
DUG!
Jenderal Wei yang awalnya tengah berbicara dengan bawahannya menjadi lebih fokus ketika Yi Hua datang. Hanya saja Jenderal tak menyangka jika Yi Hua akan datang bersama prajurit lainnya. Baru saja Jenderal Wei ingin menyapa Yi Hua, ia menyadari jika dahi Yi Hua memerah.
"Apa yang terjadi?" tanya Jenderal Wei dengan tatapan tajam. Bagaimana pun kulit Yi Hua terbilang sangat mudah memar, sehingga pukulan kecil pun akan sangat tampak.
Yi Hua jelas tak ingin berkata apa-apa. Salah seorang prajurit dengan mata yang menghitam sebelah yang mendekat. Jenderal Wei bertambah bingung dengan keadaan kedua orang ini yang baru datang. Mengapa mereka rata-rata memiliki bekas pukulan di wajah mereka? Apa mereka baru saja bertarung dengan bandit?
"Jenderal Wei, saya berusaha membawa Peramal Yi seperti yang Anda perintahkan. Tapi ..."
Sampai di sini Jenderal Wei sudah memahami siapa perusuh sebenarnya. Bahkan dia seharusnya tak menyuruh dua orang prajurit ini saja yang pergi. Jika perlu ia harusnya membawa sekitar lima orang untuk mengatasi Yi Hua. Akan tetapi, seingat Jenderal Wei ia tidak memerintahkan orang-orang ini untuk membawa Yi Hua paksa.
"Aku sudah bilang jangan berlaku kasar padanya," ujar Jenderal Wei sambil menatap tajam pada para prajurit itu.
Kedua prajurit itu langsung berlutut di hadapan Jenderal Wei. Bagaimana pun mereka dalam situasi yang buruk. Mereka yakin jika tak dijelaskan, maka Jenderal Wei akan menebas kepala mereka satu-persatu.
"Maafkan kelancangan kami, Jenderal Wei. Kami tidak meletakkan tangan sedikit pun pada Peramal Yi. Kami sungguh tak berbohong," ujar salah satu prajurit yang benar-benar ketakutan.
Masalahnya adalah mereka memang tak berniat buruk pada Yi Hua. Ketika Yi Hua membuka pintu, salah seorang prajurit dengan semangat menunjukkan pedang kepada Peramal kecil itu. Hal itu karena Jenderal Wei ternyata menghadiahi Yi Hua dengan pedang. Tentu saja agar Yi Hua tidak bertarung dengan tangan kosong nantinya.
Namun ...
Seingatku mereka mengacungkan pedang itu ke leherku.
Xiao hanya bisa berdecak, "Kau terlalu sering diincar oleh orang lain hingga berpikiran buruk terhadap mereka."
Jenderal Wei menatap pada Yi Hua, tetapi Yi Hua pura-pura sibuk bernapas. Jelas sekali jika peramal kecil ini terlalu rusuh untuk dikendalikan. Bahkan Yi Hua juga memberi pukulan pada kedua prajurit polos ini. Sebenarnya Jenderal Wei merasa kasihan pada keduanya karena seingatnya tenaga Yi Hua ini benar-benar seperti sapi.
"Jadi, mengapa dahi Yi Hua memar seperti itu?" tanya Jenderal Wei yang agak bingung.
Katanya, Yi Hua yang memukul kedua prajurit itu, tetapi kenapa peramal ini juga punya memar? Namun prajurit ini juga berkata bahwa dia tak berbohong. Belum lagi dengan wajah jengkel Yi Hua. Situasi seperti ini membuat Jenderal Wei bingung ingin bertanya pada siapa.
"Peramal Yi menabrak pintu ..." SINGGG ...
Prajurit yang berani membuka mulutnya itu langsung terdiam. Ia bersembunyi di belakang rekannya yang lain. Yang ingin dia bicarakan adalah tentang Yi Hua yang berniat melarikan diri setelah memukul salah satu prajurit sebelumnya. Akan tetapi, karena Yi Hua lupa jika kesialan dirinya itu di atas rata-rata. Sehingga ia menabrak pintu saat ingin bersembunyi di dalam rumah.
