
TAP!
TAP!
TAP!
Raja Li Shen membuka jubah naga, pakaian yang sedikit menyesakkan, dengan gerakan kasar. Tak lama jubah itu sudah tergeletak begitu saja di atas meja bacanya. Lalu, pria itu duduk di depan meja dengan tatapan yang tajam seperti sebelumnya.
"Yang Mulia, izinkan hamba mengutus pelayan untuk mengobati luka Yang Mulia," ujar Wang Zeming setelah memberikan penghormatan.
Akan tetapi, Raja Li Shen tak mengatakan apa-apa. Raja itu membuka sebuah buku yang sudah robek di bagian ujung-ujungnya. Semua itu sudah menjelaskan betapa tua buku itu. Atau mungkin berapa banyak waktu berlalu, dan buku itu masih berada di tangannya.
Darah masih tampak jelas di telapak tangan Raja Li Shen, tetapi itu hanya sisa dari tetesan sebelumnya. Sebab, tak ada lagi darah yang keluar dari luka itu. Meski begitu, Raja Li Shen tak berniat untuk mengobati luka itu.
"Yang Mulia, ..."
"Bukankah dia sama menyebalkan?" tanya Raja Li Shen pada Wang Zeming.
Pria tua ini sudah seperti ayahnya sendiri. Sebab, saat semua darah Li dibantai oleh Hua Yifeng sepuluh tahun silam, hanya Wang Zeming yang menjaganya. Menjaga Raja Li Shen yang masih sangat kecil untuk menerima tahtanya. Itu semua karena tak ada lagi keturunan Li yang tersisa selain Li Shen.
Wang Zeming menarik senyumnya yang tua, "Mereka hanya punya pikiran yang berbeda dari orang lain."
Entah sudah berapa lama kedua orang ini berusaha untuk tak membicarakan masalah tersebut.
Sejatinya, kebanyakan orang akan berpikir apa yang paling mungkin untuk dilakukan ketika mendapat masalah. Ditambah lagi biasanya kemungkinan itu dilandasi oleh kepastian yang besar.
Namun Yi Hua ... Peramal itu, dia adalah orang yang berpikir bahwa hal sekecil apapun bisa mungkin terjadi. Sehingga banyak hal dihubung-hubungkan begitu saja. Dan, anehnya ... Itu masuk akal!
"Paman, aku membenci orang yang berangan-angan. Terkadang mereka berpikir bahwa mereka bisa menjadi pahlawan, padahal mereka adalah pembunuh sebenarnya," ucap Raja Li Shen ketika membuka buku tua yang ada di tangannya.
"Yang Mulia, perhatikan kesehatan Yang Mulia. Semuanya sudah berlalu, dan apapun yang dilakukan oleh Puteri Li Wei tak akan bisa diubah lagi," ujar Wang Zeming mengingatkan.
Raja Li Shen menatap tajam pada Wang Zeming. "Keluarlah, Paman. Pembicaraan ini selesai."
Mau tak mau Wang Zeming keluar. Lantaran titah Raja adalah mutlak. Pria tua itu hanya bisa keluar dari ruang baca Raja Li Shen. Pria itu juga mengingatkan Raja Li Shen tentang lukanya sendiri.
Ketika Raja Li Shen berpikir bahwa dia tengah sendirian, tetapi pintu geser itu kembali terbuka. Tatapannya masih tajam seperti biasa, dan bertambah tajam saat sosok cantik yang masuk. Di tangan sosok itu ada wadah berisi air.
"Aku tak ingin diganggu. Apakah kau mendengar titahku, Selir Qian?" ucap Raja Li Shen yang melihat Selir Qian masuk begitu saja.
Tanpa terlihat adanya ketakutan atau rasa tertekan sedikit pun, Selir Qian tetap masuk. Langkahnya yang halus bahkan tak menimbulkan suara sedikit pun. Jika tak melihatnya secara langsung, mungkin orang lain akan berpikir jika Selir Qian sedang terbang hingga tak ada suara langkah. Itu sudah membuktikan bahwa tingkatan bela diri dari Selir Qian cukup besar.
"Hamba tak ingin mendengarkan titah dari seseorang yang juga tak ingin mendengarkan ucapan orang lain," ujar Selir Qian tanpa perlu berbasa-basi.
