
Pada akhirnya Li Wei kembali ke istana bersama dengan Li Shen. Tentu saja setelah Li Wei berganti pakaian seorang gadis, yang entah bagaimana, Hua yang membelikannya. Pria itu ternyata sangat sigap dalam mempersiapkan.
Juga, Hua sama sekali tak pelit dengan uangnya.
Tentang pakaian Li Wei yang sebelumnya, ia tak ingat dimana ia meletakkannya. Atau, mungkin Li Wei menitipkannya pada Paman pemilik ayam di pasar. Entahlah.
Nyatanya setelah kejadian ... Ehmm ... Hua mendadak pergi dengan tergesa-gesa. Tentu saja setelah para prajurit pergi. Hua pergi dan tak kembali lagi, tetapi pemilik penginapan yang mengantarkan pakaian ganti untuk Li Wei. Mungkin Hua sedang ada urusan mendadak hingga tak sempat kembali lagi.
Atau, mungkin Hua tak berani ikut campur lebih dalam lagi dengan urusan ini?
Sudahlah ... Memikirkan keanehan Hua itu seperti berbicara pada tembok. Tak ada yang bisa menjawab.
Intinya adalah Li Wei berganti pakaian segera dan kembali ke istana bersama Li Shen. Zhang Yuwen juga kembali, tetapi dengan membuat berita palsu. Yaitu, Zhang Yuwen mengatur cerita bahwa dia pergi bertugas di luar Pusat Kita. Mereka tak punya pilihan lain lagi. Mereka harus bertingkah bahwa ia tak pernah bertemu dengan Wei Wuxie beberapa hari yang lalu. Tentu saja mereka harus mengabaikan tentang keluarga Wei yang ricuh karena pemimpin keluarga mereka menghilang. Apalagi melarikan diri karena telah membunuh seorang Selir. Itu adalah berita yang tak bisa dihindari.
Dimana Wei Wuxie berada?
Pria itu mengatakan agar Li Wei dan Zhang Yuwen tak usah khawatir. Sebab, Wei Wuxie sedang mencari bukti agar dia terbebas dari tuduhan itu. Juga, Li Wei dan Zhang Yuwen memutuskan untuk mencari dalang di balik jebakan ini.
Yah, untuk sementara mereka menyebutnya 'jebakan'.
Saat ini mereka tengah berada di istana belakang Kerajaan Li. Di sana mereka bertingkah seperti tengah berbincang seperti biasa. Sebab, tak aneh jika Zhang Yuwen bertemu dengan Li Wei di mata orang lain. Walau mereka berdua juga sempat dicurigai karena merupakan teman terdekat Wei Wuxie.
Namun kerajaan tak bisa menemukan bukti keterikatan Li Wei dan Zhang Yuwen.
Dan, ...
"Kenapa kau menangis? Apa ini waktunya untuk menangis, Yuwen?" tanya Li Wei yang merasa aneh dengan sikap Zhang Yuwen.
Pria ini datang-datang dengan derai air matanya yang sudah seperti air pasang. Belum lagi dengan suara tarikan napas di hidung Zhang Yuwen yang seperti memiliki 'isi'. Lebih dari segalanya ... Apa pria ini menangisi Ketidakhadiran Wei Wuxie di sekitar mereka?
Zhang Yuwen mengusap air matanya dengan dramatis. "Siapa nanti yang akan menikahi Putri? Tuan Putri yang malang. Bagaimana bisa kau menempel hangat dengan pria buruk seperti Hua?" tangis Zhang Yuwen semakin menjadi sekarang.
Masih dibahas lagi!!! Orang ini mencintai kakiku begitu banyak, hingga ingin ditendang.
Li Wei jujur saja berusaha untuk melupakan tentang hal itu. Ia bahkan tahu bahwa itu hanya agar mereka tak ketahuan. Lagipula, ada Li Shen di antara Li Wei dan Hua. Mereka tak menempel seutuhnya.
Hanya saja ...
PLAK!
Li Wei menepuk kepala Zhang Yuwen karena sebal. "Jangan bercanda lagi. Ini sudah beberapa hari, Yuwen!"