Akan tetapi, itu adalah hal yang memalukan untuk Yi Hua. Ia hanya bisa menatap tajam pada kedua prajurit itu agar tidak begitu bocor. Hal itu yang membuat kedua prajurit itu sedikit tertekan. Terutama saat Yi Hua menatapnya seperti ingin membantingnya.
Banyak hal yang membuat mereka takut pada Yi Hua. Pertama, tentu saja karena sifat pemarah dan rusuh Yi Hua yang seperti sapi lepas. Belum lagi dengan terkenalnya Yi Hua dengan otaknya yang licik. Lalu, yang kedua adalah ... Yi Hua ini seperti memiliki peliharaan di dalam dirinya. Itu seperti kau memiliki makhluk penjaga. Bahkan Yi Hua terkadang bicara sendiri. Ketiga, Yi Hua terkenal dengan kesialannya yang bisa menular. Katanya, jika seseorang terlalu sering bertemu dengan Yi Hua, maka kesialan Yi Hua akan menular. Sehingga mudah mengalami hari yang buruk.
Contoh nyata adalah saat kejadian Liu Xingsheng. Ini pertama kalinya Liu Xingsheng harus ditangani karena kondisinya yang cukup parah. Istana bahkan dihebohkan dengan kedatangan Liu Xingsheng beserta memar besar di lukanya.
Juga, baru saja Yi Hua ikut dalam pertunjukan kemarin, dan langsung terjadi serangan mayat berjalan. Bahkan Jenderal Wei yang sering berbincang dengan Yi Hua juga hampir diracuni.
Bukankah itu terlalu banyak untuk disebut kesialan?
Belum lagi dengan fakta mengerikan lainnya, seperti beberapa orang yang terlibat dengan Yi Hua akan tersingkir. Lalu, ... Banyak orang yang berpikir ...
"Katanya semua masalah ini bersumber dari Yi Hua, dan karena itu hanya Yi Hua yang bisa menyelesaikannya," ujar Jenderal Wei menerangkan..
Oh ... Jadi, Pengadilan Tinggi hari ini ternyata membicarakan tentang Yi Hua. Pantas saja Yi Hua bersin-bersin tadi pagi.
Singkatnya, Yi Hua sengaja membuat masalah itu muncul agar dirinya selalu 'berguna' di kerajaan Li. Tentang jati diri Yi Hua yang unik dan rupa-rupa warnanya ini membuat orang lain takut untuk berurusan dengannya.
Jika aku ingin membuat keributan, maka aku akan membakar Istana Kerajaan Li.
"Saya rasa sambutan ini sudah sangat terhormat, Jenderal Wei," ucap Yi Hua yang berusaha di ramah-ramahkan. Bagaimana pun ia merasa semakin jengkel dengan keadaan ini.
Xiao berkomentar, "Biar ku beritahu. Meski kau pernah membakar Istana Awan milik Hua Yifeng, tetapi kau tak bisa melakukan hal yang sama dengan kerajaan Li."
Namun Yi Hua tak begitu memikirkan banyak hal. Lagipula, sebagai manusia paling dibenci abad ini, Yi Hua harusnya sudah terbiasa. Apalagi ini karena perbuatan Yi Hua sendiri. Ia hanya bertanya-tanya apakah Yi Hua asli pernah menyesal karena sifatnya sendiri?
Entahlah. Dirinya tak tahu pada siapa ia bisa bertanya.
Lagipula, jika dibandingkan dengan kehidupannya sebagai Li Wei, mungkin ucapan buruk tentang Yi Hua itu tidak ada apa-apanya. Bahkan jika semua orang tahu dirinya adalah Li Wei, maka dia bukan hanya akan menjadi manusia paling dibenci abad ini, tetapi manusia yang ingin dibunuh sepanjang masa. Itu menjelaskan alasan mengapa Yi Hua sudah malas membahas pandangan orang lain.
Jika menunggu semua orang di dunia ini untuk menyukaimu, maka kau akan melakukan hal yang sia-sia.