Wanita cantik itu mendekat pada Raja Li Shen bahkan tanpa perlu diizinkan. Selir Qian meraih pergelangan tangan Raja Li Shen yang berlumuran darah. Darah itu terlalu lama berada di pergelangan tangannya sehingga sudah mengering. Itulah yang membuat Selir Qian memerlukan air untuk menghapusnya.
Raja Li Shen mencengkeram lengan Selir Qian dengan sebelah tangannya yang lain lagi. "Aku adalah Raja di sini, Selir Qian."
Selir Qian memperhatikan lengannya yang dicengkeram. Meski begitu, tak ada gestur ketakutan yang muncul di wajahnya. Entah mengapa Selir Qian selalu tenang setiap saat. Yah, kecuali saat berurusan dengan Liu Xingsheng, adiknya. Mendadak wanita yang luar biasa itu berubah menjadi pemarahan.
"Hamba tahu, Yang Mulia. Hanya saja setiap tetes darah Yang Mulia itu sangat penting. Banyak orang yang bergantung pada Yang Mulia karena Yang Mulia adalah pemimpin mereka," ucap Selir Qian dengan tatapan tenangnya.
Tangan Raja Li Shen yang awalnya mencengkeram keras perlahan mengendur. Lalu, ia menggenggam telapak tangan Selir Qian yang basah. Wanita itu sempat membasuh bekas darah yang menempel di pergelangan tangan Raja Li Shen.
"Jika kau datang untuk membahas tentang ramalan dari Yi Hua, maka kau tak perlu datang."
Selir Qian melepas genggaman tangan mereka. Wanita itu kembali fokus pada kegiatannya lagi. Membersihkan darah yang menempel di pergelangan tangan Raja Li Shen. Setelah bersih, Selir Qian menekan lukanya hanya untuk memeriksa apakah darahnya masih mengalir atau tidak.
"Hamba datang untuk mengobati luka Yang Mulia," jelas Selir Qian yang membalut luka Raja Li Shen dengan teliti.
__ADS_1
Hanya itu yang ingin dilakukan oleh Selir Qian.
Akan tetapi, wanita itu kembali melanjutkan pembicaraan, "Jika Yang Mulia mencurigai Peramal Yi sebagai dalangnya, hamba tak bisa mengatakan pembelaan apa-apa. Namun hamba bisa memastikan jika Peramal Yi tak di pihak Iblis Kehancuran, Hua Yifeng. Sehingga Yang Mulia tak perlu meletakkan pengawal pribadi Yang Mulia di sisi Yi Hua."
Raja Li Shen memperhatikan pucuk kepala wanita itu yang menunduk. Entah apa arti dari tatapannya. Meksi begitu, Raja Li Shen langsung menjawabnya, "Aku tak mencurigainya, Selir Qian. Lagipula, aku juga tak pernah memerintahkan An untuk mengikutinya."
Hanya saja semua tentang Yi Hua masih terbilang aneh. Terutama tentang ramalannya, dan sikapnya yang berubah. Bagaimana pun dulu Yi Hua bersikap seolah dia tahu banyak hal. Dengan sombongnya dia menyampaikan, tetapi tak banyak yang percaya padanya. Sehingga ucapan Yi Hua hanya terdengar seperti angin lalu.
Yi Hua yang sekarang malah terlihat seperti tak tahu apa-apa. Atau, peramal itu hanya berpura-pura? Namun untuk apa?
Entahlah.
***
"Huaahh!! Seandainya kau sistem yang berguna, maka aku tak perlu mendaki seperti itu, Xiao. Bahkan aku juga salah jalan karena petunjuk arah darimu salah-salah," omel Yi Hua dengan napas memburu.
Pasalnya, tempat yang diberitahu oleh Huan Ran terbilang cukup jauh dari Pusat Kota Zhu. Ini seperti masuk terus ke dalam hutannya, padahal masih bagian dari Kota Zhu. Yi Hua pikir tempat seperti ini bisa menjadi tempat yang bagus untuk bersembunyi.
Xiao berdecak sebal. "Ini semua karena kau yang sial. Bukankah aku sudah memberitahumu untuk membawa uang? Sehingga kau bisa naik kereta dan tak akan tersesat," balas Xiao yang mengomel dengan nada yang sama.
"Kau tahu namanya tertinggal atau tidak, Xiao Busuk? Aku tak tahu jika kantong uangku tak terbawa," bantah Yi Hua.
