
Setiap partikel, tokoh, sejarah, dan kejadian di dalam novel hanyalah imajinasi tak nyata dari author. Anggap saja ini hanya khayalan author yang agak tinggi. Sehingga ini tak berkaitan dengan kejadian nyata. Jika tak paham juga, maka bersiaplah untuk mendapatkan sandal terbang sebagai hadiah.
***
Tangan An masih membentang di hadapan Yi Hua. Hal itu membuat Wang Zeming memperhatikan dengan lekat. Tatapan Wang Zeming tak terdefinisi, tetapi Yi Hua tahu jika Wang Zeming mungkin tak terlalu menyukai An. Ini pertama kalinya Yi Hua melihat Wang Zeming dan An yang berada dalam satu kondisi.
Biasanya Wang Zeming tak begitu banyak terlihat di kerajaan, dan An sendiri jarang mengikuti Raja Li Shen akhir-akhir ini. Akan tetapi, Yi Hua tak menduga jika Wang Zeming akan menatap tajam pada An. Meski begitu, Am masih tetap datar seperti biasanya. Nyaris tak begitu perduli pada kehadiran pria tua itu.
Untuk pertama kalinya Yi Hua menyadari bahwa An tak berada di kubu kerajaan. Pria ini tampak berdiri sendiri, dan cenderung membenci kerajaan. Akan tetapi, mengapa dia menjadi bagian dari kerajaan?
"Baiklah. Langsung pada apa yang penting saat ini," ujar Wang Zeming yang kini membuang pandangannya. Ia tak lagi menatap tajam pada An.
Huan Ran dan Liu Xingsheng berdiri di belakang Wang Zeming. Sesekali Liu Xingsheng melambaikan tangannya dengan riang pada Yi Hua. Mungkin hanya pria ini yang auranya masih gembira di situasi yang pelik ini.
"Ini harus menjadi topik di Pengadilan Tinggi nanti?" Ini jelas bukan pernyataan, Yi Hua bertanya.
Wang Zeming menggelengkan kepalanya. "Semua tentang kebijakan kerajaan terdahulu telah usai, Peramal Yi. Jangan biarkan masa lalu mengejarmu."
Menutup mata pada kenyataan yang ada. Busuk sekali!
Xiao mengingatkan, "HuaHua, kau harusnya tak menentang kerajaan. Meski kau mulai muak, tetapi kau adalah orang kerajaan."
Omong kosong macam apa itu?
Namun menjadi orang-orang yang di 'atas' bukan berarti dia harus mengabaikan apa yang terjadi. Yi Hua hanya tak berpikir jika kerajaan begitu egois untuk menggunakan Shen Qibo dalam hal ini. Lalu, gelar Shen Qibo sebagai pendosa yang ditakuti oleh semua orang ternyata memiliki alasan.
"Lalu, bagaimana aku harus menyebut kerajaan, jika Shen Qibo disebut sebagai pendosa?" tanya Yi Hua entah pada siapa. Ia tak berharap ada yang menjawabnya setelah ini.
"Jaga bicaramu, Peramal Yi," tegas Wang Zeming. Ini tak biasanya Wang Zeming terlihat keras pada seseorang.
Liu Xingsheng segera menggelengkan kepalanya untuk isyarat pada Yi Hua. Apalagi mendebat seseorang yang berada di 'atas', Yi Hua pasti kalah. Padahal baru saja Yi Hua memperbaiki namanya.
Jika dia membuat masalah lagi, mungkin tak ada jalan keluar lagi untuk Yi Hua.
Wang Zeming menghela napasnya. "Semua yang ada di Lembah Debu telah usai. Jika Yang Mulia tahu tentang kedatangan kalian tanpa perintah ini bisa jadi akan menimbulkan masalah."
Jenderal Wei langsung angkat bicara. Bagaimana pun dia adalah orang yang membawa Yi Hua dalam masalah ini. Menyesali pun hanya akan jadi hal yang tidak berguna.
"Mohon kesempatannya, Penasihat Wang. Saya yang membawa Yi Hua ke tempat ini, sehingga ..."