__ADS_1
Yi Hua mengalihkan pembicaraan lagi. Tangannya memperbaiki pedang Li Wei yang miring di punggungnya. Kenapa Yi Hua tak menaruh pedang itu di pinggang? Itu karena mata pedang Li Wei ini sangat panjang. Jika Yi Hua menaruhnya di pinggang, maka panjang pedang tak akan seimbang dengan tubuh Yi Hua yang mungil.
Dan, tentu saja Yi Hua masih membungkus pedang Li Wei ini dengan kain. Ia hanya akan menggunakannya sebagai alat pemukul semata. Sebab, dirinya tak akan berani menebas secara langsung. Apalagi dengan efek dari pedang ini yang mengerikan.
"Jadi, ke arah mana kita akan pergi?" tanya Yi Hua yang celingak-celinguk untuk memperhatikan dinding besar di hadapannya.
Pasalnya, ia tak tahu apakah ini
Ketika Yi Hua menoleh ke bagian pintu di depannya, Yi Hua merasa sedikit aneh. Bagaimana pun tidak ada lambang keluarga sedikit pun yang tertera di sana. Lalu, apa-apaan dengan dinding besar ini? Apakah diciptakan ada begitu saja, atau mereka sekarang ada di bagian belakang rumah makam.
"Biasanya masing-masing keluarga menciptakan keamanan tersendiri agar tak ada yang bisa memanfaatkan mayat leluhurnya," ujar Jenderal Wei sambil menunjuk ke dinding besar itu.
Yah, seperti yang diketahui. Biasanya masing-masing keluarga memang melakukan hal seperti itu. Terutama pada makam keluarga besar seperti keluarga Jenderal. Apalagi dengan meletakkan benda-benda yang berharga bagi mendiang tersebut di dalam rumah makam. Sehingga jelas keamanan makam keluarga Wei ini tinggi.
"Apa ini bukan jalan masuk sebenarnya?" tanya Yi Hua sambil memperhatikan ke sekelilingnya.
Jenderal Wei tersenyum, "Sebenarnya ini jalan masuk yang benar. Namun tak sepenuhnya masuk ke dalam."
Dia bicara ini adalah jalan masuk, tetapi bukan jalan masuk juga. Jadi, maksud Jenderal Biawak ini apa?
Lokasi ini memang cukup dekat dengan Pusat Kota. Seingat Yi Hua, ia hanya perlu berjalan ke arah gunung besar di hutan dekat Pusat Kota. Kemudian, bangunan ini hadir dengan cara yang amat mencolok. Sehingga kau bisa langsung tahu ini bukan bangunan biasa.
Akan tetapi, yang Yi Hua duga adalah jika jalan ini hanya akan membawa mereka untuk masuk ke dalam ruangan makam. Walau tak akan langsung menjumpai makam yang dimaksud. Meski begitu, Yi Hua tak ingin mengatakan apa-apa.
"Jalan," perintah Jenderal Wei pada kereta di depannya.
Tanpa disebut pun Yi Hua sudah tahu isi di dalamnya. Tentu saja Jenderal Wei dan pasukannya datang untuk suatu pekerjaan. Hanya saja Yi Hua tak percaya jika dirinya terlibat dalam hal ini. Yah, seperti yang sudah dicurigai oleh para pejabat dalam Pengadilan Tinggi. Semuanya seperti berkaitan dengan Yi Hua.
GRAK!
Yi Hua menoleh pada dinding besar itu yang mendadak bergeser. Ternyata ada mekanisme di bagian tengah dinding. Di sana akan memicu munculnya dorongan dari tengah. Lalu, kedua bagian dinding akan memisah. Karena sejak awal dinding ini tidak menempel di tanah. Namun tergantung dengan tiang di bagian pinggirnya. Hanya saja jika tak ada yang menyadarinya, mungkin akan terlihat.
"Cukup menarik," ucap Yi Hua pelan.
"Bagian yang menarik adalah Keluarga Wei cukup cerdas untuk membuat mekanisme yang membuat bingung seperti ini. Karena biasanya makam lainnya justru akan membuat banyak jebakan agar tak ada yang berani masuk ke dalamnya," ujar Xiao yang membenarkan ucapan Yi Hua.
