
"GRAHHH!!"
Sekali lagi Wei Fei meraung layaknya sapi yang tes suara. Namun imbas dari suara itu sama seperti sebelumnya, dan Yi Hua bisa bertahan hanya karena tangan An yang kuat. Yi Hua sekali lagi mempertanyakan berapa berat An hingga dia tak tersapu oleh angin.
Mungkin dia pernah menelan batu, makanya dia bisa bertahan.
Hanya itu yang dipikirkan oleh Yi Hua. Tapi ...
SYUNG!
"HuaHua, ada batu yang menuju ke arah kalian. Itu cukup besar dan cepat. Jika lengah, maka kepala Tuan An itu akan terbentur dengan batu," tegur Xiao yang sekarang menunjukkan fungsinya. Sebab, jika Yi Hua tak bisa melihat, merasakan, mendengar, dan mengalami, maka Xiao bisa membantunya.
Yi Hua tak bisa bereaksi cepat ketika sebuah batu melintas di depan wajahnya. Ia juga tak bisa berteriak pada An untuk mengingatkan. Hal itu membuat Yi Hua keluar dari dalam perlindungan An. Kedua tangannya terjulur hanya untuk menarik leher An untuk merunduk ke arahnya.
Tarikan tangan Yi Hua cukup kuat hingga Xiao sempat mengomel pada Yi Hua. Sistem itu hanya takut jika Yi Hua akan mematahkan kepala An. Terutama saat tenaga Yi Hua yang seperti sapi itu keluar.
DUK!!
"Aduh," pekik Yi Hua yang merasa tabrakan antara kepalanya dengan An.
Eh?
Namun yang lebih membingungkan dari segalanya ialah sikap kaku An ketika itu. Terutama saat merasakan bahwa wajah mereka berdua nyaris bertemu. Itu berarti mereka dalam jarak yang dekat. Walau Yi Hua tak bisa melihat ekspresinya karena tengah menutup mata, tetapi Yi Hua tahu An terkejut.
Pria yang biasanya tenang, malah terpaku. Meski hanya sebentar, tetapi itu membuat perhatian pria itu teralih. Akibat tarikan Yi Hua yang kuat, semua beban beralih ke arah Yi Hua. Sayangnya, Yi Hua tak bisa menahan tubuh An yang tertarik ke arahnya.
Dan ...
BUGH!
Oh ya ampun bahuku! Pinggangku! Xiao, darurat! Darurat. Aktifkan kemampuan 'kembali ke awal'
Jika Xiao bisa menepuk dahinya, maka sistem itu akan melakukannya. Terutama ketika mendengar Yi Hua yang sangat mudah mengeluh. Ia hanya menanggapi dengan singkat. "Kau itu hanya terjatuh ke tanah, Yi Hua."
SRET!
"Yi Hua." Setelah seharian ini hanya diam, akhirnya An berucap juga.
Yah, walau hanya menyebut namanya saja.
Dari suaranya pria ini pasti berada di atasnya. Beruntungnya ialah pria ini tidak menindihnya. Meksi begitu, Yi Hua masih tak bisa membuka mata karena ia yakin debu akan bertebaran di atasnya.
SRET!
Yi Hua bisa merasakan pria ini bergerak. Sepertinya pria ini ingin bangkit dari atas tubuh Yi Hua. Namun tangan Yi Hua menekan tengkuk An untuk menunduk. Bahkan Xiao tanpa sengaja bersiul karena gerakan Yi Hua ini.
"Jangan bangkit dulu, Tuan An. Sepertinya banyak batu yang berterbangan." Atas pemberitahuan Xiao, Yi Hua tak bisa membiarkan An bangkit.
Walau ada banyak hal yang melintas di pikirannya. Salah satunya ialah mengapa An ingin segera menjauh dari posisi mereka sekarang. Belum lagi dengan tubuh An yang terasa kaku, dan napasnya yang memburu. Hal itu membuatnya bertanya pada Xiao.
"Apakah aku bau? Makanya Tuan An tak ingin dekat-dekat denganku," tanya Yi Hua di dalam hati pada Xiao. Ia iseng-iseng mengendus ke sekitar, tetapi aroma seperti kayu segar yang tercium olehnya.
Itu aroma An. Yi Hua mulai mengingat jika pria ini selalu beraroma seperti kayu segar yang baru ditebang. Entah darimana pria ini mendapatkan aroma yang seperti itu.
Xiao hanya mengatakan dengan singkat. "Itu hanya reaksi normal dari seorang pria."
Apa maksudnya?
Namun Yi Hua tak bisa bertanya panjang lebar pada Xiao. Itu karena situasi mereka tak tepat.
