
"Dia ... Mati," ucap Li Wei lemah.
Akan tetapi, Li Wei mengangkat kepalanya untuk menatap tajam pada Raja Xin Wantang.
"Lebih dari segalanya, Li Chen ... Dia adalah penghianat dalam Kerajaan Li. Seseorang yang menjadi kaki tangan kalian," lanjut Li Wei lagi.
Xin Wantang berseru dengan tenang. "Sebenarnya aku tak tahu apa yang kau maksud. Jika ia menjadi kaki tangan kami, apa untungnya bagi Pangeran Kedua? Ia tak pernah berniat akan tahta, bahkan ia selalu berfokus untuk mempelajari tentang kesehatan."
Busuk sekali orang ini memutar balik fakta.
Tentu saja Li Wei juga terkejut tentang ini. Hanya Li Wei tak menyangka jika Xin Wantang akan menggunakan ini sebagai balasan untuk menyerangnya. Seperti yang disebutkan oleh Xin Wantang, Li Wei tak punya bukti tentang penghianatan Li Chen.
"Ditambah lagi Putri Li Wei memiliki banyak dendam di hatinya. Iblis telah memakan nurani Putri Li Wei hingga melakukan pembunuhan di setiap langkahnya," jelas Xin Wantang dengan wajah tenang.
"Apa maksudnya? Jangan mengatakan sesuatu yang tak jelas, Xin Wantang. Kau tak bisa menuduh Li Wei hanya karena dia bersama Li Chen," sanggah Li Jun yang tak terima.
Walau ia tak mengerti mengapa wajah Li Wei terus menjadi pucat. Seperti orang yang tahu tentang kesalahannya. Hanya saja Li Jun mengenal Li Wei. Adiknya itu memang sangat rusuh dan keras kepala, tetapi membunuh orang lain karena dendam.
Yah, kecuali jika Li Wei 'tetap' menjadi dirinya.
"Sudah aku katakan Li Jun. Ayah kalian ... Baiklah Raja Li Shen, dia menyimpan banyak rahasia yang sengaja ditutupinya pada kalian. Hanya karena ia berpikir jika kalian bisa hidup normal tanpa perlu terikat tentang hal sejarah-sejarah kacau terdahulu," ujar Xin Wantang, dan setelah itu ia menyesap minumannya dengan tenang.
"Kau ..."
BUGH!
"UHUK!"
Li Jun batuk darah ketika Liu Shang memukul ke perutnya. Hingga Li Jun kembali terduduk dengan kemarahan yang tetap berada di matanya. Bagaimana pun amarah di dalam hatinya, tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa.
Ia lemah.
"Putri Li Wei ... Di mana pedang Pangeran Penduka yang tersimpan dalam bumi Kerajaan Li?" tanya Xin Wantang yang berjalan mendekati Li Wei yang masih terikat.
Sudah Li Wei duga.
Meski pedang Pangeran Penduka dianggap memiliki kutukan, tetapi orang serakah seperti Xin Wantang pasti menginginkannya. Pedang yang diambilnya dari Hua Yifeng, Li Wei sudah tahu kekuatannya. Secara misterius pedang itu seperti memiliki jiwanya tersendiri, sehingga bisa begitu setia untuk mengikuti setiap pemikiran pemiliknya.
Li Wei menghela napasnya. "Meski benda itu ada di tangan kalian, benda itu tak akan berfungsi apa-apa."
Sudah dikatakan ... Saat Hua Yifeng menempa pedang dengan besi yang diambilnya dari serpihan pedang Pangeran Penduka, maka pedang itu sudah memilih Hua Yifeng sebagai pemiliknya. Mungkin karena Hua Yifeng memiliki Pohon Iblis yang mengikatnya, sehingga Hua Yifeng bisa bertahan. Akan tetapi, saat itu Li Wei yakin bahwa Hua Yifeng telah terlepas dari batasnya.
Itulah mengapa Ling Xiao mengikat Hua Yifeng agar tidak mengamuk dan menghancurkan.
Bisa dikatakan bahwa kematian Li Chen adalah kecelakaan. Hua Yifeng secara rasional tak akan membunuh Li Chen, tetapi saat itu ia tengah dikuasai oleh Pedang Iblis.
