
"Saya menang, Tuan Hua," ucap Li Wei sambil menatap pria itu dari samping.
Yah, walau pria ini belum tentu setuju dengan janji yang dibuat oleh Li Wei itu.
Mata pria itu masih dingin seperti biasanya. Li Wei jelas tak bisa mengatakan apapun di sini. Apalagi saat ia harus mengatakan hal itu dengan sombong, padahal dirinya yang membuat Hua gagal dalam Perburuan Malam.
Jika dihitung dari perolehan, Hua jelas menang. Akan tetapi, karena pelanggaran yang dilakukan oleh Hua, semuanya tak akan dihitung sebagai poin. Itulah yang menjadi keputusan. Hua dikeluarkan dari Pelatihan Awan untuk saat ini.
SRET!
"Ah ..."
Li Wei mendadak terkejut ketika Hua mengait kakinya yang tak terluka dan membuat Li Wei kehilangan keseimbangan. Lalu, setelah itu, Li Wei merasa seperti ia akan terjatuh ke tanah. Ia bahkan sudah membayangkan betapa sakitnya saat pinggangnya harus menyentuh tanah. Ini terasa seperti Li Wei melayang selama beberapa detik di udara, dan tangan Hua menangkap pinggang Li Wei.
Tatapan dingin Hua mengarah pada wajah pucat Li Wei. Ini bukan karena Li Wei sakit, tetapi lebih pada dirinya yang terkena angin malam. Meski begitu, Li Wei sekali lagi bisa melihat pada mata kelam Hua yang tak terbaca.
"Ingatlah itu." Ucap pria itu singkat.
Eh? Maksudnya pria ini mengajari Li Wei cara menjatuhkan orang lain?
Seperti yang sudah menjadi janji di antara mereka berdua, yah ... Walau pun terkesan sepihak, tetapi Hua sudah mengajari Li Wei. Hal tersebut membuat Li Wei merasa jengkel karena dia tak memahami apa-apa, dan Hua bahkan tak terlihat tak ingin mengulanginya.
"Sekali lagi," pinta Li Wei yang berusaha bangkit dari tangan Hua yang menyangga tubuhnya.
Namun Hua dengan teganya melepaskan Li Wei untuk terbaring di rerumputan. Meski tak begitu tinggi, tetapi Li Wei yang sedang kesulitan berjalan jelas tak bisa bangkit dengan cepat. Ia hanya bisa mengeluh karena Hua sama sekali tak memiliki hati untuk membantunya berdiri.
Dasar pelit sekali! Jika punya kemampuan itu sebaiknya dibagi, kalau punah siapa yang mewarisinya nanti?
Li Wei yang tak mau kalah dengan Hua segera meraih kaki Hua untuk dipanjat. Akibat tenaga Li Wei yang kuat, dan Hua yang tak siap kaki pria itu goyah. Pada akhirnya, Hua juga ikut terduduk di rerumputan. Hal tersebut membuat Li Wei mendadak tertawa kecil.
"Ternyata Anda juga terkadang tak sekuat yang saya kira," ucap Li Wei sambil tertawa tak jelas.
Selama ini Hua seringkali mengerjai Li Wei, dan baru kali ini Li Wei bisa membalasnya. Jelas itu adalah peristiwa yang perlu diingat.
Li Wei tertawa tanpa menyadari Hua yang menatap padanya. Ketika Li Wei menoleh pada Hua, pria itu sudah kembali menatap pada Tembok Batu Permohonan. Li Wei menjadi ingat sesuatu.
"Tuan Hua, Anda bahkan tak menulis permohonan. Padahal jika seseorang menulis permohonan saat ia masuk ke Pelatihan Awan, maka saat ia akan meninggalkan Pelatihan Awan harapannya akan terkabul," ujar Li Wei yang sangat gerah jika kurang bicara.
Meski ia yakin Hua tak akan menanggapi apa-apa, Li Wei hanya terus berbicara. Ini lebih baik dibanding harus bicara dengan sapi. Maka dari itu, Li Wei tetap bicara. Setidaknya, Hua pasti memahami perkataannya.
"Apa permohonanmu?" tanya Hua tiba-tiba.
Li Wei menoleh pada Hua yang entah mengapa menanggapi pembicaraan ini. Hal tersebut yang membuat Li Wei ingin memeriksa dahi Hua. Siapa tahu pria ini kerasukan sapi, tetapi pria ini masih terlihat datar seperti biasanya.
Apa mungkin dia terkena percikan batu di Labirin Batu saat itu? Makanya otaknya rada-rada bergeser.