"Bagaimana cara menghentikan Tuan Wei Fei?" tanya Yi Hua lemah.
Mereka tak bisa membiarkan Wei Fei terus mengamuk, atau dia tak akan bisa kembali menjadi manusia.
"Membunuhnya," jawab An datar.
Yi Hua langsung meraih secara acak ke atasnya. Walau ia tak membuka matanya, tetapi ia tahu dimana posisi An. Tangan Yi Hua secara tepat berada pada bagian depan pakaian An. Rasa kasar dari pakaian An terasa di tangannya yang bergetar.
Di atas segalanya, bagaimana bisa membunuh orang lain bisa menjadi kata yang sangat mudah dikeluarkan?
Namun ... Itu seperti yang dikatakan oleh Xiao.
Wei Fei, dengan dibunuh atau tidak, dia akan tetap mati.
Meningkatkan kekuatan dengan metode seperti itu tak akan pernah baik untuk tubuh. Manusia memang makhluk yang diciptakan sempurna, tetapi sejatinya mereka rapuh. Organ tubuh mereka memiliki batasan.
Saat kemampuan tubuh mereka meningkat, darah mereka juga akan memanas. Itu akan menghancurkan organ dalam mereka dengan cepat. Jika Wei Fei berhasil kembali menjadi manusia, dia tak akan bertahan hidup sampai lima tahun ke depan.
__ADS_1
Yi Hua memang tak tahu bagaimana percobaan ini bisa terjadi pada Wei Fei. Ia juga tak tahu betapa majunya otak dari Si Tuan ini hingga bisa menciptakan makhluk seperti Wei Fei. Apalagi di masa yang masih sangat 'alami' dan tradisional ini. Ilmu juga masih belum berkembang begitu banyak.
Akan tetapi, Wei Fei ...
"Semua demi mereka. Hanya agar mereka bisa hidup dengan baik. Meski aku tak bisa bertemu dengan adikku dalam waktu yang lama, tetapi aku ingin dia selalu bahagia. Walau aku yang harus melakukan semua ini."
Ucapan Wei Fei masih tertanam di pikiran Yi Hua. Bagaimana pun pria ini tak pernah tahu jika anak-anak yang ingin dia lindungi telah tiada. Yang Wei Fei tahu ialah anak-anak itu sebagiannya dijual pada orangtua baru mereka, dan yang telah dipastikan menyayangi mereka. Lalu, sebagiannya lagi ikut mereka dalam rombongan penari. Jika ada yang tersisa, maka itu akan tinggal di kediaman mereka.
Dengan bodohnya Wei Fei mempercayai semua ucapan orang-orang di sekitarnya.
Kata Xiao, semakin banyak tubuh anak-anak yang dikorbankan, maka semakin besar sayap Wei Fei. Dari apa yang dilihat Yi Hua, sepasang sayap Wei Fei sangat besar. Jumlah itu sudah sangat menjelaskan semua kebohongan yang diterima oleh Wei Fei.
Yi Hua menggigit bawahnya yang bergetar. "Dia hanya anak-anak itu bahagia." Tanpa terasa tangan Yi Hua yang merenggut bagian depan pakaian An terlepas.
Bodohnya aku! Harusnya aku tetap pada tugasku. Aku hanya harus menyelesaikan kasus ini, bukan?
Lalu, setelah itu semuanya selesai. Yi Hua bisa mencari cara untuk bunuh diri tanpa disengaja agar ingatannya bisa kembali. Yang pastinya ia juga harus mencari cara bunuh diri tanpa rasa sakit. Semua itu hanya agar kemampuan busuk yang diberikan oleh sistem bernama Xiao ini bisa aktif.
Hanya itu tujuannya di dunia ini!
SRET!
Yi Hua bisa merasakan usapan pelan di pucuk kepalanya. Setelah itu, gerakan An menandakan pria ini bangkit dari atas tubuhnya. Mungkin kekacauan di sekitar mereka telah selesai. Karena Yi Hua tak merasakan lagi hembusan angin, atau suara keras di sekitarnya.
"Kau memang tak pernah berubah." Itu yang diucapkan An padanya.
Yi Hua dengan cepat membuka matanya. Dan, belum sempat ia menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, ia harus menutup matanya lagi saat sebuah benda menuju ke arahnya. Itu adalah penutup kepala milik Yi Hua. Entah bagaimana An menemukannya.
Namun An meletakkan penutup kepala milik Yi Hua ke atas wajahnya dengan lembut. Hal itu membuat Yi Hua tak bisa melihat pada An. Ia tak tahu bagaimana ekspresi An ketika mengatakannya.