Ditambah lagi pedang terkutuk milik Hua Yifeng juga membebani jiwa Hua Yifeng hingga Li Wei takut jika Hua Yifeng akan mengalami kematian yang mengerikan. Yaitu, dikuasai oleh iblis hingga darahnya habis.
SRING
TING
Xin Wantang yang sudah berdiri di depan Li Wei mengarahkan pedangnya ke tubuh Li Wei. Lalu, pedang itu menebas ke bagian pinggang Li Wei hingga jubah luar dari pakaian Li Wei sobek. Hal tersebut membuat kulit Li Wei tampak akibat sobekan itu. Oleh sobekan itu segaris tipis luka muncul di sana.
Li Wei menahan amarahnya sendiri hingga wajahnya memerah.
Pria ini ...
Li Jun berseru dengan marah. "Xin Wantang!"
Namun suara denting itu mengingatkan Li Wei tentang sarung pedang yang masih tersembunyi di pinggangnya. Sarung pedang itu seperti memiliki jarum yang menyemat ke pakaian Li Wei hingga sarung pedang itu akan selalu ada di sekitar Li Wei.
"Kau membunuh Permaisuri-ku, Putri Li Wei. Bahkan membunuh orang-orang di Kerajaanmu sendiri. Itu membuatku berpikir tentang apa yang kau inginkan," jelas Xin Wantang sambil menarik sarung pedang itu dari Li Wei.
Li Wei menatap Xin Wantang dengan berani. "Aku tak akan berduka atas kematian Permaisuri sintingmu. Namun aku tak membunuh mereka!"
"Namun kau pasti memikirkan tentang kematian mereka dalam pikiranmu. Lalu, mereka mati."
Apa-apaan!
Mana ada pengaturan semacam itu?
Bagaimana mungkin perkataan Li Wei menjadi kenyataan. Bagaimana ... Mungkin?
Li Wei mulai memikirkan hal aneh yang ada di sekitarnya.
"Sebelum kematian Li Chen ... Bukankah Putri Li Wei mengatakan sesuatu?" tanya Xin Wantang sambil mengusap wajah Li Wei dengan lembut.
Aku mengatakan ... Kakak akan mati?
Li Wei tak memiliki ingatan yang begitu kuat, tetapi ia tak mungkin lupa dengan mudah. Apalagi itu adalah saat yang sangat mengerikan. Di mana Li Wei melihat banyak kematian di sekitarnya.
"Lalu, di Pusat Kota bukankah Putri juga mengutuk pria yang melukai Putri untuk mati? Kemudian, di depan banyak orang, mereka bisa melihat pria itu mati dengan sangat mengerikan. Penyakit batunya datang seperti kilat, sangat cepat menyebar," ucap Xin Wantang sambil memperhatikan wajah Li Wei yang memucat.
"Li Wei ... Mengapa kau terpengaruh dengan ucapan busuk pria ini? Kau bukan orang yang tak berlogika hingga percaya pada sesuatu yang tak masuk akal seperti ini," bentak Li Jun untuk menyadarkan Li Wei.
Akan tetapi, ... Sebelum Li Wei bisa menjawab Li Jun, Xin Wantang melanjutkan lagi.
"Bukankah bencana banjir besar di Pusat Kota juga sesuatu yang Putri Li Wei katakan, Pangeran Li Jun?" tanya Xin Wantang yang tersenyum penuh kemenangan.
Li Jun menatap tajam pada Xin Wantang.
"Itu adalah bencana. Manusia bukanlah Dewa, Xin Wantang!"
Lebih dari segalanya bagaimana bisa Xin Wantang mengetahui tentang perdebatan Li Wei dengan Li Jun?
Itu sudah terjadi sekitar lima tahun yang lalu. Li Jun menyadari jika ia mengikuti ucapan dari Li Wei saat itu mungkin kerugian dari bencana ini tak akan sebesar sekarang. Hanya saja ia tak pernah berpikir jika adiknya adalah penyebab bencana.
Namun melihat Li Wei yang tak bisa mengatakan apa-apa membuat Li Jun menyadari jika ini tak sederhana yang ia pikirkan.
__ADS_1
"Jika Li Chen memang berhianat pantas saja Putri Li Wei menjadi marah hingga mengutuk. Apa kita juga bisa menyebut pada kematian Pejabat Zhang Yuwen? Mungkin Putri Li Wei pernah ..."
"Hentikan!"
Li Wei mendadak ketakutan pada dirinya sendiri.