SRET
TAK!
Wei Qionglin kini merasa jika dirinya lebih tua dari yang seharusnya. Ia ingin melindungi Yi Hua, tetapi apa yang dilakukannya justru sangat berani. Bahkan kini Yi Hua menarik pedang hitam milik An. Entah mengapa Yi Hua melakukannya.
Namun berkat itu, kebanyakan dari mereka terpaku. Masalahnya Yi Hua sekarang tak begitu berbeda dari para bandit. Juga, ... Bukankah Yi Hua sudah berapa kali menarik pedang milik orang lain secara sembarangan?
Ditambah lagi An tak terlihat perduli dengan tindakan tidak sopan Yi Hua ini.
"Mengapa hal ini tak bisa dibicarakan di Pengadilan Tinggi?" tanya Yi Hua langsung pada poinnya.
__ADS_1
Jelas sekali ia tak bisa menerima tentang hal tersebut. Dimana pengadilan tinggi seharusnya menanungi dan membicarakan keluhan penduduk kerajaan, tetapi nyatanya persoalan ini tak bisa dikeruk sampai ke dalam. Apa karena persoalan ini membuat kerajaan terlihat agak ganjil? Entahlah.
Wang Zeming menghela napasnya. "Sejak awal ini adalah pekerjaan dari Tentara Malam. Bahkan para pejabat lainnya pun tak tahu. Semua ini seharusnya tak pernah tercium ke permukaan."
"Bahkan dengan membuat Shen Qibo membantai satu kota?" tanya Yi Hua langsung.
Hal itu membuat Huan Ran dan Liu Xingsheng yang juga baru datang ikut terkejut. Seperti yang dikatakan oleh Wang Zeming, bahkan Perdana Menteri sekarang pun tak mengetahuinya. Sudah sangat terlihat betapa rahasianya perintah itu dijatuhkan pada Shen Qibo. Bahkan jika Yi Hua dan yang lainnya tak menemukan fakta ini di Lembah Debu, mungkin semuanya akan terkubur bersama sejarah pembantaian besar ini.
Huan Ran terlihat memiliki banyak pemikiran di kepalanya, tetapi dia tak mengatakan apa-apa. Ditambah lagi dengan ucapan Wang Zeming selanjutnya. "Tentara Malam adalah bagian yang tak 'ada' di permukaan, Peramal Yi. Saat mereka menjadi bagian dari Tentara Malam maka indentitas mereka di 'permukaan' adalah palsu. Bahkan saat mereka menikah, berkeluarga, atau bersosialisasi, maka mereka hanya akan menjadi bagian dari penduduk di depan umum. Akan tetapi, semua tentang mereka tidak ada. Jika pun ada semuanya adalah masa lalu. Shen Qibo yang kau sebut itu, belum tentu bernama Shen Qibo," jelas Wang Zeming dengan nada yang sangat berwibawa.
Yi Hua mendadak ingin tertawa. "Saat kerajaan sudah tak memerlukan mereka lagi, mereka akan dibuang. Seperti yang dilakukan kerajaan pada penduduk di kota ini?"
"Benar. Lagipula, hanya satu orang yang menjadi korban itu lebih baik daripada semua orang di Kerajaan Li. Apa kau bisa membayangkan betapa buruknya Kerajaan Li apabila muncul kudeta para penduduk kota ini?" Wang Zeming tak ragu untuk menjawab.
Mudah sekali mereka membuang nyawa orang lain, seolah nyawa itu bisa dibeli di toko roti!
Xiao menegur Yi Hua lagi. "Aku sarankan kau menjauh dari urusan ini, HuaHua. Tak baik untuk tahu banyak hal. Kau hanya perlu mengumpulkan ingatanmu."
Itu benar. Seharusnya Yi Hua tak meletakkan hidungnya pada urusan ini. Bagaimana pun sudah sifat yang harus dilakoninya, bahwa dirinya harus menjadi orang yang penuh omong kosong. Akan tetapi, apa yang dilihatnya sekarang tak lebih dari pengorbanan satu orang untuk kesejahteraan kerajaan.