Tetapi, kalimat itu muncul seolah An mengenal Yi Hua sejak lama.
Akan tetapi, bukankah An tak pernah ada dalam data Yi Hua? Xiao pun tak tahu tentang An.
Jadi jelas Yi Hua tak mengenal An. Apa itu berarti dirinya yang sebenarnya mengenal An?
Tapi, apa itu mungkin?
Jangankan An, dirinya saja tak tahu siapa dirinya sebenarnya. An juga pasti tak akan tahu jika dirinya bukanlah Yi Hua asli. Ia masih belum bisa mengumpulkan semua ingatannya. Semuanya masih kabur, dan Yi Hua tak berani menyimpulkannya.
Hanya ada satu kemungkinan, yaitu An mungkin mengenalnya, tetapi Yi Hua tidak.
Belum lagi sistem busuk ini tak ingin memberikan sedikit pun informasi di luar tugasnya. S*alan sekali!
Saat ia bisa menyingkirkan penutup kepala itu dari wajahnya, yang ia lihat hanyalah punggung An yang tegap. Tanpa menjelaskan lebih lanjut, An meninggalkan Yi Hua yang masih berbaring di tanah.
Pria itu mengeluarkan pedang hitamnya lagi dan berjalan menuju ke arah Wei Fei dan Si Tuan menyebalkan. Huan Ran dan yang lainnya tak terlihat lagi. Mungkin mereka tengah bersembunyi atau memikirkan rencana selanjutnya.
Entahlah.
Tujuan mereka hanyalah mengalahkan Wei Fei. Baik dalam keadaan hidup atau pun mati.
***
BAM!
Yi Hua melihat An melompat dengan sangat cepat menuju ke arah Wei Fei. Si Tuan yang awalnya berada di depan Wei Fei langsung bersembunyi karena takut ditebas oleh An. Si Tuan bersembunyi di belakang kaki Wei Fei yang besar.
Sayangnya, ...
GRAK!
Mungkin Wei Fei hanya memiliki sedikit kesadaran di dalam dirinya. Sehingga ia tak tahu siapa dan tak mengenal siapapun di sekitarnya. Ia hanya mengamuk seperti binatang yang tak memiliki pemikiran.
Si Tuan terhempas akibat kepakan sayap Wei Fei yang mengamuk. Hal itu karena An menebas ke arahnya dan menimbulkan luka.
Lalu, dari tebasan An itu terpercik darah berwarna hitam dengan deras. Wei Fei meraung lagi, tetapi dia tak bisa menangkap An yang berlari mengitari tubuh besar Wei Fei.
TAP! TAP!
S*alan ini!
Selagi An bertarung, Yi Hua mengamati sekitar sehingga ia tahu jika seseorang tengah berjalan tertatih-tatih untuk pergi. Itu adalah Si Tuan menyebalkan itu. Hal itu membuat Yi Hua segera berlari untuk menarik bagian belakang pakaian Si Tuan.
Lalu, ...
SRET!
__ADS_1
Yi Hua menghempaskan Si Tuan ke tanah. Ia bahkan tak perduli pada usia sebenarnya dari Si Tuan. Jika Wei Fei ditingkatkan kekuatannya, maka Si Tuan ini telah menggunakan darah muda untuk awet muda. Benar-benar memuakkan.
"Bukankah sangat menarik jika melihat semua ini sampai akhir, Tuan?" tanya Yi Hua dengan tatapan sombongnya yang seperti biasa.
Si Tuan itu mengeluarkan pedang dari pinggangnya. Itu hanyalah pedang pendek yang biasanya digunakan oleh perempuan. Yi Hua bisa tahu jika pria ini tak memiliki kemampuan berpedang. Sehingga dengan cepat Yi Hua memukul pergelangan tangan pria itu, dan pedang yang ada di tangannya terlempar.
Sangat lemah! Bahkan dari Yi Hua yang tak punya kemampuan apa-apa.
"Aku melakukan ini agar semua orang tak pernah takut pada usia. Jika kalian orang-orang kerajaan tak ikut campur, mungkin aku bisa membuat setiap orang menjadi kuat. Tak ada yang bisa ditindas lagi," ucap pria itu dengan nada yang lebih congkak lagi.
Orang ini bahkan tak malu untuk menyebut perbuatannya sebagai kebaikan.
"Aku tahu kerajaan juga menginginkannya. Raja pasti takut jika kehilangan nyawanya. Aku akan memberitahunya semua ini agar dia tetap berada di kursi tanyanya. Semua penelitianku ini akan berguna ... Ha .. ha .. Ughhh!!" Suara sombong pria itu terhenti ketika Yi Hua melayangkan pukulan ke wajahnya.
