Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Ikatan 6: Yang Berubah dan Terhenti


__ADS_3


...Seandainya aku mengabaikan dirimu sejak awal, maka semua tak akan begitu menyakitkan. Ku pikir begitu - Rong Mingyu...


...***...


Hari-hari Rong Mingyu berlalu seperti angin di musim dingin. Semuanya tampak normal, seolah tak ada parasit di hidupnya. Lalu, wajah datar Rong Mingyu kecil ini mengingatkan Yi Hua pada air danau yang tenang. Terkadang ketika dia harus menyaksikan aktivitas Tong Mingyu yang monoton, Yi Hua menjadi sedikit jengkel.


Bagaimana pun dia adalah makhluk yang mencintai kata 'mampu' di dalam hidupnya. Sebab, Yi Hua adalah manusia yang punya pendapatan di bawah rata-rata. Sehingga dia cukup iri dengan Rong Mingyu kecil yang hidup serba berkecukupan.


Seandainya aku jadi Rong Mingyu, maka aku akan menghabiskan hidupku dengan lebih bahagia.


Nyatanya ia lahir dalam bentuk 'Yi Hua' yang legendaris ini. Bangun-bangun saja dia harus di dalam penjara, dan juga dia kelaparan. Bagaimana bisa takdir baik begitu membencinya?


"Hey, kau melihatku, bukan?"


Yi Hua memutar matanya dengan jengkel. Ia lupa bahwa sekarang di tengah masuk ke masa lalu dari Luo MeiYin. Bahkan sekarang dirinya tak bisa bertindak sendiri. Ia hanya bisa mengikuti segala aktivitas penguntit Luo MeiYin.


Yah, sejatinya Luo MeiYin adalah hantu yang kesepian.


Namun berbicara dengan Rong Mingyu yang dingin ini seperti berbicara dengan dinding bangunan. Yi Hua saja gemas ingin menendang kepala Rong Mingyu ini. Meski pria ini cukup menggemaskan di masa kecilnya.


"Apakah itu tanaman liar?" tanya Luo MeiYin ketika menunjuk pada tanaman kecil setinggi lutut orang dewasa.


Akhir-akhir ini Luo MeiYin menyadari bahwa Rong Mingyu sering memperhatikan tanaman itu. Tumbuhan itu tumbuh di dekat ruangan pribadi Rong Mingyu. Sehingga ketika Rong Mingyu membuka jendela ruangannya, tanaman kecil itu adalah hal pertama yang bisa kau lihat.


Entah karena apa, karena dia baru menjadi tumbuhan kecil yang tak tahu jenisnya. Namun jelas sekali tumbuhan itu seperti memiliki makna untuk Rong Mingyu.


Juga ...


Rong Mingyu tak menjawabnya lagi. Atau, mungkin pria kecil ini memang tak pernah menjawabnya.


Luo MeiYin segera bangkit dan terbang dengan cara yang tidak etis. Berkat Luo MeiYin, Yi Hua jadi tahu bagaimana rasanya terbang. Sehingga dia tak perlu penasaran lagi bagaimana rasanya mengambang di udara.


SRET!


SYUNG!


Baru saja Luo MeiYin ingin memetik tangkainya, tangan Rong Mingyu, yang entah bagaimana bisa, dengan cepat mengarah ke tangan Luo MeiYin. Namun karena tubuh Luo MeiYin yang seperti kabut, tangan Rong Mingyu hanya seperti menembus saja.


Wajah Luo MeiYin terlihat agak kecewa.


Akan tetapi, sejak awal Luo MeiYin memang tak berniat untuk memetik tangkai. Dia hanya ingin Rong Mingyu menjawabnya. Meski begitu, dengan apa yang terjadi sekarang, dia benar-benar adalah hantu.


"Aku benar, bukan? Kau bisa melihatku. Bukan, kau bukan hanya melihat. Kau bisa mendengar apa yang aku ucapkan juga," ucap Luo MeiYin dengan senyum di wajahnya.


Rong Mingyu hanya memasang wajah datarnya. "Aku melihatmu. Lalu, sekarang Pergilah! Jangan ganggu itu, gadis bodoh."


"Apakah tanaman itu berarti untukmu?" tanya Luo MeiYin yang mengikuti Rong Mingyu dari belakang.


"Yang menanamnya adalah Nyonya pertama." Dan, itu sudah menjelaskan semuanya.


Luo MeiYin yang kini bertingkah seperti penguntit sedikit mengetahui tentang Rong Mingyu. Pria kecil ini adalah anak satu-satunya dari Nyonya pertama bangsawan Rong. Ia memiliki saudara lainnya, tetapi berbeda ibu dengannya. Saudara lainnya merupakan hasil bercocok tanam Kepala Keluarga Rong dengan istri-istrinya. Yah, ayah Rong Mingyu punya banyak kecantikan di sekitarnya.


Itu adalah hal biasa yang dilakukan oleh seorang bangsawan di kerajaan mereka.


Juga, Nyonya pertama yang disebutkan ini telah tiada beberapa tahun yang lalu.