Ia tahu dan ia punya logika. Ia tahu hal semacam itu tak mungkin terjadi. Seolah apa yang Li Wei katakan selalu terjadi. Jelas itu tak mungkin karena tak ada suatu hal yang akan terjadi tanpa dilaksanakan.
Hanya saja semuanya menjadi masuk akal. Ditambah lagi dengan Li Wei pernah mencoba menggunakan kekuatan iblis dengan sarung pedang itu. Li Wei mengangkat kepalanya untuk menatap Li Jun dari kejauhan.
Lalu, ia mengalihkan pandangannya pada Li Shen. Adiknya itu menatap Li Wei dengan pandangan ... Kecewa?
Percayalah ... Aku bahkan takut untuk berbicara dalam hati.
"Bukan aku ... Itu bukan aku!" teriak Li Wei dengan lemah. Entah ke mana seluruh tenaganya sekarang.
"Atau ... Putri Li Wei memang sengaja mengutuk kerajaan ini yang tak adil pada Putri," ucap Xin Wantang licik.
Apa lagi yang ingin dipermainkan oleh Xin Wantang saat ini?
Li Wei menatap ke arah Li Shen yang menolak untuk menatap padanya. Ada apa dengan adiknya ini?
"Mungkin kesalahan dari Raja terdahulu adalah karena merupakan keturunan dari Raja yang salah. Seharusnya tahta jatuh pada Pangeran Bungsu yang berduka, tetapi dia dibunuh karena Pangeran yang serakah. Itu adalah garis keturunan dari kalian," jelas Xin Wantang seolah dia tahu banyak hal tentang Kerajaan Li.
Li Jun berludah. "Kau berbicara seolah kau tahu tentang kerajaan kami. Hanya karena kau membaca sejarah tentang kerajaan kami dan masuk ke kerajaan kami, kau bertindak seolah kau tahu tentang kerajaan kami. Sungguh konyol."
Sejatinya jika itu terjadi, semua itu hanya cerita sejarah yang kacau di masa lalu. Tak ada yang tahu tentang kebenarannya.
"Hahahaha ..."
Xin Wantang menatap tajam pada Li Jun yang tertawa.
BUGH!
Lagi-lagi Liu Shang memukul ke arah perut Li Jun. Hal tersebut membuat Li Jun tak bisa tertawa lagi. Alih-alih untuk takut akan rasa sakit, Li Jun malah semakin tertawa keras. Meski di setiap tawanya itu memuntahkan darah.
"Hentikan ..." bisik Li Wei lemah.
Li Wei menatap pilu pada Li Jun, tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa.
BUGH!
BRAK
Kali ini Liu Shang memukul kepala Li Jun dengan ujung pedangnya hingga pria itu terbaring di lantai yang dingin. Darah Li Jun mengalir mengikuti garis lantai. Hal tersebut membuat Xin Wantang menjadi sangat puas.
Pria ini mungkin selain serakah tetapi juga gila. Ia suka melihat orang lain menderita.
"Baiklah. Biar aku melanjutkan lagi. Bahkan saat ramalan itu sudah muncul, tetapi Raja Li sengaja menyembunyikan hasil ramalannya. Seharusnya Putri Li Wei yang naik tahta untuk menjadi Raja," jelas Xin Wantang yang seperti orang yang mengetahui seluk-beluk dunia.
Ini adalah kebohongan yang sangat tak masuk akal. Namun itu diucapkan saat semua rasa kepercayaan penduduk pada penguasa sudah jatuh. Sehingga mereka lebih memilih untuk menyalahkan semua kinerja penguasa sebagai bentuk ketidakpuasan.
Orang ini mau melantur sampai ke mana?
Akan tetapi, seperti yang sudah pernah dikatakan. Saat ini mereka jelas sangat mempercayai semua ucapan melantur Xin Wantang. Sebab, semuanya sudah sangat aneh hingga yang aneh pun sudah jadi hal yang biasa.
Orang-orang yang menjadi 'tamu' dari Pengadilan Tinggi dadakan berceloteh satu sama lainnya seperti dengung tawon. Lebih dari segalanya mereka berpikir tentang solusi terbaru untuk menghilangkan bencana aneh di Kerajaan Li. Walau akhir-akhir ini prajurit Kerajaan Xin juga mengidap penyakit yang sama. Mereka akhirnya berasumsi bahwa penyakit ini sangat menular.