Mereka bahkan tak memiliki titik terang untuk ini semua. Tentang surat yang diberikan pada Li Wei. Lalu, Pohon Iblis yang mereka selidiki hingga berujung pada Wei Wuxie yang terjebak pada kasus kematian Selir Mo Jiao. Li Wei entah mengapa tak percaya jika permasalahan itu tak saling berkaitan.
Zhang Yuwen hanya bisa mengusap kepalanya. Ia sangat tahu jika Li Wei ini pemarah. Juga, saat ini ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
"Justru karena itu saya datang kemari, Putri."
Li Wei melirik ke sekelilingnya. Nyatanya ada beberapa pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka. Tentu saja mereka berada di sana untuk melayani Li Wei. Sekaligus mengawasi Li Wei lebih ekstra lagi. Siapa yang tahu jika Li Wei nantinya melarikan diri lagi.
Li Wei terbatuk sedikit untuk membuka suara. "Dimana Xue Fang?" tanya Li Wei tiba-tiba.
Hal tersebut membuat para pelayan menampilkan wajah lelah. Juga, wajah bingung Zhang Yuwen ketika mendengar nama baru itu. Bagaimana pun Zhang Yuwen tak pernah mendengar ada orang di sekitar Li Wei yang bernama Xue Fang.
"Putri, kami sudah memberi makan ay ... maksudnya, Xue Fang," jawab salah satu pelayan sambil menundukkan kepalanya.
Sebentar ... Xue Fang?
Zhang Yuwen jelas tak mau bertanya lagi, karena dia berani bertaruh besar untuk ini. Akan tetapi, ia tak percaya juga jika Li Wei se-kurang kerjaan itu untuk memberi nama seekor ayam dengan nama, yang Zhang Yuwen yakin Li Wei berpikir keras untuk itu.
"Putri, ... Mengapa bisa nama 'Xue Fang' ini muncul di pikiran Putri? Kenapa tak diberi nama 'calon ayam goreng' atau apapun?" tanya Zhang Yuwen yang berusaha berdamai dengan keanehan Li Wei.
Tolonglah ... Memelihara ayam di istana saja sudah membuat keanggunan Li Wei sebagai Putri turun drastis. Apalagi memberi nama 'Xue Fang' pada seekor ayam, yang jelas-jelas tak paham jika dipanggil. Juga ...
Li Wei mengangkat bahunya, "Aku melihat bulunya yang berwarna Putih. Makanya aku menamainya Xue Fang dalam kata 'salju'."
Apalagi ini ...?
Bayangkan sudah nama di cerita ini susah diingat, Li Wei bahkan menambah nama tak penting lagi. Baiklah ... Tak usah dibahas lagi.
__ADS_1
Li Wei tak perduli dengan tanggapan Zhang Yuwen. Ia memanggil semua pelayan yang berjejer seperti menunggu pembagian bantuan. Li Wei jelas tak bisa membicarakan tentang Wei Wuxie saat semua pelayan ini masih mengikutinya.
"Aku ingin kalian menemani Xue Fang. Seseorang yang nama dan wujudnya tak aku ketahui pernah berkata, ayam itu mudah kesepian. Apalagi Xue Fang baru pernah tinggal di istana," ucap Li Wei dengan santai.
Para pelayan mulai frustasi, "Putri, kami diperintahkan untuk melayani Putri."
Jika tak kejam, maka bukan Li Wei. Gadis cantik itu hanya tersenyum seperti orang polos yang baru pernah melihat sapi terbang. "Aku memerintahkan kalian untuk menemaninya."
Nah itu ...
Lagipula, Zhang Yuwen juga baru pernah mendengar tentang ayam kesepian itu. Ia hanya mengerti jika Li Wei mungkin hanya mengerjai para pelayannya sendiri. Selalu seperti itu ... Dan, tak ada yang bisa mengatasi sikap usil Li Wei yang terkadang membuat orang lain sebal ini.
Mau tak mau para pelayan itu meninggalkan Li Wei. Walau dengan kalimat penutup yang panjang lebar kali tinggi. Apa yang bisa Li Wei tangkap ialah para pelayan ini memohon agar Li Wei tak melarikan diri lagi.