Luo MeiYin berusaha mengalihkan pembicaraan. "Apa ini pertama kalinya kau berbincang dengan roh?"

__ADS_1


"Aku pernah ingin berbincang dengan makhluk selain kau."


"Untuk apa?" tanya Luo MeiYin yang sedikit bingung. Jelas saja, kata 'berbincang' tak mungkin diucapkan oleh seseorang yang jarang berbincang dengan baik!


Rong Mingyu duduk di meja membacanya tanpa menghiraukan makanan yang baru saja di sediakan oleh pelayan. Bahkan ia tak perduli jika pelayan itu menatap aneh dirinya yang tengah berbicara sendirian. Bagaimana pun tak ada yang tahu tentang apa yang dilihat oleh Rong Mingyu.


Rong Mingyu membuka lembaran kertas lagi. Belajar lagi. "Untuk bertanya apakah mereka melihat Nyonya pertama atau tidak."


Rong Mingyu pernah menjadi sosok naif yang tak tahu tentang banyak hal. Bahkan ia juga bisa menjadi anak yang mencari orangtuanya sendiri. Namun Rong Mingyu kecil juga mungkin ditampar oleh kenyataan, bahwa ibunya telah kembali ke langit. Itu semua karena Rong Mingyu tak bisa melihat ibunya di dunia ini lagi.


Yah, jika ibunya masih berkeliaran di dunia ini, pasti jiwanya tak tenang.


"Apa kata mereka?" tanya Luo MeiYin yang entah sudah berapa kalinya. Ia sangat gemar bertanya pada Rong Mingyu, tanpa perduli apakah pria kecil ini mau menjawabnya atau tidak.


"Tidak ada."


Yang pergi tetaplah pergi.


"Mengapa kau tidak memakannya?" tanya Luo MeiYin lagi yang kini melempar pertanyaan yang lebih jauh.


Yi Hua tentu saja hanya diam mengikuti aktivitas Luo MeiYin.


Gadis hantu itu mengitari Rong Mingyu, dan duduk di hadapannya. Itu masih terasa janggal saat melihat seseorang yang nyaris seperti kabut di depanmu. Yi Hua tak mengerti mengapa Rong Mingyu terlihat sangat datar ketika menyaksikan itu.


Anak ini tak seperti anak-anak pada umumnya.


"Jika kau ingin memakannya, kau saja yang makan." Hanya itu jawaban dari Rong Mingyu.


Luo MeiYin menatap makanan itu dengan buas. "Jika aku bisa memakannya, maka aku akan memakannya."


Yah, Yi Hua menganggukkan kepalanya tidak jelas. Ini seperti yang dikatakan oleh Luo MeiYin. Dia bahkan tak bisa memakan atau menyentuh barang-barang di dunia ini. Sebab, dia hanyalah jiwa yang lemah, dan tak bisa naik ke surga.


Singkatnya ini seperti saat kau merasakan 'gangguan' dari makhluk halus. Seperti benda yang bergerak sendiri, atau bahkan penampakannya langsung, maka roh yang mengganggu itu cukup kuat. Dan, jika itu terjadi maka tingkatan roh itu memiliki banyak 'kegelapan' di jiwanya. Ia tak akan bisa pergi ke surga lagi, apalagi ketika menjadi iblis.


Rong Mingyu kali ini terlihat sedikit tertarik. Ia perlahan mengulurkan tangannya untuk menyentuh Luo MeiYin, dan itu hanya menembus seperti tak ada apa-apa di sana. Meski dengan fenomena itu, wajah datar Rong Mingyu masih terlihat sama.


"Lalu, apa yang harus dilakukan agar kau bisa memakannya?" tanya Rong Mingyu pada akhirnya.


Bagaimana pun Rong Mingyu tumbuh, dia masihlah seorang anak-anak. Dia tumbuh dengan belajar dari sekitar. Dan, dari beberapa hari Yi Hua melihat Rong Mingyu kecil, dia terlihat begitu penyendiri.


Sebelum pagi tiba, pria kecil ini pergi berlatih pedang. Ketika selesai dia akan sarapan dengan tenang. Setelah, sarapan dia akan kembali belajar tentang kerajaan dan politik, serta strategi perang. Lalu, ia makan siang setelahnya. Sorenya dia akan kembali ke kediamannya untuk membaca buku.


Dan, ketika malam datang Rong Mingyu akan tidur dengan tenang.


Aktivitas seorang anak bangsawan tak akan pernah jauh berbeda. Sungguh membuat Yi Hua merasa gatal kepala. Sebab, jika itu Yi Hua, maka dia akan mengelilingi Pusat Kota untuk membeli banyak hal yang disukainya.


Namun sekali lagi, Rong Mingyu hanyalah seorang anak yang mengikuti 'kebiasaan' yang ada. Seorang anak yang akan menjadi penerus keluarga bangsawan Rong di Kerajaan Li ini.


Luo MeiYin berpikir sejenak. "Aku kira aku bisa memiliki sesuatu yang dikirimkan padaku melalui doa."