Siapa saja yang pernah menginjakkan kakinya di Kerajaan Li akan terjangkit penyakit yang sama jika mereka terluka. Itulah yang membuat mereka berpikir tentang bagaimana mencari 'obat' untuk mengatasi penyakit menular ini. Yang ditakutkan ialah penyakit batu ini akan menular hingga ke wilayah lainnya.
"Lalu, aku memikirkan tentang 'obat' yang sebenarnya. Bagaimana jika masalah ini sama seperti cerita Pangeran Penduka? Menghilangkan kutukan dengan cara mengorbankan orang yang seharusnya menjadi 'Raja'. Agar ramalan tersebut berpindah," cetus Xin Wantang pada akhirnya.
Akibat ucapan tersebut semua orang menatap pada Putri Li Wei yang masih terikat.
Li Wei menggelengkan kepalanya, terapi ia tak bisa mengatakan apa-apa.
Jika ia membela dirinya dengan mengatakan jika ramalan raja selanjutnya adalah Hua Yifeng, maka pria itu mungkin akan dicari dan dibunuh. Entah mengapa Li Wei tak bisa mengatakan apapun tentang ramalan sebenarnya. Mungkin ia bodoh.
Akan tetapi, ... Li Wei menggigit bibirnya untuk mengeraskan dirinya.
"Benar. Aku adalah orang yang diramalkan untuk menjadi Raja."
Sejatinya ... Li Wei menggantikan takdir Hua Yifeng.
***
"Omong kosong apa ini!"
SRET!
Li Jun yang melihat sedikit celah antara dirinya dengan Liu Shang langsung menyerang. Pria yang memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya itu memberi pukulan ke arah Liu Shang. Setelah itu, Li Jun merebut pedang dari Liu Shang dan mengarahkan pedang ke leher Liu Shang.
"Jangan mendekat! Aku akan menebas leher pria sialan ini," ucap Li Jun sambil menyeret Liu Shang untuk mengikutinya.
Di sana Li Jun menuju ke arah Li Wei dan ...
TRING!
BUGH!
Li Jun memotong rantai besi yang mengikat Li Wei hingga gadis itu terjatuh ke lantai. Li Wei berusaha untuk bangkit meski sempoyongan. Di sana Li Jun memberi isyarat agar Li Wei berdiri di belakangnya.
Di sana Li Wei melihat sesuatu yang membuat Li Wei tercekat.
Kakaknya ... Li Jun terkena penyakit batu. Di bagian tengkuk pria ini memiliki batu-batu kecil yang menumpuk. Hanya menunggu waktu hingga batu itu terus menumpuk.
Meski begitu, Li Jun hanya menggelengkan kepalanya. Mencegah Li Wei untuk menjadi berisik.
Kembali pada situasi sekarang ...
__ADS_1
Situasi yang berubah itu membuat mereka semua menjadi tegang.
"Lepaskan Li Shen dan aku akan menukarkannya dengan hidup pria Liu ini," ancam Li Jun yang menekan pedang itu di leher Liu Shang.
Pria Liu Shang itu hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. Walau darahnya menetes tipis di leher akibat gesekan dari pedang yang ditekan oleh Li Jun. Akan tetapi, Xin Wantang tersenyum dengan tenang.
"Mati atau tidaknya dia tak akan berpengaruh pada kekuasaanku," ucap Xin Wantang dengan tenang.
Seolah pria ini sama sekali tak berpikir tentang Liu Shang yang dengan setia mengikuti semua sikap serakahnya.
Orang ini sama sekali tak pantas untuk memiliki kekuasaan.
"Tangkap mereka berdua!" perintah Xin Wantang sambil duduk di kursinya dengan tenang.
SRET!
BUGH!
"Kakak!" teriak Li Wei ketika Li Jun terjatuh dengan sendirinya.
Pedangnya terlepas dan Liu Shang kembali mendapatkan pedangnya. Dari sana Li Wei mengerti itu semua bukan karena Li Jun lemah. Akan tetapi, penyakit batu itu sudah menyebar di tubuhnya. Hingga membuat tubuh Li Jun mati rasa karena sebagian organ tubuhnya menjadi batu.
Li Wei berdiri di depan kakaknya untuk melindunginya, tetapi dari jarak itu Li Wei mendengar bisikan dari Li Jun.