"Lalu?" tanya Li Wei sambil menatap lekat pada Zhang Yuwen.
"Seperti yang Putri duga, ada perselisihan di jajaran Kerajaan. Ada beberapa kubu berselisih, dan tentu saja Pangeran Li Jun berselisih dengan Yang Mulia," ucap Zhang Yuwen yang mengamati Pengadilan Tinggi dalam beberapa hari ini.
Beberapa kubu? Ada beberapa kubu yang menentang ayahnya dalam pengurusan kerajaan?
Jelas sekali hal semacam ini memang seringkali terjadi dalam memimpin suatu kerajaan. Menyatukan semua otak dari orang-orang dalam satu negeri jelas tak seperti menyatukan benang untuk dirajut. Benang adalah benda mati yang tak akan berkelak-kelok ketika dijahit, tetapi manusia memiliki otak dan upaya.
Dalam suatu negeri jelas ada banyak 'ide' dan perselisihan. Itu tak akan pernah berubah meski siapapun yang memimpin. Li Wei menyadari itu semua. Hanya saja ... Ia tak pernah berpikir jika ada beberapa, dan itu berarti ada banyak orang yang tak bisa menjadi kulit pisang di tengah jalan. Bisa melengserkan ayahnya, Raja Li dari tahtanya, kapan saja.
"Bagaimana dengan pihak Pangeran Li Jun? Siapa saja yang terlihat berada di pihaknya?" tanya Li Wei lagi. Ini semua karena Li Wei tak bisa berada di Pengadilan Tinggi.
Itu sudahlah kesepakatan Li Wei dengan Raja Li. Belajar di Pelatihan Awan bukan berarti menjadi alasan bagi Li Wei untuk ikut dalam perihal politik.
"Ini sedikit mengejutkan, tetapi keluarga Wei ada di pihak Pangeran Li Jun. Ayah Wei Wuxie berada di kubu yang sama dengan Pangeran Li Jun," lanjut Zhang Yuwen lagi.
Jika seperti itu, mungkin hanya Wei Wuxie yang tak menyetujui Pangeran Li Jun untuk naik tahta.
"Aku rasa dengan kematian Selir Mo Jiao, dan yang tertuduh adalah Wei Wuxie, hubungan antara Pangeran Li Jun dengan Ayah Wei Wuxie merenggang," tebak Li Wei.
Zhang Yuwen mengangguk. "Itulah mengapa dugaan saya ini bukanlah perbuatan Pangeran Li Jun, Putri. Sebab, muncul rumor aneh di Kerajaan Li. Tak ada yang tahu siapa yang memulai, tetapi hal ini sudah dipercayai oleh banyak orang."
"Rumor? Apakah itu tentang Wei Wuxie yang diduga berselingkuh dengan Selir Mo Jiao?"
Raja yang salah.
Li Wei mulai merasa tak nyaman tentang ini. Bagaimana pun jika mengenai tahta, maka ini berhubungan dengan perintah Dewa yang disampaikan dengan Ling Xiao. Pada akhirnya, semua itu adalah tentang ramalan. Walau ramalan itu hanya sekadar gambaran, tetapi masyarakat sangat mempercayainya.
"Apa ramalan tentang Raja selanjutnya sudah disampaikan oleh Peramal Ling?" tanya Wei.
"Bukan. Ini bukan dari Peramal Ling. Pria itu sepertinya tak memberikan ramalan tentang kerajaan dalam beberapa tahun ini. Banyak yang mengatakan jika Peramal Ling kehilangan berkah Dewa," ucap Zhang Yuwen yang memang sangat mudah mendapatkan akses untuk rumor dan buah bibir tetangga.
Dalam hal ini bakat Zhang Yuwen dapat digunakan dengan bijak.
Li Wei menggaruk kepalanya yang terasa gatal. "Jadi, rumor yang bahkan tak diketahui siapa sumbernya ini dipercayai. Lalu, mereka mulai tak percaya pada Yang Mulia hanya karena ramalan ini?"
"Sebenarnya ini dimulai dari kejadian di Labirin Batu," ucap Zhang Yuwen yang membuat Li Wei terkejut.