Peramal itu kini bersandar pada salah satu pohon yang terlihat agak miring. Mungkin saat kecil pohon ini memilih mengikuti cahaya, sehingga dia seperti akan jatuh. Namun itu yang membuat Yi Hua sedikit nyaman saat bersandar di sana.
"Memangnya kau punya uang apa? Sudahlah jangan mengeluh. Jika lelah kau hanya perlu menggelinding untuk turun bukit nantinya," ujar Xiao memberi ide.
Yi Hua menggaruk dagunya karena berpikir. "Apakah kau bisa merasa saat aku menyentuhmu?" tanya Yi Hua tiba-tiba.
"Tentu saja tidak. Permata merah ini hanyalah media. Mengapa kau bertanya?"
Suara keluhan terdengar dari bibir Yi Hua. Terutama saat ia harus memutuskan untuk berjalan lagi, atau dia akan kemalaman di gunung ini. Yi Hua jelas tak ingin berteman akrab dengan makhluk-makhluk yang menjadi tetangga Hua Yifeng ini.
Namun tanpa mendengarkan bantahan Xiao lagi, Yi Hua langsung mengedarkan pandangannya. Sepertinya mereka telah sampai di tempat yang ingin ditujunya. Tatapannya yang awalnya datar kini agak berubah. Belum lagi dengan Yi Hua yang mendadak tertawa. Seolah ada yang lucu di hadapannya.
"Ha ...Haa ...Ha ..."
"Yi Hua, apa kau salah makan lagi? Aku bilang padamu jangan makan sembarangan, kau ..." ucapan Xiao terhenti ketika mendengar Yi Hua yang memotong ucapannya.
"Lihatlah, Xiao. Mereka tidak ada. Mereka yang katanya dihidupi susah payah itu tidak ada. Mereka ..." Yi Hua menunjuk ke depannya. Tepatnya pada rumah tua yang telah hancur sebelahnya.
Nyatanya Wei Fei telah begitu banya dibohongi. Pria itu bekerja begitu banyak, dan melakukan semua yang diinginkan oleh Si Tuan. Semua itu dengan alasan untuk menghidupi anak-anak yang mereka beri 'kebahagiaan'.
BRUK!
Yi Hua duduk begitu saja di tanah yang agak basah. Itu karena rerumputan telah cukup banyak menampung air dari sisa hujan sebelumnya. Lalu, air di sana membuat basah pada pakaian serba putih Yi Hua. Sedangkan peramal itu tetap tertawa sangat keras. Seolah ada yang lucu.
"Ya ampun, bahkan air mataku menetes karena banyak tertawa. Dia berkata tentang kebahagiaan. Ini kebahagiaan ... ha ... ha... ha..." Semakin besar tawa Yi Hua, semakin besar kekecewaannya sendiri.
Masih ingat dirinya dengan cerita bahagia dari Wei Fei. Dimana pria itu tinggal bersama anak-anak dengan bahagia. Mereka tak menderita dan mereka punya kebebasan yang jauh lebih besar dibanding orang lain.
Katanya ...
"Xiao, inilah manusia ... Kami memang begitu. Xiao ..." ucapan Yi Hua semakin meracau karena ia membayangkan betapa pedihnya hati Wei Fei.
Dari bangunan yang sudah hancur ini jelas bahwa sudah lama tak ada yang tinggal di sana. Bertahun-tahun Wei Fei bekerja dengan alasan bangunan ini. Namun bertahun-tahun juga pria itu mengkhayal tentang kebahagiaan pada rumah tua yang sudah hancur. Bertahun-tahun juga Wei Fei percaya bahwa dirinya adalah orang yang memberikan kebahagiaan. Bertahun-tahun juga Wei Fei tak kenal lelah dan tersenyum setiap kali mengingat rumah mereka ini. Hanya untuk kebahagiaan yang katanya bisa dia berikan pada anak-anak.
Omong kosong!
"HuaHua, ..." Xiao entah mengapa terdengar begitu lemah.
__ADS_1
SRET!
Angin yang cukup keras menimpa wajah Yi Hua. Hal itu karena mereka berada di wilayah pegunungan. Yi Hua harus menahan penutup kepalanya agar tidak tertimpa angin lagi. Ia berdiri dengan wajah yang datar seperti biasanya.
"Sejatinya tak pernah ada ketulusan di dunia ini, Xiao. Setiap orang melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, dan tak perduli pada orang lain," ucap Yi Hua sambil menekan penutup kepalanya agar tidak terbawa angin.