Jenderal Wei mengangguk.
GRAK!
Ketika Yi Hua melihat bagian dalamnya, bahkan di sana berjejer pohon seperti hutan pada umumnya. Hanya saja ada jalan berumput yang bisa membuatmu tahu ke arah mana akan berjalan. Yi Hua mengikuti Jenderal Wei dari belakang.
Akan tetapi, ...
"Sepertinya ada jalan lain, Jenderal Wei," ucap Yi Hua pelan sambil menatap ke bagian atas.
Meski di sekelilingnya di kelilingi pagar, tetapi sebenarnya jalan menuju masuk makam ini sana seperti hutan terbuka. Yi Hua menunjuk ke arah dinding tinggi, tetapi tanpa atap. "Saya bisa memasuki bangunan ini hanya dengan tali."
Bangunan ini meski punya dinding yang tinggi, tetapi tak beratap.
Jenderal Wei masih berjalan dengan tenang, "Namun kau tetap tak bisa masuk ke bagian tengah ini jika kau tidak melalui pintu depan. Sebab, di sekelilingnya adalah jurang dalam."
Yi Hua mengangkat bahunya, "Meski Anda bilang jurang dalam, tetapi jika masih memiliki dasar untuk berpijak, maka itu tak bisa dikatakan sebagai 'tak bisa'."
"Aku ragu jika semua tipuan makam ini akan bisa berlaku bagi Yi Hua," ujar Jenderal Wei yang memuji pemikiran Yi Hua.
Seperti yang sudah Jenderal Wei katakan. Yi Hua itu memiliki pemikiran yang tak biasa. Hal seperti itu yang membuat Yi Hua tampak memiliki setiap cara. Apabila kau menemukan jalan buntu, terkadang kau perlu berpikir dari sudut yang lain. Siapa tahu kau bisa menerobos dari dalam.
Mungkin karena hal tersebut peramal kecil ini selalu diawasi oleh Kerajaan.
Yang lebih menakutkan dalam politik ialah orang yang memiliki banyak strategi dan informasi. Yi Hua adalah orang yang terlihat seperti itu. Bagaimana pun, entah mengapa Yi Hua seperti bisa mengungkap banyak rahasia kerajaan yang ingin disembunyikan rapat.
Tak aneh apabila suatu saat kerajaan akan memburu nyawa Yi Hua ini.
TEP!
Jenderal Wei memerintahkan para prajuritnya untuk berhenti. Ia mengamati ke gua besar itu seperti Jenderal Wei juga tak menyangka jika akan muncul dua pintu di mulut gua. Ini nyaris seperti Jenderal Wei juga tak terlalu tahu tentang jalan masuk menuju makam keluarganya.
__ADS_1
Namun Jenderal Wei memilih untuk berjalan ke arah kanan. Yi Hua hanya mengikutinya tanpa berkata apa-apa.
Keluarga Wei ini tengah membuat makam untuk manusia, atau untuk hartanya? Mengapa dia tak sekalian membuat makam yang memiliki jembatan kayu, lalu di bawahnya ada sungai yang dipenuhi oleh buaya.
"Itu lebih baik untuk makam milikmu, HuaHua. Karena lihatlah kau masih tetap hidup juga walau sudah sempat mati sebagai Li Wei," balas Xiao yang memberikan pelajaran baru untuk Yi Hua.
Berbicara tentang makamnya, dimana abu Puteri Li Wei diletakkan? Atau malah dirinya tak diberi pemakaman seperti yang seharusnya. Apalagi dengan fakta jika Hua Yifeng pernah menggunakan raganya sebagai cangkang manusia.
Ia harus bertanya pada Hua Yifeng tentang ini.
Yi Hua mendadak lupa tentang raganya sendiri. Pasti tak ada juga yang membakar uang untuknya saat itu. Sangat menyedihkan. Pantas saja dia terlahir kembali dengan keadaan sangat melarat sebagai Yi Hua.
"Jenderal Wei, kita kembali ke tempat semula," ujar salah seorang prajurit yang mendekat.