Lebih dari segalanya ... Saat beberapa tahun telah berlalu. Semuanya terus kembali pada kejadian yang sama. Atau, mungkin inilah yang disebut sebagai sebab akibat. Apa yang pernah diperbuat di masa lalu akan berdampak di masa depan.
"Putri tahu ... Awalnya, cerita Pangeran Penduka hanyalah sebuah cerita masa lampau. Kebenarannya tak pernah diketahui hingga sampai kita menemukan fakta bahwa pedang terkutuk itu memang benar ada. Jika seperti itu, cerita Pangeran Penduka mungkin benar-benar terjadi sekitar seratus tahun yang lalu. Itulah yang membuat rumor mulai bertebaran tentang raja yang sekarang sebenarnya berada di garis tahta yang salah," jelas Zhang Yuwen yang mulai membuat Li Wei mengerti.
Karena jika cerita Pangeran Penduka benar, maka orang yang seharusnya duduk di kursi tahta sebenarnya digantikan. Bukan Raja yang ditunjuk oleh Dewa sebagai seorang pemimpin. Itu tak sesuai dengan tradisi di Kerajaan Li.
Jika seperti itu ... Mengikuti alur tahta, maka ayah Li Wei sekarang, Raja Li, mungkin berada di garis keturunan dari Raja yang salah. Saudara Pangeran Penduka yang tamak dan ingin menjadi raja dahulu.
Apabila pangkal sudah salah, maka ujung akan terus mengikuti alur yang salah.
Itulah asal mula dari rumor Raja yang salah ini.
Namun masa lalu tak bisa diubah. Sebanyak apapun mereka menginginkannya, yang sudah terjadi tak bisa diubah.
"Jadi, mereka mulai tak mempercayai tentang ramalan Peramal Kerajaan lagi?" tanya Li Wei untuk memastikan.
Zhang Yuwen justru menggelengkan kepalanya. "Banyak orang yang malah menunggu ramalan Peramal Ling. Ada yang memulai pemikiran baru bahwa kemampuan Peramal Ling sebenarnya ada, tetapi karena sejak awal alur tahta sudah salah, Peramal Ling kesulitan melihatnya."
__ADS_1
Terkadang Li Wei mempertanyakan seberapa liar dan berkelok-keloknya pikiran manusia. Dari segala masalah, bagaimana bisa mereka memiliki pemikiran seperti itu. Atau, ini hanya bentuk ketidakpuasan mereka pada kepemimpinan Raja Li.
Lebih dari segalanya ... Jika itu tentang Li Jun, kakaknya itu ingin memperluas wilayah. Namun selama ayah mereka memimpin, tak ada perang besar yang terjadi. Karena Raja Li tak menyukai perang, dan memilih jalur tenang untuk memimpin.
Tidak ada perluasan wilayah. Bahkan jika kerajaan lain datang untuk menyerang, Raja Li hanya memperkuat pertahanan. Bisa juga dengan memberikan perjanjian. Meski begitu, metode semacam ini tak semua orang menyetujuinya.
"Saya mendengar Pangeran Li Jun akan melakukan penaklukan wilayah di Kerajaan Xin. Itu adalah wilayah kecil di bagian selatan," jelas Zhang Yuwen yang ternyata mendapat banyak informasi.
Bahkan di saat duka karena Selirnya pergi Li Jun masih memikirkan perluasan wilayah. Tentu saja tak ada yang menyalahkan Li Jun. Karena Li Jun melakukannya untuk kesejahteraan Kerajaan Li.
Akan tetapi, jika terus-menerus berebut dan memperluas wilayah, maka mereka mungkin akan membuat penduduk kerajaan yang ditaklukan menderita. Kehilangan tempat tinggal, kelaparan panjang, rusaknya tanah-tanah sebagai potensi alam, dan kematian dalam jumlah besar. Itu adalah resiko dari peperangan.
"Apakah Yang Mulia setuju?"
"Tidak. Namun Li Jun akan tetap melakukan penaklukan dengan atau tanpa izin dari Yang Mulia," ucap Zhang Yuwen menyudahi laporannya pada Li Wei.
Lebih dari segalanya ... Yang Mulia telah kehilangan penghormatan dari Li Jun.