Di mana yang lainnya?
Lagipula, hanya karena Shen Qibo adalah anggota Tentara Malam, apakah itu bisa membuatnya menjadi tak 'berharga'?
Namun dari apa yang Yi Hua ketahui, setiap kehidupan manusia itu berharta. Meski ia berkata 'hanya', tetapi nilainya itu bukanlah 'hanya'. Shen Qibo pasti memiliki hak untuk tetap hidup, bukan?
Yi Hua memang tak pernah berada dalam situasi di mana dirinya harus memiliki antara 'demi' diri sendiri, atau demi orang lain.
Meski begitu ... Yi Hua masih sangat ingat tatapan Yue Yan kala itu.
Yi Hua pada akhirnya menarik tali pengikat penutup kepalanya. Ia tak ingin berkata apa-apa lagi. Yi Hua memasang kembali penutup kepalanya. Menutupi wajahnya yang terasa tebal akibat riasan dadakan dari pasir-pasir di sekitar.
"Jika seperti itu saya mohon undur diri. Saya ingat bahwa Bibi pemilik Toko Roti di Pusat Kota meminta bantuan saya untuk meramal kapan sapinya melahirkan," ujar Yi Hua sambil memberikan penghormatan khas seorang pria.
Lalu, Yi Hua berbalik dan masih dengan pedang yang ada di tangannya. Ia harusnya mengembalikan pedang An segera. Bahkan Yi Hua lupa betapa mengerikannya pedang milik An ini.
Liu Xingsheng terlihat ingin bertanya pada Yi Hua. Hanya saja ia masih takut untuk menyela suasana dingin di sekitar mereka. Hal itu membuat Liu Xingsheng hanya bisa menatap punggung Yi Hua, dan tak berani untuk mengajak teman kecilnya pulang bersama.
Namun yang ada di pikiran Yi Hua ialah tetap diam, karena dia tak punya hak apa-apa dan dia tak sebaik itu. Biarkan ini menjadi masa lalu. Apapun yang Yi Hua lakukan tak akan menyelamatkan apa-apa. Ditambah lagi ini adalah apa yang menjadi pilihan Shen Qibo.
"Jadi, siapa saja yang 'masih' hidup dan tahu tentang ini semua?" tanya Yi Hua lagi. Entah mengapa Yi Hua bertanya tentang ini.
Wang Zeming menatap Yi Hua dengan pandangannya yang teduh. Seperti tatapan seorang ayah pada anaknya. Pria ini terlihat membujuk Yi Hua untuk tak terlibat terlalu banyak pada persoalan kerajaan.
"Hanya orang-orang kerajaan terdahulu yang mengetahuinya. Tapi Peramal Yi tahu bukan jika Hua Yifeng sudah membantai habis mereka. Aku pun tak terlalu mengerti apa yang terjadi saat itu," ucap Wang Zeming dengan ekspresi yang cukup tenang.
Jika seperti itu ... Hua Yifeng, pria ini adalah seseorang yang mungkin ditakuti oleh kerajaan bukan hanya dari kekuasaannya sebagai Pemilik Gunung Hua, Iblis Kehancuran. Ada hal yang ditakuti oleh orang-orang kerajaan lainnya, yaitu informasi. Hua Yifeng, pria ini ... Dia pasti mengetahui banyak hal.
Wei Qionglin menyahut, "Jadi, maksud Penasihat Kerajaan jika memang tentang Shen Qibo ini ingin dibuka di Pengadilan Tinggi, maka tak ada satu orang pun yang bisa ditanya tentang kebenarannya?" tanya Wei Qionglin hampa.
"Tidak, Jenderal Wei. Masih ada yang bisa ditanya tentang ini," tanggap Yi Hua langsung.
__ADS_1
Wei Qionglin memperhatikan Yi Hua dengan pandangan tak mengerti. Ia bahkan tak bisa membaca apa yang dipikirkan oleh 'pria' peramal ini. Seolah Yi Hua memiliki pemikiran yang rumit, tetapi tak ada yang bisa menyentuh kerumitan itu di pikiran Yi Hua. Sungguh sesuatu yang agak menyebalkan.