Lalu, pria kecil itu segera bangkit dan memerintahkan pelayan di depannya. Luo MeiYin yang memang sejak awal selalu mengikuti Rong Mingyu jelas saja ikut berdiri. Ia berjalan seperti terbang di atas awan.


Bagaimana menjelaskannya, Yi Hua sendiri tak paham. Ia hanya tahu bahwa dunia ini sangatlah luas. Bahkan ada banyak hal yang tak terduga di dunia ini.


Belum sempat Luo MeiYin bertanya, pelayan yang diperintahkan oleh Rong Mingyu datang kembali. Di tangan pelayan itu ada kotak kecil dengan aroma yang khas. Yi Hua jelas tak asing dengan aroma ini, karena itu adalah properti yang biasanya dipakai Yi Hua saat ia (pura-pura) meramal.


Itu adalah aroma dupa.


Tak lama pria kecil itu, Rong Mingyu duduk di depan makanan yang disediakan pelayan untuknya. Makanan itu cukup banyak hingga memenuhi meja kecil di hadapannya. Pria itu menyalakannya, dan memejamkan matanya. Aroma khas itu langsung tercium di sekitar Rong Mingyu.

__ADS_1


Rong Mingyu mendoakan Luo MeiYin.


Pemandangan yang cukup aneh untuk dipahami. Bagaimana bisa orang yang sudah tiada, dan didoakan itu masih berada di depan mereka saat ini?


Lebih dari segalanya, mengapa Rong Mingyu melakukannya?


Bukankah selama ini Rong Mingyu terlihat tak bisa menikmati masa-masa tenangnya?


Ah, benar.


Selama ini, Rong Mingyu selalu sendiri. Sehingga ini adalah pertama kalinya ia memiliki gangguan dalam hidupnya. Terkadang kau tak pernah menyangka jika gangguan ini adalah sesuatu yang akan kau rindukan.


Luo MeiYin menyentuh makanan itu dengan wajah tak percaya. Rasanya seperti ikan yang bisa kembali lagi ke dalam air. Selama ini ia tak bisa menyentuh apapun yang ada di muka bumi ini, dan ia merasa sangat terbiasa akan itu. Akan tetapi, sekarang ia bisa merasakan lagi bahwa dirinya bisa menyentuh suatu barang.


Ini adalah hal yang sepele, tetapi berarti karena Luo MeiYin bisa tahu bahwa dirinya ada di dunia ini.


"Ini pertama kalinya ada yang memberi persembahan untuk jiwaku," ucap Luo MeiYin yang mengambil potongan buah yang disediakan di atas meja kecil.


Ia menggigitnya seolah berusaha mengingat kembali bagaimana rasa buah itu di masa lalunya. Tepatnya, di masa lalu sebelum ia mati. Yi Hua yang berada di sudut pandang Luo MeiYin ikut merasakan hal yang sama.


Kebahagiaan yang sangat sederhana.


Rong Mingyu berjalan menuju meja membacanya lagi. "Kau pikir aku pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya?"


"Pasti kau pernah melakukannya," ucap Luo MeiYin dengan tatapan hangatnya. "Terima kasih," lanjutnya lagi.


Rong Mingyu kembali membaca dengan tenang.


"Entahlah."


***


Yi Hua tak tahu bagaimana waktu berjalan di sekitar mereka. Itu seperti rentetan waktu yang bisa kau lihat sekaligus. Bahkan Yi Hua tak bisa menghitung perbedaan waktu berjalan di dunia kebatinan ini dengan dunia nyata. Hanya saja dia bisa melihat semuanya.


Ia melihat bahwa semua hal di sekitar Luo MeiYin tumbuh.


Anak-anak kecil yang dahulu sering berkeliaran di sekitar Pusat Kota kini telah menjadi dewasa. Para gadisnya saling menunjukkan pakaian indah mereka. Lalu, para pria saling menunjukkan kebolehan mereka hanya agar mereka terlihat oleh kerajaan. Siapa tahu mereka beruntung bisa bekerja di istana kerajaan.


Tumbuhan kecil yang sering Luo MeiYin amati dari ruangan pribadi Rong Mingyu juga telah tumbuh besar. Itu tumbuh dengan baik, dengan bunga-bunga merah muda yang bermekaran di sana. Itu sangat indah untuk diamati.



Semuanya berubah dengan cukup cepat. Bahkan untuk Rong Mingyu. Pria kecil itu juga perlahan bertambah tinggi dan tumbuh dengan baik. Walau wajah dinginnya masih tak berubah.


Ia menjadi pria muda yang sangat berbakat. Dan, ia masih diikuti oleh Luo MeiYin yang entah mengapa belum juga naik ke langit. Mungkin ada hal yang mengikat Luo MeiYin di dunia ini.


Dengan segala sesuatu yang berubah itu, Yi Hua tahu kenyataan pahit yang harus ditelan oleh Luo MeiYin.


Semuanya telah berubah dan tumbuh, kecuali Luo MeiYin.


Dia tak akan bertambah usia, dan tak akan berubah meski waktu terus berjalan.


...***...


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2