Yi Hua mencengkeram pakaian pria itu seperti hendak menghancurkan. Sayangnya, dia tak sekuat itu untuk menghancurkan. Hanya saja semua yang ada di depannya benar-benar menyebalkan.
Wajah riang Wei Fei ketika menari membuat Yi Hua tak bisa mengenal Wei Fei yang sekarang. Ia belum pernah melihat seseorang begitu menikmati apa yang dia lakukan. Wei Fei berbahagia ketika dia menari.
Cerita penari ini rupanya tak seindah tariannya.
"Apa Anda tahu betapa dia ingin menyelamatkan orang lain? Dia ingin semua anak yang tak beruntung sepertinya bahagia. Dia menginginkan itu semua, tetapi kau ...!!" Yi Hua merasa ingin menggigit batang pohon karena sebal. Jika ia bisa ... Atau dia bisa membunuh orang ini.
Tangan Yi Hua bergetar. "Dia hanya ingin menyelamatkan orang lain, s*alan! Tapi kau memanfaatkan semua pikiran naifnya. Apa kau ..."
"Bukankah semua orang sama, Tuan Peramal? Semua orang ingin menyelamatkan dirinya dari waktu. Tak ada yang ingin tersingkir, dan ingin terus hidup. Aku hanyalah orang yang berusaha. Aku berusaha, dan kalian menghancurkan semua usahaku," ucap Si Tuan yang mengambil sebongkah batu di sampingnya.
Yi Hua sempat melihat gerakan itu, tetapi gerakannya cukup lambat. Sehingga ia tak bisa menghindar ketika pria itu menghempaskan batu ke pelipisnya. Hal itu membuat pegangan Yi Hua terlepas.
Apa memang sama sekali tak ada rasa bersalah di hati orang ini?
Hal itu yang membuat Yi Hua semakin sebal. Ditambah lagi dengan rasa perih di pelipisnya. Ia yakin darah sudah mengalir dari pelipisnya. Meski begitu, rasa panas di hati Yi Hua tetap membara.
"HuaHua, jangan lepas kendali atau tungku iblis akan menguasaimu! Apa kau ingin meledak?" Xiao datang untuk mengingatkan.
PLAK!
Yi Hua yang sebal jelas hanya bisa meraih sepatunya sendiri. Ia memukul kepala pria itu dengan belakang sepatunya. Setelah itu, ia berdiri sambil mengibaskan rambut panjangnya yang dikuncir kuda.
Pasti keadaanku sudah sangat buruk sekarang! Pikirkan betapa susahnya membersihkan noda di pakaian serba putih ini???!!
"Tuan, apa kau tahu tentang ini?" ucap Yi Hua yang sudah bisa mengendalikan kemarahannya sendiri.
Ia menatap ke arah pertarungan yang masih sengit. Bahkan ia merasa jika rumput di sekitar pertarungan tak perlu dibersihkan lagi. Itu sudah habis terinjak-injak dan hancur karena pertarungan di atasnya. Belum lagi dengan pohon yang mendadak tercabut.
Buruk sekali!
Mungkin Yi Hua harus memberitahu Raja Li Shen untuk mengadakan pertemuan tentang menanam pohon. Jelas untuk menggantikan pepohonan yang sudah tercabut ini.
"Tahu ap ..."
PLAK!
Lagi-lagi Yi Hua memukul kepala pria itu dengan sepatunya. Ia hanya tak ingin disela ucapannya. Hal itu yang membuatnya menghentikan ucapan busuk pria itu.
Ditambah lagi, Yi Hua masih dendam tentang pelipisnya yang terkena batu.
"Kau tahu ... Meski kau tetap muda dan kuat sekalipun, tetapi kematian tak hanya datang untuk orang yang sudah tua dengan tulang yang rapuh. Tak ada yang tahu tentang kematian diri sendiri, atau orang lain," ucap Yi Hua yang sudah tak memperdulikan lagi batasan kesopanan.
Sejatinya, banyak orang dengan usia berbeda yang meninggal setiap waktunya.
BRAK!
Sebuah sayap besar terlempar, dan mereka jelas bisa melihatnya. Hal itu membuat Yi Hua menatap nanar pada sayap itu. Ia hanya tahu bahwa Wei Fei tak bisa diselamatkan lagi.
"Lagipula, nyawa orang lain bukanlah permainan, Tuan," ucap Yi Hua hampa.
Yi Hua sungguh lelah hari ini. Dia hanya ingin semua berakhir dengan cepat
Kisah seorang penari ini akan berakhir. Tanpa ada kebahagiaan.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~