Menyadari jika Li Wei tak menjawabnya, kali ini Hua yang menoleh pada Li Wei. Dan, Li Wei yang sedang melamun segera membubarkan lamunannya untuk kembali ke rumah masing-masing. Bagaimana pun ia tak seharusnya melamun di saat berbicara dengan orang lain.
Li Wei mengerutkan keningnya, "Saya belum memikirkan apa yang ingin saya tulis di sini. Sebenarnya saya berharap semoga saya bisa bernapas sambil minum. Akan tetapi, saya pikir doa itu sama saja dengan mendekatkan diri dengan maut. Oleh karena itu, saya harus memikirkannya kembali."
Yah, sejatinya Li Wei hanya menjawab dengan asal saja. Ia memang tak memikirkan apa-apa tentang permohonan di dinding ini. Ia lebih bisa mengatakan bahwa dirinya tak percaya.
Kata orang lain, setiap permohonan akan mudah terkabul jika percaya. Li Wei sebenarnya tak percaya pada hal ini. Akan tetapi, jika setiap permohonan di sini dikabulkan, maka itu lebih baik.
"Oh."
Ya ampun. Sabar-sabar. Jangan sampai aku menggelindingkan orang ini ke jurang.
Li Wei sudah menjawab dengan kalimat cukup panjang. Namun tanggapan Hua sama sekali tak terlihat bahwa pria itu berniat menjawabnya. Lagipula, Li Wei seharusnya tak berharap untuk berbincang baik dengan pria ini.
Akan tetapi, ... Besok Hua akan pergi, dan entah kapan lagi Li Wei akan bertemu dengan pria ini.
Hua pasti akan kembali ke kediaman Ling yang cukup jauh dari Istana Kerajaan. Juga, ketika Li Wei keluar dari Pelatihan Awan ini ia akan kembali menjadi seorang Putri di Kerajaan Li. Ia tak akan bisa bebas berkeliaran seperti sapi lagi.
"Lalu, apa permohonanmu?" tanya Li Wei yang bosan karena sunyi beberapa saat.
Hua ini adalah tipe yang tidak akan bicara jika tak diajak bicara.
"Tidak ada."
Apa maksudnya tak ada?
__ADS_1
"Maksud saya adalah apa yang inginkan di masa depan? Tentu saja setiap orang memiliki keinginan," ucap Li Wei sambil menatap langit berbintang dari tempat ia berbaring.
Hua masih duduk di sebelahnya. Kaki kanan pria itu naik untuk menumpu lengan kanannya. Selebihnya Li Wei tak memperhatikan begitu rinci. Yang ia tahu Hua tak bermasalah saat duduk berdua dengannya seperti ini.
Cuaca malam ini agak teduh, tak dingin juga, tetapi tak begitu panas. Mungkin angin malam juga tak begitu dingin karena sudah memasuki musim panas. Li Wei ingat jika banjir di Pusat Kota juga mulai surut. Setidaknya pekerjaan Li Jun sedikit bermanfaat.
Walau tak ada yang bisa menjamin jika tak ada banjir lagi nantinya.
"Aku tak tahu."
Orang ini lebih sulit diajak bicara ketimbang sapi.
Li Wei menghela napasnya. "Mengapa?"
"Putri, aku tak tahu siapa diriku sendiri," ucap Hua yang untuk pertama kalinya menyebutnya dengan panggilan hormat.
Namun apa yang menjadi perhatian Li Wei adalah ucapan pria itu. Lalu, tak lama mata kelam Hua mengarah pada Li Wei, dan pria itu berkata lagi. "Aku adalah orang yang tak punya masa lalu, dan begitu juga masa depan."
Sebenarnya Li Wei pernah mendengar ini dari rumor beredar. Tak tahu siapa yang memulai. Akan tetapi, cerita semacam ini entah sejak kapam atau sejak manusia bisa saling berkomunikasi, sudah menjadi bahan pembicaraan sehari-hari. Terutama saat seseorang seperti Hua muncul di Pelatihan Awan.
Seorang anak angkat keluarga Ling yang tak diketahui asal-usulnya.
Awalnya Li Wei tak pernah berpikir serius tentang ini. Bagaimana pun dirinya juga baru bertemu dengan Hua sekarang. Walau Hua sudah diangkat menjadi anggota keluarga Ling sejak lama.
Li Wei mengalihkan pandangannya terlebih dahulu dari Hua. Ia tak tahu harus menanggapi apa.
"Dan, kau ... Berhentilah mengikutiku," lanjut Hua lagi dengan nada menyebalkan.
Li Wei mendecak sekilas. "Siapa juga yang mengikuti Anda."