"Bunuh aku."
DEG!
Li Wei membungkuk ke arah kakaknya itu, dan mereka sekarang sudah dikelilingi oleh banyak prajurit. Hanya menunggu waktu mereka akan tertangkap lagi. Akan tetapi, ucapan Li Jun benar-benar menyengat hati Li Wei.
"Li Wei, bunuh aku sebelum batu ini membuat semua tubuhku mati. Aku tak mau mati karena penyakit menjijikkan ini," ucap Li Jun yang sebenarnya tak punya pilihan.
Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri karena darahnya telah menjadi seperti kerikil. Membuat berat di tubuhnya hingga ia hanya seperti seonggok daging yang menunggu menjadi batu.
"Tidak. Kak, aku ..."
Benar.
Darahnya ... Semoga ...
SRAK!
BUGH!
Li Wei menunju lantai untuk melukai tangannya sendiri. Ia tak yakin jika darahnya bisa mengobati Li Jun, tetapi apa salahnya dengan mencoba. Namun pukulan itu tak membuat tangan Li Wei terluka sedikitpun.
Dengan frustasi Li Wei menyobek perban di lengannya. Mengorek lukanya yang tak berdarah lagi hingga sobekan itu kembali terbuka.
"AKHHH!!" Li Wei meringis saat memeras darahnya sendiri di telapak tangan.
Lalu, ia mengusapkannya ke tengkuk Li Jun ... Akan tetapi, ... Li Jun menggelengkan kepalanya.
"Ku mohon, Li Wei. Kau tak pernah mengikuti apa yang aku katakan sejak kau kecil. Akan tetapi ... Untuk pertama kalinya aku memohon padamu ..."
Suara Li Jun semakin lemah dan terus menghilang layaknya suara burung yang terus menjauh.
Tidak. Aku tak bisa.
"Li Wei, ... Aku mohon."
Li Wei mendadak berdiri dan memukul ke arah prajurit yang dekat padanya. Gadis itu bertarung dengan cukup cepat, dan membanting prajurit itu ke lantai. Sebuah gerakan yang terkenal karena Li Wei sering menggunakannya. Dengan itu, Li Wei menebas leher prajurit itu hingga darahnya mengalir di lantai.
Lalu, ... Li Wei menuju ke arah Li Jun dan ...
STAB!
"Kakak! Apa yang kau lakukan?" teriak Li Shen ketika melihat Li Wei menusuk Li Jun yang terbaring di lantai.
Darah Li Jun membasahi kaki Li Wei yang bergetar.
Namun ... Li Wei tak punya jalan kembali. Tak ada yang tahu sakit hatinya. Tak ada yang tahu duka yang Li Wei alami. Tak ada yang mengerti mengapa Li Wei melakukan ini.
"Akkhhhh!!!" teriak Li Wei dalam rasa frustasinya yang besar.
Air matanya mengalir dengan sangat deras. Menghiasi rasa sakit hatinya atas semua hal yang terjadi. Ia berharap saat ia berteriak maka semua rasa sakitnya akan hilang.
Tapi tidak akan ... Mereka masih ada di sana hingga membuat Li Wei nyaris menjadi gila.
Bibir Li Jun bergerak pelan. Walau Li Wei tak mendengarnya, tetapi Li Wei bisa membaca gerak bibirnya.
Pria itu berkata, "Terima kasih" dan kata "maaf" berulang kali.
Terima kasih karena Li Wei menyudahi semua rasa sakit Li Jun.
Dan, maaf ... Setelah semua ini, Li Wei harus menanggung semua rasa sakit, hinaan, caci-maki, dan tuduhan semua orang.
Sendirian.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Maaf aku sebenarnya lagi sakit beberapa hari ini. Karena kepala sakit idenya gak jalan. Jadinya, baru bisa up baru ini. Ditambah lagi juga dengan sibuknya pekerjaan. Yah, mau g'mana lagi kerja di bagian pelayanan masyarakat tuh ya kadang banyak 'tamu' kadang juga gak.
Hari ini pulangnya agak cepat, makanya cepat-cepat nulis biar gak bikin orang mau nyantet aku. Kan sayang kepala ini jika para pembaca (yang mudahan aja masih ada) mau lempar pakai sepatu. Jadi, itulah keluh kesah hidup manusia ini. Semoga bisa up lancar ya.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~