Ia terbangun dengan 'kosong'. Dia tak tahu banyak hal, dan tak tahu apa-apa. Ia hanya tahu bahwa dia menjadi Yi Hua. Sehingga ia seperti seorang bayi dewasa. Dia besar tanpa ada banyak kenangan. Ia belajar dari pengalamannya sebagai Yi Hua. Oleh karena itu, Yi Hua terus merasa kecewa setiap kasus yang ia jalani.
Ia selalu melihat kesedihan. Kesedihan. Pengkhianatan. Seseorang yang melakukan banyak hal, katanya ... demi orang lain. Padahal semua itu demi diri mereka sendiri. Mereka yang ingin bahagia, tetapi merenggut kebahagiaan orang lain. Semuanya benar-benar bukan hal yang baik untuk Yi Hua lihat.
Meski begitu, ... Inilah yang terjadi dalam hidupnya.
Xiao menghela napasnya. "Lebih baik kau pulang, HuaHua. Jika kau terlalu lama di sini kita akan datang ke Pusat Kota saat malam hari."
SRAT!
Baru saja Yi Hua ingin menjawab, angin lagi-lagi datang dan Yi Hua tak sempat menahan penutup kepalanya. Hal itu membuat penutup kepala kumuh itu terbang ke bagian bawah gunung. Dan, Yi Hua memutar kepalanya untuk melihat ke arah mana penutup kepala itu terjatuh.
TEP!
Namun Yi Hua tak begitu kesulitan untuk mencari penutup kepalanya. Itu semua karena penutup kepala itu tak pergi kemana-mana. Hanya berada di tangan seorang pria dengan balutan pakaian serba hitam.
Sosoknya yang sangat mencolok, terutama dengan topeng yang menutupi di bagian matanya. Sejatinya, Yi Hua tak pernah melihat seluruh wajah pria ini. Akan tetapi, gambar aneh terlihat di pipi kirinya. Itu tampak sangat mencolok dan merah. Seolah ada darah di pipi pria itu.
"Hua Yifeng ..." bisik Yi Hua ketika melihat pria itu.
Yi Hua terus menatap pada Hua Yifeng yang berada di bagian bawah gunung. Jarak mereka yang agak jauh membuat Yi Hua hanya melihat pria itu seperti sosok kecil. Meski begitu, mata Yi Hua tak akan pernah salah. Pria itu memiliki penampilan yang mencolok.
Xiao, mengapa Hua Yifeng datang kemari? Apakah dia ingin membunuhku?
Hanya saja Hua Yifeng seperti orang yang telah tahu tentang tungku iblis di dalam tubuh Yi Hua. Seperti yang Xiao katakan, jika tungku iblis Yi Hua bisa membuat kekuatan yang sangat besar jika diserap oleh iblis. Terutama oleh iblis tinggi seperti Hua Yifeng.
Pria itu pasti bisa menghancurkan dunia dan tak terkalahkan lagi.
Yi Hua menekan Xiao yang ada di telinga kirinya. Sama seperti sebelumnya. Jika Hua Yifeng datang, maka Xiao tak akan berfungsi secara tiba-tiba. Itu seperti ada kekuatan yang menekan fungsi Xiao di diri Yi Hua.
Pria ini pasti mengetahui juga tentang kehadiran Xiao. Atau, sistem busuk ini begitu lemah hingga bisa terpengaruh dengan aura iblis Hua Yifeng. Entahlah.
SRET!
Baru hanya sekian detik Yi Hua berpikir, Hua Yifeng mendadak ada di depannya. Bahkan Yi Hua pun tak bisa berteriak jika dia ingin. Peramal itu hanya bisa menjauh, tetapi tangan Hua Yifeng telah merenggut pinggangnya.
"Apa kau takut padaku, Yi Hua?" bisik pria itu di telinganya.
Hey, apakah ada alasan dimana aku tak akan takut pada pria ini?
Yi Hua seharusnya menulis pesan untuk siapapun yang datang ke kediamannya. Setidaknya dia bisa mewariskan rumah tersayangnya pada seseorang. Atau, setidaknya dia bisa memberitahu orang lain tentang kepergiannya. Semua itu agar ada orang yang berdoa di depan abunya kelak.
Mendadak Yi Hua punya pikiran yang gaib sekarang.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~