Akhirnya, mereka memilih pintu di sebelah kiri, dan menyadari bahwa mereka kembali ke tempat yang sama. Kedua pintu gua itu ternyata saling berhubungan. Sehingga mereka terkesan seperti ular yang mengejar ekornya sendiri.
Jenderal Wei menggaruk kepalanya, dan menatap pada Yi Hua. Beruntung Yi Hua tidak sedang dalam keadaan melamun lagi. Akan tetapi, dari situasi itu Yi Hua ternyata benar. Jenderal Wei kurang tahu tentang seluk-beluk makam leluhurnya ini.
"Yi Hua ..."
Yi Hua merentangkan lima jarinya untuk menghentikan ucapan Jenderal Wei. "Tak usah merasa bersalah, Jenderal Wei. Mungkin setelah Anda dibawa untuk dimakamkan di sini baru Anda akan hafal jalannya."
Yi Hua memperhatikan sekelilingnya untuk mencari semacam pintu lainnya. Namun jelas-jelas makam keluarga Wei ini seperti gua alami. Seolah tak pernah ada bekas di gali, dipasang, atau batuannya dibongkar.
Akan tetapi, ... Yi Hua punya Xiao yang punya radar lebih tinggi dibandingkan kelelawar. Mungkin di masa lalu Xiao ini jelmaan dari kelelawar yang punya hubungan tersirat dengan bebek. Makanya selalu berisik, walau kadang berguna karena inderanya tajam seperti anjing.
"Aku merasa seperti mendengar beberapa hewan dalam lamunanmu itu, HuaHua. Kau ini mau ku bantu atau tidak? Padahal jalan masuknya ada di sana," ucap Xiao jengkel.
Yi Hua berjalan menyusuri lorong gua dan menyadari jika gua ini memang agak menipu. Ketika mereka masuk lewat pintu kanan, secara alami mata mereka akan mengikuti lekukan gua yang ke arah kiri. Sehingga jalan masuk sebenarnya ada di sebelah kanan, tetapi tertutup oleh ilusi warna dari gua. Warnanya nyaris sama rata. Mungkin keluarga Wei sudah jarang meninggalnya, maka pintu itu tak terlihat
Begitu juga dengan pintu sebelah kiri, mereka cenderung akan terpengaruh oleh labirin yang melengkung. Sebab manusia selalu memiliki kesan pertama, walau tak pernah diucapkan.
Ketika kesan pertama seseorang bahwa jalanan ini melengkung, secara alami dia akan mengikuti jalan melengkung. Dan tak akan terfokus pada jalan lainnya yang tak masuk dalam garis lengkungan. Jika mata seseorang tak begitu jeli, maka dia akan terjebak dalam ilusi struktur gua ini.
SRET!
"Jenderal Wei, jalannya ada di sini ..."
Jenderal Wei melirik Yi Hua, dan mulai berpikir jika memang ini seperti yang dibicarakan di Pengadilan Tinggi. Entah mengapa jika membawa Yi Hua, setiap hal akan terbongkar.
Dan ..
Selalu ada fakta baru yang menyakitkan untuk dikeruk, beserta korban di dalamnya.
Jenderal Wei menarik bahu Yi Hua untuk berhadapan dengannya. Tatapannya tertuju pada mata cerah Yi Hua, serta raut sombong yang selalu Yi Hua keluarkan. Bagaimana pun Yi Hua terlalu blak-blakkan untuk disebut sebagai mata-mata. Seolah meski sombong, dan pemarah, tetapi entah mengapa Yi Hua terkesan tak pernah menyimpan kata-kata. Dia akan mengatakan apapun yang ingin ia katakan.
Akan tetapi, ..
Yi Hua menyipitkan matanya, "Apa maksudnya ini, Jenderal Wei?"
Jangan bilang orang ini juga akan mencurigaiku.
Tentu saja.
"Kau siapa sebenarnya? Dimana Yi Hua yang asli?" tanya Jenderal Wei sambil mencengkram bahu Yi Hua keras.
Apakah aku sudah ketahuan?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1