"Yang saya takutkan adalah jika perang pecah, dan masyarakat yang percaya pada rumor Raja yang palsu semakin menjadi-jadi. Mereka akan mengatakan bahwa ini adalah 'sebab' karena Raja yang naik tahta itu salah," lanjut Zhang Yuwen yang setelah itu langsung meneguk minumannya.
Melegakan tenggorokannya karena berbicara panjang lebar seperti kambing berbunyi.
"Pihak lainnya?" tanya Li Wei yang mendadak sakit kepala.
Masalah rumor saja bisa menghancurkan kesetiaan seorang pejabat. Ini jelas bukan hanya sekadar rumor.
"Pihak lainnya mereka tak mempercayai ramalan lagi. Seseorang raja yang baru perlu diangkat, meski tanpa ramalan Dewa. Seseorang yang bisa menciptakan perubahan besar pada Kerajaan Li," ucap Zhang Yuwen lagi.
Berarti, ada empat kubu yang berbeda pendapat di Kerajaan Li.
Pertama, jajaran pejabat lama yang tetap pada kebijakan Raja Li.
Kedua, Li Jun dan cita-cita emasnya mengenai luasnya wilayah. Kejayaan yang jelas merupakan cita-cita mulia suatu kerajaan. Semakin luas dan makmur, juga menambah masalah. Karena semakin besar suatu negeri, maka semakin banyak kendalanya.
Ketiga, orang-orang yang percaya pada cerita Pangeran Penduka. Mereka yang percaya jika garis tahta sekarang telah salah. Jelas ini nyaris seirama dengan pihak keempat.
Yaitu, pihak keempan menginginkan raja yang baru. Terlepas dari mereka ingin raja yang menurut mereka tepat atau perintah Dewa. Intinya, mereka ingin orang yang 'sesuai' untuk menjadi raja.
Lebih dari segalanya ... Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Mencari pemimpin yang sempurna itu seperti mengorek bulu sapi di antara pasir. Sebab, seperti yang disebutkan sebelumnya. Menyatukan dua kepala saja masih bisa baku hantam. Apalagi semua orang dalam satu negeri.
Zhang Yuwen juga merasa bingung dengan situasi ini. Jika dipilih-pilih Zhang Yuwen memilih menjadi penyair di jalanan daripada ikut dalam Pengadilan Tinggi. Ini seperti kau memang memiliki kejayaan yang besar dan kehormatan, tetapi kau sudah dihadapkan pada masalah besar. Ditambah lagi ...
"Tentang Pohon Iblis ... Saya memiliki sesuatu yang ingin disampaikan," ucap Zhang Yuwen yang entah mengapa mendadak serius.
Li Wei menengok ke arah gadis kecil yang menuju ke arah mereka. Di belakangnya ada pelayan keluarga Zhang yang mengikuti. Sepertinya gadis kecil ini adalah bagian dari keluarga Zhang. Akan tetapi, Li Wei tak pernah mendengar jika Zhang Yuwen memiliki adik perempuan.
"Dia adalah Bao Tian, anakku. Lebih dari segalanya ... Anak ini, dia seperti yang tertulis di buku Pohon Iblis. Seorang dari keturunan Bao yang bisa mengendalikan Pohon Iblis," jelas Zhang Yuwen sambil mengusap kepala gadis kecil yang bernama Bao Tian.
Sebentar.
"Anak? Pohon Iblis?" tanya Li Wei yang tak bisa menutup mulutnya dengan anggun lagi.
Di antara segalanya ... Li Wei tak tahu mana yang lebih membuatnya lebih terkejut.
Kapan manusia ini membuat seorang anak? Ini anak, bukan makanan. Bagaimana bisa 'jadi' tanpa diketahui orang lain?
Dan, lagi ... Ia tahu jika Zhang Yuwen sering melakukan 'tanam' dengan banyak gadis. Terutama gadis rumah cinta. Hanya saja, anak ini bermarga Bao. Seorang anak langka dari keluarga Bao yang memiliki kelahiran anak sedikit. Namun dari semua rumor, klan Bao sudah tidak ada lagi.
Bagaimana bisa?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1
***