Meski begitu, Yi Hua masih sangat ingat tentang Hua Yifeng yang ia lihat di saat pembantaian itu. Jelas Hua Yifeng bukannya 'tak sengaja' lewat di sana. Dari segala kemungkinan, mengapa bisa Hua Yifeng yang ada di sana.
Biar disebut kemungkinan pun, itu hanya akan menjadi seperti bulu sapi di dalam lautan. Susah untuk dicari.
SRET!
Yi Hua mengembalikan pedang milik An tanpa menatap pada pemilik pedang itu. Yi Hua hanya bisa melambaikan tangannya pada orang-orang di sekitarnya. Dia harusnya segera menyelesaikan semua ini, dan mencari keberadaan Yue Yan.
Ia yakin Yue Yan tak akan sebodoh itu untuk terkubur dalam serbuan pasir.
Ditambah lagi ...
"Apa yang akan kau lakukan, HuaHua? Aku tahu kepala licikmu sedang merencanakan sesuatu," tegur Xiao yang sudah sangat hafal dengan pemikiran Yi Hua.
Yi Hua pasti akan mencari kegiatan lagi untuk 'membuang-buang' nyawanya. Sehingga ingatannya bisa kembali lagi, meski hanya sedikit. Ia harus terus mengejar kematiannya sendiri hanya agar kemampuan 'kembali ke awal' aktif. Itu adalah misinya selama menjadi Yi Hua ini.
Yi Hua membakar kertas jimatnya lagi. Ia memperhatikan ke sekelilingnya yang masih gelap. Akan tetapi, berkat kertas jimatnya Yi Hua bisa melihat ke sekelilingnya. Yi Hua bisa tahu jika gunung pasir di Lembah Debu lah yang longsor akibat badai. Itu yang membuat luapan pasir lebih kencang sebelumnya. Yi Hua menengok ke bagian bawah, dan lubang baru tercipta di Lembah Debu. Itu adalah lubang yang cukup besar dan dalam.
"Aku hanya ingin bertanya pada seseorang," ujar Yi Hua sambil merapikan penutup kepalanya.
Xiao langsung mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Yi Hua. Mungkin karena dia sudah hidup cukup lama dan berbagi pendapat dengan Yi Hua busuk ini. Terkadang Xiao berharap jika dirinya menjadi sistem dari seseorang yang pendiam, bukan yang kasak-kusuk seperti anak sapi ini.
"HuaHua, kau ingat tentang kepala mu yang harus selalu melekat, bukan? Lagipula, kau ingin mencari Hua Yifeng dimana?" tanya Xiao lelah.
Yi Hua menjawab dengan santai, "Dia akan datang sendiri, Xiao."
Lalu, ia mendengar suara Liu Xingsheng memanggilnya dari belakang. Sepertinya mereka akan fokus pada tugas masing-masing. Tentang bayaran dari Wei Qionglin, Yi Hua akan bertanya padanya nanti. Saat ini ia harus memastikan sesuatu.
"Yi Hua, jika kau sedang marah jangan berkeliaran sembarangan di tempat ini!" omel Liu Xingsheng ketika mengikuti Yi Hua dari belakang.
Yi Hua mengorek telinganya tanpa mengatakan apa-apa.
Ia memperhatikan pada sekitarnya. Mungkin sebentar lagi matahari akan terbit. Siapa sangka ia akan menghabiskan waktunya satu malam di Lembah Debu. Yi Hua menghela napasnya.
SRET!
Lalu, ... Yi Hua melompat ke arah lubang itu. Hal tersebut membuat Liu Xingsheng membulatkan matanya tak percaya. Ia tahu jika Yi Hua terkesan tak pernah takut untuk melukai dirinya sendiri. Akan tetapi, ...
"HuaHua, pikirkan hutangmu yang belum dibayar! Jangan mati dulu," teriak Liu Xingsheng.
Namun dia tak melihat lagi Yi Hua, dan hanya tersisa kertas jimatnya yang habis terbakar di udara.
Ini gila!
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~