifeng ini dimana? Sejak tadi kalian menyebutnya."
Tatapan Yi Hua mengarah pada Hua Yifeng. Diam-diam memohon pada Hua Yifeng.
"Dia akan melakukannya karena dia bodoh jika menyangkut perasaannya. Hua Yifeng tak punya pilihan untuk menolak," ucap Ling Xiao dengan senyum manisnya. Kepala Ling Xiao menggeleng sedikit pertanda ia hanya bisa memaklumi.
Yi Hua menatap Hua Yifeng tak mengerti.
Apa maksudnya Hua Yifeng tak punya pilihan? Mengapa urusan Liu Xingsheng bisa menjadi penting bagi Hua Yifeng?
Hey, ini aku yang tak paham atau memang Hua Yifeng yang sulit dimengerti?
***
"Yi Hua, kau baru saja datang ke tempat ini dan kau mau ikut dengan urusan kerajaan yang rumit?" tanya Shi Heng yang saat ini berbicara dengan Yi Hua empat mata.
Setelah semua perdebatan, Shi Heng mengizinkan semua 'tamu'nya untuk menginap di wilayahnya. Saat ini ia tengah berbicara pada Putrinya yang terlihat sibuk memperhatikan semua senjata spiritual yang dimiliki Kerajaan Bawah. Ia tak menyangka jika Yi Hua tertarik pada senjata sekarang. Dahulu Yi Hua lebih tertarik untuk membaca buku dibanding mempelajari senjata.
Aku sedang mencari senjata yang bisa aku gunakan. Nanti aku jual setelah urusan Liu Xingsheng ini selesai.
"Yi Hua ... Dengarkan ayah ..."
Yi Hua mendadak mengangkat kepalanya, "Kenapa Anda meninggalkan Yi Hua?"
__ADS_1
Pertanyaan ini bukan karena dirinya ingin tahu. Ini untuk Yi Hua, makanya ia tak menyebut 'aku' dalam pertanyaannya. Hanya saja ... Ia merasa jika Shi Heng membawa Yi Hua pergi dari Kerajaan Li, mungkin yang berdiri di depan Shi Heng adalah putrinya yang sesungguhnya. Sungguh disayangkan saat Shi Heng bahkan tak tahu jika putrinya sudah tiada.
"Yi Hua ..."
Yi Hua merasa matanya berkaca-kaca. Ia tak tahu harus sedih pada yang mana. Jika Yi Hua asli tidak mati, maka dirinya tak akan terlahir kembali. Akan tetapi, bagaimana bisa ia mensyukuri kematian Yi Hua yang asli?
Itu sangat kejam untuk Yi Hua.
"Kerajaan Bawah memiliki akses untuk tahu banyak informasi. Sulit dipercaya jika Ayah tak tahu keadaan Yi Hua yang dipenjara. Apakah Ayah tahu apa yang Yi Hua alami? Yi Hua sendirian di rumah kecil itu. Menanti Ayahnya yang 'kata'nya menghilang dalam perjalanan. Tak tahu dimana jasad ayahnya," ucapnya yang berusaha untuk tahu.
Dimana ayahnya ini ... Yang berkuasa di Kerajaan Bawah, tetapi tak memperdulikan putrinya sendiri?
Lalu, Yi Hua harus ketakutan karena nyaris dihukum mati. Itu semua harus dialami oleh Yi Hua sendirian.
"Ayah hanya ..."
Yi Hua angkat bicara. "Apakah karena Yi Hua selalu mengingatkan Anda pada Yi Xia?"
^^^*Mengingatkan kembali ... Yi Xia itu ibunya Yi Hua. Yi Xia adalah Dewa Phoenix yang menjaga Pohon Phoenix di Desa Yi. Yi Xia mati karena kehilangan kekuatannya. Yah, karena kekuatannya 'tercemar' oleh manusia. Seharusnya Dewa itu suci, tetapi dia berhubungan dengan Shi Heng hingga melahirkan Yi Hua. Itu melanggar kodratnya sebagai Dewa Phoenix.^^^
"Darimana kau tahu semua itu?" ucap Shi Heng yang wajahnya berubah dingin.
Shi Heng selalu menyembunyikan semuanya. Bahkan saat Shi Heng selalu membawa Yi Hua kecil ke Desa Yi, yang sebenarnya hanya agar Yi Hua kecil bisa memberkati Pohon Phoenix. Hanya agar pohon itu tetap hidup dan membawa kesuburan di Desa Yi.
"Aku datang ke Desa Yi. Di sana Pohon Phoenix mengakuiku sebagai Tuan," ucap Yi Hua tanpa berniat mempersulit pembicaraan.
Shi Heng menghela napasnya. "Bisakah kita tidak membicarakan masalah ini, Yi Hua?" Shi Heng menolak untuk bertengkar.
Yi Hua merasa sedikit kecewa.
Seorang anak tak bisa menentukan bahwa dia lahir dari siapa. Bukan salah Yi Hua jika Yi Xia menghilang. Yi Hua tak pernah tahu tentang dirinya yang menjadi penyebab kematian ibunya. Lalu, Shi Heng juga menyegel kekuatan Yi Hua agar Yi Hua tak tahu jika dirinya memiliki Tungku Iblis. Padahal itu semua seperti bom waktu bagi Yi Hua.
Kematiannya bisa datang kapan saja, dan dia tak tahu tentang itu.
"Maka Ayah juga tak punya hak untuk melarang aku untuk ikut campur dalam masalah ini," balas Yi Hua tak kalah dingin.
Bahkan sekarang dirinya tak berminat lagi untuk mengambil harta milik Kerajaan Bawah ini.
Yi Hua berniat untuk keluar dan menemui Ling Xiao serta Hua Yifeng. Jangan lupa tentang Yue Yan yang tak kebagian dialog karena orang-orang di sekitar yang berdebat. Mereka menunggu di luar dengan alasan jika Jenderal Hantu akan segera datang bersama Lingkaran Mawar yang dibawa. Sedangkan Selir Qian dan Raja Li Shen, entah mereka dimana.
"Maafkan Ayah karena meninggalkanmu, Yi Hua. Kau benar ... Ayah tak bisa melihat dirimu karena selalu teringat pada Yi Xia. Namun Ayah menyayangimu ... Ayah datang ke Kerajaan Li untuk menyelamatkanmu," ucapan Shi Heng membuat Yi Hua berhenti berjalan.
Yi Hua menunggu Shi Heng menyelesaikan ucapannya.
"Ayah datang ke penjara tempat kau dikurung dan Ayah melihat kau yang sudah tak bernyawa," ucap Shi Heng dengan nada hampa.
DEG!
Shi Heng mengusap wajahnya yang tampak lebih hampa dibandingkan wajahnya. "Ayah tahu bahwa aku terlambat. Namun sekarang kau berdiri di depan Ayah, sehingga Ayah bertanya-tanya ..."
Yi Hua bisa merasakan jantungnya yang berdetak kencang.
"Siapa yang berdiri di depan Ayah sekarang ini?" tanya Shi Heng dengan air mata di pipinya.
Itulah mengapa pertanyaan pertama Shi Heng adalah ... Kau masih hidup?
Apakah itu berarti Shi Heng tahu penyebab kematian Yi Hua?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~