Sebenarnya aku tak mengikuti pria dingin ini! Aku hanya tertarik dengan kemampuannya yang unik itu.
Ditambah lagi ... Hua membuat Li Wei selalu bertanya. Bagaimana bisa ada seseorang yang seperti dirinya?
Kemampuan Hua bukanlah sesuatu yang biasa. Ditambah lagi darahnya yang membuat kelelawar di Labirin Batu ketakutan. Bagaimana itu bisa terjadi?
Akan tetapi, Li Wei sangat yakin jika Hua adalah manusia. Pria ini hanya tak biasa.
Namun Hua tak menanggapi apa-apa. Pria itu masih berdiri tegak seperti tiang penyangga istana. Li Wei menarik senyumnya agak sedih, terutama saat pria itu kembali berjalan lagi.
Mau tak mau Li Wei berusaha bangkit dari duduknya. Ia harus segera kembali ke ruangannya, atau jika Permaisuri kejam itu tahu Li Wei berkeliaran, maka Li Wei mungkin akan ditukar dengan pelayan di Istana. Entahlah. Li Wei tak tahu bagaimana lagi kekejaman ibunya itu.
SRAT!
Hua menoleh ketika ia melihat Li Wei mengambil batu di tanah. Baru saja Hua berpikir jika Li Wei akan melemparnya, tetapi Li Wei menahan tangannya sendiri. Gadis itu menulis sesuatu di sana, dan itu adalah kalimat yang agak panjang. Hua hanya memperhatikan.
Li Wei menuliskan permohonannya di sana. Di Tembok Batu Permohonan.
"Sebenarnya, saya ingin bertemu lagi dengan Anda," ucap Li Wei tanpa melihat pada Hua.
Angin berhembus dan membuat rambut Li Wei yang terurai berkibar. Ia hanya berharap rambutnya tak akan seperti rambut sapi setelah ini. Pakaian tidur berwarna putih yang Li Wei kenakan juga berkibar, dan membuat Li Wei harus memperbaikinya terlebih dahulu sebelum berbicara.
Li Wei menyelipkan rambutnya ke daun telinga, "Jika Anda tak punya masa lalu dan masa depan, izinkan saya menjadi bagian dari sana."
Hey! Apa yang aku katakan?!
Li Wei sebenarnya tak tahu apa yang ia maksudkan. Hanya saja ia berpikir bahwa masa lalu dan masa depan itu sebenarnya sepele. Jika kau berkata "dahulu aku pernah ...", maka itu adalah masa lalu. Lalu, ketika kau hidup dan berjalan seperti bagaimana rangkaian hidupmu yang rupa-rupa warnanya, maka kau seperti menjalani masa depanmu.
Hanya itu yang Li Wei pikirkan saat itu. Mungkin ia tak pernah menyangka jika apa yang ia katakan itu memiliki dampak di kehidupannya kelak.
Sebuah ucapan yang menjadi tujuan hidup orang lain. Mungkin.
Li Wei melempar batu untuk ia menulis itu pada Hua. Tanpa disangka pria itu menangkapnya.
Belum sempat Li Wei mendengar jawaban pria itu, pria itu berbalik tanpa berniat untuk mengatakan apa-apa. Hal tersebut membuat Li Wei sedikit kecewa. Apalagi Hua terlihat seperti orang yang terburu-buru. Mungkin pria itu sedang ada panggilan alam. Entahlah.
Pada akhirnya, Li Wei hanya bisa ikut berbalik. Mereka berjalan di tujuan mereka masing-masing tanpa menoleh ke belakang. Bagaimana pun mungkin seharusnya seperti ini ...
Mereka adalah dua orang yang tak pernah saling bersangkutan.
Namun yang ditulis di Tembok Batu Permohonan adalah ... "Ini bukan terakhir kalinya."
__ADS_1
Pada akhirnya, itu memang terakhir kalinya mereka bertemu ... Seingat Li Wei.
Ia tak berpikir jika dirinya akan mengingat banyak hal. Akan tetapi, memang ia hanya bertemu dengan seseorang bernama Hua untuk pertama dan terakhir kalinya. Perlahan ia mulai menjadi lupa. Terutama memang kapasitas otak Li Wei dalam mengingat orang lain juga cukup sempit.
Kemudian, tahun demi tahun berubah. Li Wei hidup sebagaimana dirinya sendiri.
Hingga ia mulai lupa pada apa yang ia katakan sendiri di malam itu.
***
Kemudian, di beberapa tahun setelahnya.
Mungkin setelah Li Wei menyelesaikan Pelatihan Awan, dan kembali ke kediamannya. Ia mulai menghabiskan kehidupannya sebagai seorang Putri dan mulai dihias oleh pelayan seperti seorang Putri. Bukannya Li Wei tak menyayangi kebebeasannya.
Hanya saja itu adalah bagian dari janjinya pada Raja Li.
Pria yang harusnya ia panggil ayah itu memberinya kebebasan untuk ikut dalam Pelatihan Awan. Sebagai gantinya, setelah itu ... Li Wei harus menjalani hidupnya sebagai seorang Putri dari Kerajaan Li.
Hidup seperti mawar yang cantik. Benarkah?
STAK!
"Putri! Apa yang Putri lakukan?" teriak seorang pelayan ketika Li Wei menangkap seekor ayam dari pinggir jalan.
Di belakang pelayan itu ada Wei Wuxie dan Zhang Yuwen yang juga ikut mengejar Li Wei. Bagaimana pun mereka awalnya hanya ingin mengunjungi Li Wei di kediamannya. Akan tetapi, siapa menyangka jika ia melihat Li Wei berlari keluar tiba-tiba.
Mau tak mau kedua orang itu ikut mengejarnya. Apalagi tenaga Li Wei bukanlah tenaga yang main-main. Gadis itu dengan pakaian mewahnya sebagai seorang Putri menerobos pasar di Pusat Kota. Mau tak mau mereka memberi jalan. Hingga Li Wei berhenti ketika gadis itu melihat ayam, dan menangkapnya.
Siapa yang mengatakan jika gadis ini akan hidup dengan ciri khas seorang Putri Raja?
Zhang Yuwen menghela napasnya sebelum meraih ayam yang sudah ditangkap oleh Li Wei sebelumnya. "Saya kira Anda sudah berubah Putri. Bagaimana mungkin ada seorang Putri yang seperti Anda."
Li Wei menyeka keringat di dahinya. "Jika kau tak ingin dijual ke peternakan sapi, maka diamlah."
Wei Wuxie dengan sigap mengusir pelayan yang mengejar Li Wei sebelumnya agar kembali ke istana. Bagaimana pun Wei Wuxie menyadari Li Wei tak menyukai jika dirinya diikuti. Oleh karena itu, Li Wei lepas pembatas sekarang.
"Untuk apa ayam ini, Putri?" tanya Wei Wuxie yang mewakili pertanyaan Zhang Yuwen.
Li Wei menghela napasnya. "Pelihara."
Apa katanya?
"Putri ... Anda ini ..."
Zhang Yuwen yang sudah lama tak bertemu dengan Li Wei semakin merasa jika Putri ini mungkin spesies aneh yang akan ia temui seratus tahun sekali. Akan tetapi, ia tak memperhatikan Li Wei yang sedang memeriksa ayam yang ada di tangannya. Zhang Yuwen terus berbicara hingga Li Wei menarik sesuatu dari ayam ini.
SRAT!
Wei Wuxie langsung memasukkan sebuah roti, yang entah darimana ia dapatkan, ke dalam mulut Zhang Yuwen. "Bagaimana bisa ada surat yang diikat di ayam ini?"
Li Wei menganggukkan kepalanya. Sebenarnya yang ia kejar bukanlah ayamnya, tetapi suratnya. Zhang Yuwen sedang mengunyah roti yang dimasukkan paksa oleh Wei Wuxie, sehingga ia tak bisa mengatakan apa-apa. Akan tetapi, ia hanya mengagumi keagungan semesta ini.
Bahkan sekarang berkomunikasi jarak jauh pun bukan menggunakan merpati, tetapi ayam!
Li Wei menghela napasnya. "Tadi pagi saat aku di kediamanku seseorang memanah ke arahku."
Apa maksudnya ini? Apakah itu berarti Li Wei sedang diserang?
Tanpa mendengar jawaban Wei Wuxie, Li Wei menggeleng lagi. Ia tahu jika Wei Wuxie akan seribut ini. "Aku tak berpikir jika orang yang mengirim anak panah padaku itu berniat untuk mencelakaiku. Lebih tepatnya ... Dia memberiku informasi tentang ayam yang menyimpan surat."
Entah apa yang sebenarnya mereka bicarakan sekarang. Ia hanya kagum dengan siapa saja yang memberi Li Wei kabar ini. Bagaimana pun orang ini pasti tahu jika Li Wei memang aneh, sehingga ketika menangkap ayam di pasar pun tak akan terlihat aneh.
Lebih dari segalanya ... Siapa yang memberi surat ini untuk Li Wei temukan?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~